Half Vampire – Kastil

Kepalaku masih berdenyut- denyut ketika aku mencoba membuka mataku. Aku melihat beberapa siluet mengabur tak jelas di depanku. Aku mengerjap-ngerjap, mencoba memfokuskan pandanganku. Tiga pasang mata menatapku khawatir.
“Akhirnya kau bangun juga Sherena. Aku takut kalau aku agak berlebihan tadi.”
Damis.
Tiba-tiba aku merasakan kemarahan yang luar biasa begitu melihatnya, aku memandangnya dengan tatapan penuh nafsu untuk membunuhnya.
“Sherena….”

Pandanganku beralih ke asal suara yang memanggilku. Dia satu-satunya wanita di tempat ini selain aku. Seorang wanita dengan usia sekitar empat puluh tahunan yang nampak anggun dalam gaun coklat tua yang membalut tubuhnya. Wajahnya sangat cantik dan pucat. Aku mengamati seorang lagi yang ada disini. Mereka semua vampir.  “Dimana aku sekarang?” tanyaku sambil mencoba beringsut bangun.
Tapi tangan wanita itu menghalangiku agar aku jangan bangun terlebih dahulu. ”Kau ada di kastil kami.” jawabnya lembut. “Dan ada baiknya kau jangan bangun dulu, Sherena”
Aku merasa janggal mendengar namaku keluar dari bibir wanita itu.
“..kami tidak akan menyakitimu.” tambahnya melihat perubahan ekspresiku. “Dan maafkan kami jika Damis tadi memperlakukanmu dengan kurang sopan. Sesuatu memaksa kami harus melakukan apa pun untuk membawamu kemari dalam keadaan selamat dengan cara apa pun”
Memperlakukanku dengan tidak sopan? Membawaku kemari dalam keadaan selamat dengan cara apapu,? Cara apapun? Aku merasa dadaku sesak karena emosiku sepertinya naik seketika. “JUGA DENGAN MENYAKITI DAN MELUKAI DEV” teriakku marah.
Aku melihat wanita itu terkejut melihatku berteriak kepadanya, begitu ula dua laki-laki yang juga ada di dekatku, tapi hanya sebentar sebelum dia menghela nafas dan tersenyum tulus padaku. Entah kenapa aku tidak merasa kalau wanita ini berbahaya. Aku justru merasakan aura yang seharusnya bisa membuatku nyaman dan tenang kalau saja aku tidak teringat Dev.
“Corbis muda itu baik-baik saja Sherena. Kau bisa melihatnya kalau kau mau nanti. Kita bisa mengunjungi mereka.”
“Tapi..”
“Tidak Damis. Kau bersalah karena terlalu berlebihan pada Corbis”
Aku cukup heran melihat Damis tidak membantah dan terlihat begitu patuh. Entah siapa sebenarnya wanita ini. Melihat betapa Damis begitu segan padanya, sepertinya dia lebih kuat dan berpengaruh darinya. Mungkinkah?
“Anda..?”
“Rosse.” ucapnya memperkenalkan diri,  “dan itu Russel.” lanjutnya menunjuk laki-laki yang berdiri di samping Damis yang kini tersenyum dan mengangguk padaku, “Dan kurasa kau sudah mengenal Damis, meskipun aku tahu itu bukan perkenalan yang cukup baik. Tapi ku minta kau memaafkan dia. Mereka berdua sudah kuanggap seperti putra-putraku.”
“Kau ini apa?” kali ini aku bertanya dengan ragu, aku tahu pertanyaanku mungkin terdengar tidak sopan. Tapi entahlah, aku tidak menemukan padanan kata yang jelas. Dan aku sangat penasaran sebenarnya apa fungsi mereka dalam klan ini. mereka terlihat penting, sepertinya.
“Aku ratu, atau pendamping pemimpin klan vampir, lebih tepatnya.  Terserah kau mau menyebutnya yang mana.”
Jika dia ratu dan tadi menyebutkan bahwa Damis dan Russel sebagai putranya. Berarti.. Aku menelan ludah menyadari fakta ini. Damis dan Russel adalah penerus klan vampir?
Half vampire yang juga seorang pengganti calon ratu.
Aku teringat ucapan Dev dan aku mendadak mengerti semua situasi ini.
“Kami bukan orang-orang yang akan berbuat jahat padamu, Sherena. Kami justru ingin melindungimu. Kamu harus mengerti dan memahami itu.”
Aku memandang Rosse, aku tahu dia jujur saat mengatakan itu karena aku merasakan jiwa keibuan yang nyata dalam dirinya seperti saat aku berada di dekat ibu dulu. Entah, aku juga tidak mengerti kenapa aku mendadak merasa seperti itu. Hanya saja mungkin karena aku sama sekali tidak merasa terancam di dekatnya, aku malah merasa dia punya aura yang kuat untuk melindungiku.
Rosse menyentuh lenganku dan mengusapnya lembut, “Tetaplah berbaring dulu.” katanya saat aku tidak menanggapi ucapannya. Dia menarik selimutku sampai batas dadaku. Dia lalu tersenyum dan mengusap keningku. Aku terkejut dengan apa yang dia lakukan padaku. “Kami akan meninggalkanmu untuk beristirahat.”
Sebentar kemudian dia beranjak pergi dan mengajak Damis maupun Russel untuk keluar dari tempat ini. Damis nampak enggan untuk pergi meskipun akhirnya dia menurut juga. Rosse memandangku sebentar dan melemparkan senyumnya padaku sebelum menutup pintu ruang ini perlahan.
Aku mendengar suara langkah kaki mereka yang makin menghilang.
Jantungku berdebar. Entah kenapa ketika Rosse mengusap keningku. Aku seperti melihat ibu dalam dirinya. Aku bangun dengan cepat dan menggeleng, “ Tidak.” Aku tidak boleh berpikir gegabah dan lemah seperti itu. Aku belum benar-benar tahu maksud dan tujuan mereka sebenarnya. Ini pun juga merupakan pertemuan pertamaku dengan Rosse.
Mendadak aku merasa takut ketika mengingat tentang penganti calon ratu yang menurut Dev berarti bahwa aku harus menikah dengan salah satu dari penerus klan vampir. Berarti… Damis atau Russel..
Arrrgghhh tidak tidak tidak.
Aku tidak mau.
Aku harus pergi dari sini, pikirku.
Mataku mengitari mengamati ruangan dimana aku berada sekarang. Ini ruang kamar dengan arsitektur kuno. Dinding dinding batu berwarna kelam. Jendela tinggi dengan tirai-tirai beludru berwarna gelap. Meja dan tempat tidur yang kini kutempati, begitu juga lemari kayunya penuh dengan ukiran-ukiran rumit pada beberapa bagiannya. Aku mendapan kesan suram pada ruangan ini. Di penuhi warna-warna gelap dengan kesan menyeramkan.
Aku berjalan pelan mendekat ke jendela, membuka jendelanya yang ternyata tak terkunci, udara dingin menerpa wajahku begitu jendela ini benar-benar terbuka. Aku tidak dapat membedakan ini siang atau malam, karena sepertinya ada matahari tapi sinarnya terlalu lemah untu berusaha masuk ke daerah ini. Kabut dan awan-awan gelap. Aku menelan ludah, merasa putus asa saat aku tahu bahwa ruangan ini berada di tingkat kedua.
Aku melongokan kepalaku keluar, memeriksa sekitar kalau-kalau ada sesuatu yang bisa membantuku keluar dari tempat ini. Aku hampir saja bersorak saking senangnya, tak jauh dari jendelaku ada kayu-kayu tinggi yang membentuk semacam tangga yang tingginya bahkan melampaui tempatku kini berada, kayu-kayu itu di gunakan sebagai tempat rambatan untuk sulur-sulur yang sepertinya memang sengaja di tanam.
Sepertinya kayu-kayu itu cukup kuat.
Tapi masalahnya, bagaimana aku mencapai kayu-kayu itu.
Kedua sudut bibirku tertarik ke atas, membentuk seutas senyum. Sepertinya ini adalah hari keberuntunganku. Ada sentuhan arsitektur di dinding luar yang timbul keluar membentuk semacam pijakan yang lebarnya mungkin hanya lima sentimeter tapi memanjang lurus ke sepanjang dinding luar kastil ini. Bahkan melalui tempat kayu-kayu sulur itu berada.
Baiklah, jalan untuk keluar dari tempat ini sudah ada di depan mata. Aku menarik nafas panjang. Lalu menjulurkan satu kakiku keluar jendela dengan susah payah. Hup, akhirnya seluruh tubuhku keluar dari jendela.Tanganku berpegangan pada pinggiran jendela dengan erat saat aku mulai menyeimbangan kedua kakiku yang kini sudah berpijak pada pijakan sempit itu.
Aku menoleh ke bawah.
Aku benci ketinggian.
Aku menarik nafas panjang lagi, hembusan angin dingin menerpaku. Membuat beberapa helai rambutku berkibar.
Ayo bergerak sekarang, semangat. Pelan pelan sekali, melangkah sedikit demi sedikit ke samping, berjalan seperti kepiting. Entah berapa lama aku merayap perlahan seperti ini, nafasku tertahan saat kurasakan ada sesuatu yang menyentuh kakiku, perlahan aku menunduk. Mataku menyipit, memfokuskan pandanganku hanya pada apa yang menyentuh kakiku. Daun-daun sulur bergerak mengelitik kakiku yang telanjang tanpa alas kaki karena tertiup angin.
 Aku membuang nafas lega.
Dengan sangat hati-hati aku memegang kayu rambatan, aku mencengkram kayu itu erat-erat sekaligus memeriksa apakah kayu-kayu ini cukup aman untuk kupijak dan ku alih fungsikan sebagai tangga.
Untunglah, pikirku. Sepertinya kayu-kayu ini cukup kuat untuk menopang berat tubuhku. Aku menuruni kayu-kayu itu perlahan, aku bergumam minta maaf pada siapa pun yang telah menanam dan merawat sulur-sulur cantik ini karena sengaja atau tidak, sepertinya lebih banyak ke sengajanya, aku telah merusak tanaman ini dengan remasan tangan dan injakan kakiku.
Ah satu kayu lagi
Hup.
Aku melompat, merasakan sensasi menyenangkan saat kakiku menginjak tanah. Aku menepuk-nepuk kedua tanganku, menghilangkan kotoran yang mungkin saja menempel. Entah karena aku berhasil lari dari kastil ini atau apa yang jelas sekarang aku merasa dadaku di penuhi kegembiraan.
Aku tersenyum lebar dan berbalik.
“Aku berha..”
Mataku menangkap sesosok vampir berdiri di depanku dengan kedua tangan terlipat di dadanya. Memandangku dengan sangat tajam. Aku menelan ludah seperti menelan duri saat aku sepertinya mengenali vampire ini, ingatanku memberiku satu nama dan aku seperti berhenti untuk bernafas.
“Mencoba kabur?” ucapnya
Dan tanpa menunggu jawabanku dia menarik lenganku dan menyeretku untuk mengikutiku dengan sangat kasar. “Ap-ap apa yang kau lakukan. Lepaskan.!!” teriakku meronta-ronta, tapi vampire satu ini entah tuli atau apa tapi dia sama sekali tak menghiraukan teriakanku dan malah makin kuat mencengkram lenganku.
“Sakit tau! Dasar vampir gila. Lepaskan, kau menyakitiku!” jeritku makin keras saat kami mulai memasuki bangunan kastil. Dia berhenti mendadak sekali membuatku menabrak punggungnya cukup keras. Dia menoleh ke arahku dan entah kenapa mulutku otomatis menutup perlahan, matanya memandangku dingin. Menurutku tatapannya mengerikan, membuatku tak berminat untuk membuatnya semakin marah atau bagaimana.
Dia hanya menatapku lalu berbalik dan berjalan lagi.
Maka sepanjang sisa perjalanan kami aku diam. Membiarkannya mencengkeram tanganku. Setengah berlari aku mengimbangi langkahnya yang cepat. Dia bahkan tak mengurangi kecepatan langkahnya saat kami menaiki tangga.
“Pe- pelan-pelan..”engahku kehabisan nafas.
Namun percuma saja, memohon atau berteriak keras karena sama sekali tak menimbulkan efek pada makhluk ini. Dia sama sekali tak mengacuhkanku. Dia berhenti untuk membuka sebuah pintu yang sepertinya ku kenali. Aku sangat terkejut ketika dia menyentakkan tanganku dengan sangat kasar sehingga membuatku jatuh tersungkur ke dalam ruangan yang akhirnya kusadari debagai ruangan tempatku berada sebelumnya.
Aku mengerang kesakitan saat kurasakan tubuhku membentur lantai, “Apa kau tidak bisa lebih sopan lagi??” jeritku marah, muak diperlakukan seperti ini olehnya sambil mengelus lenganku yang memerah bekas cengkramannya.
“Tidak.” jawabnya datar dan sangat dingin
“Reven, ada apa ini?”
Aku mendongak memandang sosok di balik punggung Reven, “Rosse.” Ucapku pelan. Entah kenapa aku merasa lega melihat Rosse ada disini meskipun harus di tambah kehadiran Damis di belakangnya. Aku belum memaafkan Damis untuk perlakuannya padaku dan pada Dev.
“Sherena..” ucapnya terlihat terkejut melihatku yang masih tersungkur di lantai. Aku memang belum beranjak sama sekali dari posisiku sebelumnya. Aku sedikit menambahkan raut muka kesakitan yang sangat karena kurasa Rosse mungkin saja bisa memberikan sedikit pelajaran sopan santun yang agak keras untuk vampir gila itu. Rosse jelas bisa melakukan itu pada Reven kurasa karena dia kan ratu. Pikiran yang bagus menurutku.
“Apa yang kau lakukan padanya??”
Aku mendengar raungan kemarahan Damis ketika tangan Rosse membantuku untuk berdiri. Jujur saja sepertinya aku sangat merasa nyaman saat dia menyentuhku. Memberi perasaan yang nyaman dan membuatku tersanjung karena dia begitu baik padaku sejauh ini.
Aku melihat Damis melotot marah pada Reven.
Nah rasakan kau vampir gila, pikirku senang. Aku tahu dengan jelas Rosse tak akan suka pada perlakuan kasar Reven padaku dan ditambah dengan kemarahan Damis yang.. yah tak dapat kupungkiri adalah seorang peneru klan vampir membuatku membayangkan hukuman apa yang mungkin saja mereka berikan pada Reven.
Tapi…
Kedua alisku nyaris menyatu karena heran. Reven sepertinya sama sekali tak merasa cemas atau apa. Sikapnya sangat biasa dan terkesan dingin seperti biasanya.
“Kenapa kau memperlakukannya seperti itu?”bentak Damis
Reven diam.
“Kau harusnya tahu seberapa penting dia untuk kita.” geram Damis makin kesal.
Reven tak bergeming
“Apa kau masih tak mau menerima kalau dia memiliki jiwa Noura?”
Aku terkejut melihat Reven bereaksi, dia menoleh memandang Damis dengan sangat pelan. Matanya memancarkan tatapan yang sangat mengerikan. Aku saja yang tidak melihat tepat ke matanya merasakan aura mematikan yang timbul di sekitarnya. Tak mengherankan kalau entah Damis menyadarinya atau tidak, dia telah mundur selangkah dari tempatnya semula berdiri.
Noura..
Entah kenapa aku sepertinya begitu familiar dengan nama itu, tapi dimana ya aku pernah mendengarnya.
Aku menoleh ketika mendengar suara Rosse, “Cukup.” Katanya pelan tapi sangat tegas.
“Aku tak mau mendengar ada keributan saat Vlad tidak ada disini.”
Reventak menjawab. Dia hanya melangkah pergi begitu saja dari ruangan ini tanpa memandang kami. sikap macam apa itu.
“…Aku ingin bicara dengan Sherena sebentar. Bisakah kau tinggalkan kami Damis.”
Damis mengangguk patuh dan berbalik pergi.
Sebentar kemudian Rosse beralih memandangku, “Sherena..” panggilnya lembut. “Aku tidak tahu apa yang menyebabkanmu berpikir kalau kami mengurungmu sehingga kamu bahkan mencoba pergi dari tempat ini dengan diam-diam. Aku dan semua klan vampir menginginkan keselamatanmu, kami tidak akan menyakitimu. Mungkin hanya cara kami membawamu kesini yang membuat kami terlihat begitu buruk di matamu. Tapi percayalah Sherena, kami tak bermaksud jahat padamu. Kami hanya ingin melindungimu. Aku akan menjamin keberadaanmu disini tidak membuatmu tertekan.” Dia menatap langsung ke mataku dan aku merasa menyesal telah mencoba pergi dari tempat ini karena pancaran mata Rosse nampak begitu sedih.
“Maaf..” ucapku merasa bersalah.
Rosse tersenyum, “Tidak apa-apa, Sherena. Aku yang seharusnya mengucapkan itu padamu. Mungkin semua hal yang begitu tiba-tiba ini terlalu mengejutkanmu. Aku akan menjawab semua pertanyaan yang mungkin kau ajukan untuk semua yang tidak kau ketahui ketika kau bertanya padaku nantinya.”
Tanpa sadar aku merasa senang mendengar ucapan Rosse, aku memang punya banyak pertanyaan dalam benakku. Dan jujur saja aku butuh jawaban untuk semua itu.
“..tapi berjanjilah padaku Sherena.”
Aku menunggu.
“Berjanjilah kau tidak akan pernah mencoba pergi dari tempat ini tanpa sepengetahuan kami apapun yang terjadi nantinya.”
Aku menghela nafas lega, itu bukan syarat yang sulit menurutku. Karena entah kenapa, aku merasa bahwa Rosse membuatku nyaman berada disini dan aku merasa dekat dengannya. Meskipun alasanku terdengar konyol karena aku bahkan baru beberapa saat yang lalu bertemu dengannya dan pertemuan itu tidak dapat dikatakan sebagai pertemuan yang mengenakkan. Wajahku bersemu malu mengingat aku bahkan membentakknya di pertemuan pertama kami tadi.
Aku mengangguk, “Ya.” Jawabku singkat
 

Mau Baca Lainnya?

4 Comments

Leave a Reply

Your email address will not be published.