Half Vampire- Morgan Feersel

Reven menurunkanku perlahan dari punggungnya, dan kami bertiga berdiri tegak, di tepian bukit paling tinggi di bawah kerindangan pohon, bersembunyi dari pancaran sinar matahari dan memandang lurus-lurus ke depan. Ke sebuah desa yang terlihat sangat kecil dari tempat kami berdiri sekarang.
“Itukah desanya?” aku bertanya.
“Ya.” Jawab Reven singkat tanpa memandangku.
“Baunya. Tempat itu penuh oleh bau busuk manusia serigala bahkan dari jarak sejauh ini. Memuakkan. Bagaimana bisa mereka hidup berbaur dengan manusia seolah-olah mereka itu sama dengan para manusia itu.” Komentar Lyra. Raut wajahnya terlihat jijik, dan jujur saja, aku tidak mencium bau busuk atau bau apapun yang dikatakan Lyra. Sepertinya, penciuman manusia memang lemah sekali.

Reven tidak menanggapi Lyra dan masih memandang lurus ke tempat itu. “Kau sungguh-sungguh masih manusiakan, Sherena?” tanyanya yang lebih terdengar seperti gumaman. Aku menoleh, mendapati sekilas keraguan yang mencuat di raut wajahnya.
 “Apa?”
“Ya, kau masih manusia. Kecuali darahmu. Setidaknya, darahmu..” dia berhenti bicara. Aku masih menatapnya, kali ini dengan alis saling bertaut.
“Kenapa dengan darahnya?” tanya Lyra yang juga sama terlihat tidak mengerti.
“Tidakkah Deverend Corbis menceritakan sesuatu padamu?” tanya Reven lebih kepadaku.
“Dev?” aku menggeleng. “Menceritakan tentang apa?”
“Kau, sudah mulai menjadi seperti kami. Namun prosesnya sangat lamban. Dan segalanya berawal dari dalam tubuhmu. Darahmu, bukan lagi tercium seperti darah manusia. Kau tahu bukan kalau vampir sangat peka terhadap darah? Dan tidakkah kau bertanya-tanya kenapa Deverend sama sekali tidak bereaksi apa-apa ketika melihat darahmu yang mengalir dari luka yang timbul akibat kecerobohanmu ketika kau berlatih memanah?”
Aku mecoba mengingat dengan jelas kapan itu, ketika aku kembali mendengar suara Reven yang tanpa tekanan, datar. “Kau melupakannya? Bukankah ketika itu kau dan Deverend Corbis berciuman dengan sangat mesra?” dia melirikku sekilas dan wajahku memerah malu ketika aku ingat potongan ingatanku itu.
“Berciuman mesra?” Lyra berteriak, memandangku dengan bengis, seolah-olah dia akan menelanku bulat-bulat saat itu juga.
“Itu sudah lama sekali.” Aku membela diri.
“Aku tidak peduli.” Kata Reven. “Yang jelas setelah itu aku semakin yakin. Dan masih ingatkah kau, Sherena? Ketika aku melihat semua kilasan kenangan Noura mengendap dalam darahmu?”
Reven tidak perlu mengingatkanku lagi. Aku ingat. Masih ingat jelas sekali bagaimana dia memperlakukanku dengan kasar dan.. astaga, aku masih mual mengingat bagaimana dia menghisap darah yang keluar dari luka di tanganku ketika itu.
“Ingatan Noura? Dalam diri Sherena?”
Reven mengangguk, menjawab Lyra yang masih belum menyingkirkan wajah marahnya ketika memandangku. “Namun kita beruntung. Manusia serigala tetap tidak akan menyadari perubahan bau darah Sherena. Bagi kaum bodoh itu, semua darah sama saja.”
Lyra tertawa, mengucapkan sesuatu yang tidak aku dengar dengan baik. Aku menatap desa yang nantinya akan menjadi tempatku melakukan tugas. Entah kenapa, banyak pikiran berseliweran di otakku.
Darahku? Sudah bukan darah manusia lagi? Jadi.. seperti ini akahirnya. Aku tahu. Cepat atau lambat, predikat half vampire ini akan menghilang, dan aku akan menjadi vampir seutuhnya. Aku.. akan seperti Reven, Damis, Rosse.. Aku, akan menjadi vampir.
“Sherena.”
Aku menoleh dengan tidak bersemangat, menemukan Reven sedang menatap ke arahku, “Kau masih ingat tentang tugas yang sudah kukatakan padamu?”
“Cari seseorang bernama Morgan Feersel dan dekati dia. Cari tahu sebanyak mungkin darinya tentang tujuan terselubung kawanan serigala itu berbaur dengan para manusia.” Aku mengulang semua yang dikatakan Reven padaku ketika dia naik ke atas, ke kamarku dan menemuiku.
“Ingatanmu cukup bagus.”
Aku memandang Reven dengan tidak percaya. Apa itu tadi pujian? Reven memujiku?? Apa aku tidak salah dengar?
“Nah, dengarkan aku sekarang. Ini tentang rencana yang kita gunakan untuk membuatmu menyusup ke dalam sana. Lyra sudah mendengar tentang ini jadi kau sebaiknya fokus.” Aku melirik Lyra ketika Reven mengatakan ini, dan entah aku yang salah melihat atau bukan, aku melihat kilatan senang di mata Lyra. Dan aku punya firasat buruk tentang rencana ini.
“Kita akan mendekat ke hutan perbatasan desa. Dan ketika mereka sudah mencium bau kita, kau sudah harus mulai bertindak Lyra.”
“Oh dengan senang hati, Rev.” Sahut Lyra ceria.
“Tindakan apa?” aku semakin curiga.
“Memukulimu.” Lyra terkekeh. Aku membelalak tidak percaya, “Apa maksudnya dengan memukuliku?” tuntutku, meminta penjelasan pada Reven.
“Kau dan Lyra akan bertarung. Keahlianmu sebagai heta akan sangat kita butuhkan disini. Kalian berdua harus bertarung dengan sungguh-sungguh. Aku memperbolehkan ada darah dan semua hal-apapun, yang akan membuat pertarungan kalian benar-benar terlihat seperti seorang heta yang sedang sangat gigih melawan seorang vampir. Namun yang terpenting, pada akhirnya kau harus kalah Sherena. Dan membiarkan para manusia serigala itu menolongmu.”
Di bagian ini aku melihat Lyra, tanpa bersusah payah tersenyum lebar sekali dan aku jelas tidak akan meragukan bahwa nanti dia akan benar-benar serius bertarung denganku. Ini sama saja seperti memberikan satu tembikar penuh darah kepada vampir yang kelaparan.
“Setelah itu, keberhasilan tugas ini berada di tanganmu. Katakan apapun yang membuat mereka mempercayaimu. Satu lagi, jangan mengatakan sesuatu yang berhubungan dengan dirimu yang sebelumnya. Desa itu memang tidak dilindungi oleh slayer, tapi tetap saja berbahaya mengungkapkan bahwa kau adalah seorang heta sebelumnya. Mereka mungkin saja menyelidikinya, dan namamu, Sherena Audreista, sudah diketahui oleh semua ras sebagai calon ratu kami. Gunakan nama lain. Mereka hanya tahu nama itu, dan tidak tahu wajahmu. Kecuali untuk semua yang berhubungan dengan organisasi slayer kerajaan yang memang mengenalmu sebelumnya.”
“Ada yang tidak kau mengerti, Sherena?”
Aku menggeleng, secara garis besar aku mengerti dengan semua yang dikatakan Reven. “Lalu, apa aku hanya akan sendirian di desa itu?”
“Tentu saja. Apa kau pikir kami akan ikut dan membiarkan mereka membunuh kami dengan senang hati? Pertanyaan bodoh.”
Aku mengerucutkan bibirku mendengar jawaban Lyra. Aku lebih baik tidak mendengar suaranya. Aku jadi tidak fokus dan jadi sebal.
“Hanya aku yang akan mengawasimu. Tapi dari jauh. Jika mungkin ada sesuatu yang buruk terjadi padamu atau mungkin kau ingin mengatakan sesuatu yang sangat penting kau boleh memanggilku. Aku akan datang, aku membawa ramuan dari Venice yang dapat menyamarkan bau vampirku dari para manusia serigala. Tapi ramuan itu juga ada batas waktunya. Jadi, jika ada sesuatu yang tidak penting, jangan membuang-buang waktu untuk memanggilku.”
Aku mengangguk. Ya, pendengaran para vampir memang tidak bisa diragukan lagi dan ramuan penyamar bau vampir, aku baru dengar itu. Venice sudah terdengar seperti seorang penyihir saja.
“Dan jangan gunakan panahmu ketika kau dan Lyra bertarung. Itu membahayakannya.”
“Membahayakannya?” aku mengulang dengan tidak percaya apa yang baru saja dikatakan oleh Reven. Lyra terkekeh dan dia memandangiku dengan tatapan seorang pemenang, “Gunakan saja pedang atau pisau kecilmu. Kau bisa melepas busur dan anak panahmu dan meninggalkannya disini. Aku akan membawakannya padamu jika memang sudah tiba waktunya kau menggunakan benda itu lagi.” Reven menambahkan.
Aku meraba busur dan anak panahku yang tergantung di punggungnya. Melepasnya dengan enggan dan memberikannya pada Reven, yang meletakkan anak panah dan busurku dengan begitu saja di tanah. Aku baru saja akan membuka mulutku untuk protes ketika Reven sudah bicara lagi.
“Sekarang kita pergi kesana. Naiklah, Sherena.” Dia berjongkok, dan aku naik ke punggungnya tanpa membantah apa-apa lagi.
***
Aku menatap Lyra dengan marah sambil mengusap darah yang mengalir dari sudut bibirku. Dia memandangku dengan tatapan membunuh, yang kuduga benar-benar tulus, dengan seringaian yang membuatku berpikir jika Lyra, benar-benar menikmati tugasnya itu. Ah ya aku lupa, dia memang mengatakan itu ketika berbincang denganku di rumahnya.
Lyra tersenyum, “Masih sedikit lama sebelum para serigala itu muncul, Sherena. Bau busuk mereka masih agak samar. Mereka memang lambat.”
Aku mengeratkan peganganku pada pedangku dan menatapnya lurus-lurus, “Oh ya? Dan aku akan senang sekali jika punya waktu tambahan untuk bertarung denganmu.”
Salah satu alis Lyra naik ke atas, mengamatiku dengan tatapan mengejek, “Kau sudah berlumuran darah, Sherena. Dan kurasa, salah satu rusukmu ada yang memar, atau malah patah? Oh maafkanlah aku karena menyakitimu seperti itu. Padahal aku hanya menggunakan tak sampai separuh tenagaku.”
Aku meludahkan darah dari mulutku dan berlari menerjangnya, dia berkelit dengan sangat mudah dari sabetan pedangku dan ketika ada celah sempit, aku menendang dadanya dengan sangat keras, membuat dia terjatuh tersungkur cukup jauh. “Oh maafkan aku, Lyra. Aku tidak sengaja.” Sahutku dengan nada yang kubuat-buat.
Dia bangkit dengan cepat dan memandangku dengan tatapan marah, kedua bola matanya berubah merah. Sepertinya aku sedikit melukai harga dirinya. Aku tahu, sekarang dia sudah berhenti bermain-main dan akan bertarung dengan sungguh-sungguh denganku.
Aku baru saja akan mengayunkan pedangku ketika aku sudah merasakan kehadirannya di dekatku, mengangkat tubuhku dan melemparkanku dengan kekuatan penuh yang dia miliki. Tubuhku melayang dan berakhir menabrak batang pohon besar dengan cukup keras. Aku mengaduh, menyeret tubuhku untuk bangun dan menjerit keras ketika Lyra sudah di atasku dan menjambak rambutku. “Ini untuk Dev.” dia menunduk, berdesis di telingaku dan mencengkeram leherku dengan satu tangannya yang lain. Aku merasakan kuku-kuku tangannya yang panjang dan runcing menembus ke bagian kulit terluarku.
Kepalaku sudah sangat pusing dan pandangan mataku mulai berkunang, kurasa kepalaku tadi juga terbentur cukup keras dan cengkraman Lyra di leherku pun semakin menyulitkan segalanya. Aku kesulitan bernafas, sudah tidak bisa lagi mendengar ucapan Lyra dengan jelas ketika aku merasakan Lyra sudah tidak ada ditubuhku bersamaan dengan jeritannya. Samar, aku melihat dia bergulat hebat dengan sesuatu yang besar. Berbulu. Moncong itu. Serigala?
“Kau tidak apa-apa?”
Pandanganku semakin berkunang, aku tidak bisa melihat dengan jelas siapa, apa atau.. “Kau bisa mendengarku? Kau baik-baik saja, nona? Nona!!”
Gelap. Semakin gelap. Sedetik kemudian, aku sudah tidak bisa melihat atau mendengarkan apa-apa lagi
***
“Nona..”
Aku mencoba memfokuskan pandanganku yang masih samar-samar. Dan retina mataku menangkap beberapa pasang mata sedang memandangiku. Aku mencoba bangun dan kepalaku berdenyut menyakitkan, “Argg..”
Sepasang tangan menangkap tubuhku, “Berbaring saja dulu. Kau belum sembuh benar.”
Aku menurut karena sepertinya dia sepenuhnya benar. Kepalaku masih berdenyut keras dan seluruh tubuhku sakit. Aku memegang kepalaku dan menemukan dahiku dibebat dengan kain.
“Kau terluka cukup parah. Bagian belakang kepalamu terbentur dengan cukup keras dan beberapa rusukmu patah. Belum lagi memar di tubuhmu dan goresan-goresan luka lainnya-”
Aku menatap si pemilik suara itu lekat-lekat. Kulitnya bukan putih pucat seperti yang biasa aku lihat. Kulitnya berwarna kecoklatan, seperti karena terlalu lama berada di bawah sinar matahari dan wajahnya, tampan. Rahangnya kokoh dengan alis tebal dan mata yang bersorot tajam. Sorot mata ini mirip Reven, hanya saja lebih hidup. Bola mata itu juga tidak biru tapi hitam.
“Nona.. nona kau mendengarku?”
Aku mengerjap dan mengalihkan pandanganku dari laki-laki itu ketika aku mendengar kikikan tertahan di ruangan ini. “Sepertinya dia terpesona padamu sampai tidak bisa berkata apapun.” Kata seorang laki-laki lain yang ada di samping laki-laki beralis tebal yang sedang kupandangi tadi.
“Buk-bukan seperti itu.” Aku tergagap, mencoba membela diri.
Laki-laki beralis tebal itu malah tersenyum tipis. “Beristirahatlah dulu dan jangan bicara apapun lagi. Kami akan meninggalkanmu untuk tidur. Dan setelah kau sudah cukup sehat untuk mengangkat kepalamu, kita bisa berbicara lagi.”
“I-iya.” Jawabku dan dia hanya mengangguk, memberi kode paada teman-temannya untuk pergi mengikutinya. Ketika pintu kayu itu tertutup, aku mencoba mengerakkan kepalaku. Meski masih sedikit pusing, aku mencoba mengamati tempat ini. Ruangan ini sangat jauh berbeda dengan ruanganku di kastil. Ya, sangat jauh berbeda. Disana semuanya indah, meja kayunya diukir dengan rumit dan cantik, beludru-beludru lembut menjuntai menutupi jendela kamarku dan lemari besar tempat aku menemukan banyak gaun-gaun cantik di dalamnya juga dibuat dari kayu berkualitas paling baik dengan ukiran yang sama cantik dengan ukiran-ukiran kayu lain yang ada di dalam sini.
Aku menelan ludahku, sementara itu disini.. bahkan lebih buruk dari kamar di asrama hetaku dulu. Jendela kecilnya hanya ditutupi kain coklat kumal yang menjuntai menyedihkan. Meja dan beberapa kursi hanya terbuat dari kayu dan sangat tidak artistik. Pintunya pun juga dari kayu, tanpa ukiran, tanpa hiasan apa-apa. Dindingnyapun sama, kayu. Rumah kayu. Ketika udara dingin, pasti aku sudah mati beku disini.
Aku menghela nafas. Setidaknya aku sudah berhasil masuk. Setelah ini aku hanya perlu mencari yang mana Morgan Feersel, mendekatinya dan mencoba mengorek informasi sebanyak-banyaknya dari dia. Sepertinya ini tidak sulit. Aku mengalihkan pandanganku dan beralih memandang langit-langit kamar yang dihiasi sarang laba-laba sambil memikirkan Lyra dan Reven. Apa mereka baik-baik saja? Aku tidak ingat benar apa yang terjadi setelah Lyra membuatku menghantam sebuah batang pohon yang cukup besar dengan kuatnya. Aku tidak tahu apa yang terjadi setelah aku melihat dia bergulat dengan sesuatu yang.. ah ya, serigala besar. Manusia serigala. Aku tidak yakin manusia serigala itu cuma satu, sepertinya suara-suara yang kudengar sebelum aku pingsan itu cukup banyak. Apa Lyra berhasil lolos?
Dia pasti baik-baik saja. Lagipula ada Reven yang mengawasi semuanya dari kejauhan. Jika Lyra tidak sanggup mengatasi manusia serigala yang menyerangnya, Reven pasti menolongnya. Dan aku jelas tidak akan meragukan kemampuan bertarung Reven. Meski aku memang belum pernah melihat Reven bertarung secara serius sebelumnya. Aku hanya pernah sekali melihatnya bertarung, itupun di pertemuan pertama kami ketika dia sedang dalam tugas untuk membawaku ke kastil dan aku yakin ketika itu Reven sama sekali tidak berminat melakukan tugasnya itu dengan baik karena aku ingat betapa terlihat tidak bersemangatnya muka Reven.
Keningku berkerut, kenapa aku malah memikirkan Reven? Ah entahlah, kepalaku menjadi semakin pusing dan aku menarik selimut tipis yang menutupi separuh tubuhku ke atas wajahku. Aku butuh istirahat.
***
Aku mengerjap-erjap dengan kesal ketika sinar matahari yang terik menerpa wajahku, menyilaukanku dan membuatku tidak bisa tidur lagi. Siapa sih yang membuka tirai jendela ruanganku?
“Damis.. tutup tirainya. Aku masih mau tidur.” Teriakku sambil menarik selimutku menutupi wajahku. Aku masih sangat mengantuk dan sinar terik matahari ini membuatku sul-Sinar matahari?? Tunggu dulu, sejak kapan tempat ini disinari sinar matahari yang menyilaukan seperti ini. Mataku terbuka lebar di bawah selimutku. Mencoba mengingat apa yang sudah terjadi.
“Siapa itu Damis?”  
Astaga? Aku membuka selimut yang menutupi wajahku dengan tergesa dan menemukan wajah laki-laki beralis tebal yang sebelumnya kulihat sudah ada di kamar ini lagi, memandangiku sambil duduk di salah satu kursi yang sepertinya ditariknya sampai ke tepian tempat tidurku.
“K-kau. Ma-maaf.” Aku beringsut bangun dengan kesulitan dan dia membantuku duduk, bersandar pada bantal-bantal yang terburu ditatanya untukku.
“Terima kasih.” Bisikku.
“Kau bangun juga akhirnya. Aku kira obat yang diberikan Bibi Muriel kepadamu terlalu banyak sehingga kau tertidur cukup lama sam-“
“Obat apa?”
Kedua alisnya yang tebal saling bertaut dan dia memandangku dengan heran, “Kau tidak ingat? Dua hari lalu setelah kami menyelamatkanmu, kau demam sangat tinggi, mengigau. Dan tabib di desa ini, bibi Muriel memberimu obat yang kami paksakan kau minum ketika kau bangun tengah malam dan muntah-muntah. Setelah minum obat itu kau terus tidur, sampai hari ini.”
Dua hari lalu setelah kami menyelamatkanmu?
Apa itu artinya aku sudah tertidur selama dua hari tanpa bangun? Astaga, sepertinya Lyra benar-benar membuatku terluka cukup parah dan dia bilang apa tadi? Mengigau dalam tidur? Apa aku menyebut tentang vam-
“Apa yang kuigaukan?”tanyaku cepat sambil memandangnya.
Dia mengangkat bahunya, “Aku tidak terlalu mengerti. Hanya saja sepertinya kau menyebut nama Arshel, penyihir dan entah aku tidak tahu apa lagi. Semua igauanmu terdengar tidak jelas dan hanya seperti rintihan.”
Aku menghela nafas panjang. Arshel, dia menyelamatkanku. Aku tersenyum.
“Jadi, siapa itu Damis dan Arshel?”
“Eh?” aku menemukan mata hitam tajamnya menangkap kedua bola mataku bulat-bulat.
“Teman-teman terbaikku. Salah satunya sudah seperti kakak bagiku karena kami tinggal serumah sejak kami berdua masih kecil.”
Terdengar oh panjang dan dia masih menatapku lurus-lurus, “Ada apa?” tanyaku. Mendadak aku ingat sesuatu ketika dia berbicara lagi, “Jadi siapa kau? Bagaimana bisa kau ada di hutan perbatasan hutan ini, bertarung dengan seorang vampir perempuan seorang diri?”
“Aku She-“
.. dan namamu, Sherena Audreista, sudah diketahui oleh semua ras sebagai calon ratu kami. Gunakan nama lain. Mereka hanya tahu nama itu, dan tidak tahu wajahmu.
“Sherinn.” Jawabku ketika dia terlihat menunggu jawabanku. “Aku heta bayaran. Atau entahlah istilahnya apa, jika heta adalah pelindung keluarga kerajaan, aku ini adalah pelindung keluarga kaya yang mau membayarkul.” Aku tersenyum lebar dan dia, entah siapapun namanya, masih memandangku lagi tanpa perubahan ekspresi. Aku menelan ludahku, “Ada apa? Apa ada yang terdengar tidak benar?”
Dia menggeleng, “Jadi Sherinn, bagaimana bisa kau terdampar di desa ini, sepertinya tidak ada keluarga di desa ini yang cukup kaya untuk menyewa seorang pelindung keluarga. Dan kau-“
“Mereka sedang berburu. Tuanku itu, orang kaya yang suka berburu di hutan dan sepertinya kami memilih tempat yang salah karena bukannya berburu, kami malah diburu oleh, yah kau tahu sendiri jika kau memang yang menyelamatkanku, oleh vampir perempuan kelaparan. Vampir itu berhasil membunuh anak laki-laki kesayangannya, dia menyuruhku mengejar vampir itu. Kurasa dia ingin membalas dendam.”
“Dan kau mau-maunya mengejar vampir itu?”
Aku memandangnya tepat kekedua bola matanya dengan sangat percaya diri, “Apa lagi yang bisa kulakukan? Jika aku tidak mau, tuanku pasti akan langsung membunuhku. Lagipula kurasa itu memang tugasku, aku dibayar untuk melindungi keluarganya dan aku gagal.”
Dia mengangguk, terlihat jelas maempercayaiku. “Kau beruntung kalau begitu. Kurasa vampir yang kau kejar itu sangat kuat. Ketika kami akan menangkapnya, dia melawan dengan sangat gigih dan ketika kami sudah akan berhasil membunuhnya, seorang vampir laki-laki lain datang dan menyelamatkannya. Yang satu itu sangat hebat dan dia bisa pergi dari kepungan kami semua dengan sangat mudah.”
Jadi mereka benar-benar selamat? Syukurlah.
“Apa kau akan kembali ke tuanmu itu?”
Aku mengerjap pelan dan memasang wajah sedih, “Entahlah. Aku belum tahu, tapi kurasa dia akan menghuk-“
“Tinggallah disini sampai kau sembuh. Dan setelah itu kau bisa memilih sendiri akan pergi dari desa ini atau menetap disini.”
Aku membulatkan kedua bola mataku, semudah ini aku bisa tinggal di desa ini? Mereka ini memang orang yang baik atau bodoh sih? Bagaimanapun, aku ini kan tetap orang asing dan ..
“Bibi Muriel menyuruhku memberikanmu sup ini jika kau terbangun. Makanlah.” Katanya sambil mengambil semangkuk sup yang asapnya masih mengepul, dari atas meja kayu kecil di samping tempat tidurku. Dia menyorongkan satu sendok sup hangat itu kemulutku, aku memundurkan kepalaku dengan cepat, “Aku bisa sendiri.”
“Ah iya.” Katanya mengerti dan mengulurkan semangkuk sup itu kepadaku. Dia masih menatapku ketika aku menyuapkan satu demi satu sendok berisi sup hangat itu ke dalam mulutku. Aku mengabaikannya karena rasa lapar yang melandaku dan sup ini enak sekali. Aku memakannya sampai habis hanya dalam beberapa menit saja dan aku mendengar dia tertawa.
“Kau lapar sekali ya?”
Aku mengangkat wajahku, mengangguk dengan malu. Meletakkan mangkuk kosong itu kembali ke atas meja. Mengusap tepian bibirku dengan punggung tanganku dan mendapati dia masih memandangiku. Aku merasa risih. Memangnya ada yang salah dengan wajahku? Aku menyentuh wajahku dan menyadari dahiku masih dibebat oleh kain. Apa ini belum sembuh?
“Biar kuganti kainnya.”
“Ak-“
“Yang ini kau tidak bisa melakukannya sendiri.” Potongnya, dan aku mengalah. Dia melepas bebatan kain itu dengan sangat pelan seolah-olah sangat takut goresan sedikit saja bisa meyakitiku. Dia mengambil kain bersih lain dari dalam lemari di pojokan ruangan ini dan kembali ke dekatku. Membebatkan kain itu kembali ke kepalaku setelah memberikan sesuatu seperti tumbukan daun-daunan obat di atas luka di belakang kepalaku.
“Sudah.” Katanya begitu selesai, “Kau sebaiknya istirahat lagi, Sherinn. Aku akan membangunkanmu lagi siang nanti untuk minum sup obat itu lagi.”
“Sup obat? Tapi rasanya enak sekali, tidak terasa seperti obat.” Sahutku dan dia tertawa kecil, mengangguk, “Itu keahlian lain dari bibi Muriel.”
“Aku harus berterima kasih padanya.”
Dia mengangguk lagi, “Setelah kau sembuh benar, aku akan mengantarkanmu ke rumahnya. Tapi sekarang kau harus beristirahat.” Ucapnya yang terdengar seperti perintah di telingaku. Dia bangkit, membantuku untuk berbaring lagi dan menata bantal yang sebelumnya kugunakan untuk bersandar, kembali ke tempat semula. Aku berterima kasih pelan dan dia hanya menjawabnya dengan senyuman.
“Aku masih banyak pekerjaan di luar. Jadi tidurlah. Tidak akan ada yang menganggumu disini.” Dia memandangku dan ketika aku mengangguk, dia berbalik pergi. Mendadak aku teringat sesuatu.
“Kau..” panggilku ketika tangannya sudah membuka pintu kamar ini.
“Ya.” Dia berbalik
“Aku belum tahu namamu.”
Kedua sudut bibirnya tertarik ke atas, “Morgan Feersel.” Jawabnya, dan beberapa saat kemudian tubuhnya hilang di balik pintu yang menutup perlahan.

Mau Baca Lainnya?

8 Comments

  1. huwaaaaaaaa.. makin keren aja ceritanya.
    tebakanku bener klo laki-laki itu morgan feersel. hmmmm saingan Reven nih kayaknya.
    Moga moga reven cemburu nanti. Kesel jg sama sikap dinginnya sama Sherena.

  2. Perfect.. Morgan menggiurkan(?)juga…
    dia lembut banget sikapnya, tapi ngga tau jga ada rahasia apa kiranya dibalik punggungnya…
    totally, tidak pernah mengecewakan, dan walau telat akan coba ku kebut biar beres plus bebas dari penasaran 😀
    Love this story so much..

    Keep writing!

  3. I am impressed, I have to say. Very seldom do I see a blog that is both educative and entertaining, and let me tell you, youve hit the nail on the head. Your idea is important; the matter is something that not a lot of people are talking intelligently about. Im very happy that I stumbled across this in my search for something relating to this.

Leave a Reply

Your email address will not be published.