Half Vampire – Kisah-Kisah

Aku berdiri memandang pintu ruangan ini dari luar, pintu ruang pribadi milik Reven. Ruang bawah tanah yang selalu membawa hawa dingin yang khas. Aku menelan ludahku, merasa sedikit gugup. Membayangkan harus bicara berdua saja dengan Reven di dalam ruangan ini sungguh tidak mengenakkan. Jujur saja Reven sama sekali bukan teman bicara yang bisa membuatku nyaman, terakhir kali bicara berdua dengannya aku malah membuatnya marah.
Aku menelan ludahku sendiri ketika kuputuskan aku harus segera masuk ke dalam sini. Reven mungkin sudah menungguku. Tanganku terulur menyentuh kenop pintu ruangan ini ketika mendadak pintu ruangan ini malah terayun terbuka dengan sendirinya. Aku nyaris melompat karena terkejutnya, sebelum akhirnya aku bisa menguasai diriku sendiri. Aku mengutuk Reven yang mungkin saja melakukan ini.

Ketika aku melangkah masuk ke dalam ruangan yang selalu berbau basah ini, aku melihat sosok lain yang jelas-jelas tidak kukenali sebagai Reven. Sosok itu berdiri menatap perapian, membelakangiku. Aku melangkah masuk dengan ragu-ragu. Apa aku datang di waktu yang salah? Mungkinkah Reven masih punya urusan dengan orang ini? Aku mengitari ruangan ini dengan mataku, mencari keberadaan Reven.
“Duduklah, Sherena. Reven masih mengambil sesuatu di ruanganku.” Kata suara berat itu.
Aku menelan lebih banyak ludahku ketika aku menyadari itu suara milik siapa.
Vlad berbalik. Memandangku yang masih seperti terpaku di tempatku berdiri. Aku mengangguk dengan gugup dan langsung bergerak cepat. Mengambil tempat duduk di kursi berlengan terjauh dari Vlad. Sejauh ini aku hanya pernah tiga kali bertemu Vlad. Pertama, ketika aku baru tinggal di kastil ini, yang kedua ketika pesta penyambutan calon ratu dan yang terakhir ialah ketika aku berlari menerobos pintu ruang pribadi Vlad untuk membela Dev. Tiga-tiganya bukan jenis percakapan yang baik. Vlad tidak pernah benar-benar bicara padaku kecuali ketika dia bertanya tentang Ar. Lagipula aku juga tak suka berada di sekitar Vlad. Bagiku, Vlad seperti punya sesuatu yang membuat orang lain tidak akan merasa nyaman berada terlalu lama bersamanya.
Vlad punya sorot mata yang membuat siapapun merasa sangat “kecil” ketika dia menatapnya. Aura yang dimilikinya pun juga jauh lebih mengintimidasi dari aura yang dimiliki Reven dan terus terang ini buruk karena sekarang aku hanya berdua dengan Vlad di ruangan ini tanpa tahu apa yang akan kami bicarakan.
Aku menunduk, tak berani memandang wajah Vlad ketika dia duduk di kursi berlengan yang paling dekat dengan perapian. Punggungnya tegak, dan sialnya, kedua bola matanya yang merah bersorot lurus, menatapku. Aku tahu itu, oleh karena itu aku menghindari kontak mata dengannya. Ini benar-benar membuatku tidak nyaman.
“Kau tahu kenapa Reven memintamu datang kesini, Sherena?”
Aku menggeleng, mengangkat wajahku tapi tetap berusaha menghindar untuk balas memandangnya, “Tidak. Reven tidak mengatakan apapun padaku kemarin. Dia hanya memintaku datang kesini ketika tengah hari.”
Vlad tidak mengangguk, tidak menanggapi. Dia hanya terus memandangiku. Wajah pucatnya bersinar terkena piasan cahaya api di dekatnya dan itu justru mempertegas setiap lekuk tulang di wajahnya. Aku tidak bisa menebak berapa umur Vlad sebenarnya, hanya saja jika untuk ukuran manusia, dia nampak seperti pria berusia awal lima puluhan dengan wajah runcing dan tubuh jangkung. Rambutnya hitam pekat seperti jelaga. Kontras dengan warna kulitnya yang sepucat pualam.
Vlad masih memandangiku ketika akhirnya dia memecah kesunyian kami dengan berkata pelan, “Apakah kau senang menerima kunjungan dari sabahat slayermu itu? Kudengar dia sudah pergi dari tempat ini kemarin, benarkah begitu?”
Aku mengangguk, “Aku senang sekali Ar bisa kesini meski hanya sebentar. Dan ya, kemarin dia pergi dari sini. Ar bilang dia punya pekerjaan penting lain yang harus dikerjakannya di luar sana.” Jawabku lancar. Membicarakan Ar entah bagaimana selalu membuatku merasa hangat.
Sudut bibir kiri Vlad tertarik sedikit ke atas. Dia tersenyum tipis. Membuatku bertanya-tanya kenapa. Tapi sebelum aku sempat bicara hal lain, aku mendengar seseorang memasuki ruangan ini. Aku menoleh, mendapati Reven bergerak cepat menghampiri Vlad. Melewatiku dan sama sekali tidak menoleh ke arahku. Seakan-akan tidak menyadari keberadaanku. Dia mengulurkan sesuatu kepada Vlad dan mereka bicara dalam bahasa yang tidak kumengerti sebelum akhirnya Reven berbalik. “Sherena..” Katanya ketika matanya menangkap sosokku. “Apakah Damis sudah mengatakan sesuatu kepadamu tentang pertemuan ini?”
Kedua alisku mengerut, aku menggeleng. Seharian ini aku bahkan belum bertemu dengan Damis. Aku tidak menemukannya di ruang makan ketika pagi tadi aku turun untuk mengambil sarapanku, padahal biasanya aku akan selalu menemukan sosoknya disana. Tersenyum dan mengucapkan selamat pagi kepadaku.
“Baiklah kalau begitu.” dia mengangguk. Berjalan lagi melewatiku dan nampak mencari sesuatu dari rak di sudut ruangan. Kembali mengabaikanku.
Aku mengamatinya untuk menghindari Vlad yang masih menatap ke arahku. Aku menoleh ketika dia memanggil namaku dengan suara beratnya. “Apa yang pertama kau rasakan ketika kau tahu kau menjadi calon ratu bagi kelompok ini, Sherena?”
Aku menatap Vlad sekilas, lalu langsung mengalihkan pandanganku ke perapian di dekatnya ketika rupanya dia sama sekali tak berkedip, terus memandang lurus ke arahku seolah-olah aku akan melakukan sesuatu jika dia berkedip sedetik saja.
“Aku- marah.” Jawabku jujur. Dulu, ketika pertama kalinya Ar dan Dev mengatakan kepadaku bahwa aku adalah calon ratu dari kelompok vampir, aku benar-benar merasa marah. Mereka musuhku ketika itu. Aku masih heta. Pelindung keluarga kerajaan ketika mendadak semua kehidupan normalku diambil secara paksa oleh takdir calon ratu yang entah kenapa bisa menimpaku seperti ini.
Vlad mengangguk, “Dan seperti apa rasanya menjadi separuh vampir?”
Aku menelan ludahku, separuh vampir? Aku bahkan tak merasakan perubahan mendasar dalam tubuhku. Ketika semua orang sepertinya sibuk memperdebatkan statusku yang “half vampire”, aku justru sama sekali tidak merasakan apa-apa. Aku tidak minum darah, tidak punya kecepatan menakjubkan seperti yang dimiliki vampir, kulitku juga tidak terbakar ketika sinar matahari menyentuhku. Aku masih merasa seperti aku yang biasanya, manusia.
Reven sepertinya sudah menemukan apa yang dia cari ketika dia berjalan mendekat ke tempat Vlad. Keduanya mengamatiku, menunggu jawabanku.
Aku mengangkat bahuku, “Aku tidak merasa seperti separuh vampir. Aku merasa masih seperti..” Kedua bola mataku bertemu dengan sepasang mata biru Reven. “..manusia.” Lanjutku.
Anehnya Vlad tertawa mendengar jawabanku. Tawa yang justru membuatku merinding. Aku menggenggam tepian kursi berlengan ini dengan erat, sesekali melirik ke arah Reven yang sayangnya, masih tanpa ekspresi seperti biasanya.
“Vlad, sepertinya Michael Corbis sudah datang.” Suara Reven datar menyelamatkanku dalam situasi ini. Dia mengulurkan satu gulungan kertas kepada Vlad ketika mengatakan itu.
Vlad menerimanya lalu mengangguk, “Ya, aku juga merasakan kehadirannya.” Dia bangkit, berjalan pelan ke pintu. Dan ketika melewatiku, Vlad berhenti. “Nikmatilah perasaan menjadi manusia selagi kau masih bisa merasakannya, Sherena.” Tangannya yang sedingin es menyentuhku. Aku menangkap senyumnya yang misterius sebelum dia menghilang di balik pintu. Aku menyentuh bekas sentuhan tangan Vlad, dan hawa dingin itu sepertinya masih disana. Menjalar ke tubuhku. Dan aku merasa takut. Sepertinya aku lebih menyukai jika Vlad terlihat menyeramkan seperti biasanya daripada harus mendengar tawanya atau bahkan melihat senyumnya yang menyimpan rahasia.
Demi apapun juga aku sama sekali tidak mengerti maksud perkataan Vlad. Apa maksudnya dengan berkata agar aku menikmati perasaan sebagai manusia selagi aku masih bisa merasakannya.
Reven berdehem, membuatku berhenti memikirkan tentang Vlad ataupun perkataannya tadi padaku. Aku kini beralih memandangnya yang duduk di kursi berlengan di depanku. “Baiklah, Sherena. Jika Damis memang belum mengatakan apa-apa, aku akan sedikit menceritakan sesuatu kepadamu.” Dia berhenti. Mengamati apa aku benar-benar mendengarnya atau tidak. Ketika akhirnya dia melihatku yang memandangnya, menunggu kalimat-kalimatnya yang lain, dia melanjutkan, “Kau akan bergabung dalam kelompok-kelompok kecil untuk melakukan tugas. Seperti yang Russel, Dev dan Lucia biasa lakukan. Tugas-tugas ini melibatkanmu dengan beberapa masalah yang tengah kami alami, utamanya dengan manusia serigala.” Jelasnya cepat.
“Manusia serigala?”
Reven mengangguk, “Seperti yang kau ketahui, luka yang dialami Lucia juga disebabkan oleh mereka.”
“Tapi manusia serigala tidak memakai panah atau busur perak seperti itu.” Protesku. Aku memang sudah sedikit mendengar tentang hal ini dari Damis. Tapi tetap saja terdengar mustahil di telingaku. Bagaimanapun juga manusia serigala bertarung dengan gigitan dan cakar mereka. Mereka bertarung seperti serigala pada umumnya. Lalu sekarang, memakai panah? Yang benar saja.
Reven kembali mengangguk, “Seharusnya memang seperti itu. Tapi Lucia tidak salah lihat, panah itu mengenai tubuhnya ketika dia bertarung dan akan membunuh serigala yang menyerangnya. Panah itu berasal dari arah gerombolan manusia serigala lainnya. Seseorang diantara manusia-manusia serigala itu pasti yang telah melepaskan anak panah perak tersebut ke arah Lucia.”
Kedua alisku bertaut, seseorang diantara gerombolan manusia serigala? Sesuai pengetahuan yang kudapat ketika di pelatihan heta, manusia serigala akan bertarung dalam wujud serigala besar. Mereka akan menghindari wujud manusia mereka karena itu adalah titik kelemahan mereka. Sebab ketika menjadi manusia, manusia serigala tidak punya kemampuan bertarung sebaik ketika mereka dalam fase perubahan sempurna sebagai serigala besar.
Seperti membaca pikiranku, Reven kembali bicara, “Mereka jelas tidak melakukannya sendirian.”
Alisku semakin rapat tertaut, “Maksudmu?”
“Meski sepertinya tidak mungkin. Sepertinya para manusia serigala punya kawan lain sekarang. Dan itulah yang kita selidiki, Sherena.”
Aku mengangguk, mulai memahami arah pembicaraan ini. Tapi bagiku ini tetap terasa aneh karena seperti kelompok pemangsa pada umumnya, manusia serigala tidak akan suka bekerja dengan kelompok lain. Lalu kenapa mendadak mereka sepertinya punya kawan lain untuk membantu mereka.
Tiba-tiba aku merasa aneh untuk sesuatu yang lain, rasanya janggal mendapati diriku dan Reven mendiskusikan sesuatu dengan senormal ini. Maksudku, hubunganku dengan Reven bisa dikatakan tidak baik dan akan selalu ada nada dingin serta ketidakacuhan Reven padaku ketika kami berbicara. Tapi sekarang, kami bicara seolah-olah kami adalah teman yang sedang mendiskusikan sesuatu yang penting.
“Lalu, bagaimana Lucia bisa bertahan ketika terluka oleh panah perak itu sementara masih ada segerombolan serigala lain yang tentunya tidak akan segan-segan membunuhnya. Bukankah klan vampir dan manusia serigala selalu berusaha mematahkan leher masing-masing ketika mereka bertemu?”
Aku sedikit terkejut menemukan ekspresi itu di wajah Reven ketika dia mendengar pertanyaanku itu. Reven, biasanya hanya akan nampak angkuh, dingin dan tidak bersahabat. Tapi sekarang, dia terlihat lelah. Frustasi. Aku pernah mengenali ekspresi itu sebelumnya. Ekspresi Reven dalam penglihatanku ketika aku sakit. Ekspresi yang muncul ketika dia lelah menghadapi sifat-sifat Noura.
Reven mengambil nafas panjang. “Aku tidak tahu kenapa para manusia serigala itu pergi begitu saja tanpa membunuh Lucia ketika panah itu sudah melukainya. Seakan-akan mereka ingin kita melihat Lucia dalam keadaan seperti itu dan berusaha memperingatkan kepada kita bahwa mereka tengah merencanakan sesuatu.”
Aku mengerti. Sebuah peringatan untuk sesuatu yang tidak kita ketahui apa. Ini buruk. Aku menatap Reven lagi ketika kembali kudengar suaranya.
“Itulah yang akan menjadi tugasmu nanti, Sherena. Menyelidiki apa rencana mereka sesungguhnya.”
***
Punggungku tegak. Mataku memicing fokus ketika anak panahku kutarik ke belakang. Aku menahan nafas, melepaskan anak panah itu. Memaki pelan ketika sepertinya bidikanku meleset sedkit dari lingkaran target yang terpasang beberapa puluh meter dari tempatku berdiri. Aku menjatuhkan tubuhku. Duduk dengan nafas sedikit terengah dan keringat yang membasahi dahiku.
Sudah hampir satu jam aku ada di padang bunga ungu ini, kembali melatih kemampuan memanahku yang sialnya semakin menurun karena selama di kastil ini, aku memang jarang berlatih memanah. Aku menyeka keringatku dengan pungung tanganku ketika aku menyadari ada langkah-langkah pelan yang mendekat ke arahku. Aku menoleh dan mendapati Russel tersenyum padaku.
“Sedang berlatih memanah, Sherena?” Tanyanya begitu dia sudah duduk di sampingku.
Aku mengangguk, “Tapi aku agak kecewa dengan diriku sendiri melihat kemampuan memanahku yang menurun drastis.”
Russel menepuk pundakku, “Tidak apa-apa. Kau hanya kurang latihan. Segera saja, ketika kau rutin berlatih, kemampuan memanahmu akan kembali seperti dulu. Aku bahkan tidak bisa memanah, Sherena. Dan sepertinya itu tidak buruk.”
Aku tertawa pelan, “Jika aku punya kemampuan bertarung, kecepatan dan insting sehebat vampir. Aku juga tidak akan peduli aku bisa memanah atau tidak, Russel.”
Russel tersenyum lebar, “Ah ya-ya. Tapi sepertinya kau juga akan segera memiliki kemampuan itu.”
Aku memutar tubuhku, menatap Russel. “Segera?”
Russel menghindar membalas tatapanku, dan justru memandang lurus ke depan. “Lupakan. Jadi bagaimana persiapanmu untuk tugas pertamamu? Apa kau gugup, Sherena?”
Aku mau protes, tapi ketika menangkap wajah Russel yang sepertinya pasti tidak akan menjawab apapun jika aku mengejar tentang perkataannya itu, aku mengurungkan niatku. Menarik nafas panjang, aku mengikuti arah pandang Russel.
“Sangat gugup. Ini tugas pertamaku. Rasanya seperti awal dari diterimanya keberadaanku secara nyata di klan ini. Setidaknya aku tak boleh mengecewakan banyak dari kalian yang berharap padaku.”
Russel mengangguk, “Ya, tapi kau harus tetap berhati-hati dan menjaga identitas rahasiamu nanti. Ingatlah, Sherena. Calon ratu klan vampir adalah target utama semua klan yang punya tujuan untuk menjatuhkan kita. Sebab, seperti kau tahu, jika calon ratu terbunuh. Entah bagaimana kekuatan kami melemah.”
“Aku tahu, Russel. Aku akan berhati-hati.” Sahutku bersemangat. Aku melirik ke arahnya, namun wajah Russel terlihat penuh pikiran. Aku menangkap ada sesuatu yang tidak beres. “Nah, apa yang membawamu sampai ke padang bunga ini, Russel? Bukan untuk sekedar menemuikukan?”
Russel menoleh, “Tidak, aku bahkan tidak menyangka akan menemukanmu tengah berlatih disini.”
“Apa Lucia baik-baik saja?” Tebakku.
Sepertinya aku bertanya dengan tepat apa yang sepertinya benar-benar menganggu pikirannya karena Russel mendadak terlihat ingin menghindar. Dia kembali menatap lurus ke depan. Akupun juga tidak akan memaksa ketika Russel memang tidak ingin mengatakan sesuatu kepadaku. Aku bangkit. Membereskan semua peralatan berlatihku. Dan ketika aku akan meninggalkannya sendirian, Russel menyentuh lenganku dan berkata dengan pelan, “Maaf, sepertinya aku belum siap bercerita padamu tentang masalahku. Bukan berarti aku tidak mempercayaimu, Sherena. Tapi..”
Aku menepuk bahunya pelan, “Tidak apa-apa, Russel. Aku mengerti.” Aku tersenyum. Russel melepaskan sentuhannya di lenganku dan terlihat lega. Aku mengangguk, pergi meninggalkannya sendirian di tempat ini. Sepertinya dia butuh waktu untuk sendiri.
***
Aku menyiapkan segalanya sendirian. Tiap hari aku melatih kembali kempuanku menggunakan busur panah dan pedang. Aku juga menerima beberapa jenis pisau kecil yang diberikan Reven padaku. Herannya, itu jenis pisau yang biasanya digunakan para slayer untuk bertugas. Aku tidak bertanya lebih lanjut padanya karena aku sepertinya tahu darimana ini berasal.
Aku menghela nafas panjang ketika akhirnya aku menyelesaikan sesi latihanku sore ini. Setidaknya cuaca sedikit bersahabat dengan tidak menurunkan hujan beberapa hari ini. Meski kuakui, mendung yang selalu menggantung di langit di tempat ini membuatku agak murung. Aku lebih suka berlatih di bawah sinar terik matahari daripada ditemani semilir angina dingin yang sering membelai tengkukku dan membuatku menaikkan kerah pakaianku.
Anehnya, aku tidak juga menemukan Damis akhir-akhir ini. Padahal seharusnya dialah yang membantuku untuk meningkatkankan kemampuan hetaku. Dan Damis malah kabur tanpa pamit padaku.
Kulangkahkan kakiku dengan lelah memasuki kastil yang selalu sehening ini. Dulu, ketika pertama kali tinggal di tempat ini, aku tidak terlalu suka dengan suasana sepi dan menyeramkan kastil ini. Namun setelah lama tinggal disini, aku mulai terbiasa dengan suasana ini.
Aku memutuskan berbelok ke ruang makan sebelum mandi di ruanganku sendiri ketika perutku berbunyi. Ah, iya. Aku memang belum makan apapun sejak siang tadi. Sudahkah pernah kuceritakan bahwa aku kan selalu menemukan makanan dan minuman setiap kali masuk ke ruang makan ini. Aku memang tidak tahu siapa yang memasakkannya untukku. Namun kuakui makanan dan minuman disini jauh lebih enak daripada yang biasa tersaji di dapur khusus heta dan slayer di asramaku dulu.
Ketika kulangkahkan kakiku memasuki ruangan ini, aku menemukan Rosse tengah duduk di salah satu kursi tinggi di ruang makan ini, bercakap-cakap dengan Damis. Keduanya menoleh ke arahku ketika aku masuk. Aku memekik senang dan berlari kearah Rosse dan memeluknya.
“Rosse!!”
Dia tersenyum lebar, menepuk punggungku. “Halo Rena.” Sapanya.
Aku melepaskan pelukanku dan mnenyeret kursi di samping Rosse untuk duduk lebih dekat dengannya. “Aku merindukanmu.” Ungkapku jujur. Sepertinya sudah lama seklai sejak terakhir kali aku melihat Rosse berpamitan padaku akan pergi untuk menggantikan tugas Russel.
Alisku berkerut ketika aku menyadari Rosse terlihat jauh lebih kurus daripada sebelumnya. Ada lingkaran hitam terlihat di bawah matanya. Aku menyentuh lengan kanannya, ada bekas luka tergores yang lumayan dalam disana. Lukanya memerah dan kulit si sekitar uka itu nampak membiru. Dia tidak membebetnya dengan kain atau apapun dan malah membiarkannya terbuka seperti ini. “Rosse..”
Rosse menarik tangannya. “Tidak apa-apa, Rena.” katanya. “Bagaimana kabarmu?” Dia mengalihkan topik pembicaraan kami, seolah luka itu bukan apa-apa jika dibandingkan dengan menanyakan kabarku.
Aku memasang wajah protes. Mengalihkan pandanganku pada Damis yang ada di depan kami. Dia mengangkat bahunya. Dan begitu menangkap busur dan peralatan berlatihku, kedua matanya melebar. “Oh astaga, Rena. Maaf. Harusnya aku menemanimu berlatih beberapa hari ini. Tapi aku harus menjemput Rosse dan membawanya pulang kesini sebelum dia membuat seluruh tubuhnya penuh luka karena tebasan pedang perak dan cakar-cakar manusia serigala.”
Mengabaikan Damis, aku kembali memandang Rosse. Menuntut penjelasan. “Apa maksud Damis dengan ..” suaraku terhenti. “Rosse..” desisku menutup mulutku dengan kedua tanganku menyadari itu. Astaga, bagaimana aku bisa sebodoh ini tidak menyadarinya. Vampire punya kemampuan sendiri untuk menyembuhkan luka dalam tubuh mereka dengan sangat baik. Oleh karena itu jika ingin membunuh mereka, slayer atau heta harus menusuk tepat ke jantung mereka dengan sesuatu yang memiliki unsur perak di dalamnya. Sebab perak, adalah satu-satunya zat yang akan membuat tubuh vampire kehilangan kemampuannya untuk mengobati diri.
“Tidak apa-apa, Rena. Aku baik-baik saja. Damis hanya sedikit berlebihan dengan bicara seperti itu. Dia cuma terlalu mengkhawatirkanku.”  Papar Rosse sambil menyentuh pipiku. “Dan tentang luka ini..” Lanjutnya sambil mengangkat lengan kanannya, “..akan segera sembuh ketika aku meminta Venice untuk datang kemari dan mengobatiku. Tenang saja, Rena. Ini hanya luka kecil.”
Damis memicingkan matanya, “Kau bisa mati jika unsur perak itu kau biarkan terus menerus melukai tubuhmu, Rosse.”
Rosse menghembuskan nafas panjang, sepertinya dia tidak akan protes lagi pada kekhawatiran yang kami tunjukkan. Aku menyentuh lengan Rosse dan menatapnya dengan sayu. Aku sudah menganggap Rosse seperti ibuku sendiri ketika aku disini. Dia sangat baik dan begitu menyayangiku. Aku tidak akan mau dia terluka atau bahkan harus kehilangan dia hanya karena seseuatu seperti ini. “Kau harus menjaga dirimu dengan lebih baik, Rosse. Jangan terlalu memaksakan sesuatu yang bisa menyakitimu. Aku sangat terluka jika aku harus sampai kehilanganmu.” Bisikku jujur.
Mata Rosse berkaca-kaca, dia memelukku. “Oh Rena, maaf sudah membuatmu khawatir seperti ini. Aku sungguh-sungguh tidak menyangka akan mendapat respon seperti ini darimu.”
Aku menarik diri dari pelukan Rosse dan menatapnya, “Aku menyayangimu, Rosse. Kau harus tahu itu.” Ucapku memberengut.
“Kalian benar-benar membuatku iri sekarang. Apa tidak ada seseorangpun yang mau memelukku sekarang?” Damis merentangkan tangannya. Membuatku dan Rosse tertawa melihat tingkahnya.
“Oh ayolah, Rena. Kau seharusnya juga memelukku dan berkata kau menyayangiku seperti yang kau lakukan dengan Rosse.”
Aku masih tertawa, tidak mengacuhkan Damis yang seperti anak kecil dan malah mengambil minuman dan makanan sebelum kembali lagi duduk di samping Rosse.
“Sebenarnya apa yang kau lakukan di luar sana, Rosse?” tanyaku sambil menyuapkan satu sendok besar sup sayuran hangat ke mulutku.
“Sedikit menyelesaikan pekerjaan Russel di perbatasan selatan negeri manusia. Tapi sepertinya aku sedikit sial dan malah bertemu segerombolan manusia serigala yang agak sinting. Setelah membunuh mereka semua, pertarunganku itu rupanya mengundang perhatian slayer-slayer yang berjaga di sekitar situ.”
“Aku masih agak lelah, dan sudah dikepung lima slayer yang sepertinya cukup punya kemampuan yang baik dalam hal bertarung. Aku beruntung bisa melepaskan diri dari pertarungan yang lebih buruk lagi ketika Vogue mendadak muncul dan datang menolongku. Dia membawaku ke kelompok terdekat untuk sedikit mengobati lukaku. Keluarga Corbis sangat banyak membantu dalam memulihkan keadaanku. Sebelumnya luka-lukaku jauh lebih banyak dari ini.”
“Vogue? Bagaimana bisa dia mendadak ada disitu? Kelompoknya bukan berada dalam wilayah territorial itu.”
Rosse menggeleng, “Aku tidak tahu, Damis. Dia hanya mendadak muncul disana dan membantuku bertarung dengan lima slayer senior itu. Apa kau tidak bertemu dengannya ketika kau ada di kediaman Corbis untuk menjemputku?”
Damis menggeleng, “Aku hanya melihat Lyra dan Dev.”
Aku mendengarkan penjelasan Rosse dan percakapnya dengan Damis, aku sedikit bingung dengan beberapa alur cerita yang dikisahkan oleh Rosse. Aku memilih diam, mendengarkan dulu sambil menghabiskan makananku sebelum kembali bicara. Selain itu, aku juga baru ingat tentang Vogue. Dia, bukannya vampire menyebalkan yang dikenalkan Dev padaku sebelum pesta penyambutan calon ratu dilaksanakan.
“Bagaimana bisa ada segerombolan manusia serigala di perbatasan selatan negeri manusia, Rosse? Tempat itu biasanya steril dari makhluk-makhluk pemangsa?” tanyaku akhirnya setelah sup di hadapanku habis dengan cepat.
Rosse menoleh singkat kepadaku sebelum dia menggeleng, “Entahlah, akhir-akhir ini situasinya agak tidak bisa diprediksi. Kadang kau akan bisa menemukan vampire atau bahkan manusia serigala berjalan-jalan di tengah pemukiman para manusia tanpa terdeteksi sama sekali.”
“Apakah sihir pelindung di perbatasan tidak berguna?” tanyaku agak kesal. Bagaimana ini bisa terjadi? Vampire dan manusia serigala diantara para penduduk biasa. Ini gila? Apa yang dilakukan para penyihir pelindung? Dan para slayer yang biasa berjaga di perbatasan? Bagaimana bisa??
“Sihir pelindung negeri manusia sangat lemah, Rena. Aku bahkan heran dan sangat ingin tahu penyihir pelindung seperti apa yang dipekerjakan oleh kerajaan. Sihir itu harusnya sudah diperbaiki bertahun-tahun lalu ketika Dev dapat dengan sangat mudah menyusup ke dalam wilayah manusia. Masih ingat juga bagaimana Dev pun juga sangat gampang menyusup dalam organisasi se-elite slayerkan, Rena?”
Aku memaki pelan, “Harusnya Master sudah bisa menyadari ini dan tidak perlu sampai membahayakan penduduk biasa.”
Rosse mengangguk, “Selain itu banyak yang aneh disini. Entah kau menyadarinya atau tidak ketika kau masih menjadi Heta, Rena. Banyak perkampungan dimana manusianya sudah hidup berbaur dengan manusia serigala. Entah bagaimana bisa, apakah para manusia menyadarinya atau tidak.”
“Hidup berbaur?” suaraku meninggi.
“Tidakkah Reven sudah menceritakan tentang ini ketika kalian harusnya bertemu beberapa hari yang lalu?” Tanya Damis membuyarkan spekulasi-spekulasi buruk yang ada di kepalaku.
Aku menggeleng, “Reven tak bicara sebanyak itu. Dia hanya mengatakan sedikit kronologis luka yang dialami Lucia dan..”
“Dia juga tidak bercerita bahwa tugas pertamamu adalah menyusup di salah satu perkampungan itu?” Damis kembali bertanya dan memotong ceritaku.
Sekali lagi aku menggeleng, “Dia hanya mengatakan tentang waktu keberangkatanku dan bukannya tempat kemana aku akan pergi.”
“Dan kapan itu?” Tanya Rosse sedikit cemas.
“Besok.”
Damis bangkit dari duduknya, “Reven benar-benar keterlaluan.” Dia melesat pergi dari ruangan ini tanpa bicara apa-apa lagi padaku atau pada Rosse. Aku mengamati wajahnya yang terlihat marah sebelum pergi. Aku beralih memandang Rosse, “Apa ada yang salah, Rosse?”
Rosse menarik nafas panjang, “Harusnya Reven memberitahumu lebih banyak dari ini.”

***

“Kau harusnya memberitahu dia segalanya!!” Damis berteriak. Air mukanya jelas menunjukkan kemarahan. Matanya bersorot tajam, menangkap tubuh Reven yang terlihat begitu tenang. Sama sekali tidak terpengaruh dengan emosi Damis yang meninggi. Dia meneruskan membaca buku yang ada di tangannya hingga paragraf terakhir sebelum akhirnya dia menutup buku itu. Memandang Damis yang berdiri di depannya.
“Kenapa kau biarkan dia tidak tahu apa-apa tentang tugas yang akan dilakukannya? Kau harus mulai menyadari kalau Rena bukanlah Noura yang bisa semudah itu membaca situasi yang terjadi. Rena tidak tahu sebanyak Noura tentang semua masalah kita ini.”
Mata Reven menyipit, menatap Damis yang tengah melemparkan tubuhnya, duduk di kursi berlengan lain di depan Reven.
“Sherena bukan Noura?” Reven bergumam.
Damis mengangkat wajahnya. Menyadari perubahan ekspresi Reven. Dia menatap Reven dengan simpati dan amarahnya menguap begitu saja, “Kau harus belajar merelakan kematian Noura, Reven. Dan berhentilah berpikir Rena memiliki semua hal tentang Noura. Mereka berdua jelas dua pribadi yang berbeda. Meskipun Rena menjadi bagian kita karena jiwa Noura yang ada dalam tubuhnya, itu tidak mengubah apapun, Reven. Rena adalah Rena, dan kau tidak akan bisa mengubahnya menjadi Noura.”
Mata Reven semakin menyipit. “Aku tidak ingin mengubahnya menjadi Noura.” Tegasnya.
“Tidak sekarang tapi akan. Aku mengenalmu, Reven. Kita telah hidup bersama begitu lama. Aku tahu semua perubahan yang ada padamu. Sekali ini kumohon, hentikan semua itu.”
Reven bangkit, berjalan memandang ke jendela tinggi yang ada di perpustakaan ini. Dia memandang lurus keluar. Damis menghela nafas panjang, menyadari apa yang tengah berkecamuk di kepala Reven.
“Kumohon, Rev..”
“Sedetikpun aku tidak pernah berpikir bahwa perempuan itu punya kemiripan dengan Noura sebelum aku melihat semua ingatan Noura mengendap dalam darahnya. Tapi dia bahkan tidak menyadari semua itu.” Suara Reven mengambang.
“Ingatan Noura?”
Reven mengangguk tanpa menoleh ke belakang. Dia terus menatap lurus ke depan, matanya menerawang, “Semua ingatan Noura, kecuali pada bagian bagaimana dia bisa terbunuh.”
Damis menyandarkan tubuhnya ke belakang, memandang punggung Reven dengan frustasi. Dia tidak tahu harus bagaimana lagi agar Reven bisa melupakan segala sesuatu tentang Noura. Perasaan Reven pada Noura terlalu kuat dan kematian Noura merupakan pukulan terberat yang pernah dialami Reven. Damis masih ingat dengan jelas bagaimana berantakannya Reven melalui kehidupan awalnya tanpa Noura. Dia seperti kehilangan akal, mengabaikannya, Rosse bahkan Vlad. Dia tak peduli pada tanggung jawabnya pada klan. Ketika itu, yang terpenting bagi Reven hanya mencari tahu sebab kematian Noura dan membalas dendam.
“Rev.. Ini sudah cukup. Kau sudah melakukan semua yang terbaik yang bisa kau lakukan untuk mencari tahu penyebab kematian Noura. Hentikan semua ini.”
Reven berbalik, menatap Damis dengan bola matanya yang kini hitam kelam. “Tidak, Damis. Aku tidak akan berhenti sebelum menemukan siapa yang telah membunuh Noura.”
Damis bangkit dari duduknya, menatap langsung ke mata Reven yang kelam, baginya ini sudah cukup. Dia tidak akan mau melihat Reven menjadi seperti ini lagi.
“Berhentilah, Rev. Kau temukan pun, itu tak akan mengubah apapun tentang Noura. Noura akan tetap mati. Dia tidak akan hidup lagi. Kau harus ingat itu.”
“Tutup mulutmu!” Reven menerjang Damis dalam hitungan sepersekian detik. Matanya membulat merah, dia mencengkram kerah baju Damis dengan marah. “Berhenti bicara seperti itu tentang Noura atau aku akan..”
Suara Reven terhenti di tenggorokannya. Namun Damis justru mengangkat wajahnya lebih tinggi. Memandang Reven dengan nanar, merasa kasihan. “Atau kau akan apa, Rev? Hentikan apapun yang tengah kau rencanakan. Itu sia-sia. Sadarlah, Noura sudah pergi. Dia sudah mati.”
Reven merenggangkan cengkramannya pada kerah Damis, dadanya naik turun mengontrol emosinya. Dia memandang Damis, tegas. “Sia-sia atau tidak. Itu urusanku, dan bukan menjadi urusanmu. Camkan itu!” Dia melepaskan cengkramannya, mendorong tubuh Damis dan pergi begitu saja dari ruang perpustakaan ini. Meninggalkan Damis yang memandang tubuh Reven hingga tubuh Reven menghilang di balik pintu ruangan yang dia banting hingga mengeluarkan bunyi berdebum yang keras.
Damis menghela nafas, memandang iba. “Kapan kau mau membuka matamu pada kenyataan ini, Rev..”

Mau Baca Lainnya?

21 Comments

  1. yaps…. kayanya yang sekarang ngga ketinggalan 🙂
    ceritanya makin keren juga makin rumit 🙂
    banyak banget teka-teki yang nantinya nunggu buat di pecahin satu-satu..
    jujur ini unpredictable banget storynya
    kalau mau nebak-nebak juga susah
    heee..
    yang jelas cerita ini sangat detail dan pastinya seru…
    bakalan terus setia nunggu lanjutannya….
    Keep writing!

  2. Kaaaa keren bngtttttttttttttttttttttttttttttttt mudah"an rena milih revan! Suka bngt sama sifatnya reven yg dingin. Tapi juga benci karena reven msh inget terus sama noura.-.
    Keep writing yaaaaa 😀 next chap ditunggu lhoooo :p and banyakin dong momentnya reven sama rena :p

  3. Asyikk asyikk ga ketinggalan HV.
    Hehehe, semakin seru dan mendekati titik inti.
    Semoga bisa lancar menulisnya.
    Tetep baca HV dan komentar di blog ini ya..
    Keberadaan kalian yang menyukai HV sangat membuatku bersemangat menulis HV hingga selesai.

    Btw, follow blog-ku ya untuk info update postingan lebih cepat
    hihihi *promosi*

  4. Hwaaaaaa makasiiiiii banyak uda bilang HV keren *peluk*
    Semoga semoga, banyak yg udah request Rena sama Reven nih, tapi yah kita doakan saja ya.
    Sebab tetep Rena yg milih sendiri siapa pendampingnya. :p

  5. wiehiii baru sekali ini baca komentar yg bilang ga suka Reven. Kebanyakan sih malah demen. Hehehe.
    Btw makasii uda baca HV dan meninggalkan jejak dengan berkomentar disini.

  6. Akhirnya nih cerita keluar jg udh ditungguin lamaaaaaaaa banget nih thor 😀 *ampe lumutan nunggunya hihi*
    Ini panjang loh ceritanya, nanti klo ngepost lg kayak gini yak hihi tp bisa ga jadwal updatenya dicepetin kayaknya ga setiap minggu diupdate deh 🙁 penasaran soalnya thor 🙁
    Ceritanya makin ajibbbbbb banget (y) tp masih tetep yak Rena ama Revennya dikittttt banget -_-
    kapan lg Rena bisa sama Reven yak? *adegan romantis gt thor* wkwkwk
    Apalg siRena mau berangkat tugas kapan coba ketemu Revennya-_-
    Padahala setiap HV nh yg aku tunggu2 Reven sama Rena loh hahah
    Diupdate cepet yah thor *nyodorin coklat biar semangat* keep writing!!

  7. Bkn gk sk gimana nya cunan ngeselin bgt ak sangat berharap ratu pilih revan.. Tp revan t nyebelin bgt. Gk bisa baik dgn calon ratunya.. Kesal bgt..
    Yah.. Q sk baca crt mu.. Aku harap kamu cpt update yah..?? Jgn lama2 yah..

  8. Hahahha maaf karena membuatu menunggu cerita ini lama sekali.
    Tunggu yah, chapter-chapter yang akan datang (semoga) banyak adegan Rena sama Revennya ya.

  9. thor ,, cepet lanjutyah ,, aku udah gak sabar,,, baca lnjutannya,,
    jgn lamax yah lnjutannya ,,, makin penasaran ,, KEREN BGT,, T.O.P

Leave a Reply

Your email address will not be published.