Half Vampire – (Menuju) Perubahan

Hey.. heyy.. aku edit postingan ini hanya untuk menyapa kalian semua. Banyak yang bertanya melalui twitter maupun wattpad, kenapa HV belum juga diupdate, janjinyakan seminggu sekali. Hehehe. Jadi aku akan menjawabnya disini.

Maafffff, seminggu ini aku sangat sangat sangat sibuk. Kuliahku penuh dan aku dibanjiri tugas-tugas yang-astaganagabonarjadidua susahnya- abaikan, ini lebay. Tapi yah, sedikit banyak begitulah alasan. Niatnya sih mau aku upload hari Sabtu. Tapi aku lupa kalau hari itu aku harus ke Malang. Jadi yah, baru Minggu siang aku bisa upload chapter ini. E…tapi tapi, ini masih dalam satu minggukan? Jadi aku tidak ingkar janji. Hahaha *pembelaan diri*

Emm btw chapter ini kudedikasikan buat temanku yang hari ini sedang ulang tahun. テレシアちゃん 誕生日 おめでとう。テレちゃんの願いが かなうように。

Dan yuk, kembali ke kisah Sherena. Selamat membaca. Salam peluk buat kalian semua.

amouraXexa

***

“AKU TIDAK MAU TAHU!! APAPUN YANG TERJADI TEMUKAN DIA!!”

Suara Morgan mengelegar memenuhi ruangan ini. Kemarahan jelas terulir di wajahnya. Matanya menatap sangat tajam dan nafasnya memburu. Ruangan ini terasa panas dan tak satupun yang berani menyela ataupun mencoba mengatakan sesuatu kepadanya. Semuanya diam dan berharap mereka tidak terkena imbas kemarahan Morgan. Bahkan Gabriel pun diam melihat keponakannya seperti kehilangan kontrol dirinya. Masih jelas di ingatannya bagaimana Morgan begitu kejam membunuh seorang vampir laki-laki beberapa malam yang lalu ketika kerusuhan di desa itu terjadi. Dia tak tahu bagaimana bisa Morgan sudah melawan vampir itu sementara yang diketahuinya cuma seorang vampir perempuan yang sebelumnya mereka tangkap, berhasil melarikan diri dan membunuh beberapa penduduk desa.

Gabriel menarik nafas panjang, kembali diam dan mengamati sisa-sisa pecahan perabotan dan potongan-potongan kursi yang remuk karena dibanting oleh Morgan, dia tidak pernah melihat Morgan seperti ini. Bahkan ketika perempuan bernama Noura itu ternyata seorang vampir dan telah melarikan diri dari desa mereka, Morgan menanggapinya dengan santai. Tidak semarah ini. Padahal Gabriel jelas tahu bahwa keponakannya itu menyukai Noura. Dia juga tidak bisa menyalahkan Morgan, Noura sangat baik dan begitu mudah membuat hati laki-laki jatuh padanya.

“Morgan..”

Gabriel menoleh dan melihat Daniallah yang bersuara. Tangan dan kakinya yang patah dibebat oleh kain dan sebuah kayu yang digunakannya untuk membantunya berjalan tersandar rapi di dekatnya. Semua orang menatap Danial dan dengan takut-takut beralih kepada Morgan.

“Aku tidak tahu apakah kau akan setuju dengan apa yang kukatakan atau tidak, tapi kita sama sekali tidak tahu dimana kita bisa menemukan Sherinn atau kau bisa belajar memanggilnya dengan Sherena, nama aslinya. Lagipula apa yang menurutmu bisa kita lakukan, dia pergi bersama vampir perempuan itu. Melarikan diri. Bisa saja vampir itu kembali ke pusat kelompok mereka.”

Tangan Morgan mencengkram pinggiran meja dengan kuat, “Aku tidak peduli, Danial. Aku tidak peduli. Apapun yang terjadi, kita harus menemukan perempuan pengkhianat itu. Bahkan jika aku harus mengejarnya sampai ke pusat kelompoknya..” dia berhenti, menatap tajam ke semua mata yang ada di ruangan ini, “..aku akan melakukannya.”

“Kau bisa membahayakan dirimu sendiri, Morgan. Jika hanya untuk seorang perempuan kau mengorbankan kesalamatan kelompokmu, kurasa kau sudah salah langkah.” Suara Gabriel disambut dengungan setuju banyak orang.

BRAKKK.

Morgan memukul meja dengan keras, membuat beberapa orang melonjak karena terkejut. “Sudah kukatakan aku tak peduli, paman. Jika kalian tidak mau melakukan apa yang kuperintahkan kepada kalian, maka aku yang akan melakukannya sendiri. Aku harus bertemu dengan perempuan itu. Bagaimanapun caranya, aku harus bertemu dengannya.” Dan usai mengatakan itu, dia berjalan keluar dari ruangan ini. Meninggalkan berpasang-pasang mata yang menatapnya dengan keterkejutan dan tanda tanya. Sebagian bingung harus memilih apa. Gabriel mendesah panjang, melempar punggungnya ke belakang, bersandar dengan sangat lelah. Terlalu banyak kejadian mendadak yang terjadi di desa ini, awalnya dia pikir semuanya semakin baik, tapi nyatanya kedatangan Sherinn merupakan petanda bahwa semua yang sedang diperbaiki akan rusak kembali.

***

Rowena menatap tunangannya yang sedang berkemas dengan terburu-buru. Dia memandangi punggung Morgan, tak menyela, tak membantu. Tapi hanya diam dengan semua pikiran yang memenuhi tempurung otaknya. Dia sama sekali tidak tahu harus mengatakan apa. Ada bagian dari dirinya yang melarang keras Morgan meninggalkannya dan pergi dari desa, namun di sisi lain dia mendukung Morgan untuk bisa menemukan perempuan itu.

Sherinn..

Tubuhnya gemetar menahan amarah yang memenuhi dadanya. Perempuan itulah sumber segala masalah. Dialah pembawa bencana di desa ini. Rowena benar-benar tidak menyangka bahwa perempuan itu ternyata hanya kaki tangan para vampir. Entah bagaimna bisa itu terjadi atau entah apa yang ditawarkan para iblis penghisap darah itu kepada Sherinn sehingga perempuan itu mau-maunya menyusup ke desa ini. Lagipula apa yang dia cari di desa ini. Tidak ada sesuatu yang khusus di desa ini. Penduduknya juga tidak terlalu banyak, kebanyakan malah pendatang yang akhirnya menetap seperti Morgan dan kelompoknya.

“Rowena..”

Rowena mengerjap terkejut dan menemukan Morgan sudah ada di depannya. Berdiri memandanginya entah sejak kapan tapi dia malah melamunkan banyak hal.

“Ya.” jawabnya sambil tersenyum manis.

Morgan menekuk lututnya sehingga dia sejajar dengan Rowena yang duduk, “Maaf.” Dia menggenggam tangan Rowena, menatap kedua bola mata hitam Rowena yang balas menatapnya dengan lembut.

“Kenapa minta maaf, Morgan? Aku tidak akan menerimanya karena kau memang tidak perlu mengucapkan itu. Tidak ada yang perlu dimaafkan darimu.” Dia menghela nafas, “Aku mengerti keputusanmu untuk pergi. Kurasa itu memang yang terbaik yang bisa kita lakukan. Jika aku jadi kau, aku juga akan melakukannya.”

“Ini lebih dari sekedar itu, Rowena.”

Rowena balas mengenggam tangan Morgan, “Lalu apa?” dia menghela nafas panjang, “Aku juga menginginkan Sherinn ditangkap, Morgan. Jauh lebih menginginkan itu daripada menahanmu untuk tetap tinggal di desa ini. Perempuan itu bertanggung jawab atas kematian lima penduduk desa yang disebabkan oleh vampir perempuan gila itu.” Matanya berkilat marah dan genggaman tangannya pada Morgan semakin erat, “Kau harus menangkap perempuan itu. Demi desa ini. Demi mereka yang terbunuh. Demi roh para leluhur yang melindungi desa ini. Aku berharap kau benar-ben-“

“Jangan menungguku.”

Deg

Tangan Rowena menegang, matanya memerangkap tatapan penuh penyesalan milik Morgan. Dia menggeleng lemah. Tubuhnya mendadak gemetar. Satu kalimat yang didengarnya dari Morgan bagaikan membekukan syarafnya.

“Jangan menungguku, Rowena.” Suara Morgan tegas tapi lembut dalam waktu bersamaan. “Jangan menungguku karena aku tidak tahu kapan aku akan kembali. Jangan menungguku karena aku bukan laki-laki yang patut mendapatkan kehormatan itu. Kau perempuan yang sangat baik, Rowena. Ada banyak laki-laki yang jatuh hati padamu dan kau bisa memilih salah satu dari mereka untuk mengantikan posisiku di hatimu.”

“Ap-apa maksudnya ini?”

Morgan menunduk, tak mampu balas menatap Rowena, “Maafkan aku. Aku tidak bisa melanjutkan pertunangan kita.”

Rowena menarik tangannya dari genggaman tangan Morgan. Dengan kasar ditangkupnya kedua wajah Morgan sehingga Morgan mau melihatnya langsung, “K-katakan padaku kau hanya bercanda. Katakan padaku bahwa apa yang kudengar tadi adalah halusinasiku karena semua masalah yang terjadi di desa. Katakan padaku, Morgan!!” jeritnya putus asa.

Tapi bukannya mengatakan apa yang Rowena mau, Morgan berbisik pelan, menghaturkan maafnya yang paling tulus, “Maafkan aku.”

Rowena bangkit, berjalan dengan gusar ke jendela kamar Morgan, mengenggam teralisnya dengan kuat. Tangannya gemetar, matanya berkaca-kaca tapi dia tidak menangis. Menahan tubuhnya yang juga gemetar, dia menahan suaranya agar tidak terdengar rapuh, “T-tidak Morgan. Sudah kubilang kau tidak perlu mengatakan itu. Tidak ada yang perlu dimaafkan. Aku akan menganggap semua yang kau katakan adalah candaanmu yang paling membosankan. Aku akan mengabaikan itu dan menganggap semua kata-kata itu tidak pernah keluar dari mulutmu.”

“Rowen-“

“Aku akan mengabaikannya, Morgan!” teriaknya frustasi, berbalik menatap Morgan dan airmatanya mulai menetes. “Aku akan menunggumu. Tidak peduli selama apa kau pergi. Aku akan menunggu sampai kau kembali dan kita bisa menikah. Aku akan menunggumu hingga kau benar-benar siap menerimaku sebagai satu-satunya wanita yang akan kau cintai sepanjang hidupmu. Aku akan menunggumu. Aku akan bersabar dan aku akan menunggumu. Selamanya. Sampai kau kembali.”

“Tidak.” Morgan menggeleng dengan lelah, dia mendekat, menyentuh kedua bahu Rowena, “Jangan menungguku karena aku tidak akan kembali.”

PLAK

Satu tamparan yang sangat keras mendarat di pipi Morgan dan dia melihat tangan Rowena gemetar. Kedua bola mata Rowena sudah basah dan dia menggigit bibir bawahnya dengan marah, menahan luapan emosi yang ada dalam tubuhnya. “Aku akan selalu menunggumu. Kuharap kau akan mengingat itu, Morgan Feersel.”

Dan dengan begitu dia melesat pergi. Berlari meninggalkan Morgan yang terpaku, tak tahu harus berbuat apa.

***

Aku mengangkat busurku, sehingga dia menjadi lebih tinggi dari kepalaku, bersiap untuk menarik anak panahku. Dengan mantap kuturunkan busurku, menarik tali busur melewati tulang pipiku, anak panahku sejajar dengan mataku. Aku menunggu, memfokuskan pandanganku dan melepas anak panahku yang langsung melesat dan menancap tepat di titik pusat sasaran. Kuturunkan busurku pelan dan mencabut satu anak panah lagi dari belakang punggungku, bersiap memanah lagi.

“Sudah cukup untuk hari ini Rena, kurasa belasan anak panah yang berjejal di kayu sasaran itu cukup membuktikan bahwa kau sama sekali tidak kehilangan kemampuan memanahmu.”

Aku menurunkan busurku dengan wajah kesal. Aku tidak suka diganggu saat aku sedang latihan, lagipula aku memanah agar aku bisa melupakan amarahku yang memenuhi kepalaku sejak Reven menciumku dengan paksa beberapa hari yang lalu. Tapi aku menoleh juga ke sumber suara dan melihat Damis berdiri beberapa langkah di belakangku.

“Ada apa?”

Dia mengerutkan keningnya mendengar betapa dinginnya suaraku, “Apa ada yang menganggu perasaanmu, Rena?” tanyanya lembut dan perhatian, namun yang muncul di kepalaku justru kemarahan lainnya yang mendadak menyergapku.

“Dev mati dan kau menanyakan padaku tentang adakah yang menganggu perasaanku?” aku tertawa dengan sinis, menatapnya dengan bola mataku yang berkilat-kilat marah, “Kupikir hanya Reven yang tidak normal di tempat ini. Tapi sepertinya aku salah karena kaupun rupanya juga sama saja dengannya.”

“Re-“

“Bagi kalian, kematian satu atau dua orang yang kalian kenal tidak akan terlalu berarti. Tapi pernahkah kalian berpikir bagaimana perasaan orang-orang yang dekat dengan mereka yang sudah mati?”

Damis menatapku dengan tidak percaya seolah-olah dia tidak menyangka bahwa aku akan mengatakan hal itu. Ada sedikit rasa bersalah di dadaku melihat tatapannya, tapi aku tidak bisa mundur, tidak jika ini menyangkut Dev. Sudah cukup aku melihat semua tindakan yang menurutku menggambarkan bahwa mereka sama sekali tidak terganggu dengan kematian Dev. Dan itu benar-benar melukaiku.

“Rena!” dia memanggilku dengan tatapan tak percaya bahwa akulah yang sudah mengatakan kalimat-kalimat itu untukknya.

Aku membanting busur dan anak panahku di depannya, lalu pergi begitu saja tanpa mengatakan apa-apa padanya. Aku berjalan secepat yang aku bisa lakukan, dan entah bagaimana aku sudah berada di depan pintu kastil sementara jarak antara padang bunga ungu tempatku berlatih panahan dengan pintu kastil lumayan jauh. Aku mengelengkan kepalaku, mengabaikan pikiran lain yang datang padaku. Tidak, aku tidak apa-apa. Aku baik-baik saja.

Setengah berlari aku masuk ke ruang pribadiku dan membanting pintu itu menutup. Kuhempaskan tubuhku di atas tempat tidurku. Entah kenapa dadaku terasa panas dan aku ingin menangis. Pikiran dan batinku bergolak dengan pemikiran mereka masing-masing. Ada bagian dari diriku yang membenarkan apa yang sudah kukatakan pada Damis, tapi sebagian besar lagi menyesali tindakanku itu. Damis tidak patut kuperlakukan seperti itu. Dia tidak pernah menyakitiku dan selalu bersikap baik dan lembut padaku. Lagipula tadi dia hanya bertanya padaku karena dia mengkhawatirkan aku bukan? Lalu kenapa aku harus berkata seperti itu padanya.

Aku menekankan wajahku pada bantal dan menangis diam-diam disana. Entah kenapa aku merasa bahwa aku benar-benar sudah bersikap buruk dan keterlaluan pada Damis. Jika pada Reven, aku mungkin tidak akan pernah sedikit pun menyalahkan diriku sendiri, makhluk menyebalkan itu memang patut diperlakukan seperti itu. Tapi Damis?

Entahlah, aku membalikkan tubuhku dan menatap langit-langit kamarku dengan muram sementara dua kakiku menggantung tidak nyaman. Aku merasa aku tidak bisa benar-benar berpikir. Entah kemana perginya rasa nyaman yang dulu sering menyelimutiku ketika aku berada di kastil. Dulu, meskipun aku sedang dalam perasaan tertekan separah apapun, aku tetap merasa kastil ini tempat yang nyaman. Namun sekarang kenapa justru seperti ini? Apa ini karena kematian Dev?

Kupejamkan mataku beberapa detik, merasakan lelah yang hebat mendera otak dan tubuhku. Aku merasa sangat lelah, sepertinya aku butuh tidur, aku sama sekali tidak bisa tidur sejak aku kembali ke kastil. Dan semua masalah ini?? Kurasa bisa menunggu. Aku harus mengistirahatkan otak dan tubuhku, atau aku mungkin bisa benar-benar gila karena semua ini. Aku mendesah, merasa pilihan untuk beristirahat adalah benar. Kupejamkan kembali mataku dan dalam beberapa menit saja aku sudah terlelap.

***

Aku terbangun dengan tubuh lengket dan bau. Kakiku yang masih menggantung terasa kaku dan menyakitkan. Aku bergerak dengan malas dan menyeret kakiku ke dalam kamar mandi. Merasakan air dingin membasahi kepala dan tubuhku membuatku merasa sedikit lebih baik. Kurasa aku benar-benar tidur tadi karena aku sama sekali tidak ingat bahwa aku bermimpi atau malah mungkin, aku tidak bermimpi. Sepertinya aku memang benar-benar sangat lelah, sehingga alam bawah sadarku pun tak cukup kuat untuk membawaku pada kilasan-kilasan yang disebut mimpi.

Kuselesaikan acara mandi ini dengan cepat karena aku mulai merasakan bahwa yah, perutku meronta-ronta minta diisi. Begitu selesai dengan pakaianku, aku membuka pintu kamarku dan kesunyian kembali menyambutku. Kulangkahkan kakiku dengan perlahan, benar-benar tidak terasa ada kehidupan di tempat ini.  Aku menyentuh pinggiran tangga dan melangkah menuruni tangga.

Dimana semua orang?

Setahuku masih ada Reven, Rosse, Damis, Lucia dan mungkin juga Lyra dan Russel. Tapi tempat ini benar-benar sangat sunyi. Kubuka perlahan pintu ruang makan, bau makanan yang masih hangat menggoda hidungku. Aku menarik kursi dan mengambil sup hangat yang baunya benar-benar mampu membuat air liurku menetes. Aku makan dengan lahap, merasa masih lapar dan menambah sup itu lagi. Sekali lagi. Aku masih merasa sangat lapar dan membiarkan semua makanan yang ingin kumakan masuk ke dalam perutku.

Kusandarkan punggungku ke belakang, menyentuh perutku yang anehnya masih terasa lapar. Wajahku mendongak dan melihat mangkuk besar yang semula penuh dengan sup hangat sudah benar-benar kosong dan mangkuk yang lebih kecil di dekatnya-yang kugunakan untuk makan-juga sama kosong. Aku memicingkan mataku, apa aku benar-benar selapar itu? Suara ludahku yang kutelan kembali terdengar menyentakkan kesadaranku, perutku bahkan masih ingin diisi lagi sekarang. Aku mengusap wajahku dengan frustasi, tapi aku sudah makan banyak sekali. Aku bangkit dengan cepat. Berjalan mondar mandir dengan cepat dan berharap rasa laparku hilang tapi yang ada, perutku justru terasa lebih lapar lagi. Aku duduk karena kurasa dadaku juga mulai terasa sakit.

Mengatur nafasku aku menatap ke arah lain, masih banyak makanan yang bisa kumakan selain sup-yang tentunya sudah kuhabiskan tadi. Aku memandang ke arah makanan-makanan itu, mendesah dengan sebal. Aku masih lapar, sial. Aku meraih gelas berisi air putih dengan kasar dan meneguk seluruh isinya sampai habis. Setengah membantingnya, kuletakkan gelas itu kembali ke atas meja.

Mataku mengawasi makanan lain yang masih tersaji dengan begitu menggodanya di atas meja. Aku masih menimbang-nimbang apakah aku memang butuh makan lagi atau tidak ketika mendadak aku merasakan rasa panas yang sangat hebat menyerang tenggorakkanku. Terdorong rasa terkejut dan rasa sakit dalam waktu bersamaan, aku bangkit dengan sangat cepat. Membuat kursi yang kududuki terjungkal ke belakang. Tapi aku sama sekali tak peduli. Aku.. rasa panas yang luar biasa ini seperti mau membunuhku, seolah ada tangan-tangan tak terlihat yang sedang mencekikku dengan kuat.

Aku memegang erat leherku dengan kedua tanganku, berharap aku bisa meredakan rasa sakitnya. Tapi tidak ada apapun yang terjadi. Tubuhku gemetar hebat dan aku jatuh ke lantai dengan berpegang pada pinggiran meja.

“T-t-to..”

Tapi aku bahkan tak bisa mengucapakan satu kata itu. Tanganku terlepas dan aku tersungkur ke bawah. Aku berharap aku bisa menjerit atau melakukan sesuatu, tapi yang ada., aku sama sekali tak bisa mengeluarkan suaraku. Aku berguling-guling di lantai, menahan sakit dan rasa panas yang semakin tak tertahankan. Aku menyentuh dadaku ketika rasa panas di tenggorakanku menjalar kesana. Aku menangis. Sepertinya aku akan mati.

Tidak. Aku tidak boleh mati dengan cara seperti ini. Aku berusaha bangkit, berpegang sangat erat di pinggiran meja. Aku berhasil sedikit membuat badanku tegak, tapi tepat ketika itu aku merasakan mual yang sangat hebat dan langsung memuntahkan apa yang ada di dalam perutku keluar.

Mataku membelalak ketika yang kulihat bukan muntahanku melainkan darah. Darah yang begitu banyak. Lalu rasa panas itu menghilang begitu saja, meninggalkan tubuhku yang langsung lemas. Masih dengan keterkejutan yang belum bisa kuatasi begitu melihat aku memuntahkan begitu banyak darah, aku menjaga keseimbangan tubuhku dengan tetap berpegang pada  pinggiran meja. Aku melihat kulit tanganku begitu pucat dan kupastikan wajahku pun juga begitu.

Darah?

Aku menelan ludahku. Merasakan mual yang sangat hebat. Tapi aku tidak bisa muntah. Kepalaku begitu pusing. Dan aku benar-benar berharap ada seseorang yang menolongku sekarang. Aku berjalan merambat dengan tetap berpegangan pada pinggiran meja. Aku tidak mau melihat darah yang kumuntahkan dari dalam perutku itu atau aku bisa merasa mual lagi dan muntah lagi. Tidak. Aku bisa mati karena itu.

Aku harus kembali ke kamarku dan beristirahat. Mungkin aku hanya sedang sakit, mungkin sakit yang parah. Aku menggeleng lemah. Tidak, aku baik-baik saja. Tangannku gemetar, peganganku pada pinggiran meja melemah dan kepalaku benar-benar seperti dihantam dengan godam. Rasanya begitu sakit dan membuat pandangan mataku berkunang-kunang. Aku menunduk, masih dalam posisi berdiri dan berpegang pada pinggiran meja. Tanganku bergetar makin hebat dan aku merasa semakin lemah, tapi sekuat tenaga, kueratkan peganganku pada pinggiran meja. Kudonggakkan kepalaku dengan perlahan ketika kudengar pintu ruang makan terbuka.  

“T-tolong.”

Tepat ketika kulihat wajah Reven disana, aku merasakan semuanya gelap dan bisa kurasakan sepasang tangan menangkapku sebelum aku jatuh ke lantai, lalu semuanya gelap dan aku tak tahu apa-apa.

***

“Ibu, kenapa aku tidak punya ayah?”

Ibu menatap mataku yang juga menatap mata ibu dengan penuh tuntutan. Aku dengan tubuh mungil anak berumur lima tahun, bergelayut manja di pangkuan ibu, masih menatapnya dan berharap mendapatkan jawaban yang bisa membuatku puas.

“Apa Rena ingin punya ayah?”

Aku mengangguk dengan semangat, “Semua temanku punya ayah dan aku juga mau punya ayah.”

Ibu tersenyum, mengusap lembut rambut hitamku, “Rena punya ayah kok.”

Aku menegakkan tubuhku, menatap ibu dengan mata berbinar, “Sungguh? Aku punya ayah, bu? Rena punya ayah??” aku beringsut menjatuhkan tubuhku, keluar dari pelukan dan pangkuan ibu. “Aku punya ayah!!” teriakku gembira dan melompat-lompat senang. Tapi lompatanku segera terhenti, aku kembali menatap sepasang mata ibu, mata yang persis sama seperti yang juga aku punya, “Tapi dimana ayahku, ibu? Aku tidak pernah melihat ayah.”

Meski sekilas, ibu terlihat sedih sebelum dia kembali melengkungkan senyumnya. Ibu menarikku mendekat, meremas kedua bahuku dengan lembut, “Ayah tidak bisa tinggal bersama kita karena sesuatu hal, sayang. Tapi ayah selalu melindungi kita meski dia jauh. Ibu selalu percaya itu karena ibu tahu, ayah sangat mencintai kita, keluarganya.”

Aku memiringkan kepalaku, “Aku tidak mengerti.”

“Rena belum akan mengerti sekarang, tapi kelak, ketika Rena sudah semakin tumbuh besar. Rena akan mengerti.”

Aku mengerjap, tetap tidak mengerti, “Tapi aku tetap punya ayahkan, bu?”

Ibu mengangguk cepat, “Rena punya ayah. Ayah yang sangat baik dan mencintai Rena. Ayah yang selalu melindungi kita dari jauh. Ayah Rena adalah orang yang hebat.”

Aku bersorak gembira, “Ayahku hebat!” aku berlarian kesana kemari sambil tetap meneriakkan hal itu. Ibu tersenyum bahagia menatapku, sebelum ibu bangkit dengan cepat dari duduknya dan  berlari ke arahku yang sudah terjerembab ke lantai karena tersandung sesuatu ketika aku berlari.

“Rena!! Rena sayang, kau tidak apa-apa nak?” ibu berjongkok, merau tubuhku dengan secepat yang dia bisa. Sementara aku menangis keras. “Sayang, kau tidak apa-apa? Mana yang sakit, sayang??” tapi aku tak menjawab dan terus menangis keras.

“Tidak apa-apa. Tidak apa-apa sayang.” Ibu memelukku dan menggendongku masuk ke dalam kamarku. Membaringkan aku kembali ke tempat tidur, membersihkan kakiku dengan usapannya. Hanya ada sedikit lecet kecil di lututku, tapi aku saja sesenggukan.

Ibu mengusap kepalaku, “Tidak apa-apa. Rena cuma jatuh, dan tidak terluka parah. Jadi sudah ya sayang, jangan menangis lagi.”

Aku mengangguk, mencoba tidak menangis lagi meski air mataku masih membekas di pipiku. Ibu mengusap pipiku dengan lembut, menyapu bekas air mataku. “Sudah tidak ada yang sakitkan?”

Ibu membelai rambutku dan aku mengangguk. Meski ibu tersenyum, aku melihat kalau dia begitu pucat mendapati aku terjatuh, “Dadamu tidak sakit sayang?”tanyanya hati-hati.

Aku menggeleng, “Lututku yang sakit, bu.” Aku menggerang manja.

Ibu kembali tersenyum, “Nanti ibu obati ya. Sekarang Rena tidur. Jangan main-main lagi. Ibu akan pergi mencari daun obat.”

Aku kembali menggeleng, “Aku ikut.” Rengekku, bangkit dari tidurku dan bersiap bangkit, mengikuti ibu. Tapi tangan ibu menahanku, “Rena disini saja, biar ibu saja yang cari daun obat untuk luka Rena.”

“Tapi bu..”

“Sayang..” ibu memandangku tegas, “Rena tidur siang saja. Rena bilang Rena senang punya ayah hebatkan tadi?” aku mengangguk, meski cemberut. “Nah.” Ibu menyentuh pipiku, “Ayah juga pasti akan senang kalau anaknya yang manis ini mau menuruti ibunya.” Lanjut ibu sambil menyubit gemas pipiku.

Aku tergelak, mengangguk senang, “Rena akan menurut.” Aku beringsut kembali, berbaring dengan manis di atas tempat tidurku. Ibu mengecup keningku, “Anak pintar.” Katanya sebelum berdiri, menaikkan selimutku sampai batas dada. Ibu kembali mengusap rambutku, “Ibu pergi dulu. Rena akan baik-baik saja di rumah.”

Aku mengangguk. Menatap ibu yang tersenyum lembut sebelum berbalik dan keluar dari kamarku. Dengan pelan ibu menutup pintu kamarku begitu ibu keluar dan kemudian, tanpa aku pernah tahu, tubuh ibu bergetar sambil masih menyentuh kenop pintuku. Airmatanya yang sudah ditahannya dari tadi langsung tumpah begitu saja. Tubuhnya merosot ke bawah, menghadap ke kamarku dan dia menangis tanpa suara.

Tangannya menyentuh pintu kamarku, “Akhtzan..” bisiknya sangat pelan, “Katakan padaku kalau Rena akan baik-baik saja. Anak perempuan kita baik-baik saja. Dia tidak sakit seperti aku bukan? Akhtzan.. katakan padaku bahwa penyakitku tidak menurun pada Rena? Akhtzan..” dia bersimpuh di tanah, tangannya kini menggengam tanah dengan kuat, “Akhtzan.. sebenarnya aku ini ibu seperti apa? Aku ini ibu atau malah monster yang membuat anakku menderita?” ibu terus menangis tanpa suara, tubuhnya bergetar dan dia terus menangis,  sementara di dalam kamar  aku sudah terlelap tanpa pernah tahu apa-apa.

<< Sebelumnya
Selanjutnya >>

Mau Baca Lainnya?

36 Comments

  1. Yeeyyy akhirnyaaa dipost… Aku kira bakalan ngepost double *ngarep* hahaha… Serius aku selalu penasaran sama lanjutan cerita ini … Jadi kek ketagihan gitu wkwks.. Penasaran rena sakit apaan sih thor? …

  2. Hahaha, ngga bisa double. Weeiihh bikin penasaran? hihihi makasihh.

    Rena sakit apa?? Itu hanya sebuah penyakit di masa lalu. Tapi sekarang, itu adalah petanda yang keseluruhannya akan terjawab di chapter selanjutnya, yang artinya minggu depan. 😀

  3. Rena udah mau jd vampir tuh, pngen minum darah jd nya mkn apa aj ga kenyang2,,hehe

    Unni

  4. Akhirnya di chapter ini ngga lagi ketinggalan..

    dan akhirnya juga hari itu akan datang juga, predikat half kayanya bakalan mau di lepas, itu sakitnya nyiksa banget, kasihan Rena…
    uhuyy, Mas Morgan mau ngapain hayo cari Rena? mau introgasi yah?
    pokoknya makin dekat ending rupanya dan ini makin runcing
    semangat terus, Kakak…
    Keep writing!

  5. Yang ditunggu tunggu muncul juga….

    sepertinya ada something yg ingin dikejar morgan
    Sampai mau pergi sendiri mencari rena…
    Mungkinkah dibalik bencinya terselip..*tutup mulut*
    Akankah ini awal bersatux kedua kland…????!!

    Lanjutannya klo bisa jangan lama ya author 🙂

  6. akhirnyaaaaa…..
    renaaaa to gee bertransformasi jdi vampir ato mang dy pux penyakit yaaa????
    truuus to si morgan ngotot bget buat nemuin rena…
    ap jgaaan" dy mw bunuh rena ya????
    ooohhhh jgaaaan smpee……
    cpeeet dilnjuuut ya thooor…
    n tetep smngaaaat….#peluk erat author
    tmbaaaah penasaraaaan….seriuuus…

  7. setelah buka blog ini setiap hari untuk melihat apakah ad update atau tidak, tnyta ad wlpn,,
    d gantung (hiks hiks)
    tp ga p2 d, lumayan
    mgu dpn, berarti hri rbu dunk?
    iy kan?
    pasti dunk? (smbl angkat2 alis)
    n kl telat posting bysa'y panjaaang bgt chapter'y,
    (reader yg bnyk tuntutan)
    smga ad ibu peri yg bntu author kerjain tugas
    jd bsa upload d

    GANBATTE

  8. setelah buka blog ini setiap hari untuk melihat apakah ad update atau tidak, tnyta ad wlpn,,
    d gantung (hiks hiks)
    tp ga p2 d, lumayan
    mgu dpn, berarti hri rbu dunk?
    iy kan?
    pasti dunk? (smbl angkat2 alis)
    n kl telat posting bysa'y panjaaang bgt chapter'y,
    (reader yg bnyk tuntutan)
    smga ad ibu peri yg bntu author kerjain tugas
    jd bsa upload d

    GANBATTE

  9. setelah buka blog ini setiap hari untuk melihat apakah ad update atau tidak, tnyta ad wlpn,,
    d gantung (hiks hiks)
    tp ga p2 d, lumayan
    mgu dpn, berarti hri rbu dunk?
    iy kan?
    pasti dunk? (smbl angkat2 alis)
    n kl telat posting bysa'y panjaaang bgt chapter'y,
    (reader yg bnyk tuntutan)
    smga ad ibu peri yg bntu author kerjain tugas
    jd bsa upload d

    GANBATTE

  10. Seperti itulah, Rena pada akhirnya (menuju) perubahannya. Dan itu jelas sebuah proses yang menyakitkan. 🙁
    Semoga Rena kuat.

    Morgan ngapain hayo ngapainn. *tebak tebak manggis* 😛

    Semangaaaaaaaaaaaaaaattt 🙂

  11. Morgan tentu punya alasan yang sangat khusus, kenapa dia harus mencari Rena dan meninggalkan kelompoknya untuk itu. Bersatunya kedua klan?? Rahasia 😛
    Hahaha

    Iyahhh, semoga lanjutannya ngga lama dan sesuai deadline. Amin

  12. Kalo menurutku sih dia sedang dalam proses berubah, dan tentang penyakit.. akan dijelaskan dalam part selanjutnya. hohoho *sok misterius euy*

    Teruss teruus Morgan mau apa?? Ini adalah sesuatu. Sesuatu yang akan terjawab di part-part selanjutnya juga.
    Aaaakkk *digebukin readers*

    Semoga bisa cepeeettt. Amin. Makaaasiiiihh semangatnya Zhera 😀

  13. Wow, buka blogku setiap hari?? Duhhh makasih looh.. tapi etapi, malah digantung ya? *jahatnya writernya* 😛 😛

    Minggu depan hari rabu ya?? Gimana yah gimana yah?? *galau tugas kampus*

    Astaga!!! IBU PERI BUAT BANTU NGERJAIN TUGAS??? Maauuuuuuuuuu baangeettt. ><

    はい、頑張ります。

  14. Astaga…astaga…
    Aku yakin Morgan bukan cuma mau ketemu Rena, sepertinya dia punya alasan lain. Aku harap begitu. Wkwkwk.
    Dan Rena akhirnya akan jadi vampire seperti apa yah? Menarik.

    Owyah, ditanyain admin gagas media tuh di twitter, kapan ngirim naskah ke gagas?

  15. Aaaaaakkkkkkk aku bener-bener merona malu loh baca mention di twitter. Hahahha. Makasii makasiiii, Yona. :* :*

    Morgan ngapain? RAHASIA :p
    Yup, mari kita lihat Rena jadi vampir yang kaya apa nanti. ><

  16. Mari kita lihat apa yang terjadi pada Rena dan Morgan di part-part selanjutnya.. dan mengenai reaksi Reven..? :/ dia ini… ah sudahlah, susah menjelaskan Reven. Dia ini menyebalkan. *eh

    Ibunya Rena sakit apa? yang jelas penyakit yang mematikan 😛

  17. setiap habis baca pasti selalu banyak pertanyaan,
    gk sabar nunggu kelanjutannya..

    penasaran banget alasan morgan cari rena, kenapa sampe segitunya morgan marah ya??? padahal waktu noura pergi tanggapan morgan biasa aja kan??
    atau mungkin morgan tau rencana noura ya?? makanya dia tk terima rena di manfaatkan?? #abaikanthor

    untuk rena yang kuat ya menghadapi perubahan mu, smangat!!!! 😀
    kalo untuk reven : lo gue end !!!

  18. Hahhaa, cerita ini membuat para ikut berimajinasi ya. *sukaaa*

    Renaaa, kamu musti kuat. Banyak yang menyemangatimu dan buat Reven.. emmmm maafkan author ya, membuatmu kehilangan banyak fans. -____-
    *banyak yang end sama Reven padahal awalnya demenA 😛

  19. gilaaak!!! keren banget. seminggu ini mid, jadi baru bisa buka sekarang. eh pas buka malah penasaran tingkat akut..
    itu si morgan kenapa ya? *berharap morgan cinta sama si rena, biar bikin reven cemburu*
    eh iya,kesimpulan aku si rena ini dulunya kayak sekarat gitu trus ada noura yang membagi separuh jiwanya tapi dengan resiko rena akan jadi vampire dan ratu atas klan vampire kalo misalnya terjadi sesuatu dengan noura… gmana?betul ga kesimpulannya?;D

  20. Gpp lagi. Ada yang komen aja rasanya seneng bgt. Hohoho.
    Well, dia muntah2 mungkin saja karena sakit dan karena akan berubah jadi vampir. Kayaknya sih.. 😛

  21. Hahaha maaf loh membuatmu penasaran 😛

    Morgan kenapa?? Akan terjawab di part selanjutnya yang akan aku upload hari ini.
    Well, kesimpulan itu boleh juga tapi… tapi… :X
    Hhahha uups

  22. yeeeeeey asssikkk akhirnya dipost!!! penantin panjang loh kak:3
    Aw aw ada reveeeennn!!

    SEMANGAAAAT KAA!
    Anna.

Leave a Reply

Your email address will not be published.