Half Vampire – Kisah Masa Lampau

Reven memandang bulan yang bersinar redup, matanya menyipit dan udara malam yang dingin membelai tubuhnya. Jendela kamar Sherena terbuka lebar, menampilkan tubuhnya yang tegak memandang keluar, menerawang. Siapapun yang melihatnya akan tahu, bahwa entah apa yang dipikirkannya, fokusnya tak ada di tempat ini.

“Noura..” panggilnya lirih, “Haruskah kulakukan seperti apa yang kau mau.” Desahnya.

“..Maukah kau menerima siapapun yang akan mengantikan posisiku nantinya jika memang terjadi sesuatu yang buruk terhadapku?”

Wajah memohon Noura membayang di kepalanya dan Reven menggeleng pelan.

“Tapi aku tidak bisa, Noura. Kau tahu aku tidak akan pernah bisa melakukannya. Tidak akan pernah ada satu orangpun yang bisa menggantikan tempatmu. Tidak akan pernah ada.” Dia berbalik dan melihat tubuh Sherena yang meringkuk di atas tempat tidurnya. Sejak perempuan itu bisa tertidur, dia sudah melepaskan ikatan pada tangan dan kakinya. Lagipula apa memang yang bisa perempuan itu perbuat jika dia ada disini, menjaganya.

Menjaganya?

Apakah dia memang benar-benar berniat menjaganya? Tidakkah ini hanya karena perintah Vlad. Sekali lagi dia mendesah dan berjalan pelan, kembali ke tempat duduknya. Mengamati wajah tertidur Sherena.

Perempuan ini tidak tahu apa-apa. Sama sekali tidak tahu apa-apa mengenai takdir yang kini menghantuinya. Reven sudah mencari dan mengumpulkan sebanyak mungkin informasi mengenai Sherena. Tapi tidak ada satupun yang dia dapat sanggup menghubungkan benang merah antara Sherena dan Noura. Jika memang mereka berdua sama sekali tidak punya keterkaitan apa-apa, bagaimana bisa Noura, jiwa Noura, memilih perempuan ini dan menitipkan tanggung jawab beratnya kepada perempuan lemah ini?

Reven sama sekali tidak mengerti.

Sherena bergerak gelisah dalam tidurnya, Reven mengamati. Sampai akhirnya dia mengulurkan tangannya dengan ragu, mengusap lembut kepala Sherena hingga ketenangan kembali menghiasai wajah tidurnya. Reven menarik tangannya.

Apakah semua yang selama ini dilakukannya sudah benar?

***

“Sebenarnya apa yang kita cari di tempat ini?” keluh Ar dengan tidak sabar. Mereka sudah berjalan jauh sekali ke sebuah hutan yang sama sekali tidak dikenali Ar. Hutan yang sepertinya sama sekali tidak terjamah makhluk apapun. Dia tidak tahu mengapa Morgan membawanya ke tempat ini. Sudah berjam-jam sejak mereka mulai memasuki hutan dan tangan Ar sudah lelah membabat semua ranting, semak, rotan atau apapun yang menghalangi jalan mereka. Morgan juga sama sekali tidak membantu kecuali untuk terus mengatakan sebentar lagi, sudah dekat. Tapi nyatanya, Morgan sama sekali tidak menunjukkan tanda-tanda bahwa mereka akan berhenti.

“Sebentar Ar, kurasa kita sudah dekat.”

“Kau mengatakan itu sejak tiga jam lalu!” teriak Ar tidak sabar.

Morgan menoleh jengkel, “Kita memang sudah dekat. Lihat.” Katanya sambil menyingkirkan semak-semak lebat dari atas sebuah batu yang sangat besar. Ar memicingkan matanya, jadi mereka jauh-jauh kemari hanya untuk sebuah batu? Keningnya mengerut dalam.

“AP-?

“Tunggu aku lupa dimana tempatnya.” Morgan mengitari batu besar itu dan tersenyum lebar setelah dia berada di seberang Ar. “Minggirlah Arshel. Mundur agak jauh.” Teriaknya senang, dia menunduk dan menarik sesuatu diantara semak-semak berduri. Ar tak beranjak. Dia masih memandangi Morgan dengan marah. Dia tadi sudah akan protes keras dan Morgan sama sekali tidak mengindahkannya.

“Jika k-“ dia berhenti membentak ketika tubuhnya bergoyang. Tidak, bukan tubuhnya saja yang bergoyang. Tapi pepohonan di sekitarnya juga. Tanah ini bergerak.

“Mundur Arshel!!” teriak Morgan dengan bersemangat, dia berpegang pada sebuah pohon kecil tak jauh dari tempatnya semula. Ar membelalakkan matanya tidak percaya, tapi dia melompat cepat ke belakang tepat ketika batu besar itu bergeser ke arahnya.

Morgan berlari senang begitu getaran itu sudah selesai, “Noura benar.” Katanya antusias, melonggokkan kepalanya ke bawah tanah yang sebelumnya tertutupi oleh batu besar tersebut. Didorong rasa ingin tahunya, Ar mendekat dan melihat sebuah jalan masuk di bawah sana. Undakan batu yang ditumbuhi lumut-lumut dan jamur-jamur lebat yang menandakan bahwa tempat ini tidak dikunjungi dalam jangka waktu yang lama. Bau pengap menguar darisana, mengingatkan Ar pada bau gua tempat ayahnya tinggal. Hanya saja ini lebih parah. Ratusan kali lebih parah.

Dia memandang Morgan, “Apa kita akan turun kesana?”

“Tentu saja.” Sahut Morgan sambil berjalan pelan dan hati-hati, menuruni undakan batu yang licin. Ar masih memandang Morgan dengan ragu, “Kau tidak akan berdiri disana teruskan? Apa kau takut, Arshel? Bukankah kau slayer terhebat yang dimiliki oleh ras manusia.” Teriak Morgan dari bawah sana, suaranya bergaung dan Ar menghela nafas.

“Aku di belakangmu.” Jawabnya sambil bergerak turun, menyusul Morgan.

Mereka berdua bergerak lambat diantara kegelapan dan bau pengap lorong kecil ini. Semakin dalam mereka masuk, cahaya semakin menghilang hingga akhirnya kegelapan totallah yang menyelubungi keduanya.

“Arshel.” Panggil Morgan sambil merentangkan tangannya, meraba-raba, “Kau penyihir bukan, tidak bisakah kau menciptakan cahaya.”

“Aku lebih terbekati menjadi seorang slayer.” Cetus Ar di belakangnya yang nyaris saja menabrak tubuh Morgan, “Tapi jika cuma api, aku bisa melakukannya.” Beberapa detik kemudian, dua buah obor dengan api sedang sudah berada dalam genggaman tangan Ar. Dia memberikan satu obornya kepada Morgan.

“Tidak buruk.” Komentar Morgan sambil menerima obor itu.

Ar tak menanggapi, dan terus berjalan ke depan. Udara semakin menyesakkan dan sama sekali belum terlihat adanya akhir dari undakan batu ini. Dia bersabar dan menghemat tenaganya. Jika dia mengomel, rasanya percuma saja sebab Morgan juga tidak akan dapat melakukan apapun. Mereka terus berjalan menuruni undakan batu dalam diam.

Setengah jam hampir berlalu ketika akhirnya mereka tidak lagi melihat lorong kecil diantara mereka melainkan sebuah ruangan besar yang dibangun dengan dinding dan atap dari batu yang kokoh. Mereka masih berdiri mematung di ujung undakan batu.

”Tidakkah kau merasa ada sihir yang kuat yang menyelubungi tempat ini?”

Morgan mengangguk, “Meski aku tidak berurusan dekat dengan sihir-sihir, tapi aku bisa merasakan auranya. Membuat bulu-buluku meremang.” Dia menoleh kepada Ar yang terpaku menatap ke depan, “Apakah menurutmu akan aman kalau kita melangkahkan kaki kita kesana?”

“Entahlah.” Jawab Ar mengambang. “Aku belum pernah merasakan aura sihir seperti ini.”

Morgan menarik nafas panjang, “Kita tidak akan tahu apa yang terjadi kalau kita tidak mencoba bukan?”

Ar menatap Morgan dengan tidak percaya, “Kau tidak bisa mengambil keputusan dengan gegabah. Jika sesuatu terjadi dan kita tidak bisa keluar dari tempat ini. Aku akan membunuhmu.”

Morgan tertawa, “Aku akan jadi satu-satunya teman bicaramu disini dan kau malah ingin membunuhku.”

“Tanpa keraguan.” Sahut Ar dengan wajah serius.

“Kau bisa mempercayaiku, Arshel.” Morgan menepuk pundak Ar pelan, “Dan aku juga mempercayai Noura.” Lanjutnya pelan.

“Apa maksudmu?”

“Dia yang menceritakan tentang tempat ini kepadaku. Dia juga mengatakan bahwa dia sudah membereskan semua sihir pelindung yang ada di tempat ini. Menurutmu, apakah mungkin dia berbohong?” Morgan tersenyum, “Bagiku tidak.” Jawabnya sendiri. Dan dengan berkata begitu dia melangkahkan kakinya masuk ke dalam ruangan itu. Udara aneh berdesing di sekitar mereka dan mendadak, dari ujung ruangan muncul obor-obor kecil yang menempel mengelilingi dinding. Cahaya api memenuhi tempat ini dan ruangan menjadi seterang di luar sana.

Mereka berdua menunggu dalam keheningan yang mencekam. Menunggu apa saja yang mungkin akan terjadi setelahnya. Namun setelah jeda menegangkan yang lama, tidak ada tanda-tanda akan muncul sesuatu.

Morgan memutar tubuhnya, “Kurasa kita memang selalu bisa mempercayai Noura.”

Ar tersenyum dan dia melangkah mengikuti Morgan, menjejakkan kakiknya ke lantai batu di bawahnya. Dan sama seperti sebelumnya, tidak ada yang terjadi. Dia berjalan mengitari  ruangan dan dia sadar dia membeku. Sama seperti Morgan, keduanya terdiam menyadari bahwa ada satu benda yang menjadi pusat tempat ini.

Sebuah peti besar dari batu diletakkan tepat di tengah-tengah ruangan. Menjulang tinggi karena diletakkan di atas batu-batuan yang ditata rapi membentuk lantai lain yang lebih tinggi dari yang keduanya pijak. Ada empat undakan yang dibangun untuk mencapai tempat peti besar itu. Ar bisa melihat bahwa peti itu, dipahat dengan ukiran yang tidak dapat dia lihat dari jarak ini.

“Menurutmu itu apa?” suara Morgan memecah keheningan diantara mereka.

“Tidakkah Noura mengatakannya padamu.”

“Ya. Kurasa aku mengerti.” Dia maju, mendekat ke arah peti besar tersebut. Ar mengikutinya, dan setelah dia cukup dekat, dia bisa melihat pahatan yang menyerupai ukiran-ukiran cantik membentuk semacam sulur-sulur dan simbol yang tidak dimengertinya.

Dia menengadah dan melihat Morgan berjalan sangat perlahan menaiki empat undakan batu yang ada. “Kurasa dia ada di dalam sini.” Mata Morgan menatap lurus ke arah peti batu di depannya.

Kedua alis Ar menempel dan dahinya mengerut, “Dia?” tanyanya tak mengerti.

“Ya. Dia, Victoria Lynch, sumber dari semua masalah yang selama ini terjadi.”

***

Aku merasakan kesegaran yang berbeda menyambutku ketika aku membuka mataku. Tidak ada rasa sakit yang tersisa di tubuhku dan aku tidak pernah merasa sesehat ini sebelumnya. Aku bergerak, beringsut dari tidurku dan menyadari bahwa tangan dan kakiku bebas. Tidak ada lagi kain sialan seperti yang sebelumnya mengikatku dengan sangat erat.

“Selamat pagi, Sherena.”

Aku melonjak terkejut dan melihat Reven berdiri di dekat jendela ruang pribadiku. Dia menatapku, “Sudah merasa lebih baik?” tanyanya seolah dia peduli padaku. Aku memicingkan mataku tidak senang. Aku tidak suka melihatnya di dekatku. Memangnya kenapa dia bisa ada disini? Aku terdiam, baru menyadari kejadian yang sebelumnya menimpaku. Rasa panas dan sakit di tubuhku. Bukankah ketika di ruang makan, Revenlah yang menolongku? Aku menyentuh bibirku dan menyadari bahwa aku juga telah merasakan darahnya ketika aku kesakitan setengah mati semalam.

Astaga! Aku memandangnya tidak percaya. Dia banyak menolongku. Tapi aku menggeleng dengan kuat dan mengingat betapa kasarnya dia memperlalukanku beberapa hari yang lalu. Ciuman paksaan itu. Aku akan membunuhnya kalau dia melakukan itu lagi padaku.

Aku mengabaikannya dan turun dari tempat tidurku. Mencari air minum yang selalu tersedia di atas meja kecil di dekat tempat tidurku. Aku merasa kehausan dan kecewa melihat tidak ada minuman di atas meja kecil itu.

“Kau haus?”

Aku menoleh, Reven masih memandangiku. Aku mengangguk, “Rasanya tenggorokanku kering sekali.” Jawabku pelan, tanpa tenaga.

“Kau yakin air bisa menyembuhkan rasa hausmu?”

Reven memandangku dengan tatapan aneh, kedua tangannya bersedekap dan aku mengumpat pelan. Mengamati tanganku dan menyentuh wajahku dengan gelisah, “Ap-apa aku sudah menjadi vampir?” aku menanyakan pertanyaan bodoh dan benar-benar berharap dia menjawab tidak. Tapi Reven malah tersenyum tipis, penuh misteri.

“Aku dan Damis menunggumu di bawah. Bersiaplah.” Katanya sebelum meninggalkan ruang pribadiku. Meninggalkan suara pelan pintu yang tertutup. Sementara aku membatu di tempatku.

Apakah aku sudah bukan manusia lagi?

Aku menelan ludahku dengan sulit. Astaga, mimpi buruk apa ini.

***

Ini bukan mimpi buruk. Ini sama sekali bukan mimpi buruk karena sekarang aku berdiri disini. Di tepian hutan yang jauh dari kastil kami. Bersembunyi di balik lindungan pepohonan mengamati jalan besar yang berbatasan dengan hutan. Ujung jubahku berkibar pelan tertiup angin dan aku gugup setengah mati. Bukan. Ini bukan masalah gugup menghadapi kenyataan bahwa aku ini vampir atau bukan. Sial benar-benar sial. Aku tidak akan menanyakan hal itu lagi. Tidak akan.

Tidak. Karena aku sudah tahu jawabannya. Aku tahu karena aku merasakannya. Merasakan bagaimana rasanya hasratku meningkat begitu cepat dengan hanya mengamati kelompok-kelompok kecil manusia yang melewati jalan besar di depan kami. Ada sesuatu yang membuatku menelan ludahku berkali-kali hanya dengan melihat mereka.

Hidungku mencium aroma yang membuatku mencakar batang pohon di dekatku sampai menimbulkan bekas dalam disana. Aku tidak bisa menahan lebih lama lagi. Tubuhku bergetar dan aku sampai di puncak dimana aku tidak lagi bisa mengontrol diriku lagi. Tapi satu tangan mencegahku bergerak ke depan. Reven mencengkeram tanganku, sepertinya mengerti apa yang akan kulakukan, “Disini terlalu menarik perhatian.”

“Ap-?” aku tidak mengerti. Lalu jika disini terlalu menarik perhatian kenapa dia membawaku kesini. Menyiksaku saja. Aku menghentakkan tangannya agar melepaskan cengkeramannya, tapi dia malah semakin mengeratkan cengkeramannya, “Bersabarlah.” Katanya singkat.

“Kupikir Reven benar.” Damis menepuk pundakku, membuatku menoleh ke sisi lain dan menemukan dia tersenyum, “Cuaca terlalu panas dan matahari bisa menimbulkan bekas jelek di kulitmu yang cantik, Rena.” Bisiknya di telingaku. Aku merasakan hembusan nafasnya dan aku merasa geli. Menjauhkan wajahnya dari dekatku, “Apa kita bernafas?” aku menyentuh dadaku. Tidak merasakan sesuatu yang berdetak disana tapi seringkali, jika aku mau, aku bisa membuat jantungku berdetak.

“Jika kita mau.” Jawab Damis masih tersenyum, “Hanya agar kita merasa sama. Terkadang sangat menenangkan menyadari bahwa jantung dan paru-paru kita berfungsi seperti layaknya yang terjadi ketika kita masih menjadi manusia.”

Aku mengalihkan pandanganku dan menyadari sesuatu.

..seperti layaknya yang terjadi ketika kita masih menjadi manusia.

Dan sekarang aku bukan manusia. Bukan lagi setelah malam itu. Sekarang bukan jiwa Noura yang membuatku menjadi separuh vampir, tapi sesuatu dari jiwanya yang mengubahku menjadi vampir sepenuhnya. Jiwa yang sudah meninggalkan tubuhku, jiwa yang mengucapkan maaf dengan wajah setulus itu.

Noura..

Aku menyebut nama itu pelan dalam benakku. Seandainya aku bisa mengenal sosok itu secara langsung dan bertanya padanya, kenapa aku? Tapi sekarang, semua seandainya yang melekat di kepalaku sudah sia-sia saja kupertanyakan. Aku adalah aku. Entah sebagai manusia, entah sebagai vampir. Aku tahu Ar tidak akan berubah meskipun dia tahu aku vampir. Dev..juga tidak akan berubah meski dia tahu aku bukan lagi Renanya yang dulu.

Untuk Ar, untuk Dev, untuk ibu dan untuk semua orang yang berjuang untuk melindungiku dan menjagaku agar aku sampai di fase ini. Aku tidak akan pernah membuat apa yang sudah mereka lakukan dan korbankan untukku menjadi sia-sia. Aku akan terus hidup. Hidup sampai entah kapan dan aku akan baik-baik saja menjaga diriku. Dengan menjadi seperti ini, kurasa aku bisa menghargai kehidupan ini lebih baik dari sebelumnya.

Aku akan bertahan hidup, meski hidup yang terkutuk. Meski aku harus mengorbankan kehidupan orang lain. Darah manusia. Aku mengigit bibir bawahku dan merasakan hasrat berburu yang luar biasa itu memenuhi diriku. Cengkraman tangan Reven mengerat dan sepertinya dia menyadari apa yang kurasakan tapi tak mengatakan apapun.

***

Rasanya luar biasa. Ada kehidupan lain mengaliri tubuhku. Masuk melalui taringku. Ada kepuasan begitu hebat merasuk dalam jiwaku dan aku merasa penuh. Untuk pertama kalinya aku merasa begitu hidup. Aku memejamkan mataku menikmati sensasi tetes terakhir darah yang bisa kuhisap sebelum aku berdiri, meninggalkan tubuh tanpa darah setetes pun itu tergeletak seperti tak berguna di antara kegelapan hutan. Tidak ada keraguan. Tidak ada satu katapun terucap. Aku melakukannya, seolah naluri membimbingku. Seolah ini sudah sering kulakukan.

Aku menyeka sisa darah di mulutku dengan punggung tanganku. Berjalan pelan menuju dua sosok yang sedari tadi mengamatiku dari kejauhan. Aku bersyukur mereka berdua tidak mengatakan apa-apa dan hanya mengikutiku yang berjalan menjauh meninggalkan mangsa pertamaku.

***

“Sumber dari semua masalah yang selama ini terjadi?”

Morgan mengabaikan pertanyaan Ar dan malah sibuk mendorong penutup peti yang juga terbuat dari batu yang berat. “T-tidakkah kau mau membantuku daripada berdiri tidak berguna seperti itu?” ucap Morgan dengan susah payah sementara penutup peti itu sama sekali tidak bergerak meski dia sudah mendorongnya dengan sekuat tenaga.

“Kau manusia serigala bukan? Kurasa kekuatanmu saja seharusnya bisa membuat benda itu bergerak.” Tapi dia tertawa, melihat bagaimana Morgan berusaha keras mendorong penutup peti yang sesentipun tidak bergeser dari tempatnya semula, “Baiklah, kita harus melakukannya bersama-sama rupanya.” Dia melangkah menaiki udnakan batu. Berdiri di samping Morgan yang sudah nyaris kehilangan nafasnya.

“Kita dorong bersamaan dalam hitungan ketiga.” Ar mengintruksikan, Morgan mengangguk dan mereka berdua memposisikan dirinya.  “Satu, dua.. tiga!” mereka berdua mendorong dengan sekuat tenaga secara bersama-sama. Awalnya batu penutup peti itu tetap saja, sama sekali tak bergerak. Keduanya semakin keras mendorong. Nyaris putus asa ketika mereka terus berjuang dengan keras sementara penutup peti itu terus tak bergeming.

“Lihat.” Teriak Morgan dengan senang ketika dia melihat bahwa akhirnya penutup peti itu bergerak dengan sangat pelan. Ar mengangguk. Mereka berdua mendorong semakin kuat hingga sedikit demi sedikit penutup peti bergerak.

Keduanya mundur dengan terkejut ketika suara berdebum memekakkan terdengar begitu penutup peti itu terjatuh ke bawah. Tanah bergetar dan mereka khawatir atap batu di atas sana bisa rubuh. Keduanya terdiam lama hingga akhirnya getaran akibat jatuhnya batu penutup peti itu hilang. Mereka maju dengan sangat pelan. Debu-debu beterbangan mengaburkan pandangan mereka terhadap apapun yang ada di dalam peti.

Ar terbatuk-batuk hebat dan dia mengibas-ngibaskan tangannya dengan kesal. Sementara itu Morgan terdiam dengan kepala menunduk, menatap ke dalam peti. “Jadi apa yang kita dapatkan di dalam sana?” pertanyaan Ar sama sekali tidak membuatnya menoleh, dia mematung diam dan Ar melongokkan kepalanya dengan penasaran.

Sisa-sisa debu menghilang dan Ar bisa melihat dengan jelas apa yang ada di dalam sana. Kerangka manusia lengkap, memakai gaun model kuno yang meskipun terlihat usang, sama sekali tidak rusak, “Siapa dia?” tanyanya pada Morgan yang mengulurkan tangannya, menyentuh kerangka tangan manusia yang mengatup di atas tulang rusuknya.

“Victoria Lynch.” Suara pelan Morgan membuat Ar sadar bahwa siapapun sebenarnya manusia yang kerangkanya terbaring disini adalah orang yang penting, setidaknya bagi Morgan. Morgan masih menelusuri kerangka tersebut hingga akhirnya dia menyadari bahwa kerangka ini mengenggam sesuatu. Dia menarik benda itu perlahan.

“Kembalikan apapun itu, Morgan. Kita kemari bukan untuk menjarah makam.” Cetus Ar menyadarkan Morgan. Dia mengangguk, menuruti apa kata Ar dan mengembalikan benda itu kembali ke tempatnya. “Dan bisakah kau jelaskan siapa itu sebenarnya Victoria Lynch. Kau mengatakan nama itu berulang kali tapi tetap saja aku tidak tahu.”

Morgan menoleh, dia mengangguk, “Dia adalah kunci dari kenapa rasku, manusia serigala tak pernah akur dengan para vampir.” Dia berjalan mengitari peti itu dan Ar sama sekali tidak melepaskan pandangannya dari Morgan, “Dia adalah alasan kenapa Vlad tidak pernah mau melepaskan kami.”

“Ada apa sebenarnya?”

“Entah kau akan percaya cerita ini atau tidak, Arshel.” Dia menarik nafas panjang, “Ada sebuah cerita yang terus dikisahkan turun temurun oleh nenek moyangku. Dulu ketika kami masih merupakan satu bagian yang sangat kecil dari dunia ini, kami menjadi budak dari satu kelompok yang kekuatannya tak bisa diragukan lagi, sanggup menguasai dunia. Mereka adalah para vampir. Nenek moyangku menjadi budak mereka, menjadi pesuruh yang paling setia sebelum Vlad berpikir kami mengkhianati mereka dan dia mulai menghabisi kami satu persatu.”

“Kami hanya bisa berusaha untuk bertahan hidup dan melarikan diri darinya. Kami membangun kekuatan bukan untuk melawannya, karena kami tahu kami tidak akan pernah menang melawannya. Kami hanya tidak ingin musnah begitu saja. Kami tidak bersalah. Tidak ada pengkhianatan.”

Ar memperhatikan bahwa wajah Morgan mengeras, buku-buku jarinya mengepal, “Tapi Vlad tak pernah mau mendengarkan penjelasan kami dan kami semua terpaksa melawannya. Dia terdesak dan menyingkir. Sekuat apapun dia, dia sendirian ketika itu sedangkan kami sudah menjadi kelompok besar. Sebelum meninggalkan kami, dia berkata bahwa dia akan membalas semua yang terjadi. Dia akan membalas apa yang kami lakukan terhadap belahan jiwanya, Victoria.”

Tubuh Ar kaku, dia membelalakkan matanya tak percaya, “Tapi bukankah belahan jiwa Vlad adalah Rosse?”

“Aku tidak tahu siapa itu Rosse. Cerita ini sudah lama sekali, Arshel. Mungkin saja selama ribuan tahun selanjutnya dia sudah menggantikan Victoria dengan Rosse itu, tapi dendamnya kepada ras kami tak pernah berhenti meskipun tahun demi tahun berubah dan kami berganti generasi.”

“Apa yang kalian lakukan terhadapnya?” tangan Ar menyentuh tepian peti, menatap kerangka tersebut lekat-lekat.

Morgan menggeleng, “Kami tidak melakukan apapun, Ar. Nenek moyang kami sangat menghormati dan menghargai Vlad meskipun dia adalah pemimpin yang sangat kejam. Ini hanya salah paham. Aku bahkan tak tahu apa yang sesungguhnya terjadi sampai Noura datang dan mengisahkan semuanya padaku.”

“Aku tak pernah tahu bagian bahwa sesungguhnya Victoria tidak mati di tangan kami. Atau setidaknya, sesungguhnya Victoria tidak mati.” Mata hitam Morgan tajam menatap peti ini, giginya mengeretak, “Karena dialah Vlad mengira kami berkhianat. Karena dialah, pertarungan dan permusuhan tanpa akhir ini terjadi. Padahal bukan kami yang melakukan ini semua, melainkan para penyihir murni pada masa itu. Vlad punya terlalu banyak musuh karena sikap dan kekuasaannya. Dan dengan berada di tempat ini saja, kau akan tahu bahwa kami, para manusia serigala tidak akan mungkin bisa melakukan sihir pelindung yang meskipun sudah dimusnahkan tapi auranya masih terasa sekuat itu.”

Tanpa menanggapi, Ar membenarkan apa yang dikatakan Morgan. Manusia serigala bukan jenis makhluk yang bisa menghasilkan sihir. Dan sisa aura sihir yang sebelumnya dirasakannya di tempat itu memang bukan jenis sihir biasa. Itu jenis sihir kuno yang jelaslah sangat kuat. Mendadak satu pikiran terbersit di otaknya, “Bukankah kau bilang bahwa Nouralah yang sudah membereskan semua sihir pelindung yang ada di tempat ini, tapi seharusnya kau tahu bahwa vampir tidak akan pernah bisa mematahkan sihir pelindung jenis seperti ini. Mereka hanya memiliki sihir pemikat dan beberapa sihir remeh yang tidak akan sebanding dengan sihir kuno.” Matanya menatap Morgan, “Bagian mana yang kau tutupi dariku, Morgan?”

Morgan tertawa, “Aku tidak menutupi apapun dan aku berani bersumpah bahwa juga tidak ada kebohongan dalam setiap kata yang telah kuucapkan padamu. Noura memang melakukannya, meski tidak secara langsung. Dia dibantu..” dia membalas tatapan Arshel, “..oleh Akhtzan, ayahmu.”

“Tapi ayahku tidak bisa meninggalkan hutannya. Dia..menerima sebuah kutukan.”

“Apakah kau pikir dia datang kemari? Tentu saja tidak, seharusnya kau tahu bagaiamana cara kerjanya. Bukankah Akhtzan adalah pembuat amulet terhebat yang sayangnya tidak diketahui dunia.”

Ar menelan ludahnya dengan susah, “B-bagaimana kau tahu itu?”

“Seharusnya kau tanya bagaimana Noura tahu. Sebab aku sama sekali tak tahu apa-apa tentang ini. Dan tenang saja, aku sudah bersumpah pada Noura bahwa aku tidak akan mengatakan hal ini pada orang lain. Kau tentu pengecualian karena kau sudah tahu hal ini sejak awal.”

Ar mengangguk, kembali memandang ke arah kerangka di dalam peti. Pikirannya tidak disana. Dia menghela nafas dengan lelah, “Aku tidak tahu bagaimana Noura bisa tahu begitu banyak hal. Kurasa dia menghabiskan begitu banyak waktu untuk menyelidiki semua ini sendirian. Tidakkah kau berpikir bahwa dia terlalu ambisius.”

“Ya.” jawab Morgan pendek, lalu dia tersenyum, “Tapi aku bersyukur karena Noura seperti itu. Dia mengikuti hatinya lebih daripada siapapun yang pernah aku tahu. Dia mengikuti apa yang dia mau, apa yang dia ingin lakukan. Dan lebih dari itu, dia jujur pada setiap hal, dia tulus.”

Lalu keduanya tenggelam dalam pikiran mereka msing-masing. Menyadari bahwa mereka berdua terikat begitu dalam pada Noura. Dua orang dengan hati dan pikiran yang berbeda tapi sama-sama memuja orang yang sama. Orang yang telah lama meninggalkan dunia ini dan tak akan pernah kembali.

Morgan kembali menyentuh kerangka itu, “Kau benar-benar seorang keturunan penyihir murnikan, Arshel?” tanya Morgan mengalihkan fokus mereka dari pikiran tentang Noura.

Ar mengangkat wajahnya, tidak mengerti dengan pertanyaan Morgan. “Tentu saja. Akhtzan adalah ayah kandungku dan dia penyihir murni. Satu diantara yang paling hebat dan masih hidup di dunia ini.” Jawabnya jengkel.

“Baiklah-baiklah.” Morgan tersenyum, “Kalau begitu kau bisa memberikan setetes darahmu untuk Victoria agar dia bangkit dari tidurnya yang sangat panjang.”

“Apa??”

“Kita perlu membangunkannya agar dia bisa jadi penengah bagi semua masalah ini. Agar dia bisa mencegah Vlad melakukan hal yang sama kepada Sherena.”

Dahi Ar berkerut dalam, “Apa maksudmu? Ada apa dengan Sherena?”

“Semakin kau tidak banyak bertanya, semakin cepat kita bisa pergi dari sini untuk menyelamatkan Sherena. Satu tetes darah saja dan kutukan yang ada pada Victoria akan lenyap.”

Ar menelan ludahnya. Dia benar-benar tidak mengerti apa yang sedang terjadi atau apa yang sebenarnya menjadi tujuan Morgan. Dia menarik satu pisau pendeknya, mengiris telunjuknya dan darah menetes pelan dari sana. Dia mengangkat tangannya, satu tetes darah jatuh tepat di atas tempat yang dulunya adalah mulut kerangka ini. Begitu darah itu jatuh disana, seperti ada sesuatu yang menghisapnya dan darah itu lenyap begitu saja. Ar menarik tangannya dan segera menghentikan darah yang menetes di tangannya dengan mengusapkannya pada baju yang dia pakai.

Morgan mundur dan keduanya mengamati apa yang terjadi. Awalnya seperti tidak ada yang terjadi, namun perlahan. Sangat perlahan. Mereka bisa melihat bagaimana daging dan otot tumbuh di kerangka itu. Lalu proses itu menjadi semakin cepat, semua terbentuk, lengkap. Wujud sesosok perempuan dengan rambut kecoklatan yang panjang. Wajah yang cantik membingkai tengkorak tersebut, membentuk alis, bulu mata, hidung dan bibir yang benar-benar menggoda. Sosok ini terpejam dan Ar sadar dia menahan nafasnya menyaksikan apa yang terjadi hanya karena setetes darahnya.

Kerangka itu hidup kembali. Lengkap dengan semua atribut yang menjadikannya kembali seperti satu sosok manusia yang utuh. Dua telapak tangan yang menumpuk di depan dada dan disana Ar melihat, melihat dengan jelas bagaimana jari-jari itu bergerak sangat pelan. Tepat ketika mendadak mata itu terbuka, memperlihatkan bola mata berwarna semerah darah, baik Morgan maupun Ar sama-sama menahan nafas lebih lama dan jantung mereka berdetak sangat kencang.

Semoga apapun yang telah mereka lakukan sama sekali tidak salah.

<< Sebelumnya
Selanjutnya >>

Mau Baca Lainnya?

79 Comments

  1. Wooww woww wowww thorr please deh jangan bikin orang ketagihan baca ceritamu…. Sumpah tiap abis baca selalu penasaran .. Ah victoriaa…. Dia bakalan ngapain yaa? Reven kayaknya lg nyoba buka hatinya buat renaa deh. Oke fix penasaranya harus ditunda sampe 1 minggu lagi u,u

  2. hadehhh,,,, dipotong lagi,,, sumpah lah,,, crita ini bikin aku larut bgt,,, percaya gitu dunia vampire tuh ada,,, hahah,,, *ngarep…

    update nya tercepat ditunggu yah authorrr…

  3. hadehhh,,,, dipotong lagi,,, sumpah lah,,, crita ini bikin aku larut bgt,,, percaya gitu dunia vampire tuh ada,,, hahah,,, *ngarep…

    update nya tercepat ditunggu yah authorrr…

  4. Aku selalu percaya dunia seperti itu ada. Hanya saja mungkin kita tidak bisa ikut campur bahkan hanya untuk sekedar "merasakan". 😀

    Well, minggu depan ya chapter barunya 😛

  5. Degdegan bgt pas bgian trakhirnya.. eehh.. malah di Cut -_- *readers kecewa
    Haha 😀 just Kid..
    Bruntung bgt yak noura.. ada bgtu bnyak orang yg mencintainya.. Envy bgtt!!! >0<
    Big XOXO and too much suport for Author!!!
    TERUS SEMANGAT!!!!

  6. maaf baru sekarang bisa komen….
    jujur ni cerita bagus banget, pake sangat lagi. pokoknya ga kalah sama novel fiksi yg dulu sangat terkenal bahkan sampai sekarang.
    saya sangat berharap penulis tetap dalam keadaan sehat biar idenya mengalir terus dan ceritanya sering update jadi rasa penasaran yg semakin bertumpuk bisa terobati hehehe….
    baca cerita ini kaya masuk kelabirin, semakin lama semakin bingung tapi tetap penasaran mana jalan keluarnya, setiap chapter ada aja rahasia baru, yang bikin bertanya-tanya ada apa lagi ini? siapa dia? kenapa bisa kaya gitu? dari mana datangnya? pokoknya bikin penasaran banget.
    tetep semangat ya nulisnya……

  7. Aaaakkk.. makasiih makasiihh. Aku benar-benar merasa tersanjung 😛

    Amin. Amin. Terima kasih doanya untuk kesehatanku. Semoga setiap chapter yang kutulis bisa membuat para pembaca bahagia dan tidak mengecewakan.

    Semangat semangat..
    Seperti janjiku kepada yang lainnya, cerita ini akan memberi jawaban kepada setiap pertanyaan yang ada. 😀

  8. njirrr ini KEREN THOR KERENNNN AAAA
    GUE GASABAR BUAT BACA LG !!
    DUH .. MINGGU DEPAN YAA ..
    PENASARAN NIH

    btw , jadi ini ada sangkut paut nya sama Vlad ??
    trus .. si Victoria apa hubungannya thor ?

    ohyaa .. cepet" minggu depan .. cepet" rasa penasaran ilang wks

  9. wah ,, sebenarnya ada apa dengan sherin kk ,, kenapa dengan vlad?
    makin penasaran ,,, ?

    semoga ar & morgan dapat menyelamatkan sherin ,,
    next capt kk,, semangat , ,,,

  10. AAAAAAAAAAAAAA SAYA HISTERIS BACANYA KAK!
    Asiiikkk akhirnya reven jadi sering2 muncul^^ saya cinta deh sama reven udh dr awal dingindingin gemes gt ka.
    Selalu deh bersambungnya pas bag kepo:(
    Semangat deh ka!!!!! SEMANGKA!

  11. Kaaakk, buruan di upload dong chapter selanjutnya. Kepo nihh. Seru banget masaaaa-_-

  12. Waaa makin penasaran, apa yang akan terjadi selanjutnya setelah victoria bangkit?? Jadi Rosse itu ratu pengganti juga ya, kayak Sherena dong. Lanjuuuuut!!

  13. Great chapter thorr.. Wow ternyata victoria istri pertama vlad to.. Btw emang apa si yg bkl dilakuin vlad ke rena thor?? Penasaran bgt ni.. Lanjutnya ga pake lama ya thor.. Sudah penasaran abis.. Hihihi..

  14. Hahaha makasiih makasiiihh…
    Tunggu chapter selanjutnya minggu depan ya 😀

    Ada banget, Vlad punya peran penting disini meskipun dia jarang muncul.
    Dan tentang Victoria.. Rahasia 😛

  15. Astaga astagaa.. aku juga histeris baca komenmu. Hahahah 😛

    Iyahh, chapter-chapter selanjutnya milik Rena dan Reven..

    Semangatttt juga 😀

  16. Rosse penganti?? Entahlah, sepertinya sebutan pengganti, jika digunakan untuk kasus Rosse agak kurang tepat. Tapi.. yahh.. km bakal tahu kenapa alasannya nanti 😛

  17. Huaaa… apa itu?
    tegangnay baca bagian ini…
    deg-degan banget…
    berasa real aja gitu, ngalir kaya air 😀
    hadohh.. hadohh.. saya penasaran ini, bneran deh…

    segeralah obati penasaran ini, Kakak Author 🙂
    Keep writing!

  18. hai, kak.. aku new reader, your story reaaly interesing, kyaknya aku mulai mengerti letak permasalahan-nya, but I don't konw if true or false.. krna pusatnya ada di Noura, aku tau apa yg ia kerjakan slama ini..
    dan tentang Sherena apakah ia lupa dengan janji-nya pda maurette??
    waiting next chapter, kak..

  19. Jangan lama" lah ngapdet nya, penasaran kali nya ni aku… semangat ya, dan yang lain nya jangan di biarkan gantung juga cerita nya… nive to read in your blog dear… apdet nya yaaaaaaa…

  20. gilakkk….kak amoura, ceritamu makin keren aja! saya suka saya suka!! aaammaattt suukaa 😀 *lebay kumat… gue suka banget sama alurnya yang tak terduga… (kak, kutunggu kelanjutannya! gue fans setia lo walau badai katrina menghancurkan dunia perblogan. gue bakalan nyariin lo daun lontar pake nulis nih kitab vampir satu) *bisik-bisik keras. 😀

  21. Mengalirrr… aaakk berasa air 😛
    Mari terus menerus menjadi penasaran sampe aku upload chapter selanjutnya.

    Muahagahahah *evil laugh*

    Semangatttt!!!

  22. Halooo! 😀

    Well, segalanya memang lebih jelas sekarang. Sebab semakin menjelang pada ending. 😛

    Janji Sherena? Tidak, dia engga lupa kok. Di chapter ke depan atau mungkin yang selanjutnya, itu akan dibahas.

    Sippp.. mari menunggu 😛

  23. Astaga astaga… aku shock baca komen ini. Tapi bener-bener menyenangkan melihat bagaimana pembaca mengekspresikan perasaannya pada HV. Benar-benar menyenangkan. *peluk fans setia*

  24. huaaaaa tidak, sumpah kesel banget soalnya setiap kali mau komen pasti ga bias ke post dan akhirnya sekarang bias 😀
    sumpah, sumpah aku ga sabar nunggu kelanjutan ceritanya X_X huaaa huaaa tolong jangan bikin aku stress mendadak.

    GOD STORY cc :* di tunggu kelanjutannya :*:*:*:*

  25. Asyikkk bisa komen… 😀

    Hahahha maaf ya membuatmu sepenasaran ini. Tapi tenang saja, dalam beberapa hari ini new chapter HV sudah akan diupload kok. Jadi ditunggu saja ya. 🙂

    Semangaatttt !!

  26. Makin T.O.P deh story Half vampire ini,, semoga story ini bisa di cetak,, kan bagus tuh ceritanya,, author selalu semangat yaaa,,

  27. ternyata disini ceritanya lebih cepet update n lebih panjang dari watty, jarang buka ternyata ceritanya udah sejauh ini, dijadiin buku aja deh, aku mau ntar 😀

  28. mana new chapter-nya? hehe anw, naskahnya udah coba dikirim ke penerbit2 kak? jarang2 nih penulis indo nulis genre ini dan ceritanya keren banget!

  29. Iyahh, di blog memang lebih banyak dan lebih update drpada yang ada di watty.

    Wekk, pengen bgt HV dibukukan tapi aku tidak tahun apakah ada penerbit major yang mau mempublikasikan cerita ini -___-

  30. Sudahhh ada new chapter loh. Belum.. belum sempet buat ngedit yang bener-bener mulai dari awal, jadi pending dulu niatan mengirim cerita ini ke penerbit.
    Btw thanks yaaah.. 🙂

  31. Rena jd peminum darah,,, kasihan kan yg jd mangsanya,,,hehe
    Tmbh penasaran aj soal nya banyak pendatang baru…..

    Unni

Leave a Reply

Your email address will not be published.