Half Vampire – Pergerakkan

 Sesuatu yang buruk sedang terjadi. Dan disini, masih di dalam ruangan yang sama tempat abu Russel tercecer, aku melihat Lucia datang dengan wajah melebihi pucatnya mayat. Dia mematung di antara pintu yang terbuka dan tubuhnya gemetar. Kami semua memandangnya. Tapi tak satupun dari kami yang berbicara. Aku tidak benar-benar tahu kalimat penghiburan apa yang cocok kukatakan untuk situasi ini. Maksudku, aku benar-benar tidak tahu. Pikiranku dipenuhi spekulasi-spekulasi buruk dan melihat mata Lucia yang berkaca-kaca, aku bahkan tidak bisa memikirkan hal yang baik sedikitpun. Aku lebih memilih melihat Lucia yang sinis daripada Lucia yang kulihat sekarang. Dia terlihat kacau.

Dia melangkah dengan gemetar, masuk ke dalam ruangan. Berlutut dengan perlahan di depan abu Russel. Jemarinya yang lentik meraih abu yang ada di dekatnya, meraupnya dengan kuat seolah dengan begitu dia bisa merasakan keberadaan Russel.

“Lucia..”

Itu suara Reven. Aku memandangnya dan dia memandang Lucia. Jenis tatapan simpati yang paling tulus yang bisa dilakukan olehnya. Bagiku itu sudah cukup baik, setidaknya Reven melakukannya dengan ekspresi. Bukan dengan wajah datarnya yang menyebalkan.

“Aku sudah mengatakan padanya bahwa dia tidak bisa.”

Kami semua memandang Lucia, sama sekali tidak mengerti dengan apa yang dikatakannya. Dia berbicara tapi tak menatap satu orang pun diantara kami. Dia hanya berbicara dengan mengenggam abu Russel di tangannya dengan kuat.

“Aku sudah mengatakan padanya jika dia melanjutkan ini semua, mungkin dia bisa mati. Tapi dia sama sekali tidak mendengarkan apa yang kukatakan. Dia bilang dia hanya ingin membuatku bangga dengan apa yang dilakukannya.”

“Lucia, sudah..” Lyra maju. Mendekat ke Lucia dan berjongkok di dekatnya. Mengenggam tangan Lucia yang mengejang.

“Dia berjanji padaku bahwa dia akan kembali dengan hidup. Tapi.. kau lihat sekarang Lyra?” Lucia berpaling pada Lyra dengan wajah marah, “Kau lihat?” teriaknya marah, “Dia mati.” Bisiknya tertahan.

“Lucia.” Lyra memeluk Lucia dan memberikan kekuatan agar Lucia bisa tegar, “Aku tahu apa yang kau rasakan. Ketika Dev pergi, aku juga merasakan kepedihan yang sama denganmu.”

Mata Lucia begitu kosong, tidak ada airmata yang menetes darisana meski aku tahu matanya berkaca-kaca. Aku tidak tahu kenapa, bagiku lebih baik jika dia menangis. Lucia benar-benar keras kepala meskipun dia sedang menghadapi kematian calon pengantinnya.

“Aku sedang berusaha menerima perasaan Russel sepenuhnya.”

“Apa maksudmu?” Lyra menarik pelukannya, semakin tidak mengerti dengan apa yang dikatakan oleh Lucia.  Sementara Lucia hanya tersenyum tipis ketika Lyra menatapnya, “Aku membagi sebagian besar hatiku untuk Reven.”

“Lucia!”

Aku mendengar Lyra berteriak dan kami semua beralih bergantian menatap Reven yang kembali seperti semula, tidak memiliki ekspresi apapun. Datar. Astaga, bagaimana bisa Lucia mengatakan ini di depan abu Russel yang bahkan tak pernah sempat kami kumpulkan. Bagaimana dia bisa mengatakan semua ini setelah.. setelah semua ini terjadi. Dia gila.

“Russel tahu itu dan dia terus berusaha mati-matian agar aku bisa mencintainya sepenuhnya. Namun aku tidak bisa. Aku jatuh cinta kepada Reven jauh sebelum aku jatuh cinta pada Russel. Aku mengalah pada Noura karena aku tahu dia pantas mendapatkan Reven. Namun ketika Noura mati, entah kenapa aku merasa bahwa aku mungkin masih punya kesempatan untuk memenangkan hati Reven meski ketika itu aku sudah menjadi calon pengantin untuk Russel.”

“Lucia, apa yang kau-“ Lyra benar-benar terlihat terkejut dengan apa yang didengarnya. Aku dan Damis pun merasakan hal yang sama. Aku tahu bahwa Lucia memang menyimpan perasaan pada Reven, hanya saja aku tidak tahu kalau selama ini ternyata Russel sudah tahu dan dia hanya diam. Aku melihat bagaimana sinar mata Damis berpendar kelam ketika dia memandang Lucia dengan marah begitu mendengar apa yang baru saja diungkapkan Lucia. Bagi Damis dan bagi semua orang yang tahu, selama ini Russel dan Lucia adalah pasangan yang saling melengkapi. Tak satupun orang meragukan bagaimana besarnya Russel mencintai Lucia. Namun sekarang? Lucia menghancurkan semua persepsi yang adad engan pengakuannya

“Aku berusaha dan Russel tahu itu. Dia selalu mencoba menghentikan apa yang kulakukan dan memohon kepadaku agar aku hanya melihat kepadanya, dan bukan pada Reven. Namun aku belum bisa. Aku tidak bisa melepaskan Reven dari pikiranku. Russel mengambil tugas yang seharusnya dilakukan Reven hanya supaya aku bisa melihatnya. Melihat bahwa dia juga mampu sekuat Reven. Bahwa dia juga sama bergunanya seperti Reven.”

“Dan beberapa hari lalu, ketika untuk pertamakalinya Reven mengusirku dengan kasar dari ruangannya dan mengatakan padaku bahwa aku seharusnya bisa menghargai perasaan Russel karena Russel benar-benar sangat mencintaiku. Aku berpikir. Ini sudah berakhir. Aku tidak pernah punya kesempatan untuk memenangkan hati Reven meski aku tidak lagi punya saingan.”

“Aku tersadar jauh bahwa selama ini yang kumiliki adalah Russel. Aku menyia-siakannya namun dia selalu ada untukku dan berusaha memberiku kebahagiaan. Dan sejak saat itu aku memutuskan aku akan belajar menerima Russel dengan serius.”

Aku menutup mulutku dengan telapak tanganku. Ini benar-benar bukan sesuatu yang kuperkirakan akan kudengar. Lagipula kenapa Lucia harus mengatakannya sekarang. Russel pun juga sudah tidak mungkin bisa mendengar apa yang sekarang dipaparkannya. Semuanya sudah terlalu terlambat bagi Lucia untuk memulai dengan Russel. Sudah terlambat.

Damis maju satu langkah, memandang Lucia dengan kemarahan yang jelas. “Kupikir kau dan Reven hanya bersahabat.” Desisnya marah.

“Bagi Reven seperti itu, tapi tidak untukku.” Jawab Lucia dengan tegas, dia balas memandang Damis. Sama sekali tidak terganggu dengan tatapan marah Damis, “Tapi, seperti yang sudah kujelaskan, aku sudah memutuskan aku akan menerima perasaan Russel sepenuhnya dan aku akan melepaskan perasaanku untuk Reven.”

“Sudah terlambat, Lucia.”

“Reven?” Lucia bangkit dan berjalan ke arahnya.

“Russel sudah mati dan kau tidak akan pernah bisa membuatnya kembali hanya dengan mengatakan bahwa kau sedang berusaha mencintainya sama seperti dia mencintaimu. Kau tahu? Namamulah yang disebutnya terakhir kali ketika Vlad akhirnya menghentikan detak jantungnya.”

Lucia membeku, dia menatap lurus-lurus ke arah Reven. Matanya yang indah menatap Reven mencari kebenaran. Begitu dia menemukannya, lututnya gemetar dan dia terjatuh. Menangis tanpa suara. Aku menelan air ludahku, pemandangan yang kulihat sekarang benar-benar bukan sesuatu yang menggenakkan. Lucia menangis, benar-benar menangis dan tak satupun dari orang yang ada disini memeluknya. Reven, Damis dan Lyra mematung di tempat masing-masing. Lyra dan Damis bahkan terlalu marah sehingga mereka hanya membuang muka dan sama sekali tidak memandang ke arah Lucia.

Tidak. Seharusnya tidak seperti ini. Aku tahu Lucia bersalah. Dan setelah ini, dia pasti menerima hukuman untuk kesalahannya. Dia menyadari dia mencintai Russel ketika dia sudah kehilangan Russel, untuk selamanya. Hukuman apalagi yang bisa lebih kejam selain itu. Aku melangkahkan kakiku dengan ragu. Mendekat ke tempat dimana Lucia terpekur dalam tangisannya seorang diri.

Meskipun penuh dengan keraguan aku memberanikan diriku menyentuh bahunya, “Lucia..” panggilku pelan. Dia mengangkat wajahnya tepat ketika aku merasakan tangan yang lain mencengkeram erat tangan yang kugunakan untuk menyentuh bahu Lucia. Kami berpaling bersamaan menatap ke arah sosok itu.

“Reven..”

“Jangan biarkan dia berdekatan dengan siapapun kecuali kau dan Damis. Jangan izinkan dia berbicara dengan vampir lain atau bahkan makhluk lain. Jika ada yang memprotes, bunuh saja mereka!”

Aku dan Lucia memandang Reven dengan ketidakmengertian yang sama. Tangan Reven mencengkeram tanganku makin erat, “Vlad mengatakan itu padaku.” jelasnya pelan.

“Apa??”

Dia menarik tanganku dan menyeretku menjauh dari Lucia dengan paksa.

“Apa yang kaulakukan? Reven!! Lepaskan aku!”

Namun seperti yang bisa kutebak. Reven sama sekali tidak mendengarkan apa yang kukatakan dan terus saja membawaku menjauh. Berjalan dengan cepat ke arah pintu keluar ruangan ini.

“Lepaskan dia!” Damis berdiri menghadang di pintu dan Reven berhenti, namun hanya diam menatap ke arah Damis. Dia juga rupanya sama sekali tidak berniat melepaskanku karena cengkramannya di tanganku semakin erat.

“Lepaskan dia.” Ulang Damis. Matanya yang sudah kelam sedari tadi menatap Reven dengan berbahaya, “Lepaskan dia, Rev..” desisnya tidak sabar.

Reven menarik satu sudut bibirnya ke atas, “Dan jika aku tidak mau melakukannya. Apa yang akan kau lakukan?”

“Untuk apa kau melakukan ini?” tanya Damis mengabaikan pertanyaan yang diajukan oleh Reven, “Apa cuma karena Vlad yang memerintahkannya kepadamu?” Damis tertawa sinis, “Vlad baru saja membunuh Russel, di depanmu. Kau juga tidak tahu kenapa bukan, Reven? Kita sama-sama tidak tahu alasannya. Tidakkah kau pikir dia akhirnya juga akan melakukan hal yang sama kepada kita. Kau dan aku sama-sama tahu, ada yang tidak beres disini. Dan kenapa kau masih saja keras kepala? Apakah kau begitu terobsesi untuk menjadi pengganti Vlad, Reven?”

Reven marah. Aku tahu itu. Buku-buku jarinya mengeras dan dia meremas tanganku semakin kuat. Aku hanya bisa meringis kesakitan tanpa mau berteriak. Sama seperti Damis dan yang lainnya, aku juga menunggu apa yang akan dikatakan oleh Reven. Apakah dia akan tetap setia pada Vlad setelah apa yang dia lakukan pada Russel, saudaranya.

“Aku melakukan apa yang menurutku terbaik untuk saat ini, dan menunggu.”

Kening Damis berkerut dalam, tapi dia tak menyela dan membiarkan Reven menyelesaikan ucapannya.

“Aku akan melakukan apa yang Vlad perintahkan kepadaku. Untuk melindungi kita semua. Jika sekarang aku memberontak, sama seperti yang kau lakukan sekarang. Kita semua selesai. Bukan hanya kau dan aku, Damis. Tapi semua yang ada disini. Lyra, Lucia.. dan Sherena.”

Aku beralih memandang Reven yang terlihat sangat serius. Entah kenapa aku merasa Reven benar. Jika kami gegabah, Vlad akan menyelesaikan semua. Aku tidak akan meragukan kemampuan Vlad untuk mengabisi kami satu persatu.

“Sebenarnya apa yang sedang terjadi disini?” Lyra mendekat, dia menatap Damis dan Reven bergantian, “Vlad.. Russel.. Kita semua selesai? Apa yang sebenarnya sedang terjadi disini?” dia bertanya dan terlihat sangat frustasi, “Lagipula ucapanmu konyol Rev. Jika Vlad membunuh kita semua, mungkin aku masih bisa percaya, tapi Sherena.” Lyra menggeleng, “Dia tidak akan membunuh calon ratu kita. Kematian calon ratu adalah saat dimana kekuatan kaum kita melemah dan Vlad tidak akan membiarkan itu terjadi.”

“Maukah kau menjelaskan sebuah rahasia kepadanya, Damis?” Reven tersenyum sinis. Senyum yang membuat wajah Damis memucat.

“Bukan kelemahan kaum kita. Tapi kelemahan Vlad, Lyra.”

Suara Damis begitu pelan, samar dan penuh keraguan. Namun aku mendengarnya seolah itu dijelaskan dengan sangat tegas dan jelas. Aku membeku, terpaku dan tak bisa mengatakan apapun. Aku hanya terdiam, ikut begitu saja ketika Reven membawaku pergi dari ruangan ini dengan melewati Damis yang sama sekali tidak mencegah kami.

***

Ar memeluk leher Morgan dengan erat. Menundukkan kepalanya dan memejamkan matanya rapat-rapat. Morgan benar-benar berlari seperti serigala gila. Perut Ar sudah begitu mual dengan segala lompatan, guncangan dan suara berdesing di telinganya, sehingga ketika Morgan akhirnya berhenti. Dia melompat dengan cepat dari pungggung Morgan dan memuntahkan seluruh isi perutnya.

“Kau ini gila atau ke-?” Ar berhenti, matanya menatap lurus-lurus ke depan. Menyadari bahwa dia sangat mengenali tempat ini. Di depan sana, dia bisa melihat ayahnya, dengan posisi setengah berlutut dan acak-acakkan dengan leher dalam cengkraman sebuah tangan yang pucat. Adegan di depannya seolah dihentikan waktu sebelum akhirnya sosok yang mencekik leher ayahnya menoleh dengan perlahan ke arah mereka.

“Senang melihat kalian datang dengan cepat.”

Suaranya begitu melodius, dan dia melepaskan tangannya dari tangan leher Akhtzan yang langsung rubuh ke bawah. Ar merasakan bahwa untuk pertama kalinya dia merasa takut. Bulu kuduknya meremang tapi dia menguatkan dirinya bahwa siapapun itu yang ada di depannya harus dia hadapi. Dia menarik pedangnya, mengenggamnya kuat-kuat.

“Apa yang kau lakukan disini, Vlad?”

Suara Morgan memecahkan kesunyian yang mengantung mematikan. Ar bahkan tak menyadari kapan Morgan kembali bertransfigurasi menjadi manusia. Dan tunggu, apa yang tadi dikatakan Morgan? Ar mengerutkan keningnya. Vlad? Bukankah itu nama pemimpin kelompok vampir? Mata Ar membulat, menyadari bahwa yang ada di depannya bukanlah vampir sembarangan. Bukanlah vampir yang biasa yang selalu dibunuhnya ketika dia masih seorang slayer kerajaan. Ar memang tidak tahu seperti apa Vlad sebelumnya karena ketika dia datang ke kastil para vampir, dia sama sekali tidak bertemu dengan Vlad.

Ar mengerutkan keningnya menyadari keadaan di sekitarnya. Untuk pertama kalinya, Ar juga melihat bahwa ada banyak tubuh yang terkapar di sekeliling mereka. Semuanya penuh darah dan tak bergerak. Setidaknya ada lima orang dan Ar sama sekali tidak mengenali mereka semua. Namun sepertinya Morgan mengenalinya karena matanya bersorot mengerikan kepada Vlad seolah dia sanggup membunuh Vlad hanya dengan tatapan penuh kemarahannya itu.

“Apa yang kulakukan? Aku hanya sedang membereskan sampah kecil yang harusnya sudah kubereskan bertahun-tahun lalu.” Jawab Vlad dengan senyum, “Ah satu lagi, Morgan Freesel. Maafkan aku jika aku juga membereskan beberapa serigala yang tidak tahu tata krama. Satu serigala tua bernama Gabriel dan beberapa yang masih muda dan begitu bodoh. Dan kubiarkan satu yang sekarat untuk berlari pergi dan mengadu pada pemimpin mereka. Kau.”

Gigi Morgan bergemeletuk menahan marah. Buku-buku jarinya menegang dan dia melangkah maju tepat ketika seorang vampir perempuan lain keluar dari mulut gua milik Akhtzan. Vlad menoleh ke belakangnya, “Kau menemukan sesuatu, Rosse?”

Rosse menggeleng, “Tidak ada apapun yang berguna di gua busuk itu. Hanya ramuan-ramuan dan buku-buku mantra kuno.”

“Ah sayang sekali.” Desah Vlad dan dia memutar tubuhnya, setengah berjongkok di depan tubuh Akhtzan yang tergeletak tak berdaya, “Urus dua penganggu itu untukku, Rosse.” Katanya tanpa repot-repot menoleh.

“Lepaskan tangan kotormu dari ayahku.” Teriak Ar bersamaan dengan gerakan tangan Vlad yang menangkap anak panah yang di lepaskan oleh Ar dengan tangan kosong. Satu remasan dan anak panah itu hancur. Vlad menolehkan kepalanya dan tertawa kecil, “Kau pikir kau bisa membunuhku dengan benda ini?”

Ar menoleh ke arah Morgan, “Panahmu tidak berguna, Ar.” Desah Morgan. “Serbuk perak, panah berujung perak. Tidakkah kau tahu vampir jenis apa dia? Dia kebal terhadap hal-hal seperti itu.”

Ar merutuk kesal, “Aku hanya mencoba dan memangnya apa yang mungkin kutahu soal dia.”

Morgan tertawa pelan, “Bukannya kau mempelajari itu ketika kau di pelatihan slayermu.” Katanya sebelum dia melompat ke depan dan bertransfigurasi kembali menjadi serigala besar. Dia mengambil pertarungannya dan Rosse menerimanya dengan senang hati. Vlad sama sekali tak ikut campur dan masih berada di posisinya. Di depan Akhtzan yang meskipun terlihat begitu tidak berdaya tapi masih hidup.

“Jauhi ayahku, Vlad.” Teriak Ar sambil melangkah maju. Dia mulai fokus dan mengumpulkan semua kemampuannya sebagai slayer terbaik yang pernah dimiliki oleh kelompoknya. Vlad sama sekali tidak menghiraukannya dan hanya terfokus pada Akhtzan.

“Seorang penyihir murni paling kuat yang pernah ada, sekarang hanya sebuah tubuh tua lemah yang menanti kematian. Katakan padaku apa yang terjadi pada semua kekuatanmu, Akhtzan dan aku akan membiarkan putramu hidup.” Bisiknya penuh ancaman dan Akhtzan mengangkat kepalanya yang berada tepat di dekat kaki Vlad. Dengan kedua matanya yang kecil dan berair dia memandang Vlad dengan tatapan memohon.

“Katakan padaku bagaimana aku bisa menghilangkan kutukan ini dan aku berjanji padamu aku akan membuat putra kecilmu itu hidup.”

Akhtzan menoleh dengan susah payah ke arah Ar yang hanya tinggal beberapa langkah dari mereka. “Ar..” panggilnya dengan nafas satu-satu. Ada kelegaan di wajahnya begitu melihat Ar masih berdiri dengan sehat.

“Ayah.”

“Tetap di tempatmu, slayer. Satu gerakan saja dan kau akan melihat leher ayahmu remuk di depan matamu.”

Ar mengenggam pedang miliknya dengan kuat, “Bertarunglah seperti seorang laki-laki dan jauhi ayahku. Kita selesaikan masalah ini dengan cara laki-laki.”

Tawa sinis Vlad terdengar bergaung di sekitarnya dan dia menoleh ke arah Ar dengan malas, “Tak kurang dari sepuluh detik. Percayalah, anak muda. Tak kurang dari sepuluh detik dan kau mati jika kita memang terpaksa harus bertarung.”

Ar menatap dengan tidak percaya, “Kau terlalu percaya diri.” Bantah Ar keras.

Vlad memutar bola matanya dengan bosan. Dia bangkit dan Akhtzan merengkuh satu kakinya dalam pelukannya, “A-akan kukatakan. Ta-tapi lepaskan putraku.” Vlad menatap Akhtzan di bawahnya. “Kumohon..” bisik Akhtzan.

“Ayah!” teriak Ar marah, “Aku bisa mengatasi ini.”

Akhtzan menggeleng, “Tutup mulutmu, Ar.” Perintahnya dengan suara lemah.

Mendadak Vlad melihat ke arah lain di belakang Ar, “Terlalu banyak penganggu.” Desahnya. Ar menoleh ke belakang dan terkejut pada apa yang dilihatnya.

“Master? Edge?”

Allianor melangkah mendekat ke Ar dan Ar dengan reflek menundukkan kepalanya, “Master.” Bisiknya penuh hormat.

Dia menepuk pundak Ar pelan, sebelum kembali memfokuskan padangannya pada Vlad, “Sudah begitu lama sejak terakhir kali aku melihatmu keluar dari kastilmu yang nyaman, Vlad.”

“Kau tahu, Allianor? Seberapa banyakpun slayer yang kau bawa di belakangmu, kau tahu kau tidak akan pernah bisa mengalahkanku.” Vlad terlihat bergitu tenang, sangat percaya diri dengan kemampuannya.

Ar melihat Masternya menggeleng, jubahnya bergerak pelan tersibak angin, “Apa situasinya sudah begitu diluar kendali sehingga harus kau sendiri yang mengambil alih semuanya, Vlad?”

Vlad hanya memandang Allianor dengan mata merahnya yang selalu terlihat berbahaya. “Rosse..” panggilnya pelan dan Rosse yang sedang bertarung mati-matian mundur dan melompat ke belakang Vlad. Geraman Morgan terdengar dan begitu melihat ke arah Ar dan sepasukan slayer yang ada di belakangnya, dia menyadari bahwa bantuan datang.

Dada Rosse naik turun mengatur nafasnya yang memburu. Beberapa bagian tubuhnya mengeluarkan darah karena cakaran dari Morgan tapi selebihnya, dia terlihat baik-baik saja. Vlad berdiri tegak di depannya, tidak mengatakan apapun lagi dan hanya memandangi Allianor sebagai fokusnya.

“Lepaskan Akhtzan, Vlad.” Suara Allianor terdengar lagi.

“Kau ikut campur terlalu jauh. Apakah semua yang kau lakukan ini atas sepengetahuan dari rajamu yang bodoh itu?” Vlad tersneyum tipis, “Kutebak, tidak. Atau mungkin bahkan rajamu itu sama sekali tidak tahu apa-apa tentang apa yang sedang terjadi. Kupikir seharusnya kau lebih baik menggantikan tempatnya, Allianor.”

“Tapi nenek moyang dari raja bodohkulah yang telah membuat kau kehilangan kekuatan penuhmu, Vlad. Jangan lupakan itu. Kami, kaum manusia mungkin terlihat lemah tapi kami jauh lebih berotak daripada kau. Kutukan calon ratu? Kupikir itu hanya legenda yang dikisahkan turun temurun sebelum Akhtzan akhirnya memberitahuku kebenarannya.” Mata Vlad membulat marah dan beberapa slayer di belakang Edge mundur selangkah tanpa mereka sadari.

“Sudah berapa tahun Vlad? Ratusan? Ribuan? Dan kau sama sekali belum bisa mematahkan kutukan itu. Membunuh calon ratumu bukanlah cara agar kutukan itu selesai dan kau sudah melakukannya. Kesalahan yang besar sehingga calon ratumu malah datang dari kaum yang kau sebut lemah dan bodoh ini, Vlad.”

“Membunuh calon ratu?” Ar membeku di tempatnya dan begitu otaknya menyadari makna dari ucapan Master. Dia memandang Vlad dengan kemarahan mencapai puncaknya. “Noura..” gumamnya dalam kemarahan, “Kau.. beraninya. Kau makhluk busuk!”

“Beraninya kau!” desis Vlad marah. Rosse meraih bahu Vlad, “Kita bawa Akhtzan dan pergi, Vlad.” Bisiknya begitu pelan sehingga hanya Vlad dengan kemampuan indera pendengarannya yang luar biasa yang hanya bisa mendengarnya. Vlad sudah akan membantah namun Rosse mengeratkan sentuhannya, “Matahari hampir terbit.”

Vlad melihat ke langit dan dia mengerti. Semburat-semburat cahaya samar diantara kegelapan malam. Dia mungkin tidak terpengaruh pada elemen perak maupun besi. Namun matahari tetap akan bisa membuatnya lemah dan menghancurkannya. Dia memandang Akhtzan dan Rosse mengerti. Dengan kasar dia menarik tubuh tua Akhtzan agar bisa berdiri, memuntir tangannya yang keriput ke belakang dan

“Lepaskan ayahku.” Ar berteriak sangat keras, kehilangan kontrol dan maju menerjang Vlad dengan membabi buta. Vlad meremuk pedang yang terarah ke arahnya dengan satu gerakan dan leher Ar sudah berada dalam cengkeramannya dalam saat yang bersamaan. Akhtzan berusaha melepaskan diri begitu melihat putranya dalam bahaya namun Rosse dengan kuat menekan tangannya dan dia tidak bisa melakukan apapun.

Morgan mengeram, semua slayer mengambil posisi siaga dan bahkan Allianor sudah mengeluarkan tongkat sihirnya dan mengarahkannya pada Vlad. Namun mereka menunggu dan tidak melakukan apapun, satu gerakan gegabah dan leher Ar yang menjadi taruhannya. Lagipula sama seperti yang dikatakan oleh Vlad, jika dia memang berniat bertarung dengan mereka semua. Dia sudah pasti akan menang. Mungkin hanya sedikit berkeringat ketika menghadapi Allianor dan beberapa sihir kunonya namun di luar itu, semuanya begitu sepele untu seorang Vlad.

“Sekarang katakan padaku Akhtzan, putramu atau rahasiamu?”

Akhtzan menangis, dengan tubuh lemahnya dia tersedu, “Lepaskan putraku, Vlad. Kau dapatkan yang kau mau dan putraku hidup.”

“Kau dengar itu, nak. Kau hidup.” Usai mengatakan itu Vlad melempar tubuh Ar ke arah para slayer dan dengan satu gerakan dia menyambar tubuh Akhtzan di dekatnya dan melompat pergi dengan Rosse berlari di belakangnya. Beberapa detik dan jejak maupun bau Vlad dan Rosse sudah menghilang. Allianor manatap dengan cemas ke arah menghilangnya Vlad.

Di belakangnya, Edge dengan hati-hati membantu Ar untuk bangun, “Bagaimana bisa seorang mantan slayer terbaik melakukan gerakan gegabah seperti itu.” Ungkapnya jengkel, “Dia tidak akan membunuh ayahmu karena dia membutuhkan ayahmu. Kau harusnya tahu itu dan bukannya malah berlari ke depan menyerahkan dirimu untuk dijadikan umpan sialan.”

Ar memucat. Sangat pucat dan Edge menghentikan omelannya, menyentuh bahu Ar pelan, “Kau tidak apa-apa, teman?”

“Dia sudah membunuh Noura dan sekarang, dia akan membuat ayahku mati.”

Morgan yang sudah berubah kembali menjadi manusia menatap ke arah Ar dengan tatapan simpati. Dia tahu apa yang dimaksud oleh Ar. Akhtzan tidak bisa keluar dari hutan ini karena dia menerima sebuah kutukan yang Morgan pun tidak tahu karena apa atau siapa. Dan jika dia keluar dari hutan ini, tinggal menunggu waktu dan tak sampai satu hari Akhtzan akan mati. Allianor pun sepertinya juga tahu hal itu karena sedari tadi dia hanya diam dan membeku di tempatnya. Dia akan kehilangan sahabat terbaiknya.

Morgan memalingkan wajahnya dan berjalan ke arah mayat-mayat anggotanya yang sebelumnya diabaikannya. Dia menunduk penuh penyesalan yang sangat dalam ketika dia membalikkan satu tubuh yang sangat dikenalinya. “Paman..” dia memejamkan matanya, tidak tega melihat bagaimana kondisi mayat Gabriel. Setetes airmatanya jatuh tepat di wajah Gabriel. Tubuhnya gemetar dan dia bersumpah akan membalas semua yang terjadi pada mereka yang meninggal.

Sementara itu di salah satu puncak pohon tertinggi tak jauh dari tempat Morgan dan para slayer mulai mengumpulkan mayat semua manusia serigala dan bersiap melakukan pemakaman yang layak untuk mereka, satu sosok mengawasi sedari tadi. Jauh sebelum Morgan datang dan jauh sebelum Vlad datang menyerang ke gua Akhtzan, sosok itu sudah duduk di salah satu ranting pohon yang kuat dan mengamati. Hanya mengamati dan membiarkan angin yang bertiup kencang di atas menyamarkan baunya, identitasnya sehingga tak satupun dari mereka menyadari bahwa dia disana dan memperhatikan semuanya.

“Jadi akhirnya semuanya sudah dimulai.”

Victoria Lynch tersenyum tipis. Berdiri dan menatap untuk terakhir kalinya ke keramaian jauh di bawahnya sebelum dia melompat dan berlari menjauh. Menuju satu arah, kastil.

<< Sebelumnya 
Selanjutnya >>

Mau Baca Lainnya?

57 Comments

  1. Thor…. Double chapter pliss….. Hhhh btw vlad jahat bgtsi gak ada baik baiknya hft;( oooh cinta bertepuk sebelah tangan dimana dimana, cian. Ditunggu chapter selanjutnya yaa thor… Ceritanya tetep menarik kok:)

  2. Widih si..victoria lagi ada diatas puun toh…nie orang eh bukan ya vampire deng..lagi ngerencanain apaan sih..bikin nambah penasaran aja tau…hahha

    Vlad…vlad…ckckck masih penasaran juga nih sama vampire yg satu ini..

    Makin kesini makin seru …seneng semuanya pada kumpul…#aneh
    Apalagi nanti pas klimaksnya…
    Fuh dah gak sabar…tapi harus disabar2in…biar lebih berasa wkwkwkw

  3. Penasaran sama kutukannya…kutukan macam apa itu?
    Masih kurang panjang nih sis…
    Btw…gimana hasil UTS nya? Semoga hasilnya sesuai yang di harapkan..

  4. CIAATTTT!!!! AKHIRNYA SLESAI SUDAH PNANTIANKU YG LAMA SLAMA 2MINGGU INI…
    HOHOHO
    SMPAH DI PART ini bgitu bnyak kejutan yang tak trduga. Dri si Lucia, Noura yg di bunuh sama si Vlad, smpe smuanya dehhh bkin aku kaget ga kepalang!!!
    GOOD JOB KAK!!!
    jujur aku ngrep klo kaka bkal ngpost 2 part skligus.. tpp.. yaa ga papa dehh 😀
    Pokoknya trusss lanjuut never stop!!
    SEMANGAT TRUSSSSS KAKA!! 😀
    *can't wait for the next part!!
    CAYOOO!!

  5. Victoria ngapain?? cuma nonton aje disana. 😛
    Selamat berpenasaran dg sosok Vlad..
    Dan yakk… ini seperti chapter reuni. Aneh emang kenapa mendadak semua pada ngumpul, Master, Edge dll.. Tapi tapi.. di chapter selanjutnya mereka buka rahasia kok kenapa atau bagaimana bisa pada ngumpul disini. *uda baca ampe ending*
    😛

    Yeah sabar sabar sabar..
    *puk puk *

  6. Hahaha rahasia rahasiaa 😛
    Yahh yahh masa masih kurang panjang?? *gulung2 di kasur*

    Hasil UTSnya belum keluar, baru aja kelar kemaren. Tapi semoga semuanya dalam kendali. Aminnnn

  7. Yeaaaaa!!!!!!!!
    Ahh ahh akuuuu merona. Jangan memujiku. Nanti aku besar kepala. Hohoho

    Aaakk semuanya pada request double chapter. Tidak tidak!!! *stress sendiri*
    Semangat semangat..

    Makasiii komennya ya, Delima… *peluk*

  8. Baru selese baca ._.
    Kenapa setiap selese baca tiap chapter tmbah penasaran T.T
    Thor, double chap please, kurang, mau nambah :v
    *mulai lapar*

    Thor, ada CP ga? FB ato apa gtu? :3

  9. Hahaha.. hati-hati.. HV menimbulkan candu 😛
    Jangan nambah2, nanti overweight. Hahahha

    Ada CP? ada dong, itu ada laman contact me. Klik aja diatas itu, ada lengkap loh

  10. Hahhaha narkoba yg menyenangkan ya.. 😀
    Yahh kayak aku, overweight *curhat*
    diet diet *oot*

    Urwel, ntar kalo add fb bilang kesini ya. Biar aku confirm. 😀

  11. Bagus,bagus,bagusssssssss…… Histeris baca nih novel, sumpah bagus banget, sampai harus membayangkan sgala yg terjadi.. Thor mmg penulis yg berbakat… Smoga bisa terbit secepatx di gramed.. Aminn.. Tetap semangat ya thor!!
    Artharia

  12. Wah apa tuh yg direncanakan victoria?!
    Kutukannya apa sih?!semoga cepet selesai deh nih masalah!!!
    Tetap detia menunggu lanjutannya!!!
    Fighting!!

  13. ternyata oh ternyata.. yang ngebunuh noura adalah vlad….ckckck…gimana yah reaksi reven saat dia tau…
    ditunggu next chapternya…kalau bisa yang lebih panjang yah thor…pleaseeee okok 😉

  14. haaah Vlad menyebalkaan, dasar kakek kakek tua egois. Kejam sekalii dia membunuh noura. Kira-kira victoria bakalan ngapai ya thor ? kalau bisa bunuh kakek tua itu ajaa biar happy ending ever after.
    Semangat ya thor. LANJUTKAN terus ceritanya sampai cicit cicit nya ya thor!!
    semoga UTS author, aku dan semuuaanya hasilnya baguus .. hehehe

  15. Hahahaha senengnya penantian tdk sia-sia, tp vlad emang bener2 kejam, sebenarnya kutukan dia tu apa sih? Dan siapa yang ngutuk dia,,,,

    Aku kirain ne y kak dev itu masih hidup dan yang mati itu sahabat naura tp ternyata……. Yg jd pertanyaan sekarang adalah kalau dev mati maurette kmna?

  16. Waa.. Untung g kudate gr2 hp rusak.. Hihihi.. Tp knp cm 1 chap aja thorr.. eh itu si victoria vampir ato kunti si?? Kok bertengger di atas pohon.. Hehehe.. Btw kuliah dmn thor?? Next week 2 chap y thorr..

  17. keren keren keren…
    seriusan ini cerita makin lama makin keren bgt. apalagi saya ngikutin cerita ini dari awal banget. dan ternyata ceritanya makin susah di tebak… selalu merasa salut sama penulis yang bisa menulis cerita fantasi seperti ini. karena saya sendiri gak bisa nulis cerita seperti ini u.u #abaikan

    di tunggu lanjutannya yaaa…
    keep writting 😀

    Ganbatte

  18. Huaa ternyata Vlad memang jahat! Kok aku bayangin sosok Vlad itu Voldemort ya? Hahaha. Anyway, aku masih setia nunggu kisah Reven & Rena nih, kurang banyak ah scene mereka :p
    Sekadar saran aja, untuk penulisan kata yang merujuk pada tempat seperti, di sini, di sana, itu penggunaannya harus dipisah kan? Atau aku salah ya 🙂 Mungkin bisa dicek di KBBI online. Next chapter selalu ditunggu.

    – Nina

  19. Ceritanya makin seruuuu….

    harusnya double chapt donkk, kan udah lama gak update…

  20. Wowww….
    seneng deh waktu Reven gandeng tangannya Rena…
    rasanya geregetan gimanaaa gitu 😀

  21. Rosse jadi wanita kog bodoh banget, udah jelas2 vlad hanya manfaatin dia ehh msih aja kekeh mencintai vlad..ckckc
    ikutan kesel jga ne..
    tp, sedih banget russel dibunuh si vlad gila..kapan tu org mati sih. >.<

    ditunggu lanjutannya y sis.. 😀

  22. Yuhu… kangennya aku padamu kakak muehehehe
    akhirnya datang juga ini cerita keren…
    Jadi, kapan nih kakak author berniat buat ngebunuh Vlad?
    tingkahnya udah amit-amit banget, minta di suntik musnah tuh X)
    Hoshh, sudah pada kebuka teka-teki Nouranya…
    sipp sipp sipp… di tunggu edisi berikutnya 😀
    semangat dan Keep writing!

  23. aaaaa kak amoura *baru sempet ninggalin jejak, aku ud baca HVnya kakak, keren bangettt >< aku sampe meragukan kalo sebenernya vampir itu ada selama ini

    penasaran ama chap selanjutnya, ternyata vlad emang jahat! gimana ya kalo reven tau *greget sendiri

  24. aaaaaa…wowww wooww..sumpah penasaran.
    alurnya bener2 mengangkan, kejutan-kejutannya juga bikin shock.
    tentang kematian Noura 😮
    tentang kutukan vlad 😮
    tentang Victoria 😮
    tentang Akhtzan 😮
    aduuu bisa mati penasaraann

    Di sini aku ngeliat kalau Rose cuma dijadikan mainan sama s Vlad alias cuma dimanfaatin sama Vlad, hadeuuh jadi kasian sama Rose.

    Masih banyak banget rahasia yang belum terjawab, penasaran gimana reaksi Reven kalau tau Vlad di balik kematian Noura.
    Bener dah Thor bisa buat penasaran aku sampe segininyaaa,,aaaaa… aduh berasa lagi nonton film Hollywood yang banyak mistery case nya 😀
    Ayook thor semangat terus buat cerita yang model gini

Leave a Reply

Your email address will not be published.