Half Vampire – Penyerangan

“Apa yang sebenarnya ingin kau katakan? Apa tujuanmu, Victoria Lynch?” desisnya penuh kemarahan.

“Balas dendam.”

Aku melihat buku-buku tangan Reven yang gemetar menahan semua emosinya. Dia mengenggam tangannya erat dan disampingnya, aku hanya bisa menatap bergantian ke arah Reven dan Victoria. Terus terang sampai saat ini, aku benar-benar tidak tahu ada masalah apa ini sesungguhnya.

“Aku tidak peduli pada balas dendam apapun yang kau rencanakan. Tapi jangan pernah menganggu kehidupanku dengan semua omong kosong yang akan kau ucapkan tentang kematian Noura. Jangan pernah melibatkan Noura dengan urusan kita.”

Suara Reven begitu tegas, dalam dan dingin. Aku melihat betapa dia berusaha dengan sangat keras agar tidak mengamuk. Victoria, anehnya justru tersenyum. Dia memandang Reven dengan lembut dan menyilangkan tangannya di depan dada, “Apa kau benar-benar menganggap semua yang telah dan akan kukatakan adalah omong kosong? Kau tahu bahwa aku sesungguhnya benar dalam banyak hal. Hanya saja kau terlalu pengecut untuk mengakui bahwa aku memang benar, Rev.”

Tanpa menunggu reaksi Reven, dia melanjutkan lagi ucapannya, “Aku dan Noura memang benar-benar terkoneksi entah karena apa. Mungkin saja takdir yang menghubungkan kami. Kau tahu bukan, Rev, Noura tak akan pernah menjadi seorang calon ratu tanpa adanya aku. Kutukan calon ratu tak akan pernah ada jika Vlad tidak melakukan semua ketidakadilan ini kepadaku.”

“Cukup, Lynch!”

Victoria menggeleng, “Kau harus mendengar kebenarannya, Reven. Setidaknya biar ini terasa adil. Kau juga harus mendengarkan semua dari sisiku. Bukan cuma dari apa yang dikatakan oleh Vlad.”

“Reven..” aku mengeluarkan suaraku, menginterupsi semua percakapan di luar batas ketahuanku ini. Reven memandang ke arahku dan aku masih tidak nyaman dengan pendaran matanya yang menakutkan. Menelan ludahku dengan sulit, akhirnya aku mengeluarkan suara ragu-ragu yang kentara, “Se-sebaiknya kau mendengarkan dia.”

Bola mata Reven menyipit, menatapku makin tajam. Aku menyentuh lengannya dengan cepat, “Aku tidak tahu ini masalah apa. Namun kurasa dia benar juga. Kau perlu melihat secara netral. Dari kedua belah sisi yang ada.”

“Pemikiran yang bagus, Sherena.” Suara bermelodi Victoria tersaring oleh gendang telingaku dan aku tetap bisa merasakan bagaimana dia sangat memiliki kekuatan dalam mempengaruhi pikiran lemah manusia. Tapi untungnya, aku bukan manusia sekarang.

“Apa kau tidak tahu betapa berbahayanya perempuan itu, Sherena?”

Aku memandang Reven dengan jujur dan menggeleng, “Mungkin aku memang tidak tahu. Tapi setidaknya kita akan baik-baik saja bukan? Kita hanya akan berbicara dengannya dan sudah. Seperti itu saja. Lagipula ada kau disini bersamaku, Rev.”

“Betapa manisnya.”

Reven menoleh ke arah Victoria dan mengabaikan komentanya. Dia memandang Victoria masih dengan tatapan waspada, “Bicaralah.” Katanya akhirnya.

***

“Bukan kelemahan kaum kita. Tapi kelemahan Vlad??” Lyra mondar mandir dengan gelisah di ruang makan yang ada di kastil. Sudah nyaris empat puluh menit sejak Reven meninggalkan mereka dan mereka keluar dari ruangan pribadi Vlad. Namun Damis tidak banyak berkata apa-apa. Dia diam dengan sejuta pikiran yang seolah begitu sulit untuk dibaginya bersama dirinya dan Lucia.

“Jelaskan padaku semua ini, Damis!” teriak Lyra dengan frustasi. Damis beranjak dari duduknya dan menghentikan gerakan Lyra. Dengan lembut dipegangnya kedua bahu Lyra dan dia mencoba memberi Lyra waktu untuk sedikit bernafas lega. “Duduklah, kita bicarakan semua ini dengan pikiran jernih.”

“Ta-“

“Aku mohon.”

Tatapan Damis meluluhkan Lyra dan dia akhirnya mengangguk. Mengikuti Damis yang membimbingnya duduk di kursi di sebelah Lucia. Lucia menyapukan kedua tangannya ke wajahnya dan dia mendesah dengan lelah, “Kenapa semua menjadi serumit ini?”

“Seberapa banyak rahasia yang sebenarnya tidak pernah kami tahu?” lanjutnya dengan tatapan menerawang. Damis mengamati Lucia sebelum dia berkata pelan, “Aku minta maaf untuk semua kekacauan ini. namun aku tidak bisa menjelaskan tentang masalah-masalah lain yang mungkin saja terkait dengan ini semua. Bukan karena aku tidak ingin, namun aku memang tidak tahu sebanyak yang Reven tahu.”

“Jika Reven tahu, kenapa kau harus tidak tahu? Kalian punya kedudukan yang sama di dalam kelompok kita.” sahut Lyra dengan keras. Wajahnya jelas menyiratkan kejengkelannya. Damis menghela nafas, “Kami tidak sama, Lyra.”

Baik Lyra maupun Lucia menoleh bersamaan ke arah Damis. Perkataan yang baru saja meluncur dari bibir Damis jelas sesuatu yang terasa aneh bagi mereka, “Tidak sama?” ulang Lucia dan Damis mengangguk, “Entah ini benar apa tidak jika aku mengatakan semua ini pada kalian.” Kalimat Damis mengantung. Memberikan kejelasan pada semua yang ada di ruangan ini bahwa Damis sendiripun sesungguhnya ragu.

Lucia menatap mata Damis dengan tajam, “Kau harus mengatakannya kepada kami. Kau tahu bahwa ini semua tidak benar, Damis. Ada yang salah disini. Kau jelas-jelas tahu itu. Jika kau memikirkannya sendirian, kau belum tentu akan mendapatkan jawabannya. Tapi dengan keberadaaan kami, setidaknya kita bisa memikirkannya bersama-sama.”

Lyra mengangguk, membenarkan kata-kata Lucia, “Jika memang ini rahasia yang ingin kau jaga. Maka kami juga akan menjaganya untukmu. Ini untuk kebaikan bangsa kita bukan? Lalu menurutmu apa yang mungkin bisa kita lakukan? Kami tidak mungkin membawa semua anggota kelompok dalam bahaya bukan?”

Damis memandang Lyra dan Lucia bergantian. Pikirannya bercabang-cabang. Di sisi lain dia benar-benar ingin menceritakan semuanya kepada mereka berdua, namun di sisi lain dia tahu bahwa ini adalah sesuatu yang lebih dari penting dan rahasia. Lalu bagaimanakah dia menentukan semua ini? akankah benar apa yang akan diambilnya nanti? Kilasan bayangan Russel, Vlad, Reven, Rosse berkelebatan di kepalanya.

“Damis..”

Suara lembut Lyra membawanya kembali dalam dunia ini. dan ketika dia menatap mata biru Lyra, dia tahu bahwa dia akan bicara. Dia mengangguk, “Reven sebenarnya adalah salah satu vampir kuno. Mungkin yang paling tua setelah Vlad dan Victoria.”

Kening Lucia berkerut dalam. Lyra bangkit dari duduknya dengan sigap dan memandang Damis dengan tatapan tidak percaya, “Reven apa?” tanyanya tidak percaya. Dia menghembaskan kembali tubuhnya ke atas kursi. Menggeleng dengan cepat, separuh mulutnya terbuka dan dia menatap ke mata Damis seolah mencari kebenaran disana.

Damis mengangguk, “Ya.” tegasnya, “Mungkin kalian tidak akan mempercayai ini. Tapi begitulah kenyataannya. Reven sendiri yang menginginkan fakta ini disembunyikan dari semua anggota kelompok kita. Aku tidak tahu apa alasannya, namun kurasa Reven mungkin melakukannya karena dia begitu mencintai kebebasan dan sama sekali tidak ingin terikat dengan semua aturan dalam kelompok.”

“Lalu kenapa akhirnya dia kembali ke dalam kelompok?” Lucia menunggu. Kebenaran ini jelas sangat mengejutkannya karena selama ini dia menganggap bahwa selain Noura, dialah orang yang paling dekat dan paling tahu tentang Reven. Kenyataan bahwa ternyata selama ini dia sama sekali tidak tahu apa-apa tentang Reven sangat menganggunya.

“Victoria Lynch.” Bisik Damis.

“Victoria Lynch? Bukankah dia-“

“Apa perempuan itu benar-benar nyata?” Lucia menyela ucapan Lyra, dia terlihat lebih antusias daripada sebelumnya, “Apakah perempuan itu bukan hanya legenda yang berkembang antara para vampir dan manusia serigala?”

“Sayangnya bukan.” Damis membenarkan letak duduknya. Lucia dan Lyra menunggu dengan penasaran, “Victoria Lynch benar-benar nyata. Yang aku dengar dari Reven, Victoria adalah wujud kesempurnaan perempuan paling nyata. Dia sangat mempesona lebih daripada perwujudan kaum kita selama ini, dan dia adalah pasangan Vlad.”

Lyra sudah akan membuka mulutnya ketika tangan Lucia menyentuh lengannya. Memberikan tanda agar dia diam dan membiarkan Damis bercerita sampai akhir. Lyra memandang Lucia dengan tatapan protes yang nyata. Namun sorot mata Lucia membuatnya menahan keinginannya untuk protes. Dia kembali duduk dengan tenang dan memberikan waktu bagi Damis untuk melanjutkan ceritanya.

“Aku tidak tahu bagaimana kisah lengkapnya karena Reven menolak bercerita lebih banyak padaku. Namun yang jelas, Victoria dianggap melakukan pengkhianatan besar kepada bangsa kita karena dia terlibat konspirasi dengan para manusia serigala dan penyihir murni untuk menjatuhkan Vlad. Karena hal itulah, kita membenci para manusia serigala. Kaum pengkhianat itu..” suara Damis terdengar penuh nada mencela dan baik Lucia maupun Lyra merasakan hal yang sama.

“Apa yang terjadi dengan Victoria?” Lyra akhirnya tidak dapat menahan keinginannya untuk bertanya.  Damis hanya menghela nafas panjang, “Entahlah. Bagaimana aku harus menceritakannya kepada kalian. Kisah menyangkut Victoria Lynch terlalu rumit dan komplek. “

Lucia menggeleng pelan, menatap Damis dengan ketidakpercayaan, “Kalian mengerikan.” Katanya tiba-tiba. Dia bangkit dengan cepat dan berjalan menuju pintu luar. Damis mengejarnya tak kalah cepat, menarik lengan Lucia ketika dia sudah membuka pintu ruangan ini. Memaksanya berhenti.

“Apa maksudmu?”

Dengan matanya yang bersorot tajam dia membalas tatapan mata Damis, “Kami mempercayai kalian. Vlad, Reven dan kau.. tapi kalian menyembunyikan begitu banyak hal dari kami semua. Kita adalah kelompok. Kita harusnya mempercayai satu sama lain.” Desisnya marah.

“Semua ini atas permintaan Vlad, Lucia. Kau tahu bagaimana cara kerja bukan?”

Kedua bola mata Lucia masih memancarkan sorot yang sama, sekali lagi dia menggeleng pelan. Terlihat begitu kecewa, “Aku.. tidak percaya pada semua sistem itu lagi.” Katanya dengan suara bergetar, “Karena semua itulah dia membunuh Russel. Demi sesuatu yang kita tidak tahu apa, dia membunuh anggota kelompok utamanya sendiri. Jika dengan anggota kelompok utama saja dia mampu melakukan itu, bagaimana dengan kami?”

Suara langkah kaki Lyra terdengar mendekat. Dengan hati-hati dia melepaskan cengkeraman tangan Damis pada Lucia, dan berdiri di depan Lucia. Menatap Damis dengan tatapan yang nyaris sama dengan yang diberikan Lucia, “Vlad harusnya menjadi pelindung kelompok. Hukuman memang mungkin saja diperlukan, tapi itu bagi mereka yang bersalah. Entahlah, Damis.. bahkan yang kau ceritakan malah membuatku berpikiran tak jauh dengan Lucia. Reven.. Victoria Lynch.. Vlad.. Aku benar-benar tidak mengerti bagaimana bisa kalian menyembunyikan semua itu dari kami. Kita bukan bangsa dengan darah pengkhianat. Kita tidak sama seperti para manusia serigala. Kita lebih agung dari mereka semua. Tapi kalian masih merasa kami semua tidak cukup pantas untuk mengetahui sejarah bangsa kami sendiri.”

“Calon ratu? Bahkan itu semua juga omong kosong yang kalian buat untuk melindungi Vlad dari ketakutannya sendiri. Padahal kau tahu bagaimana kami berjuang demi calon ratu kami. Kau tahu apa yang dikorbankan Dev untuk merelakan Sherena menjadi milik kalian hanya karena dia tahu bahwa Sherena adalah calon ratu kita.”

“Lyra-“

Lyra menggeleng, “Lucia benar. Kalian menggerikan. Kalian mungkin saja masih menyembunyikan ribuan rahasia lain yang lebih mengerikan dari ini. Aku.. tidak bisa percaya pada semua ini lagi. Tidak! Demi Dev. Demi kelompok kecilku. Tidak, Damis.”

“Kalian semua salah paham. Dengarkan aku sekali lagi dan duduklah. Kita bicarakan semua baik-baik.”

“Apa yang perlu kami dengarkan?” Lucia balas bertanya. Damis mengamati mereka berdua dengan setengah frustasi menghadapi dua perempuan keras kepala di depannya ini. Bagaimana pun dia tahu ada bagian-bagian dimana dia tidak boleh menceritakannya kepada sembarang orang, bahkan kaumnya sekalipun. Mereka tidak diberitahu karena semua ada alasannya. Damis memejamkan matanya beberapa detik. Menarik nafas panjang sebelum memandang Lucia dan Lyra yang menunggu jawabannya.

“Semua tentang Victoria Lynch. Setelah kalian mendengarkanku, kalian akan mengerti mengapa kisah ini tidak dikisahkan kepada semua bangsa kita. Kenapa hanya sebagian dari kita yang tahu bahwa kisah ini benar dan kenapa sebagian lain disugesti bahwa kisah ini hanyalah legenda yang diturunkan tanpa tahu siapa penuturnya?”

“Apa hubungannya Victoria dengan kematian Russel? Apa hubungannya Victoria dengan Reven? Jika tidak ada, dia tidak akan pernah menjadi penting untuk kudengarkan.” Balas Lucia masih keras kepala. Dia tetap bertahan pada pendapatnya dan bisa melihat bahwa sesungguhnya Victoria adalah kunci dari kematian calon pengantinnya.

“Menyelidiki apa yang sebenarnya terjadi antara Victoria dan para penyihir murni di masa lampau adalah tugas rahasia Russel. Dia harus menemukan bagaimana cara kutukan calon ratu itu bisa dipatahkan. Sejak awal Russel memang tidak memberitahumu kebenaran dan detail tugas rahasianya, Lucia. Kau hanya tahu bahwa dia akan melakukan sebuah tugas besar dari Vlad yang berhubungan dengan memperbaiki hubungan buruk kita dengan beberapa penyihir murni paling kuat yang hidup saat ini. Tapi itu adalah kebohongan yang kami semua setujui untuk diberitahukan kepadamu.”

Pada bagian ini Lucia jelas-jelas terlihat begitu terkejut dengan apa yang dikatakan Damis karena segalanya cocok. Apa yang Russel katakan padanya sama persis seperti yang dikatakan oleh Damis. Tak pernah terlintas dalam pikirannya bahwa Russel sanggup menyembunyikan sesuatu darinya. Lyra mengusap wajahnya dengan frustasi, “Berapa banyak kebohongan dan rahasia yang sebenarnya kalian semua sembunyikan?” teriaknya marah.

“Kutukan calon ratu? Penyihir murni di masa lalu? Victoria Lynch?? Apa yang sebenarnya terjadi ketika itu?” suara dalam dan bergetar milik Lucia membungkam amarah Lyra. Damis sekali lagi menarik nafas panjang. Dia sama sekali tidak tahu harus memulai darimana dan menceritakan bagian yang mana saja.

“Kau tidak seharusnya tahu tentang itu semua, Lucianna.”

Mereka bertiga menoleh dengan terkejut mendengar suara yang memejahkan keheningan di antara mereka. Vlad dan Rosse berdiri tak jauh dari mereka. Lucia menatap Vlad dengan sorot mata tak terjemahkan. Kedua mata menyipit ketika dia mencium aroma darah yang pekat dari arah Vlad dan Rosse. Tapi ini bukan aroma darah biasa. Aroma darah ini bukan aroma darah yang membuatnya lapar dan tergoda. Ini aroma darah yang tidak terlalu disukai kaumnya, aroma darah penyihir. Tak lama kemudia dia akhirnya juga menyadari bahwa kedua tangan Vlad berlumuran darah yang sebagian besar sudah kering.

Selain itu, Vlad dan Rosse pun sepertinya dalam keadaan yang tidak bisa dikatakan bagus. Rosse terlihat tidak tenang dengan wajah lebih pucat dari biasanya, sementara Vlad, berkobar dengan aura kemarahan yang jelas. Ada sesuatu sebelum dia kembali ke kastil ini yang telah membuatnya murka.

Namun Lucia tahu bahwa ini bukan lagi waktu baginya untuk diam dan terus tunduk pada Vlad tanpa melakukan perlawanan apa-apa. Laki-laki itulah yang telah membunuh Russel-nya. Dengan anggun dan wajah tegak, Lucia berjalan mendekat ke Vlad dan Rosse yang berdiri di tengah aula besar, “Vlad..” panggilnya masih dengan sedikit rasa hormat.

“Ada banyak pertanyaan yang ingin kuajukan kepadamu.” Lanjutnya berani. Lyra beranjak maju hendak menghentikan tindakan nekat apapun yang akan dilakukan oleh Lucia. Sebab dia, sama halnya dnegan Lucia juga merasakan betapa gelapnya aura Vlad saat ini. mungkin ini sama sekali bukan saat yang tepat bagi Lucia untuk menanyakan semuanya. Segila apapun Lyra, dia masih sanggup berpikir jernih jika harus menentang Vlad dan membuat pemimpin mereka itu lebih murka lagi daripada yang terlihat sekarang.

“Jangan.” Bisik Damis seraya mencekal lengan Lyra. Lyra menoleh ke belakang. Melihat Damis yang menggeleng ke arahnya. Lyra menelan air ludahnya dengan sulit, dia kembali menatap ke arah Lucia yang sekarang hanya berjarak tiga langkah dari Vlad.

“Kenapa..? Ke-kenapa kau harus membunuh Russel? Kenapa kau harus melakukan itu kepadanya padahal dia adalah anggota kelompok utama? Russel menghormati dan mempercayaimu, Vlad”

Ekspresi Vlad sama sekali tidak bisa ditebak. Wajah itu masih terlihat menampilkan ekspresi kemarahan pertama yang mereka lihat. Tidak terlihat dengan jelas apa yang berubah setelah Lucia menanyakan hal itu. Rosse lain lagi, dia berdiri di samping Vlad dengan wajah yang benar-benar mengabaikan Lucia. Damis merasa ada yang tidak beres disini. Sama halnya dengan Lucia, dia dan Lyra pun juga menyadari aroma darah penyihir yang menguar dari tubuh Vlad. Dan kedua tangan Vlad yang berlumuran darah pun sesungguhnya telah menjelaskan apa yang mungkin telah terjadi. Lalu Rosse? Dia bukan tipe orang yang akan diam saja dalam situasi seperti ini.

Tapi sekarang, dia benar-benar telihat tidak acuh. Wajahnya menyiratkan bahwa pikirannya telah dipenuhi sesuatu lain yang lebih penting dari ini. Ada hal lain yang benar-benar menganggu Rosse dan itu sangat jarang terjadi. Lyra merasakan cengkaraman tangan Damis mengeras, dia menatap ke arah Damis dan bisa merasakan betapa gelisahnya laki-laki yang tengah berdiri di sampingnya ini.

Ketika Vlad tidak terlihat akan bicara, Lucia menegakkan wajahnya lebih tinggi, “Kau tidak pantas menjadi pemimpin kami, Vlad. “ ucapnya terlalu berani.

Rosse untuk pertama kalinya menatap Lucia. Lyra menutup mulutnya dnegan satu tangannya dan kedua alis Damis berkerut. Mereka semua menunggu apa yang akan dikatakan dan dilakukan oleh Vlad. Detik detik berlalu dan Lucia pun tak kalah gelisah dengan semua yang ada di sini. Sudut bibir Vlad tertarik ke atas dan satu senyum paling sinis yang pernah dilihat Lucia terpasang di wajah Vlad.

“Kau harusnya belajar menjaga mulutmu, Lucia. Sebab mulutmulah yang menentukan akan jadi apa kau di masa depan.” Ucapnya pelan.

Lucia masih berusaha menegakkan wajahnya dan balas menatap ke kedua bola mata Vlad. Tangannya gemetar menahan semua perasaan gugup dan khawatir yang sedari tadi ditahannya, “Aku tahu dengan benar apa yang telah kukatakan.” Dia mempertahankan sesedikit apapun kepercayaan dirinya yang tersisa.

Vlad maju mendekat, meninggalkan jarak tak sampai satu langkah antara dia dan Lucia yang mulai terlihat ragu pada keputusannya. Tapi segalanya sudah terlambat jika dia memilih mundur, dia sudah memberontak pada Vlad. Apa yang telah dia katakan tidak mungkin dia tarik lagi. Satu-satunya yang bisa dilakukannya hanyalah menghadapi apa yang akan terjadi. Seburuk apapun itu.

“Harusnya ada satu orang lagi yang juga harus belajar untuk menjaga mulutnya selain kau.” Kedua bola mata merah Vlad menatap ke arah Damis yang ada beberapa meter di belakang Lucia. Lucia menyadari bahwa sekarang, entah dia sengaja maupun tidak, dia juga melibatkan Damis dan Lyra karena kelancangannya.

“Sejauh mana kau sudah mengetahui tentang Victoria Lynch dan kutukan calon ratu?” Kali ini Vlad beralih pada Lucia dan tatapannya seolah mengunci Lucia. Lucia sadar bahwa dia tidak bisa bergerak. Vlad melakukan sesuatu padanya.

“Sejauh mana Damis sudah memberitahumu tentang Victoria Lynch dan kutukan calon ratu, Lucianna?” ulang Vlad tegas. Lucia menelan ludahnya dengan sulit. Dia berusaha menghindari kedua bola mata Vlad, namun untuk berkedip saja dia tidak bisa. Lucia bisa merasakan tangan Vlad yang sedingin es meraba seputar lehernya. Bau amis darah penyihir yang melekat di tangan Vlad menusuk hidungnya. Lucia mengernyit.

“Sudah cukup, Vlad. Jangan melakukan itu lagi.” Teriak Rosse menghentikan apapun itu yang akan dilakukan Vlad pada Lucia. Vlad berputar, memandang ke arah Rosse sementara tubuh Lucia mendadak lemas dan merosot ke bawah. Damis dan Lyra berlari menghampiri Lucia dan membantunya bangkit.

“Jangan melukai mereka lagi. Jangan melakukan apapun pada anggota kelompok kita lagi.” Isak Rosse yang matanya sudah berkaca-kaca. Sementara itu Vlad justru menatapnya dengan tatapan marah yang kentara, “Apa yang kau katakan, Rosse?” desisnya.

Rosse menggeleng dengan cepat. Kedua tangannya menutupi telinganya. Dia terlihat begitu depresi. Air matanya sudah mengalir deras, “Tidak lagi, Vlad. Tidak lagi.” Katanya berulang-ulang seraya melangkah mundur perlahan.

“Rosse.” Damis maju, membiarkan Lyra seorang diri membantu Lucia berdiri sementara dia mendekat ke arah Rosse. Namun langkahnya terhenti ketika Vlad sudah mendekat ke arah Rosse terlebih dahulu.

“Apa yang terjadi denganmu?” tanya Vlad jelas tanpa kekhawatiran, suara yang keluar dari mulutnya bahkan terdengar lebih seperti bentakan, “Jangan katakan padaku jika semua ucapan si tua Akhtzan itu mempengaruhi dirimu.”

Rosse masih menggeleng dengan wajah basah karena air matanya. Dia benar-benar terlihat berantakan. Vlad meraih satu tangan Rosse dan mencengkeramnya kuat-kuat, “Rosse..” geramnya, “Kau tidak boleh lemah. Kau tidak boleh melakukannya. Akhtzan mengatakan itu hanya untuk membuatmu lemah. Dia tahu hatimu terlalu lembut untuk perkara Noura. Kau nyaris sama seperti Reven. Tapi kau tahu kau tidak boleh. Kau ingin jadi pendampingku selamanya bukan?” Suara Vlad melembut pada kalimat terakhirnya. Ditatapnya kedua mata basah milik Rosse, “Kau ingin tetap berada di sampingku bukan, Rosse?”

Dengan ragu, Rosse memandang ke mata merah Vlad. Perlahan dia mengangguk lemah. Vlad tersenyum tipis, “Aku tahu kau tidak akan pernah mengecewakanku.” Rosse memandang Vlad. Senyumnya terkembang membalas Vlad, “Aku…”

“Aku tahu aku tidak pernah salah memilihmu sebagai pendampingku.” Mata Rosse yang basah berpendar menatap pada Vlad yang mengatakan hal itu kepadanya. Entah kenapa, seribu keraguan dan ketakutan yang semua bersemayam di kepalanya mendadak lenyap. Dia mencintai Vlad dan dia akan melakukan apapun untuk mempertahankan agar Vlad tetap menjadi miliknya, tetap di sampingnya. Apapun..

Setelah mengucapkan kalimat itu pada Rosse, Vlad  melepaskan cengkeramannya pada tangan Rosse dan berbalik tepat beberapa langkah dari Damis. Mendadak kemarahan yang hebat kembali menguasai dirinya, “Pengkhianat tidak pernah diterima di kelompok ini.” tukasnya memandang tajam ke arah Damis seolah-olah dengan tatapannya saja dia mampu membunuh Damis.

“Ak-“

BRUAAKK

Tubuh Damis terhempas dengan keras menghantam dinding batu kastil hingga menimbulkan retakan di sekelilingnya sebelum dia sempat menyelesaikan satu kata yang ingin diucapkannya. Dengan kecepatan dan kekuatan luar biasa Vlad telah memukul Damis tanpa Damis sempat menyadarinya. Lyra menjerit keras, berlari ke arah Damis namun Vlad lebih cepat darinya dan dia berakhir dengan tangan Vlad mencengkram lehernya, “V-vl-a-lad“ Lyra tergagap, merasakan sakit yang begitu hebat di lehernya. Seolah tulang leher dan tenggorokannya akan remuk sebentar lagi.

“Le-lepaskan di-a, Vlad.” Teriak Damis dengan sisa-sisa tenaganya. Dia berusaha bangkit dengan satu tangan memegangi perutnya dan satu tangan bertumpu pada dinding di belakangnya. Darah mengalir dari sudut bibirnya. Namun Vlad tidak terlihat akan melakukan sesuatu seperti yang dimohon Damis. Lucia yang masih tidak bisa menggerakkan tubuhnya beralih memandang kepada Rosse, air matanya mengalir ketika Rosse balas memandangnya, “T-tolong me.. reka, Rosse.” Ucapnya dengan suara serak.

“Pengkhianat pantas menerima hukumannya, Lucia.”

Lucia yang masih terduduk lemas di atas lantai aula kastil yang dingin menggeleng tidak percaya pada apa yang baru saja dikatakan Rosse. Dia sama sekali tidak menyangka Rosse akan sanggup mengatakan hal seperti itu dalam situasi seperti ini. Wanita yang berdiri memandanginya dengan wajah bekas menangis itu bukan lagi seperti Rosse yang sebelumnya dia kenal.

Vlad tertawa keras mendengar jawaban Rosse, “Rosse benar.” Katanya lembut, “Pengkhianat pantas menerima hukumannya. Kau, Lyra Corbis, harusnya tidak melibatkan dirimu terlalu jauh dalam urusan kelompok utama. Kau sangat lancang. Kau mau kuberi tahu satu hal, nak?” Vlad tersenyum tipis, “Terlalu tahu banyak hal itu tak selalu berakibat baik.” Bisiknya tepat di sisi telinga Lyra.

“Le-p-paskan dia!”

Damis sudah berdiri tegak di samping Vlad dan meraih satu tangan Vlad yang digunakannya untuk mencekik Lyra yang terus meronta. Lyra melirik ke arah Damis dan entah kenapa dia begitu takut kehilangan Damis. Dia menggeleng dalam usahanya terus meronta. Sudut matanya basah. Dia tidak mau kehilangan satu orang lagi yang begitu berarti dalam hidupnya. Cukup, Dev. Cukup baginya kehilangan, Dev.

“Apa yang kau pikir sedang kau lakukan?” teriak Vlad melihat apa yang diperbuat Damis. Dengan kasar dia menyentakkan Damis dengan satu tangannya yang bebas, “Kematian Lucia dan Lyra akan menjadi hukuman bagimu agar kau bisa belajar menjaga mulutmu. Ini adalah hukuman paling ringan yang pernah kuberikan pada seseorang yang pernah mengkhianatiku.”

Dengan terseok-seok, Damis berusaha bangkit, “Kumohon..” pintanya, “Lepaskan mereka. Kumohon. Kau.. bunuh saja aku. Bunuh saja aku sebagai ganti kehidupan Lyra dan Lucia.” Damis mengangguk cepat, “Ya, bunuh saja aku sebgai gantinya, Vlad. Bunuh saja aku.” Teriaknya sangat keras.

Vlad mengerutkan keningnya. Terlihat sangat tidak senang dengan apa yang dikatakan oleh Damis, “Aku tidak pernah menyangka bahwa seorang anggota kelompok utama bangsa ini akan bermental lemah sepertimu.” Cemoohnya. Dia melepaskan cengkaramannya pada Lyra yang langsung terjatuh ke bawah begitu Vlad melepaskannya. Vlad melangkah begitu pelan ke arah Damis, “Rosse.” Panggilnya tanpa mengalihkan tatapannya pada Damis, “Bereskan dua perempuan itu.” Perintahnya.

Rosse mengamati Vlad. Tidak mengiyakan mau tidak menolak perintah Vlad. Dia menunggu pada apa yang akan dilakukan oleh Vlad. Damis merasa tubuhnya semakin lemah. Vlad melakukannya. Dia merusak sistem kerja tubuh Damis tanpa menyentuhnya. Hanya menggunakan tatapannya, dia sangup melemahkan semua kekuatan yang dimiliki Damis, “Kau membuatku kecewa telah memilihmu menjadi anggota kelompok utama ini, Damis. Bahkan menyejajarkan posisimu setara dengan Reven di hadapan anggota lain.”

“Kuberikan padamu kekuasaan dan kehormatan, Damis. Tapi malah ini yang kau berikan padaku. Sumpahmu untuk setia padaku adalah omong kosong paling menjijikan yang pernah kudengar dalam lima ratus tahun ini.”

Damis hanya memandang Vlad tanpa berusaha untuk mengatakan apapun. Dia tahu dia sudah selesai. Semuanya akan berakhir beberapa detik lagi untuknya. Dia menarik nafas panjang ketika Vlad telah berdiri tepat di depan tubuhnya. Dia bisa merasakan jantungnya yang berdetak sesuai dengan apa yang dia inginkan. Sekarang jantung itu berdetak dengan lemah seolah tahu bahwa jantung itu mungkin saja akan segera direnggut dari tempatnya sebentar lagi.

“Kau begitu sedih karena kematian Russel bukan?”

Dengan pelan Damis mengangguk. Semuanya akan berakhir.

Sebentar lagi..

“Kalau begitu akan kubiarkan kau mengetahui apa yang dirasakan Russel sebelum dia mati.” Seringai Vlad seraya menyentuhkan satu tangannya ke dada Damis. Damis memejamkan matanya. Tahu bahwa dia tidak akan puya kesempatan lagi.

“J-jangan..” Lyra meratap, menyadari apa yang akan terjadi pada Damis. Lucia menundukkan wajahnya, menangis dalam diam sementara Rosse berdiri tegak, menatap dengan wajah datar ke arah Vlad dan Damis.

Vlad maju mendekat ke arah Damis seolah akan memeluk Damis, “Ucapkan selamat tinggal pada keabadian, Damis.” Bisiknya di sisi telinga kiri Damis. Dia sudah akan menekankan tangannya ke tubuh Damis dan merenggut jantung Damis sama seperti yang sebelumnya juga dia lakukan pada Russel ketika dia melihat kilatan mata panah mengarah tepat ke wajahnya. Dia melompat mundur satu detik lebih cepat dari lesatan anak panah yang berdesing melewati sisi telinga Damis. Damis berputar cepat melihat ke asal anak panah itu, “Arshel.” Panggilnya tak percaya.

Rosse langsung bergerak siaga mencium dan merasakan kehadiran makhluk-makhluk lain di dalam kastil mereka. Vlad meraung marah menyadari bahwa dia terlalu sibuk mengurusi tiga penganggu ini sehingga dia sedikit lengah dan tidak menyadari kedatangan tamu-tamu tak diundangnya itu.

Lucia menyadari sihir Vlad yang mengunci tubuhnya melemah ketika Vlad kehilangan kontrol atas emosinya. Lucia bergerak mendekat ke arah Lyra dan membantunya mundur menjauh. Mereka berdua berjalan terseok, mundur. Merepet pada dinding dingin kastil yang kini terasa sangat asing bagi mereka. Menatap tidak percaya pada sekelompok slayer dengan persenjataan lengkap yang berdiri di depan pintu utama kastil yang terbuka lebar. Mata Lucia melebar menyadari satu sosok yang sangat dikenalnya, baik dari aromanya maupun dari wajahnya, Morgan Feersel. Putra tertua dari pemimpin ras manusia serigala. Orang yang dia mata-matai bersama Dev ketika mereka juga memiliki tugas ganda untuk melindungi Sherena yang dalam penyamaran.

Bagaimana semua orang itu bisa mencapai tempat ini? Apakah mereka begitu gila hingga nekat datang ke kastil utama ras vampir? Seharusnya mereka tahu bahwa dengan pasukan dua kali lipat ini pun, Vlad bisa mengatasinya. Slayer bukan ancaman yang serius bagi vampir setara Vlad. Jika Lucia bisa menghitung jumlah mereka sekarang pun, dia tahu itu tak akan cukup. Apalagi hanya dengan tambahan satu manusia serigala. Mereka benar-benar datang untuk bunuh diri.

“Kau..” Damis tidak bisa menyelesaikan kalimatnya ketika mendadak dia memuntahkan darah kental dari mulutnya. Lyra bergerak resah namun Lucia menahannya. Mereka tidak tahu kelompok gila itu datang untuk apa. Dalam keadaan sehat, mengahadapi mereka mungkin masuk akal bagi Lucia, meskipun mungkin akan sedikit menyulitkannya karena dia kalah jumlah. Namun sekarang, memapah Lyra saja terasa begitu sulit baginya. Meskipun Vlad sudah melepaskan sihirnya, sisa-sisa kekuatan itu melemahkan semua kekuatan dan kemampuan bertarungnya untuk sementara waktu.

“Kau tidak apa-apa?” Ar berlari menghampiri Damis dan menahan tubuh Damis yang sudah hampir roboh. Apa yang dilakukan oleh Ar jelas membuat hampir semua orang di ruangan ini kebingungan. Menolong seorang vampir yang harusnya menjadi salah satu bagian dari yang akan mereka lawan. Namun sepertinya Morgan mengerti, karena dia maju, mendekat ke arah Ar. Menepuk pundaknya sebelum dia menatak lurus ke arah Vlad yang berdiri di undakan kelima di undakan batu utama kastil ini. Rosse sudah ada di sampingnya.

“Morgan Feersel.” Kata Vlad tenang ketika akhirnya dia kembali bisa mengontrol emosinya, “Senang melihatmu berkunjung kemari. Harusnya kau memberitahuku kedatanganmu lebih awal agar aku bisa menyambutmu dengan hangat.”

Morgan tersenyum sinis, “Aku tidak butuh sambutan dari iblis sepertimu.”

“Harusnya kau memanggilku tuanmu.” Kali ini Vlad yang tersenyum, “Apakah kau bisa merasakannya? Kau kembali ke tempat dimana dulu nenek moyangmu pernah tinggal dan hidup di bawah belas kasihanku. Kau, para manusia serigala, adalah keturunan dari para budakku.”

“Aku benar-benar menyesalkan hal itu pernah terjadi dalam sejarah bangsaku, Vlad.”

Sementara Morgan dan Vlad terlibat basa basi kosong, Ar memapah Damis mendekat ke arah kelompoknya. Dengan bantuan Edge, dia membantu Damis duduk dan bersandar di dinding yang paling dekat dengan pintu utama kastil. Begitu Damis sudah terlihat nyaman, Ar menyorongkan tubuhnya mendekat, “Dimana Rena, Damis?”

Damis yang berusaha sedang mengatur detak jantung dan pernafasannya agar kembali normal, memandang Ar. Itulah untuk pertama kalinya dia menyadari tentang Rena. Menyadari perubahan raut wajah Damis, Ar memucat, “J-jangan katakan jika sesuatu sudah terjadi pada Rena.”

“Tidak.” Sahut Damis cepat ketika dia Ar terlihat begitu cemas, “Tidak. Kurasa Rena baik-baik saja.”

“Lalu dimana dia?”

Damis menyentuh dadanya yang mendadak terasa nyeri. Sesuatu yang menyakitkan juga merasuk menyakiti pusat benaknya. Ar menoleh ke arah Morgan dan Vlad. Dia menemukan senyum puas terhias di wajah kejam Vlad. Di sisi lain, dua vampir perempuan, yang salah satunya dikenali Ar ketika dia pernah mengunjungi kastil ini dulu, terlihat bereaksi sama seperti yang ditampilkan Damis.

“Aku tak punya banyak waktu bermain-main dengan kalian.” Suara Vlad terdengar bosan, “Urus mereka untukku, Rosse.” Ucapnya ringan. Rosse memandang ke Vlad dan mengangguk lembut. Morgan mengerutkan keningnya dalam. Dia masih melihat bekas-bekas air mata di wajah cantik wanita itu, mendadak dia teringat sesuatu dan dia tersenyum, “Kau masih sama ternyata.” Katanya kemudian.

Langkah Rosse yang menuruni undakan tangga terhenti, “Sama seperti yang kau lakukan pada Noura.” Suara Morgan membuyarkan ekspresi datar pada wajah Rosse. Tangan Rosse mengepal kuat namun dia tidak mengatakan apapun. Sentuhan tangan Vlad dirasakannya di pundaknya. Dia tidak menoleh, hanya balas menyentuh tangan Vlad. Memberikan tanda bahwa dia sudah sanggup menguasai semuanya.

Rosse tersenyum, memandang Morgan dengan tatapan lembut, “Kau akan melakukan taktik bodoh yang juga digunakan Akhtzan sebelum kami mengakhiri hidupnya? Sayang sekali Feersel muda. Kau tidak cukup berbakat untuk melakukannya.”

Ar yang mendengar nama ayahnya disebut sudah akan bergerak maju ketika Edge menahannya, “Biar kami yang membantu Morgan. Ingat tugasmu, Ar. Temukan Rena dan selamatkan dia. Kau adalah.. kakaknya. Aku tahu kau bisa melakukan itu.” Damis yang bisa mendengar kata-kata yang diucapkan Edge dengan jelas terperanjat kaget, “K-kakak?” bisiknya.

Edge dengan satu kode tanda tangan membawa empat orang slayer bersamanya untuk bergerak maju mendekat ke arah Morgan. Vlad justru tertawa makin keras, “Sisakan satu manusia untukku, Rosse. Aku butuh sedikit penyegar mulut setelah hari yang panjang ini.” katanya.

“Kau tahu aku tidak membunuh semua orang ini. Kau telah mengirimkan petanda itu. Mereka akan ada disini beberapa saat lagi. Kurasa mereka juga akan menginginkan beberapa hidangan pembuka sebelum makanan utama kita.”

Sudut bibir Vlad tertarik ke atas mendengar tanggapan Rosse, “Kurasa kau benar.” Ucapnya

Kening Morgan berkerut dalam ketika dia mendengar percakapan Vlad dan Rosse yang sama sekali tidak dimengertinya. Namun Damis, Lucia dan Lyra paham benar apa yang mereka berdua katakan. Damis menyentuh tangan Ar, “Kalian hanya punya waktu tak lebih dari dua puluh menit disini sebelum semua anggota kelompok terdekat datang ke sini. Vlad mengirimkan petanda kepada semua anggota kelompok agar mereka datang ke sini. Kami semua terkoneksi dengannya, Ar. “

Ar menatap Damis di bawahnya. Wajah pucat Damis terlihat lebih pucat dan bibirnya bergetar, “Kau terluka?” tanyanya mengabaikan informasi yang dikatakan oleh Damis. Damis justru tertawa. “Ironis.” Tukasnya, “Kau justru mengkhawatirkanku ketika kukatakan kau mungkin saja juga menuju kematianmu.”

“Apa yang mereka lakukan?” Ar beralih ke depan dan memandang dengan tidak percaya pada apa yang dilihatnya. Lucia dan Lyra, dua vampir perempuan yang terlihat tidak baik-baik saja itu justru bergerak maju ke arah Vlad dan Rosse, dan berdiri di depan mereka. Berhadapan langsung dengan Morgan dan para slayer yang sudah berada dalam posisi siap bertarung.

Damis tertawa kecil, “Aku juga akan melakukannya jika aku mampu menggerakkan seluruh tubuhku dengan benar.” Desahnya, “Kami bukan jenis pengkhianat, Ar. Loyalitas kami terhadap kelompok lebih besar dari yang dimiliki ras lain.”

Ar menggeleng, “Mereka bodoh. Kau dan mereka seharusnya sudah tahu siapa Vlad dan kenapa kalian masih membelanya?”

“Kau tidak akan pernah mengerti bagaimana pola pikir kami.” Damis terbatuk dan dia menyentuh dadanya. Jantungnya berdebar menyakitkan padahal dia mengatur agar jantungnya berdetak pelan dan tidak menyakiti tulang dadanya yang sepertinya patah akibat pukulan Vlad. Damis beralih memandang ke arah Vlad dan dia melihat sekilas senyuman tipis Vlad.

“Kurasa dia tidak ingin aku semakin banyak bicara.” Bisiknya lebih kepada dirinya sendiri. Ar yang mengamati Damis akhirnya mengikuti arah pandang Damis. Sedikit banyak dia membaca situasi ini dan mengerti. Menyerahkan semua pertarungan di tangan Morgan dan Edge, Ar mengedarkan pandangannya ke seluruh kastil yang bisa dijangkau jarak pandangannya.

Tidak ada, Rena. Tidak ada tanda-tanda keberadaan Rena. Rena.. dimana kau?

 << Sebelumnya
Selanjutnya >>

 

***

STOPP disini dulu. Sedikit pengumuman nih, mungkin dalam tiga atau empat chapter lagi HV sudah akan selesai. Well, sedih memang rasanya mengabarkan perpisahan ini. Tapi.. ya mau apa lagi.. begitulah. Emm dan soal update new chapter.. entahlah.. aku takutnya banyak molor. Aku sudah akan UAS sebentar lagi, belum lagi kesibukan yang berhubungan dengan organisasi dan urusan pribadiku yang rasanya numpuk-numpuk.. aku jadi khawatir dengan jadwal upload new chapter buat HV ke depannya. Jadi seandainya nanti new chapternya telaaatttt banget. Harap pengertiannya ya.

 

Salam peluk

 

Lovaa ya

Mau Baca Lainnya?

37 Comments

  1. yeaayy !!!
    setelah wara wiri berkali2 hr ney, akhr'y upload jg
    hore ! hore !
    GWS thor, moga sehat sllu byr bsa upload tiap mgu
    (hmm, ttp modus ad udang dibalik bakwan)

  2. Ahhhh…. Aakhir kmu update juga sayang… Hahaha
    duugg ngga rela deh kayanya kl harus the end … Salah crt fav aku yg selalu aku tunggu… Ternyata Vlad itu kejam bgt yah? Aku udah penasaran pengen tau story dr sisi Victoria, eh malah di ganti scene nya.. Hahaha … Im waiting for next part… Love you dear… Hahaha

  3. Ahhhh…. Aakhir kmu update juga sayang… Hahaha
    duugg ngga rela deh kayanya kl harus the end … Salah crt fav aku yg selalu aku tunggu… Ternyata Vlad itu kejam bgt yah? Aku udah penasaran pengen tau story dr sisi Victoria, eh malah di ganti scene nya.. Hahaha … Im waiting for next part… Love you dear… Hahaha

  4. Haaaa keren banget kakak..gimana nih endingnya? Haduh penasaran banget..cepet kak lanjut lagi 😀

  5. For the sake of loyalty, Lucia sm Lyra malah ngebelain Vlad !!! Duh mbaaa…. ini gimana ini kalo mereka *rombongan Morgan* malah basa-basi sm Vlad. Habis waktunya aaaaa….
    Victoria, Reven, Rena bakal ikut nimbrung kapan nih ???

  6. akhir d upload jga .
    Vlad mkin mengerikan aja . Rosse karna terlalu mencintai Vlad jdi sma mengerikan 'a kyak Vlad .

    Apa Damis akan mati ?
    Jangan . .
    Arshel sma Morgan jngan d bkin mati ya kakak .

    Sedikit dmi sdkit rahasi tntang clon Ratu terbuka .

    Ending 'a jngan d bkin gantung yah kakak .
    New chapter d tnggu .

  7. YAAMPUN tinggal 3/4 chapter lagi ya thor? Huhuhu jgn cpt2 endng thor:( eh… Gakdeng penasaran jugasi haha:P
    eh thor aku mau cerita dikit… Tau gaksi masa diwattpad lagi musimnya plagiat:( terus ada author yg karya2nya keren cerita2nya dihapus SEMUAA gara gara kena plagiat:( kasian ya thor… Kasian juga readersnya yg udh nunggu:(
    OH YA! Cerita HV makin makin makin kece keren sho menarik sangat + semoga gak sad ending ya thor:))) SEMANGATT!!!

  8. Semoga urusanmu lancar ya? Hehee semangattt!!!!

    Dan ttg HV, ajib banget laaah…. Ugh…, si Tua Vlad itu bener2 jahat… =,=" Rosse itu kena mantra apa sih? Gimana bisa gt? Trus, Lyra n Lucia mau berhadapan ama morgan n slayer? Astaga! Damis, gws ya buat kamu daaaan, penjelsan Victori ketundaaaaaaa

    next part ditunggu pake bangeeet! Ahaaa lova ya tu… 😀

  9. Semoga urusanmu lancar ya? Hehee semangattt!!!!

    Dan ttg HV, ajib banget laaah…. Ugh…, si Tua Vlad itu bener2 jahat… =,=" Rosse itu kena mantra apa sih? Gimana bisa gt? Trus, Lyra n Lucia mau berhadapan ama morgan n slayer? Astaga! Damis, gws ya buat kamu daaaan, penjelsan Victori ketundaaaaaaa

    next part ditunggu pake bangeeet! Ahaaa lova ya tu… 😀

  10. gppa molor yg penting ntar reven ma sherena…,ha3x…(maksa bgt ya..)…,btw makasih uploadnya…,semoga UASnya bisa ngerjain…urusan lancar kelarrr….(amien..)

  11. Ini pas lg enak2nya denger penjelasannya Victoria, udh srius malah.. di ganti scene -__-

    Tapi ga papa.. tinggal nunggu waktu ajah kapan kebenaran akan terungkap *alah bahasanya ^^

    Sempet nahan napas td pas detik2 eksekusi Damisnya. Tp akhirnya bisa napas dng lega.. karena gerombolan Tim Kece dateng OnTime!! 😀 *lirik Arshel&Morgan

    Daann.. knapa scene Rena&Reven??? Aku masih menunggu dengan sabar lhooo??? XD

    Daaannn… ga rela klo HV musti Ending bentar lgiiii!!!
    Poknya musti buat SEKUELnya!! *maksa 😀

    Hhh.. pokoknya, apapun yg entah itu lama Updatenya/UAS/apalah…
    Yg penting aku sabar nunggu nextChaptnya.. kapanpun!

    SEMANGAT!!! DAN SEHAT SELALU BUAT KAK RIA'!! LANCAR UPDATENYA!! TRUS BERKARNYA MEMBUAT KARYA YG HEBAT&BAGUS LAINNYA!!! 🙂 (AMIN)

  12. Yihiii aku datangg…
    Ah iya, emang uda mau akhir sih. Makasih loh uda difavoritin HV-nya.
    Vlad sih kayaknya emang alami jahat. Entahlah.. dan cerita dari Victoria itu… rahasia… Hahaha 😛

    Selamat menunggu..
    Lov yaa.. 😛

  13. Loyalitas tanpa batas. Two thumbs buat Lucia dan Lyra 😀

    Ah iya, basa-basinya uda kelar kok. Kasian ntr kebanyakan ngobrol tahu2 Morgan sama Ar entar uda dikepung sama anggota vampir lainnya.

    Trio Victoria, Rena, Reven.. tunggu yah.. Mereka OTW. Hahahha 😛

  14. Cinta memang bisa mengubah manusia ke dalam beraneka ragam sifat.. ><

    Damis? Morgan? Arshel? Mati atau hidup?? Entah ya.. *sok sok misterius*

    Insya Allah engga ngegantung kok endingnya. Yup, ditunggu aja ya new chapter HVnya 🙂

  15. Aaaakkk iya… tinggal bentar lagi. Yahh.. bukan cepet2 sih. Tapi emang udah kelar.

    WOH?? Iyakah?? Di watty lagi ada kejadian kek gitu? Astaga! Dulu HV juga pernah loh. Dicopas tanpa izin eh dijadiin fanfic. Diganti nama doang pake nama artis-artis korea ><
    Sebel, marah, sedih ++ sih. Jadi ngerti perasaannya penulisnya. 🙁 🙁

    Semoga.. semoga HV ngga sad ending. Semangat!!

  16. Amiiiiiiiiinnnnn…
    Semangat!!!

    Ayeee, makasii makasiii.. Rosse engga dimantrain apa-apa. Yah, namanya juga uda kadung cinta. Bisa setengah gila dan kehilangan logika kek gitu. Cinta mengalahkan logika dan mengubur nurani. Seringkali jika sudah bersanding dengan obsesi menjadi seperti itu.

    Yup, loyalitas tinggi para vampir. Jika menyangkut urusan ras dan kelompok, urusan pribadi ditepikan dulu.

    Selamat menunggu part selanjutnya… 😀 😀

  17. Amin amin Ya Rabb.

    Wiehii.. asekk. Jangan diomelin ya kalau entar HV-nya moloor. 😛 😛

    Dan scene Rena-Reven.. di ending full mereka. *bocoran dikit*

  18. Abis omongan Victoria superrr penting sih. Hahaha *ngeles*
    Yuppp, tinggal dikit kok. Waktu akan selesai buat HV *eh

    Iyahh, untungnya Ar datang tepat waktu. Kasian kalau Damis juga mati. ><

    Sabaaarr ya yang nungguin bagian Reven sama Rena. Sejujurnya aku juga bingung kenapa banyak yang minta mereka berjodoh. Soalnya aku sendirinya juga ga ngeh sama si Reven, secara dia masih "stuck" di Noura. Yahh.. pokoknya ending kayaknya full mereka berdua deh. 😛

    SEKUEL?? Hahaha belum kepikirann 😛

    Selamat menunggu new chapter HV ya.. 😀
    Yang sabar aja pokoknya.

    Semangatt!! Makasiii doanya. Makasii semangatnya. Amin Amin buat doanya. *peluuuuuuuuk*

  19. Heii…duo TAmpan
    terimakasih sudah datang tepat waktu
    aku mencintai kalian 😀

    Kamu !! Vlad BANCI yang bisanya hanya sembunyi dibawah rok rosse..
    Duka untuk Dev ku saja belum hilang, jangan pernah kau sentuh sibaik hati Damis dengan tangan kotormu.
    Revan ?? Terserah kau sajalah mau diapain, toh aku juga tidak terlalu suka ini padanya.. 😛

    Sukses buat UAS, organisasi, dan PRIBADInya ya cantik..
    Setelahnya buru update chapter terbaru HV ok !!

  20. Udah lama ga comment disini hehe
    Kangenn jg ama authornya *pelukkk*

    Emm bener2 mau klimaks yah, menegangkan bangett dh thor, aku penasaran banget ama endingnya bakalan di bawa kemana hehe

    Bingung dh mau comment apalg udah bagus banget soalnya hehe

    Tp aku mau tau nih kelanjutannya si Reven yg dingin itu-__- haha kayaknya di udh mulai care yah ama Rena, si Rena jg udah mulai ada rasa yak ama Reven hoho *maaf yah kalo sok tau*
    Pokoknya semoga endingnya mereka bisa bersatu yah 🙂

  21. Udah lama ga comment disini hehe
    Kangenn jg ama authornya *pelukkk*

    Emm bener2 mau klimaks yah, menegangkan bangett dh thor, aku penasaran banget ama endingnya bakalan di bawa kemana hehe

    Bingung dh mau comment apalg udah bagus banget soalnya hehe

    Tp aku mau tau nih kelanjutannya si Reven yg dingin itu-__- haha kayaknya di udh mulai care yah ama Rena, si Rena jg udah mulai ada rasa yak ama Reven hoho *maaf yah kalo sok tau*
    Pokoknya semoga endingnya mereka bisa bersatu yah 🙂

  22. wah kerennnnn..
    aduh nggak ngerti lgi sama vampire itu, orang udah tau vlad salah malah tetep aja di bela
    penasaran sama percakapan victoria sama reven
    tetep semangat kak, lanjutannya tetep ditunggu
    hehehe

  23. hiks hiks…. sayang bgt yah…
    emang bener y kata kaka q, kalau cerita udah semakin dekat di akhir pasti mostingnya smakin lama,,, jd buat org penasaran berat….

    tp semangat ya ka riaa….. horee

  24. VLAADDD!!!!!!!!!!! kejam banget sih diaaaa aaaaa, jangan habis dong kak u,u 10 chapter lagi dong T_T seru banget ini… dijadiin novel aja kak 🙂 jadi aku kalo mau baca ulang, gampang bacanya ;;) hehehehe

  25. Udah gak tau mau ngomong apa lagi, pokoknya semuanya lengkap ada disini..hahahha

    Pokoknya ditunggu banget banget saat saat menjelang akhir..klimaks yg melebihi klimaks..hahhaha

    Paling nungguin keadaan dimana mereka bakalan ketemu semua..
    hehehe

    Pokoknya mau tau pake banget nasib mereka masing2 pada akhirnya..hohoho

    :-D:-D:-D:-D:-D:-D:-D:-D:-D:-D:-D:-D

  26. Rena bkal bnyk dpt kejutan nih. Kalo endingnya rena gag sama reven. Rena ama Morgan aja. D twilight vampire sm vampire,di HV biar endingny sm manusia serigala 😀

  27. Like!! I blog quite often and I genuinely thank you for your information. The article has truly peaked my interest.

Leave a Reply

Your email address will not be published.