Half Vampire – Jiwa Noura

Angin berhembus lembut menerpa wajahku ketika aku membuka mataku perlahan, langit yang mendung memenuhi pandanganku dan aku baru tersadar bahwa aku terbaring di atas padang bunga ungu di dekat kastil. Aku mengerjap pelan, membiarkan kesadaranku mencapaiku sampai pada titik penuh. Aku mengerjap lagi lalu beringsut bangun. Tak menegrti bagaimna bisa aku ada berada di tempat ini.

“Sudah bangun, Rena?”

Aku menoleh ke belakang dan senyum manis milik perempuan bermata hijau itu membuatku membeku. Noura? Aku mengerjap lagi, lebih cepat agar bisa menghapus bayangan Noura dari kepalaku. Namun dia masih melengkungkan senyum yang sama ketika aku membuka mataku entah untuk keberapa kali lagi.

“Ini bukan penglihatan atau kenanganku, Rena.” Suaranya lembut dan terdengar begitu manis di telingaku. Aku tidak mengerti. Bukankah Noura sudah mati, lalu bagaimana bisa dia ada disini, di depanku dan berbicara denganku seolah-olah dia masih hidup? Dia sudah mati, begitulah yang dikatakan oleh semua orang. Lalu jika memang dia sudah mati, apa sekarang?

Aku menutup mulutku. Apa sekarang aku juga sudah mati?

Darah? Rasa sakit dan panas yang luar biasa di tenggorokan dan dadaku? Aku? Ingatan tentang kejadian yang kualami di ruang makan memenuhi otakku. Apakah aku? Mungkinkah..  aku..

“Kau baik-baik saja, Rena. Kau tidak mati.”

Aku mendongak, menatapnya. “Lalu bagaimana bisa, kau-aku?”

Dia lagi-lagi tersenyum. Seolah begitu ringan, dia melangkah maju dengan sangat anggun. “Aku adalah sesuatu yang hidup disini.” Dia menyentuh dadaku lalu menarik tangannya perlahan. Menumpuknya di atas dadanya sendiri, “Aku adalah sebagian jiwa Noura yang ditinggalkannya padamu, yang menjagamu agar kau selalu baik-baik saja sampai tiba saatnya bagimu untuk menjadi seutuhnya kau.”

Mataku memicing, aku tidak tahu apapun maksudnya.

“Aku menjagamu sampai saat ini, Rena. Sampai saat ini saja, karena sekarang kau sudah siap untu segalanya. Sekarang adalah waktumu dan tugasku sudah selesai. Kau adalah kau sepenuhnya. Dirimu sendiri dan kau.. sehat.” Bibirnya melengkung lagi.

“Apa maksudmu?”

Dia menggeleng, “Waktu akan membuatmu mengerti.” Dia menyorongkan tubuhnya ke depan dan memelukku lagi, “Maafkan aku membuatmu terlibat dalam semua masalah ini.” Aku merasakan pelukannya mengerat, “Maafkan aku.”

Suaranya yang demikian tulus membuatku merasa bahwa apapun salahnya padaku, aku akan memaafkannya, “Sherena Audreista..terima kasih.” Aku mengangkat tanganku perlahan, balas memeluknya. Namun tepat saat itu aku menyadari tubuh Noura telah berubah menjadi sesuatu yang lembut dan transparan. Aku mundur dengan gugup dan melihat bagaimana lekuk-lekuk tubuhnya mengurai menjadi kelopak-kelopak bunga ungu. Wajah Noura yang bahagia, penuh senyum menjadi ingatan terakhir yang kulihat sebelum semuanya menjadi kelopak bunga ungu dan dia lenyap. Benar-benar lenyap seolah intisari tubuhnya adalah bunga-bunga di padang ini.

“Noura!!”

***

Morgan menatap gua di depannya. Semuanya sesuai dengan apa yang dikatakan Noura. Hutan yang sebelumnya dilaluinya telah dipenuhi sihir penyesat, dan jika tanpa petunjuk yang sudah diberikan Noura kepadanya, dia tidak yakin dia bisa mencapai tempat ini. Dia menarik nafas panjang, “Untuk Noura.” Katanya sebelum melangkah maju, berjalan tegap menuju mulut gua.

***

Aku terbangun dengan keterkejutan yang hebat. Dengan sangat cepat aku memandang ke depan. Alih-alih padang bunga ungu, aku melihat langit-langit kamarku. Aku melihat laba-laba kecil yang merayap disana. Suara delapan kakinya. Suara-suara lain. Udara.

“Rena, kau baik-baik saja?”

Suara Damis. Hembusan nafas Rosse. Suara jemari tangan Reven yang mengepal. Suara. Suara.

“Rena!!”

Aku menyentakkan tangan Damis yang menyentuh lenganku dan aku melompat bangun ke arah yang lain. Mataku lurus menatapnya dan dia membatu melihatku, “R-rena.. k-kau?”

Tanpa tahu apa yang salah, aku sadar terjadi sesuatu pada diriku. Tapi aku tidak tahu apa itu. Pandanganku mengelilingi ruangan ini, dan aku bisa melihat bagaimana Damis, Rosse, bahkan Reven menatapku dengan mulut nyaris ternganga. Aku menunduk, menyadari ada yang yang menyakiti kulit tanganku ketika aku mencoba mengepalkan tanganku sendiri, dan disana, warna kulit tangannya tidak lagi sama seperti warna kulitku sebelumnya. Ini..putih pucat nyaris seperti pualam. Aku membolak-balikkan tanganku sendiri dan perlahan, sangat perlahan ketika kubuka kepalan tanganku sendiri, aku bisa melihat kuku-kuku panjang dan tajam disana. mengantikan kuku-kukuku yang dulunya selalu kupotong rapi. Kudongakkan wajahku, menatap mereka satu persatu.

“Rena..”

Itu suara Rosse, bahkan meski hanya bibirnya saja yang bergerak. Aku bisa mendengar suaranya yang nyaris tak terbentuk namun memanggilku. Aku meraba wajahku, menelusuri tulang pipiku lalu naik ke mata dan dahiku. “A-aku..” tanganku bergerak turun, ke leherku. Meraba lekukan jenjang leherku, “A-a.. aku h-haus.”

Dan bersamaan itu tubuhku melemah dan aku jatuh ke lantai, Damis menangkapku satu detik lebih cepat sebelum kepalaku menghantam lantai ruang pribadiku. Dengan khawatir dia menyentuh tangannku, mengenggamnya, “Rena-Rena.. kau baik-baik saja?” jeritnya panik. Di dekatnya bisa kulihat Rosse dan Reven mengelilingiku.

“A-ak-“

Bibirku bergerak tapi aku sama sekali tak bisa mengeluarkan suaraku dengan benar. Lalu rasa rasa panas itu mendadak muncul lagi. Menyengat menyakitkan ke seluruh tubuhku. “S-sa-sakit.” aku mengeliat hebat dan Damis kewalahan menahan tubuhku. Aku menjerit-jerit keras begitu aku kembali menemukan suaraku. Rosse mencoba membantu Damis menahan tubuhku namun entah dengan kekuatan apa, aku menyentakkan tanganku yang coba dipeganginya dengan keras dan membuat dia terjungkal ke belakang hingga menabrak dinding.

Aku menggeleng, mencoba mengatakan maaf pada Rosse namun aku tidak sanggup melakukannya. Rasa panas itu menyakitiku, serasa mendidihkan darah dan membakar tulangnya. Aku memukul wajah Damis ketika aku terus bergerak dengan kacau mencoba menghalau rasa sakitku.

“T-to-“

Suaraku tercekat dan masih dalam posisi duduk aku mundur hingga punggungku merapat pada dinding di belakangku. Mulutku terbuka, merasakan sakit yang teramat sangat. Bahkan udara yang masuk ke dalam tubuhku rasanya seperti asap panas yang membakar semuanya. Aku mendengar jeritanku yang menyakitkan. Serak. Airmataku menetes dan aku melihat Reven memandangiku. Mata birunya menatapku lekat-lekat. Apakah dia diam hanya untuk menikmati melihatku tersiksa kesakitan begini.

Apakah sebenarnya dia bisa menolongku? Aku terus menatapnya dan air mataku meleleh turun membasahi pipiku. Tanganku yang gemetar hebat mengapainya dengan sangat sulit, “T-tolong.” Aku mengiba padanya. Jika memang dia sanggup membantuku, jika dia sanggup menghilangkan rasa sakit ini maka aku akan mengiba padanya. Aku akan menurunkan egoku dan memohon padanya. Jari-jari tanganku bergetar namun kaku. Sakit. Seluruh tubuhku sakit dan seperti terbakar hidup-hidup. “T-tolong aku.” Aku terisak.

Aku mendongak merasakan kedua tanganku dicengkeram dam aku melihat Reven berjongkok memandangiku dengan kedua tangannya mencengkeram lenganku, “Sherena.” Dia memanggil namaku dan untuk pertama kalinya aku merasa bersyukur bahwa yang memanggilku adalah Reven.

“T-tolong s-s-sakit.”

Dia mengangguk dan satu tetes lagi airmataku meluruh jatuh dari sudut mataku. Aku tidak tahu kemana larinya semua kemarahanku kepada Reven, kemana semua rasa benciku kepadanya. Aku hanya tahu aku kesakitan dan semua ini menyiksaku. Rasa panas itu merasuk sampai ke bagian terdalam tubuhku, seperti membakar inti tubuhku dan aku kesakitan. Sangat kesakitan. Aku tidak tahu kenapa bisa aku merasa sesakit ini sampai-sampai rasanya semua kulit tubuhku akan meleleh begitu saja.

Mataku membelalak terkejut pada apa yang dilakukan Reven, tapi aku tidak bisa menahannya melakukan itu karena rasa sakit ini benar-benar melumpuhkanku. Dengan menggunakan kukuku dia membuat sayatan dalam di lengannya. Aku menatapnya tak percaya ketika dia mendekat lebih rapat padaku dengan mengangsurkan lengannya yang berdarah kepadaku. Aku menelan air ludahku melihat darah yang menetes dari tangannya yang terangkat di depanku. Sekuat tenaga aku menggigit bibir bawahku, menyadari bahwa rasa panas di seluruh tubuhku seakan menjadi hal kedua begitu aku melihat cairan anyir merah pekat itu.

Aku bahkan bisa mendengar suara air ludahku yang kutelan dengan sia-sia. Mulutku terbuka. Ada hasrat yang begitu besar membakarku ketika aku melihat tetesan-tetesan darah Reven. Aku.. dia menyorongkan tangannya semakin dekat dengan mulutku. Aku menatap mata Reven dan dia mengangguk, “Minumlah. Aku yakin kau akan merasa baik setelahnya.”

Sudut bibirku tertarik ke atas, melebar. Aku tersenyum. Dua taringku menyembul keluar memperlihatkan betapa tajamnya mereka. Aku menunduk, mengenggam tangan Reven dan mendekatkan mulutku ke sayatan yang dibuat Reven. Perlahan namun pasti, aku bisa mencium aroma yang membuatku tergila-gila. Aroma darah. Air liurku keluar dan aku sudah tidak mampu menahan diriku lagi dan dengan cepat kutempelkan mulutku ke lengan Reven yang terluka. Menghisap darah Reven dengan rakus seolah aku sudah begitu lama tidak merasakan sesuatu yang senikmat ini.

Aku mendesah merasakan nikmat yang tiada tara ketika darah Reven memenuhi mulutku, mengalir ke tenggorokanku dan bersatu dalam tubuhku. Aku menikmati setiap cecap rasa yang sialnya jelas akan membuat aku ketagihan. Aku menjerit protes ketika Reven menarik tangannya dariku. Dia jelas akan melihat bagaimana tatapan memelasku padanya. Aku maju, menubruknya. Aku mau lagi. Darah.. aku masih merasa sangat lapar.

“L-lagi..”

Dia menggeleng, membersihkan lengannya dari bekas darahnya dan luka di lengannya perlahan menutup sendiri. Aku menelan air liurku, menatap ke arah Reven dan kembali menatapnya penuh permohonan. Aku mencengkram bajunya, dan wajahku tak ada sepuluh senti dari wajahnya ketika aku membuka mulutku, menutupnya lagi dan mengigit gigir bawahku. Aku..mau lagi.

Reven menyentuh lenganku dan dia mundur, “Darahku tidak akan pernah membuatmu kenyang, Sherena. Darah vampir yang mengubahmu hanya berguna untuk membuatmu tidak merasa kesakitan ketika kau berada dalam perubahan. Namun karena Noura yang mengubahmu, maka secara tidak langsung aku juga bertanggung jawab pada rasa sakit yang tadi kau alami.”

“A-aku. L-lagi.” Aku tidak mengerti. Aku tidak peduli pada Noura. Persetan tentangnya. Aku hanya mau darah. Aku mau darah, lagi. Lagi. Aku benar-benar menginginkannya. Darah.

“Rena.”

Aku memandang ke arah lain dan aku bisa melihat Damis yang anehnya malah tersenyum senang. “Akhirnya..” katanya lagi yang tetap saja tak bisa kumengerti. Aku tidak bisa berpikir jernih. Pikiran dan benakku hanya berisi darah, darah dan darah. Aku menatap Damis penuh permohonan, “L-lagi.”

Sialnya, sama seperti Reven, dia menggeleng, “Tidak lagi untuk sekarang. Kau harus menunggu. Tubuhmu belum berubah sepenuhnya. Masih ada dua puluh jam lagi yang harus kau lewati sebelum akhirnya kau siap merasakan darah yang sesungguhnya, Rena.” Paparnya yang membuatku bangkit dan berlari dengan cepat ke arah pintu kamarku. Meskipun aku tahu gerakanku sudah berkali-kali lipat dari kecepatan gerakku ketika aku menjadi manusia, Rosse masih lebih cepat dariku karena dia bergerak menghalangiku. Berdiri di depan pintu, memandangku lurus dan menggeleng, “Bersabarlah, Rena. Demi kebaikkanmu.”

“Ming-gir Rosse.” Suaraku mulai lancar dan aku sadar tubuhku sudah tidak gemetar. Bahkan rasa sakit dan panas yang tadinya begitu menyiksaku kini lenyap seolah-olah memang tak pernah ada. Tapi Rosse tidak mau menyingkir, dia sama sekali tidak peduli betapa aku sangat butuh darah sekarang. Seluruh bagian tubuhku berteriak bahwa aku harus mendapatkan darah dan membiarkan kenikmatan tadi kembali menjalariku. Aku harus memenuhi kebutuhanku ini, atau aku bisa gila karenanya.

“Minggir Rosse!” aku menggeram tak sabar.

“Tidak akan, Rena. Kau harus bersabar dan berusaha menguasai dirimu.”

“MINGGIR ROSSE!!!” aku berteriak marah dan menyerangnya. Kami bergumul tak mau kalah dan ketika aku hampir membuat Rosse kalah, sepotong tangan menyeretku keluar dari pertarunganku dan Rosse.

“Lepaskan aku, Rev!” jeritku semakin marah ketika aku tahu bahwa Reven yang telah melakukan itu. Tapi dia sama sekali tidak mengindahkanku dan malah melemparkan tubuhku ke atas tempat tidurku. Sedetik sebelum aku bangkit, dia mengunci tanganku dan membuatku sama sekali tidak bisa bergerak.

“Damis, ikat dia.”

Aku menggeleng keras, “Tidak! Damis, tidak. Kau tidak harus mendengarkan dia. Damis. Damis!! Tidak!!” teriakku frustasi ketika Damis menarik kain penutup jendela kamarku. Merobeknya dengan kasar dan menjadikannya tali untuk mengikat kuat-kuat tangan dan kakiku pada masing-masing ujung tempat tidurku. “Kalian tidak bisa melakukan ini padaku.” Aku meronta-ronta dengan sekuat tenagaku dan aku bisa merasakan bagaimana tempat tidurku yang begitu berat ini bergerak karena tenagaku.

Reven dan Damis berdiri berdampingan mengawasiku, Rosse bergerak mendekat kepada mereka dengan keadaan berantakan akibat seranganku, “Dia sangat kuat.” Aku bisa mendengar bisikannya pada Reven. Aku berhenti meronta dan menatap mereka. Aku tahu satu cara, jika aku diam mereka akan meninggalkanku. Dan ketika mereka pergi, aku bisa membebaskan diri dengan mudah. Ikatan ini bukan apa-apa untuk bisa menghalangiku memuaskan hasratku.

Darah.. aku mengigit bibir bawahku. Sama sekali tidak sabar menyecapnya lagi.

“Kami akan mengawasimu sampai kau bisa mengontrol rasa hausmu, Sherena.”

Aku menoleh cepat mendengar suara dingin Reven, “Apa maksudmu?” desisku.

“Kau tidak akan pernah sendirian di tempat ini. Jika Rosse tidak cukup kuat untuk menghadapimu, maka akulah yang akan ada disini. Menunggumu sampai kau menyelesaikan satu fase merepotkan ini.”

Mataku membelalak, tak percaya pada apa yang baru saja kudengar. Aku menggeram dengan marah. Berusaha bangun tapi tidak bisa. Aku kembali meronta dengan kuat dan memaki Damis yang entah mengunakan ikatan jenis apa yang membuatku tidak bisa bangun dari sini. “Lepaskan aku!” semburku penuh kemarahan.

Damis maju selangkah dan duduk di tepian tempat tidurku, membelai kepalaku lembut, “Bersabarlah, Rena. Cobalah untuk menenangkan dirimu dan mengambil alih kuasa atas dirimu sendiri. Jangan biarkan rasa haus itu menguasaimu terlalu dalam.”  

Aku menggeleng, “Hanya kali ini. Aku janji. Biarkan aku merasakannya sedikit lagi, Damis. Aku mohon.” Bisikku tertahan.

Dia menunduk, mengecup dahiku dan segera bangkit, “Maafkan aku, Rena. Ini demi dirimu sendiri.” Usai berkata seperti itu dia mundur, kembali menjajari Reven dan aku memandangnya tak percaya. Bahkan ketika dia menepuk bahu Reven sebelum akhirnya dia menggandeng Rosse keluar dari ruangan ini. Aku benar-benar tak percaya pada apa yang dilakukan Damis. Bagaimana dia bisa bersikap seperti itu terhadapku? Apa ini balas dendam untuk sikap kasarku terhadapnya sebelumnya.

“Jadi, kita cuma berdua saja akhirnya.” Reven menarik satu kursi berlengan mendekat ke tempat tidur dan duduk di atas sana, mengamatiku yang masih bertampang terkejut. “Bagaimana rasanya Sherena?” dia tersenyum licik, “Bagaimana rasanya menjadi vampir? Apakah menyenangkan megetahui bahwa akhirnya kau bukan lagi seorang half vampire?”

Aku hanya menatapnya. Tidak bereaksi apa-apa dan hanya diam. Mengabaikannya. Sesungguhnya aku sama sekali tidak mendengarkannya. Aku hanya memikirkan darah, kelezatannya, aromanya. Aku menelan air liurku. Aku mau darah. Sial! Aku mengerjap dan berusaha memfokuskan diriku pada Reven. “Jadi sekarang apakah akhirnya kau bisa merasakan jiwa Noura di dalam tubuhmu?”

Noura? Jiwa Noura?

“Sherena Audreista..terima kasih.”

Jadi apakah itu bentuk jiwa Noura? Sosok Noura yang kutemui sebelum aku terbangun tadi adalah jiwa Noura? Jiwa Noura yang ada dalam tubuhku. Aku membeku, jika memang itu dia, berarti dia sudah meninggalkan tubuhku. Aku adalah aku. Benar-benar aku.

Kau adalah kau sepenuhnya. Dirimu sendiri dan kau.. sehat.

Noura?

“Apakah kau merasakannya?”

Suara Reven mengembalikan kesadaranku. Aku menatapnya lurus-lurus, menggeleng, “Tidak ada. Sudah tidak ada.” Jawabku pelan.

“Apa maksudmu dengan tidak ada?”

Lalu perlahan, entah karena apa, aku menceritakan semuanya kepada Reven. Dia mendengarkanku dengan baik dan sama sekali tidak memotong ucapanku. Dia mengerutkan keningnya berkali-kali. Aku selesai dan dia masih saja diam. Ini benar-benar menganggu. Aku berusaha keras menghilangkan keinginanku untuk mendapatkan darah lagi dengan berbicara panjang lebar dengan Reven. Tapi sekarang dia malah diam dan membiarkan otakku dipenuhi cairan merah kental itu. Aku mengibaskan kepalaku, memandang Reven yang menunduk, entah apa yang sedang ada di dalam kepalanya.

“Jiwa Noura sudah tidak ada. Sekarang aku adalah Sherena Audreista, Reven. Aku bukan lagi seorang calon ratu dengan separuh jiwa Noura dalam tubuhku.” Bisikku padanya. Reven mengangkat wajahnya, “Tidak lengkap seperti itu.” Jawabnya membuatku bertanya-tanya.

Kali ini aku yang mengerutkan keningku mendengarkan jawabannya.

“Kau tetap seorang calon ratu bagi ras kita.”

Satu kalimatnya, yang diucapkan dengan sangat datar membuat mulutku ternganga. Bagaimana bisa? Tapi aku sama sekali tidak berminat menanyakan itu karena wajah Reven menandakan bahwa pikirannya sama sekali tidak disini. Apakah akhirnya, untuk pertama kalinya dia bisa menyadari bahwa Noura sudah benar-benar pergi. Maksudku, pergi secara keseluruhan. Tidak ada lagi sisa-sisa Noura di dunia ini kecuali kenangan yang ditinggalkannya pada orang-orang yang mengenalnya.

Aku mengedip ketika kurasakan tangan Reven menyentuh tepian mulutku dan mengusapnya, ada bekas darah di tangannya. “Kau benar-benar menikmati darahku ya?”

“Eh?”

Dia tersenyum singkat, “Tidurlah.” Katanya mengabaikan ketidakmengertianku, “Tidurlah selagi kau bisa merasakan seperti apa tidur itu.”

***

“Jadi sebenarnya apa tujuanmu datang kesini?” Arshel mengamati sosok asing yang beberapa saat lalu mendadak masuk ke dalam gua tempat tinggal ayahnya dan memaparkan banyak hal yang membuatnya mengurungkan niatnya mengusir makhluk ini.

Morgan balas menatap Ar dan berkata dengan nada suara paling tegas yang pernah didengar oleh Ar, “Kita punya tujuan yang sama, Arshel.”

Mendengar itu, Ar terdiam dan Akhtzan yang sedari tadi hanya mengamati dan mendengarkan terlihat semakin gelisah, “Apakah ini juga bagian dari rencananya?”

“Ya.” Morgan mengangguk, “Dan sekarang sudah saatnya kita semua bertindak. Sherena sudah berubah.”

“Apa maksudmu?” sahut Ar cepat, mendadak saja jantungnya berdebar kencang dan dia merasa takut pada apa yang akan dia dengar selanjutnya. Akhtzan meremas tangannya dengan gugup. Suasana di dalam gua mendadak saja terasa berbeda.

“Sebelumnya aku tidak tahu jika Sherinn adalah Sherena. Jika aku tahu itu sejak awal, aku akan melindunginya. Tapi yang terjadi, aku malah berniat membunuhnya sebelum ini.” Mata Ar membelalak dan dia mengangkat pedang peraknya yang digenggamnya erat di sampingnya, “Dengarkan aku dulu.” Sergah Morgan melihat gerakan Ar. Meski tak menjawab, Ar menahan dirinya, meletakkan kembali pedang itu di sampingnya seperti sebelumnya, “Kupikir dia hanya manusia yang dimanfaatkan para vampir untuk memata-matai kelompokku. Namun ternyata dia lebih berharga dari itu.” Dia berhenti, menatap Ar dan Akhtzan bergantian.

“Aku tidak pernah melihat manusia manapun yang sanggup berlari menjajari kecepatan vampir. Tapi malam itu aku yakin Sherena melakukannya. Dia berlari menjajari seorang vampir perempuan yang mengajaknya kabur dariku. Namun ketika itu dia masih manusia, aku berani memastikannya karena bau tubuhnya masih bau tubuh manusia.”

“Sekarang, aku sudah tidak berani memastikan itu. Dia mungkin saja sudah berubah menjadi vampir, dan berada di tempat yang salah. Arshel, hanya kau yang bisa membawaku kesana. Kita harus menyelamatkan Sherena atau segalanya akan terlambat.”

Wajah Ar mengeras, dia menatap Morgan dengan tajam, “Bagaimana bisa aku mempercayaimu? Bagaimana jika kau hanya menggunakan alasan ini agar kau tahu dimana kastil pusat ras vampir berada? Kau manusia serigala dan kau musuh utama mereka. Kau punya cukup banyak alasan untuk memanfaatkan informasi ini demi kepentinganmu sendiri.”

Morgan tertawa sarkastik, “Bagaimana kau bisa mengatakan hal seperti itu? Tidak bisa dipercaya. Kau pikir bagaimana aku bisa sendirian saja  duduk berbincang denganmu disini sementara jika tujuanku memang seperti yang kau sebutkan tadi, aku bisa langsung menyerbu tempat ini dan memaksamu mengatakan dimana letak kastil itu atau akan membunuhmu jika kau tidak bicara.”

Ar menimbang-nimbang apa yang dikatakan Morgan, dia menoleh kepada Akhtzan, “Bagaimana menurutmu, ayah?”

Akhtzan menggeleng, “Dia tidak berbohong, semua yang dikatakannya sama persis seperti yang dikatakan Noura.” Jawab Akhtzan membuat Ar membuang nafas panjang, dia menatapnya ayahnya lagi ketika mendengar suaranya, tapi rupanya Akhtzan bicarad engan Morgan karena laki-laki tua itu menatap Morgan dengan pandangan menyelidik yang kentara, “Apa hubunganmu dengan Noura?”

“Bukan saatnya membahas hal itu. Ini tentang putrimu, Akhtzan.”

Akhtzan terdiam, dia beralih menatap putranya, “Pergilah. Lakukan apa yang semestinya memang kau lakukan. Lindungilah adikmu, Arshel.”

“Ayah..”

“Gantikan tempatku untuk melindungi, Sherena.”

Ar mengangguk tegas, “Akan kulakukan tanpa kau memintanya, ayah. Tapi aku masih ragu apakah ini benar atau tidak. Aku hanya.. maksudku, ini terlalu beresiko. Kita bisa saja malah membahayakan Rena, Ayah. Kau tahu bukan jika dia sekarang adalah sasaran dari semua ras yang membenci para vampir.”

Akhtzan terdiam, apa yang dikatakan putranya juga tidak salah. Bisa saja makhluk setengah manusia dan setengah serigala di depannya ini adalah musuh dan bukannya kawan dnegan tuuan yang sama seperti yang tadi dijelaskannya. Dia menimbang-nimbang apakah cukup bijaksana mengambil keputusan terburu-buru menyangkut hal ini.

Jika Morgan memang benar, maka mereka memang harus segera pergi. Tapi jika Morgan adalah penipu. Maka mereka malah akan membawa Rena pada sesuatu yang buruk. Dia terdiam cukup lama dan Morgan bergerak gelisah. Dia tidak suka menunggu sesuatu yang diputuskan dengan sulit seperti ini. Ini bukan saatnya untuk berpikir, ini saatnya untuk bertindak. Lagipula mereka tidak akan langsung ke kastil, ada satu tempat yang sangat penting yang harus mereka datangi sebelumnya.

Morgan lalu teringat sesuatu dan dia segera berusaha mencari benda itu dari dalam bajunya. Dia mengulurkan benda itu kepada Ar, “Ini. Noura memintaku mengembalikan benda ini padamu.”

Ar menatap benda yang disorongkan Morgan padanya dan matanya langsung membelalak tidak percaya pada apa yang dilihatnya. Sebuah kalung dari kerang-kerang kecil yang diuntai dengan sangat indah. Ar mengambil benda itu dengan hati-hati dari tangan Morgan. Setelah terdiam beberapa saat, dia mengangkat wajahnya. Memandang Morgan dan berkata dengan suara gemetar yang jelas, “D-darimana kau mendapatkan kalung ini?”

“Sudah kukatakan padamu bahwa Noura yang memberikannya padaku dan memintaku mengembalikan kalung itu padamu.”

Bibir Ar bergetar. Dia kehilangan suaranya.

“Noura bilang padaku bahwa seharusnya kalung itu ada sepasang. Dan dia menyimpan yang satu untuk dirinya sementara yang ini ingin dikembalikannya padamu.”

Suara Morgan berputar-putar di kepala Arshel, membuatnya pening dan dia merasakan sakit di suatu tempat di dalam tubuhnya. Dia ingat. Dia ingat dengan jelas bagaimana dia membuat benda yang kini digenggamnya itu dengan susah payah. Dia mencari kerang-kerang terbaik yang paling indah di sekitar pantai. Merangkainya dengan berbinar-binar membayangkan bagaimana Noura akan menyukai benda ini. Dia membuatnya sepasang, sepasang sebagai lambang dari perasaannya yang selalu utuh hanya untuk Noura meski dia tahu perempuan itu sudah memiliki kekasih yang sudah dipilihnya.

Dan sekarang, benda yang sudah bertahun-tahun lalu diberikannya pada Noura ada di dalam genggaman tangannya. Tapi tak lengkap karena hanya satu. Maka tanpa keraguan lagi, Ar tahu bahwa Morgan memang benar mengenal Noura. Sebab tak satupun yang tahu tentang sepasang kalung pemberian Ar ini kecuali dia dan Noura. Dan jika Noura memilih menceritakan tentang Ar dan menitipkan kalung ini pada Morgan, maka Ar tahu bahwa Noura mempercayai manusia serigala satu ini.

“Aku akan menanyaimu banyak hal selama kita di perjalanan nanti.” Katanya parau.

Morgan tersenyum, mengetahui bahwa akhirnya Ar sadar bahwa dia memang benar-benar memiliki tujuan yang sama dengannya. Dia bangkit dari duduknya, sementara Ar juga berdiri untuk menyiapkan semua yang akan dia bawa. Akhtzan memperhatikan dengan baik, memberikan beberpa botol kecil ramuan obat yang sangat berharga untuk putranya dan dia mengantarkan mereka berdua berjalan keluar dari gua begitu Ar selesai dengan semua yang dibutuhkannya.

Akhtzan memeluk putra kesayangannya dengan sedih mengingat bahwa dia dan Ar akan berpisah lagi dalam waktu yang tidak dia tahu. Mungkin saja Ar bisa kembali dalam beberapa minggu tapi mungkin saja juga bisa lebih lama dari itu. Akhtzan menyadari bahwa perjalanan ini akan membawa akhir yang sangat beresiko bagi mereka. Dia mengeratkan pelukannya sebelum melepaskan Ar.

“Jaga dirimu baik-baik, nak.”

Ar mengangguk, “Aku akan segera kembali, ayah.”

Lalu dengan berkata begitu dia berbalik dan berjalan menjauh dari gua. Morgan mengangguk sopan kepada Akhtzan dan dia mengikuti langkah Ar yang cepat. Mereka berjalan tanpa membicarakan apapun dan melewati hutan dengan mudah seolah-olah ini adalah hutan biasa tanpa perlindungan sihir. Ketika Ar akan berjalan ke arah utara, Morgan menahannya.

“Kita harus pergi ke satu tempat dulu sebelum menuju ke kastil itu.”

Ar mengerutkan keningnya, “Kemana?”

“Ke sebuah tempat rahasia milik rasku.”

Ar semakin tak mengerti dan dia memandang Morgan penuh tanda tanya, “Apa yang akan kau lakukan disana?”

Morgan tersenyum penuh misteri, “Kita harus membangunkan Victoria Lynch terlebih dahulu.”

<< Sebelumnya
Selanjutnya >>

Mau Baca Lainnya?

75 Comments

  1. waaaah…waaaah…
    makiiiin seruuuuuuuuuuuu…..
    n cpakah victoria lynch to????
    hehe
    mesti nggu mggu depan gee ne…
    hmmpppphhhhh….
    #peluk erat author biar tetep smgat n cpeet dlnjutin…hehe

  2. Thank for update sis… Semakin seru dan menegangkan…semua berpusat ke Noura…hebat ya Noura. Wait for next chapter sis…semangat

  3. Akh author nya pandai banget ni ngaduk' emosi
    Penasaran banget,bertanya tanya apa kelanjutannya
    Berimaji sendiri ngebayangin next chap
    Seratus jempol buat author

    Semuanya saling berkaitan
    Penuh misteri
    Satu terjawab muncul misteri bru lagi
    Akkkh saia galau gak sabaran huuuuwaaaaa….
    *Authorhrustanggungjawabdengansemuakegalauansaiaini*
    Next..next..next:)

    *Pinjam jempolnya kengkawan* 🙂

  4. Apa cuma aku yang merasa, kalau novel ini terpengaruh oleh film Underworld?
    Atau memang iya? He3x.
    Kuharapa Morgan bisa jadi 'lawan' yang sebanding untuk Reven. Soalnya Reven butuh saingan nih dalam hubungan love and hatenya sama Rena. Wkwkwk.

  5. Dan haruss menunggu 1 minggu lagii…….huftt.. Thor ceritanya tambah seru tambah bikin PENASARAN ,'selalu nunggu ni cerita…saking serunya bingung mau comment apa… wkwkwks… Btw thor… Update 1 minggu 2x bisa kan? *naik-naikin alis* ayolaah thorr :3

  6. Underworld ya?? Lycan?? I love it.
    Terinspirasi? Bisa banget. Mungkin karena aku suka baca buku2 tentang vampire dan nonton film2 sejenis itu jadi banyak menginspirasi.

    Morgan dan Reven?? Kita lihat saja nanti.. 😛

  7. Jatahnya sih seminggu sekali, tapi kalau bisa juga dua kali seminggu tapi itu jarang bgt. hehehehe.

    Halooooo, salam peluk buat pembaca baru 😀

  8. ap? sudah mw titik krusial sblm the end?
    please jgn cpt2 tamat dunk T_T
    kn rena bru mulai dkt sma reven, blm jg saingan sma morgan,.
    aq blh request ga?
    bnykn part tentang rena n reven, tp hrz reven yg ngejar2 rena, scra dy dlu jahat bgt, apalagi kl ad saingan c morgan
    pasti seru 🙂
    btw thanks to author krn update, lbh thanks gy kl akhr mgu ad update'an gy
    :-):-):-):-):-):-):-)

  9. Ceritanya bener2 bagus thor. Nggak sayang nih dibagi2 gratis begini? Hehehe piissss.. *dijitak rame2 pembaca lain* :p

  10. Ceritanya bener2 bagus thor. Nggak sayang nih dibagi2 gratis begini? Hehehe piissss.. *dijitak rame2 pembaca lain* :p

  11. Duh.. Autr aku penasaran dgn apa yg di pikiran revan.. Apa revan gk ada feel sama sx dgn rena?? Apa mereka bkal jd king n queen?? Klo bisa kisa cibta nya di buat romatis.. Buat revan bisa merasa butuh rena n cemburu..
    Trz gimana klo vampir, ras manusia, werewolf n penyihir bersatu.. Stdk nya jgn saling perang n bunuh2an lah..

    Byk bgt yah permintaan sisil?? Hehe..
    Sorry autr.. Trlalu ngfans dgn crt mu..

  12. Wow wow Rena udah jadi full Vampir dan darah pertama yg dia minum adalah punya Reven, apa artinya ini?? kayaknya spesial yah?!

    Thor, aku suka banget cara romantis ala Reven, sok-sok diem cuek gimana gitu padahal… hahaha pokoknya aku suka Reven-Rena deh, jangan ama Damis yah… Damis balik aja sama Ms. Corbis itu hehe

    Ini cerita makin seru aja deh, muncul tokoh baru lagi~ siapa tuh Victoria Lynch?? PENASARAN SAYA! CEPETAN UPDATENYA YAH QAQA :*

  13. Akhirnya rena jd vampire juga….dan darah pertama yg dminum rena adalah darah reven…mungkinkah reven mulai suka dgn rena……….????
    Aduchhh….penasaran bnget next chapternya….thor….pleaseee..updatenya jngan lama….#berharap.
    Semangattt…buat author :D!!!
    (nufa_fuadah)

  14. AAAAAAKKK kepo parah kak!!!!!!!
    Aaaaaak lg, reven senyummm!! Gila reven bisa senyuumm, saya mesem mesem sendiri nih ka:33
    Lanjutin kak cepetan ka kepo.be.ge.te!!!
    SEMANGAT QAQA!!!
    Anna.

  15. Woah~ Rena udah beneran berubah, sakitnya nyampe banget nih ke yg baca…
    Kak Ar, aku tersentuh dgn kisah cinta sepihakmu, setia banget sih Kak 😀
    Reven agak baik dikit nih di sini, okeylah.. okeylah..
    Keep writing, Kakak!

  16. Wahhh,, tidak sia" sy buka blog ini dapat lagi next chapter HV…. Sprti dugaanku reven pasti akan jatuh cinta sm rhena, jd penasaran kisah romantisme keduanya… Xixixi *ngayaltingkatdewa*
    kira" ar dan morgan knp ya??? siapa sih pendatang barux? kenalin dong….. Waduhh nggak sabar nunggu lanjutanx nih.. *Urut"dada*.. Ttp semangat ya ria nulisx… I be waiting for yu next chapter HV…. ^__^
    (Artharia)

  17. agak sebel ya sama noura krn bikin kehidupan jadi ribet huhu, terlalu banyak rahasia yang belum terungkap nih, semoga di chapter berikutnya semakin seru 🙂 anw, HV ada berapa chapter ya?

  18. pagi, siang, sore, malam…..kerjaannya buka blog ini…ya sapa tau udh da lanjutannya lagi….klo ada senengnya minta ampun…tapi klo blm da langsung manyun….

    ceritanya keren banget…..

  19. Ceritanya keren bangett :D' terlalu alurnya terlalu susah ditebak hehehe, tapi itu yang membuat ceritanya makin menarik, pembaca bakal tetep nunggu karena ya itu tadi, ceritanya gak bisa diduga-duga hehe ;D

  20. @kimura : Iyaaahh, sudah mau menjelang chapter2 krusial. Kadang ada yang nanya HV kapan tamatnya, dan yah aku bakal menjawab kalo dalam beberapa part, mungkin ngga sampe 10. Mungkin.. bakal udah selesai kisah ini.

    Part tentang Rena dan reven?? Banyak kok, tenang aja. Dan Morgan?? Yup kita liat aja ntar gimana.

    Kembali kasihh :DD

    @Yona : Akkkk Morgan bakal jatuh bangun ngejar Rena?? Hahhaha RAHASIA dong 😛 😛

  21. Victoria siapa? Akan terjawab di part selanjutnya. Hahahaha jangan mati penasaran dong.. jangannnn!!!

    Hihihi makasiii :* :* :* love u too

  22. Reven?? Pikiran Reven?? Aku bahkan ga bisa baca gimana pikiran Reven sebenarnya, dia terlalu.. yah.. complex.

    Scene Romantisme.. Emmm, gimana yahh, aku merasa agak kurang di bagian ini. DAn tentang perang.. mm.. RAHASIA. hahahha 😛 😛

  23. Darah pertamanya darah Reven?? Hahaha adakah rahasia di baliknya?? Ada, sepertinya ada. *sok misterius*

    Ahh.. kamu suka Reven. Akhirnya akhirnyaa.. masih ada fans Reven yang bertahan. Karena dengan sikapnya Reven, banyak yang tidak jadi suka dnegan dia.

    Victoria Lynch siapa?? Bakal terjawab di part selanjutnya. 😀

  24. Mungkinkah?? Rahasia dong, 😛 😛
    Ngga akan lama, sungguh. Aku janji ngga akan lama, dalam minggu ini pasti uda ada chapter baru.

    Semangat semangattttt!!!
    Thanks Nufa 🙂

  25. Iya, dia sudah menjadi sepenuhnya vampir. Rasa sakit itu sebenernya ngga terlalu, karena dia berubah disebabkan oleh jiwa Noura. Namun kalo jadi vampir karena gigitan vampir lainnya, akan lebih menyakitkan.

    Semangat semangat!!

  26. harus bisa sist.. aku suka mereka romantis.. jd tambah gregetan hehe..
    oopzzzz… padahal aku ingin autr crt ttg pkran revan dan knp dia menghilang wkt di desa n malah di gantiin..
    please autr hiksss….

  27. Hahaha makasiii ya.
    romantisme antara mereka berdua?? Aku ga yakin bisa menulis adegan ini dengan benar nantinya. Hehehe

    Ar dan Morgan kenapa? Apa yang mereka lakukan?? Akan terjawab di part selanjutnya. 😛

    Semangat semangat!!! *peluuuk*

  28. Jangan sebel sama Noura. Dia sebenernya baik kok. Dan semua rahasia akan terungkap sesegera mungkin kok. Ada berapa chapter? Tunggu saja ya.. akan segera selesai kok, ngga sampe 10 chapter mungkin.

  29. Hahaha makasii makasiii uda sesering itu buka blog ini. Apakah aku sering membuatmu manyun karena chapter selanjutnya belum juga diupload. Maaaffff.

    😀 😀

  30. gak sia-sia setia ma novel ini setahun 🙂 .. tiba juga nih saat2 mulai romance.. love author ^^

  31. kok makin kesini ceritanya aku nebak nya sihh kalo noura melakukan itu semua untuk kebaikan semua klan. karna noura melakukannya pasti ada sebabnya kan thor?? mungkin gk itu semua di lakukan noura untuk melindungi semua klan dari "misi rahasia" jahat ayahnya reven (sory thor lupa nama rajanya. soalnya jarang muncul sihh :D)
    mungkinkah ayahnya reven ingin menjadi raja diatas segala raja klan???
    #sorry thor udah mulai ngaur ya nebak2 nya 😀

    soalnya masak ia Ar+bapaknya+morgan rela2aja bantuin noura kalo gk menyangkut masalah beberapa klan sihh. apa lgi kan rena adek nya Ar masak dia+bapaknya tega rena di jadikan "tumbal" kalo gak ada apa2 di tambah morgan mau bantuin dan juga victoria(???)

    #itusemua karnakekepoan ku ya thor 😀

  32. Hahahha.. aku suka tebakanmu. Well, semakin menuju akhir, segalanya memang akan semakin jelas. Nah raja vampir namanya Vlad, dia memang jarang muncul tapi seperti tebakanmu, mungkin dia punya peran penting dalam cerita ini. :))

  33. Tahao transformasinya Sherena.. ga sabar. Gmna klnjutannya 😀
    Ak skarang jd ga ilfeel lg deh sama Reven 😀 hahaha
    Sapa tuh victoria lynch?? Makhlup apa lg tuh??
    Makin pnasaran dehhh 😀
    Big XOXO, and too much suport for you Author!!! Semangat terus lanjutnyaaaaaa >0<

  34. ya thor aq kan br jd reader watty dr agustus 2012..jd bagiku baru setahun..jd novelmu ini penghuni terlama libraryku krn critanya entah knapa mengikatku utk tetap mempertahankannya 😀

Leave a Reply

Your email address will not be published.