Half Vampire – Maurette

Hello semuanya.. karena aku sedang bahagia aku akan posting chapter baru hari ini. Semoga kalian semua menyukainya. Tinggalkan komen sebagai jejak dan kalau bisa, share cerita ini juga ya. 😛
*peluk all readers*
-amouraXexa-

***

“Jadi apa yang sesungguhnya terjadi ketika itu?” Reven berusaha menjaga suaranya agar tidak terdengar marah, ditatapnya Vlad yang sepertinya tidak memperdulikan apa yang telah dikatakannya. “Apa Noura memang sedang dalam tugas? Jika tidak kenapa dia bisa ada disitu?” Reven tidak mau menyerah.
Vlad mengangkat sedikit wajahnya, menatap Reven dalam kegelapan temaram ruang pribadinya. “Aku tidak tahu apa-apa.” Suaranya tenang, tanpa tekanan apapun.”Kau harusnya sudah tahu bagaimana sifat Noura yang keras kepala dan obsesinya tentang memperbaiki hubungan kita dengan para manusia serigala. Tidakkah kau lihat benang merahnya? Noura bertindak sendiri dalam masalah ini.”
Reven membalas tatapan Vlad, memikirkan apa yang dikatakan Vlad. Semua itu ada benarnya. Dia tahu tentang obsesi gila Noura yang satu itu. Noura bahkan pernah mendapatkan hukuman karena hal tersebut, vampir mana yang berpikir untuk memperbaiki hubungan antara vampir dan manusia serigala? Cuma Noura yang berpikir seperti itu, dan itulah kebodohan serta kesalahan terbesarnya. Dalam benak Reven masih kuat terpatri kemungkinan besar bahwa kematian Noura berhubungan dengan manusia serigala.
“Aku mengerti.” Reven bangkit dari duduknya, tanpa bicara apa-apa lagi, dia melesat keluar dari dalam ruangan pribadi Vlad. Jika dia tak mendapatkan apa-apa dari Vlad maka dia harus mencarinya dari orang lain. Orang yang dekat dengan Noura, Sahabatnya. Reven tahu kemana harus mencari. Dia berlari keluar dari kastil dengan sangat cepat menuju ke timur, tempat tinggal kelompok Noura dulu.
***
“Reven?” James memandang terkejut sosok Reven yang berdiri basah kuyup di depan kediamannya. Dibukanya pintu kayu itu lebar-lebar, “Masuklah.” Katanya. Reven melangkah masuk, duduk di salah satu kursi berlengan yang paling dekat dengannya. James juga mengambil tempat di kursi berlengan lain di depan Reven.
“Kau bisa berganti pakaian dulu jika kau mau.” Tawar James setelah melihat keadaan Reven.
Reven menggeleng, “Tidak perlu. Aku tidak akan merasa kedinginan.”
“Ah ya, kita berdarah dingin.” James tertawa kecil, “Jadi apa yang sekarang membawamu kemari kau setelah sekian lama kau tidak pernah datang kesini lagi? Apakah ada tugas untuk kelompokku?” matanya menatap Reven, penuh selidik.
“Aku mencari Maurette.”
“Maurette? Ada apa?”
“Aku perlu bertanya sesuatu dengannya.”
James merangkum jari-jarinya dalam satu genggaman, memandang Reven dengan tatapan menyesal, “Sayangnya Maurette sedang tidak ada disini.”
Reven menatap James, keningnya berkerut dengan tidak senang, “Tidak disini? Lalu dimana dia sekarang? Setahuku tak satupun dari anggota kelompokmu yang sedang dalam tugas.”
“Entahlah, terakhir dia berkata padaku bahwa dia ingin melakukan sesuatu sesuai dengan permintaan terakhir Noura yang sempat dikatakannya kepada Maurette sebelum dia menghilang dan ditemukan meninggal. Setelah menjelaskan itu, Maurette pergi bersama Lucius yang berkeras menemaninya.”
Mata Reven memicing, kedua alisnya saling bertemu, “Permintaan terakhir?”
James mengangguk, “Aku juga tidak tahu tentang hal itu sampai Maurette mengatakannya kepadaku. Aku tidak bisa melarang Maurette pergi kemana pun itu tujuannya, sebab aku tahu dia akan mengabaikanku. Segala yang menyangkut tentang Noura sangat sensitif baginya. Sedikit banyak aku paham perasaan Maurette, dia sangat dekat dengan Noura jauh sebelum kau mengenal Noura. Mereka bersahabat.”
“Apa kau benar-benar tidak tahu kemana dia pergi? Setidaknya apapun informasi yang mungkin bisa mengarah ke tempat tujuannya?”
Kepala James menggeleng pelan, “Maafkan aku, Rev. Aku benar-benar tidak tahu.”
“Anggota kelompok lain?”
“Kau bisa menanyai mereka jika kau mau.”
Reven bangkit, “Mereka semua dimana?”
James ikut bangkit, “Mari, biar kuantarkan kau kesana.”
Reven mengangguk kecil, mengikuti James. Sebenarnya Reven tahu dimana semua kelompok ini selalu berkumpul. Sebuah ruangan hangat yang penuh bantal di atas hamparan karpet tebal mewah yang indah. Berada di ujung koridor atas lantai dua. Dulu, Noura sering membawanya kesana untuk berkumpul dengan semua anggota kelompoknya. Hanya saja dia menghormati James, jadi lebih baik dia membiarkan James mengantarnya. Dalam langkahnya, kepala Reven penuh dengan spekulasi-spekulasi tentang ini semua. Noura. Noura. Berkali-kali dirapalkannya nama itu dalam benaknya. Ini semua demi Noura. Demi Noura.
***
Aku melalui hari-hariku dalam kelompok Morgan dengan sangat baik dan menyenangkan. Semua orang menerimaku, seakan-akan aku memang bagian dari kelompok ini sejak awal. Sepertinya ini efek dari perkataan Morgan ketika itu. Mau tak mau aku jadi sangat berterima kasih padanya. Aku juga punya banyak sahabat disini. Ada Danial, sosok lembut yang punya sifat seperti seorang peri pelindung, ada Rupert yang penuh semangat dan cerewet, juga ada Merrita, yang ini dekat denganku karena aku dekat dengan Danial. Dia menyukai Danial. Mereka tiga orang yang sangat dekat denganku selain Morgan. Dan mereka semua sangat hangat. Aku seperti punya keluarga baru disini. Namun tentu saja, mereka semua manusia serigala.
“Sherinn!”
Aku menoleh, mendapati Rupert berlari ke arahku sambil menenteng ikan-ikan yang berhasil mereka tangkat dalam jaring. Tangannya besar sekali, begitu juga tubuhnya. Jadi dia sama sekali tidak merasa kelelahan atau apapun ketika menenteng ikan-ikan yang beratnya pasti berkilo-kilo itu.
“Kalian menangkap banyak ikan.” Jeritku senang.
“Kami yang menangkapnya. Rupert cuma sibuk tidur dan bersikap seolah dia pahlawannya setelah semua selesai.”
Merrita melangkah santai menuju arah kami, Danial di sampingnya, melambai padaku, “Hai, Sherinn.” Sapanya lembut.
Aku tersenyum lebar dan menaruh busur panahku yang sebelumnya kugunakan untuk berlatih, “Hai, Danial. Merrita.”
“Kau sedang berlatih memanah?” Merrita duduk di salah satu sisa batang pohon yang sudah tertebang.
Aku mengangguk setelah menepuk bahu Rupert yang melangkah meninggalkan kami untuk membawa ikan-ikan itu ke dapur. “Aku suka memanah. Setidaknya dengan berlatih begini, aku tidak akan kehilangan keahlianku itu.”
“Kulihat kau pemanah yang cukup baik.” Danial berkomentar.
“Tidak sebaik kebanyakan heta lainnya.” Sahutku.
Merrita mengangguk, “Tapi Danial benar juga, kurasa kau cukup mahir memanah. Kemampuan pedangmu juga baik. Sepertinya kau benar-benar heta bayaran yang cakap.”
Aku tertawa, “Aku hidup dengan itu.” Kelakarku.
Danial dan Merrita ikut tertawa, mendadak kami semua diam mendengar teriakan panggilan Rupert yang berlari dengan terburu-buru ke arah kami. “Mereka menangkapnya.” Desisnya begitu sampai di depan kami.
“Menangkapnya? Siapa?” Merrita memicingkan matanya. Aku dan Danial pun sama tidak mengertinya. Kami menatap Rupert, menunggu sampai dia berbicara. Dan sepertinya itu tidak butuh waktu lama, berbicara adalah hobi Rupert.
“Vampir.” Suaranya tercekat, bisikannya terdengar seperti hantaman batu besar tepat di atas kepalaku. Vampir? Tidak. Ini tidak mungkin. “Mereka menangkap dua vampir, akhirnya setelah sekian lama kita bisa membalas dendam.” Salah satu sudut bibirnya tertarik ke atas dengan penuh misteri. Sepertinya itu senyuman kebahagiaan, dan sialnya kebahagiaan mereka adalah malapetaka bagiku. Tidak hanya satu, tapi dua vampir. Siapa? Apakah itu vampir yang kukenal? Apakah mungkin Reven? Tidak. Ini jelas tidak mungkin, Reven sangat kuat. Aku yakin.
Merrita melompat dengan senang, “Mereka menangkap dua iblis penghisap darah? Mereka masih hidupkan?”
Rupert mengangguk penuh semangat, “Begitu hidup dan sehat. Kita akan melihat pertunjukkan interogasi lagi.” Dia tergelak, “Kita harus menyusul ke ruang interogasi. Semua ada disana. Menonton.”
Merrita terlihat puas, “Ayo.” Katanya setengah berlari mendahului kami semua, Rupert mengejarnya sementara aku membatu disini, dengan Danial yang masih di sampingku. Aku hanya belum bisa mencerna semuanya. Maksudnya tadi apa? Menangkap dua iblis penghisap darah. Iblis? Pertunjukan interogasi? Kenapa mereka semua terlihat sangat senang.
Aku menoleh ke arah Danial, meminta jawaban dari pertanyaan yang bahkan belum kulontarkan. Aku melihat wajah Danial yang tidak terlalu bersemangat, sangat bertolak belakang dengan wajah Merrita dan Rupert.
“Aku tidak suka melihat interogasi.” Desahnya.
“Kenapa?”
Danial menggeleng, menepuk bahuku pelan, “Nanti kau akan mengerti. Nah, ayo. Mereka nanti akan mencari-cari kita.” Ucap Danial, membuatku mengikutinya. Berjalan dengan pelan ke arah yang sama seperti yang dituju Merrita dan Rupert.
***
Ruangan interogasi. Aku menyentuh bulu kudukku yang mendadak meremang. Ruangan ini gelap tanpa ventilasi apapun. Tidak ada seberkas cahaya mataharipun yang menerobos masuk sementara di luar sana matahari sedang bersinat dengan terik-teriknya. Hanya cahaya dari obor-obor yang tertempel di dinding yang menerangi ruangan luas ini. Dan disanalah, diantara kerumunan semua manusia yang hakikatnya adalah manusia serigala, aku melihat dua sosok yang tersungkur di lantai, menjadi pusat perhatian dari semua pasang mata yang ada disini.
“Maurette..” aku menutup mulutku dengan tanganku begitu aku mengenali sosok itu. Sementara yang satu aku sama sekali tidak tahu siapa. Dan keadaan mereka sama sekali tidak baik. Sangat jauh dari baik. Banyak lebam dan darah. Kedua tangan dan kaki mereka diikat dengan rantai besi dan tali yang dilumuri serbuk perak.
Aku berjengit, itu pasti sakit sekali. Kedua tanganku mengepal, menahan diriku sekeras mungkin untuk tidak berlari ke arah sana dan menyelamatkan mereka berdua. Aku melihat, dengan mengigit bibir bawahku ketika Morgan dan Gabriel maju, melangkah mendekat ke arah Maurette dan seorang lagi yang kusadari adalah seorang vampir laki-laki.
Gabriel berjongkok, menyambar dagu vampir laki-laki dengan kasar. “Katakan padaku wahai iblis penghisap darah, apa yang kau lakukan disekitar tempat ini? Apa kelompokmu mengirimmu? Dengan tujuan apa?”
Vampir laki-laki itu menyeringai, padahal wajahnya yang tampan sudah penuh darah. Kenapa tubuhnya tidak bisa menyembuhkan dirinya sendiri? Apakah mereka menyakitinya dengan sesuatu yang berunsur perak? Aku menggigit bibirku, tidak sanggup membayangkan.
“Kau mengharapkan aku mau menjawabmu, makhluk busuk. Jangan harap.” Desis vampir itu dengan angkuh, balas menatap Gabriel dengan sangat tajam.
PLAK
Tangan Gabriel menampar vampir itu dengan sangat keras, sampai tubuhnya tersungkur jauh. Maurette memekik, “Lucius.” Di beralih menatap Gabriel, “Kau pengecut. Lepaskan kami dan bertarunglah dengan adil. Jangan melakukan cara-“
“Diam kau perempuan jalang.” Gabriel menendang Maurette, menunduk dan menjambak rambut Maurette dengan kasar, “Kalau pasanganmu itu tidak mau mengatakan apa-apa. Maka kau yang akan mengatakannya untuk kami.”
Mata Maurette berkilat, “Tidak satu katapun dariku yang akan bisa kau dengar. Pegang ucapanku.”
Gabriel mendorong tubuh Maurette, “Keras kepala.” Geramnya sambil memberikan kode ke anak buahnya dengan tangannya. Aku tidak tahu itu kode apa.
Aku melihat Lucius yang memandang Gabriel dengan tatapan membunuh. Jika tangan dan kakinya bebas, dia pasti sudah menerjang Gabriel tua itu dan membunuhnya dengan mudah. Mata Lucius berubah merah. Mendadak aku seperti pernah melihatnya, entah kapan. Sedetik kemudian aku melepaskan tatapanku dari Lucius ketika aku melihat beberapa anggota kelompok ini menyeret Maurette menjauh dari Lucius ke arah yang berbeda.
“AP-APA YANG AKAN KAU LAKUKAN?” teriak Maurette meronta-ronta.
Lucius juga diseret ke tempat lain, bersebrangan dengan Maurette. Mereka sama-sama meronta dengan sia-sia. Aku melihat kayu bundar yang berdiri kokoh di tengah-tengah ruangan ini. Mereka menyeret Lucius mendekat ke kayu itu dan mengikatnya. Lucius meronta, mendesis, berusaha dengan keras melepaskan dirinya. Dia menggeram. Taringnya keluar. Tapi tidak ada yang dapat dilakukannya. Unsur-unsur perak yang mengikatnya, menyakiti dan melemahkannya. Selain itu aku yakin semua siksaan yang sebelumnya dilakukan kepadanya, membuat dia tidak bisa melawan dengan keras.
“Aku yakin kau tidak akan suka adegan setelah ini, Sherinn.”
Aku menoleh dengan cepat, mendapati Danial berbisik di belakangku. “Aku tidak suka pemandangan ini. Aku akan keluar, kau mau ikut?”
Kugelengkan kepalaku dengan cepat. “Kau bisa keluar duluan, Danial. Setelah ini selesai, aku akan menyusul dan mencarimu.” Paparku padanya. Dia menatapku dengan sedikit ragu. “Aku tidak apa-apa.” Tegasku.
Danial mengangguk, meskipun dia masih terlihat sedikit ragu untuk meninggalkanku disini. Namun akhirnya dia menepuk bahuku pelan, “Tutup saja matamu kalau segalanya terlihat tidak bagus.” Sarannya.
Setelah Danial berbalik dan berjalan pergi aku kembali menatap ke arah depan. Lucius sudah diikat ke kayu bundar itu, mata merahnya nyalang menatap ke arah Gabriel dan Morgan. Namun ketika dia menatap Maurette yang diikat dengan pemberat baja yang sama melemahkannya, mata Lucius penuh penyesalan. Tatapan sesal yang penuh kelembutan dan cinta. Mereka berdua? Aku menutup mulutku menyadari hal itu.
Morgan berjalan mendekat ke arah Maurette, “Kau tidak mau menjawab pertanyaan paman Gabriel tadi, vampir?” suara Morgan lembut, terdengar bijaksana. Namun aku tahu kelembutan Morgan kali ini terasa berbisa. Ada racun di balik kelembutan suaranya itu.
“Apa yang akan kau lakukan padanya?”
“Tergantung pada apa yang akan kau katakan. Jika kau menjawab, aku akan mempertimbangkan untuk membebaskan kalian. Tapi jika kau bungkam.. “ Morgan tersenyum tipis. Itu bukan jenis senyuman yang biasa ditampilkan Morgan di depanku. Itu senyuman yang penuh ancaman. “.. pasanganmu itu akan mati, terpanggang sinar matahari dengan perlahan-lahan.”
“KAU!!” suara Maurette tertahan, aku melihat wajahnya merah padam menahan amarahnya yang memuncak. Kedua taringnya keluar, dia mendesis dengan marah. “Jangan berani-berani.” Geramnya sambil meronta, berusaha mematahkan rantai besi yang mengikatnya. Aku melihat dia meronta lebih keras dari yang Lucius lakukan. Darah mengalir dari pergelangan tangan dan kakinya.
Aku mencengkeram buku-buku tanganku semakin erat. Mataku berkaca-kaca. Berhentilah meronta, Maurette. Itu sia-sia dan hanya akan menyakitimu. Aku tidak tahu apa yang harus kulakukan. Jika aku menerjang begitu saja maka semuanya selesai. Bagiku dan bagi mereka berdua. Aku tidak tahu, apakah dengan aku yang seorang diri ini bisa membantu mereka berdua pergi sementara disini, kami dikelilingi hampir semua dari anggota kelompok manusia serigala.
“Jadi apa keputusanmu?” Morgan bertanya sekali lagi.
Maurette beralih memandang Lucius. Vampir itu menggeleng, sudut matanya basah. “Jangan. Jangan katakan apapun, Maurette.” Katanya keras, “Jika kita memang harus mati demi kelompok. Aku siap melakukannya.” Tegasnya tak terbantah.
“Diam kau, iblis!” Gabriel maju dan menerjang Lucius yang terikat. Memukul Lucius berkali-kali. Aku melangkah maju, namun kuurungkan niatku. Aku mundur lagi selangkah. Tidak. Aku harus menahan diri.
Lucius sama sekali tidak menampilkan wajah kesakitan. Dia malah berdiri dengan tegak meski tangan dan kakinya diikat melingkari kayu, yang diggunakannya untuk bersandar, ke belakang. Maurette menjerit, mencoba berlari ke arah Lucius, namun yang terjadi malah dia terjerembab jatuh ke depan, pemberat baja di kakinya bahkan tak bisa membuatnya melangkah satu jengkalpun.
“Hentikan.” Isaknya dengan airmata yang deras membasahi wajahnya yang putih pucat. Setengah tengkurap, menatap lurus-lurus ke arah Lucius yang berkata tanpa suara, membentuk kalimat, “Tidak apa-apa, sayang.”
“Jadi..” Morgan berjongkok di samping Maurette, “Apa keputusanmu, nona?” suara Morgan tetap lembut, dengan sabar dia mengulangi pertanyaan itu. Mendadak aku merasa sangat muak dnegan sikap lembut palsu yang ditampakkan Morgan. Morgan yang kulihat sekarang sangat berbeda dengan Morgan yang selama ini aku kenal. Ataukah mungkin aku yang salah? Mungkinkah ini malah sosok Morgan yang asli?
Suasana di dalam ruangan ini begitu hening, seakan-akan yang mampu bicara hanya empat orang di depan sana, Morgan, Gabriel, Maurette dan Lucius. Mata Maurette menatap Morgan dengan tatapan tegas, meski wajahnya penuh airmata,  “Jawabanku sama. K-kau.. Tidak akan mendengar satu katapun dari mulutku.”
Hening yang menggantung. Morgan berdiri. Wajahnya mengeras, “Aku sudah memperingatkanmu.” Bisiknya penuh amarah, “Bunuh..” Katanya memerintah, “..yang laki-laki. Dan biarkan perempuan ini melihat kekasihnya mati perlahan-lahan.” Keras, tak terbantah. Dan tanpa basa-basi lagi, dia berbalik. Morgan keluar dari ruangan ini. Dia sepertinya tidak menyadari kehadiranku disini. Dia hanya berjalan dengan wajah sedingin es, kaku. Berusaha dengan sangat jelas menunjukkan bahwa dialah pemimpinnya.
“Tidak. Tidak. Lucius!! Jangan!!” Maurette berteriak-teriak putus asa.
Namun Gabriel malah tertawa penuh ejekan, “Vonis sudah dijatuhkan, nona.” Ujarnya santai. Dia mengangkat tangan kanannya, “Buka atapnya, jangan semua. Biarkan yang lapisan kaca itu tetap ada. Biarkan vampir busuk ini mati perlahan-lahan. Tersiksa di akhir kehidupannya.” Dia tertawa. Mengayunkan kakinya dengan santai ketika berbalik keluar, beberapa orang mengikuti. Kemudian berduyun-duyun dan nyaris semua orang yang awalnya berdesak-desakan ingin tahu itu berbalik, keluar satu-satu dari dalam sini.
“Sherinn, ayo.” Merrita meraih tanganku, ketika yang tersisa cuma aku dan Merrita serta Rupert yang berdiri di pintu ruangan interogasi, menunggu. Aku memandang Maurette yang berusaha dengan sekuat tenaga menyeret tubuhnya mendekat ke arah Lucius yang menjerit-jerit kesakitan. Atap di atas Lucius terbuka dan sinar matahari dengan cerianya masuk tepat mengenai ke arah Lucius. Tapi sinar matahari itu tidak langsung membakar tubuhnya dan membuatnya menjadi abu. Sinar matahari itu hanya sinar yang dipantulkan oleh kaca tipis. Lucius akan tetap mati pada akhirnya, tapi perlahan-lahan dan harus menahan rasa panas yang membakar kulitnya.
Wajah Maurette sudah penuh dengan airmata sementara darah kehitaman mengalir pelan dari luka di pergelangan kaki dan tangannya. Perak dan besi itu masih disana, menyakitinya dan dia tidak berhenti mencoba untuk melepaskan diri. “Lucius..” suaranya semakin serak dan dia kembali terjatuh, memeluk lantai. Luka-lukanya mungkin membuatnya tidak bisa bangun, dia menengadah, menatap Lucius, kekasihnya, dengan hati hancur.
“Lucius..”
Aku masih mendengar suara Maurette yang sarat kepedihan itu ketika Meritta menyeretku dengan paksa keluar dari ruangan ini. Aku masih merasa mendengar jeritan-jeritan kesakitan Lucius ketika aku menatap kosong ke pepohonan di depanku sementara Meritta, Rupert dan Danial sedang memperdebatkan tujuan sebenarnya dua vampir itu mendekat ke desa ini.
“Lucius..”
Aku menutup telingaku dengan gelisah.
“Sherinn.. Sherinn..”
Aku mengangkat wajahku dan menemukan wajah khawatir Danial menatapku, “Kau baik-baik saja?” tanyanya.
Aku hanya diam. Tidak bisa menemukan kata-kata.
Mereka bertiga saling berpandangan, “Mungkin dia masih terkejut pada apa yang dilihatnya tadi.” Meritta berbisik sangat pelan pada Danial yang mengangguk tanda setuju. Rupert menyenggol lengan Merrita, “Kita antarkan saja dia pulang.” Bisiknya pada keduanya.
Danial sepakat karena dia menyentuh lenganku, “Biar aku yang mengantar Sherinn kembali ke rumah Morgan. Kalian masih ada tugas lainkan?”
Merrita nampak ingin menolak, namun akhirnya dia mengangguk. Membiarkan Danial menggandeng lenganku. Membimbingku berjalan kembali ke rumah Morgan. Aku mengikutinya, sudah terlalu lemas untuk menolak. Suara-suara Maurette dan Lucius masih berputar-putar di kepalaku dan aku mendadak menjadi sangat pusing.
“Sherinn.” Panggil Danial ketika aku berhenti berjalan dan memegangi kepalaku setelah kami sudah berjalan lumayan jauh, hanya tinggal beberapa ratus meter sebelum sampai ke rumah Morgan. “Sherinn, kau baik-baik saja?”
Suara-suara itu berdengung di telingaku.
“Lucius..”
Tidak. Aku menutup kedua telinganku dengan tanganku. “Tidak!!”
“Sherinn.. Sherinn..”
Rasa sakit menghantam kepalaku dengan cepat. Dengungan itu masih ada. Mataku berkunang-kunang dan kakiku semakin lemas. “Sherinn.” Aku merasakan tangan Danial menangkap tubuhku sebelum akhirnya gelap. Dan aku tidak tahu apa-apa lagi.
***
Aku membuka kelopak mataku dengan perlahan-lahan. Mengitari ruangan ini dan mendapati bahwa aku sudah ada di dalam kamarku di rumah Morgan. Rasa sakit di kepalaku masih tersisa, aku mencoba menggerakkan tanganku, tapi ada sesuatu yang menahannya. Aku memicingkan mataku, mencoba melihat dnegan lebih fokus, seseorang sedang menggengam tangan kiriku dengan sangat erat. Namun aku tidak tahu itu siapa, kepalanya terkulai di tepi tempat tidurku, wajahnya menghadap ke sisi yang tidak bisa aku lihat. Nafasnya teratur. Dia tidur, simpulku.
Mungkinkah Danial?
Kalau iya berarti dia menungguiku sampai lelah dan tertidur disini. Aku merasa sedikit bersalah. Aku tidak tahu kenapa tadi aku mendadak pingsan. Mataku menerawang, mengingat semua kejadian siang tadi. Apa mereka berdua baik-baik saja? Maurette dan Lucius. Aku mengutuk diriku sendiri, bagaimana mungkin mereka baik-baik saja dalam keadaan seperti itu? Lucius mungkin sudah mati dan Maurette sedang kesakitan karena efek serbuk perak di tali yang mengikatnya dan efek besi yang merantainya.
Seandainya aku bisa melepaskannya.
Aku harus berusaha melepaskan Maurette. Meskipun aku baru sekali bertemu dengannya, Maurette sangat baik dan ramah padaku. Aku masih ingat dengan jelas bagaimana cerianya dia ketika berkenalan denganku di pesta penyambutanku sebagai calon ratu di kastil. Dia begitu bersemangat ketika mengatakan padaku bahwa dia adalah sahabat baik Noura. Dia bahkan menceritakan banyak kisah tentang Noura ketika aku yang baru pertama kali bertemu dengannya sudah bertanya macam-macam hal tentang Noura kepadanya. Maurette begitu baik.
Ya, aku harus melepaskan Maurette dari ruangan itu. Aku menatap tanganku yang masih digenggam oleh Danial. Aku menariknya pelan- sangat pelan. Dan ketika aku berhasil, hampir berhasil. Sosok itu terlonjak kaget dan langsung bangun, menatapku.
“Sherinn..”
“Morgan..”
***
Reven baru saja akan melangkahkan kakinya keluar dari kediaman James ketika dilihatnya laki-laki itu gemetar dan memegang dadanya. Reven menangkap tubuh James yang hampir jatuh. “James, kau baik-baik saja?”
James masih gemetar, terduduk sambil memegangi dadanya, “Rasa sakit ini. Rasa sakit ini.” Dia terus bergumam. Mendadak dia bangkit, berlari menuju ruangan yang baru saja ditinggalkannya untuk mengantar Reven pergi. Reven mengikutinya, sementara James membuka pintu dengan kasar. Claudia, pasangan James, menoleh, wajahnya sangat pucat, nyaris seperti James, dia juga memegang dadanya, “Lu-Lucius..” gagapnya tertahan dan airmatanya tumpah. James meraup tubuh Claudia dalam pelukannya dan wanita itu menangis terisak-isak disana. Oliver dan Elmire, sisa anggota kelompok yang lainnya, menepuk bahu satu sama lain. Mata mereka berkaca-kaca.
Reven memundurkan kakinya, menutup pintu ruangan ini perlahan-lahan. Dia mengerti. Dia melangkah dengan lelah keluar dari kediaman James seorang diri. Pikirannya kalut. Lucius mati. Dia mengerti makna sikap yang ditunjukkan oleh James dan anggota kelompoknya. Ketika salah satu anggota kelompok mati, anggota lain akan merasakannya. Bahkan ketua kelompok akan lebih kuat merasakan hal itu. Semua anggota dalam kelompok saling terkait satu sama lain. Sebuah ikatan yang melindungi mereka selama beratus-ratus tahun mereka hidup bersama.
Lucius mati. Tapi oleh apa?
Kening Reven berkerut. Dia berjalan pelan, sama seperti kecepatan manusia. Lucius mati dan dia pergi bersama Maurette. Lalu bagaimana keadaan Maurette? Apakah dia baik-baik saja? Mereka berdua adalah pasangan calon pengantin, sama seperti Russel dan Lucia. Dan sekarang jika Lucius mati, apa Maurette bisa menanggung kepedihan kehilangan belahan jiwanya itu seorang diri?
Reven memaki keras. Maurette tidak boleh mati. Dia sama sekali belum bertemu dengan Maurette dan dia belum bisa menanyai Maurette tentang banyak pertanyaan yang bermunculan di kepalanya berkaitan dengan Noura. Maurette pasti punya jawabannya, dia yakin. Dan James bilang tadi tentang permintaan terakhir Noura. Permintaan macam apa itu, yang membuat Maurette pergi tanpa mengatakan kemana tujuannya kepada James.
Sial.

Maurette tidak boleh mati. Dia harus menemukan dimana Maurette sekarang. Harus. Apapun caranya. Apapun yang terjadi, dia harus menemukan Maurette dalam kondisi hidup. Dia berlari sangat cepat. Menembus kegelapan malam. 

<< Sebelumnya
Setelanjutnya >>

Mau Baca Lainnya?

40 Comments

  1. Pertama?
    Yuhuuu…!!
    Lama gak mampir ke sini. Pas mampir trnyata udh bnyak yg kelewat, jd akhirnya kemarin kulahap smua dlm sehari..!! Wkwkwk
    Makin keren ajh. Beneran, deh!!
    Semangat ya, sista..!! :-*
    #NisaAdjah – Wattpad# 😀

  2. Waduuuh author baik bangeettt :** tapi tetep aja penasaran hehehehe 😀 ditungguu kelanjutannya author, entah kapan hehehe.. Makasih yaa udahh baiikkk bangeett mengobati penasaranku walau dikit :* -AF

  3. Yee…update lg ……:D
    ceritanya makin kereeen….
    Top banget buat author….:*
    Klau bsa selang waktu updatenya gini terus thor….*hehehe maunyaaa* soalnya aku pnsarn bngt ama klnjutanya.
    Tetap cmngatttt nulisnyaaa!!!

  4. keren thor makin penasaran sama perminataan terakhir naoura ? dan semooga aja rena berhasil nologin maurent dan rena minta penjelasan atas apa yg telah maurent dan lucius kerjakan sehingga iya tertangkap oleh manusia serigala ,,,
    penasaran ,, lanjut thor

  5. Tetap penuh Misteri,,,
    Naik satu tingkat lagi penasarannya:(

    Semoga authornya
    Hepi terus biar sering" update
    Heee!:)♥ caiiiyyyooooo

  6. keren 🙂
    tp please ksh clue 1 j tentang nora,
    byr ga terlalu misterius2 amat
    #bakerstreet

  7. Aaaaaaaaaaaaaa,,,,,, semakin penasaran, semakin banyak mistery yg terpecahkan,,, ada apa dengan noura yak?????
    jgn lama" yah uploadx sist…. Semangattttttt!!!!!
    (artharia)

  8. Update lebih banyaaak. Penasaran sama banyak rahasia Noura. Si Rena sudah mau berubah jadi vampire o_O. Kalo dia berubah di antara kerumunan serigala gimanaa?

  9. HV=Penasaran, udah hukum alam itu 😀

    Dan Noura dia benar2 jenius, misterius, cerdik, sungguh sifat juga keahlian yg mengagumkan..
    entah rencana apa yg di pikirin Noura, sama sekali ngga ketebak…
    hah.. kakak di tunggu versi novelnya loh 🙂

    akan selalu menanti dan merindukan HV dan kakak *ngerayu

    Semangat…

    Keep writing!

  10. wah Author keren banget bikin ceritanya,,, aku ngikutin wattpad trus pindah ke sini,, di tambah design Blog yg muram,, bikin makin terhanyut,,, misterinya di tutup rapet bgt nie,, clue nya blm banyakkk,,, keep writing,,,

    Mimi

  11. Hai hai haiiiiii..
    aku juga penasaran dg Noura. Belum sempet kenalan ><
    Heheheh
    Oya.. jika memungkinkan, seminggu sekali pasti akan ada chapter barunya

  12. Tetap baca wattpad dan blogku ya Mimi..
    Thanks loh uda mampir disini.
    Hummm, desain blogku muram ya??
    Abis aku suka hujan jadi backgroundnya tetesan hujan 🙂

  13. If some one desires to be updated with most up-to-date technologies therefore
    he must be pay a quick visit this web site and be up to date all the time.

    my webpage; cindy

  14. Thanks a bunch for sharing this with all folks you really understand what you’re speaking about! Bookmarked. Please also talk over with my web site =). We may have a link change arrangement between us!

Leave a Reply

Your email address will not be published.