Half Vampire – Noura

Rosse tersenyum lalu menyentuh lenganku, “Terima kasih Sherena, dan aku akan meninggalkanmu untuk beristirahat di ruang tidurmu ini. Aku tidak akan menutup pintunya kalau itu akan membuatmu berpikir aku mengurungmu disini.” Katanya mengodaku, membuatku tersenyum dengan canggung.
Tak lama kemudian akhirnya aku benar-benar sendiri di tempat ini setelah Rosse mengucapkan ucapan selamat beristirahat padaku dan beranjak pergi meninggalkan tempat ini. Aku menghempaskan tubuhku di ranjang yang empuk itu, berpikir, dengan kedua tanganku berada di belakang kepala.
Aku, Half Vampire yang juga seorang pengganti calon ratu. Aku bukan manusia sepenuhnya lagi. Aku kini berbeda dengan Ar tapi aku juga tak sepenuhnya sama dengan Dev. Aku masih Half Vampire,ingat. Ah mengingat dua orang itu, Dev dan Ar, membuat perutku sakit. Aku tidak tahu apa hubungannya tapi memang seperti itu kenyataannya. Aku merindukan mereka, sungguh. Apalagi Ar. Semoga mereka semua baik-baik saja. Tapi aku ingat kalau Rosse pernah berkata bahwa Dev baik-baik saja. Aku sedikit lega. Aku memang mulai belajar mempercayai mereka. Mereka dalam arti para vampire itu karena bagaimana pun aku adalah bagian dari mereka sekarang. Apakah secepat ini aku mengalah pada takdir mengerikan ini? Entah apa yang membuatku menjadi berpikir sedangkal dan selemah ini. Aku hanya tidak tahu. Tidak tahu harus seperti apa dan bagaimana.

Aku memejamkan mataku, merasa sanagt lelah. Aku merasa kepalaku penuh tapi aku sendiri bingung bagaimana memilah pikiran mana yang paling penting. Lalu aku melihat bayangan Ar, Dev, Damis, dan aku benci mengatakan ini, Reven, berkelebat dalam pikiranku. Tapi hanya sebentar karena kemudian aku merasakan kelelahan yang tidak bisa lagi aku pungkiri menuntutku untuk menistirahatkan tubuhku.
Aku tidak tahu bagaimana tiba-tiba aku sudah lelap tertidur yang aku tahu aku beberapa saat kemudian aku merasa ada yang menyentuh bahuku pelan. Samar-samar aku juga mendengar ada suara memanggil namaku. Aku menggeliat, tidak peduli. Aku masih mau tidur lebih lama lagi.
“Rena..”
Aku membuka mataku perlahan dengan sangat enggan.dan benar-benar merasa telah di ganggu. Damis menatapku dengan mata birunya ynag sekarang berpendar lembut.
“Apa yang kau lakukan di kamar tidurku ?” teriakku kesal dan langsung bangun dari tidurku. Aku benci seseorang yang dengan lancang masuk ke area pribadiku. Yah, Rosse memang tidak mengatakan bahwa ruangan ini adalah kamar tidurku tapi aku telah menganggapnya begitu dan aku tak peduli. Ditambah bahwa aku belum memaafkan Damis untuk kejadian di hutan waktu itu aku jadi makin sebal dengannya.
“Apa yang kau lakukan di kamar tidurku?” ulangku mengabaikan permintaan maafnya.
“Ini sudah waktunya makan malam, Rena. Kau sudah tidur seharian penuh. Rosse memintaku bertanya apakah kau ingin makan malam bersama kami atau makan malam sendiri disini. Kami akan mengantar makananmu kesini kalau kau mau makan disini.” ucapnya yang terdengar terlampau sopan bagiku.
Aku ber-oh pelan lalu turun dari tempat tidurku, aku merasa harus menghormati ajakan Ratu Stevia untuk makan malam bersama. Lagipula aku juga penasaran dengan bagaimana para vampir makan malam. Maksudku apa menu makan malam mereka sama denganku. Aku membayangkan meneguk segelas darah untuk makan malamku dan aku merasa mual hanya dengan membayangkannya.
“Ah ya Rena, kau boleh memakai pakaian yang ada di dalam lemari itu dan menurutku sebaiknya kau membersihkan tubuhmu dan menganti pakaianmu. Kau nampak..” dia berhenti untuk memilih kata, “..sedikit kotor. Sepertinya.” ucapnya buru-buru menambahkan kata terakhir itu melihatku yang nampak tidak suka dengan ucapannya.
Ya sebenarnya aku memang nampak kotor. Aku belum mandi sejak malam dimana aku dibawa ke tempat ini secara paksa oleh Damis. Dan aku memang belum ganti baju sejak melarikan diri dari kastil para Heta. Aku pasti dekil sekali.
Aku mengangguk, “Ya. Dan apa kau bisa keluar dari kamarku sekarang. Karena aku ingin mandi dan berharap kau tidak ada disini saat aku keluar dari kamar mandi.” ucapku tidak ramah, tapi Damis sepertinya memahami ketidakramahanku karena dia juga hanya mengangguk dan memberitahuku kalau makan malamnya setengah jam lagi sebelum keluar dan menutup pintu kamarku.
Aku membersihkan tubuhku dengan lambat. Aku ingin menikmati kesegaran air menguyur tubuhku yang penuh daki. Ada sensasi menyegarkan dan menyenangkan ketika tubuhku sudah bersih. Setelahnya aku dibuat mematung lama di depan lemari yang pintunya terbuka. Gaun-gaun khas putri-putri kerajaan tergantung rapi memenuhi lemari itu. Aku mengambil salah satu yang paling sederhana dengan canggung. Haruskah kupakai ini? Aku tidak terbiasa menggunakan baju-baju khas bangsawan seperti ini. Aku lebih nyaman menggunakan baju-bajuku yang biasanya aku pakai di asrama heta.
Tapi akhirnya akupun memakainya juga. Aku mematut diriku lama di depan cermin. Baju ini melekat dengan sempurna di tubuhku. Sangat pas dan terkejut menyadari bahwa aku nyaman menggenakannya. Aku menggelung rambut panjangku ke atas.
Kembali kupandangi bayanganku sendiri di cermin. Terakhir kali aku memakai gaun adalah ketika pesta dansa yang khusus diadakan untuk para slayer dan heta. Aku tersenyum getir mengingat bahwa aku berdansa dengan Dev ketika itu. Dansa yang akhirnya membawa kami pada ciuman pertama kami. aku menyentuh bibirku. Dev..
Suara ketukan lembut di pintu kamarku membuyarkan semua kenangan yang sedang kuputar kembali di otakku. Aku bergegas menyelesaikan gelungan rambutku dan segera membuka pintu kamarku. Russel berdiri di balik pintu kamarku dan diam cukup lama sambil memandangku. Dia memandangku dengan sorot yang aneh. Aku merasa salah tingkah.
“Apa ada yang salah dengan penampilanku?” tanyaku buru-buru.
Dia menggeleng cepat, ”Tidak. Tidak ada yang salah dengan penampilanmu hanya saja kau terlihat mirip dengan… Ah sudah lupakan, Vlad dan Rosse sudah menunggumu untuk makan malam bersama kami.” tukasnya membuatku merasa tidak enak hati karena mungkin telah membuat banyak orang, maksudku vampir, menungguku.
Dia berbalik dan aku mengikutinya begitu aku menutup pintu kamarku.
“Russel.. boleh kutanya sesuatu?”
Dia menoleh, “Tentu saja, Sherena.”
Aku berjalan cepat menjajari langkahnya dan berkata pelan, “Tadi kau bilang Vlad dan Rosse menungguku bukan?” Russel mengangguk, “Boleh kutahu siapa Vlad? Apa dia seperti kau, Damis atau juga Russel? Maksudku..”
Russel berhenti, sekali lagi menatapku, “Dia, pemimpin kami Sherena.”
Bola mataku membesar tanpa kusadari. Dia, pemimpin kami Sherena. Pemimpin? Raja klan vampir. Oh astaga. Pemimpin?
“Tidak usah gugup Sherena. Vlad mungkin tidak terlalu ramah tapi kau tak perlu khawatir soal itu.”
Aku mencelos, penjelasannya justru membuatku merasa tidak lebih baik.
Aku diam sepanjang perjalanan kami dan Russel juga tidak bicara apapun. Sepertinya dia tipe yang tidak banyak bicara. Russel membawaku menuruni tangga dan berjalan menuju sebuah ruangan yang di tengahnya terdapat meja kayu panjang yang di kelilingi kursi-kursi tinggi. Empat kursi di antaranya sudah tidak lagi kosong.
Rosse tersenyum menatapku. Russel mempersilakanku duduk di kursi yang berhadapan dengan Rosse dan ada di samping Damis. Di ujung kursi di dekatku, duduk seorang laki-laki dengan wajah tidak bersahabat. Matanya, aku tidak suka jenis mata itu. Warna matanya nyaris merah dan jahat. Bibirnya tipis, garis wajahnya tegas meskipun sempurna. Dia memandangku ketika aku duduk. Aku buru-buru menunduk, tidak berani beradu pandang dengannya.
Aku merasakan seseorang yang lain juga menatapku sedari tadi, ketika aku mengangkat wajahku, Reven menatapku seperti menatap seseorang yang sangat dibencinya. Begitu fokus padaku tapi penuh kemarahan. Aku tidak tahu apalagi kali ini yang salah. Aku beralih memandang Damis di sampingku, dia tersenyum dan berkata pelan, “Kau cantik sekali, Rena. Meskipun penampilanmu sangat familiar untuk kami.”
Mataku menyipit, “Familiar?”
“Noura selalu suka menggunakan gaun itu dan dia juga akan menggelung rambutnya seperti yang kau lakukan ketika kami makan bersama seperti ini, Sherena.” Cetus Ratu Stevia membuatku makin tak mengerti.
Noura, nama itu sepertinya akan menjadi kunci dari semua pertanyaan dan banyak hal yang menimpaku. Akhirnya aku tahu darimana aku merasa sering mendengar nama itu. Ya, Noura. Nama itulah yang begitu sering muncul dalam penglihatan-penglihatanku sebelumnya. Tapi baru saja mulutku terbuka untuk bicara, suara berat yang pelan dan dingin membungkam keinginanku untuk bertanya banyak pada Rosse.
“Jangan membahas tentang Noura sekarang.” Lalu dia beralih memandangku, “Kau, Sherena Audreista. Selamat datang ddi tempat ini. Suka atau suka kau adalah bagian dari kami sekarang. Dan akan kukatakan sekali padamu, aku tidak akan suka bagian dari kelompokku mengendap-endap dan mencoba lari dari kelompoknya sendiri.”
Aku merasa aura berkuasa yang kuat pada Vlad. Bahkan hanya dengan bicara seperti itu, dia sudah sanggup membuatku berpikir bahwa aku tidak mungkin dan tidak akan pernah kabur dari tempat ini. Vlad membuatku terintimidasi tanpa perlu melakukan papun.
Aku mengangguk.
“Sampai saatnya kau benar-benar menjadi seperti kami, Rosse dan mereka semua akan membantumu beradaptasi disini. Kau akan mempelajari banyak hal yang berguna nantinya ketika kau menjadi calon ratu sesungguhnya.” Lanjutnya sambil memandang Reven, Damis dan Russel bergantian. “Bisa kusrahkan semua urusan ini kepada kalian?”
Mereka bertiga mengangguk. Bersamaan dengan itu Vlad berdiri, melangkah meninggalkan tempat ini. Rosse bergegas bangkit, menghampiriku dan berbisik pelan di telingaku, “Nikmati makan malammu, Sherena. Selamat datang di kelompok ini.” katanya hangat sebelum mengedip lembut dan berjalan cepat mengikuti Vlad.
Sudah? Jadi ini makan malam bersamanya? Vlad dan Rosse bahkan tak menyentuh apa-apa. Ini bahkan hanya seperti sekedar basa-basi hai kepada seorang kenalan yang lama tak bertemu. Apa-apaan ini? Padahal aku sudah berpakaian dan menyiapkan diriku dengan baik.
“Vampir tidak makan, Sherena. Kami hanya ingin menyapamu secara, yah formal.” Papar Damis menyadari ekspresi aneh di wajahku ketika Vlad dan Rosse meninggalkan kami. Aku menoleh, membenarkan perkataan Damis. Ya, vampir tidak makan makanan seperti ini. Aku memandang makanan yang tersaji begitu banyak di atas meja. Ini makanan manusia. Vampir makan darah, pikirku sinis.
Damis masih memandangku dan tersenyum, “Makanlah, Sherena. Kami tahu kau lapar.”
“Panggil saja aku Rena.” Ujarku merasa risih meereka memanggilku dengan lengkap seperti itu.
“Ah ya, Rena..” kali ini dengan nada melodius yang kentara. Aku mengabaikan Damis dan langsung mengambil beberapa potong daging, sayur dan nasi ke dalam piringku. Makanan. Air liurku hampir menetes menyaksikan makanan-makanan yang biasanya hanya kulihat disantap oleh kalangan keluarga kerajaan ini tersaji dengan bebas di depanku. Terus terang aku juga sangat lapar. Aku makan dengan cepat dan rakus.
Aku makan tanpa mempedulikan Damis, Reven maupun Russel. Bahakan jujur saja aku lupa bahwa mereka masih disini, memandangiku, sampai Damis berkata, “Pelan-pelan Rena. Kau boleh menghabiskan semuanya. Tapi pelan-pelan.”
Aku tersedak, terbatuk-batuk dan langsung meraih piala berisi air putih yang disorongkan Damis dan meneguk airnya hanya dalam beberapa tegukan cepat. “Ma-ma-maaf.” Kataku terbata-bata.
Damis tersenyum, “Tidak apa-apa.”
Aku melihat Reven berdiri dan meninggalkan kami tanpa berkata apapun. Ekor mataku mengikutinya sampai dia menghilang di balik pintu. “Reven memang seperti itu. Abaikan saja.” Damis menepuk pundakku lembut. “Lanjutkan makan malamu, Rena.” Aku mengangguk pelan. Kali ini aku melanjutkan makanku dengan pelan. Sesekali Damis mengajakku bicara dan aku menanggapinya. Tapi Russel tidak bicara apapun. Dia diam dan menantap ke jendela tinggi yang ada tak jauh di belakangku. Seperti sedang memikirkan sesuatu.
Damis berbaik hati menemaniku kembali ke ruanganku ketika makan malamku sudah selesai. Aku merasa kalau mungkin salah menilai Damis di awal karena setelah berbincang cukup banyak dengannya, aku tahu dia tidak seburuk perkiraanku dulu ketika dia dan Lyra menyerang aku dan Dev.
“Bagaimana makan malam tadi, Rena?” tanya Dev lebih seperti sekedar basa-basi daripada benar-benar ingin tahu apa pendapatku ketika kami berjalan menaiki undakan menuju lantai dua tempat ruanganku berada.
Aku menatapnya sambil lalu dan mendengus, “Sepertinya itu tidak penting bukan, kau tahu aku menikmati makan malamku.”
“Ya, sangat menikmatinya.”komentarnya sambil tersenyum menggodaku.
Aku tergelak, dia menyenangkan. Tiba-tiba aku teringat seseuatu. “Damis..”
“Ya” dia menoleh memandangku.
“Boleh kutanyakan sesuatu? Tentang Noura.”
Damis menghentikan langkahnya, dan memandang tepat di kedua bola mataku. “Apa yang ingin kau tahu tentangnya, Rena? Dan apakah sebelumnya kau sudah sedikit tahu tentang Noura?”
Aku menggeleng cepat, “Tidak sama sekali.”
Dia mengangguk-angguk, lalu kembali melangkah. Aku mengikuti langkahnya, sejajar di sampingnya menunggu ucapan apa pun yang akan keluar dari mulutnya. Jujur saja aku sangat penasaran tentang siapa Noura itu. Kenapa sepertinya semua masalahku bersumber darinya.
“Bukan kuasaku untuk menjelaskan ini padamu, Rena. Belum, belum saatnya bagimu. Nanti akan ada saatny, Rena,. Masih terlalu awal bagimu.”
Aku mendesah kecewa, dan sepertinya Damis dapat membacanya dengan jelas di wajahku karena sedetik kemudian dia berkata, “Tapi mungkin aku bisa menceritakan sedikit untuk sekedar kau ketahui sebelum Rosse atau mungkin Reven bercerita padamu.”
Aku langsung menoleh memandangnya, aku tahu dia menyadari raut mukaku yang berseri senang. Apa pun tentang Noura.
“Tapi tidak disini, tidak dengan berjalan seperti ini. Kau belum mengantukkan, Rena?” tambahnya yang langsung kujawab dengan gelenggan secepat mungkin. Dan leherku terasa sakit gara-gara itu.
“Baiklah, ikuti aku, Rena.” Katanya. Dan aku mengikutinya berjalan dengan tidak sabar. Kami berbelok ke kiri melewati patung- patung besar seukuran tubuhku. Sebelumnya aku sama sekali tidak menyadari keberadaan patung-patung ini dan mendadak aku merasa sedikit ngeri. Dengan cahaya setemaram dan konsi kastil yang sesepi ini, aku pasti akan sering berpikir bahwa mungkin saja patung-patung ini hidup.
 Damis membawaku terus melangkah sampai kami sampai di sebuah tempat yang kusadari sebagai balkon. Sangat luas dan cantik. Aku melihat banyak tanaman dan bunga-bunga dalam pot besat di sudut kanan dengan banyak sulur-sulur cantik merambat di dinding di dekatnya. Aku melangkah maju, tepian balkon dan memandang lurus ke depan. Nyari hanya kegelapan yang merambati kemanapun pandanganku mengarah. Tapi ada kegelapan lain yang begitu pekat tak jauh di depanku. Aku tahu itu kegelapan milih hutan. Beberapa siluet-siluet pepohonan yang tinggi besar dapat dengan jelas kulihat.
Tempat ini mungkin akan sangat menakjubkan kalau aku dapat melihat dengan lebih jelas. Aku akan datang ke tempat ini lagi ketika matahari besok bersinar. Aku menoleh mendengar suara Damis memanggilku, dia sudah duduk di kursi kayu panjang menghadap miring ke bagian luar kastil dan ke arah tanaman-tanaman yang ada di sudut kanan. Tangannya memberi isyarat agar aku duduk di sampingnya. Menurut, aku melangkah dan mengambil tempat di sampingnya.
“Nah sekarang kau ingin aku memulai darimana, Rena?” Damis menatapku lembut.
“Terserah padamu, aku tak tahu apa-apa tentang Noura, kau bisa memulai dari bagian mana saja yang menurutmu tidak akan membuatku bingung. Oh ya, apakah Noura itu adalah calon ratu yang meninggal itu?” tanyaku ketika tiba-tiba aku teringat cerita Dev tentang calon ratu kerajaan vampire yang terbunuh.
Damis nampak terkejut, “Darimana kau tahu itu?”
“Dev.” Jawabku singkat dan dia langsung mengangguk mengerti, “Ya tentu saja, Deverend.”
“Jadi?” tanyaku mengambang
Dia menatapku, lalu mengangguk pelan, “Ya, Noura memang calon ratu itu..” dia berhenti bicara. Aku menunggu.
“Dia adalah perempuan yang sangat cantik. Aku mengakui aku juga terpesona padanya ketika Rosse membawanya ke kastil ini untuk pertama kalinya. Dia anggun, baik dan tangguh.”
“Tangguh?”
“Ya. Sangat mahir bertarung. Dengan kemampuan-kemampuan menakjubkan. Dia sangat hebat.” Damis memandang lurus ke depan sambil bicara, seakan mengenang apa yang ingin dia ucapkan padaku, dan dia mulai bicara. Dengan suara pelan, “Noura, dia beradaptasi dengan takdirnya sebagai calon ratu dengan sangat cepat. Dia membuat kami cepat menyukainya. Dia dekat dengan kami semua. Terutama dengan Reven. Mereka begitu akrab dan intim. Aku tahu siapa yang akan noura pilih bahkan sebelum dia mengatakannya. Tapi tetap saja aku selalu mengagumi dan menghargai Noura.”
“Dia membenci permusuhan kami dengan manusia serigala. Dia selalu berusaha membuat kami menyukai mereka. Aku benci mengakui kalau usahanya sia-sia. Noura tidak akan pernah mengubah pandangan kami, vampir terhadap para manusa serigala ataupun sebaliknya. Bahkan kadang tindakan-tindakannya membuat beberapa dari kami, membencinya. Dia sangat keras kepala pada apa yang diyakininya. Hanya ketika Vlad benar-benar marah besar dan menghukumnya dia mulai menghentikan sedikit demi sedikit usaha sia-sianya itu. Apakah aku bicara terlalu banyak, Rena?” Damis menoleh ke arahku, merasa aku begitu diam. Tidak menyela tidak menanggapi. Tapi aku memang sedang fokus mendengarkannya. Noura, perempuan ini terdengar sangat menarik bagiku.
“Tidak, aku bahkan ingin kau bicara lebih banyak lagi. Sungguh.” tambahku menyadari tatapannya yang tidak percaya.
“Mungkin tidak sekarang..”
Aku dan Damis menoleh bersamaan ke asal suara itu, dan mendapati sosok Russel berdiri di pintu balkon. Memandang kami. Dan dari tatapan Damis aku tahu dia nampak ingin minta maaf.
“Rosse bilang kau harus segera mengantarkannya ke kamarnya, Damis. Dan dia ingin bicara denganmu sekarang.”
“Aku minta maaf  kalau itu membuat Rosse marah tapi aku yang meminta Damis menceritakan tentang Noura padaku.” Aku menoleh ketika Damis menyentuh pundakku dan mendapati dia tersenyum.
“Tidak apa-apa Rena, Rosse bukan ingin bicara tentang hal itu. Kami mempunyai urusan lain yang akan kami bicarakan dan lagipula bicara tentang Noura padamu bukan hal yang dilarang disini. Kau berhak untuk tahu.” Ucapnya menenangkankan dan dia beralih memandang Russel, “Kau bisa antarkan dia kembali ke kamarnya. Aku tidak suka membuat Rosse menungguku.”
“Ya” jawab Russel pelan.
“Nah ” katanya lagi sambil melepaskan tangannya dari pundakku, “Selamat malam Rena ” ucapnya manis seraya melangkah meninggalkan kami. Aku yakin mereka, Damis dan Russel saling bicara dalam tatapan mata mereka. Karena Russel mengangguk pada Damis ketika dia melewatinya.
Aku tahu beberapa vampir sanggup melakukan hal itu. Dev bahkan mampu membaca pikiran dari kami yang tidak melindungi pikiran kami dari pikiran-pikiran orang lain yang ingin tahu. Yah, tapi aku tak mau ambil pusing. Dan membiarkan Russel mengatarkanku ke kamarku dalam diam. Dia sama sekali berbeda dengan Damis yang suka bicara. Dan aku hanya mendapatkan ucapan “Selamat malam” darinya begitu aku masuk ke kamarku.
 

Mau Baca Lainnya?

2 Comments

Leave a Reply

Your email address will not be published.