Half Vampire – Keluarga Corbis

Lyra memandangku, sudut bibirnya tertarik ke atas. Membentuk senyum yang membuatku bertanya-tanya apa yang tengah ada di pikirannya sekarang. Lyra tidak pernah ramah padaku, meski tidak sesinis Lucia, aku tahu Lyra tidak pernah menyukaiku. Peringatan untuk menjauhi Dev yang pernah dikatakan Lyra kepadaku ketika di kastil menunjukkan sedikit alasan kenapa dia bersikap seperti ini kepadaku.

“Aku harus bicara empat mata denganmu, Michail.”

Aku menoleh dan melihat Reven berbicara dengan Michail Corbis yang mengangguk. “Kita bisa bicara di ruang pribadiku. Lewat sini, Reven.” Katanya menunjukkan jalan kepada Reven.

Reven memandang ke arahku, “Tunggu disini, Sherena. Aku ada sedikit urusan yang harus kuselesaikan.” Ucapnya dengan begitu formal padaku. Begitu aku selesai mengangguk, Reven berjalan cepat mengikuti Michail Corbis yang sudah melangkah lebih dulu.

“Duduklah.” Suara Lyra menyadarkanku bahwa masih ada dia di tempat ini. Menurutinya, aku duduk di kursi berlengan terdekat sementara Lyra duduk tepat di depanku dengan hanya dipisahkan sebuah meja persegi dari kayu yang diukir indah.

“Aku tidak menyangka akan bertemu secepat ini denganmu, Sherena. Apakah kau masih.. half?” Tanyanya, mengamatiku dari ujung kaki sampai ujung kepalaku.

Aku mengangguk, “Seperti yang kau lihat.”

“Ya-ya. Aku tahu. Aku juga masih bisa mencium bau manusiamu yang masih pekat. Itu menguntungkan kita nantinya.”

“Kita?”

Lyra melirikku, “Apakah Reven tidak mengatakan kepadamu bahwa aku akan sedikit terlibat dalam tugas ini?”

“Kau?”

Lyra mengangguk senang, “Tugas yang akan sangat menyenangkan.” Jawabnya ceria.

“Apakah Dev juga?” Aku menemukan mata Lyra yang menatapku dengan tidak suka ketika aku bertanya seperti itu. “Tidak. Aku sudah tidak menyukainya. Kau tahu, aku hanya ingin tahu apa Dev juga akan terlibat atau tidak.” Tambahku buru-buru.

“Tidak.” Sahut Lyra jelas dan keras. “Kau menyebabkan otaknya kacau. Kau tahu?” Dia berhenti, memandangku, “Bukankah dulu sudah jelas kukatakan padamu, Sherena. Kau membawa kesulitan baginya. Perasaan Dev padamu terlalu kuat. Dan itu juga berimbas buruk pada kami, utamanya pada Michail.”

“Tapi aku sudah mengatakan secara jelas kepada Dev jika aku sudah tidak memiliki perasaan padanya seperti dulu. Dan kupikir, Dev mengerti apa yang kukatakan.”

Lyra menghela nafas berat, “Semoga memang seperti itu.”

Aku, entah bagaimana merasa Lyra memikirkan sesuatu yang berat tentang Dev karena ketika dia membicarakan Dev. Raut wajahnya terlihat lelah dan khawatir. Meskipun aku tahu mereka tidak terlalu akrab, Dev dan Lyra hidup bersama begitu lama di kelompok kecil ini. Dia dan Dev, jika dalam hubungan manusia, mungkin sudah seperti adik dan kakak. Dan aku paham benar kekhawatiran seperti apa yang dirasakannya, karena aku juga merasakan hal yang sama kepada Ar.

Aku mengangkat wajahku untuk memandangnya ketika aku kembali mendengar suara Lyra.

“Jadi.. Siapa yang kau pilih? Damis. Atau malah Reven?” Tanyanya tanpa susah payah menyembunyikan ketertarikannya pada topik ini.

Aku mengangkat bahuku, “Entah. Aku belum tahu. Aku hanya berpikir kalau aku masih cukup punya banyak waktu sebelum akhirnya aku harus memilih. Lagipula Vlad maupun Rosse juga tak pernah menyinggung masalah ini sebelumnya.”

Lyra mengangguk-angguk mengerti. “Tapi menurutku, tidak akan ada perubahan berarti. Benarkan?” Dia menyeringai yang justru membuatku mengerutkan keningku dengan jelas.

“Apa maksudmu?”

Dia tertawa, “Sebaik apapun Damis. Sepertinya tetap Reven yang akan memenangkan hatimu.”

Aku membencinya.”

“Oh ya?” Suaranya meninggi dengan pura-pura dan menyebalkan sekali melihat ekspresinya. Dia ini, sungguh-sungguh cocok menjadi sahabat Lucia. Mereka persis sama dengan cara yang berbeda. Namun kupikir dalam beberapa hal aku lebih menyukai Lyra, Lucia tidak pernah terlihat baik padaku.

Kami menoleh bersamaan kearah pintu ketika mendengar pintu yang menjeblak terbuka.

“Dev.” Panggilku terkejut.

“Oh kau. Aku tak menyangka kau akan pulang dengan begini tergesa. Tugasmu sudah selesai?” Lyra menatap Dev penuh selidik. “Atau Ramuel memberitahumu kalau kita ada tamu. Yah, seperti kau lihat, nona Sherena Audreistamu tersayang.” Tambahnya dengan nada yang dibuat-buat.

“Tutup mulutmu, Lyra.” Sahut Dev datar tanpa memandangnya, dia menatapku. “Eh, hai Rena.” Sapanya canggung sambil duduk di dekat Lyra.

“Hai Dev.” Aku menjadi ikut canggung. Aku mencoba mengingat kapan terakhir kali bertemu. Kurasa ketika aku sakit. Itupun entah memang Dev atau justru halusinasiku. Atau justru ketika aku menciumnya hanya untuk menahan agar dia tidak menemui Reven. Entahlah, aku tidak bisa mengingatnya dengan benar.

“Apa kau sudah sembuh?” Tanyanya dengan tatapan meneliti.

Ah ya. Berarti memang ketika aku sakit. Aku menggeleng, tersenyum padanya, “Aku sudah benar-benar sehat sekarang. Damis memberikan obat yang dibuat Venice kepadaku.”

Dev mengangguk, mata birunya berkilat senang, “Aku tidak akan meragukan kehebatan Venice.” Katanya riang sementara Lyra justru melipat tangannya di depan dada, menatapku lurus-lurus.

“Aku melihat tidak ada perubahan juga disini.”

Dev menoleh, memicing, “Apa lagi sekarang?”

“Kau.” Kata Lyra keras. Mengalihkan pandangannya kearah Dev dan menyentuh dahi Dev dengan telunjuk kanannya. “Kau.” Ulangnya sambil mendorong-dorong dahi Dev dengan telunjuknya. “Tidak pernah berubah. Perempuan di depanmu ini calon ratu kita, bukannya mantan kekasihmu. Dan jangan menatap dan berbicara dengan dia seolah-olah kalian masih saling menyukai. Kau harus menghentikan perasaanmu atau kelompok kita akan selalu dalam masalah. Mengerti?” Ucapnya tegas dan jelas. Membuatku melotot tak percaya pada apa yang baru saja di ucapkannya. Lyra ini, benar-benar..

“Apa yang sedang kau bicarakan?” Teriak Dev marah, menepis telunjuk Lyra dari dahinya.

“Kau mengerti dengan jelas apa yang sedang kita bicarakan, bodoh. Kau masih menyukai dia bukan? Itu terlihat jelas dari caramu ketika marah-marah sepanjang hari hanya karena Damis yang menemani perempuan ini ketika sakit.” Kata Lyra dengan nada tinggi.

“K-kau.” Dev kehabisan kata-kata dan memilih berhenti memandang ke arah Lyra. Wajahnya merah padam menahan marah. Sementara aku cuma diam, menaikkan alis. Darimana mereka tahu kalau Damis yang menemaniku ketika aku sakit. Apakah Dev melihatnya?

“Kau sudah tidak punya kesempatan. Kau tahukan?” Suara Lyra masih meninggi. Dev sendiri memilih diam seribu bahasa dengan wajah menyeramkan. Kurasa jika Lyra terus bicara, mereka pasti akan saling terjang tak lama lagi.

Melihat mereka bertengkar seperti ini membuatku mengingat bagaimana untuk pertama kalinya, aku dan Lyra bertemu. Dulu, dia bertengkar dengan Damis dan juga selalu nampak tidak akrab dengan Dev. Kurasa Lyra memang punya tabiat keras kepala dan bertemperamen buruk. Tapi kurasa, aku menyukai bagian-bagian dimana dia selalu bertengkar dan berteriak marah-marah yang anehnya justru menunjukkan kalau dia menyayangi mereka.

Lyra ini, kurasa akan menyenangkan jika aku bisa berteman dengannya. Aku tersenyum tanpa sengaja. Lyra melirikku dengan tatapan membunuh, “Kau senang?” Bentaknya.

“Eh-oh tidak.” Aku menggeleng cepat-cepat. Kurasa aku akan menarik ucapanku yang terakhir.

“Berhentilah bersikap kasar seperti itu pada tamu kita, Lyra.”

Aku melihat ke asal suara. Perempuan cantik dengan gaun panjang berenda yang manis, turun dari undakan batu yang sama tempat dimana sebelumnya Lyra juga muncul. Rambutnya pirang dan bibirnya penuh berwarna merah pekat. Aku menatap perempuan yang sepertinya memang seusia dengan Rosse ini duduk di dekat Lyra. Dia tersenyum pada kami semua.

“Sherena Audreista. Senang melihatmu di rumah kami.” Sapanya lembut.

“I-iya.” Aku mengangguk dengan canggung sama seperti ketika Dev menyapaku tadi.

“Aku Viona Corbis.” Ucapnya memperkenalkan diri. “Dan kuharap kau merasa nyaman berada disini.” Dia melirik Lyra yang masih nampak tidak senang.

“Ah Dev. Sejak kapan kau datang?”

“Baru saja.”

“Tugasmu sudah selesai? Kau tidak apa-apakan?” Tanyanya dengan khawatir.

Dev tersenyum, “Aku baik-baik saja, Viona.”

Viona menghela nafas lega, “Lalu dimana Ramuel?” Tanyanya lagi begitu menyadari Dev tak bersama seseorang yang sebelumnya pergi bersamanya.

“Masih di kastil. Melaporkan hasil yang kami dapat kepada Vlad.”

Viona mengangguk, lalu beralih padaku, “Apa keadaan Rosse sudah membaik?”

“Ya, kurasa Venice juga akan mengobatinya dengan sangat baik.”

Sekali lagi Viona mengangguk, “Aku sangat mencemaskan keadaannya ketika Vogue membawanya kesini dalam keadaan mengenaskan seperti itu. Aku pikir kami hampir terlambat membantunya, Vlad pasti akan sangat murka. Aku bersyukur dia cukup kuat untuk bisa bertahan.”

“Rosse perempuan yang tangguh.”

“Tidak diragukan lagi.” Sahut Viona, tersenyum. “Dan kuharap kau berhati-hati, Sherena. Ini nanti akan menjadi tugas pertamamu bukan?” aku mengangguk dan Viona melanjutkan, “Rosse saja bisa terluka seperti itu. Kuharap Reven bisa melindungimu dengan baik. Aku tidak meragukan kemampuannya, hanya saja, para manusia serigala itu.. Akhir-akhir ini mereka sangat merepotkan dan tidak terkendali. Mereka berbahaya. Dan kita tidak boleh terlalu memandang rendah mereka.”

“Oh hentikan itu, Viona. Aku benci jika kau selalu bicara seolah-olah mereka sudah jauh lebih kuat daripada kita. Mereka itu hanya budak. Keturunan budak pembangkang.” Sela Lyra dengan marah.

Viona menghela nafas panjang, “Ya, mungkin benar seperti itu. Hanya saja kita juga harus bisa melihat dari sudut pandang yang lain, Lyra. Bisa saja hal itu terjadi. Kau ingat kematian Noura? Tidak ada yang menyangka hal seperti itu akan terjadi pada Noura, namun demikianlah yang terjadi. Dia mati.” Kata Viona dengan dramatis.

Lyra memberengut, “Bukan manusia serigala yang membunuhnya.”

“Lalu siapa?” potong Viona, “Apa kau pikir Sherena yang melakukannya. Omong kosong semua yang selama ini kalian semua perbincangkan.”

Aku? Jadi selama ini mereka masih berpikir kematian Noura ada sangkut pautnya denganku. Bukankah Dev sendiri yang ketika itu meyakinkanku bahwa aku tak akan mampu mengalahkan Noura, lalu kenapa Viona tadi masih bilang..

“Sudahlah.” Suara Dev memotong perdebatan Viona dan Lyra. Aku memandangnya, “Sampai sekarang kita tidak tahu benar siapa yang melakukannya. Jangan pernah menyalahkan siapapun. Mungkin memang sudah menjadi takdir bagi Noura untuk berakhir seperti itu.”

“Berakhir seperti itu?”

Aku menelan ludahku, menyadari siapa yang memotong ucapan Dev dengan suara penuh tekanan seperti itu. Reven berjalan tegap ke arah kami dengan Michail Corbis yang berwajah cemas di belakangnya.

“Aku..”

Reven duduk di sampingku, memandang Dev lurus-lurus. “Jangan pernah membicarakan Noura dengan nada suara seperti itu. Dan.. Takdir Noura untuk berakhir seperti apa bagimu, Deverend Corbis?”

“Aku hanya bermaksud-“

“Kuingatkan sekali lagi padamu. Noura mati, bukan karena takdir sialan atau apapun itu yang mungkin ada di kepalamu tapi karena sesuatu yang sama sekali tidak dia tahu. Entah siapa atau apapun itu yang melakukannya, aku akan menemukannya dan membalas semua yang terjadi pada Noura-ku dengan setimpal.”

Aku tahu, semua yang di ruangan ini merasakan aura kemarahan yang menguar jelas pada diri Reven. Semua diam, kaku. Mendengarkan dengan was-was, aku curiga sudah terjadi sesuatu yang buruk di kelompok ini dan berhubungan dengan sesuatu yang dilakukan Reven sehingga mereka semua nampak tidak ingin membalas ucapan Reven. Bahkan bagiku, Michail, yang merupakan ketua kelompok ini terlihat pasrah. Sekuat apakah sesungguhnya Reven sehingga kemarahannya mampu mempengaruhi mereka seperti ini, dan Dev, aku seperti kehilangan sosok Deverend Corbis yang dulu pernah aku kenal, yang berapi-api, tidak kenal takut dan sangat banyak bicara. Sekarang dia diam, dengan wajah yang lebih terlihat bersalah daripada wajah yang ingin menantang dan membela diri.

“Aku minta maaf untuk semua yang dikatakan Dev, Reven. Kau tidak perlu semarah itu, dia hanya-“

“Viona,” potong Reven, mengalihkan pandangannya pada wajah lembut milik Viona Corbis, “Aku tahu apa yang Dev maksud, hanya saja aku tidak suka. Sama sekali tidak suka ada yang membicarakan Noura dengan seperti itu. Bagiku sudah cukup dia mati dengan cara mengenaskan seperti itu. Biarkan, dan jangan ada yang membicarakan tentang dia.” Dia berhenti, dan untuk pertama kalinya aku melihat matanya terlihat sayu.

“Sudah cukup bagiku merasa bersalah karena aku belum menemukan apa yang menyebabkan dia mati.” Reven diam, dan hawa mengantung tidak mengenakkan membuatku entah bagaimana merasa sangat bersalah. Reven pasti menanggung beban yang sangat berat karena kematian Noura.

“Rev..” aku menyentuh tangannya. Reven menoleh, menatap lurus ke arahku. Mata birunya, mata itu..

“Aku akan menjagamu. Aku bersumpah demi hidupku bahwa aku akan melakukan apapun untuk menjagamu tetap hidup dan tetap berada di sampingku. Aku akan selalu ada disini untuk melindungimu, Noura.”

Aku menarik tanganku dengan cepat. Mengerjap dengan gugup. Suara itu. Suara Reven yang mendadak mendengung di telingaku, suara.. ucapannya, itu janji yang diutarakannya pada Noura. Aku tahu. Aku tahu karena aku melihatnya, aku melihatnya mengucapkan itu pada Noura dalam penglihatan yang datang padaku. Lalu kenapa, kenapa suara itu sekarang bergaung sekeras itu, sedalam dan. Aku..

“Rena..”

“Rena!!”

Aku mengerjap lagi dan menyadari bahwa semua pasang mata yang ada di ruangan ini memandangku. Aku menggeleng cepat. Benar-benar gugup dan berkeringat tanpa kutahu sebabnya. Aku hanya tidak suka. Aku-

“Ada apa?”

Aku menoleh, menemukan wajah Reven dengan ekspresi datar, dingin, memandangiku.

Aku menggeleng lagi, “Tidak. Tidak ada apa-apa.” Jawabku dengan suara gemetar. Aku tahu jawabanku pasti sangat diragukan tapi aku bersyukur mereka semua tidak bertanya lagi meski aku tahu Dev dan Michail sesekali melirik ke arahku. Mencurigai sesuatu.

“Kalau begitu, kita berangkat sekarang.” Reven memandangku sekilas. Aku mengangguk, dan dia beralih kepada Lyra, “Kau sudah bersiap?”

“Seperti yang kau lihat. Aku siap berangkat.” Jawabnya.

Reven mengangguk. Sedetik kemudia dia berdiri, diikuti semua orang yang ada disini tak terkecuali aku. Kami semua seperti kelompok yang mengikuti Reven berjalan keluar. Sesampainya di depan pintu, kami semua berhenti. Lyra maju selangkah, menjajari aku dan Reven yang ada di depan. Kami bertiga berbalik, memandang Michail, Viona dan Dev.

“Kami berangkat sekarang.” Kata Reven.

Michail mengangguk pelan, sementara Viona Corbis maju, memeluk Lyra, “Berhati-hatilah.” Bisiknya. lyra melepas pelukan Viona, tersenyum, “Ini bukan tugas berat untukku, Viona. Kau tidak perlu khawatir. Aku akan segera kembali.”

“Ah tentu saja. Aku percaya.” Lalu Viona melangkah ke samping. Memandangku, aku maju memeluknya. Aku tahu dia baik. Auranya seperti Rosse, dan dia menepuk punggungku pelan sebelum melepaskan pelukanku.

“Kau juga harus hati-hati, Sherena. Kau adalah calon ratu kami.”

Aku mengangguk, “Ya.” Jawabku singkat.

Reven berbalik, berjalan pergi tanpa mengucapkan apapun diikuti Lyra yang mengembangkan senyumnya kepada semua anggota kelompoknya. Aku memandang mereka semua, Michail, Viona, dan.. Dev. Entah kenapa aku melihat sesuatu di mata birunya. Dev.. aku menghela nafas, berbalik mengikuti langkah-langkah Reven dan Lyra.

Mau Baca Lainnya?

5 Comments

  1. kk lanjutannya keren ,, tapi yang tulisannya warna item ,, terlalu kurang pas,, karena kurang kelihatan ,kata-katanya , bacanya agak gelap,, ,,

    keren bgt crtanya ,, ku lanjut baca dulu yah ,, maaf yah kk aku hanya sekedar komen ,, maaf bgt ,,

  2. Hwaaa makasiii yah.
    Iya, aku edit ini sebentar lagi. Awalnya ga nyadar kalo warnanya berubah jadi item. Hehehe. Thanks loh uda dikasi tahu, aku ceroboh sih.

    Ga perlu minta maaf lagi, aku malah seneng km komen di bloh ini.
    Tengkieess ya *pelukkk*

  3. Yah…. aku ketinggalan..
    jauh banget..

    emm… keren? tidak di ragukan lagi pastinya.
    Reven masih kaya batu es aja tapi tetep coolnya ngga tertandingi.
    baca part ini jdi inget keluarga cullen, dan masih penasaran sama penyebab di balik kisahnya Noura..
    semoga banyak scene RevenxRena kedepannya..
    Keep writing!

Leave a Reply

Your email address will not be published.