Half Vampire – Karena Kau adalah Kau

Seharian ini aku menghindari Damis. Agak sulit memang,tapi aku berhasil melakukannya sampai malam menjelang. Aku bersyukur karena Rosse maupun Russel belum kembali. Karena menghindari Rosse jelas tidak mungkin bagiku. Aku menyayangi dan menghargai Rosse. Karena dia demikian baik padaku sejak awal sampai akhir. Setidaknya dia mempercayaiku sebagai calon pengganti ratu. Sebagai aku yang kelak akan menjadi ratu klan ini seperti yang sekarang sedang dirasakannya.
Aku memandang bulan yang cahayanya memudar karena terkurung oleh awan-awan hitam yang berarak di langit malam. Aku duduk di bersandar di tembok kastil dengan memeluk lututku. Aku hanya ingin sendiri saat ini jadi aku memilih tempat terpencil dan duduk seperti orang tersesat yang putus asa dengan mata sembab, merah dan kulitku jadi pucat. Jelas penampilanku saat ini sangat berantakan. Tapi aku tidak  peduli.

Sekali lagi kutekankan aku TIDAK peduli.

Aku memeluk lututku makin erat saat kurasakan udara yang makin dingin. Aku merapatkan tubuhku ke tembok batu kastil ini yang sebenarnya membuatku semakin kedinginan. Apalagi masih harus di tambah dengan efek angin yang kadang bertiup agak kencang.

Aku mengeluh, apanya yang separuh jiwa vampir kalau aku sekarang mengigil begini cuma gara-gara hawa dingin. Bukankah vampir berdarah dingin. Berarti aku memang bukan bagian mereka. Aku masih manusia. Atau hanya BELUM.

Aku menggeleng pelan. Sudah, aku tidak ingin berpikir sesuatu yang makin menambah pusing kepalaku. Aku masih memandang bulan yang samar-samar itu sambil jujur saja masih memikirkan semua kejadian tadi pagi. Dengan Reven, dengan Lucia. Memikirkannya saja membuatku kesal. Mereka berdua memang cocok, pikirku. Sama-sama tidak berperasaan, angkuh dan dingin. Seperti batu es.

 Lihat saja bagaimana cara Lucia dulu dengan terang-terangan mengatakan dia tidak meyukaiku dan menganggap dirinya lebih pantas menjadi pengganti calon ratu daripada aku yang mendapatkan takdir itu dengan cara Reven pagi tadi bicara sama terang-terangannya dengan Lucia.

 Aku mengangguk-angguk sendiri. Ya, mereka memang sangat cocok. Kenapa tidak berpasangan saja. Lalu aku mendadak teringat Russel. Bukankah Damis pernah bilang bahwa Lucia adalah calon pengantin yang telah dipilih Russel. Ah iya, dasar penghianat memang mereka berdua.

Astaga! Apa yang baru saja aku katakan?? Aku menggeleng, tidak. Mungkin saja aku salah. Mungkin Lucia memang pengkhianat tapi Reven tidak.

Apa?? Bagaimana mungkin aku malah membela dan berpihak pada makhluk tak berperasaan itu.

 “Arggghh!!!” aku berteriak frustasi sambil mengacak-acak rambutku. Sudah cukup dengan pikiranku yang bercabang-cabang tidak karuan seperti ini. Menyebalkan. Dan aku malah makin kesal sendiri.

“Rena.. Rena kaukah itu?”

Aku melompat bangun saking terkejutnya, mataku menyipit memfokuskan pandanganku pada sosok yang tergopoh-gopoh berjalan ke arahku. Aku terus mencoba fokus. Tapi kegelapan malam dan daerah sekitar kastil yang nyaris tanpa penerangan membuatku sangat sulit mengenali siapa itu.

 “Rena…”

 “Damis.” kataku lega mengenali suara itu, entah mengapa ternyata sia-sia saja aku menghindar sepanjang hari ini kalau ternyata aku malah merasa lega mengetahui Damis menemukanku disini.

 “Apa yang kau lakukan disini, dan ya ampun. Kau benar-benar berantakan. Ada apa?? Kemana saja seharian ini. Aku mengitari seluruh kastil untuk mencarimu dan mengkhawatirkanmu. Dan kau malah ada disini. Dalam kegelapan, sendirian dan.. dan dengan penampilan seperti ini.. Astaga Rena, kau be..”

Aku memeluk Damis erat, lalu entah bagaimana malah diam-diam menangis di dadanya yang bidang. Aku bisa mencium bau tubuhnya yang menyenangkan. Aku bisa merasakan kehangatan berada dalam pelukannya. Dan aku merasa aman.

“Rena.. ada apa?” tanya Damis lembut sambil balas memelukku.

 Aku tidak ingin menjawab. Aku hanya ingin merasa aman saat ini. Dan entah dari mana munculnya ide memeluk Damis membuatku bersyukur. Karena sekarang, hanya dengan begini. Hanya dengan memelukya. Aku merasa terlindungi. Dan aku suka karena Damis tidak akan memaksa ingin tahu, Damis tidak akan memaksaku bicara kalau aku memang tidak ingin. Jadi dia membiarkanku berada dalam pelukannya.

“Ada apa?” pertanyaan yang sama itu terucap kembali dari mulut Damis ketika kami sudah ada di balkon lantai dua dekat ruangan pribadiku. Dan aku sekarang juga sudah lebih baik. Sudah mandi, membaiki penampilanku dan sudah makan.

Damis terus menatapku, aku tahu tidak adil rasanya jka aku diam dan idak menjawab pertanyaannya. Jadi aku memulai dengan helaan nafas panjang. “Aku merasa tidak pantas…”

 Meskipun jawabanku tidak jelas dia tidak menyela dan menungu aku melanjutkan meski dengan jeda yang lama, aku menghela nafas panjang lagi sebelum kembali bicara, “Aku merasa tidak pantas menjadi calon pengganti Noura. Dan ini bukan sekedar perasaanku saja, tapi beberapa orang, vampir maksudku juga mengatakan hal yang sama dengan yang kupikirkan.”

 “Reven?” tanyanya menyelidik

 Aku memandang Damis sebentar, “Aku hanya merasa bahwa aku tidak berguna. Dan tidak sejajar dengan Noura. Aku tida secantik Noura. Aku tidak sehebat Noura. Aku tidak…”

 “Memang.” Sela Damis untuk pertama kalinya dan cukup membuatku terkejut. Aku menatapnya, lalu membuang muka. Ternyata benar, ternyata benar bukan Cuma Reven atau Lucia saja yang berpendapat begitu. Bahkan Damis pun juga. “Memang kau tidak akan pernah bisa menjadi seperti Noura. Tidak bisa dan sedikit pun tidak. Karena Kau memang BUKAN Noura. Kau Rena. Sherena Audreista. Manusia yang sedang demikian sialnya sampa-sampai harus terjebak menjadi calon ratu bagi klan yang dulunya adalah musuh klannya. Kau memang tidak akan pernah menjadi Noura. Karena sudah ku katakan tadi, dan akan terus ku katakan sampai kau akan terus ingat bahwa kau memang BUKAN Noura. Kau adalah kau. Kau adalah dirimu sendiri.”

 “Rena, kau jauh lebih indah jika kau mau menghargai itu. Mungkin hanya sebuah sebutan saja sebagai pengganti Noura karena memang begitu adanya. Kau memang akan menggantikan Noura. Kau akan mengambil alih beban Noura sebagi calon ratu kami. Kau memang penggantinya tapi kau bukan bayangan Noura. Kau sebagai calon pengganti ratu. Dan kau maju sebagai pribadimu sendiri. Sebagai Sherena Audreista. Bukan sebagai duplikat Noura. Ingatlah itu”

 Aku memutar kepalaku pelan, memandang Damis. Aku mendengar apa-apa yang dikatakannya tadi. Aku tidak berani memandang wajah Damis ketika dia tengahbicara tadi, tapi semua ucapannya tadi merasuk ke pikiranku. Menohok sisi terdalam di hatiku. Aku.. aku tersentuh sekali. Aku..

 Mataku berkaca-kaca

 “Dan Rena.. jangan jadi cengeng. Disini kau harus kuat. Ucapan Reven atau siapa pun yang meragukan keberadaanmu sebagai pengganti calon ratu harusnya tidak membuatmu lemah. Kau harus bangkit, buktikan padamu bahwa jiwa Noura yang sekarang ada dalam dirimu memang tidak salah memilih. Buktikan pada mereka bahwa kau memang Layak.” Katanya lagi sambil menyentuh pipiku dan mengusap setetes air matanya yang jatuh di sudut mata kananku. “Aku tahu Noura memilihmu dengan alasan yang kuat. Aku tahu bahkan setelah dia mati pun dia tetap meninggalkamu untuk kami sebagai orang yang dipercayainya untuk melanjutkan tugas beratnya. Kau dan Noura mungin memang punya ikatan yang kuat bahkan tanpa bertemu sekali pun.” Dia menurunkan tangannya yang membelai pipiku lalu tersenyum.

 Aku terpaku, membatu. Semua yang dikatakan Damis telah membuatku sadar bahwa selama ini aku demikian pesimis dan kerjaku hanya menyesali takdir yang membuatku menjadi calon ratu. Menyesali takdir yang membuatku terdampar di tempat ini.

Ternyata aku demikian bodoh.

Damis benar, aku sudah tidak bisa kembali ke belakang. Jadi yang ku perlukan sekarang hanyalah maju dan terus menatap apa yang ada di depanku. Aku harus membuktikan pada mereka yang meremehkanku. Pada Reven pada Lucia pada siapa pun.

 Aku akan menjadi calon ratu yang layak untuk mereka.

 Aku memandang Damis, lalu sudut bibirku perlahan tertarikke atas. Aku tersenyum,

“Terima kasih.”

 ———————————————-

Aku turun ke bawah menuju ruang makan dengan wajah yang ceria esok harinya. Aku memilih baju dengan warna cerah dan mengikat rambutku yang panjang menjadi seperti ekor kuda. Suasana hatiku sudah membaik, dan lebih dari itu. Aku merasa sangat sangat bahagia.

 “Rosse..!!!” panggilku nyaris berteriak begitu mendapati Rosse ada duduk di ruang makan. Dia tersenyum lebar dan memberiku sapaan selamat pagi. “Kau nampak sangat bersemangat dan ceria hari ini, Rena.”katanya sambil meneliti penampilanku.

 Aku melirik Damis ketika duduk di kursi tepat di samping Rosse, “Yah, aku merasa sangat senang melihatmu, rasanya sudah lama sekali sejak terakhir kali kita berbincang bersama.” Sahutku.

“Oh Rena, kau manis sekali. Maaf belum bisa menemanimu berbincang lagi.” Kata Rosse membuatku tersenyum makin lebar meski agak malu-malu. “Ku dengar kunjungan ke rumahmu berakhir buruk dan kau sempat terluka. Apa kau baik-baik saja? Apa saja yang dilakukan Deverend dan Lyra disana sampai mereka tidak bisa menjaga satu orang saja.”

Aku menahan tawa mendengar apa yang baru saja di ucapkan Rosse. Rasanya aku familiar degan kata-kata itu. Damis juga bicara hal yang sama padaku pagi-pagi ketika dia membangunkanku, aku menyentuh tangan Rosse dan meyakinkannya bahwa aku tidak apa-apa dan bahwa Dev dan Lyra sudah demikan baiknya melindungiku dengan sekuat tenaga mereka.

Rosse nampak lega setelahnya dan membiarkanku makan dengan ditemani ceritanya tentang banyak hal. Sesekali aku tertawa kecil dan menanggapinya. Dan dia akan tersenyum atau tertawa lepas. Damis mengamati kami sambil geleng-geleng kepala, dan Reven yang sedari tadi memang berada di situ seperti biasa sama sekali tidak tertarik dan aku sudah tidak peduli dengannya.

 Aku mulai sekarang sudah memutuskan untuk mengabaikan Reven. Jujur saja aku sebenarnya kesal sekali melihat tampangnya yang seolah semuanya baik-baik saja. Padahal kata-katanya kemarin.. Ah sudah, tidak penting. Menyebalkan mengingat itu semua.

Beberapa menit setelah aku menghabiskan makan pagiku, Reven dan Damis keluar dari ruangan ini bersamaan. Sepertinya mereka akan menyelesaikan sesuatu yang tidak ku ketahui. Aku memang tidak tahu banyak tentang apa saja yang selama ini dilakukan Reven, Damis, Rosse, maupun Russel selama mereka menghilang atau tidak muncul di kastil ini. Dan ngomong-ngomong tentang Russel, aku sudah lama sekali tidak melihatnya di kastil ini.

“Rosse..”

“Ya.”

“Dimana Russel? Sepertinya sudah lama sekali aku tidak melihatnya?” tanyaku dengan wajah penasaran yang kentara.

“Dia pergi ke kelompok-kelompok vampir yang tersebar di wilayah barat untuk menyampaikan undangan dari Vlad. Dan astaga Rena. Apa aku belum memberitahumu.” Katanya keras nyaris seperti berteriak.

“Memberitahu apa?”

“Pesta!! Kami akan mengadakan pesta penyambutan dan mengenalkanmu secara resmi kepada semua perwakilan vampir dari tiap-tiap kelompok kami. Sebentar lagi kastil ini akan ramai dengan kehadiran begitu banyak kelompok kita.”

Aku memandang Rosse dengan terkejut. Apa yang baru saja dikatakannya. Pesta?? Pesta penyambutan dan pengenalan resmi. Ap- apa???

“Kau tahu Rena, aku sangat suka pesta. Gaun-gaun indah. Anggur. Dansa. Sudah lama kami tidak melakukannya sejak kematian Noura dan sekarang, kami akan berpesta untuk menyambut kehadiran calon ratu baru untuk klan kami. Kami sangat beruntung akhirnya menemukanmu sebelum yang lain.”

 “Rosse..”

 Rosse berhenti bicara dan menatapku, “Ada apa Rena??”

“Aku tidak suka pesta. Aku selalu gugup dalam acara-acara formal seperti itu. Aku juga tidak bisa berdansa. Dan..” aku bergidik membayangkan aku ada di antara begitu banyak vampir.

“Rena..” panggil Rosse menenangkanku, “Tidak apa-apa. Kau tidak perlu berdansa kalau kau tidak ingin. Itu tidak penting. Kami hanya ingin berrpesta bersamamu. Kami hanya ingin merayakan kegembiraan kami. Klan kami terselamatkan dengan adanya kau. Rena sayang, kau lebih berharga dari pada sekedar pesta itu. Jangan gugup. Aku pasti akan selalu ada untuk membantumu di pesta nanti.”

Mataku berbinar mengisyaratkan terima kasih yang begitu besar kepada Rosse.

“Ah ya, ku dengar dari Damis kau sudah bertemu Lucia bukan? Nanti dia yang akan membantumu menjadi lebih baik di pesta nanti. Lucia sangat manis bukan, aku merasa beruntung dialah calon pengantin Russel. Kau juga sudah tahu itu kan?”

Aku mengangguk agak berat. Lucia manis? Tentu saja tapi juga dingin dan sinis. Dan mengenai calon pengantin bagi Russel, mendadak aku merasa sangat jahat pada Russel dengan tidak memberitahunya bahwa mungkin saja Lucia tidak benar-benar mencintainya. Lucia menyukai Rev, bukankah itu yang sudah dengan jelas ditunjukkannya padaku ketika itu. Tapi aku juga tidak bisa begitu saja mencampuri urusan mereka. Russel dan Lucia? Aku tidak tahu harus bagaimana, apa aku perlu bertanya pada Rosse?

Akhirnya aku memutuskan untuk diam dan tidak bertanya apa pun lagi. Mungkin aada baiknya aku tidak terlalu ikut campur dalam masalah mereka. Beberapa hari kemudian berlalu tanpa benar-benar bisa kumaknai. Kehidupan disini terlalu hening, sepi dan mendadak aku merasa bosan. Kadangkala aku masih teringat soal pesta yang sempat dikatakan Rosse. Tapi, Rosse tidak pernah lagi membahasnya sehingga aku nyaris lupa, sampai suatu hari ketika mendadak aku mendapati sosok Lyra ada di ruangan tempat Rosse biasa menemaniku makan.

Lyra sudah ada disana sebelum aku turun, bersama Rosse, keduanya nampak membicarakan sesuatu yang kutebak sangat penting dengan hanya melihat mimik muka mereka. Tapi aku tak tahu apa itu, karena ketika aku masuk dan berjalan mendekat, mereka menoleh dan menghentikan pembicaraan itu. Rosse tersenyum padaku dan menyapaku, dan Lyra hanya memandangiku dengan tatapan datar.  Aku heran kenapa dia tidak menatapku dengan tatapan sinis seperti biasanya.

“Rena, apa Lucia sudah menemuimu untuk memperlihatkan gaun yang akan kau pakai besok?” tanya Rosse ketika aku baru saja duduk di salah satu kursi di depannya.

“Gaun? Memangnya akan ada apa besok?” tanyaku tidak mengerti. Aku melihat Lyra menyipitkan matanya, menatapku.

“Apa aku belum membeitahumu kalau pesta yang sempat kubicarakan padamu dulu itu akan dilakukan besok malam?”

Aku diam beberapa detik, mengingat-ingat.

“Kutebak belum.” kata Rosse melihat ekspresiku, “Maaf jika memang begitu, Rena. Jadi pesta penyambutan dan pengenalanmu secara resmi kepada semua perwakilan vampire dari tiap-tiap kelompok akan dilakukan besok malam. Hari ini mungkin kau akan melihat banyak vampir di kastil ini untuk membantu mempersiapkan pesta itu dan beberapa kelompok yang sangat jauh kediaman dan perpindahannya juga mungkin sudah akan disini hari ini”

Aku mengerjap. Astaga. Apa-apaan ini? Pesta? Besok malam. Peyambutan dan pengenalan secara resmi kepada semua perwakilan kelompok. Aku menelan ludah, aku memang sering mendengar, bahkan ketika pelatihan dulu, vampire memang dikenalkan sebagai makhluk yang menyukai pesta. Pesta kelas atas yang jelas, dengan gaun-gaun mewah, dansa, dipenuhi vampir-vampir dengan gaya bangsawan tinggi karena mereka memang menyukainya, dan tentu saja itu semua hanya sekedar pengetahuan bagiku. Tapi besok, besok.. adalah kenyataan dimana aku bahkan menjadi salah satu unsur penting di dalam pesta tersebut.

Aku memandang Rosse dengan tatapan gugup, “Tapi Rosse, aku bahkan belum punya persiapan sama sekali.” Ucapku mengatasi keraguanku untuk berpartisipasi di dalam pesta ini.

Rosse justru tersenyum, “Lucia akan membantumu, mungkin sebentar lagi dia akan mencarimu. Aku sudah berjumpa dengannya dini hari tadi. Ah dia selalu menawan. Tidak salah ku pilih dia untuk membantumu mempercantik dirimu yang sudah cantik itu Rena.”

Aku melihat Lyra yang menipiskan bibirnya, tersenyum sinis. Di samping itu, kenapa Rosse harus memilih Lucia. Tidak adakah vampir lain selain dia? Aku baru saja akan membuka mulutku ketika Rosse bergerak, bangkit dari duduknya, “Aku mendengar banyak yang datang. Sepertinya aku perlu bicara dengan beberapa dari tamu kita itu, Rena. Jadi tetaplah disini dan tunggulah Lucia. Kurasa dia akan kesini sebentar lagi. Ah ya. Jangan lupa makan pagimu, aku tidak ingin calon ratu kami nampak kurang makan.” canda Rosse.

Aku tersenyum kecil, menanggapinya tanpa minat dan menatap sosok Rosse yang berjalan pergi setelah mengucapkan beberapa kalimat kepada Lyra yang lagi-lagi tidak kuketahui karena dia bicara dalam bahasa yang tidak kumengerti. Aku sedikit heran, Rosse  tidak pernah begitu sebelumnya.

“Well, aku juga tidak ingin calon ratu kami nampak kurang makan.” Lyra menirukan omongan Rosse dengan gaya yang menyebalkan. “Seharusnya kau sudah makan seperti kami jika kau memang calon ratu kami.” Kata Lyra lagi sebelum dia bangkit dan berbalik tanpa melihatku sekali lagi.

Aku mengerutkan keningku. Apa-apaan dia itu. Dan lagi, apa maksudnya dengan mak.. Aku diam dan mendadak merinding. Sejak sekian lama, aku tidak sadar sudah berapa bulan di tempat ini, baru kali ini aku menyadari kalau mereka semua vampir. VAMPIR.

Dan vampir hanya punya satu jenis makanan. Darah.

Seharusnya kau sudah makan seperti kami..

Mendadak aku mual membayangkan aku menjadi salah satu bagian dari mereka, menghisap darah dan… akankah aku juga membunuh manusia dan menghisap darahnya sampai habis. Aku benar-benar mual dan merasa lebih mual lagi menatap makanan manusia yang tersaji di depanku. Aku meninggalkan ruangan ini dengan tergesa.

Sepanjang lorong gelap yang kulewati, aku terus memikirkannya. Aku memang belum sepenuhnya menjadi vampir. Aku, masih manusia. Setidaknya itulah yang kurasakan. Aku manusia. Aku heta. Heta? Tidak. Aku harus mengoreksi yang satu itu. Kurasa mungkin sebutan mantan Heta lebih cocok.

Lalu apakah pesta besok itu benar-benar hanya perkenalan? Atau ada sesuatu yang aku tidak tahu. Entah kenapa aku malah berpikir sejauh itu. Memang selama disini aku tidak pernah merasakan gejala-gejala yang menunjukkan perubahan sisi kevampiranku. Atau singkatnya, aku tetap manusia. Makan nasi. Butuh sinar matahari. Tidur. Dan semua ciri pasti manusia.

Apakah mungkin dibalik pesta besok itu ada tujuan lain. Untuk menjadikanku sepenuhnya menjadi vampire mungkin?

Bulu kudukku meremang. Tidak. Aku sudah half vampire. Half human. Ah entah. Yang satu itu aku tidak tahu. Bukankah ketika pelarian dulu Ar juga sempat mengatakan tentang “Half”, berarti aku memang belum sepenuhnya vampire. Lalu apa memang pesta itu memang punya tujuan terselubung seperti yang aku pikirkan tadi.

Aku membayangkan, leherku digigit oleh Vlad, sebagai raja vampir, di depan semua vampire yang datang ke pesta itu untuk menyakinkan dan menandai bahwa aku bagian dari mereka.

 Aku bergidik.

Tidak.

Tidak mungkin, aku menggeleng-gelengkan kepalaku dan berjalan makin cepat tanpa melihat kedepan. Aku tidak mau. Ngeri sekali membayangkan hal itu. Seperti itukah pengenalan secara resmi yang dimaksudkan Rosse. Aku tid..

Brakk

Aku tersentak kaget saat mendadak menabrak sesuatu atau mungkin seseorang. Aku nyaris terjatuh ke belakang kalau saja tangan itu tidak menarikku ke depan dan merapikan keseimbanganku.

Aku mendongak, masih sedikit terkejut.

“Rena.”

Aku melihat Dev tegak di depanku dengan masih memegang kedua tanganku.
“Maaf.” Kataku buru-buru menyadari kalau memang aku yang telah menabraknya karena tidak melihat arah depan. Yah seperti biasa, kadang kala aku memang bisa sedikit ceroboh.

“Tidak apa-apa. Kau sendiri kenapa? Aku sudah melihatmu dari kejauhan, tapi sepertinya kau bahkan tidak melihat arah dimana langkahmu berpijak.” jawabnya sambil mengamatiku. Kali ini dev terlihat bersikap biasa dan normal seperti Dev yang kukenal dn bukan Dev yang sok canggung seperti ketika dia mengantarkanku ke rumahku.

Aku membuang nafas berat, “Pesta.”

Entah kenapa hanya ada satu kata itu yang keluar dari mulutku dan Dev namaknya mengerti. Dia melepaskan pegangan tangannya dan menepuk pundakku pelan, “Tidak perlu gugup, itu hanya pesta kecil. Seperti pesta biasa, akan ada dansa, minuman dan..”

“Apa mereka akan memperkenalkanku secara resmi dan menandaiku sebagai calon ratu klan ini dengan mengigit dan menghisap darahku sehingga aku benar-benar akan berubah menjadi sepenuhnya vampire dalam beberapa hari?” tanyaku dengan satu tarikan nafas.

Aku memandang Dev yang mendadak menatapku lebih serius dan tiba-tiba tawanya pecah. “Kenapa pikiranmu konyol sekali, Rena. Kau sama sekali tidak berubah. Kuakui cara pikirmu cenderung hati-hati tapi sangat berlebihan dan imajinatif. Tapi tolonglah, jangan separah itu. Kelompok vampire tidak punya aturan sebar-bar itu.” Katanya dengan nada yang biasa kudengar lebih dari setahun yang lalu ketika aku masih dekat dengan Dev yang kukira juga Heta dan tentunya manusia biasa sepertiku. Mendadak aku baru saja menyadari kalau ternyata sudah lama sekali Dev tidak menertawaiku dan bicara dengan nada biasa serta ramah seperti tadi.

Dev meneruskan ucapannya tanpa (mungkin) menyadari pikiranku itu. Aku tidak tahu bagaimana kemampuan membaca pikirannya, Rosse pernah mengatakan padaku kalau kemampuan lebih pada para vampire seperti yang dimiliki Dev mungkin akan sangat sulit berfungsi kepada sesama klan. Dalam hal ini aku masih mendeskripsikan diriku sebagai Half Vampire.

“Sudahlah, tenang saja. Hanya pesta biasa. Mungkin sedikit lebih ramai. Ini pertama kalinya kastil ini benar-benar akan berpesta sejak kematian Noura. Jadi mungkin akan banyak sekali kelompok-kelompok vampir yang tidak mendatangkan wakilnya tapi justru semua anggota kelompok itu. Kudengar Vlad juga tidak melarang, kastil ini cukup untu menampung semua kelompok vampire yang ada di seluruh pelosok dunia. Wajar juga karena di pesta inilah kami akan benar-benar tahu siapa calon ratu kami. Secara resmi, dengan bertatap muka langsung dengan sang calon ratu.”

Aku memalingkan wajahku, “Aku takut Dev.”

“Tidak apa-apa, itu wajar. Dan bukankah Rosse akan membantumu menyiapkan dirimu untuk besok malam.”

Aku menggeleng, “Rosse mungkin terlalu sibuk. Dia meminta Lucia melakukannya. Dan aku tidak terlalu suka Lucia.” Ucapku tanpa sadar telah demikian jujur mengatakan perasaanku tentang Lucia dengan Dev.

“Aku juga tidak terlalu menyukainya.”

Aku menatap Dev lagi.

“Ambisinya terlalu besar. Dia menganggap dirinya mempunyai kekuasaan yang besar hanya karena kedekatannya dengan Reven.”

Mataku melotot terkejut, apa maksud Dev dengan kedekatan Lucia dengan Rev. Apa dia juga berpikir sama denganku bahwa Lucia dan Rev… sepertinya aku benar-benar akan berbicara dengan Russel tantang ini. Aku tidak tega. Dia terlalu baik. Dan Lucia. Ah, dia tidak benar-benar menyukai Russel.

Aku baru saja akan mengatakan sesuatu ketika aku melihat sosok lain di belakang Dev yang mendekat ke arah kami. Aku memfokuskan pandanganku dan mengenali sosok itu. Dev berbalik, mungkin juga menyadari kehadiran sosok itu, tentu kau masih ingat tentang indra perasa vampire yang sangat sensitif bukan. Jadi sepertinya Dev mungkin saja sudah tahu bahkan sebelum aku melihat sosok itu dari balik tubuhnya.

“Rena, Dev, sedang apa kalian?”

“Hanya tidak sengaja bertemu dan berbincang sebentar.” jawab Dev

Tapi Damis malah memandangku, aku mengangguk dan dia tersenyum. Aku tahu Damis percaya denganku. Dia mengalihkan pandangannya kepada Dev, dia kelihatan buru-buru sekali, mungkin tadi pun Damis juga tidak sengaja melihat kami dan akhirnya memilh menghampiri kami sebelum menyelesaikan apa pun itu yang membuatnya terburu-buru.

“Dev, apa kau sudah bertemu Vlad. Kudengar dia ingin bicara denganmu.”

Vlad? Dia sudah di kastil ini? Astaga. Aku mendadak gugup lagi. Aku cuma sekali bertemu dengan Vlad dan itupun tidak bisa dikatakan berbicara dengannya. Otakku kembali dipenuhi tentang pesta, penyambutan, pegenalan resmi dan entah apa lagi.

“Ya, aku baru saja bertemu dengannya dan Reven di atas.” Jawab Dev.

Damis mengangguk, “Baiklah kalau begitu, sepertinya aku juga perlu berbicara dengan Reven sebentar.” Lalu dia berpaling padaku lagi, “Kau sudah makan pagi, Rena?”

Aku menjawab ya dengan singkat dan tidak jujur, entah kenapa dari sekian banyak pertanyaan yang mungkin dikatakannya kenapa Damis justru memilih pertanyaan itu. Membuatku teringat kesimpulan menghisap darah yang sempat mampir di otakku tadi. Aku sudah bersikeras memutuskan tidak akan makan pagi gara-gara itu.

“Bagus. Mungkin Dev bisa menemanimu berkeliling kastil hari ini dan mengenalkanmu dengan yang lainnya. Kudengar beberapa sudah ada yang datang kesini. Kastil ini pasti akan penuh.”katanya riang.

Aku mengangguk, “Pasti menyenangkan bisa mengenal vampire lain selain kalian berdua. Damis tertawa, “Ya, tentu saja. Semua jenis kami benar-benar sangat menyenangkan. Kau pasti akan suka dan mudah berbaur, Rena”

Kecuali Reven, Lucia, Lyra dan entah siapa lagi, kataku dalam hati. Dan jujur saja, sangat sulit bagiku berbaur, kecuali hanya dengan Damis, Dev, Russel dan Rosse.
Sekilas aku melihat Dev menahan senyum, apa dia membaca pikiranku? Aku mengamatinya dan dikagetkan dengan sentuhan tangan Damis di lenganku, “Sedih sekali tidak bisa melanjutkan obrolan ini. Aku harus pergi, banyak yang harus kukerjakan.”

Aku menepuk lengannya, “Tidak apa-apa. Kita bisa berbincang lebih banyak lagi setelah semua urusanmu terselesaikan.”kataku menenangkannya. Jujur saja, aku juga ingin berbincang-bincang dengan Damis, dia teman bicara yang menyenangkn.

“Apakah Russel sudah di kastil?” tanya Dev mengalihkan pandangan sedih Damis dari arahku.

Damis menggeleng, “Dia baru akan tiba tengah malam ini.”

“Selama itukah? Apakah sulit menurutmu?”

Terus terang saja aku sama sekali tidak mengerti dengan apa yang mereka berdua bicarakan. Jadi dalam hal ini aku hanya akan jadi pendengar baik yang kerjanya Cuma mereka-reka.

“Entahlah. Aku sedikit ragu. Reven bilang ini tanggung jawab Russel, jadi dia harus berhasil. Entah seperti apa caranya.” Kalimat terakhir Damis mengambang di udara, aku benar-benar merasa gatal jika tidak menanggapi ini semua. Maka sedetik kemudian aku mendengar suaraku sendiri.

“Apa yang dilakukan Russel selama ini?”

Keduanya serempak menoleh kepadaku, Dev menampakkan wajah kosong. Sementara Damis tersenyum, “Aku harus pergi, Rena. Banyak yang menunggu.” Dia menyentuh tanganku lagi, memandang Dev. Melemparkan senyum sebelum pergi melewatiku tanpa penjelasan apa-apa lagi.

Pandanganku beralih sepenuhnya ke Dev, “Tidakkah kau mau mengenal beberapa yang lain selain aku dan Damis?” katanya menyadari pandanganku. “Ayo kita ke ruang tengah, disana banyak vampir yang ingin mengenalmu. Ada beberapa yang baru datang dari timur. Kudengar wilayah disana penuh air hujan. Pasti sangat nyaman berada di tempat yang mataharinya jarang muncul.” Ucapnya lagi sambil mengajakku berjalan ke arah yang berlawanan dengan Damis.

Kesimpulanku, sudah jelas bahwa dua makhluk ini, Damis dan Dev, sama sekali tidak ingin memberitahuku mengenai apa yang sedang dikerjakan Russel.

Mau Baca Lainnya?

4 Comments

Leave a Reply

Your email address will not be published.