Half Vampire – Keraguan

 

Aku melangkah memasuki aula bersama Dev dan mendapati aula beberapa sosok yang tidak aku kenal. Kebanyakan dari mereka membentuk kelompok kecil, tiga atau empat orang. Berbicara dan menikmati sesuatu dalam gelas-gelas kristal di genggaman tangan mereka. Kebanyakan tak menghiraukan aku dan Dev ketika kami bergabung ke ruang ini, memang ada yang menoleh tapi sekedar saja sebelum kembali dengan kelompok kecil lainnya. Kuduga mereka tidak tahu aku ini calon ratu klan ini, lagipula menurut Dev, sejak awal saat pelarian kami dari kastil Heta. Bauku mungkin sudah sedikit mirip vampire meskipun aku tidak tahu mirip di aroma yang seperti apa. Aku tidak bisa membedakannya.

Dev membawaku pada satu kelompok kecil di depan perapian yang apinya menyala kecil. Mereka hanya terdiri dari tiga vampir, dua laki-laki dan satu perempuan. Dev menyapa mereka, dan ketiganya membalasnya dengan ramah dan membiarkan kami duduk bergabung bersama mereka. Tidak heran jika ketiganya mengamatiku karena aku juga pasti akan bertindak seperti itu pada siapa pun yang tidak aku kenal.

Salah satu dari vampire laki-laki itu menatapku sangat tajam, aku tidak tahu bagaimana menggambarkan jenis tatapannya. Itu bukan jenis tatapan tidak suka yang dapat dengan mudah kutebak, seperti yang biasa kulihat dari tatapan Lyra ataupun Lucia. Tatapan ini lain dan aku tidak suka.

“Jadi desas desus tentang kau pernah menjalin hubungan dengan sang calon ratu itu benar, Dev?” celutuk vampire itu, membuat dua vampire lainnya ikut memperhatikanku.

Apa maksudnya.

“Kami hanya sempat saling mengenal ketika dia dulu masih seorang Heta.” jawab Dev pelan dan tegas. Aku menoleh padanya sebelum disentakkan oleh kata-kata yang keluar dari mulut vampir itu lagi.

“Apakah benar begitu nona Sherena Audreista?” kali ini dia benar-benar dengan jelas menunjukkan sikapnya bahwa dia bicara denganku.

“Apakah wanita ini merupakan penganti Noura itu?” tanya vampire perempuan yang membuat kesimpulan dari ucapan temannya itu. Aku merasakan banyak pasang mata menatap ke arah kami, aku tahu dengan benar bagaimana baikknya indera pendengaran klan vampire. Tidak heran.

“Ak..”

“Ya, dia.” Jawab Dev singkat, menahanku untuk bicara lebih banyak lagi.
Kulihat tiga dengan jelas bagaimana tiga pasang mata vampir yang di depanku ini berubah menjadi penuh ketertarikkan. Entah ini hanya perasaanku atau tidak, tapi aku merasa nyaris semua yang ada di ruangan ini mencoba mencuri lihat ke arah kami. Aku menunduk dalam-dalam.

“Senang melihatmu sebelum pesta besok, nona Sherena.” Kata vampire laki-laki yang tidak kusukai itu, dia mendekat dan entah bagaimana sudah memegang tangan kananku. Dia menunduk mengecup punngung tanganku dan bicara, “Suatu kehormatan besar melihatmu, nona.”

Demi apa pun aku berani bersumpah, nada suaranya benar-benar bukan nada penghormatan seperti yang dikatakan bibirnya. Aku manarik tanganku cepat.
Dev mendorong tubuh vampire itu kembali ke tempat duduknya, kurasa dia juga sama tidak sukanya denganku terhadap vampire yang satu itu. “Kurasa tindakanmu berlebihan Vogue.” Desis Dev jelas dalam nada tidak suka.

Vogue tergelak, tidak begitu keras, “Itu hanya representasi kekagumanku, Dev. Santai saja. Aku tahu nona Sherena hanya akan dimiliki oleh keturunan langsung Vlad. Tidak lain Reven atau Damis. Dan kau tidak ada dalam daftar itu.”

Aku melihat Dev mengenggam buku-buku jari tangannya dengan kerasa, dia menahan perasaan kesalnya. Aku paham sekarang maksud pembicaraan ini. Jadi Vogue, nama vampir menyebalkan ini, tahu bahwa aku dan Dev dulunya adalah sepasang kekasih.

“Kau tidak perlu menyinggung masalah itu lagi, Vogue. Akan sangat merepotkan kalau Rev atau Damis mendengar hal ini lagi. Aku tidak mau kita pulang dengan membawa urusan lain dengan mereka.” kata si vampir perempuan yang kurasa lebih bijak.

Kali ini vampir itu menatapku, “Aku Cecille. Ini Vogue dan Elios.” katanya memperkenalkan diri. Aku menyebutkan namaku sambil mengamatinya. Wajahnya kecil dan rambut merah bergelombangnya cantik sekali. Entah mengapa, bisa-bisanya aku memuji kecantikan para vampir yang sudah lumrah ini.

Lagi-lagi Vogue mengalihkan fokusku dengan kembali berkata, “Ku dengar Reven sudah memperingatkanmu untuk mengenang masa lalu itu sebagai masa lalu yang tentunya tidak bisa kau sentuh lagi. Tapi kenapa kalian berdua justru nampak intim di kastil ini?”

Cecille memalingkan wajahnya, kentara sekali meskipun sangat tertarik, dia tidak suka Vogue menyampuri urusan ini. Aku tidak tahu kenapa, hanya saja ada sedikit rona khawatir dan takut yang berhasil ku tangkap. Sementara vampir laki-laki satunya, yang sudah kulupa namanya, bahkan sama sekali tidak bicara apa pun sejak tadi. Hanya matanya yang tegas, mengamati dan entah apa lagi.

Dev tersenyum sinis, “Apakah sedangkal itu pemikiranmu, Vogue. Kurasa kau tidak benar-benar berubah sifat sejak setengah abad lalu ketika terakhir kali kita bertemu. Bahkan rupanya tingkat kepedulianmu pada urusan kastil ini masih demikian pekat.”
Aku tidak tahu makna tersirat apa yang ada dalam ucapan Dev, tapi beberapa detik kulihat pancaran kemarahan yang jelas tergambar dari raut wajah Vogue sebelum dia kembali bicara, tersenyum “Ah teman lama, kau benar-benar mengenalku dengan baik. Aku sungguh senang menyadri betapa kau masih ingat dengan jelas semua sifat-sifatku itu. Menyenangkan jika aku bisa kembali terlibat disini.”

“..menyenangkan jika aku bisa kembali terlibat disini.”

Mata Dave menatap Vogue dengan marah. Tapi aku melihat benar bagaimana Dave berusaha mengendalikan emosinya.

“Aku kira tidak akan semudah itu kau bisa kembali terlibat. Ingat tentang Noura. Rev tak akan membiarkanmu masuk lagi, menganggu keseimbangan yang ada disini.”

“Keseimbangan seperti apa yang kau maksudkan Deverend Corbis?” Suara lembut yang tajam membuat kami semua menoleh ke asal suara di belakangku. Dan jackpot, Lucia berdiri dengan kedua tangan bersilang di depan dadanya. Nampak lebih tidak bersahabat dari biasanya.

Vogue tersenyum tipis, “Oh Luciana, lama sekali rasanya tidak bersua dan kau semakin mempesona.” Katanya basa basi sambil berjalan mendekat ke Lucia.

Aku mencibir, tipe penjilat murahan si Vogue ini. Tampangnya yang seperti bangsawan kelas rendah itu menyebalkan sekali. Baru kali ini aku suka dengan apa yang dilakukan Lucia, ketika dia mengabaikan Vogue dan malah memandang Dave dengan aneh. “Keseimbangan seperti apa? Belum pernah ada keseimbangan disini sejak Noura mati.” Katanya dengan sedikit melirikku.

Ah aku benci. Ketika topik tentang Noura disebut, mau tidak mau ini akan berhubungan denganku. Dan aku tidak suka. Sangat tidak suka. Aku selalu berharap bisa berdiri sendiri disini sebagai diriku. Dipandang hanya sebagai Sherena Audreista. Tanpa bayang-bayang Noura di belakang namaku.

“Dan lagi, apa yang kau lakukan disini Sherena Audreista? Kau harusnya menungguku dan bukannya menyuruhku berkeliling mencarimu.” Kali ini Lucia menatapku dengan jelas. Bukan hanya lirikan sementara tapi tatapan menusuk yang tidak menyenangkan.

Aku menelan air ludahku dengan kesulitan. “Eh, ah.. Maaf Lucia. Ak-aku.. ” Aku baru ingat itu, jujur saja, memang tadi Rosse memintaku menunggu Lucia di ruang makan.

“Ikut denganku sekarang.” Katanya pendek mengabaikan permintaan maafku. Aku mengikuti langkahnya yang cepat dengan ragu, aku menoleh memandang Dave. Dia mengangguk. Dan aku kembali mengarahkan pandanganku ke punggung Lucia, tergopoh mengikutinya.

***

Lucia membawaku ke ruangan bawah tanah tempat dimana dulu aku melihatnya bersama Reven, tempat yang berbau basah meski api berpendar dari sudut tempat perapian berada. Lucia berbalik memandangku. Kali ini tanpa bicara apa pun. Dia hanya memandangku. Meneliti lebih tepatnya karena dia memandangiku dari bawah sampai atas berulangkali.

 “Sepertinya banyak sekali yang harus diperbaiki dari penampilan dan caramu berpakaian.”

 Mataku menyipit.  Apa maksudnya dengan..

 “Kau harus berhenti mengikat rambutmu seperti itu. Dan pakaian itu. Menyedihkan.”

 Apa salahnya? Aku sudah sering mengikat rambutku seperti ini sejak dulu. Diwajibkan malah, jika kubiarkan rambutku terurai, itu akan menganggu aktifitasku sebagai heta. Dan baju ini, menyedihkan darimana?

 “Ap-apaa yang kau lakukan?” Teriakku ketika tiba-tiba saja Lucia sudah sangat dekat denganku, memegang kunciran rambutku dengan kasar.

“Lepaskan!” Teriakku menepis tangannya.

 Ketika aku memandangnya lagi, dia sudah berada di seberang ruangan. Cukup jauh dariku. Sambil memegang sesuatu yang terlambat kusadari bahwa itu adalah ikat rambutku. Lucia melempar ikat rambutku ke perapian lalu memandangku seolah tidak terjadi apa-apa, “Rambutmu harus dirapikan.”

 Kedua alisku mengerut, “Kau bisa bilang dengan lebih halus, bukannya kasar seperti itu.”

 Lucia berjalan ke arah rak-rak berukir tinggi, mengabaikanku seperti biasanya dan mengambil sesuatu dari dalam salah satu rak itu. “Duduklah. Rambutmu harus dirapikan.”

 Aku terpaksa mengikutinya, duduk di salah satu kursi di dekatku. Aku hanya akan sekali ini mengikutinya. Pikirku sebal. Jika bukan Rosse yang meminta. Aku tidak akan pernah mau.

 Aku memejamkan mataku ketika melihat helai demi helai rambutku berjatuhan di sekitar kakiku. Aku berdoa semoga Lucia tidak mencampuradukkan ketidaksukaannya padaku dalam hal ini. Aku tidak mau terlihat mengerikan hanya karena bentuk baru rambutku.

Mataku terbuka pelan ketika kudengar suara guntingan rambutku terhenti. Lucia sibuk di depanku, mengeluarkan banyak gaun-gaun dari almari di sudut lain. Dia memberikan lebih dari enam gaun dengan detail indah yang rumit kepadaku.

“Bawalah. Simpan di ruanganmu. Pakailah itu untuk sehari-hari. Aku sudah mengosongkan gaun-gaun tidak layak dari almari di ruanganmu.” Ucapnya tanpa melihatku ketika langkahnya sudah menjauh dariku. Dia duduk di tempat yang dulu diduduki Reven. Dia diam cukup lama disana.

 “Kembalilah ke ruanganmu, aku akan menyusul.”

 Aku tidak berminat untuk menanggapinya, jadi aku langsung keluar dari ruangan ini. Berjalan kerepotan dengan dua tangan membawa gaun-gaun yang rupanya cukup berat ini.

 Ketika aku semakin menjauh, aroma basah yang rapat mengelilingiku perlahan memudar. Entah kenapa aku merasa sikap Lucia tadi terlalu baik. Kosakata yang digunakannya untuk bicara denganku tadi juga tidak terlalu menusuk. Dia seperti sedang memikirkan sesuatu yang mampu menurunkan minatnya untuk mengangguku.

 Ah entahlah, buat apa aku repot memikirkan urusan Lucia. Aku menaiki anak tangga ke ruanganku dengan kesulitan. Nyaris terjengkal ketika tanpa sengaja aku menginjak ujung gaun yang kubawa sebelum sepasang tangan lain meraih tanganku.

 “Hati-Hati Rena.”

 Aku mendongak dan nyaris menjerit dengan keras, “Russel!!!”

 “Oh hai.” Russel nampak kikuk mendapati ekspresiku yang agak berlebihan. Dia meraih semua gaun yang ada di tanganku dan membawanya. “Biar kubantu, kau mau kemana?”

 Aku masih memandanginya sebelum dengan agak gagap menjawab, “Ru-ruanganku”. Dia mengangguk dan berjalan ke arah ruang kamarku. Aku mengikutinya, berjalan di sampingnya.

 Russel terlihat berbeda, kupikir. Dia terlihat jauh lebih kurus. Wajahnya terlihat tirus dan kelelahan. Aku jadi tak tega merepotkannya begini. Selain itu aku melihat beberapa bekas luka di tangan dan lehernya. Bekas luka yang seperti baret-baret panjang yang dalam. Seperti luka cakar.

 Aku membuka pintu ruanganku dan membiarkan Russel masuk lalu meletakkan semua gaun itu di atas ranjang tidurku. “Terima kasih.”Ujarku tulus dan dia hanya tersenyum. “Ku dengar kau baru akan kembali malam nanti.” Kataku lagi ketika Russel sepertinya akan meninggalkan ruanganku. Terus terang saja, aku penasaran dengannya dan ingin berbincang dengannya.

“Aku tidak ingin terlambat dan melewatkan sedikit saja momen pesta untukmu, Rena.”Terangnya dengan sangat lembut. “Masih ada yang lain yang bisa ku bantu untukmu, Rena?”

Aku menggeleng. “Tidak. Terima kasih.”

“Baiklah. Aku harus pergi menemui Reven.” Dia berbalik dan berjalan ke arah pintu.

“Russel.” Panggilku.

“Ya.” Dia meoleh memandangku.

 “Apa kau sedang ada masalah dengan Lucia? Kau dan dia nampak agak.. Emm. Ya, berbeda.”

 Russel memandangku, lalu dia tersenyum lebar, “Kau sudah mengenal Lucia? Pasti banyak hal yang kulewatkan ketika aku pergi.” Dia tertawa kecil dan aku merasa sangat tidak enak hati. Hubungan Reven dan Lucia haruskah kukatakan sekarang pada Russel?

 “Tidak apa-apa. Kami baik-baik saja. Hanya sama-sama kelelahan dengan banyak hal yang akhir-akhir ini kami kerjakan. Kebanyakan agak berjalan dengan kurang mulus.”

 “Apa ada hubungannya dengan luka di leher dan tanganmu itu? Sebenarnya apa yang kau kerjakan di luar sana? Berbahayakah?” Aku memandangnya dengan khawatir.

 Russel menyentuh bekas luka di lehernya. “Ini bukan apa-apa. Kau tidak perlu cemas, Rena.” Katanya menenangkanku.

 “Aku harus segera menemui Reven. Sampai nanti Rena.” Ucapnya sambil menutup pintu ruanganku.

 Ketika kudengar langkah Russel semakin menjauh. Aku menjatuhkan tubuhku dengan lemas ke atas ranjangku. Aku merasa sangat buruk dengan terus menerus menyembunyikan kenyataan tentang Rev dan Lucia dari Russel. Russel jenis yang baik. Sama seperti Rosse dan Damis.

 Lagipula, sangat kejam rasanya dua makhluk menyebalkan itu, Reven dan Lucia. Bagaimana mungkin, di belakang Russel. Lucia dengan jelas menunjukkan sikapnya bahwa dia ingin berada di samping Rev dan mendampinginya sementara dia sendiri merupakan calon pengantin yang telah dipilih Russel. Tega sekali.

 Dan apa pula yang diperintahkan Reven pada Russel selama ini. Luka yang disebabkan oleh bangsaku, manusia. Entah heta atau slayer tak akan pernah menimbulkan bekas bahkan luka seperti itu. Heta maupun slayer bisa membunuh mereka tapi tidak jika untuk sekedar melukai seperti itu. Bangsa vampir hanya bisa dilukai oleh bangsa mereka sendiri dan bangsa sejenis mereka. Klan predator. Pemburu.

Tapi bukankah selama ini vampir merupakan bangsa yang menduduki puncak rantai makanan? Lalu, apa atau siapa yang telah melukai Russel?

Klan penyihir? Tidak. Aku menggelengkan kepalaku. Mereka jenis bangsa minoritas. Sangat tertutup dan tidak akan mau repot-repot berurusan dengan klan vampir. Selama ini penyihir hanya berurusan dengan klan manusia. Mereka yang membentengi negeri kami agar tidak dapat dengan mudah ditembus oleh klan-klan pemburu. Di istana, penyihir-penyihir yang dipekerjakan oleh raja sangat sulit sekali untuk ditemui. Bahkan selama aku bertugas sebagai heta, pengawal keluarga kerajaan, aku sama sekali belum pernah melihat mereka.

 Mendadak aku menyadari bahwa siklus kehidupan, dan arah panah untuk tiap klan dalam lingkar kebutuhan ini rumit sekali. Banyak klan-klan. Beberapa memunculkan dirinya dan beberapa lagi lebih nyaman untuk menyembunyikan dirinya dari yang lainnya.

 Lalu menjadi bagian klan mana pun sepertinya juga dapat dengan mudah berganti. Klan vampir dapat menambah jumlah kelompok mereka dengan menginfeksi kami, manusia, dengan racun dalam gigitan mereka. Tapi vampir yang non origin ini jauh lebih lemah daripada vampir-vampir origin seperti Vlad dan Reven. Kemampuan yang dimiliki pun sangat jauh berbeda. Lalu manusia dan penyihir.

 Penyihir hidup dan menjadi penyihir karena takdir yang melahirkan mereka seperti itu. Menurut sepengetahuanku, hanya ada sekitar lima puluh penyihir asli di dunia ini. Mereka pun tidak hidup berkelompok. Mereka jenis yang lebih memilih bersembunyi di kedalaman-kedalaman hutan dan goa-goa tak terlihat. Berkutat seumur hidup mereka hanya dengan mantra dan ramuan mengerikan. Penyihir yang dipekerjaan di istana berkemampuan jauh dibawah penyihir-penyihir seperti ini.

 Arshel. Bukankah rupanya dia juga penyihir? Mendadak aku baru berpikir dan bertanya-tanya. Darimana Ar punya kemampuan seperti itu. Aku teringat batu yang diberikan Ar untuk Dev yang kami gunakan untuk melewati gerbang sihir di ruang bawah tanah kastil heta ketika melarikan diri dulu. Apakah selama ini Master juga sudah tahu kalau Ar adalah penyihir?

 Aku jelas punya banyak sekali pertanyaan yang akan kuajukan kepada Ar jika suatu saat nanti aku bertemu dengannya. Pasti bertemu. Aku yakin Ar juga mencariku. Apalagi dulu Edge mengatakan bahwa Ar sudah keluar dari lingkup keanggotaannya sebagai slayer senior dan memilih meninggalkan negeri hanya karena dia tidak sepaham dengan Master menyangkut keputusan Master berkaitan denganku.

 Ah Arshel. Aku merindukan sosoknya yang dulu demikian keukeuh melindungiku seperti sosok kakak. Sekarang Ar dimana ya?

“Memikirkan Arshel?”

Aku melompat bangun dari tempat tidur, begitu terkejutnya sampai nyaris terguling ke bawah. “DEV!!” Teriakku untuk pertama kalinya lagi entah sejak kapan. Dulu aku sering sekali berteriak padanya. “Apa yang kau lakukan disini?” Tanyaku dengan sedikit menurunkan suaraku.

“Eh, ap-apa yang tadi kau katakan? Kau bilang Arshel? Kau masih bisa membaca pikiranku?” Tanyaku memberondong Dev.

Dev meletakkan satu kotak berwarna kecoklatan ke atas tempat tidurku, menepuk-nepuk tangannya hingga akhirnya dia memandangku, “Mana dulu yang harus kujawab?”

Telunjukku mengarah ke kardus coklat yang baru saja diletakkannya, “Apa itu?”

Dev mengangkat bahunya, “Entah, Rosse mengatakan itu yang akan kau perlukan untuk nanti malam.”

Aku bergerak mendekat, membuka penutup kotak itu sedikit, gaun. Dan semua aksesoris pelengkapnya. Aku mengesernya ke tempat awal. Kotak itu kembali tertutup.

“Gaun pesta ya?” Suara tanya Dev terdengar lebih seperti sebuah pernyataan. Aku menatapnya fokus.

“Lagi-lagi kau melakukannya.”

“Ap-apa??” Dev menunjukkan wajah tidak berdosanya. Sepertinya lama sekali aku tidak melihat ekspresi sok suci seperti itu dari wajahnya.

Aku melipat kedua tanganku di depan dada. Menatapnya dengan mata menyipit. “Kau membaca pikiranku! Bagaimana bisa?”

Dev membuang nafas lalu menggeleng.

Aku maju selangkah ke depan. Mendekat ke arahnya. “Bukankah kau bilang, kemampuanmu membaca pikiran tidak berlaku untuk sesama klan vampir. Apa ak-?” Suaraku tercekat di tenggorokan. Sangat terkejut menyadari kesimpulan yang diproses otakku.

Apa mungkin aku kehilangan separuh vampirku? Aku manusia sepenuhnya??

Dev berbalik dan menghempaskan tubuhnya ke salah satu kursi berlengan di dekat perapian. “Bukan. Bukan seperti itu.” Mendadak wajah Dev nampak kecewa. Padahal baru saja aku menemukan kembali ekspresi Dev yang dulu.

 Aku melangkah mendekat. Duduk di kursi berlengan lainnya. Menunggu kalimat-kalimat Dev yang masih sulit dikeluarkannya.

 “Aku justru merasa cemas mendapati bahwa aku kembali bisa membaca pikiranmu. Terakhir kali, ketika kita melarikan diri dan hidup beberapa hari di hutan. Aku mulai kesulitan membaca pikiranmu. Sedikit jiwa vampirmulah yang menyebabkannya.”

Dev memandangku, “Segalanya mulai mengabur hingga akhirnya ketika kau mulai lama tinggal di kastil ini. Aku sudah benar-benar tidak bisa membaca pikiranmu, Rena.”

 “Lalu, itu tadi apa?”

 “Itulah sebabnya, sejak di lorong. Ketika ada Damis. Aku bisa membaca pikiranmu dengan baik. Sampai sekarang.”

 Mataku membesar menatapnya, “Apa artinya itu kau benar-benar kehilangan jiwa vampirku. Aku sekarang manusia sepenuhnya Dev?” Nada kegiranganku jelas tak bisa kusembunyikan disini.

Tapi Dev lagi-lagi menggelengkan kepalanya, “Bukan. Bukan seperti itu. Aku justru khawatir kalau ini adalah saat-saat terakhir bagi jiwa manusiamu untuk menunjukkan keberadaannya.”

Aku terduduk kaku, memandang Dev dengan tatapan tak percaya, “Apa maksudmu?”

“Rena, kurasa Rosse pun menyadari ini. Untuk itulah dia membiarkanku membawa gaun itu kesini sebagai alasan untuk memberitahumu ini.”

 Aku bangkit, melangkah menjauh dari Dev. Berjalan lemah ke arah satu-satunya jendela di ruangan ini. Yang ketika pertama kali ke tempat ini pernah kugunakan untuk melarikan diri. Aku memandang nanar ke arah luar. Dengan kacanya yang butam aku hanya dapat sedikit melihat hutan lebat di kejauhan sana. Kehilangan jiwa manusiaku? Artinya semua sifat-sifat manusiaku lenyap? Lalu digantikan jiwa vampir milik Noura. Aku kehilangan jiwaku sendiri. Akankah itu berarti aku akan hanya akan hidup dengan semua sifat dan keinginan Noura. Karena jiwa ini, bukan lagi milikku. Apa artinya aku perlahan-lahan akan menjadi Noura?

 Dev menyentuh bahuku. Memberikan rasa nyaman yang entah kenapa justru membuatku semakin gugup. Aku, Sherena Audreista sebentar lagi tidak akan menjadi Sherena lagi.

 Dengan lembut Dev membuat tubuhku berbalik memandangnya, “Bukan seperti itu Rena. Kau akan tetap menjadi dirimu. Tubuhmu. Jiwamu. Hatimu. Pikiranmu. Itu akan tetap milikmu. Kau akan selalu menjadi dirimu sendiri.”

 Aku tidak ingin menjadi vampir. Aku sangat takut membayangkan bahwa kematian akan sangat sulit menyentuhku. Aku takut menjadi abadi. Vampir? Haruskah aku sepenuhnya menjadi bangsa yang dulunya merupakan musuhku.

 Tangan Dev menyentuh kedua lenganku, memintaku untuk memandangnya. Aku melihat sepasang mata itu. Mata biru yang dulunya demikian ku kagumi, kini bersorot lembut memandangku. “Menjadi vampir tidak sepenuhnya buruk, Rena. Percayalah padaku. Keabadian akan membawamu pada kebijaksanaan yang agung. Dan kau, tetap punya pilihanmu. Jika kau bosan, ingin mengakhiri keabadian yang begitu dikejar bangsa manusia ini, maka mudah saja. Akhiri semuanya. Terobos batas negeri manusia. Cari slayer terhebat. Lalu biarkan slayer itu menikam jantungmu dan membuatmu jadi abu lalu binasa dan hilang disapu angin.”

 Aku masih saja memandang Dev, mendadak merasa muak. Mati bunuh diri tidak pernah ada dalam rute hidupku. Dev tahu benar hal itu. Aku membuang mukaku. Tapi tangan Dev dengan sigap meraih pipiku dan memaksaku memandangnya. Aku hanya perlu berpikir tanpa bicarakan. Aku tahu dia bisa membaca apa yang ada di pikiranku. Aku tahu dan kubiarkan dia membacaku karena aku lelah terus menggunakan pita suaraku.

 Tidak semudah itu bagiku. Aku lahir sebagai manusia. Bernafas, makan, minum air, tidur dan jantungku berdetak. Aku tidak bisa pura-pura menganggap darah sebagai air. Sebagai sumber kehidupanku. Dan semua itu berasal dari kehidupan makhluk lain. Hidup seperti apa jika aku harus menghabisi hidup makhluk lain untuk hidup?

 Aku lahir sebagai manusia, Dev. Dibesarkan oleh ibuku sebagai manusia. Dididik dengan pola pikir manusia. Menjadi heta, pelindung keluarga kerajaan karena kecintaanku kepada mereka. Karena jiwaku yang ingin melindungi mereka dari kalian, para vampir. Atau makhluk-makhluk pemburu lainnya. Aku dididik dengan pemikiran bahwa kalian, jahat. Aku dilahirkan untuk membenci dan memusuhi kalian. Seperti itulah seharusnya.

 “Rena! Cukup!!”

 Aku terus saja memandang Dev tanpa kedip. Aku ingin dia tahu segalanya. Segala yang terus saja mengangguku selama ini.

 Aku lemah karena kalian. Karena kalian memintaku hidup di tempat ini. Kalian mengubahku tanpa kusadari. Iyakan? Seperti itu yang terjadi selama ini. Lihat bagaimana sekarang kupandang kau, Rosse, Damis dan Russel sebagai individu yang baik. Itu kesalahan. Aku manusia. Aku heta. Dan vampir musuh manusia. Musuh heta. MusuhKU.

 “Rena, dengar. Bukan begitu. Perasaanmu kau sendiri yang mengatur bukan aku, bukan Rosse. BUKAN kami. Kau yang menentukan kau benci siapa, kau suka siapa atau kau memusuhi siapa. Bukan kehendak kami jika separuh jiwa Noura ada di tubuhku. Jauh lebih mudah bagi kami jika itu berada dalam tubuh salah satu perempuan dari klan kami.”Papar Dev terlihat lelah dengan pikiranku.

 Aku melemah. Merasa entah perasaan apa. Aku bingung.

 “Harusnya kau tahu betapa sulitnya kami mencoba melindungimu. Tidak hanya dari klanmu sendiri,manusia. Tapi juga dari klan lain. Klan-klan lain yang begitu menginginkan kejatuhan kami. Tidak sedikit musuh kami Rena. Kami melindungimu dari mereka. Agar kau, calon ratu baru bagi kami bisa selalu aman dan selamat.”

 “Lalu apa kau tidak tanya aku? Apa kau tidak ingin tahu perasaanku? Disini, dianggap hanya sebagai pengganti Noura? Bukan Sherena Audreista. Lalu apa aku juga yang meminta kalian menjagaku? Melindungiku! Aku bisa menjaga hidupku sendiri tanpa bantuan kalian!!” Teriakku frustasi. Perasaan dan pikiranku demikian kacau. Demikian rumit. Terlalu banyak bagian-bagian lain yang ikut bertebaran, memberantakkan isi kepalaku. Disisi lain aku sadar bahwa keberadaanku sendiri sudah ditolak oleh klan manusia. Meski karena sebuah sebab, para vampir menyelamatkanku, aku tetap dapat merasakan ketulusan Rosse, Damis dan Russel selama ini. Aku tahu mereka benar-benar melihatku sebagai pribadiku sendiri. Bukan sebagai pengganti Noura. Mereka sama sekali tidak mengekangku. Mereka membiarkanku bertindak semauku di tempat ini. Melimpahiku dengan perhatian yang besar. Mereka peduli dan berusaha membuatku aman dan nyaman. Saat aku merindukan ibu. Rosse membiarkanku mengunjungi rumahku. Saat aku merasa begitu disisihkan, Damis ada untuk menenangkanku. Aku merasa berharga, dan malu sekali telah berpikir demikian buruk terhadap mereka. Bahuku gemetar dan aku merasakan mataku mulai basah.

 “Rena.” Dev menarikku ke dalam pelukkannya. Aku menangis bersembunyi di dadanya, terisak-isak.

“Tidak apa-apa. Tidak apa-apa Noura.”

Mau Baca Lainnya?

2 Comments

Leave a Reply

Your email address will not be published.