Half Vampire – Kematian

Haii.. hai… aku kembali. Hahaha. Maaf ya membuat kalian menunggu lama. Maaf juga jika chapter ini tidak terlalu panjang. Astaga, aku tidak akan menulis panjang lebar lagi. Jadi.. selamat membaca semua. 

Lova ya,

@amouraXexa

***

Victoria berhenti bicara dan dia hanya menatap ke arah kami dengan matanya yang berpendar jujur. Terus terang aku tidak tahu harus mengatakan apa untuk semua yang telah Victoria kisahkan kepada kami. Aku memandang ke arah Reven yang jelas terlihat gusar. Ketegangan terlihat jelas di raut mukanya. Mesti tak sepenuhnya, aku bisa mengerti seperti apa perasaan Reven sekarang.

“Reven.” aku menyentuh bahunya, dia menoleh memandangku sekilas namun tidak mengatakan apapun. Aku tahu. Ini jelas berat bagi Reven. Entah apakah Victoria jujur atau tidak, tetap saja ini merupakan beban dan fakta mengejutkan baginya. Apalagi ini berkaitan dengan Noura.

Aku beralih menatap pada Victoria yang hanya mengamati kami tanpa mengatakan apapun lagi. Dia jelas menunggu reaksi dari Reven. Kami sama-sama menunggu apa yang akan dikatakan oleh Reven setelah Victoria mengatakan semuanya.

“Jadi menurutmu yang membunuh Noura adalah Rosse?” suara Reven yang dalam terdengar getir ketika dia menatap Victoria. Aku diam, mencoba menelaah pikiran Reven. Aku memang tidak tahu apa-apa tentang Victoria, namun entah mengapa aku merasa untuk kali ini aku akan percaya padanya. Aku tidak melihat tanda-tanda ketidakjujuran dalam mata dan gerak tubuhnya. Semua yang diceritakannya juga terasa logis dan aku bisa mengerti meskipun itu sulit diterima sebagai fakta karena benar-benar di luar dugaan dan prediksi kami semua.

“Atas perintah Vlad.” Jawab Victoria.

“Rosse?” suara itu masih mengisyaratkan kegetiran yang jelas ketika Reven membuka mulutnya. Aku memberanikan diri meremas tangan Reven dan menguatkannya. Dia hanya diam setelahnya. Victoria mulai tidak sabar. Dia masih mengamati kami meskipun sekarang terlihat bahwa dia menginginkan sesuatu terjadi setelah dia menceritakan semuanya. Namun kurasa, Reven terlalu terkejut untuk bisa melakukan sesuatu.

“Kau sulit percaya, Reven?”

Reven memandang Victoria. Dia tidak mengangguk tapi tatapannya cukup menjadi sebuah jawaban bagi Victoria yang kini tersenyum tipis, “Aku tahu ini sulit bagimu. Tapi ini adalah kenyataannya. Jika kau menginginkan pembuktian, kita bisa kembali ke kastil sekarang dan ikut bergabung dalam pesta kecil yang tengah berlangsung di sana.”

“Pesta?” keningku berkerut. Tidak mengerti pada apa yang dikatakan Victoria.

Victoria mengangguk, “Aku tidak menemukan padanan kata yang tepat selain pesta untuk menggambarkan apa yang tengah terjadi di kastil kita sekarang. Sahabat-sahabat kita akan berpesta darah para slayer sebentar lagi. Dan Sherena, kurasa kau mengenal semua pemilik darah itu.”

Aku membelalakkan mataku tidak percaya pada apa yang baru saja dikatakan oleh Victoria, dengan marah aku menatapnya, “Apa maksudmu?” teriakku berang.

“Para slayer bodoh, satu penyihir dan satu manusia serigala menyerbu ke kastil utama ras vampir. Tidakkah kau pikir itu hal paling bodoh yang mungkin dilakukan? Menurutku selain kalah jumlah, mereka juga kalah dalam hal kemampuan. Ada Vlad di sana, dan beberapa vampir yang cukup kuat. Selain itu, kurasa selama kita berbincang di sini, juga akan banyak vampir-vampir lain yang bergabung di sana. Kau tahu maksudkukan, Reven? Kau merasakan panggilannya bukan?”

Reven diam tak bereaksi. Aku semakin takut untuk berspekulasi tentang siapa itu. Aku menggeleng, “Apa maksudnya, Reven?” Reven balas menatapku, dia nampak berpikir dengan keras sebelum menjawabku, “Sebaiknya kita kembali ke kastil.”

“La-“

“Teman-temanmu dalam bahaya, Sherena.” Potongnya cepat. Mengabaikan tatapan tidak mengertiku, dia menarik tanganku dan mengenggamnya sebelum menyeretku mengikutinya, “Rev-“

“Tidak sekarang, Sherena. Kita harus cepat atau mungkin kau tidak akan bisa bertemu dengan Arshel selamanya.”

Mataku membulat. Aku tidak protes lagi dan mulai berlari mengikuti kecepatan Reven. Ar? Ada apa memangnya? Reven membawaku berlari di sampingnya dengan kecepatan luar biasa. Meninggalkan Victoria tanpa mengatakan apapun lagi. Kami sama sekali tidak saling bicara selama kami fokus dengan kecepatan. Tapi aku tahu, masing-masing kepala kami dipenuhi hal-hal yang tidak jauh berbeda. Entah kenapa aku merasa sangat takut akan apa yang kuhadapi nantinya.

Aku meremas jemari Reven yang mengenggamku dengan sangat erat. Mencoba mencari keberanian yang selalu dimiliki Reven. Aku benar-benar kacau, tidak tahu bagaimana? Semua tentang alasan kenapa aku harus kembali ke kastil, Ar, pesta yang dikatakan Victoria dan belum lagi semua fakta yang dituturkan olehnya. Victoria Lynch? Aku bahkan tidak benar-benar tahu siapa dia sebenarnya.

***

 Bunyi berdebum keras terdengar ketika tubuh serigala besar Morgan menghantam dinding kastil hingga menembus ke luar. Reruntuhan batu-batu menimbulkan debu yang bertebaran memenuhi area sekitar dinding kastil yang rusak parah. Morgan bangkit dalam wujud manusianya, membungkuk, meludahkan darah kental ke tanah sebelum dia memandang lagi ke depan. Rosse berdiri di kejauhan. Lurus dengan pandangannya. Wujudnya yang samar-samar di balik debu-debu perlahan semakin jelas ketika debu-debu yang bertebaran itu memudar.

“Kau tidak apa-apa?” Edge berlari ke arah Morgan dan menyentuh bahunya. Keadaan Edge juga tidak bisa dikatakan lebih baik dari Morgan yang penuh lebam. Ada bekas cakar yang dalam di sepanjang leher hingga pipinya ketika dia terkena cakaran dari kuku-kuku Lyra yang tajam.

Pertarungan masih terjadi, dan Edge mulai cemas, teman-temannya sudah nyaris kehabisan anak panah. Namun tak satu pun vampir yang berhasil mereka bunuh. Dengan berat, dia bahkan tahu bahwa dia telah kehilangan beberapa teman-teman slayernya di tangan Vlad tanpa perlawanan yang berarti.

Meski sekarang Vlad hanya melihat dan tidak ikut campur dalam pertarungan ini, tiga vampir perempuan yang tersisa dan satu vampir laki-laki yang entah kenapa sebelumnya ditolong oleh Ar, masih sangat merepotkan. Edge mengamati keadaan ini, meskipun mereka lebih dalam jumlah, vampir-vampir yang tersisa di kastil ini jelas bukan vampir biasa yang dapat dengan mudah mereka bunuh seperti ketika mereka berjaga di perbatasan negeri.

“Kita harus mundur.” katanya pelan pada Morgan yang masih berusaha mengatur nafasnya. Morgan yang tengah fokus menatap marah pada Rosse langsung menoleh ke arah Edge. “Apa maksudmu?”

“Kita kalah. Sia-sia saja tetap di sini. Kita hanya tinggal menunggu kematian kita. Dan apa kau lupa yang dikatakan vampir laki-laki itu sebelumnya? Kita hanya punya waktu tak lebih dari dua puluh menit di sini sebelum semua anggota kelompok terdekat datang ke sini. Vlad mengirimkan petanda kepada semua anggota kelompok agar mereka datang ke sini.”

Morgan mengeram marah, “Aku tidak akan lari.”

“Morgan!” teriak Edge, “Jangan keras kepala.”

Morgan menggeleng, “Bukankah kau tahu konsekuensinya dengan ikut aku dan Ar kemari? Jelas bagi kami bahwa kami tidak akan pernah mundur. Apapun yang terjadi. Aku dan Ar sudah tidak memiliki apa-apa lagi selain pertarungan ini.”

Edge diam. Lalu tanpa memandang Morgan lagi dia menarik anak panah dan busurnya dari belakang punggungnya, “Kalau begitu aku juga akan di sini sampai akhir.” Tegasnya sebelum dia melepaskan anak panahnya ke arah Rosse yang berjalan mendekat ke arah mereka. Rosse menghindar dengan baik tepat ketika Morgan melompat ke arahnya dan kembali berada dalam fase perubahan serigala besarnya.

Mereka berdua bergelung dalam pertarungan penuh kecepatan. Edge memandangnya beberapa detik sebelum dia berlari ke arah teman-teman lainnya. Dia harus membunuh salah satu vampir perempuan yang sepertinya sudah tidak berada dalam kondisi baik itu.

***

“Menyingkir dari dia, Ar.” Damis berteriak marah ketika Ar sudah nyaris menancapkan pisau peraknya ke jantung Lyra, yang terkapar di depannya. Dengan sepenuh kekuatannya dia membuat Ar terlempar ke belakang menghantam dinding kastil. Kali ini tidak sampai membuat dinding itu berlubang dan rusak parah seperti beberapa detik lalu ketika tanpa sengaja dia melihat Morgan melakukannya.

“Apa yang kau lakukan?” Ar menyeka sudut bibirnya yang berdarah sambil mencoba berdiri. Di sisi lain Damis yang mulai mendapatkan kembali kekuatannya, membantu Lyra bangkit. Perempuan itu sudah melawan begitu banyak slayer yang mengeroyoknya dalam satu pertarungan sebelum akhirnya dia nyaris saja mati di tangan Ar.

“Sebenarnya kau ada di pihak mana?” desis Ar lagi ketika dia melihat Damis merangkulkan tangannya ke pinggang Lyra. Tubuh Lyra sudah terlihat lemah, apalagi bekas kekuatan Vlad yang sebelumnya melukainya belum juga pulih.

Damis menyeringai, “Aku adalah vampir, Ar. Kau tidak bisa melupaka fakta itu. Jika vampir adalah lawanmu sekarang. Maka aku tidak akan menghindar jika kita bertemu dalam satu pertarungan. Meski jelas bukan sebagai teman, tapi lawan.”

Ar tertawa sarkastik, “Loyalitas kalian pada kelompok kalian memang tidak bisa diragukan. Tapi harusnya kau bisa melihat dimana tempat yang benar untukmu berpijak. Vlad hampir saja membunuhmu dan perempuan itu. Dan sekarang, ketika kau dan anggota kelompoknya bertarung melindunginya, dia hanya diam mengamati. Tak melakukan apapun. Kau jelas tahu, Vlad tidak patut mendapatkan kesetiaan kalian.”

Lyra yang sedari tadi hanya mendengarkan nampak mulai jengah dengan ucapan Ar. Dengan sisa kekuatannya, dia berteriak dengan kesal, “Bagaimanapun juga, Vlad masih pemimpin kami. Di luar masalah yang terjadi di dalam kelompok, dia tetap pemimpin dan pelindung ras ini selama ribuan tahun.”

Damis menyentuh bahu Lyra, memintanya tenang, “Jangan menghabiskan tenagamu untuk berdebat dengan penyihir itu. Istirahatlah di belakang, tak sampai lima menit Venice akan ada di sini. Dia akan mengobati lukamu.”

Lyra mengangguk, menyadari bahwa dia sudah tidak memiliki tenaga untuk bertarung lagi. Dengan tertatih dia mundur ke belakang Damis, mengalihkan pandangannya ke arah Lucia yang bertarung melawan tiga slayer lainnya. Ketika dia yakin Lucia terlihat masih mampu mengatasi pertarungannya, dia kembali pada Damis dan Ar yang sampai saat ini hanya saling pandang.

“Dimana Rena?” kata Ar seraya menarik dua pedang perak dari balik punggungnya. Damis mengamati dan tahu bahwa kali ini, dia tidak akan bisa menghindar untuk terlibat pertarungan dengan Arshel. Meskipun sejujurnya dia enggan karena dia tahu bahwa Ar adalah orang yang sangat berharga bagi Rena. Tapi dia tidak punya pilihan.

“Aku tidak punya alasan untuk memberitahumu.”

“Aku kakaknya. Aku berhak tahu dimana adikku.”

Damis tersenyum tipis, “Aku sudah mendengarnya. Tapi tetap saja itu tidak mengubah apapun bagiku. Rena adalah bagian dari kami sekarang. Kehidupan manusianya bukan lagi menjadi sesuatu yang penting untuknya. Itu adalah bagian dari masa lalu yang perlahan akan dilupakannya.”

Ar nampak semakin berang. Damis tidak patut berkata seperti itu padanya. Sejak awal dia sudah menahan diri untuk tidak bertarung dengan Damis meskipun vampir itu menghalanginya untuk mencari Rena di dalam kastil ini. Tapi semua yang baru saja dikatakan benar-benar membuat darahnya mendidih. Mereka tidak punya hak sama sekali untuk menentukan kehidupan seperti apa yang penting bagi Rena.

Dia maju, berlari ke arah Damis ketika mendadak dia terhenti karena suara gaduh pertarungan yang didengarnya menjadi semakin riuh. Damis tersenyum, “Ternyata tidak sampai dua puluh menit.” Katanya santai sebelum dia berbalik dan berjalan ke arah Lyra.

“Sebaiknya kau keluar, Ar. Kurasa teman-temanmu di luar sana membutuhkan bantuanmu.” Lanjutnya sambil melingkarkan tangannya di pinggang Lyra dan memapahnya.

Ar memaki pelan sebelum dia berlari ke arah yang berbeda. Para vampir yang lain sudah datang. Dia yakin itu. Slayer-slayer yang tersisa jelas akan kalah jika situasinya menjadi seperti ini. Dimana Victoria Lynch? Morgan bilang jika mereka bisa mengandalkan vampir perempuan itu jika mereka dalam keadaan terdesak. Namun sejauh ini tanda-tanda keberadaan Victoria bahkan sama sekali tidak terlihat. Dia dan Morgan sepertinya salah mengambil keputusan dengan membangunkan Victoria.

***

Ar bergabung bersama Morgan, Edge dan lima slayer yang tersisa dari jumlah awal mereka yang mencapai belasan. Berhadapan dengan begitu banyak vampir yang berdiri tepat di depan pintu utama kastil. Di barisan depan dia bisa melihat Damis dan Rosse  dengan wajah tanpa senyum sama sekali.

“Kita akan mati.” Suara Edge membuat Ar menoleh ke arahnya, dia tersenyum dan menepuk pundak sahabat lamanya itu dengan pelan, “Setidaknya aku tidak akan mati dalam keadaan menyesal.”

“Menurutmu berapa waktu yang kita punya sebelum kita mati?” bisik Ar ke arah Morgan. Morgan yang berada dalam wujud manusianya tertawa kecil, “Sepertinya tidak banyak. “ ungkapnya.

Mereka kembali fokus pada lawan mereka di depan ketika mereka melihat gerakan dari arah kelompok vampir. Beberapa vampir minggir dan memberikan jalan pada Vlad untuk maju sampai ke depan Rosse. Di sana dia berhenti dan tersenyum sinis mengamati keadaan yang tengah dihadapi Ar dan teman-temannya.

“Apakah kalian masih ingin melawan?” katanya dengan nada bersahabat yang palsu. Morgan hanya menatap Vlad dengan muak. Sebab baginya, hanya dengan melihat wajah Vlad akan mengingatkannya pada kematian paman Gabriel, Rupert dan semua teman-temannya yang lain. Darahnya mendidih. Dia ingat tentang janjinya di depan pembakaran mayat kawanannya, dia akan membalas kematian mereka. Dia akan membuat kematian mereka tidak sia-sia.

Morgan akan memastikan itu. Bahkan jika dia harus mempertaruhkan nyawanya sekalipun, dia akan melakukannya. Semua menjadi seburuk ini karena keputusannya, jika dia tidak berkeras untuk mencari Rena. Mungkin dia, paman Gabriel dan semua anggota kelompoknya masih akan hidup dengan tenang di desa. Namun penyesalan muncul pun juga percuma. Sebab Morgan paham benar bahwa penyesalan hanya kesia-siaan. Mereka yang sudah mati, tidak akan pernah kembali hanya dengan penyesalannya.

Morgan memandang Vlad tanpa ketakutan sedikitpun. Dia sudah siap untuk semua resikonya. Setidaknya dia masih punya sedikit harapan. Victoria Lynch. Semoga vampir itu bisa menepati janjinya. Semoga semua yang dikatakan oleh Noura tentang Victoria benar-benar nyata adanya sehingga dia bisa yakin bahwa dia punya peluang.

“Kami tidak akan menyerah.” Geramnya penuh keyakinan sebelum dia melompat dan langsung bertransfigurasi menjadi srigala besar. Dia mencoba menerkam Vlad dengan semua kekuatan yang dimilikinya. Namun Vlad mundur menghindar dengan tepat dan Morgan hanya mendapatkan balasan serangan lain dari semua vampir yang ada di belakang Vlad.

Bersamaan dengan itu, Ar, Edge dan semua slayer yang tersisa berlari maju dengan semua senjata perak mereka yang tersisa. Suara riuh pertarungan memenuhi tempat itu. Sudut bibir Vlad tertarik ke atas ketika dia melihatnya. Semua anggota kelompoknya bertarung untuknya. Dia hanya mengamati itu selama beberapa detik sebelum dia berbalik. Berjalan perlahan meninggalkan halaman depan kastil dan bergerak menuju dalam kastil.

“Apakah kau akan meninggalkan pesta kecil ini, Vlad?”

Suara pertarungan berhenti. Kesunyian yang aneh melingkupi seluruh tempat ini. Vlad membeku, mengingat dengan jelas suara milik siapa itu. Baginya seperti masih baru kemarin dia mendengar suara itu memohon padanya untuk mempercayainya. Dia berbalik cepat dan seutas senyum dari perempuan yang tak pernah pergi dari pikirannya itu memenuhi pandangannya.

Morgan berubah kembali menjadi manusia ketika semua vampir yang ada di situ menyadari siapa perempuan yang berdiri di kejauhan itu. Beberapa vampir yang paham benar siapa perempuan itu bahkan terbelalak dengan keterkejutan yang nyata. Victoria melebarkan senyumnya dan berjalan anggun mendekat ke arah mereka semua. Menikmati semua sambutan dalam hening yang diterimanya.

Rosse mundur menjauh ketika Vlad justru berjalan maju. Dengan satu tangannya, Rosse meraih tangan Vlad untuk menghentikannya terus berjalan. Vlad berhenti, namun tidak mengatakan apapun dan hanya memandang Victoria yang juga berhenti melangkah. Di samping Morgan dan Ar, Victoria mengamati semua yang telah terjadi. Senyumannya tidak memudar.

“Sudah lama sekali sejak terakhir kali aku melihatmu, Vlad. Aku merindukanmu.”

***

“Sudah lama sekali sejak terakhir kali aku melihatmu, Vlad. Aku merindukanmu.”

Suara Victoria yang mengatakan itu dengan penuh kelembutan menghentikan langkahku dan Reven yang masih berada ratusan meter jauhnya dari tempat Victoria sekarang sudah berdiri. Aku menatap ke arah Reven. Bagaimana bisa Victoria sudah ada di sana. Aku ingat dengan benar bahwa kami meninggalkan Victoria lebih dulu tapi sekarang dia justru sudah berada di kastil. Kecepatannya benar-benar luar biasa kalau begitu.

Reven hanya menatapku. Kami sama-sama tidak tahu apa yang sebenarnya terjadi. Aku bahkan juga tidak menyangka jika jangkauan pendengaranku bisa sejauh. Selain itu aku juga mencium berbagai aroma asing yang seharusnya tidak pernah ada di sekitar kastil ini.

Aku mengenggam jemari Reven semakin erat ketika kami berdua keluar dari area hutan yang letaknya tak seberapa jauh dari kastil. Mataku memicing heran ketika aku melihat area di depan kastil yang dipenuhi banyak orang. Aku mencium satu aroma yang kukenali dengan benar milik siapa itu. Setengah berlari dengan diikuti Reven di sampingku, aku berteriak kegirangan, “Ar!”

Saat Ar menoleh, aku menubruknya dengan pelukan yang membuatnya mundur beberapa langkah. “Ar.” Ucapku penuh syukur dengan memanggil namanya sekali lagi. Aku sangat merindukannya dan mengkhawatirkannya. Aku benar-benar takut terjadi sesuatu yang buruk padanya ketika Victoria mengatakan tentang sesuatu yang terjadi di kastil selama kami tidak ada di sana.

“Rena.” Serunya tak kalah bahagia denganku setelah dia melepaskan pelukanku. Dia menatapku dengan matanya yang seolah tak ingin melepaskanku. Aku tahu Ar sama merindukanku seperti aku merindukannya. Kemudian dia meneliti keadaanku dengan mengamatiku dari ujung kaki hingga ujung rambut. Sementara dia melakukan itu, keningku berjerut dalam karena melihat bagaimana keadaannya. Sejujurnya Ar tidak bisa dikatakan baik-baik saja. Beberapa detik kemudian aku sadar bahwa di sini juga ada Morgan, Edge dan beberapa slayer yang seingatku berada dalam tingkat yang sama dengan Edge, dengan penampilan yang sama buruk dan acak-acakkannya dengan Ar. Beberapa bagian dari tubuh mereka bahkan dipenuhi darah dan lebam-lebam yang entah karena apa.

Mengabaikan Ar yang memandangiku, aku melihat lurus ke arah depan dan menemukan begitu banyak vampir berkumpul di sana. Aku bahkan melihat Venice, Michail dan semua anggota kelompoknya di sana. Ada apa ini sebenarnya? Pesta? Bukan, ini pertarungan.

“Rev-“ aku tersentak kaget ketika Reven menarik tanganku untuk mendekat padanya dengan tiba-tiba. Ar menatapnya dengan protes yang jelas dan Morgan bahkan menggeram marah melihat apa yang dilakukan Reven padaku.

Reven menarikku menjauh dengan semua kekuatan yang dimilikinya. Menjauh dari dua kelompok tak imbang yang sedang saling bersitegang ini. Tapi entah kenapa aku tidak protes pada apa yang dilakukannya. Aku hanya sedikit terkejut namun selebihnya, aku merasa bahwa aku bisa percaya pada Reven sekarang. Aku tahu Reven melakukannya untuk kebaikanku.

“Rena-“ Ar memanggilku dengan tatapan tidak percaya melihat aku menurut begitu saja dengan apa yang dilakukan oleh Reven. Tapi aku tidak bisa melakukan apapun selain memandangnya dengan tatapan minta maaf.

Suara Victoria yang lembutlah yang pada akhirnya membuyarkan fokus semua pasang mata dari arahku. “Ah Sherena kita yang malang.” Ucapnya sambil mendekat ke arahku, langkahnya yang terlampau anggun justru membuatku takut melihatnya, “Kau tahu sekarang kau adalah kunci dari semua yang tengah terjadi di sini?”

Aku menatapnya dengan tatapan penuh ketidakmengertian. Kenapa perempuan itu selalu menyeret namaku dalam setiap ucapan dan ceritanya? Padahalpun aku sama sekali tidak yakin dengan siapa dia sebenarnya. Meski aku sudah mendengar sedikit tentangnya dari Reven, tapi dia tetap sosok asing bagiku. Lalu kenapa dia bicara seolah-olah dia mengetahui begitu banyak hal tentang diriku melebihi aku sendiri?

“Kau adalah kunci utama, jika mereka..” matanya yang cantik menatap ke arah kelompok Ar dan Morgan, senyumnya terkembang penuh misteri, “..menginginkan pembalasan dendam yang nyata kepada Vlad.”

“Apa maksud dari perkataanmu?” suara Vlad menghentikan ucapan lembut Victoria. Victoria berbalik, memandang lurus pada Vlad yang sedikitpun tidak melepaskan pandangannya padanya. Dia tersenyum pada Vlad, “Kau jelas tahu apa maksudku.” Bisiknya. “Aku tahu kau mengenalku lebih baik dari siapapun di tempat ini.”

“Jangan berani menyentuh perempuan itu, Victoria.” Perintah Vlad dengan wajah mengancam yang jelas. Dengan kasar dia melepaskan sentuhan tangan Rosse pada lengannya dan maju mendekat ke arah Victoria.

“Aku tidak akan membunuhnya seperti kau membunuh Noura.” Kekagetan yang jelas terlihat dari wajah semua vampir yang ada di situ begitu mendengar apa yang diteriakkan Victoria. Mereka semua langsung memandang ke arah Vlad. Berharap ada penjelasan tentang semua ini. “Aku tidak akan membunuhnya seperti kau membunuh Noura.” Ulang Victoria sekali lagi, “Aku tidak akan melakukannya dengan tangan orang lain seperti yang kau lakukan. Aku akan melakukannya dengan tanganku sendiri” desisnya yang membuat Reven terkejut dan dengan protektif langsung menarikku ke belakang tubuhnya. Namun entah Reven yang terlambat  atau Victoria yang terlampau cepat, aku merasakan sesuatu menarik tubuhku dan menyeretku dalam kekuasaannya.

“Rev..” kataku terputus ketika kurasakan lidahku tak bisa bergerak. Aku melirik ke belakang, ke arah Victoria yang mengunci kedua tanganku di belakang punggungku. Reven melompat marah, bergerak menerjang Victoria namun dengan secepat kilat dia berhenti ketika Victoria menggunakan satu tangannya yang lain untuk menekan dadaku.

Mulutku terbuka, kesakitan yang tak terkira menghantam tepat di jantungku. Aku terjatuh di bawah kaki Victoria. Tubuhku lepas dan rasa sakitku menyerangku dnegan brutal. Pandanganku mengabur bersamaan dengan semua teriakan-teriakan yang bergaung di telingaku. Hal terakhir yang kulihat adalah wajah penuh kemarahan Reven yang langsung menyerang ke arah Victoria dan selanjutnya kegelapan pekat menyelimutiku.

***

“Tidakk!” Ar berteriak marah dan melepaskan anak panahnya dengan bertubi-tubi  ke arah Victoria Lynch. Sayangnya tak satupun berhasil menyentuh tubuh Victoria yang berdiri dengan senyum sinisnya. Semua panah-panah perak itu menjadi debu ketika Victoria mengerakkan tangannya.

Morgan membeku dengan mulut terbuka melihat beberapa detik paling mengerikan di hidupnya. Hanya beberapa detik dan dia melihat Rena tergeletak tak bernyawa di bawah kaki Victoria. Perempuan itu? Perempuan itu membunuh Renanya?? Seluruh tubuhnya bergetar. Keringat dingin mengalir di dahinya. Tidak. Seharusnya Victoria membantu mereka menyelamatkan Rena dari cengkraman Vlad. Vampir perempuan yang dibangunkannya dari tidur panjang penuh kutukan itu harusnya membantunya menolong Rena. Victoria Lynch harusnya.. otak Morgan tak mapu berpikir lagi.

Victoria menggerakkan kedua tangannya dan api keluar dari tangannya yang satu sementara serbuk perak seperti debu berhembus dari tangannya yang lain. Dengan tangkas dia mengayunkan tangannya yang mengeluarkan serbuk perak ke arah Reven yang langsung terlempar beberapa meter ke belakang. Tubuh Reven yang terkena debu perak itu langsung memerah dan berdarah di beberapa bagian.

Tapi semua luka itu sama sekali tidak menghilangkan kemarahan dan kekuatannya, dia berdiri dengan cepat dan sudah akan bergerak ke arah Victoria lagi jika saja Damis tidak menangkap tubuh Reven tepat waktu untuk menghalanginya mengantarkan kematiannya pada Victoria.

Semua slayer kecuali Edge mundur melihat kekuatan besar yang muncul dari Victoria. Mata mereka bersirat penuh ketakutan. Seolah untuk pertama kalinya melihat wujud iblis yang sesungguhnya.

“Lepaskan aku.” Reven meronta dengan kuat namun Damis yang sekarang dibantu dengan Michail malah semakin mengeratkan pegangan mereka pada tubuh Reven.

“Dia bukan tandingan kita, Reven. Tidakkah kau lihat kekuatannya? Hanya Vlad yang bisa mengalahkannya. Kit-“

Semua suara Damis tenggelam dalam kepala Reven. Kali ini mata merah itu menatap punggung Vlad yang berada tak jauh darinya dengan penuh dendam. Ditambah dengan keberadaan Rosse di dekat Vlad, yang terlihat sangat terkejut dengan apa yang dilakukan oleh Victoria, membuat semua kemarahan yang membakar dadanya bertambah besar. Rosse? Air mata yang tergenang di sudut mata perempuan itu untuk kematian Sherena, mungkin juga omong kosong yang sama seperti sikap yang dulu ditampilkannya kepada Noura.

Entah kenapa, dia merasa semua yang dikatakan Victoria padanya tentang kematian Noura dan tentang semua alasan di masa lalu yang menyeret dirinya, Vlad dan Rosse adalah benar. Victoria benar. Vlad dan Rosse benar-benar tidak bisa dimaafkan. Dua orang yang sangat dipercayainya itu. Karena merekalah Nouranya mati. Lalu sekarang, karena kesalahan Vlad, Victoria membalaskan dendamnya dengan membunuh Sherena. Sherena..

Ada sesuatu yang melukai hati Reven dengan kejam ketika dia dibangunkan pada kenyataan itu. Sherena sudah mati. Tubuh yang terkulai tak berdaya di dekat Victoria itu adalah Sherena yang sudah tidak akan pernah bangun lagi. Reven berhenti meronta dan tubuhnya menegang. Entah kenapa, bayangannya bersama Noura muncul dalam kepalanya. Noura yang kala itu berada dalam pelukannya.

“Segalanya akan baik-baik saja. Aku janji. Kau akan hidup selamanya bersamaku. Kau akan menjadi ratu untukku. Dan aku akan menjadi pelindungmu. Aku janji.”

Tapi dia tidak bisa menepatinya. Dia melihat perempuan yang demikian besar dicintainya itu bersimbah darah dan penuh luka. Dia melihat Nouranya menjadi debu dalam pelukannya. Dia tidak bisa melindungi Noura. Noura mati dan dia tidak bisa melakukan apapun.

Lalu bayangan wajah Sherena yang tersenyum mengantikan Noura. Dia bisa melihat bayangan dirinya yang menarik tubuh Sherena ke dalam pelukannya.

“Noura pernah berkata padaku bahwa hanya dengan memeluknya, itu akan membuatnya tenang. Kurasa perasaan seperti itu berlaku untuk semua perempuan.”

Sejujurnya dia tahu bahwa dia memeluk Sherena secara spontan. Bukan karena Noura. Kata-kata itu hanyalah alasan yang keluar dari mulutnya. Dia hanya ingin memeluk perempuan itu.

“Apa yang sebenarnya ingin kau katakan? Apa tujuanmu, Victoria Lynch?”

“Balas dendam.”

Reven meremas buku-buku tangannya. Kematian Noura. Kematian Sherena. Semua ini salahnya. Jika dia bisa melindungi Noura dengan benar, Rosse tidak mungkin mungkin punya celah untuk melukai Noura hingga berujung pada kematiaannya. Jika dia tahu bahwa balas dendam yang dikatakan Victoria sebelumnya menyangkut hidup dan mati Sherena. Semua ini bisa dihindari. Semua ini.. salahnya.

“Rev..”

Dia mengangkat kepalanya dan menemukan wajah kekhawatiran Damis. Tapi tak satupun kata-kata yang bisa keluar dari mulutnya. Bayangan Noura dan Sherena belum sepenuhnya lenyap dari otaknya.

“Venice.” Damis melepaskan pegangannya pada Reven dan berteriak panik memanggil seorang vampir perempuan yang tak jauh darinya, “Tolong.” Bisiknya begitu Venice sudah di dekatnya, “Reven baik-baik saja bukan?”

Ketika tangan Venice menyentuh luka-luka Reven, Reven justru mengibaskan tangan Venice dengan kasar. “Aku baik-baik saja.” Bentaknya masih dikuasai oleh kemarahan dan  emosi dalam kepalanya yang bercampur aduk. Kali ini matanya memandang ke arah Victoria dan Vlad yang sejak tadi tidak melakukan apapun kecuali hanya saling pandang.

Reven tahu benar apa yang tengah terjadi di sana. Tanpa adanya pertarunganpun, dia bisa tahu bahwa Victoria akan mengalahkan Vlad. Kematian Sherena melemahkan kekuatan Vlad. Itulah kutukan calon ratu yang selama ini melekat padanya dan disembunyikannya dari nyaris semua anggota ras vampir. Meskipun begitu, dia masih tidak tahu alasan Vlad membunuh Noura. Bukankah Noura adalah calon ratu ketika itu, membunuh Noura sama saja dengan membuatnya kehilangan sebagian besar kekuatannya. Lalu kenapa dia tetap melakukan itu?

Victoria menatap Vlad dengan kelembutan yang jelas palsu. Vlad hanya diam dengan ekspresi kosong di wajahnya. Wajah itu sedatar yang biasa dia tunjukkan. Semua yang ada di sini diam dan menunggu. Mereka tahu bahwa mereka tidak terlibat di sini. Ini hanya tentang Vlad dan Victoria. Ar dan Morgan bahkan tak bisa melakukan apapun kecuali berdiri di tempat mereka dengan pandangan nanar menatap tubuh Rena.

Ayah, aku gagal..

Sudut mata Ar basah dan dia menangis dalam diam. Morgan bahkan tak sanggup mengeluarkan satu patah katapun. Edge tak tahu harus melakukan apa, sehingga sama seperti kebanyakan lainnya, dia diam dan menunggu.

“Kau tidak ingin mengatakan sesuatu kepadaku, Vlad?” suara Victoria memecahkan segala keheningan yang mencekam tempat ini. Dia berjongkok, menyentuh bahu Sherena namun dengan mata berfokus pada Vlad, “Aku sudah membangkitkan kutukan itu. Aku membunuhnya. Tidakkah ada yang ingin kau katakan padaku?”

Vlad tetap membisu dan hanya menatap Victoria dengan matanya yang tajam. Victoria berdiri tegak, wajahnya menyiratkan ketidaksukaan yang jelas karena Vlad tidak mengacuhkannya. Tatapannya beralih ke arah Rosse dan kebencian dengan jelas muncul di sana. Dia maju, memutari tubuh Rena. Hanya beberapa langkah kecil sebelum dia kembali berhenti, “Kau takut melihatku, Rosse?”

Rosse mengangkat wajahnya dan air mata dari sudut matanya bergulir, dia balas memandang Victoria dengan tegas, “Kau membunuh Rena.” Desisnya

Victoria justru tertawa keras, “Lalu apa bedanya denganmu? Kau membunuh Noura.”

Viona yang merangkul Lyra tak bisa menahan keterjutannya. Sama halnya dengan Damis, Lucia, dan semua vampir yang ada di sini. Mereka tidak menyangka bahwa Rosselah yang melakukannya. Awalnya, dari semua ucapan Victoria, mereka mengira Vlad yang melakukannya.

Tapi Rosse? Lucia kehilangan semua kemampuannya untuk berreaksi. Dia tahu dengan benar sedekat apa Rosse dan Noura dulu. Mereka sudah seperti keluarga, dia dan Russel bahkan sepakat bahwa Noura benar-benar nyaman berada di kastil karena keberadaam Reven dan Rosse.

“Cukup!” kata Vlad untuk pertama kalinya. Masih dengan sikap berkuasanya yang tinggi, dia menangkap Victoria dalam tatapannya yang dibalas Victoria sama tegas dengannya, “Apa yang sebenarnya ingin kau lakukan? Kau harusnya masih dalam hukumanmu. Kau melanggar semua aturan dalam dunia kita.”

Victoria memandang Vlad dengan muak, “Aku tidak melakukan kesalahan apapun.” Balasnya sengit, “Pengkhianatan yang kau tuduhkan kepadaku sama sekali tidak beralasan.”

“Tidak beralasan?” sudut bibir Vlad tertarik ke atas, menipis. “Kau baru saja menunjukkan bukti kebenarannya.” Dahi Victoria berkerut, “Pengkhianatanmu dengan manusia serigala. Hubungan yang juga kau jalani secara rahasia dengan para penyihir murni. Kau menunjukkan semua hasilnya sekarang.”

“Victoria Lynch, vampir seperti apa menurutmu yang bisa mengeluarkan api dan debu perak dari tangannya. Tidak ada berkat yang seperti itu dalam kelompok kita. Kau sudah lupa aturan utamanya. Perak dan segala unsur besi melemahkan kita. Tapi kau justru memunculkannya sebagai kekuatan yang kau pertunjukkan di depan semua kelompok.”

“Kau memang seorang pengkhianat. Sejak awal seperti itu dan tidak berubah.”

Mata Victoria membulat, “K-kaau.” Tubuhnya mengejang dan dalam hitungan sepersekian detik dia menyerang Vlad. Ketangkasan dan kecepatan Vlad sama sekali tidak berkurang meski sebagian kekuatannya telah lenyap dengan dibunuhnya calon ratu. Kutukan yang diikatkan padanya pada akhirnya membawanya pada pertarungan dengan orang yang sebelumnya adalah satu-satunya sosok yang bisa diandalkannya. 

<< Sebelumnya
Selanjutnya >>

Mau Baca Lainnya?

37 Comments

  1. KYYAAAAAA!!!
    ALHAMDULILLAH!!! *SYUJUDSYUKUR*

    aku seennneeeeengg bget!! Akhirnya HV update lg…..

    Taapiiii!!??
    Knapa Sherena dibunuh dan mati???
    Knapa yg ngebunuh Sherena, si Victoria??
    Jd sebenernya yg salah disini siapa?? Siapa yg paling bener disini??
    Aku bner2 hrus mikir keras buat kemungkinan kelanjutan HVnya.. :p

    Rasanya pibgin ikut nangis juga sama Arshel.
    Dan sumpah.. aku kaget pas begian Morgan bilang "Renaku".. bneran disitu aku bner2 pingin nangisss!!!! T_T

    Apa lgi si Reven! Duuhh!! Malah jd pengen meluk dia dan nenangin dia T_T *ngayalku*

    Pokoknya.. si Rena musti di jadiin Hidup lagi!! 😀

    Aku tau aku cerewet.. jd segitu aja dulu 😀

    POKOKNYA.. SETELAH UPDATE PERTAMA SETELAH HIATUSNYA.. HARUS RAJIN2 UPDATE #HVnya :p
    AKU DOA SMOGA SEHAT SELALU DAN BISA NGELANJUT #HV SAMA CRITA YG LAINNYA!!
    CAYOOOO!!! 😀

  2. Hmm..mungkin seperti harry potter direlikui kematian,jd sheren hanya dijadiin perantara untuk membangkitkan kutukannya,untuk melemahkan vlad,jd bukan arti mati yg sebenarnya…,he3x ngarang ya..?btw udh nunggu luamua buangetttt…(setaun low,he3x..)thank u updatenya…,btw data2 nya gmna?bisa saved?

  3. huaa~
    Rena mati ? Tpi kok tubuh nya gak jdi debu ? Knpa Victoria mlah ngebunuh Rena ? Balas dendam ?
    Pasti Morgan sma Ar shock bnget ,ngeliat orang yg d anggap bsa nolongin Rena mlah ngebunuh Rena . Mkin penasaran nech . Next part d tnggu yah Kak .
    Mau coment pake acc google gak mau terus . Jdi pke ini dech . Kakak semangat terus yah nulis Hv nya .

  4. Ini setelah nunggu lamaaaaaaaa banget, eh giliran dikasihnya kayak gini nih thor, huahhhh nangis kejer sambil garuk tembok yak:'( Ini ga mungkin renanya mati kan? Huahhh reven akhirnya nyadar juga kalo dia suka sama rena, tapi terlambat yak!! Rena jg udh mulai suka dh tuh ama reven, tp kenapa dibuat gt sihhh, gemes ama authornya-__- udah sekian lama nunggu thor.. malah dibuat nangis, tega banget huhuhu :'(

    Part ini sebenarnya sih bingung hehe tp karena fokusnya ke rena jdnya gimana gt, bingung, kesel, sedih gt… sangkain dr judulnya kematian yg mati vlad, eh ga taunyaaaaa -__- kenapa bis gt sih thor? Kenapaa???? Ditunggu update lanjutannya, sepertinya hv sebentar lagi akan tamat yah 🙁

    Semangat terus yah thor;)

  5. Halloo kak lama tidak update jadi kanggeeennnnnnnn…….
    Pas aku tau udah ada yg baru langsung aku baca tanpa basa-basi….
    Aduhhhhh pokoknya seneng banget deh…hahahahah

    Kakak itu Rena benar2 sudah tiadakah? Aduh nggak ya nggak ya, pasti nggak kan?
    Sejujurnya untuk cerita kali ini aku masih binggung dengan semuanya, terutama Victoria dan Vlad dan tentunya banyak pertanyaan yg ingin ku ajukan hahaha Pasti kakak ngerti maksud ku kan..
    Entah apa yg akan terjadi selanjutnya pasti akan lebih meneganggkan…

    Semangat terus ya kak 🙂
    Keep smile 🙂
    Kunanti selalu 🙂

  6. Hai nona cantik… Akhirnya dirimu update juga… Aku udh penasaran bgt …

    Akhhhh itu knp rena nya mati???? Aduhhh kmu ini bnr2 bisa deh bikin org penasarantingkat dewa…. Huhuhuhu kasuan Reven udh mulai sayang yah sama Rena…
    Aku tunggu lnjutannya… Semangat buat sekolahnya….

  7. Alhamdulillah akhirx update jg,, setelah setahun nunggu.. haha *plak lebay deh.. sherena oh sherena,, kok dimatiin sih? Pasti ada modus dibalik ini *sokdetektif.. trus, trus, trus,, ntar yg jadi ratu siape donk ri? Saya aja ya… hahaha
    Btw,, ttp penasaran dgn HV, smoga bisa cepat di update kembali ya..
    Slamat taon baru ya *biar telat asal terucap*
    @artharia ^^

  8. wuaaa……. renanya mati
    aduh kak, rena baka hidup lagi kan?
    ini sebenernya victoria baik nggak sih?
    reven, ar, morgan yang sabar ya…

  9. Ohh tidaaakkkk !!!
    Ini kenapa kok Rena malah dimatiin ? Ya Ampun, ini juga si Vlad kok ngga KO juga sih… #geregetan
    Reven, yg sabar yaaa 🙁

    Semoga ngga ada halangan lagi kedepannya, amin dah !!

  10. Aaaakkk, suka banget baca komen panjang ginih.. 😀
    Makasihh komennya ya.

    Btw, pertanyaannya banyak ya, bingung mau jawab yg mana. Hahahha. Sherena mati?? Mungkin. 😛

    Nah, bagian meluk Reven.. JANGAN BERANI-BERANI YA. REVEN PUNYA GUWEH!!!!
    Hahahhaa.. *Alay dikit* 😛

    Iya, update selanjutnya hari selasa atau rabu ya. DItunggu saja.

    Wahhhhh, amin amin amin. Makasii doanya ya, Delima. :))

  11. Suka komen dan analisnya. 🙂
    Hahahah maaf ya membuatmu menunggu sampai "setahun". Sepertinya aku kena writerblock, jadi buntu banget. Data-datanya gimana? Sudah Rest In Peace. 🙁

  12. Sabar sabar sabar ya.. Atur nafas dulu. Oke?
    Emm, jadi gini.. Sebenarnya itu.. *tiiiiiiiiiiiiiiiiiiiiiiiiiiiiiiiiit* *Sensor* 😛 😛

    Yah, kenapa akunnya? Komen pake akun google lebih seru. Hahaha. Semangat semangat, tunggu new chapternya hari selasa atau rabu ya. 😀

  13. Jangan nangiss.. Hehhehe. Nasibnya Rena agak kurang beruntung kayaknya. Dan yah, Reven juga kayaknya mulai giman agitu ke Rena.. tapi.. tapikan Rena sudah..
    Ah gitu deh.. >.<

    Heheheh sejujurnya, banyak juga yg bingung kaya km. Kayaknya aku nulis ini "random" banget yah. Tapi yah, semoga next chapternya jadi obat bingung buat chapter ini.

    Jawaban dari kenapanya di next chapter ya. Kalo ngga hari selasa, ya hari rabu. Ditunggu yah.

    Semangat. Semangatt!!

  14. Aaaaaakkk.. kangen kangen jugaa. 🙂
    Rena sebenarnya.. dia… emmm..
    Baca aja di part selanjutnya deh. Hahahha. Hari selasa atau rabu ya. Lihat luangnya kapan. 😛

    Ah iya, banyak yg bingung. Aku juga.. *nah
    Tunggu next chapternya saja ya.

    Semangat semangat. Senyum semangat! 😀

  15. Haii haii…

    Kenapa kenapa kenapa?? Sesungguhnya karena…. ups, entar deh.. baca sendiri di part selanjutnya biar lebih seru. Heheheh.

    Ditunggu saja ya next chapternya.Semangat semangat buat kamu juga 🙂

  16. Hahahah, nunggunya lama bener 😛
    Rena yah.. poor her. 🙁 🙁

    Ah iya, next chapter hari selasa atau rabu ya, Artharia. Ditungu saja. Selamat taon baru juga. Selamat selamat. 😀

  17. Hehhehe, iya. Rena kayaknya mati. Bakal iduo ga yah? Kayaknya sih ada jawabannya di next chapternya HV hari selasa atau rabu entar. DItunggu aja yah. 😛

    Thanks vo komen. 😀

  18. Aaaaakkk….
    *gtw kenapa tereak* hahaha, Rena ya? Vlad ya? Aku bingung ngejelasinnya. Sama kayak yg lainnya deh, tunggu next chapternya ya. 😛 😛

    Amin amin. Makasii doanya ya, Meliana 🙂

  19. Kayaknya sih dua chapter lagi. Uda bosen sama HV ya?? Hehehe. Tenang. endingnya bentar lagi kok. Ditunggu saja next chapternya ya. Thank, Zizie. 😀

  20. Udah terlanjur nangis kemaren bacanya huhu tuh kan reven mulai gimana2 haha ahhhh jangan gt dong thor, Rena di hidupin lg dong:(

    Iyaaa kan banyak yg bingung, aduh cepet kek hari selasa sama rabu udh ga sabar nih 😀

  21. akhirnya kau melanjutkan juga, aku sempat gelisah waktu baca bad news darimu. 2 chapter lagi ?? sherena hidup lagi ga??? masa iya reven sendiri lagi??? ditunggu chapter selanjutnya @@

  22. Di chap ini masalah yg sebenarnya masih misteri yaa. Kayaknya author masih mau buat readernya penasaran nih ?. Mungkin kebingungan yng dirasakan para reader termasuk saya karena misteri yang jadi titik puser masalah di HV belum kebongkangkar juga hingga chap ini. (Itu mnurut saya). Semoga jangan berlarut-larut ya thoorr..
    Lalu di chap ini pertengkarannya kurang mendetail, tapi saya masih bisa maklum karena buat saya ini aja udah keren banget sih, hee.
    Pas baca judulnya, saya udh kepo banget. Siapa lagi nih yg mati ?. Ternyata serena. *speecless. (Mangap ga bisa mingkem). Well, ini suprise banget. Suprise yg menyenangkan sekaligus membingungkan. Menyenangkan karena sekaran Reven jadi "duda" lagii.. (Daftar aakkh.. 😀 hhehe) dan membngungkn krna saya bru nemu cerita tokoh utama mati bahkan dua chap seblum chap tamat. Dan saya kira serena tidak sebenarnya mati. Karena kalo mati juga harus jadi debu kan ??. Tapi serena masih berupa daging. *garuk pala* ??
    Usul dong thor, buat chap yang ada adegan romantis antara serena dan reven. Karena dari kemaren kan perasaan aa reven kaya nya masih belum jelas tuh statusnya. Saya harap romannya diperkental lagi di akhir setelah pergejolakan batin yg diaduk2 dari awal pas baca HV.
    Itu aja sih (*tutup kepala tkt di getok author) (itu aja tapi komennya panjang beet !!).. Hehehe maaf ya author. Saya terlalu cinta sama HV.

    Makasih yaa sist author yang keceeee badai.. *wink* ditunggu next chapnya.. :))

  23. KAK SUMPAH??? SI RENA MATEEE ??? NOOOO

    ITU DIA TUH SEBENERNYA SAKIT APAAA ??? BELOM DIKASIH TAU JUGAAAA

    BIKIN CERITA TENTANG AR YAAA!!!!
    JANGAN CEPET ABIS CERITANYA T_T

  24. Like!! I blog quite often and I genuinely thank you for your information. The article has truly peaked my interest.

Leave a Reply

Your email address will not be published.