Half Vampire – Perlindungan Terakhir

Aku berlari tanpa tahu arah mana yang  kutuju. Yang ada di kepalaku hanya berlari, mengejar Maurette. Akhirnya aku tahu makna tatapannya, aku tahu makna di balik senyumnya itu. Makna yang juga dikatakannya secara tersurat, balas dendam. Tidak. Tidak boleh. Apapun yang ada di kepala Maurette, dia tidak boleh melakukan apapun yang membahayakan penduduk biasa. Tidak. Aku tidak akan memaafkannya.

“Sherinn!!”

Aku berhenti, menatap dengan kelegaan yang sangat besar ketika melihat sosok Morgan berlari ke arahku.

“Apa yang kau lak-?”

“Morgan-Morgan tolong, tolong..” aku gemetar. Wajahku pucat ketakutan.

“Kau baik-baik saja?” Morgan menyentuh kedua lenganku.

Aku menggelengkan kepalaku kuat-kuat, “T-tolong..” aku kehilangan kata-kataku. Tubuhku gemetar begitu hebat. Morgan menatapku dengan bingung dan tak paham.

“Sebaiknya aku mengantarmu pulang. Dan jangan pergi keluar lagi. Situasi sedang sangat buruk, Sherinn. Tercium bau vampir yang sangat kuat. Rupert sedang mengecek di ruang interogasi, adakah kemungkinan kalau vampir perempuan yang masih hidup itu melarikan diri.” Morgan menarik nafas dengan wajah menyesal, “Ini semua salahku, jika memang benar vampir itu yang melarikan diri. Aku meminta mengosongkan penjagaan di ruang interogasi karena kupikir vampir itu sudah cukup kepayahan untuk sekedar melarikan diri. Lagipula masih ada rantai besi dan tali berlumuran perak yang kami gu-.”

“AKU MELEPASKANNYA. AKU MELEPASKAN VAMPIR ITU.” Aku berteriak dengan frustasi. Morgan berhenti bicara dan dengan kedua bola matanya yang membesar terkejut, dia menatapku. Seolah menelanku bulat-bulat, “Ap-apa maksudmu, Sherinn?” suaranya bergetar.

Lututku lemas, “Maaf..”

Morgan mengeratkan pegangannya pada kedua lenganku, mencengkeram tanganku dengan keras, “Jangan karena kasihan kau mempertaruhkan keselamatan seluruh penduduk desa. Jangan karena kau merasa membenci tindakanku ketika itu, kau bisa bertindak semaumu sendiri. Ingat Sherinn, kau melakukan kesalahan besar. Jika sesuatu yang buruk terjadi, itu semua salahmu.”

Air mataku nyaris jatuh, namun aku menahannya. Aku tahu Morgan berhak marah padaku. Aku tahu pandangan mata menyala-yala itu patut dipendarkan Morgan ketika menatapku.

“Kau keter-“

“Lepaskan tanganmu dari perempuanku, serigala busuk!”

Deg.

Aku menoleh dengan cepat ke asal suara yang sudah sangat kukenali itu. Dan disana, Dev berdiri tegak beberapa meter dari tempatku dan Morgan berdiri. Tanpa sadar Morgan melepaskan cengkraman tangannya, beralih memandang Dev dengan mata lebih berapi-api dari yang digunakannya untuk menatapku tadi.

“Kau.. vampir.” Desis Morgan.

Bibir Dev membentuk satu senyum tipis, kedua tangannya terlipat di depan dada, “Ya, apalagi menurutmu? Aku tidak menguarkan bau busuk sepertimu.”

Aku terlalu terkejut untuk berkomentar apa-apa. Sampai akhirnya Morgan melompat dan langsung bertransfigurasi menjadi serigala berbulu dengan corak antara hitam dan putih. Aku memundurkan kakiku ketika keduanya bergelung dalam pertarungan yang tidak dapat di kupindai dengan mata normal. Namun anehnya, secara perlahan-lahan, aku bisa melihat setiap gerakan paling cepat sekalipun. Kedua tanganku bergerak lambat, menutup mulutku.

Kakiku mundur selangkah. Menyadari segalanya semakin dekat. Satu demi satu tanda-tanda yang muncul didiriku. Penciuman tajamku yang membawa keberuntungan dengan selamatnya Lucia. Kekuatanku mematahkan rantai besi yang mengikat kuat kaki Maurette. Dan sekarang, penglihatanku.. setiap gerakan pertarungan Dev dan Morgan. Setiap sentinya aku bisa melihat dengan jelas. Tanpa cela. Tanpa kesalahan. Padahal, jika ini kemampuan manusiaku, ini sangat tidak mungkin. Kakiku benar-benar lemas ketika mendadak sepasang tangan menangkapku yang hampir merosot jatuh. Aku menoleh, menangkap sepasang mata biru terang yang menatapku tajam. Wajah tidak suka Lucia memenuhi pandanganku.

“Kita menyingkir, Sherena.” Dia menarik tanganku.

Bersamaan dengan itu, Morgan berhenti bertarung. Menggeram memandangku, memperlihatkan deretan giginya yang mengerikan. Dia melangkah mendekat. Lucia menarik tanganku, “Ayo.” Katanya. Mau tak mau aku berbalik dan mengikutinya. Dari sudut mataku, aku bisa melihat Dev membuat Morgan berhenti dengan suaranya yang lembut bermelodi, “Pertarunganmu disini, serigala bau. Kita belum selesai.”

Dengan terseret-seret, kakiku berusaha mengikuti Lucia. Dan seperti yang sebelumnya kusadari, sedikit demi sedikit langkahku mengadaptasi langkah Lucia. Aku sadar Lucia sedikit melirikku, namun dia berusaha menahan ketertarikkannya pada apa yang sedang terjadi.

“Sherinn!”

Langkahku dan Lucia berhenti mendadak. Di depan kami, berdiri dengan mata bertanya-tanya, Danial, Merrita dan empat orang lain yang tidak aku kenal, namun dengan jelas adalah manusia serigala. Mereka melihat bergantian dari aku ke Lucia dan pegangan tangan Lucia di lenganku.

“Vampir busuk itu menculikmu, Sherinn?”

Lucia tertawa mengejek, “Seperti itukah yang kalian lihat?”b

“Lepaskan dia.” Tegas Danial, maju selangkah.

“Ak-aku baik-baik saja, Danial.” Aku mencoba menengahi.

“AP-“

“Tolong!! Tolongg!!!!”

Alisku saling tertaut, sama seperti yang terlihat di hampir semua wajah yang ada disini. Kami semua mencoba mendengar dengan lebih baik, dan mendadak aku melihat Lucia tersenyum ceria, “Wah wah, sepertinya sedang ada pesta darah di kejauhan sana. Saranku lebih baik kalian pergi kesana daripada menemaniku berbincang disini. Hanya untuk meminimalisir jumlah korban.”

“APA MAKSUDMU, VAMPIR BUSUK?” Merrita berteriak marah. Dia sudah akan berubah dan menerjang Lucia jika Danial tidak menghalanginya. Satu tangannya menahan Merrita. Dia mengabaikan Merrita yang memandangnya, memprotes. Dia menoleh pada keempat orang lain yang ada di belakangnya, “Pergilah ke arah teriakan itu, aku bisa mengurus ini sendirian.”

Mereka berempat saling berpandangan sebelum mengangguk, dan berlari menuju pusat teriakan tadi. Danial memandang Merrita, “Kau juga.” Perintahnya sambil melepaskan pegangannya pada tangan Merrita.

“Tap-“

“Tidak ada protes, Merrita.”

Meskipun dengan sangat enggan, aku melihat Merrita berlari ke arah yang juga dituju empat orang sebelumnya. Sekarang, ketika kami hanya tinggal bertiga, Lucia melepaskan pegangan tangannya. Dia bersedekap, memandang Danial.

“Jadi kau memutuskan tinggal? Sendirian? Tidak takut denganku??”

Danial tertawa sinis, “Takut? Pada makhluk sepertimu? Kau berkhayal.”

Lucia menipiskan bibirnya, “Sayangnya kau bukan manusia sepenuhnya. Jika saja kau bukan manusia serigala, mungkin aku tertarik untuk merasakan darahmu.”

“Tutup mulutmu!” Danial berteriak marah. Aku sendiri tidak tahu aku harus bagaimana. Aku terjebak dalam adu mulut mereka tanpa aku tahu harus ikut bicara atau tidak. Seluruh perhatianku masih terpusat pada teriak-teriakan minta tolong yang tadi kudengar. Apakah itu perbuatan Maurette? Apakah dia melukai penduduk desa yang tidak bersalah?

Aku menelan ludahku, “Lucia..” bisikku memanggilnya.

Dia menoleh, memandang tidak setuju seakan paham bahwa aku ingin ikut pergi ke tempat yang juga dituju oleh Merrita dan kawan-kawannya. Aku menelan ludahku, seluruh otak dan tubuhku mempedulikan teriakan-teriakan itu, namun sekuat tenaga aku berusaha mengontrol diriku sendiri.

Ketika aku kembali memfokuskan diriku, aku menerima tatapan mata tajam Danial yang menusukku, “Jadi apa yang sebenarnya terjadi, Sherinn?”

“Ak-“

Lucia tersenyum sinis, “Namanya Sherena kalau aku boleh mengoreksi.” Katanya memorong perkataanku.

Kening Danial berkerut, wajahnya mengeras, “Kau..” Danial kehilangan kata-katanya, tubuhnya sedikit gemetar menahan amarah yang terlihat jelas di wajahnya, “Morgan mempercayaimu, Sherin- atau harus kupanggil kau Sherena.”

Aku mengusap wajahku, “M-maaf. Maafkan aku Danial.” Lirihku tidak menemukan kata-kata lain selain maaf.

“Morgan mempercayaimu, menganggapmu anggota kelompok kami meski kau hanya beberapa minggu di desa ini. Dia melihatmu sebagai bagian dari kami, keluarga.” Desisnya membuat dadaku merasa sakit, semua kata-katanya benar-benar menghujam tepat ke jantungku. Menyakitkan. Semua yang dikatakannya benar. Aku tahu itu, namun aku harus menahan segala rasa sakit ini. Karena memang inilah resikonya.

Aku masuk ke kelompok Morgan dengan tujuan. Tujuan bahwa aku harus mengambil informasi sebanyak mungkin yang ada dalam kelompok mereka. Meski memang sifat asliku yang kutunjukkan, aku tetap memakai topeng. Aku tetap mengelabui semua orang di desa ini, Morgan, Danial, Rupert, Merrita.. semua orang. Ini adalah tugas. Dan aku tidak boleh membawa perasaan apapun dalam tugas ini, bahkan perasaan sebagai teman sekalipun.

Dengan mata tegas, aku memandang lurus ke arah Danial, “Aku tidak bisa mengatakan apapun untuk membela diriku, Danial. Maaf..”

Tangan Danial mengepal, “Setidaknya katakan padaku apa alasannya?”

Lucia tertawa, “Kenapa kau masih saja banyak bicara? Tidakkah apa yang kau dengar itu sudah cukup.” Ucap Lucia sebelum menatapku, “Kita pergi sekarang. Situasi semakin tidak terkendali.” Katanya dengan suara sangat pelan.

Meski aku tidak tahu situasi mana yang Lucia maksud, aku mengangguk. Lalu kembali menatap Danial, “Sampaikan maafku pada Morgan, Danial.” Ucapku tulus.

“Kau tidak bisa pergi begitu saja, Sher-rena.” Geramnya.

Dalam sedetik, aku melihat Danial sudah bertransfigurasi menjadi serigala yang sama besar dengan Morgan, hanya saja dia berwarna abu-abu. Serigala itu menggeram marah, Lucia memintaku mundur. Dan tanpa membantah, aku menurutinya. Danial menerjang Lucia, dengan kecepatan menakjubkan Lucia menghindar dan memegang leher belakang Danial, mengangkatnya dan melemparkan tubuh Danial dengan kekuatan penuh. Aku mendengar bunyi berdebum yang keras ketika tubuh serigala Danial menghantam satu pohon hingga rubuh, dan berlanjut ke satu pohon lagi di belakangnya. Aku membelalakkan mataku, sebesar itukah kekuatan Lucia? Wujud serigala Danial tak juga berubah, kulihat serigala abu-abu besar itu meringkuk menggenaskan. Sepertinya salah satu kakinya patah. Lucia berlari maju sebelum aku sempat berkata Tidak. Dia mencengkeram leher berbulu Danial dengan kedua tangannya, sangat erat. Kuku-kuku tajam Lucia jelas menghujam tajam ke kulit ari lehernya.

Lucia tidak boleh membunuh Danial.

Pikiran itu yang pertama melintas di kepalaku, ketika aku berlari, menepiskan tangan Lucia dengan kasar dari leher Danial. Lucia menatap penuh kemarahan kepadaku, bisa kulihat matanya yang masih biru.

Jadi Lucia tadi bertarung dengan tidak menggunakan kekuatan penuhnya?

“Cukup. Kita pergi saja. Aku mohon jangan bunuh dia.”

Lucia mengibaskan tanganku, “Terserah apa maumu, yang penting ayo pergi. Ikuti aku. Komplotannya sudah mendekat.” Bentakknya. Aku hanya mengangguk, mengikuti Lucia setelah sempat berbalik sejenak, menatap Danial, “Maaf.” Gumamku ketika mata serigalanya menatapku, nanar.

Aku dan Lucia berhenti mendadak ketika mendengar bunyi berdebum keras di depan kami. “Morgan, “ bisikku ketika melihat sesosok serigala besar dengan tatapan membunuh menghadang jalan kami. Aku mendengar Lucia memaki keras melihat sosok Morgan. Namun yang menjadi fokusku bukan itu melainkan bekas-bekas darah di sekitar moncong Morgan. Aku tidak bisa mengatakan bahwa Morgan kelihatan baik-baik saja, namun dengan fakta bahwa dia masih tegak di depanku membuatku ketakutan. Apa yang telah terjadi? Dimana Dev?  Apa dia baik-baik saja?

Matanya yang gelap memandangku ketika dia melangkah dan berubah menjadi manusia. Begitu sosok serigala itu lenyap dan tergantikan dengan sosok manusia Morgan, aku bisa melihat dengan jelas tubuh Morgan mengalami luka-luka yang tidak bisa dikatakan ringan. Namun berkas darah di sekitar mulutnya itu masih ada. Masih ada dan terlihat begitu jelas.

“Sherinn,” geramnya sambil melangkah maju dan menyeka mulutnya. Membuat darah yang semula ada di sekitar mulutnya hilang dan berpindah ke punggung tangannya. Aku merasakan tangan Lucia menarikku mundur beberapa langkah.

“K-kau..” matanya menatapku lurus-lurus, “..mengkhianatiku.”

“Morgan..” suaraku terdengar lemah. Aku berusaha menjelaskan, namun tatapan matanya yang mengerikan membungkam mulutku dan membuatku kesulitan mengeluarkan kata-kata yang sudah ada di pikiranku.

“Jadi kau satu kelompok dengan mereka semua. Vampir-vampir busuk yang menyerang masuk ke wilayahku dan membunuh beberapa penduduk desa yang tak tahu apa-apa?”

Aku menggeleng, “Kami tidak membunuh siapapun disini.” Kataku membela diri.

“KAU PEMBOHONG!!” raungnya penuh kemarahan, “Mereka yang berpapasan denganku mengatakan bahwa vampir perempuan gila yang kau lepaskan itu telah memporak porandakan desa. Membunuh beberapa orang desa tak berdosa, membuat semua manusia yang ada disini ketakutan. Merasa bahwa desa ini bukan lagi tempat yang aman. Kau membuatku merasa menjadi ketua kelompok yang gagal, Sherinn.”

“Ma-maurette..” Jadi Maurette melakukannya juga. Perihal yang disebutnya dengan balas dendam. Aku menggeleng, “Aku membebaskannya bukan untuk membiarkan Maurette membunuh penduduk desa.” Engahku.

Suara tawa Morgan yang sinis terdengar menyeramkan, “Maurette? Kau bahkan sudah mengenalnya.” sinisnya, “Itukah alasanmu begitu marah padaku karena aku telah membunuh pasangannya?”

Aku membeku di tempatku. Tidak tahu harus berkata apa-apa lagi.

“Kau tahu aku menaruh kepercayaanku kepadamu, Sherinn.” Suaranya terdengar penuh kekecewaan. Aku menepis apapun itu jenis rasa bersalah yang menyapaku karena aku tahu bahwa sejak awal aku memang sudah bermaksud memanfaatkan Morgan untuk melancarkan segala tugasku disini.

“Aku minta maaf.” Kataku dingin.

“Minta maaf katamu?” satu alisnya terangkat, “Bawa saja maafmu itu ke neraka.” Geramnya sambil melompat ke arahku dan langsung berubah menjadi serigala besar yang sangat berambisi untuk membunuhku.

Aku tahu aku tidak bisa menghindar lagi. Dia terlalu cepat. Aku memejamkan mataku. Luciapun tak bisa menolongku jika memang Morgan sudah berniat untuk membunuhku. Aku memejamkan mataku makin kuat. Jadi seperti ini akhirnya? Kematianku? Ibu. Arshel.. Ar.. selamat ting..

Aku hampir melompat kaget ketika mendengar bunyi keras akibat sesuatu yang besar menghantam tanah dengan keras. Aku melihat tubuh serigala Morgan terjatuh tak jauh dari tempatku berdiri dengan Dev di atasnya.

Dev??

“Dev!!” aku memekik girang melihat Dev masih hidup dan menyelamatkanku untuk kesekian kalinya.

Kepala Dev menoleh ke arahku, seutas senyum dipampangkannya untukku sekilas sebelum dia sibut bergelung dengan Morgan yang langsung bangkit dan berusaha mengigit lehernya. Mereka bergelut dengan kecepatan yang membuatku tercekat menyadari bahwa Morgan jelas bukan lawan yang bisa diabaikan begitu saja.

“Kita pergi sekarang. Dev tidak akan bisa menahannya lebih lama lagi.”

Aku menoleh cepat memandang Lucia, merasa tidak percaya pada apa yang dikatakannya. Pergi? Itu artinya meninggalkan Dev menghadapi Morgan seorang diri, sekali lagi? Tidak. Ini gila.

“Kau bisa menolongnya, dan kita pergi bersama.”

Lucia menggeleng, “Tidak bisa, Sherena. Jangan keras kepala. Sebentar lagi tempat ini akan penuh dengan manusia serigala. Itu artinya kita akan dikepung. Dan jika itu terjadi, jangan harap kau bisa melihat kehidupan lagi setelahnya.” Katanya keras.

“Tap-tapi Dev.” aku menoleh memandang Dev yang masih bertarung sengit dengan Morgan. Aku melihatnya, setiap luka yang ada ditubuh Dev. Semua darah yang mengalir membasahi baju yang menempel di tubuhnya yang sekarang berantakan, dan disana.. di pinggang kanannya, ada luka besar menganga yang mengeluarkan darah segar, “Dev terluka, Lucia. Dia bisa mati jika kita meninggalkannya.” Teriakku marah.

“Dev!!” aku menghempaskan tangan Lucia yang masih menggandengku dan berlari ke arah Dev dan Morgan. Serigala besar berwarna putih dengan bercak-bercak hitam besar dan banyak itu memutar kepalanya dan menggeram memandangku. Dia mengeluarkan suara yang membuatku merinding dan membeku seketika ketika Morgan mengabaikan Dev dan beralih berlari dengan sangat cepat ke arahku.

“Dasar bodoh.” Maki Lucia yang berdiri di depanku dan dengan cepat menahan moncong Morgan yang tadinya sudah begitu dekat di wajahku. Aku melihat bekas darah-entah darahnya sendiri atau malah Dev- dan air liur yang menetes dari gigi-giginya. Dengan sekuat tenaga Lucia mendorong keras tubuh Morgan sehingga dia mundur beberapa meter dari tempat kami.

“Rena, pergi!!” aku mendengar teriakan Dev sebelum dia mengambil alih Morgan lagi.

Aku menggeleng kuat, airmataku mengalir deras, “T-tidak. Tidak Dev!”

“Aku akan melindungimu. Jadi pergilah atau segala yang kulakukan akan sia-sia!” aku masih bisa melihat Dev mencoba menahan segala serangan Morgan dengan susah payah. Dia menatapku sekilas, “Aku mohon.” Engahnya hampir kehabisan tenaga.

”T-tidak Dev, ak-“

“Lucia!!” Dev berteriak marah mengabaikanku yang menolak keras untuk pergi, “Bawa dia pergi. Lindungi Rena.”

Lucia mengangguk, “Ayo.” Dia menyeret tanganku, dan aku meronta dengan keras. “Tidak, Lucia. Dev bisa ma-“

PLAK.

Dia menamparku dengan keras. Menangkup kedua wajahku yang penuh air mata, “Dengarkan aku dan menurutlah.” Bentak Lucia. Aku masih mencoba menggeleng, mengabaikan rasa panas di pipiku karena tamparan Lucia. “Dev- Dev, Lucia Dev.”

Aku melihat Lucia menggeleng dengan keras, sebelum aku melihat gerakannya tangannya di belakang kepalaku. Apa? Tidak, Lucia tidak boleh-, “Lu-“ Dan rasa sakit yang datang dari belakang kepalaku membawaku pada kegelapan total yang menyeret semua titik kesadaranku.

“Dev..”

***

Rasa sakit itu masih berputar-putar di kepalaku ketika aku mencoba membuka mataku, pandangan mataku berkunang-kunang. Aku mengerjapkan mataku mencoba mengusir segala rasa sakit yang kurasakan dan dengan keras berusaha agar mataku kembali fokus.

Dev?

Aku melompat bangun dan menyingkirkan selimut yang menutup rapat tubuhku sampai batas dada. Kesadaran lain memerangkapku ketika aku mengenali tempat ini. Ini, ruang tidurku di kastil. Ruang tidurku? Aku sudah di kastil? Aku menggeleng. Memaki keras, Lucia bodoh. Kenapa dia tega-teganya membawaku kembali ke kastil dan meninggalkan Dev. Meninggalkan Dev?

Dev.., aku memanggil namanya seraya bergerak cepat turun dari tempat tidur. Aku harus kembali. Aku harus ikut bertarung bersama Dev. Aku bisa menggunakan pedangku. Aku bisa memakai busur dan anak panahku. Aku bisa memakai apa saja untuk bertarung dan melindungi kami berdua. Aku bisa.. dan jika semua usahaku gagal, aku bisa memohon pada Morgan. Setidaknya Morgan pernah menjadi orang yang dekat denganku dan sangat menghargaiku. Aku akan memohon padanya agar membebaskan Dev dan membawaku. Aku bisa.. aku bisa melakukannya.. banyak hal. Banyak hal untuk menolong Dev. Jika segalanya memang belum terlambat. Terlambat??

Aku mengabaikan pikiran-pikiran buruk yang menghampiri otakku dan bergegas keluar dari ruanganku. Aku menuruni tangga dengan cepat meski harus dengan memegang erat-erat pegangan tangga untuk menahan keseimbanganku. Aku masih merasakan rasa sakit di kepalaku dan entah bagaimana, dadaku terasa panas dan ini tidak berhubungan dengan kemarahanku atau tekadku menyusul Dev. Aku tidak tahu dan aku tidak mau peduli. Persetan dengan semua rasa sakitku, aku tak mau tahu. Aku hanya ingin menyusul Dev.

Langkahku berhenti di ujung tangga ketika aku mendengar suara ribut di aula utama kastil ini. Aku melangkah pelan mendekati asal suara. Aku berhenti, melihat banyak orang berdiri dengan wajah yang sama sekali tidak mengisyaratkan kebahagiaan. Rosse, Damis, Lucia dan.. Lyra. Lyra? Bukankah Lyra dan Dev merupakan satu kelompok kecil. Mereka seperti saudara bukan. Aku masih ingat bagaimana ramahnya kelompok mereka, kecuali Lyra sendiri tentu saja. Viona Corbis yang lembut dan Michail Corbis yang meskipun tidak bicara banyak, tetap tidak terlihat membenciku.

Lalu Lyra, kenapa dia bisa ada di kastil?

Aku menyentuh dadaku ketika rasa panas yang tadi kuabaikan menjalar disana makin kuat. Mengabaikannya, aku melangkah lagi. Bisa kulihat dengan jelas wajah cantik Lyra penuh dengan air mata. Rambut hitam kebiru-biruannya tergerai tak rapi. Damis di depannya, berusaha memeluknya namun Lyra menampik kedua tangan Damis dengan kasar dan melewatinya, dia menuju ke Lucia. Mencengkram kedua lengan Lucia, “Dimana?” suaranya serak, “Dimana Dev? Dimana dia?” teriak Lyra dengan air mata yang mengalir deras dari matanya, “Katakan Lucia. Katakan padaku dimana Dev??” dia mengguncang bahu Lucia dengan keras.

Lucia tidak menampakkan ekspresi apa-apa. Wajah cantiknya begitu dingin, “Maaf.”

“Dia pergi bersamamu. Dia melakukan tugas bersamamu. Lalu kenapa kau ada disini? Dimana Dev? Kenapa kau ada disini sementara Dev… Dimana dia?” suaranya melemah, lututnya lemas dan tubuhnya merosot jatuh. Tangannya beralih mencengkram kaki Lucia, “Dev.. Dev.. Dev.” panggilnya dengan suara menyayat.

Rosse berjongkok, menyentuh bahu Lyra, “Maafkan kami, sayang. Kami tidak bisa berbuat apa-apa untuk menolongnya.”

“Rosse,” Lyra memindai wajah Rosse, kesedihan yang sangat jelas tergurat disana. Aku sama sekali tidak melihat Lyra yang selama ini aku kenal. Wajah sinis Lyra. Wajah tidak suka Lyra. Suara Lyra yang selalu terdengar tidak ramah dan ketus jika bicara denganku. Ada apa? Apa Lyra mengetahui sesuatu yang terjadi pada Dev. Ada apa sebenarnya?

Tangan Lyra menyentuh dadanya, “Sakit. Sakit sekali disini, Rosse. Petanda itu.. kau tahu Rosse. Kau tahu apa maknanya bukan?” dia terisak pedih, “Kami.. kami semua merasakannya.” Suaranya menghilang dan dia menangis semakin keras. Tangannya yang mencengkram kaki Lucia terjatuh lemas.

“Lyra sayang.” Rosse maju memeluk Lyra, dan dalam pelukan Rosse tangis Lyra semakin pecah. Aku memandang Damis, aku merasakan tangannya menegang. Bahkan wajah datar Lucia menyiratkan kesedihan yang dengan keras dicoba untuk ditutupinya.

“Ada apa, Damis? Petanda.. apa maksudnya?” tanyaku pelan sambil menyentuh dadaku ketika aku mendekat dan mencapai tubuh Damis. Rasa panas di dadaku mulai terasa sangat menganggu.

Damis menoleh cepat dan sangat terkejut ketika melihat aku ada disini. “Rena, kenapa kau bangun?”

“Damis,” aku memohon jawabannya.

Damis mendesah, tahu bahwa aku sedang tidak ingin dibantah, “Ketika salah satu anggota kelompok mati, semua anggota kelompok akan merasakannya, disini.” Damis menyentuh dadanya, “Kau akan tahu siapa yang akhirnya meninggalkanmu selama-lamanya. Semua anggota dalam kelompok saling terkait satu sama lain. Sebuah ikatan yang melindungi dan mendekatkan anggota kelompok selama hidup mereka.”

Suara Damis pelan, namun bagiku suaranya terdengar begitu keras di telingaku. menyakiti gendang telingaku langsung ke sarafku. Aku sadar seluruh tubuhku gemetar, “Rena..” Damis merangkul bahuku ketika tubuhku limbung. Tapi aku bahkan tidak menyadari itu. Yang ada di kepalaku hanya Dev. Dev.. Dev kenapa? Dev baik-baik sajakan. Dia baik-baik saja. Dev baik-baik saja, bukan?

Mendadak Lyra mengangkat wajahnya. Menatapku tajam, “Sherena,” desisnya bersamaan dengan perubahan warna matanya dari biru ke merah pekat. Dia berdiri dengan cepat membuat Rosse yang tengah memeluknya hampir terjungkal. Dia tidak bicara apa-apa, hanya menatapku lurus-lurus, seolah-olah hanya ada aku di ruangan ini. Langkahnya sangat pelan namun pasti menuju ke arahku.

Dia berhenti ketika jarak antara kami hanya tinggal satu langkah. Garis bibirnya membentuk seutas senyum tipis yang bagiku terlihat mengerikan, rangkulan Damis di bahuku mengerat, “Kau puas sekarang?” lirih Lyra, masih menatapku tanpa berkedip satu kalipun sejak dia mendongak dan memerangkapku dalam tatapannya.

“KAU PUAS SEKARANG, SHERENA AUDREISTA??” jerit Lyra di depanku, air matanya menetes lagi, namun rahangnya mengeras. Aku membeku, tidak dapat menggerakan sendi-sendi tubuhku.

“Lyra!” Damis mencoba bicara, namun Lyra tak mengacuhkannya. Dia sama sekali tidak memandang ke arah Damis. Aku bahkan curiga jika dia bahkan mencoba untuk tidak mendengarkan apapun. Bahkan ketika Rosse bangkit dan mencoba menyentuh bahu Lyra dan menenangkannya, Lyra mengabaikannya.

“Kau puas sekarang?” salah satu alisnya naik, guratan wajahnya membentuk seraut wajah sinis penuh amarah yang membuatku mengerut. “Inikah yang kau mau? Dev berkorban untukmu. Berkorban untukmu sampai akhir.”

Lyra berhenti, mengatur amarahnya, “Dev tidak pernah berhenti mencintaimu meski seluruh kelompok besar menentangnya. Dev tetap mencintaimu meski dia menerima siksaan karena perasaannya itu terhadapmu. Dia mengorbankan banyak hal untukmu, Sherena.” Damis mencengkram bahuku ketika Lyra bicara ini, aku tidak tahu kenapa tapi sekarang fokusku jatuh pada Lyra, bukan pada orang lain.

“Tahukah kau apa impian terbesar Dev yang dia katakan kepadaku,” tubuh Lyra mengejang, “Dev..Dev bilang dia ingin melindungimu. Melindungimu sampai akhir.” Aku mendengar tawa Lyra, tawa yang sarkastik, “Jadi pada akhirnya dia melakukannya. Dia mencapai impiannya, dia melindungimu sampai akhir, benar-benar sampai akhir. Dev bodoh. Harusnya kau tahu bagaimana bahagianya dia menerima tugas ini dari Reven. Tugas untuk melindungimu dalam penyusupan yang kau lakukan. Dia tersenyum sepanjang hari sebelum akhirnya dia pergi bersama Lucia. Dia berkata padaku bahwa dia akan melindungimu sampai darah penghabisan jika memang itu diperlukan. Aku hanya tertawa ketika itu. Kupukul kepalanya dan kukatakan seharusnya dia lebih fokus pada tugasnya dan jangan banyak berkhayal tentang hal buruk.”

Ketika itu aku melihat mata Lucia kembali berubah menjadi biru, tepat ketika aku benar-benar merasa seperti dipanah. Rasanya sangat sakit dan.. Deverend Corbis, kau nenar-benar bodoh, makiku dalam hati. Aku juga menyayangimu meski aku tidak bisa memberikan cinta yang sama seperti cinta yang dulu pernah kita bagi bersama.Kenapa Dev begini bodoh. Hanya demi aku.. hanya demi aku dan Dev.. Dev.. tidak..

“Kurasa dia sudah merasakannya. Kurasa dia tahu dia akan pergi dan tidak mungkin kembali ketika dia memelukku dengan erat dan mengatakan dia menyayangi kami semua. Aku, Viona, Michail dan semua anggota kelompok kami.” Mata Lyra menerawang, “Dan dia bilang, aku mencintai Sherena, Lyra. Jadi bersikaplah baik padanya. Dia minta aku bersikap baik padamu dan sekarang.. sekarang aku-“

Aku berlari menerjang Lyra dan memeluknya erat. “Maaf-maafkan aku. Maaf. Maaf. Maaf.” Rapalku keras-keras. Aku tidak perlu mendengar sahutan Lyra, tangannya yang balas memelukku meski ragu, sudah menjawab semuanya.

Maaf. Maafkan aku, Lyra. Maafkan aku, keluarga Corbis. Maaf.. maafkan aku, Dev. maaf…

***

“Kenapa kau mau menjadi heta, Rena?” Dev membelai rambutku perlahan, aku menyandarkan kepalaku ke dadanya, bermain-main dengan anak panah di tanganku. “Jarang sekali ada perempuan yang berminat dengan pekerjaan seperti ini.” Komentarnya lagi ketika menyadari bahwa aku sama sekali tidak mengindahkannya.

Aku memiringkan kepalaku, mendongak memandang wajah tampan Dev. Aku tersenyum, selalu merasa beruntung ketika aku memandang wajah Dev. Aku memiliki seseorang yang sangat tampan dan dia mencintaiku. Semua yang ada pada Dev membuatku bangga. Meski aku tidak bisa memamerkannya di hadapan banyak orang karena kami setim, aku tetap merasa bangga. Aku sangat bahagia menemukan seseorang seperti Dev. Dan semua ini juga berkat Ar. Ah makhluk satu itu, Ar juga anugerah terbesar dalam kehidupanku. Kedatangan Ar dalam hidupku seolah terus menerus membuat nasib baik berpihak padaku.

“Aku ingin melindungi ras kita, manusia.” Jawabku sebelum kembali beralih pada anak panah yang masih ku pegang.

“Tapi heta hanya melindungi keluarga kerajaan.” Protes Dev.

Aku tertawa, “Aku tidak lulus, kau tahu itu bodoh.” Aku bangkit, memukul kepala Dev pelan dengan wajah sok sebal.

Dev mengaduh, menggosok-gosok kepalanya, “Kau ini perempuan. Bersikaplah lebih lembut,” sungutnya manja.

Aku tak mempedulikannya, hanya tertawa. “Aku ini tidak sehebat Ar.” Jawabku akhirnya. “Jadi meskipun aku punya tekad kuat untuk menjadi slayer, aku tidak bisa melakukannya karena kemampuanku hanya setara dengan kemampuan heta.”

Kedua alis Dev terangkat, “Apa kau pikir aku tidak tahu? Kaukan memang lemah.” Ejeknya membuatku berang. Aku melemparkan anak panahku, memutar tubuhku dan memukuli dada Dev dengan kesal, “Kau menyebalkan, kau tahu? Kau menyebalkan. Me-nye-bal-kan.”

Dev tergelak, lalu mendadak dia diam dan bertanya dengan mimik muka serius, “Kau ini dekat sekali dengan Ar ya?”

Aku menatapnya dengan wajah yang masih sebal, “Tentu saja.” Aku menaikkan daguku, “Kami dekat sekali. Dan..” aku berhenti dan menatap wajah Dev lekat-lekat, “Jangan katakan kau cemburu pada kedekatanku dengan Ar.” Aku melihat Dev diam, dan tawakupun pecah, “Konyol. Ar? Kau cemburu pada Ar? AR?? Astaga Dev, kau benar-benar..” aku masih menertawainya.

“Kadangkala kau justru lebih menyebalkan dariku, Rena.”

Aku semakin geli, “Oh ayolah, Dev. Kau tahu aku dan Ar, lebih daripada orang lain di tempat pelatihan ini.”

Dev mengangguk, “Aku tahu.” Sahutnya singkat, “Tapi kadang menyebalkan juga kalau kau lebih banyak dekat-dekat dengan Ar daripada denganku.”dia memberengut. “Lebih baik kalau Ar itu benar-benar kakakmu, jadi aku bisa tenang. Lagipula kau dan Ar-kan mirip.”

“Kata orang, mirip itu bisa jadi petanda jodoh.” Aku menggodanya.

“Kau jodohku.” Sahutnya posesif. Dengan gerakan sangat cepat Dev menangkap kedua lenganku, “Aku tidak akan membagimu dengan laki-laki manapun. Kau milikku.” Tegasnya membuat jantungku berdegup dengan cepat. “Dan bolehkah aku memintamu berhenti jadi heta. Itu membahayakanmu.” Tambahnya tiba-tiba.

Keningku berkerut. Setelah membahas tentang aku dan Ar, kenapa Dev memilih melompat lagi membahas tentang pekerjaanku. Aku menunjukkan wajah tidak suka. Biasanya jika sudah membahas masalah ini, kami akan berakhir dengan pertengkaran yang menyebalkan.

“Dev.. kita sudah pernah membahas ini berkali-kali. Ak-“

Mendadak dia menarikku ke dalam pelukannya. “Aku menyayangimu, Rena.” Bisiknya sambil menenggelamkan wajahnya ke leherku, “Aku menyayangimu.. aku sangat menyayangimu. Aku tidak ingin melihatmu terluka hanya karena pekerjaan itu.”

Wajahku merona, aku tahu itu tanpa aku perlu melihatnya. Debaran jantungku pasti terasa dengan jelas dalam pelukanku, “Aku juga menyayangimu, Dev.” balasku pelan. Aku benar-benar menyayanginya, bahkan aku mungkin juga sudah mencintainya. Dev.. Dev-ku. Laki-laki yang sedang memelukku ini adalah milikku. Wajahku merona makin merah. Dev milikku dan dia menyayangiku. Dia bahkan sangat mengkhawatirkanku karena aku seorang heta. Ah, betapa beruntungnya aku.

Aku memberengut, protes ketika dia melepaskan pelukannya. Dev menangkup wajahku dengan kedua tangannya yang lebar. Dia mengusap pipiku lembut, “Kau sangat cantik.” Pujinya yang justru membuat bibirku mengerucut, “Jangan menggodaku.”

Dev mengangkat kedua alisnya dan tertawa kecil, “Aku tidak menggodamu. Kau memang sangat cantik. Hanya saja kau tidak menyadarinya dan terlalu sibuk dengan urusan-urusan yang harusnya diurus oleh laki-laki.” Katanya lagi.

Aku menepis tangan Dev dari wajahku. Ini topik yang tidak ingin kubahas. Dan dia selalu memancing-mancingku untuk membahas ini lagi, lagi dan lagi. Tadikan dia sudah berhenti bicara tentang ini. Sejak awal Dev agak keberatan dengan pekerjaanku sebagai heta. Aku tahu. Dia selalu punya banyak alasan untuk membuatku mundur dari pekerjaanku ini. Dia bilang ini pekerjaan laki-laki, ini membahayakan dan entah apalagi. Aku tidak pernah mengingatnya..

“Aku bisa menjaga diriku sendiri, Dev.” belaku.

Dev menghela nafas, “Aku tahu. Tapi aku tetap mengkhawatirkanmu. Sudah berapa kali kukatakan, Rena, aku tidak mau melihatmu sampai terluka. Itu akan melukaiku lebih dalam.”

Aku terharu. Sangat terharu sampai nyaris menangis. aku tahu, Dev seringkali bertingkah bodoh. Namun kata-kata spontannya yang sederhana kerap membuatku melupakan itu dan hanya melihatnya, menyukainya. Aku tersenyum, menyentuh pipinya dan mengecupnya lembut, “Aku akan menjaga diriku, Dev. Aku janji.” Ujarku membuat dia memandangku dengan sendu. Aku benar-benar akan menjaga diriku untuknya, dan untuk semua orang yang melindungiku.

Seakan mampu membaca pikiranku, Dev mengangguk. “Aku percaya padamu, Rena.” Dia mencium keningku. Menatapku dengan matanya yang berwarna biru. Wajah kami hanya berjarak kurang dari sepuluh sentimeter, dan jantungku berdetak lagi dengan kecepatan tidak wajar. Deverend Corbis, kau selalu bisa membuatku merona dengan detak jantung tidak normal seperti ini.

“Tapi aku tetap akan melindungimu meski kau berkata kau bisa menjaga dirimu sendiri. Aku berjanji aku akan selalu melindungimu, Sherena Audreista. Kau bisa pegang janjiku ini.. untuk selamanya.”

Deg.

“Dev..” aku tidak bisa menahan perasaanku lagi. Aku menarik wajahnya semakin dekat padaku dan menciumnya. Aku menyayangi laki-laki ini, ah tidak. Salah. Aku mencintai laki-laki ini. Aku mencintai laki-laki ini. Aku sangat mencintainya..

<< Sebelumnya 
Selanjutnya >>

Mau Baca Lainnya?

56 Comments

  1. ya tuhaaaaan dev..
    npa mesti dev thor???
    npaa..???
    sumpah… q smpe menitikkan air mata…
    q bener" mersa kehilangaaan…..
    aaaahh…author jhaaat bgeet shh..
    npa gg yg lainz yg mati….
    npa mesti dev…
    #nangis sambil guling"…

  2. Maaf maafkan aku. Takdir Dev berhenti disini, namun setidaknya dia bahagia, karena sampai akhir.. Dev berjuang pada apa yang telah diputuskannya sejak awal.. melindungi Sherena-nya. Ya, Sherena-nya.. Sebab bagi Dev, meski perasaan Rena padanya sudah berubah, dia tak akan berubah. Baginya Rena adalah segalanya. Dunianya adalah Rena, dan jika yang terburuk terjadi pada Rena.. Apa artinya hidup di dunia yang tanpa Rena. dan Dev memilih melindungi… sampai akhir.

    *nangis-masih di pojokan*

  3. Huahhh dev, sumpah kebawa perasaan bgt ini… hebat deh penulisannya thor:) tapi dev, huahhhh :''''(
    Semoga pengorbanan dev ga sia2..
    Kemana reven saat sulit begini? Aduhhh tuh org bukannya bantuin calon ratunya lg dlm bahaya jg, bener2 dh.. jd kesel ama Reven-_-
    Ditunggu lanjutannya thor 🙂

  4. Huhuhu nangis aku bcanya,,, dev rela mati demi rena,,, itu reven nya sbuk sndri aj,, jd sebel deh,, kasian bget deh km dev…….

    unni

  5. aku masih ngarep akhirnya takdir berpihak pada Dev. membiarkan rena tetap menjadi miliknya….
    ah author…aku ga rela dev mati hiks hiks……

    tapi kenapa Rena ngerasain panas di dadanya ya? kan ga satu kelompok…Apa udah ya?

  6. Mata berkaca2 pas chapter ini, tp ditahan karena inget sdg berdiri dlm busway smbl baca lwt hp T_T T_T
    terima kasih sudah di upload dgn versi yg pnjang,, berarti hrz sbr smpe mgu dpn y untk next chapter (tapi bisa kali, lbh cpt! maksa mode on)

  7. Dev, dev, ohh dev…. Sejak awal hanya ini tokoh yg ku suka, ko pergi secepat itu sih?? Knp bkn lucia? Atw reven sj?? Hiks,hiks,hiks.. Selamat jalan dev_ku, kau akan ttp berada di dlm hati sherena.. (╥__╥)
    *Tissue mana tissue*
    (Artharia)

  8. huaaaa,,,, gak rela,, kenapa Dev nya mati,, huhuhu… nangis guling2 di ranjangg,,, uhhh,,, bye Dev… padahal dia sisi lucu yg meringankan penderitaan Sherena,,, hikss… lanjut cerita…

  9. Semoga Dev merasakan kebahagiaan karena telah mencapai apa yang sudah dijanjikannya pada Rena.
    Reven kemana?? Dia sibuk mencari tahu kemana Maurette, dia mengejar keingintahuannya pada permintaan terakhir Noura dan tentang apa yang sebenarnya dilakukan Noura di desa Morgan.

  10. karena Dev benar-benar menyayangi Rena melebihi dirinya sendiri dan dia akan mengorbankan apapun untuk melindungi Rena. Reven sibuk sendiri? Ya, memang menyebalkan rasanya, tapi Reven sebenarnya bahkan gak tahu kalau di desa itu telah terjadi kerusuhan yang sebenarnya dipicu oleh Maurette yang sudah gila dan ingin balas dendam untuk kematian kekasihnya-Lucius, yang tragis.

  11. Jauh di lubuh hatiku terdalam, aku ingin Dev mendapatkan kebahagiaan penuh dengan berakhir pada Rena. Tapi…
    Yah, begitulah akhirnya kehidupan mengarahkan Dev pada akhir seperti ini.

    Kenapa dengan Rena? Dan jawabannya sama sekali bukan tentang dia satu kelompok atau bukan dengan Dev, tapi…. *this is clue for the next chapter, unni* 😛

  12. Ya astaga… sedang dibaca ketika di busway? hehhehe, maaf maaf..

    Kembali kasih, Nia. Next chapter minggu depan ya, tapi aku punya kejutan untuk kalian. Well, nantikan saja ya. *tahan dipaksa* 😛

  13. Maaf Artharia… maaf Dev harus pergi secepat ini karena memang harus seperti inilah akhir untuk Deverend Corbis.

    Kenapa bukan Lucia atau Reven?? Mereka masih punya tugas di chapter-chapter selanjutnya. 🙂

    *sodorin tissue sekotak*

  14. Bukan dalam kontrolku membuatmu menangis. 😛
    hehehehehhe

    maaf ya, Dev harus pergi selamanya di kisah ini.
    Sebab memang harus seperti ini, Anna. *puk puk*

  15. selamat jalan dev.. *(╥﹏╥)
    #kibas2 sapu tangan putih kelangit
    revan pasti senang tuhh, dia kan gk suka kalo rena dekat2 sama dev 🙁

    saya pembaca baru thor, salam kenala ya 🙂
    i

  16. Aduh, kenapa harus dev yang mati ya. Sedih banget, devnya buat aku aja. Sebel sebel sebel, padaha ini tokoh yang palinng kusuka.

  17. Sorry..
    Maaf ya, Dev harus meninggalkan para pembaca yang menyukainya. namun memang begitulah seharusnya, sebab waktu Dev, hanya sebatas disini. :))

  18. Oke ke dugaanku bener kalo yg bakalan mati dev, ah tapi aku masih tetep nangis huwaa T.T terharu… Ditunggu yaa auhor chapter selanjutnyaa… Semoga cepet cepet di upload : ) kangen rena ngobrol aama reven :3

  19. nooooooooo… Hiks..hiks.. Dev… No.. No… Dev… author pleaseeeeee jgn dev… Jgn dev…. Pleaseee hiks..hiks.. Jgn bkin dev mati… lebih baik dev hidup, drpd mati tragis kyk gini… Pleaseeee bkin dev hidup llagi… Hiks..hiks..hiks..hiks.. Huwaaaaa,,, dev……………….T.T

    By ilaarfi

  20. Hiks….hiks…. dev knpa hrs km..
    Sedih banget…..
    Tp ko' reven ga' prnh muncul….smpai hr kmatian dev….

  21. Iya.. aku akan update new chapter secepat aku bisa. Wow ini yang pertama nanyain kapan Rena dan Reven ngobrol, kebanyakn malah nyalahin Reven karena Reven ga ada saat dibutuhkan.
    Well.. ditubggu saja ya chapter baru HV, Rafilla. 😀

  22. Iya, karena memang Dev selesai disini. Dia sudaha menyelesaikan semua yang dia inginkan. Reven ga pernah muncul? Dia sedang mengejar dan mencari tahu tentang permintaan terakhir Noura. 🙂

  23. Morgan tega?? Ya, untuk melindungi kelompoknya dan orang-orang desa, dia akan melakukan yang terbaik yang bisa dia lakukan.
    Goodbye Dev…
    :')
    We'll always love you

  24. Reader kudet datang..
    ya ampun telat banget nemunya…
    dan udah kangen bnget sma HV
    luar biasa, terharu bnget di bagian ini, Dev gone? bnarkah?
    aku jadi sedih, padahal Dev udh bikin aku bercabang dari Ar hhahah..
    keren pokoknya… ngalir banget kisahnya
    Keep Writing!

  25. author…. cerita mu membuat ku seperti menonton film fantasy dalam imajinasiku 🙂 hehehe….

Leave a Reply

Your email address will not be published.