Half Vampire – Penglihatan

Rosse dan Damis justru pergi lebih dulu sebelum aku, Lyra dan Dev berangkat. Aku tidak protes. Dari sikap mereka, aku tahu ada sesuatu yang penting yang harus mereka kerjakan. Ah ya aku juga ingat sama sekali tidak melihat Reven akhir-akhir ini.
Aku, Dev dan Lyra berdiri di depan kastil sambil memandang langit yah yang tentu saja masih agak kelabu. Ingatkan disini jarang sekali ada matahari.
Ah iya, Rena. Biar ku jelaskan disini. Aku tidak mau berlelah-lelahan dengan berjalan ke arah  rumahmu. Dan kau juga perlu tahu bahwa Rosse tidak ingin kita sampai bermalam disana karena situasi dan kondisinya juga tidak memungkinkan. Karena menurut pengamatan dan penyelidikan kami, beberapa slayer atau...”
Aku melirik Dev yang sedari tadi hanya diam dan sama sekali tidak memandangku.
“….. heta nampak berkeliaran disana. Kau masih dianggap buronan disana. Ingat!!”
“Ya” aku mengangguk. Aku buronan untuk klanku sendiri.
Lalu bagaimana kita kesana?” aku bertanya berusaha mengabaikan Dev yang juga mengabaikanku.
Berlari.”
“BERLARI??”

Lyra mengangguk, “Tentu saja kau sudah tahu betapa ahlinya kami dalam hal kecepatan bukan?”
“Yah tapi, aku tidak bisa.. dan..”
“Astaga,tentu saja kami tidak akan memintamu ikut berlari. Kami TA-HU bahwa kau belum sepenuhnya menjadi seperti kami. Jadi Dev akan menggendongmu.” Jelas Lyra melihat kekalutan di wajahku.
Aku menatap Dev yang tidak bereaksi meski setidaknya kali ini dia memandangku.
“Baiklah, bersiaplah agar kita bisa lebih cepat sampai. Aku tidak ingin mengulur-ulur waktu.”
Kali ini aku menatap Dev yang juga tengah menatapku, “Naiklah Rena.” Katanya pelan setelah berbalik dan membungkukkan badannya.
Aku agak ragu, tapi melihat wajah Lyra yang sepertinya sudah tidak sabar, akhirnya aku mendekat ke arah Dev dan naik ke punggungnya. Aku melingkarkan tanganku ke lehernya dari belakang ketika Dev berdiri. Aku mendengarnya berbicara dengan Lyra tapi tidak begitu fokus untuk mendengar karena bagiku berada dalam posisi seperti ini sungguh tidak nyaman rasanya. Aku jadi merasa salah tingkah dan serba salah.
“Rena..”
Iy-iyaaa..” jawabku gagap menyadari suara Dev memanggilku.
“Lebih baik kau pejamkan mata saja.”sarannya dengan formal
Ya.” Jawabku singkat. Aku memejamkan mataku, mendengar dengan tidak jelas suara Dev berbincang dengan Lyra sebelum tiba-tiba aku merasakan sensasi yang.. yah jelas sangat tidak enak. Ini lebih buruk dari naik apa pun. Membuat perutku bergejolak tidak menyenangkan. Aku mual. Entah kenapa aku merasa agak pusing sehingga aku mengeratkan pegangan tanganku pada Dev. Aku menutup mataku makin rapat. Sensasi berlari bersama vampir?. Aku tidak suka kecepatan yang berlebihan begini.
“Rena..”
Aku membuka mataku menyadari suara Dev memanggilku. Dev rupanya sudah berhenti berlari. Aku langsung buru-buru turun dari punggung Dev yang bodohnya langsung membuatku terhuyung-huyung.
“Hati-hati.” Kata Dev sambil memegangi lengan kananku.
“Iy..iya.” kataku melepaskan pegangan tangan Dev.
“Maaf.”
“Sudah.. Hentikan kalimat-kalimat tak penting tentang maaf atau apalah itu dan Dev hati-hati. Sinar matahari terik pagi ini.”
Aku menoleh sebentar ke arah Lyra sebelum terkejut menyadari kalau aku saat ini sudah berada di perkebunan apel di belakang rumahku. Astaga, ternyata kecepatan mereka, para vampir benar-benar bisa diandalkan. “Itu rumahku.” Teriakku bersemangat.
Jangan kesana dulu.” teriak Dev mengagetkanku.
“Biar kami periksa dulu.” Jelasnya kemudian. Aku mengerti, mengangguk. Mengamati Lyra dan Dev yang kini tengah memakai tudung jubah hitamnya. Ah ya, mereka  tidak tahan sinar matahari dan akupun juga akan menjadi bagian dari klan yang tidak tahan sinar matahari ini pada akhirnya. Aku mengarahkan tanganku yang bebas, menikmati kehangatan sinar mentari yang menyentuh kulitku. Mungkin, beberapa saat lagi entah dalam waktu yang cepat atau aku harus menunggu cukup lama, aku sudah tidak akan bisa merasakan kehangatan ini lagi. Bukan karena aku tidak mau tapi karena aku akan menjadi vampir sepenuhnya. Kulitku jenis yang akan terluka dan aku bahkan mungkin bisa mati jika terkena matahari. Mungkin akan seperti daging yang sedang di panggang.
“Rena, tunggu sebentar disini. Kami akan berkeliling untuk memeriksa keadaan di sekitar. Jangan pergi dari tempat ini sebelum kami kembali dan merasa bahwa sudah cukup aman bagi kita untuk masuk ke rumahmu.” Jelas Dev di balik jubah hitamnya.
Aku mengangguksekali lagi. Sebentar kemudian mereka berdua menyebar dan pergi dengan kecepatan.. yah kau tahu sendirilah. Sekarang aku sendirian, berdiri menatap rumahku dari kejauhan. Rasanya sudah lama sekali dan mendadak aku merasa sedih. Sudah sedekat ini tapi aku masih harus menunggu untuk bisa masuk ke rumahku sendiri. Mengenaskan bagiku.
Tiba-tiba aku merindukan Ar lebih dari perasaan rindu yang biasanya menghampiriku. Apa mungkin Ar masih sering mengunjungi rumah ini?Bagaimana pun dia juga banyak memiliki kenangan indah disini. Bersamaku dan bersama ibu. Aku masih memandangi rumahku sendiri. Berharap Dev dan Lyra segera kembali.
Aku masih memandangi rumah penuh kenangan itu dengan semua kenangan-kenangan indah yang mendadak berkeliaran memenuhi otakku. Aku masih fokus dengan pikiranku sendiri tanpa menyadari sedikit pun ada langkah-langkah pelan yang mendekat ke arahku.
“Sherena.. kau kah itu?”
Aku menoleh dengan penuh keterkejutan menyadari bahwa itu sama sekali bukan suara Lyra maupun Dev. “Edge.” ujarku pelan begitu mengenali sosok yang kini berdiri tak jauh dariku itu.
“Ternyata benar kau.”
Aku diam, memandangi Edge. Aku melihat busur di balik punggungnya dan pedang panjang menyisip di pinggangnya. Dan aku pun yakin semua peralatan lengkap slayer juga melekat tersembunyi di tubuhnya. Aku memindai situasi ini, bagaimanapun juga. Meskipun Edge dulu adalah teman tapi..
Entah apa yang telah dikatakan maupun yang telah diperintahkan Master kepadanya sehingga dia ada disini, di sekitar rumahku dan bukan di wilayah kerjanya yang sangat jelas kutahu bukan di daerah sini. Aku tahu dengan pasti bahwa apapun perintah Master, itu tentu bukan sesuatu yang baik untukku.
Aku melangkah mundur perlahan. Aku tanpa pertahanan apa pun sekarang. Tanpa sedikit pun alat yang mungkin mampu membuatku bertahan jika harus sampai bertarung melawan Edge. Yah melawannya yang merupakan slayer senior yang meskipun agak lebih tua dari Ar tapi memiliki kemampuan yang kurang lebih selevel dengan Ar.
Edge memandangku penuh selidik, “Rena, kau tidak berpikir bahwa aku akan menyakitimu bukan?”
Aku menelan ludahku, “Aku tahu Edge, Master tentunya memberi perintah berkenaan denganku.”
“Ya tentu saja. Semua slayer dan heta wajib menjalankan perintah tersebut.”
Aku menatapnya. Ini bukan situasi yang baik.
“Tapi Rena, kau harus ingat bahwa aku dan Ar adalah teman baik.”
Aku masih menatapnya, tidak benar-benar bisa menebak apa yang akan di katakannya.
“Memang, aku tidak bisa memungkiri bahwa Master memerintahkan kami untuk menangkapMU. Bagaimana pun juga kau telah melakukan kesalahan besar, Rena. Pengkhianatan!”
“Aku TIDAK berkhianat.” Kataku berteriak marah. Aku marah mendengar apa yang dikatakan Edge. Aku tidak mungkin akan melakukan hal serendah itu. Berkhianat terhadap kelompokku sendiri. Tidak. Edge jelas memakai pilihan kata yang salah. Aku korban disini. Aku tidak meminta takdir menjadi seorang pengganti calon ratu dan menjadi musuh klanku sendiri.
“Aku mengerti Rena, tapi seharusnya kau tak perlu melarikan diri. Kami pasti juga tidak akan melakukan sesuatu yang buruk padamu. Kami temanmu.”
Aku menggeleng, “Tapi maaf Edge, untuk satu hal itu aku tak bisa mempercayai kalian. Aku..”
“Ah ya, tinggal berbulan-bulan dengan para vampir tentunya telah banyak mengubah pandanganmu tentang kami, Manusia.”
“Hentikan Edge, mereka tidak seburuk yang selama ini kita pikirkan.”
“Oh ya?? Jadi sekarang kau pikir kami yang salah,dengan menganggap bahwa mereka adalah pemangsa bangsa kita. Rena, ternyata aku salah menilaimu selama ini. Ternyata hanya butuh beberapa bulan saja untuk mencuci otak Heta berkualitas sepertimu.”
Aku diam, benar-benar marah sampai aku tidak tahu harus bicara apa. Edge sudah keterlaluan dengan bicara seperti itu padaku. Aku tidak bermaksud membela atau menyalahkan salah satu klan. Aku hanya.. entahlah aku sendiri juga tidak paham, tapi mungkin kebaikan Damis, Rosse dan banyak vampir lainnya terhadapku selama ini memang telah mengubah presepsiku tentang mereka. Aku bagaimana pun juga mulai merasakan bahwa mereka, para vampire tidak sepenuhnya sejahat yang selama ini di ditekankan  kepada kami ketika di pelatihan.
“Tapi sudahlah tak penting juga. Pertanyaanku sekarang adalah kenapa kau ada disini sekarang?”
Edge jelas sedang menelitiku sekali lagi sekarang. Dia memandangku dengan sangat fokus. Menunggu jawabanku atau entah sedang mencoba menebak-nebak apa yang ini tengahberkeliaran di pikiranku.
“Apa yang dilakukan oleh seorang calon ratu klan vampir di wilayah manusia. Apalagi ketika seharusnya dia tahu bahwa keselamatannya tak terjamin disini?” dia masih terus menatapku.
“Aku ingin berkunjung ke rumahku, Edge”
Kedua alis Edge terangkat, “Berkunjung?”
Aku mengangguk, “Aku merindukan rumahKU.”
“Dan mereka mengizinkanmu berkunjung kesini? Sendirian? Aku tidak yakin” tanyanya dengan ekspresi yang membuatku sebal. Aku melihat dia juga tengah memeriksa sekeliling kami dengan pandangannya.
“Aku bukan tahanan disana dan mereka tidak memperlakukanku dengan tidak baik.”
Edge mengangguk. Tak menanggapi.
“Edge, kau tidak akan menangkapkukan?”
Dia diam, “Apa kau pikir aku akan melakukan hal itu padamu?” Tiba-tiba Edge  tertawa lepas, “Tidak akan kulakukan meskipun itu adalah perintah dari Master. Maaf Rena, tapi bagiku mungkin kali ini aku harus tidak profesional. Dan maaf juga ini akan jadi yang pertama dan yang terakhir kalinya. Mungkin jika entah kapan kita bertemu lagi, aku akan berusaha dengan keras untuk melaksanakan perintah Master untuk menangkapmu. Hidup atau Mati.”
Meskipun kalimat terakhir yang di ucapkan Edge agak membuatku merinding tapi aku bersyukur, mungkin jika slayer lain yang menemukanku disini. Mereka akan langsung menyergapku tanpa ragu sedikitpun.
“Kamu mau kuantarkan ke dalam Rena?” tanyanya dengan muka ramah yang biasa ku lihat ketika dulu.
Aku mengangguk tanpa ragu sedikit pun, tak sampai tigamenit. Aku dan Edge sudah ada di dalam rumahku. Seperti biasanya, rumah ini masih penuh debu. Kain-kain putih memenuhi rumah ini. Menutupi barang-barang dan semua properti rumah yang sebenarnya tak seberapa banyak.
Edge mengikuti di belakangku tanpa bicara apa pun, sepertinya dia mengerti bahwa aku ingin menyelami kenangan-kenangan indah itu sendirian. Aku berhenti di kamar ibu, duduk di tepian tempat tidur, menyibakkan kain putih yang menutupi laci tepat di dekatku. Debu-debu beterbangan tapi sama sekali tidak kuhiraukan. Aku menarik laci paling atas dan melihat jepitan-jepitan rambutku saat kecil dulu masih di simpan ibu disini. Aku mengambil jepitan rambut berhias pita putih kecil. Memakainya di rambutku yang terurai panjang.
“Cantik sekali, Rena.” puji Edge membuatku menoleh padanya.
Aku tersenyum, “Terima kasih, Edge. Rumah ini menyimpan banyak kenangan indah bersama ibu dan Ar. Aku merindukan mereka.”
Kau belum tahu tentang Ar sepertinya.”
Mataku melebar mendengar Edge menyebut tentang Ar, jujur saja ini adalah topik yang sejak tadi aku harap dia bicarakan denganku. “Bisa kau ceritakan padaku, Edge.”pintaku dengan muka memelas
“Tentu saja Rena.”katanya sambil duduk di sampingku. Aku memutar tubuhku agar duduk berhadapan dengan Edge.
“Sejak peristiwa pelarianmu dengan Dev, vampir penyusup itu. Master sebenarnya tidak terlalu menyalahkan Ar. Kau tahukan Rena, kalau entah kenapa Master sangat mempercayai Ar walau seperti apa pun beberapa slayer mencoba mengatakan bahwa Ar yang telah membantumu melarikan diri. Sejujurnya aku juga percaya Ar melakukan itu, tapi aku juga tidak akan menyalahkan Ar mengingat kau sangat berarti bagi Ar entah sebagai adik atau apa …”
“…. tapi terjadi konflik antara Ar dan Master ketika Master memerintahkan kami menemukanmu bagaimana pun caranya. Jujur saja saat itu Master sama sekali tidak mengatakan kepada kami tentang alasan kenapa kami harus menangkapku.”
“Tapi Ar mengatakan semua alasannya di pertemuan besar di istana raja saat itu. Dia dengan keras menentang usulan beberapa petinggi kerajaan bahwa kami harus membunuhmu.” Edge menatapku menunggu reaksiku, tapi sebentar kemudian dia melanjutkan, “Ar bersikeras bahwa menjadi calon ratu klan vampir juga bukan merupakan keinginanmu. Dan banyak sekali yang dia katakan untuk membelamu. Tapi Master berkeras bahwa apa pun yang terjadi keberadaanmu membahayakan bangsa kami. Di tambah dengan fakta bahwa dengan melenyapkanmu kekuatan para vampir melemah,akhirnya membuat keputusan itu disepakati semua petinggi kerajaan, Master bahkan semua slayer dan heta senior.”
“Arshel benar-benar marah saat itu, tapi perintah sudah di ucapkan dan banyak dari kami sudah disebar untuk mencarimu. Dia tidak bisa berbuat apa-apa. Dia mengurung dirinya selama berhari-hari di ruangannya. Dia bahkan tidak peduli ketika kami menyampaikan perintah bahwa dia harus bertemu dengan Master. Dia bahkan juga tak peduli ketika ada utusan resmi kerajaan yang datang kepadanya dan menyampaikan bahwa dia harus menghadap Raja.”
“Coba bayangkan Rena, dia mengabaikan raja sebagai bentuk protesnya. Akhirnya untuk pertama kalinya sejak berhari-hari kami melihatnya ke luar dari ruang pribadinya dan berjalan menuju ruangan Master. Wajahnya keras dan sinis, dia seperti berubah menjadi Ar yang sama sekali tidak kukenali.”
“Dari beberapa cerita yang ku dengar sepertinya dia berdebat sangat hebat dengan Master. Dan sejak hari itu kami sama sekali tidak pernah melihat Ar dimana pun. Entah di kerajaan, tempat pelatihan atau tempat dimana pun. Dan ruang pribadinya kosong.”
Edge berhenti bicara, dan mendadak aku menangis. “Rena, kau.. kau baik-baik saja?”
“Aku.. aku merasa bersalah, Edge. Aku telah banyak menyusahkannya. Aku telah membuat Ar terseret masuk dalam masalahku. Padahal dia.. dia begitu baik. Dia..” aku tidak mampu meneruskan ucapanku dan menunduk. Menangis.
Edge diam, dia menyentuh pundakku. Mengelusnya pelan, “Sudahlah Rena, Ar pasti baik-baik saja. Menurut gossip, dia pergi. Melepaskan jabatannya sebagai slayer untuk mencarimu. Kau tahu kan, dia punya kemampuan dan keahlian yang lebih dari cukup untuk melindungi dirinya sendiri.”
Aku mengangguk, mengucapkan terima kasih pelan dan mengusap sisa-sisa air mataku. “Edge, kalau mungkin entah bagaimana kau bertemu dengan Ar. Katakan padanya aku baik-baik saja. Katakan padanya bhwa aku diperlakukan dengan sangat baik oleh klan vampir. Katakan padanya bahwa aku sangat sangat merindukannya.”
Edge mengangguk, “Ya, aku pas..” ucapannya terhenti saat tiba-tiba kami berdua mendengar suara ribut dari arah luar. Kami bangkit bersamaan dan saling berpandangan. Lamat-lamat suara-suara itu makin keras, dan aku berani bertaruh bahwa itu adalah suara perkelahian.
Kau jelas tidak sendirian datang kesini, Rena. Mereka menemukan buruannya.”
Mereka menemukan buruannya.
Deg
Mendadak aku baru teringat pada Dev dan Lyra, pada janjiku agar aku tidak pergi kemana-mana selama mereka memeriksa. Kau juga tidak sendirian bertugas di sekitar sinikan, Edge? “ aku justru balik bertanya.
Edge mengangguk. “Aku dengan lima slayer senior lainnya.” Jelasnya, “Tapi tenang saja Rena, aku sudah berjanji tidak akan menangkapmu kali ini bukan? Lagi pula mereka tadi sedang berjaga agak jauh dari sini.”
Tidak, pasti tadi..
Aku berlari meninggalkan Edge yang langsung ikut berlari mengejarku, “Ada apa?”
“Aku bersama dua vampir, Edge dan aku yakin lima slayer lainnya telah menemukan mereka.”
“Tapi mana mungkin di cuaca sepanas ini vampir mau menampakkan dirinya. Di tambah dengan melawan lima slayer senior. Apa mereka mau bunuh diri?”
Aku menggeleng, “Kumohon jangan mempersulit mereka nantinyaEdge, bantu kami andai sesuatu yang buruk terjadi.”
“Kami???”
Aku berhenti berlari, “Aku dan teman-temank, vampire-vampir itu.”
Aku melihat kedua alis Edge menyatu menandakan dia memprotes permintaanku. Aku mengabaikannya dan meneruskan lariku. Membuka pintu rumah ini dan melihat hal yang paling tidak ku harapkan kulihat.
Di bawah terik matahari, dua sosok di balik jubah hitamnya berhadapan dengan lima orang yang semuanya nampak begitu siap untuk ke arah mereka.
Aku sama sekali tidak menyadari bahwa ketergesaanku membuka pintu tadi telah mengalihkan perhatian mereka yang kini akhirnya malah terfokus padaku. Tujuh pasang mata menatapku dengan penuh tanya tanya. Salah satu pasang mata menatapku marah. Mata milik Lyra. Sedang mata Dev menyiratkan kelegaan yang jelas begitu melihatku baik-baik saja.
Mata Dev melebar menyadari sosok Edge yang berlari di belakangku, dan entah bagaimana prosesnya. Dalam sepersekian detik aku merasakan tubuhku di terjang dan entah ada berapa banyak suara anak panah melesat begitu dekat denganku.
Tubuhku menghantam tanah dengan cukup keras, membuat kepala belakangku membentur batu-batuan yang ada di halaman rumah. Aku mengerang kesakitan sebelum bangun dan melihat Dev di sampingku dengan wajah marah ke arah lima slayer lainnya. Dan dia juga menatap Edge dengan tatapan liar, penuh nafsu membunuh. Bola matanya jadi mengerikan dan berwarna merah.
Ini kedua kalinya aku melihat Dev semarah ini sejak peristiwa terbongkarnya kejadian penyusupan yang dilakukan olehnya. Dev menarik lenganku pelan dan membawaku berdiri ke belakang punggungnya. Aku melihat wajahnya yang pucat agak memerah dan dipenuhi keringat. Ini tidak bagus, kami akan kalah kalau begini caranya. Dev dan Lyra tidak akan bertarung dengan prima dalam kondisi cuaca seterik ini. Mereka sudah kalah jumlah, dan situasi serta kondisi ini sama sekali tidak mendukung.
Aku mengusap darah yang keluar dari sela-sela rambut belakang kepalaku dan merasakan sakit di beberapa bagian tubuhku lainnya.
“Kau berdarah, Rena.
Aku mendengar suara Dev yang sarat kekhawatiran, “Aku baik-baik saja.” kilahku cepat.
“Berlarilah ke belakang pohon sebentar lagi. Sembunyi disana selama aku dan Lyra membereskan mereka berenam.”
“Tap..”
“Dan ku mohon turuti aku kali ini. Jangan membantah. Akan ku pastikan ini matahati terakhir yang akan mereka lihat.” Geramnya mengerikan
“Mereka tidak akan menyakiti kita Dev.” ucapku spontan, aku sempat menoleh pada Edge dan memandangnya penuh permohonan. Semoga dia mengerti.
“Tutup mulutmu. Mereka jelas bernafsu menghabisi kita dan menangkapmu, bodoh.”
Aku menoleh dan menyadari Lyra kini telah berada di samping kami.
“Tunggu apa lagi, serang dan bunuh dua makhluk penghisap darah itu.” teriak salah satu dari lima slayer yang berdiri tak jauh dari kami.
“Tunggu!!” teriak Edge sedetik sebelum mereka kembali menyerang kami.
“Apa lagi kali ini?”
“Aku ketua kelompok ini. Jadi kalian harus mendengarkanku.
“Edge…”bisikku tertahan.                                                                        
“Biarkan mereka pergi!!!”
“Kau gila. Perempuan itu Sherena Audreista, heta pengkhianat yang mempunyai darah sebagai calon ratu makhluk-makhluk menjijikan itu.”
“Makhluk menjijikkan dia bilang.” desis Lyra. Aku merasakan Lyra mulai tidak sabar untuk membunuh siapa pun itu yang telah bicara hal tersebut.
“Kumohon sabar sebentar, dia temanku dan aku telah memohon padanya untuk membebaskan kita kali ini saja.” bisikku pada Dev dan Lyra yang memandangku tidak percaya.
“Ini pengkhiantan, Edge. Kami tidak bisa”
“KALIAN HARUS. Aku yang mengambil keputusan disini.” katanya sambil mengacungkan pedangnya ke arah teman-temannya sendiri, “Aku yang akan mempertanggung jawabkan hal ini pada Master dan kalian tidak perlu ikut campur.”
Aku melihat mereka mulai agak ragu, melihat bagaimana Edge dengan tegas membelaku. Edge menoleh ke arah kami, “Lima detik sudah cukup bukan.” katanya yang langsung di sambut anggukan Dev, “Lebih dari cukup.”
“Kalian boleh menyerang mereka setelah lima detik yang kuucapkan selesai.” ucapnya pada lima slayer senior sebelum kembali menatapku. Aku tersenyum tulus dan benar-benar berterima kasih padanya,
“SATU..”
Aku merasakan Dev menggendongku dan dalam detik berikutnya, aku hanya merasakan mual dan sakit.
 —————————————
Aku tidak tahu bagaimana harus menggambarkan sensasi memualkan yang baru saja kurasakan. Aku tidak benar-benar siap saat Dev tadi menggendongku, sejujurnya mungkin akan lebih tepat kukatakan bahwa Dev menyambarku. Dan kecepatannya tadi, astaga! Aku benar-benar langsung merasa semua isi perutku di aduk-aduk.
Aku melompat turun dengan cepat ketika kurasakan Dev sudah benar-benar berhenti berlari, aku muntah-muntah sambil menggerang memegangi perutku. Kurasa sekarang wajahku mungkin sudah berubah menjadi sepucat mereka.
“Kau baik-baik saja, Rena?” tanya Dev sambil tangannya menyentuh bahuku, suaranya terdengar khawatir.
Aku mengangkat satu tanganku dan mengangguk, “Ya.. ak-aku baik.” Aku membalikkan badanku dan tersenyum, mengusap bibirku yang terasa kering. Mataku langsung terbeliak menyadari ada cairan kental kemerahan yang menetes dari ujung jubah Dev. “Kau terluka!!” pekikku histeris, membuka jubah hitam Dev cepat-cepat. Untung saja kami yang entah bagaimana sekarang berada di antara pepohonan tinggi dengan dahan dan daun yang begitu banyak sampai cukup kuat untuk melarang sinar matahari menerobos ke celah-celahnya.
Kau terpanah.” kataku bodoh, tanpa perlu bicara lagi aku tahu itu luka akibat anak panah. Dev menarik tangannya dariku, entah kenapa aku merasa dia merasa tidak nyaman dengan sentuhanku. Aku menatapnya nanar, aku hanya sedang mengkhawatirkannya.
“Dia tidak akan mati dengan luka kecil seperti itu.”celoteh Lyra pedas membuatku untuk pertama kalinya menyadari keberadaannya disini. Aku memandangnya sekilas dan membuang muka. Yah aku tahu, aku tahu prinsip bahwa vampir tidak akan mati dengan luka seperti itu. Mereka hanya akan mati jika sesuatu menembus tepat ke jantung mereka. Tapi bagaimana pun aku tetap merasa bahwa ini semua terjadi karena kaesalahanku. Karena keegoisanku memaksa mengunjungi rumah.
Dev berjalan menjauh dari kami, duduk bersandar di salah satu pohon yang kelihatan sangat tua. Dia menyentuh lukanya, mencongkel sisa panah yang masih menancap di tangannya dengan jari-jari tangannya yang satunya dengan begitu mudah. Aku melihat wajahnya meringis menahan sakit. Bagaimana pun juga perak tetap menyakitkan bagi para vampir. Dan ujung panah yang digunakan slayer dan heta selalu menggunakan unsure perak yang kuat.
Aku melihat dengan sedih dari kejauhan, aku tidak bisa menolong atau melakukan apapun untuknya. Dan kurasa Dev juga sedang berusaha mati-matian untuk tidak mengacuhkanku. Meskipun kadang sorot matanya mengisyaratkan hal yang bertolak belakang dengan sikapnya.
Aku menarik nafas panjang
“Kau tahu kau sangat menyulitkannya.”
Aku menoleh, memandang Lyra yang berdiri dekat tepat di sampingku sambil menyentuh pergelangan tangannya yang nampak memerah seperti terbakar.
“Apa maksudmu?”
“Kau.. dan semua takdir yang melekat padamu sekarang. Sulit baginya melenyapkanmu dari pikirannya.” katanya singkat sebelum melangkah mendekat ke Dev dan meninggalkanku termangu meresapi apa yang baru saja dikatakan Lyra
Lalu apa kau pikir melenyapkannya dari pikiranku juga hal yang mudah?
 —————————————————————-
 
“Rena…”
Aku membuka mataku dengan enggan dan mendapati sosok yang masih samar-samar duduk di tepian ranjangku.
“Ku dengar terjadi hal buruk ketika kau pergi kemarin. Maaf, Rena seharusnya akulah yang seharusnya mengantarkanmu kesana. Dengan begitu kupastikan tidak akan ada satu slayer pun yang akan bisa menyakitimu.”
Aku mengerjap-erjapkan mataku dan sosok samar-samar itu akhirnya menjadi jelas dan dapat ku kenali, “Damis..”kataku, mengucek mataku dan menarik tubuhku untuk bergerak, duduk bersandar dengan bantal-bantal lembut dan empuk menyangga punggungkuyang masih agak sakit.
“Selamat Pagi.” katanya dengan senyum yang akan bisa melelehkan gadis-gadis yang melihat, “Apa tidurmu nyenyak?” tanyanya kemudian.
Aku menatapnya, mengangkat alisku, “Ya, sebelum kau menganggu tidurku.” jawabku yang justru membuatnya tertawa. “Maaf Rena, tapi kau harus segera bangun dan menemui Reven. Kalian perlu bicara sesuatu.”
Alisku bertaut menjadi satu, “Reven??”
Damis mengangguk, “Dan apa kau masih merasa sakit Rena, kudengar kemarin kau terluka. Kepalamuberdarah. Apa parah? Apa yang dilakukan Dev dan Lyra sampai begitu bodohnya tidak bisa menjaga satu orang saja.”
“Astaga Damis, aku baik-baik saja. Kepalaku tidak apa-apa. Dan dengar, mereka berdua itu sudah sangat hebat menjagaku. Kau tidak tahu bagaimana mereka bertarung mengalahkan lima slayer senior yang kami temui di sekitar rumahku, me..”
“Mereka tidak bertarung. Slayer-slayer itu membebaskan kalian untuk pergi karena salah satu dari mereka adalah temanmu.”potong Damis yang langsung membuat mulutku ternganga. Bagaimana dia bisa tahu dan aku malah bercerita sesuatu yang tidak benar. Memalukan sekali
“Bagaimana..?”
“Dev menceritakan semuanya kepada kami, dan satu pertanyaanku. Siapa slayer itu? Apakah dia adalah slayer yang sama dengan slayer yang sempat bertemu dengan Reven ketika pertama kali kami berusaha untuk membawamu kesini?”
“Ar?? Bukan.. bukan dia. Yang menolongku itu Edge. Dia sahabat Ar.” jelasku yang disambut oh panjang yang sangat tidak bersemangat dari Damis. “Ku pikir dia mantan kekasihmu yang lain.”
Aku melotot terkejut, “Tentu saja bukan.”
Damis terkekeh melihat ekspresiku, “Aku tahu, sudah cepat bangun dan temui Reven.”
Aku bangun, turun dari tempat tidur dan melangkah malas ke pintu. Membuka pintu kamarku dan menatap Damis, tersenyum sangat manis padanya, “Nah kalau begitu silakan anda keluar dulu, tuan Damis. Saya harus bersiap dan berganti baju sekarang.”
Damis makin keras tertawa dan melangkah maendekat ke arahku, “Baiklah nona Sherena Audreista yang manis.” katanya sambil menyentuh menyentuh telapak tangan kananku dan mengecupnya singkat sebelum melangkah keluar dan melempar senyum padaku.
Aku membalas senyumnya sebelum menutup pintu ruang kamarku, berdiri perlahan sambil berpikir keras. Ada apa? Kenapa Reven ingin bertemu denganku
 
 
Aku melangkah pelan dan ragu-ragu menuju ruangan Reven. Aku tahu letaknya yang ada di lantai bawah tanah. Ruangan Reven adalah ruangan yang sama dengan ruangan tempat aku pertama kali bertemu dengan Lucia. Yah, Lucia. Sejak pertemuan kami waktu itu aku tidak pernah lagi bertemu dengannya.
Aku membuka pintu ruangan ini perlahan, dan disana. Aku melihat siluet tubuh Reven yang berdiri membelakangiku menatap perapian yang menyala di depannya. Dia berbalik, mungkin menyadari kehadiranku.
“Duduklah.” katanya dengan nada dingin milik Reven yang biasanya.
Aku melangkah masuk dan duduk  di tempat duduk yang sama dengan tempat yang aku duduki ketika aku berbicara dengan Lucia. Tapi bedanya sekarang aku akan berbicara dengan Reven yang kini sudah duduk di depanku.
“Ada apa?” tanyaku tidak ingin berbasa basi.
“Apakah kau masih sering mendapatkan penglihatan-penglihatan itu lagi selama kau disini?”
“Penglihatan?”
“Kenangan-kenangan milik Noura.”
Ah itu, aku diam. Memikirkan pertanyaan Reven.
Benar juga, aku hampir melupakan tentang penglihatan-penglihatan itu selama aku ada di kastil ini. “Tidak, sepertinya selama di tempat ini aku hampir tidak pernah mendapatkan penglihatan-penglihatan seperti itu.”
Dan untuk pertama kalinya, meskipun hanya samar dan makin samar akibat penerangan yang hanya berasal dari cahaya-cahaya lidah api, aku melihat ekspresi lain di wajah Reven. Ekspresi yang biasa ku artikan sebagai kekecewaan.
 Jujur saja aku tidak tahu kenapa Reven bertanya tentang penglihatan-penglihatan itu dan seingatku juga aku tidak pernah menceritakan kalau aku mengalami hal-hal itu selain kepada Ar. Bagaimana Reven bisa tahu??
Ah ya, dasar bodoh. Mereka tentunya menyelidiki apa pun tentang aku. Sepertinya mereka cukup detail mencari semua informasi yang berkaitan denganku. Apakah mereka juga mengetahui semua tentang keluargaku. Aku memandang Reven, meneliti ekspresi apa yang kini muncul di wajahnya. Tapi kosong, wajah itu kini sedingin biasanya. Wajah itu, sudah tidak menunjukan ekspresi kekecewaannya yang tadi.
Aku termenung, apa hubungannya penglihatanku dengannya sehingga sepertinya itu semua nampak penting dan berarti bagi Reven.
Noura.
Aku menghela nafas panjang. Berat
Aku harusnya sudah menyadari itu sejak awal. Aku juga tidak akan pernah lupa bagaimana sepertinya Reven begitu sensitif untuk semua yang berkaitan dengan Noura. Aku pun juga telah tahu tentang hubungan yang terjalin di antara keduanya dari Damis. Meskipun Damis hanya berkata bahwa Noura sebelumnya telah memilih Reven, tapi aku tidak tahu sekuat apa hubungan itu. Dan mendadak, entah kenapa dan bagaimana aku merasa ada sesuatu yang memaksaku untuk mencari tahu.
“Tapi..”
Reven memandangku cepat, jelas sekali dia menunggu apa yang akan kukatakan jadi aku melanjutkannya, “Aku merasa bahwa aku sudah begitu akrab dengan tempat ini, kadang kala aku bisa merasa telah melihat suatu tempat di kastil ini sebelumnya padahal ini kali pertama aku melihatnya..”
Reven masih memandangku dengan fokus.
“…seperti ruangan ini misalnya. Dulu, ketika pertama kali aku masuk kesini. Saat kau bersama Lucia.”tambahku buru-buru, “..aku merasa bahwa aku telah begitu sering berada di ruang ini. Sepertinya aku pernah tertidur di kursi berlengan di dekat perapian itu dengan buku yang masih terbuka di tanganku. Aku juga mencoba untuk mengubah tata ruang disini, aku pikir tempat ini terlalu gelap dan sepi. Seperti suram dan tanpa nyawa. Tapi menyebalkan sekali karena setiap aku sudah mengubahnya, ruangan ini akan kembali ke tata ruang sebelumnya saat aku berkunjung ke tempat ini selanjutnya.
“Aku juga merasa bahwa kau seharusnya tidak memilih ruang bawah tanah sebagai ruang pribadimu. Ruangan ini tidak cukup bagus, terlalu gelap, tidak ada udara segar yang masuk dan meskipun kita tidak tahan pada sinar matahari. Kita tetap memerlukan sedikit cahayanya yang terkadang indah untuk membuat ruangan ini bercahaya. Akan menyenangkan kalau kita dapat merasakan kehangatan mentari yang selama ini membakar kita, Bukan be-gi-tu, Rev….ven” mulutku terbuka lebar, aku bahkan baru menyadari kalau semua yang barusan kukatakan itu tidak pernah ada dalam pikiranku selama ini. Aku bahkan tidak pernah merasa memikirkan tentang ruangan ini dan KI-TA. Sejak kapan aku menggunakan kata itu untukmenggantikan aku dan Reven.
Mataku beralih memandang Reven, astaga! Baru kali ini aku merasakan bahwa dia benar-benar mendengarkanku. Mata birunya yang mempesona memandangku fokus, menyembunyikan semua yang entah apa pun kini yang ada dalam benaknya. Dia sama sekali tidak berkedip saat memandangku.
“Ma-maaf Reven, aku tad-di sama sekali tidak mengerti dengan apa yang barusan kukatakan. Bahkan kalau kau suruh aku menggulanginya, aku takkan bisa meski satu kalimat saja. Entahlah semua itu tiba-tiba mengalir begitu saja. Semua seperti keluar begitu saja dari mulutku. Ak..aku..”
Reven bangkit, membuatku berhenti bicara dan mengamati semua gerakannya. Dia berdiri tepat di depan perapian, memunggungiku. “Semua yang kau katakan tadi adalah semua hal yang pernah dilakukan Noura di tempat ini. Dulu dia merasakan dan melakukan semua yang tadi kau ucapkan. Jujur saja aku terkejut mengetahui semua fakta ini. Aku tidak tahu bagaimana bisa. Bagaimana sistem kerjanya sehingga hanya dengan menjadi pengganti Noura kau bisa memiliki semua kenangan dan ingatan Noura.”
“Aku tid..”
“Semua ini membuatku semakin merasa bahwa kau tidak berhak. Kau tidak berhak memiliki kemampuan itu. Kenangan dan ingatan Noura adalah haknya dan kau tidak patut mencuri lihat semua itu.”
Semua seperti berhenti bagiku. Waktu dan ruang. Aku terhenyak mendengar apa yang dikatakan Reven. Dia tidak mengacuhkanku yang mencoba membela diri. Dan tadi, dia… Dia bilang aku tidak..
Aku membuang pandanganku, merasa sakit dan perih.
“Semua hal yang terjadi padamu, entah itu penglihatan-penglihatan yang menurutku adalah serpihan ingatan dan kenangan Noura, sesungguhnya adalah hal-hal yang tidak seharusnya diberikan padamu. Kupikir sepertinya Lucia benar saat dia mengatakan padaku bahwa kau adalah pilihan yang terburuk sebagai pengganti Noura. Kurasa Lucia tidak berlebihan menebak bahwa takdir yang terjadi padamu adalah takdir yang buruk bagi kami. Mendapatkanmu sebagai pengganti calon ratu untuk klan ini. Ini keterlaluan!”
Dingin, tegas dan tajam. Reven bicara sedemikian rupa sampai aku berpikir apa dia sama sekali tidak memikirkan perasaanku. Apa dia pikir aku mau. Apa dia pikir aku ingin. Tidak!!! Kalau bisa aku ingin menolak semua takdir dan kenyataan bahwa aku adalah pengganti Noura. Aku tidak mau!!! Aku tidak menginginkannya.
“Apa menurutmu aku demikian buruk?” gumamku pelan menahan marah.
Reven berbalik, memandangku dan tanpa basi basi menjawab dengan tegas, “Ya”
Deg
Deg
Deg
Jantungku, aku merasa jantungku, hatiku.. semua organ tubuhku sakit.
Aku tidak tahu. Aku tidak mengerti.
Aku bangkit, setengah berlari meninggalkan ruangan ini. Membanting pintunya saat dengan sengaja saat aku benar-benar keluar dari ruangan ini. Aku benar-benar berlari sekarang, aku berlari. Dan merasa mataku panas
Air mata. Sial.
Kenapa malah menangis?
Aku terus berlari, keluar dari kastil ini tanpa aku tahu.
Aku berlari dan ketika akhirnya aku merasa lemas dan jatuh terduduk. Aku membungkuk memeluk lututku dan menangis tersedu-sedu.
Aku menangis dengan keras.
Aku menangis.
Aku meluapkan semua rasa sakit yang menderaku.
Aku terisak-isak.
Aku tidak tahu kenapa efek dari semua ucapan Reven tadi rasanya begitu menyakitkan bagiku. Aku tidak tahu kenapa rasanya demikian sakit sampai aku merasa sesak. Aku merasa seperti udara di sekitarku demikian terbatas. Aku merasa seperti kekurangan oksigen dan paru-paru sakit lalu jantung juga dan kemudian dengan begitu cepatnya rasa sakit itu menjalar ke semua bagian tubuhku.
Kenapa aku demikian peduli??
Kenapa aku menjadi peduli pada apa yang di pikirkan Reven.
Hanya dia yang merasa terganggu dengan kehadiranku sebagai pengganti calon ratu. Hanya dia. Damis tidak begitu. Rosse juga tidak. Russel juga tidak.
Aku masih tersedu-sedu. Menunduk dengan air mata yang membanjir membasahi pipi lalu turun dan jatuh membasahi lututku. Tubuhku bergetar hebat.
Mendadak aku merasa marah, marah pada diriku sendiri. Kenapa persepsi Reven seperti demikian berharganya sampai aku menangisinya seperti ini. Kenapa aku peduli?? Kenapa aku MAU peduli pada apa yang dipikirkannya. Kenapa hatiku merasa sangat sakit ketika dia berkata seakan-akan dia demikian kecewanya padaku. Kenapa? Sialan.
Apa pentingnya Reven bagiku. Dia bukan siapa-siapa dalam kehidupanku. Dia bukan sosok yang akan melindungiku atau akan senantiasa ada ketika aku membutuhkannya. Dia bukan sosok lembut yang bisa menenangkan hatiku. Lalu ini apa? Kenapa aku sampai seperti ini hanya karena kata-katanya tadi.
Bukankah sudah biasa? Bukankah sudah biasa mendengar beberapa vampir meremehkanku. Yang merasa aku tidak cocok berada di posisi yang semula dimiliki Noura. Aku tidak sebegini pedulinya ketika Lucia dengan demikian terang-terangan mengatakan aku tidak pantas menggantikan Noura. Tapi kenapa perasaanku jadi seperti ini ketika Reven yang bicara.
Apa yang sebenarnya kini sedang terjadi??
Noura????
Apa karena kini sebagian jiwa Noura ada di tubuhku sehingga mungkin aku juuga merasakan apa yang dulu dirasakannya kepada Reven? Apa ini karena mungkin dulu Reven adalah hal yang begitu penting bagi Noura? Sialan!!! Lalu kenapa aku yang HARUS menderita begini.
“NOURA..!!
aku berteriak kencang, aku membiarkan perasaanku terluapkan
Aku..
“Kenapa..
Aku mendongak cepat mendengar suara itu, dan disana. Tepat di sampingku, sosok tinggi semampai Lucia berdiri tegak memandang lurus ke depan. Dia tak menoleh padaku, hanya terus memandang lurus dengan ekspresi kosong.
 “..kenapa kau harus meneriakkan nama Noura di tempat ini dengan air mata mengalir sederas itu?”
 Aku berdiri, menatapnya marah, “Lalu apa pedulimu??” teriakku kesal. Sudah cukup rasanya semua beban perasaan yan menghimpitku berkenaan dengan Reven. Aku tidak mau menambah semua rasa sakit ini.
 Kepala Lucia berputar pelan menghadapku, kedua alisnya terangkat. Wajahnya menunjukkan ketidaksukaannya mendengar apa yang baru saja ku katakan. “Kau pikir aku peduli?” Lucia tertawa dengan sinis dan kembali memandang lurus ke depan. “Kau kira kenapa aku sampai menghampirimu kesini. Kau menganggu waktuku menikmati keindahan tempat ini dengan berteriak-teriak seperti orang gila begitu.”
 Dia kembali memandangku dengan sinis,”Dan aku cukup heran mendapatimu memilih tempat ini untuk menangis.” katanya mengantung , sepertinya dia belum tuntas untuk bicara namun memilih menghentikannya.
 Aku tidak berminat menjawab, yang kulakukan hanya mengamati dimana aku sekarang. Tadi aku cuma tahu berlari pergi meninggalkan Reven begitu saja tanpa ada tujuan yang jelas. 
Tempat ini….
 Ini adalah padang bunga ungu yang kutemukan dulu saat aku berjalan-jalan di sekitar kastil. Mendadak aku merasa bersyukur ada disini, aku memandangi tangkai-tangkai bunga ungu yang bergoyang-goyang tertiup angin yang semilir berhembus. Meskipun mendung dan tanpa sinar matahari, tempat ini tetap mempesona. Lalu aku beralih memandang Lucia yang masih berdiri dengan angkuh dan kedua tangan disilangkan di depan dadanya. Matanya masih menatap lurus ke depan, rambutnya yang di biarkan terurai lurus nyaris sama seperti nasib tangkai-tangkai bunga ungu yang seperti berkibar indah.
 Lucia sama dengan tempat ini. Cantik. Meskipun mukanya begitu sinis dan kadang agak jahat. Dia tetap memiliki pesonanya sendiri. Pesona yang hanya dimiliki sosoknya seorang.
 “Kenapa kau memilih tempat ini untuk menangis?” suaranya yang pelan membuyarkan semua lamunanku.
 Aku menggeleng, “Tidak tahu, aku hanya mengikuti kemana kakiku membawaku. Dan tempat inilah yang dipilihnya.” Jawabku jujur. Aku memang menyukai tempat ini. Tapi saat berlari keluar dari ruangan Reven tadi. Tempat ini bahkan tak terbersit sedikit pun di benakku.
 Sepertinya memang sudah gaya Lucia bahwa jika dia bicara denganku maka dia tidak memandangku, seperti saat ini. Aku hanya mendengar suaranya tanpa melihat sinar mata birunya.
 “Mungkin memang benar yang kudengar dalam beberapa waktu ini bahwa mungkin sekarang kau telah memiliki beberapa sifat dan kebiasaan Noura.”
 Kedua alisku bertemu, tidak paham.
 “Noura suka tempat ini dan dialah yang menanami tempat ini dengan bunga-bunga ungu itu. Dia menanam sedikit sedikit hingga entah sekarang telah menjadi padang bunga seperti ini.”
 Jadi, tempat indah ini. Padang bunga ungu ini, Noura. LAGI. Aku menelan ludahku. Apa-apaan ini. Kenapa semua harus terkait dengan Noura. Mendadak aku merasa benci dengan Noura. Mendadak aku merasa dialah penyebab aku terjebak dari semua situasi ini. Kalau saja dia tidak mati mungkin aku masih akan dengan nyaman menikmati ruangan pribadiku di kastil para Heta. Mungkin aku sekarang sedang bersama Ar untuk menyelesaikan misi yang diberikan Master kepada kami. Mungkin aku tidak akan mengenal Reven, mengenal tempat ini. Mengenal semua hal yang sekarang menekanku sebagai seorang pengganti calon ratu. Penganti NOURA.
 “Aku tidak peduli.” Ucapku singkat dan langsung berbalik pergi meninggalkan Lucia. Yah, aku memang sudah tidak akan peduli, tidak mau peduli. Terserah. Aku bosan dan lelah. Aku memang tidak ingin menjadi calon ratu klan pemangsa ini.
Aku tidak mau.

Mau Baca Lainnya?

3 Comments

  1. You ought to seriously think about working on growing this web site into a serious voice in this market. You obviously have a respectable knowledge of the areas all of us are searching for on this internet site anyways and you could potentially even earn a dollar or three from some advertising. I would explore following recent news and raising the volume of blog posts you make and I bet you’d start earning some great traffic in the near future. Just an idea, fine luck in whatever you do!

Leave a Reply

Your email address will not be published.