Half Vampire – Kembalinya Arshel

Aku berada dalam kegelapan total. Tanpa cahaya setitikpun. Mataku seperti buta. Aku mengerjap-erjap. Mencoba menemukan kembali kemampuanku untuk melihat. Kepanikan merasuk ke seluruh inti tubuhku. Tidak. Ada apa ini? Dengan kasar kuusap kedua kelopak mataku menggunakan punggung tangan kananku.

“Sherena..”                                                  

Aku menoleh ke belakang.

Gelap.

“Si-siapa..??”

Hening menjawab pertanyaan sia-siaku. Aku berputar, mataku mengelilingi setiap jengkal. Tapi tak ada penampakan lain selain kegelapan total yang malah membuat kepalaku pening. Aku jatuh terduduk. Tolong, bisikku pada hitam yang menggantung. Kusentuhkan kedua tanganku pada tempurung kepalaku.

“Tidak apa-apa, Sherena..”

Aku merasa sesuatu menyentuh pundakku dengan lembut. Dan ketika aku berjingkat, berdiri dengan terkejut, mendadak kegelapan yang mengepungku seperti kabut yang diterangi sinar matahari pagi, perlahan-lahan menghilang. Aku memejamkan mataku, membukanya lagi, memejamkannya lagi dan membukanya lagi. Dan ketika kelopak mataku mebuka perlahan, tangkai-tangkai bunga ungu yang sedikit lebih tinggi dari mata kakiku memenuhi jangkauan pandangku.

Padang bunga ungu..

Ba-bagaimana bisa? Apakah aku sedang bermimpi? Ataukah ini penglihatan saja? Memori Noura-kah? Tapi..

“Sherena..”

Aku menoleh dengan cepat ke asal suara.

“Kau..”

Perempuan itu tersenyum. Berdiri dengan angun tak jauh dariku. Rambut panjang bergelombangnya menari pelan dipermainkan oleh angin yang berhembus di sekitar kami. Wajahnya tersenyum begitu manis sambil memandangku. Parasnya membuatku sebagai wanitapun akan meleleh jika dipandang seperti itu terus menerus. Aura kecantikan sejati terpancar begitu kuat di sekelilingnya. Jantungku berdetak satu-satu. Ada sesuatu yang tidak benar..

“Senang sekali akhirnya aku bisa bertemu denganmu, Sherena..”

Tidak. Ini hanya mimpi. Aku memejamkan mataku, tapi ketika kubuka lagi mata. Sudut lengkung senyum dari bibir yang berpoles merah itu masih disitu.

“Noura..”

Dia menggangguk sekali. Lalu maju selangkah demi selangkah mendekatiku. Aku membeku. Tak tahu harus bagaimana dan bahkan tak tahu apa yang harus kukatakan dan kulakukan. Mendadak dia memelukku, sangat erat.

“Maaf..”

  Deg

Aku merasakan ada titik-titik air membasahi kepala, bahu lalu perlahan-lahan semua tubuhku. Busur dan anak panah yang sejak tadi siang kugunakan untuk berlatih memanah tergeletak di sekitar kakiku. Basah dan berlumpur karena hujan. Angin berhembus dingin. Aku mematung. Tak bergerak sedikitpun.

Tadi itu apa??

***

Ar berdiri tegak di tepian hutan, matanya memandang lurus ke depan. Sebuah kastil tua yang berdiri gagah memenuhi penglihatannya. Dia menghembuskan nafas lega sebelum menoleh perlahan ke sebelah kanannya. “Aku tahu pasti akan ada seseorang yang menjemputku.” Ujarnya perlahan sambil melemparkan senyum.

Sosok yang sedetik sebelumnya sama sekali tak ada di sebelah Ar membalas senyum Ar, “Kami adalah tuan rumah yang baik. Tentu saja tak baik membiarkan tamu yang sudah jauh-jauh datang dari ke tempat ini masuk sendirian tanpa disampingi siapapun.”

“Kalian sungguh baik hati.”

“Vlad sudah menunggumu..”

“Arshel.” Ar menyela.

“Arshel.” Sosok itu mengangguk. “Baiklah, mari lewat sini.”

Ar juga mengangguk dan berjalan mengikuti sosok tersebut.

***

Aku memandang hujan yang turun deras di luar sana dari balkon lantai dua, duduk seorang diri di kursi yang ada disitu dengan tatapan menerawang. Apa yang terjadi tadi sore masih membekas jelas di kepalaku. Kegelapan yang mendadak saja ada, sosok Noura, parasnya, suaranya, lalu pelukan dan permintaan maafnya yang lirih dan dalam. Semua itu benar-benar terasa sangat nyata. Bahkan lebih nyata dari hawa dingin yang kubiarkan memelukku sedari tadi.

Aku tak paham. Sama sekali tak mengerti bagaimana bisa. Bukankah Noura sudah mati? Lalu bagaimana bisa dia muncul seperti itu di hadapanku? Apakah tadi hanya khayalanku saja? Tidak. Tidak mungkin hanya khayalanku. Pelukan Noura-lah yang mematahkan opini itu. Dingin tubuh vampir milik Noura sama persis dengan dingin tubuh Dev ketika dulu dia memelukku. Sama persis dengan tubuh Damis ketika dulu juga memelukku. Suhu yang sama. Benar-benar sama.

Senang sekali akhirnya aku bisa bertemu denganmu, Sherena..”

Apakah sebelum dia mati Noura sudah mengenalku? Lalu jika tidak, bagaimana bisa dia berkata seperti itu? Bagaimana bisa?

Keningku berkerut dalam. Semua ini seperti labirin yang susah ditemukan jalan keluarnya. Sejauh ini, banyak hal yang kutemui atau yang terjadi padaku bukannya membuatku mengeri atau menjelaskan segalanya, semuanya justru seperti kepingan-kepingan puzzle yang terus menerus bertambah banyak dan minta untuk dipecahkan.

“Maaf..”

Maaf? Tapi maaf untuk apa??

“Masih suka melamun rupanya?”

Suara itu..

Aku menoleh sangat cepat sampe leherku sakit, dan ketika tebakanku benar. Aku menjerit sangat keras. Bangkit dari dudukku dan berlari menerjang tubuhnya. Aku tahu pelukanku yang luar biasa penuh semangat membuat Ar mundur beberapa langkah. Tapi aku tak peduli. Sama sekali tak peduli.

“Ar..”

Kali ini aku tahu suaraku terdengar terisak. Aku juga tak menampik kalau satu dua bulir air mata mengalir jatuh dari sudut-sudut mataku. Bau tubuh ini memang bau tubuh Ar. Suhu badan ini, hangat, suhu normal manusia. Dia manusia, dia Arshel. Benar-benar Ar.

Beberapa menit yang lalu kepalaku masih penuh oleh tanda tanya tentang apa yang terjadi sore tadi di padang bunga. Tapi sekarang ketika aku memeluk Ar, semua menguap begitu saja. Aku merasa lega yang benar-benar lega.

Ar mengusap kepalaku pelan sebelum melepas pelukanku, “Itu membuatku sulit bernafas, Rena.” Ucapnya sambil menunduk sehingga kepalanya sejajar dengan kepalaku.

Aku memukul bahunya dengan kesal, “Kau.. menyebalkan.” Kataku terisak-isak. “Bagaimana bisa kau muncul dengan begitu saja seperti ini setelah meninggalkanku begitu saja ketika itu. Bagaimana mungkin kau menemuiku dengan wajah sebiasa itu setelah membuatku mengalami semua ini. kau menyebalkan, Ar. Menyebalkan.” Aku bicara dengan sangat cepat sambil terus memukuli dada dan bahu Ar. Kedua tangan Ar menangkap tanganku, lalu memelukku dengan lembut. “Maaf, Rena.” Bisiknya lirih yang justru semakin membuat isakku makin keras.

“Bisa kutebak kalau kalian pasti dangat dekat.”

Ar melepaskan pelukannya sehingga aku bisa melihat sosok Damis di belakangnya. Aku menunduk mengusap air mataku dan berusaha guncangan di bahuku karena isakan-isakan tertahanku. Damis mendekat, mengusap sisa air mata yang masih ada di sudut mata kiriku dengan ibu jari tangan kanannya.

“Tidak apa-apa, Rena. Aku tahu apa yang kau rasakan. Lebih baik aku meninggalkan kalian berdua saja untuk berbincang. Selamat malam, Rena.” Katanya lembut padaku. “Dan tolong jaga Rena, Arshel.” Dia memandang Ar sebelum berbalik dan meninggalkan kami berdua saja di balkon.

Ar mengangguk, menatap punggung Damis yang berjalan menjauh sampai hilang sebelum dia berganti menatapku dan membimbingku duduk kembali di kursi yang sebelumnya kududuki.

“Kau terlihat sehat, Rena. Sepertinya mereka memperlakukanmu dengan baik.” Kata Ar setelah diam mengamatiku. Aku mengangguk cepat. “Dengan sangat baik.” Koreksiku. Dia menyandarkan punggunya ke belakang. Terlihat lelah. “Syukurlah.”ucapnya pelan. “Setidaknya aku tahu keputusanku membiarkan kau pergi dengan Dev itu benar.”

Aku memberengut, “Kau tahu Ar? Kau hutang banyak penjelasan padaku? Bagaimana bisa kau tidak cerita padaku kalau kau punya kemampuan sebagai seorang penyihir? Bagaimana kau bisa seenaknya menyuruhku lari tan-.”

“Nanti, Rena.” Potong Ar melirikku. Dia tertawa kecil, “Kau sama sekali tak berubah.”

Aku memukul bahu Ar dengan keras, “Menyebalkan.”

Dia tertawa makin keras sebelum menyilangkan kedua tangannya di belakang kepalanya, “Aku merindukanmu Rena..“ suaranya menggantung. Jeda beberapa detik sebelum dia menoleh dan melanjutkan, “Aku benar-benar minta maaf karena tak bisa pergi denganmu ketika itu, Rena. Aku harus membereskan semua masalah yang ada terlebih dahulu. Awalnya, kupikir jika aku yang menjelaskan semua masalah pokoknya kepada Master, dia mungkin bisa mengerti. Aku marah sekali ketika dia justru menurunkan perintah untuk memburumu. Aku merasa Master mengkhinatiku.”

Aku diam, mendengarkan. Mencoba memahami apa yang dirasakan Ar. Sejak dulu Ar memang dekat dengan Master.

“Aku memutuskan untuk pergi dari kelompok. Melepaskan semua yang selama ini kujalani. Menjadi slayer dan melindungi ras manusia benar-benar saat yang membuatku bangga dan bahagia. Aku pada akhirnya tetap pergi. Tujuanku cuma mencarimu, Rena. Aku berharap masih bisa menjadi orang yang tetap menjagamu seperti dulu.”

“Ar..”

Dia menoleh sekilas, tersenyum. “Itu janjiku pada ibu, Rena. Aku akan menjagamu.”

Aku tidak tahu lagi harus bicara dan menanggapi seperti apa. Yang ada air mataku malah meleleh lagi. Ar menepuk-nepuk kepalaku dengan pelan. “Jangan cengeng. Calon ratu klan vampir tidak boleh selemah itu. Bagaimana kau bisa menjadi ratu klan ini kelak jika kau tidak bisa mengontrol perasaanmu?”

Aku memandang Ar.

Calon ratu. Apakah Ar sudah sepakat dengan takdir baruku ini?

“Menjadi bagian dari kelompok ini sepertinya tidak buruk juga. Kelak kau harus mengubahku menjadi vampir jika kau sudah sepenuhnya bagian mereka, Rena.”

“Ar!!” jeritku kesal dan dia tertawa. “Sepertinya memiliki jangka waktu hidup lebih lama seperti kaum vampir akan sangat menyenangkan.”

Aku kembali memberengut. Bagaimana bisa dia bercanda dengan hal-hal seperti itu. Bagaimana pun juga jika aku punya pilihan, aku akan memilih menjadi manusia normal. Meskipun Rosse, Damis dan Russel sangat baik padaku, tetap saja aku akan lebih suka menjadi heta daripada menjadi calon ratu klan vampir.

Dan bagaimana bisa Ar semudah itu bercanda tentang bagaimana aku harus mengubahnya maenjadi vampir juga. Kurasa otak Ar sudah agak terganggu. Mimik muka senang di wajahnya dan obrolan tentang ubah mengubah jenis ini membuatku sebal sekali dengannya. Inikan pertemuan pertama kami setelah beberapa bulan lamanya kami tak saling bertatap muka dan berbincang seperti ini. Harusnya ini menjadi obrolan yang menyenangkan saja.

“Hey, apa kau marah, Rena?”

Aku diam.

Ar justru tertawa makin keras. “Aku sungguh merindukan ekspresi itu.”

Apa? Aku menoleh dan memukul bahunya sekali lagi. “Kau…”

“Apa kau sudah menentukan Rena?” tanyanya mendadak

“Menentukan?”

“Memilih pendampingmu.”

Aku mengamati Ar, “Kau tahu?”

“Pernahkah aku bercerita kalau aku mengenal seorang vampir perempuan yang sangat baik dan keras kepala Rena?” aku menggeleng. Seingatku Ar sama sekali tidak pernah mengatakan hal itu kepadaku. Vampir perempuan? Dan mendadak satu ingatan tentang sebuah penglihatan yang pernah mampir di otakku berkelebat menghasilkan satu kesimpulan yang mencengangkanku.

“Noura?”

Ar mengangguk.

Aku tercekat dan menutup mulutku dengan cepat. Tidak mungkin.

“Noura bercerita banyak hal tentang kelompoknya, vampir.”

“Tapi ba..bagaimana bisa? Kau dan..??” aku tak bisa menyusun dan menyelesaikan kalimatku dengan benar saking tercengangnya aku. Ini semua..

“Bagaimana bisa kami saling mengenal? Itu panjang sekali, Rena. Dan sepertinya tidak hari ini harus kuceritakan semuanya.”

Aku masih belum bisa menerima semua ini. Otakku memproses segalanya dengan lamban dan itu membuatku terhenyak lama. Ar dan Noura. Jadi memang benar yang dikatakan Reven jika penglihatan-penglihatanku selama ini adalah kenangan milik Noura. Lalu, jika benar seperti itu. Yang kualami tadi sore apa? Ingatan tentang Noura dan permintaan maafnya mendadak kembali memenuhi otakku. Kenapa semua petunjuk-petunjuk yang muncul justru menyesatkanku.

“Lalu apa sudah kau putuskan akan memilih siapa, Rena?” Ar mengulang pertanyaannya, memandangku. Sementara aku Cuma bisa menggeng pelan, “Belum. Aku tak tahu, Ar.” Jawabku jujur.

Nyatanya aku memang masih belum memutuskan dan belum yakin pada apapun. Damis atau Reven? Meskipun jika akhirnya dipaksa memilihpun, aku mungkin memilih Damis karena dia sangat baik padaku jika dibanding dengan Reven yang hobinya mengintimidasi keberadaanku disini. Tapi itupun rasanya masih belum membuatku lega. Ada yang janggal. Sepertinya pilihan itu harus dibuat dengan pemikiran matang yang final.

“Pikirkan itu baik-baik, Rena. Cepat atau lambat, pada akhirnya kamu harus memilih. Dan masalah pendamping calon ratu bukan hal yang sepele. Ini menentukan kelanjutan kelompok vampir tentang eksistensi mereka di dunia ini.”

Aku paham. Pendamping yang kupilih pada akhirnya akan menemaniku di tingkat tertinggi dalam kelompok ini bukan? Dalam artian, dia yang akan menggantikan tempat Vlad sebagai pemimpin. Dan menjadi pemimpin bukan masalah tentang yang baik atau tidak baik padaku, tapi ini tentang sesuatu yang lebih besar. Dan menyadari tanggung jawab itu membuatku lemas.

Kusandarkan punggungku ke belakang sambil membuang nafas panjang. Ini tidak akan mudah. Benar-benar tidak akan mudah. Keputusan yang kuambil akan sangat mempengaruhi klan ini. Dan akupun juga harus mulai berpikir sebagai bagian dari kelompok ini. aku vampir, half vampire.

Ar menepuk pundakku pelan, “Aku tahu kau akan bisa menemukan mana yang paling tepat pada akhirnya.” Aku balas memandang Ar dan tersenyum. Kuanggukan kepalaku. “Ya, semoga.” Balasku.

“Sudah larut malam ternyata, tidakkah kau merasa di luar sini sangat dingin, Rena. Hujan deras dan angin malam ini sudah nyaris membekukan tulang-tulangku.” Katanya sambil bangkit dan merenggangkan otot-ototnya. “Waktunya beristirahat, Rena.”

“Ar..”

“Ya..”

“Apakah kau akan tetap disini? Aku tidak mau kehilanganmu lagi. Sepertinya akan lebih baik jika ada kau disini. Menemaniku melalui semuaya. Aku tidak mau jika besok, aku bangun dari tidurku dan ternyata kau sudah tidak disini. Aku..”

Tangan Ar mengusap kepalaku dengan hangat, “Aku akan disini untuk sementara waktu.”

Mataku melebar, “Sungguh?”

Ar mengangguk, “Ya, Reven sudah berjanji padaku.”

Aku bangkit, “Reven?”

Ar menguap, “Kita bahas besok, Rena. Aku lelah dan nyaris jadi es di luar sini. Tidakkah kau mau membiarkanku tidur sebelum jadi mesin penjawab pertanyaanmu.” Katanya sambil melenggang pergi, melangkah masuk ke dalam kastil.

“Ar..!!” panggilku sambil berlari menjajari langkahnya, “Bagaimana bisa? Kau kenal Reven juga?”

“Besok, Rena.”

“Apakah kau tahu Reven itu sangat menyebalkan? Dia sok sekali bukan. Dingin. Angkuh juga. Kau tahu tidak kalau..”

“Besok, Rena..” Ar menguap lagi.

“Tapi kau harus dengar ini, Ar. Dia itu makhluk paling jahat disini. Kau tahu Ar, dia bahkan pernah bilang kalau..”

“Besok, Rena..”

“AR!!!”

Aku berteriak kesal sambil melangkah cepat menjajari langkah-langkah Ar yang lebar. Dia tertawa, merangkul bahuku, “Besok ya, nona Sherena Audreista.” Aku pura-pura memberengut manja dan memukul bahunya. Dia makin terkekeh.

Ar sudah kembali. Sekarang ada Ar di dekatku. Aku akan baik-baik saja. Ya, selama ada Ar. Semua pasti baik-baik saja. Pasti..
<< HALF VAMPIRE – Petanda
HALF VAMPIRE – Darah Penyihir >>

Mau Baca Lainnya?

24 Comments

  1. Buset dah.. Cerewet amat ya tu si rena.. Wkwkwkwk.. Waaa.. Di blog lbh panjang ni ceritanya ketimbang di wattpad.. Acik.. Acik.. Di tunggu next chaptnya ya..

  2. Sungguh, saya penasaran dengan kelanjutannya nanti…
    Ini.. sangat sangatlah menarik
    Di sepanjang cerita, benar-benar di manjakan dengan untaian kata-kata luar biasa..
    I love it..
    Keep writing!!

  3. hai hai akhirnya aku mengunjungi blog mu juga^^ senang akhirnya ada kelanjutannya but sejauh ini belum ada sisi romantisnya anyway moga cepat di publish y next chapt nya^^

  4. Heheyyy makasih sudah nyempetin diri buat nengok blog-ku ini. Iya nih, pengen memunculkan sisi romantisnya tapi belum dapet timing yang pas. Yup, semoga cepet publish chapter baru. pada

  5. keren thor ,, maff aku baru komen ,, soalya pas pertama aku ke blog kk aku gak gerti komennya ,, tapi skrg dah gerti heee,,,
    dituggu klnjutannya,,

Leave a Reply

Your email address will not be published.