Half Vampire – Lucia

Saat semangatku untuk menemui dan bicara dengan Reven berkobar demikian besarnya, aku malah tidak dapat menemuinya dimanapun di kastil ini. Aku bahkan juga baru menyadari kalau kastil ini bahkan lebih sepi dari biasanya, dalam artian kosong. Aku tidak melihat Damis, Russel atau siapa pun.
Aku berjalan menelusuri lorong di ruangan bawah tanah kastil yang hanya di sinari cahaya redup dari obor-obor yang menempel di dinding di setiap jarak beberapa meter. Aku tidak tahu bagaimana aku tiba-tiba malah sudah beada di tempat ini. Tapi entah kenapa ketika aku ingin berbalik dan kembali ke atas, kakiku justru membawaku berjalan terus ke depan.
Aku mendengar dentingan alunan piano ketika aku masuk makin ke dalam. Aku berjalan makin cepat mencari sumber suara tersebut. Aku melihat sebuah pintu yang separuh terbuka di ujung lorong ini. Dan saat aku makin mendekat, aku semakin yakin kalau suara tersebut memang berasal dari ruangan tersebut.

Aku mengintip, tapi tidak dapat melihat apa pun. Dengan didorong rasa ingin tahu yang meluap-luap akhirnya aku membiarkan separuh tubuhku memasuki ruangan ini untuk lebih jelas lagi melihat. Dan disana, duduk membelakangiku di depan sebuah piano tua yang klasik, seorang perempuan. Dapat ku lihat dari gaunnya dan rambutnya yang tergerai indah, nampak masih begitu menikmati suara alunan musik yang dihasilkan tuts-tuts piano yang di tekan jari jemarinya.
Aku sama sekali tidak tahu siapa dia, itu bukan Rosse. Aku yakin sekali.
Aku terjengat kaget menyadari musik itu tiba-tiba berhenti. Dan kini aku mendengar suara menyapaku dalam melodi yang tak kalah indah dari musik yang baru saja ku dengarkan. Aku menoleh dengan sangat terkejut, di belakangku. Aku menoleh bergantian ke arah belakangku dan ke arah piano itu bergantian.
Bagaimana mungkin perempuan itu bisa dengan begitu cepat ada di belakangku?
Kastil vampir.Bodohnya aku.
Dia tersenyum dan mulutku ternganga. Wajahnya seperti bentuk nyata pahatan yang sangat sempurna. Matanya yang berwarna coklat terang bersinar begitu hidup. Kulitnya yang putih sepucat mayat memendarkan kecantikan bulan purnama. Aku belum pernah melihat yang secantik ini. Bagaimana mungkin, aku yang sesama perempuan saja bisa bereaksi seperti ini melihat kecantikannya.
“Kau.. Sherena Audreistakan??” aku mengangguk, masih belum menyadari mulutku yang masih separuh terbuka.
“Masuklah.. tidak apa-apa.”ajaknya lembut
Dan begitu aku memasuki ruangan ini, aku melihat sosok lain yang membuat mataku melotot tak percaya menyadarinya ada disini. Reven duduk di sudut ruangan tak jauh dari piano yang tadi kulihat. Memegang sebuah buka yang terbuka, dan nampak masih membacanya. Dia sama sekali tak memandangku atau sekedar melirikku ketika aku benar-benar masuk ke ruanagan ini.
“Reven…”panggil perempuan itu, sangat lembut.
Aku melihat Reven menutup bukunya, dan baru memandang kami setelah itu.
Perempuan itu menyentuh tanganku dan membawaku mendekat ke arah Reven. “Kenapa tak mengajaknya kesini kalau tahu dia sendirian di kastil ini.” ucapnya dengan suara yang membuat pria mana pun pasti bertekuk lutut padanya. Tapi Reven memandang kami dengan ekspresi sedatar tembok. Menyebalkan, apa dia tidak normal.
“Apa kau mau aku mengajaknya kesini kalau begitu?” kata Reven dengan suara sama sekali tidak bersahabat. Yah seperti biasanya.
“Tentu saja, Rev. Jangan bersikap jahat seperti itu.” rajuk perempuan itu, lalu dia meoleh ke arahku. Mengangguk dan mengajakkku duduk di kursi lain di depan Reven.
“Aku Lucia.” Katanya memperkenalkan diri, tersenyum. “Aku banyak mendengar tentangmu..” dia melirik Reven yang memperhatikan kami tanpa bicara sedikit pun, “Tapi sejauh ini aku belum memiliki kesempatan untuk bertemu denganmu. Tidak menyangka kalau akhirnya malah kau sendiri yang datang ke tempat ini.”
Dia berhenti berbicara lalu menatap Reven dengan muka kesal yang di buat-buat, “Reven…”
“Apa yang kau ingin aku lakukan, Lucia?” Reven bicara dengan nada suara yang tak pernah kudengar sebelumnya. Itu bukan jenis suara yang biasa aku dengar, bahkan dia tidak bicara dengan Rosse atau Vlad dengan suara yang demikan bersahabat seperti itu. Apakah Reven dan perempuan bernama Lucia ini mempunyai hubungan yang khusus. Apa pula yang mereka lakukan berdua di ruangan bawah tanah yang begitu jauh dari mana-mana ini. Aku memandang mereka berdua bergantian.
“Ajaklah dia kemari sekali-kali waktu.” pinta Lucia yang hanya dijawab dengan anggukan Reven. Meskipun nampak berat aku cukup terkejut mengetahui Reven mengangguk.
“Kami hanya teman, Sherena.” Cetus Lucia membuatku lebih terkejut lagi. “Aku bisa membaca kegelisahanmu dari matamu. Aku bisa membaca perasaanmu melalui matamu, Sherena.” Ucapnya menjawab keterkejutanku.
“A-aaku…” gagapku, lalu cepat-cepat membuang pandanganku menghindari tatapannya. Aku mengerutu dalam hatiku, bagaimana mungkin aku lupa kalau vampir mungkin saja memiliki kemampuan-kemampuan khusus yang normalnya tidak ada.
“Jangan membuatnya terlihat bodoh seperti itu, Lucia.”
Aku melirik Reven dengan kesal, menyadari nada suaranya yang kembali dingin seperti biasanya.
“Maafkan aku, aku tidak bermaksud membuatmu merasa seperti itu.”
“Tidak apa-apa. Aku baik-baik saja.” jawabku setengah hati. Aku benar-benar merasa tidak nyaman dengan keadaan ini.
Reven bangkit memandang ke arah kami tapi aku cukup yakin kalau dia sebenarnya hanya memandang Lucia, “Kalian lanjutkan saja berdua, aku ada urusan lain yang harus kukerjakan.”
“Rev..”
“Lucia.” potong Reven dengan tatapan yang mengisyaratkan bahwa dia tidak ingin di bantah. Lalu ketika tidak ada lagi suara yang terdengar,  Reven berjalan pergi meninggalkanku berdua dengan Lucia.
“Well..” ucap Lucia membuatku menoleh ke arahnya, “Aku sungguh-sungguh senang bisa berbicara denganmu, Sherena. Sudah lama aku ingin berjumpa dengan pengganti Noura..” ucapnya lembut tapi terasa kurang begitu enak kudengar. Pengganti Noura? Aku tidak suka mendengar itu. “…tapi entah kenapa Reven terus mengulur-ulur waktu ketika aku memintanya mengantarku menemuimu.”
Aku menatap Lucia, “Apa kau sangat dekat dengan Reven?” aku langsung membungkam mulutku begitu menyadari apa yang baru saja ku ucapkan. Aku tidak tahu bagaimana tiba-tiba menanyakan hal seperti itu.
Lucia tersenyum, tapi kurasa bukan senyum bersahabat yang tadi diperlihatkannya ketika kami masih bersama Reven. Aku merasa janggal.
“Ya.” jawabnya mengambang.
Lucia berdiri dan meninggalkanku duduk sendirian di kursi ini sementara dia kembali duduk di depan pianonya. Jemarinya yang putih memucat kembali menyentuh tutstuts piano itu dan menari lembut di atasnya. Aku mendengar irama yang sangat indah. Pelan tapi melodi ini melodi yang mungkin tidak akan suka didengar oleh orang lain. Irama yang tidak bersahabat tapi indah. Tajam dan sinis. Aku tidak tahu bagaimana harus menggambarkan suara yang ku dengar ini tapi aku benar-benar akan memilih mendengarkan melodi lain yang membuatku terkantukkantuk daripada melodi yang membuat bulu kudukku meremang.
Aku melihat mata Lucia menutup, menikmati setiap gerakan tangannya di atas piano. “Kamu tau Sherena..” kataya tiba-tiba tanpa menghentikan permainan pianonya. Dia seperti bicara dengan dirinya sendiri.
“Menurutku kau tidak seperti yang kubayangkan. Kau sama sekali tidak layak menggantikan Noura. Kurasa terjadi kesalahan disini. Seharusnya AKU yang lebih pantas berada di tempat yang kau tempati sekarang. Melodi itu terhenti mendadak dan sepasang bola mata yang berpendar jahat menatapku penuh kebencian.
Aku mendadak takut dan terbelalak tak percaya mendengar keterusterangan yang baru saja dilontarkan Lucia. Padahal baru saja dia nampak bersikap sangat manis dan bersahabat denganku. Seperti kawan lama.
“A-apa maksudmu?”
Dia kembali pada melodi itu dan sama sekali tidak merasa terganggu dengan apa yang baru saja dikatakannya. “Aku yang pantas menjadi pengganti calon ratu. Dan menjadi ratu klan ini. Kuterima kenyataan dulu ketika Noura mendapati takdirnya sebagai calon ratu. Aku menerima itu tanpa perasaan keberatan sedikit pun karena Noura memang pantas. Karena Noura memang memiliki semua yang memang seharusnya dimiliki calon ratu.”
“Dia sangat sempurna..” aku mendengar suaranya penuh kesedihan dan aku tahu Lucia tidak berbohong ketika mengucapkan itu. Siapa pun akan menyadari ketulusan ucapannya barusan tapi semua itu mengangguku. Aku tahu dengan jelas sekarang. Lucia TIDAK MENYUKAIKU sebagai seorang pengganti calon ratu. Tidak sebagai pengganti Noura.
Sementara kau.. hanya omong kosong. Kesia-siaan belaka berharap kau calon ratu seperti Noura. Kau bahkan bukan seperti KAMI sepenuhnya.”
Aku mengerti jalan pembicaraan ini. Keadaanku yang Cuma half vampire jelas tidak baik dan aku tahu itu.
“Pergilah dari sini.” katanya tegas.
Aku benar-benar tak mampu menanggapinya sedikit pun. Aku langsung berdiri dan berjalan ke arah pintu. Sama sekali tak punya keberanian untuk menatap ekspresi seperti apa yang kini muncul di wajah cantik Lucia.
“Dan untuk Reven. Sangat tak mungkin bagimu menaklukkan hatinya. Dia.. membencimu.”
Langkahku terhenti tapi aku tak berbalik, hanya sebentar sebelum aku kembali berjalan dengan perasaan tak menentu saat keluar dari tempat ini.
 
Aku teus menerus memikirkan apa yang telah dikatakan Lucia, entah kenapa semua yang dia katakan membuatku tidak tenang. Terutama kalimat terakhir yang diucapkannya padaku. Semua itu mengusik ketenanganku. Aku sadar itu membuatku menjadi pemurung dan sangat diam akhir-akhir ini.
“Rena.
Aku menoleh ketika mendengar seseorang memanggil namaku. Aku mendapati Damis berjalan mendekat ke tempat aku duduk sekarang. Kursi tua di balkon lantai dua yang dulu ditunjukkan Damis padaku. Aku nyaman berada di tempat ini, penuh tanaman hijau dan entahlah.. aku hanya merasa nyaman saja.
Aku tersenyum tapi sepertinya gagal ketika mendengarnya berkata,Ada apa?” dengan suara yang penuh kekhawatiran.
Aku menggeleng. “Tidak apa-apa Damis.”
Apanya yang tidak apa-apa. Kau nampak berbeda beberapa hari terakhir ini, dan bukan hanya aku yang beranggapan seperti itu. Rosse bahkan memintaku menanyaimu, kenapa dan ada apa denganmu.”
“Jadi Rosse yang memintamu mendatangi dan menanyaiku seperti ini?”
“Tidak.” jawab Damis cepat. “Aku mengkhawatirkanmu.”
Aku terharu mendengarnya jujur begitu. “Terima kasih.”
Sama-sama. Tapi bukan ucapan terima kasih yang ingin kudengar darimu,Rena.”
Aku menarik nafas panjang dan tahu kalau Damis tidak akan berhenti berusaha agar aku jujur padanya. “Tidak apa-apa. Aku hanya sedang merindukan rumah.” kataku berbohong.
Mata Damis mengamati dan meneliti kejujuran pada apa yang baru saja kuucapkan, “Sungguh?”
Aku mengangguk, “Aku merindukan rumahku.
“Rumah di pedesaan itu?”
Mataku menyipit. Kurasa aku belum pernah menceritakan apa pun tentang masa laluku pada siapa pun disini. Selama ini peranku hanya sebagai pendengar yang baik. “Kami mencari semua informasi tentang calon ratu kami,Rena.” jelasnya menyadari kebingunganku. “Maaf jika mungkin itu menganggumu.” tambahnya melihatku yang sepertinya tidak merespon ucapannya barusan.
“Tidak apa-apa, aku mengerti.”
“Rena..” aku memandang Damis, “Kalau kau begitu merindukan tempat itu, mungkin aku bisa mengantarmu mengunjungi rumah itu.”
Aku melotot tidak percaya, aku hanya tidak sengaja mengarang alasan seperti itu tadi dan sekarang. Ini tidak adil. Aku justru mendapat hadiah untuk ketidakjujuranku. Tapi aku benar-benar sangat senang mendengar itu.
“Rena??”
“Terima kasih Damis.” jeritku tiba-tiba dan langsung memeluknya. Aku tidak tahu, mungkin ini adalah reaksi spontanku yang sedikit terlambat. Tapi jujur saja, aku sungguh sungguh berterima kasih pada Damis.
“Terima kasih.” ulangku sambil melepaskan pelukannku,
Damis nampak tersenyum, senyum yang sepertinya berbeda daripada senyumnya yang biasanya, tapi aku tidak mau ambil pusing. Aku sedang sangat senang sekarang.
“Melihatmu bahagia seperti itu sungguh menyenangkan.”
Aku mengangkat kedua alisku, “Sungguh Rena, kau nampak lebih cantik jika bahagia seperti itu.”
Aku tertawa, “Kau tahu tentang Lucia?” Entah kenapa aku ingin membalas kebaikan Damis dengan sedikit bicaara jujur dengannya.
“Lucia?”
Aku mengangguk
“Siapa yang bercerita tentang Lucia padamu? Apa Russel?”
Aku menatap Damis tidak mengerti “Bercerita tentang Lucia? Russel? Tidak. Bukan. Aku hanya bertemu dengan Lucia beberapa hari yang lalu.”
“Dia sudah kembali?”
Aku makin tidak mengerti dengan apa yang dimaksud oleh Damis.
“Dimana kau bertemu dengannya Rena?”
Aku pun menceritakan pertemuanku dengan Lucia, tentu saja kecuali tentang apa yang dikatakan Lucia. Aku tidak ingin nampak seperti pengadu di matanya. “Seharusnya Reven bercerita kalau Lucia sudah kembali. Russel akan senang mendengar ini.”
“Apa hubungannya Russel dengan Lucia?”
Damis tersenyum, “Lucia adalah calon pengantin yang dipilih oleh Russel”
Apa??” Aku tidak percaya dengan apa yang baru saja ku dengar. Calon Pengantin yang dipilih oleh Russel??  Tapi jelas-jelas sikap yang ditunjukan Lucia kemarin menyatakan kalau dia sangat menyukai Reven dan ingin menjadi calon ratu sekaligus pendamping Reven. Lalu bagaimana mungkin dia menginginkan tempat sebagai calon ratu jika dia sudah menjadi pengantin vampir lain yang bukan pewaris Vlad. Ini gila. Pengantin adalah sebutan untuk  pasangan seumur hidup vampir laki-laki. Bagaimana mungkin, Lucia??
Ada apa, Rena?”
Aku menggeleng cepat, “Tidak. Tidak apa-apa.”
“Lucia sudah lama pergi jauh, dan aku tahu dengan jelas kalau Russel sangat merindukannya. Dia berulang kali ingin menyusul dan mencarinya tapi tugas-tugas yang diberikan Vlad padanya membuatnya tidak bisa begitu saja pergi jauh dari dataran utara ini.”
“Mereka saling mencintai?”
Damis menatapku dengan aneh, “Tentu saja, mana mungkin Russel memilih pengantin yang tidak mencintainya. Mereka saling mencintai. Tapi Lucia tipe yang tidak bisa dikontrol dan senang melakukan apa yang memang dia mau lakukan. Nyaris mirip Noura.” papar Damis. Tapi aku mengabaikannya. Aku hanya tak habis pikir. Bagaimana bisa? Lucia jelas berbohong disini Bagaimana mungkin dia melakukan ini dengan orang sebaik Russel. Ini jelas tidak boleh dibiarkan.
 ——————————————————————————————-
 
Aku memakai bajuku dengan sangat bersemangat dan langsung keluar dari kamarku begitu aku selesai menata rambutku. Bagaimana aku tidak sagat bersemangat jika  hari ini aku dan Damis akanmengunjungi rumahku. Meskipun aku tau tak akan  ada yang menyambutku disana tapi  aku merasa sangat senang. Di ruang makan aku hanya melihat Rosse dan Damis yang duduk dengan  tenang sambil bercakap-cakap entah tentang apa aku tak tahu.
Selamat pagi.” Sapaku riang
Rosse dan Damis menjawab bersamaan sambil tersenyum, aku langsung menyantap menu makan pagiku dan membiarkan mereka melanjutkan obrolannya.
“Rena, kau kelihatan bersemangat sekali ini? Apa karena kunjunganmu ke rumahmu hari ini?” tanya Rosse begitu aku menyelesaikan makan pagiku.
Aku mengangguk cepat. “Ya tentu saja. Aku merindukan rumah, Rosse. Ya, tapi jujur saja aku juga mulai merasa nyaman di tempat ini. Kastil ini sudah seperti rumah, ditambah lagi kehadiranmu, Damis dan Russel. Aku seperti mempunyai keluarga lagi.” ucapku buru-buru menambahkan takut membuat Rosse beranggapan kalau aku tidak merasa senangi disini.
“Rena.. tentang kunjungan itu…” Damis nampak ragu-ragu untuk bicara  dan aku mendapat firasat buruk tentang hal ini.
“Tidak akan dibatalkan bukan?” potongku cepat.
Oh tidak, tentu saja tidak Rena sayang.” jawab Rosse segera, “Hanya saja Damis tidak bisa mengantarmu pergi kesana.”
“Maafkan aku, tapi mendadak Reven memintaku melakukan sesuatu yang tidak dapat dilakukan oleh vampir lain. Jadi mau tak mau aku harus melakukannya.
Aku menghembuskan nafas lega, ”Tidak apa-apa Damis, aku hanya takut acara ini dibatalkan.”
Rosse tertawa kecil, ”Kami tidakkan mengecewakanmu Rena.”
“Lalu siapa yang akan menemaniku kesana?”
“Kami.”
Terdengar suara yang membuatku sangat terkejut dan lebih terkejut lagi melihat siapa yang berdiri di pintu dan  berjalan pelan ke arah kami
“Deverend dan Lyra yang akan menemanimu Rena.”
Aku terpaku pada sosok di belakang Lyra yang ikut berjalan mendekat ke arah kami. Dev. Ini pertama kalinya aku kembali lagi bertemu dengan Dev sejak insiden itu. Dev jelas sekali berusaha untuk tidak menatapku. Wajahnya juga demikian datar sampai-sampai aku berpikir dia menjadi seperti seseorang yang sama sekali tidak mengenalku.
“Kalian?”
Lyra mengangguk menatapku, “Yah kami, ada masalah?
Aku menatap Damis meminta penjelasan, tapi dia hanya menatapku. Mengangguk dan seperti memaksakan senyumnya. “Apa kita bisa berangkat sekarang?” tanya Lyra lagi.
“Aku ingin mengambil sesuatu di kamar. Tunggu sebentar.” Kataku sambil langsung meninggalkan ruangan ini.
Sepanjang perjalanan menuju kamar, aku terus brpikir kenapa Rosse dan Damis justru meminta mereka berdua untuk menemani mengunjungi rumah. Kalau Lyra saja, mungkin aku masih bisa terima, tapi Dev. Oh astaga! Apa mereka ingin mengujiku. Apa mereka tidak mempercayai dan ingin tahu sejauh mana usahaku melupakannya. Tidak. Mereka keterlaluan kalau memang seperti itu adanya.
Aku memasukkan semua barang-barang yang sepertinya kuperlukan ke dalam tas sambil terus memikirkan semua kemungkinan-kemungkinan yang ada.
“Rena..”
Aku tidak menoleh meskipun aku tahu itu suara siapa. Aku tiba-tiba merasa kesal.
“Rena..”
Aku akhirnya menoleh, memasang muka paling tidak bersahabat yang bisa ku tampilkan saat ini, “Ada apa?”
“Aku bisa jelaskan soal Dev dan Lyra.”
Aku berhenti melakukan apapun yang saat ini sedang ku lakukan. “Apa kalian ingin mengujiku dengan meminta Dev yang mengantarku. Kalian tidak mempercayaiku kalau begitu. Itu membuatku kecewa, Damis.”
Damis memandangku dengan wajah yang menurutku seharusnya bisa menyejukkan hati tapi entah kenapa aku tetap ingin mempertahankan wajah tidak bersahabatku. “Rena, dengarkan aku. Aku dan Rosse bukannya ingin mengujimu atau bukannya kami tidak mempercayaimu. Kami justru mempercayaimu, oleh karena itu kami meminta Dev yang mengantarmu. Kami sangat mempercayaimu, Rena. Bagiku utamanya, jika aku tidak mempercayaimu. Jangankan meminta Dev mengantarmu ke rumahmu. Sedikitpun tidak akan ku izinkan Dev mendekati tempat ini. Karena aku tidak akan rela dia kembali membuatmu terpesona.”
Aku menatap Damis tanpa kedip.

Mau Baca Lainnya?

3 Comments

Leave a Reply

Your email address will not be published.