Half Vampire – Permintaan Terakhir Noura

Hallo semua pengemar HV. Maafkan aku terlambat mengupload chapter baru dari HV. Aku sedang sibuk sekali karena harus mengurus Bapakku yang sedang diopname. Jadi aku tidak bisa fokus pada HV. Aku minta doanya pada kalian semua ya, agar bapakku cepat sembut.

Ah iya, terima kasih untuk semua komen yang masuk, aku belum bisa membalasnya dalam waktu dekat ini. Setelah keadaan bapakku mulai sedikit membaik, aku akan meluangkan waktu untuk membalas komen kalian semua. Terima kasih karena tetap menyukai cerita ini. Kalian adalah semangatku.

Peluk

amouraXexa

“Sherinn..”

“Morgan..”

Mata kecoklatan Morgan menatapku. Aku membeku, seolah menemukan mata yang bersinar tanpa belas kasihan, yang dengan sadisnya memerintahkan anak buahnya untuk membunuh Lucius. Mendadak aku merasa muak dengan Morgan. Aku beringsut menjauh, “Apa yang kau lakukan disini?” bentakku penuh marah.

Morgan mengerjapkan matanya beberapa kali, mengusir sisa kantuk yang sepertinya masih menempel di dirinya, “Aku mengkhawatirkanmu.” Jawabnya pelan. Wajahnya terlihat menyesal, “Maaf, Sherinn. Aku tidak tahu kau juga ada di ruang interogasi.” Jelasnya menyadari sebab kemarahanku.

Aku menatap Morgan dengan tajam, “Kau tidak perlu minta maaf padaku. Aku tidak butuh permintaan maafmu. Kau harusnya minta maaf pada perempuan itu. Kau, membunuh pasangan hidupnya dengan kejam. Memaksa dia..” aku kehilangan kata-kataku. Nafasku memburu, aku benar-benar marah pada Morgan. Jika dia memang mau membunuh Lucius, dia bisa melakukannya langsung. Tidak perlu melakukan tindakan barbar seperti itu.

“Mereka vampir.”

Keningku berkerut, mulutku setengah terbuka, “Vampir?” ulangku dengan nanar, “Memangnya kenapa kalau mereka vampir?” suaraku menghilang di akhir kalimat. Memangnya kenapa? Aku menutup wajahku dengan kedua tanganku, menangis. Aku tidak tahu kenapa aku bisa begitu emosi seperti ini. Aku hanya merasa tidak berguna. Harusnya aku bisa membantu Maurette dan Lucius. Harusnya aku bisa melakukan sesuatu sebagai sesama kelompok. Aku.. pada akhirnya aku juga sama seperti mereka. Vampir.

Kaki Morgan maju selangkah, mendekat padaku. “Maafkan aku, Sherinn.” Bisiknya sambil memelukku.

Aku meronta, berusaha melepaskan diri dari Morgan. “Kau jahat, Morgan. Kau jahat. Aku membencimu.” Aku memukulinya dengan keras tapi Morgan sama sekali tidak berusaha menangkisnya. Dia hanya diam menerima semua cacian dan pukulanku. Namun tidak melepaskan pelukannya. Dia bahkan memelukku dengan lebih erat. “Kau.. jahat.” Aku menyerah, terisak-isak di dada Morgan. Morgan merengkuh kepalaku dengan lengannya yang kokoh, “Maafkan aku karena kau harus melihat hal seperti itu. Maaf..” Morgan memelukku lebih rapat, seolah tidak ingin kehilangan diriku, “Maafkan aku.” Suaranya terdengar pedih dan dia berbisik penuh penyesalan di telingaku. Aku mengabaikannya. Tidak mau mendengar apapun. Aku hanya ingin menangis. Hanya menangis dan mengurangi sedikit rasa bersalah yang membuat dadaku panas. Aku benar-benar tidak mendengar apapun yang dikatakan Morgan setelah itu. Aku hanya menangis. Terus menangis sampai aku merasa lelah. Sampai aku bisa mengurangi rasa bersalahku kepada Maurette. Sampai teriakan kesakitan Lucius bisa lenyap dalam benakku. Sampai suara Maurette yang memanggil-manggil Lucius dalam kepedihan menghilang dari kepalaku.

***

Aku terbangun dengan kepala sedikit pusing dan mata sembab akibat semalam menangis. Morgan menjagaku sampai menjelang dini hari hingga akhirnya aku tertidur dan tidak tahu kapan dia pergi. Kulangkahkan kakiku ke kamar mandi dan membasuh mukaku, sedikit merasa nyaman. Begitu aku keluar, aku memeriksa rumah dan menyadari rumah sudah kosong. Aku menempelkan telingaku ke pintu kamar Morgan, tidak terdengar apa-apa. Apakah dia masih tidur? Atau malah sudah keluar?

Aku menghela nafas. Memutuskan aku harus makan dulu sebelum melakukan sesuatu. Saat aku melangkah ke ruang makan, aku melihat sup obat yang dulu selalu menjadi makananku ketika aku masih sakit. Aku duduk, menghela nafas panjang sekali lagi, berarti Morgan sudah tidak ada di rumah, tebakku sambil menyantap sup obat itu pelan-pelan. Sedikit merasa bersalah karena semalam aku begitu kasar padanya. Namun segera kulenyapkan rasa bersalah itu, Morgan tidak pantas menerima rasa bersalahku.

Sembari makan, ingatanku kembali melayang kepada Maurette. Aku sudah memutuskan, aku akan menyelamatkannya, apapun yang terjadi. Jika memang aku harus membongkar penyamaranku di desa ini, aku akan melakukannya. Aku tidak ingin menjadi pengecut yang hanya akan ditindihi rasa menyesal seumur hidupku karena aku tidak bisa melakukan sesuatu yang harusnya bisa kulakukan jika aku mau mengusahakannya.

Maurette dan Lucius. Lucius.. Setelah berpikir lama akhirnya aku tahu dimana aku pernah melihat Lucius. Dia adalah vampir laki-laki yang dulu bersama Reven ketika untuk pertama kalinya kami bertemu di hutan ketika dia mencoba untuk menangkapku. Lalu apakah mereka berdua yang diserahi tugas oleh Reven untuk menjagaku? Tapi bukankah Reven bilang dia akan meminta Damis atau Russel? Ah ya, aku ingat, Russel sendiri masih dalam tugas. Jika Maurette dan Lucius sudah tertangkap, berarti sekarang tidak ada lagi yang menjagaku. Aku menggelengkan kepalaku, berusaha tidak memikirkan itu dan memfokuskan diri pada apa yang akan kulakukan untuk menyelamatkan Maurette.

***

“Apakah menurutmu segalanya baik-baik saja?” Dev mondar mandir dengan gelisah, membuang pandangannya berkali-kali ke arah desa. Sementara Lucia berdiri dengan tegak memandang ke arah desa yang juga dilihat oleh Dev, di bawah bayang-bayang besar pohon yang melindunginya dari sinar matahari.

“Tidak.” Jawab Lucia dengan datar, tudung jubahnya melindungi kerutan di dahinya. Dia tahu segalanya tidak baik-baik saja ketika mereka dengan jelas mendengar jeritan kesakitan itu dari bukit ini tengah hari kemarin. Mereka tidak tahu itu jeritan apa atau siapa, namun suaranya terdengar begitu menyayat. Jeritan seseorang yang menuju kematiannya. Seberapa kerasnya dia dan Dev mencoba mendengar dan mencium lebih baik, tidak ada sesuatu yang membuat mereka tahu itu apa.

Di sisi lain, Dev mencemaskan Sherena setengah mati, dia hampir berlari ke arah desa jika Lucia tidak melarangnya dengan keras. Mereka tidak boleh bertindak  gegabah. Bagaimanapun, sekarang mereka dalam tugas yang diberikan oleh Reven. Dan jika ada kesalahan sedikit saja, Dev tahu, Sherena yang dipertaruhkan.

“Lalu kemarin itu apa?” Dev masih mondar-mandir dengan gelisah. Ketika jubahnya berkibar cepat, membuat sedikit kulitnya terkena sinar matahari, dia berjingkat kaget dan memaki dengan keras. Buru-buru bersembunyi di bawah kerindangan pohon, di samping Lucia yang melihatnya dengan tatapan mencemooh.

“Tidak bisakah kau sedikit bersikap tenang?” cibirnya dengan wajah sinis.

Dev melirik Lucia sekilas, “Aku hanya benar-benar khawatir, apakah tidak seharusnya kita pergi ke desa itu sekarang? Kita punya ramuan dari Venice yang bisa menyamarkan bau kita dari penciuman para manusia serigala.”

Lucia nampak tidak setuju, dia memutar tubuhnya sehingga memandang Dev, bersedekap, “Dengar Deverend Corbis, kau harusnya berpikir sedikit lebih rasional. Dengan dandanan seperti ini, meskipun tidak berbau seperti vampir, itu akan sangat mencurigakan. Jika kau memang mau mempertaruhkan penyamaran Sherena, silakan saja. Pergi dan tanggung sendiri akibatnya.”

Dev memilih diam, tidak membantah karena apa yang dikatakan Lucia memang benar. “Bagaimana kalau malam saja kita menyusup kesana? Hanya melihat apa semuanya baik-baik saja. Setelah itu kita bisa kembali kesini, berjaga seperti biasanya. Dan aku akan bisa sedikit merasa tenang.”

“Terserah kau saja.” Lucia kembali menatap ke desa, nampak tidak peduli dan kesal setengah mati pada sikap Dev.

***

Matahari sudah terbenam beberapa saat lalu, aku berjalan pelan menuju bangunan tempat ruang interogasi itu berada. Itu adalah sebuah bangunan yang terpencil, jauh dari rumah penduduk. Aku berusaha sedapat mungkin tidak terlihat, berjalan sangat pelan di balik bayangan gelap pepohonan. Hari ini mungkin aku beruntung, ketika siang hari Morgan pulang ke rumah, dia bilang, dia ada tugas penting dan tidak akan pulang ke rumah. Jadi kupikir, aku tidak perlu menunggu sampai dia tidur untuk bisa menyusup keluar rumah.

Bersembunyi di balik pohon, aku mengamati bangunan tua itu. Tidak terlihat ada penjaga disana. Jantungku berdetak kencang, gugup. Apakah tindakanku ini terlalu gegabah? Aku menggeleng. Tidak, ini sudah benar. Jika tidak hari ini, Maurette mungkin bisa mati. Aku tidak tahu apa yang selanjutnya akan dilakukan para manusia serigala itu kepadanya. Jika sesuatu yang buruk benar-benar terjadi dan menimpa Mauretta, entah penyesalan apa yang akan mengelayutiku seumur hidupku.

Aku harus melakukan ini, tekadku. Anggap saja ini salah satu tugas yang biasa kulakukan saat menjadi heta. Kupejamkan mataku, siaga, fokus. Aku masih ingat tahap-tahap lainnya. Kubuka mataku perlahan, mengambil nafas panjang dan melangkah maju.

Kusentuhkan tanganku pada pintu bangunan ini, mencoba membukanya. Keningku berkerut ketika aku menyadari pintu ini sama sekali tidak terkunci. Apakah mereka sudah memindahkan Maurette? Dengan perlahan kudorong pintu itu perlahan, ruangan ini gelap hanya sinar bulan yang berhasil menerobos masuk dari sedikit atap kaca di atas yang masih dibiarkan terbuka. Kuedarkan pandangan mataku dengan teliti, tidak ada siapapun. Ruangan ini benar-benar kosong.

Kakiku melangkah maju, abu-abu bekas tubuh Lucius nampak masih teronggok begitu saja di dekat kayu bundar tempat dia terikat sebelumnya. Meninggalkan bekas hitam terbakar di lantai kayunya. Rantai dan tali yang sebelumnya diikatkan dipergelangan tangan dan kakinya jatuh begitu saja di dekat kayu itu. Perasaanku terasa sangat tidak nyaman ketika melihatnya. Kualihkan pandanganku secepat mungkin, tidak sanggup membayangkan penderitaan seperti apa yang dirasakan Lucius sebelum akhirnya dia mati.

Lalu disana, di salah satu sudut yang tidak terkena sinar bulan, aku melihat satu sosok yang duduk dengan mata kosong, menekuk dan memeluk lututnya. “Maurette..” desahku. Kulangkahkan kakiku cepat, hampir menangis ketika aku setengah berjongkok, menjajari tingginya. Pergelangan tangan dan kakinya terlihat menghitam, darah kering menggumpal di sekitarnya. Wajah Maurette yang cantik penuh dengan bekas air mata, sudut bibirnya membiru. Apa mereka menganiayanya lagi setelah membunuh Lucius? Mata Maurette memerah, sembab dan bengkak. Rambutnya yang dulu terurai lembut sebahu terlihat awut-awutan. Dia bahkan tak bergerak dan tak bereaksi apa-apa ketika aku ada di depannya.

“Maurette..” kuulurkan tanganku, menyentuh lengannya. Dia tidak bergerak. Akhirnya aku tahu kenapa mereka tidak menjaga tempat ini. Melihat keadaan Maurette, aku tahu dengan pasti bahwa dia tidak akan mungkin mau kabur. Dia bahkan terlihat sangat menyedihkan. Kosong. Seolah-olah sudah kehilangan aroma kehidupan dalam jiwanya.

“Maurette..” kali ini aku terisak, mencengkeram kedua lengannya. Tubuhku gemetar, “Maurette, maaf.. maafkan aku. Seharusnya aku bisa menolongmu. Seharusnya aku bisa mencegah mereka membunuh Lucius. Seharusnya aku bisa bertindak lebih berani. Maaf.. maafkan aku, Maurette.”

Kurasakan sedikit gerakan, aku mendonggakkan kepalaku dan melihat mata Maurette yang merah menatapku. Bibirnya gemetar, “She-sherena. Sherena, k-kaukah itu?” Suaranya demikian serak dan pelan. Aku mengangguk cepat, “Ya, Maurette. Ini aku.. ini aku Sherena.” Ucapku dengan dada sakit melihat bagaimana menderitanya Maurette. Mata itu mengabarkan segalanya, segala rasa sakit yang ditanggung Maurette.

“Sherena..” bisiknya lagi.

Dia mengangkat kedua tangannya yang masih terikat, digunakannya jemarinya yang pucat penuh luka dan bekas darah, menyentuh wajahku. “Kau benar-benar Sherena? Kau benar-benar Sherena??” dia memindaiku yang sekarang penuh airmata. Dan ketika sepertinya dia menyadari ini benar-benar aku, kedua tangannya jatuh dan dia menangis, memanggil namaku berulang-ulang seolah mengadu, meluapkan perasaannya.

Sementara Maurette merapalkan namaku berulangkali dengan bahu terguncang, aku berusaha melepaskan tali yang berlumur serbuk perak ini dari pergelangan tangannya. ntah dengan kekuatan apapula, aku berhasil mematahkan rantai besi yang juga mengikat tangannya setelah aku berhasil melepaskan ikatan tali di tangan Maurette. Ketika tanganku akan menyentuh kakinya, tangan Maurette mencengkeram tanganku. Aku mendongak, menemukan kepalanya menggeleng. “Tidak, Sherena.” Katanya tegas.

Mataku menatap Maurette dengan tidak paham, “Aku akan membawamu pergi dari tempat ini. Kita akan kembali ke kastil. Disana Venice akan bisa menyembuhkanmu.” Maurette masih menggeleng dan mencengkeram tanganku, “Tidak, Sherena. Venice atau siapapun tidak akan bisa menyembuhkanku.” Aku menatapnya, tidak mengerti. “Tidak ada yang bisa menyembuhkanku, Sherena. Jiwaku sudah mati, sudah mati bersama Lucius. Dan kalaupun aku bisa sembuh, aku tidak mau hidup jika tanpa Lucius di dunia ini.”

“Maur-“

Dia menggeleng, “Kau tidak akan mengerti, Sherena. Tapi aku yakin, kelak kau akan paham. Aku sudah memberikan separuh jiwa dan seluruh hatiku pada Lucius. Dia adalah belahan jiwaku. Dan ketika dia mati, dia membawa semua yang kupunya. Kehidupanku, kebahagiaanku. Segalanya.”

Mata Maurette menatapku, tapi aku tahu pandangannya menerawang, “Aku kehilangan orang yang paling berharga dalam hidupku di depan mataku sendiri..” dia berhenti, matanya terlihat begitu terluka, “Aku melihat dia berteriak-teriak kesakitan, tapi aku tidak bisa melakukan sesuatu untuk menolongnya. Aku bahkan tidak bisa memeluknya untuk terakhir kalinya ketika dia mati.” Melalui mata Maurette, aku seolah-olah bisa melihat bagaimana perasaannya. Bagaimana menderitanya dia melihat kekasihnya meregang nyawa di depannya, tanpa dia bisa melakukan apapun.

“Aku bukan Reven yang bisa bertahan dalam dunia yang tanpa belahan jiwaku berada. Aku tidak sekuat Reven.” Keningku berkerut, kali ini benar-benar tidak mengerti, dan sepertinya Maurette paham karena dia melanjutkannya lagi, “Reven melihat sendiri bagaimana tubuh Noura yang sudah mati, penuh luka, bersimbah darah dengan anak panah tertancap di dadanya. Dia memeluk jasad Noura sampai jasad itu berubah jadi abu. Reven, setelah itu menanggung sendiri kepedihannya karena kehilangan Noura. Seandainya kau tahu bagaimana Reven mencintai Noura. Kau tidak akan menyangka dia bisa setegar itu. Kau akan menyangka bahwa dia akan ikut Noura mati. Namun tidak, Reven tidak melakukan itu. Dia bertahan dan menanggung rasa sedih itu di dadanya, sendirian. Dia sangat kuat. Dan bagiku, aku tidak akan pernah bisa bersikap setegar Reven. Aku tahu, entah bagaimana bahwa aku tidak bisa. Aku tidak akan mampu melakukan itu.”

“Kau pernah dengar bukan bahwa vampir adalah makhluk keabadian?” dia berhenti membahas Reven dan beralih pada hal lain yang tidak aku pahami, “Keabadian?” dia tertawa, sarkastik, “Keabadian apa jika kami bisa mati hanya karena terik sinar matahari. Hanya karena panah perak. Keabadian jenis apa itu. Katakan padaku keabadian jenis apa itu, Sherena?” segulir airmatanya jatuh. Aku kehabisan kata-kata.

Dia menyeka airmatanya, “Maaf.” Bisiknya.

Aku mengangguk, “Tidak apa-apa. Aku mengerti, Maurette. Sekarang kita pikirkan dulu bagaimana caranya membawamu keluar dari sini.” Kataku tegas.

“Tidak.” Mendadak Maurette terdengar jahat, dia menatapku dengan marah, “Sudah kubilang tidak, Sherena. Jangan memaksaku.” Katanya keras kepala.

“Tap-“

Dia menggeleng, “Tidak ada tapi-tapian.” Katanya dengan nada suara tak terbantah, “Apa yang kau lakukan disini, Sherena?” mendadak Maurette mengalihkan pembicaraan, dia terlihat ingin tahu, mengabaikan rasa sakit yang mungkin sedang dideranya.

“Tugas bersama Reven. Kau tidak tahu? Kupikir kau dan Lucius disini untuk menggantikan tugas Reven menjagaku selama dia pergi mencari tahu tentang sesuatu.” Aku berusaha tidak menyebut nama Noura.

Maurette mengernyit, “Tidak. Aku tidak tahu apa-apa tentang tugas yang kau jalankan.”

“Tidak tahu apa-apa? Lalu apa yang kau lakukan disini? Apakah kau tidak bertemu dengan vampir lain di atas bukit sana?”

Sekali lagi Maurette menggeleng, “Aku dan Lucius sedang mencari seseorang. Kami tidak melalui bukit itu, kami melalui jalan yang berbeda. Aku bahkan tidak menyangka desa ini dipenuhi dnegan manusia serigala. Kami sedang sangat kelaparan dan itu menurunkan kewaspadaan kami pada bau manusia serigala yang sangat pekat di desa ini.”

“Lalu kalian tertangkap?”

Maurette mengangguk lemah, “Bahkan sebelum kami mendapatkan sesuatu untuk menghilangkan rasa lapar kami.”

Jadi bukan Maurette dan Lucius yang diminta Reven untuk menggantikan tugasnya, mereka bahkan tidak tahu aku ada disini. Kalau begitu mungkin mereka hanya berada di tempat dan waktu yang salah. Mengabaikan Maurette yang sedang melamunkan sesuatu, aku melepaskan rantai dan tali yang secara bersamaan mengikat kakinya, juga menyingkirkan pemberat baja yang membuatnya tidak bisa bergerak. Maurette tidak menggelak, dia membiarkanku melakukannya dan aku merasa senang. Mungkin dia sudah mengubah keputusannya dan  mau melarikan diri dari tempat ini bersamaku.

“Sherena..”

“Ya.” aku mengangkat kepalaku, mendapati Maurette yang nampak serius memandangku.

“Maukah kau melakukan sesuatu untukku?” pintanya hati-hati.

“Apapun itu. Jika aku mampu melakukannya, dengan senang hati aku akan melakukan itu untukmu.” Sahutku ceria, tersenyum lebar.

Sudut bibirnya tertarik ke atas, dan dengan satu tangannya yang bebas dia mengambil sesuatu dari dalam kantung dalam bajunya. Mengernyit ketika luka di pergelangan tangannya tanpa sengaja tergores oleh kain bajunya. “Cari seorang slayer hebat bernama Arshel dan berikan ini padanya.” Dia mengulurkan sesuatu kepadaku sementara aku membeku di tempatku, tidak bisa berpikir apa-apa ketika Maurette dengan mudahnya mengucapkan nama Ar di depanku. Maurette jelas tidak tahu bahwa aku mengenal Ar. Memangnya ada berapa slayer bernama Arshel? Jawabannya hanya satu, Arshel-ku. Dan aku jelas tidak salah tebak. Dia mengenggamkan sesuatu itu di tanganku dengan erat, “Ini adalah permintaan terakhir Noura sebelum kemudian dia menghilang dan ditemukan sudah tidak bernyawa. Karena begitu sedih memikirkan kematiannya, aku melupakan ini. Aku baru teringat tentang permintaan terakhir Noura beberapa saat yang lalu dan segera berusaha mewujudkannya.

“Noura bilang aku harus menemukan laki-laki bernama Arshel itu. Noura juga mengatakan kalau Arshel seorang slayer hebat yang sangat terkenal di kalangan slayer dan heta sehingga akan sangat mudah bagiku menemukannya. Namun ternyata, aku bahkan harus kalah dalam prosesnya. Aku tidak ingin gagal melakukan permintaan terakhir sahabat terbaikku ini, Sherena. Jadi aku mohon padamu. Cari Arshel dan berikan benda itu padanya. Cari Arshel dan katakan padanya bahwa Noura memintanya berhenti.”

“Berhenti?”

Maurette mengangguk, “Ya. Aku juga tidak tahu apa maksudnya, namun itu tidak penting. Berikan saja pada Arshel dan katakan padanya bahwa Noura memintanya berhenti.” Ulangnya dengan wajah tegas.

Aku mengangguk dengan gugup, “B-baiklah.” Aku tergagap.

Maurette menatapku dengan mata menyala, “Berjanjilah kau akan melakukannya untukku. Demi aku dan Noura, demi jiwa Noura yang bersemayam di tubuhmu. Berjanjilah kau akan melakukannya.”

“Ya, aku berjanji Maurette. Aku berjanji.” Bisikku tegas. Entah apa sebenarnya yang sedang terjadi dan akan terjadi, aku telah berjanji pada Maurette akan menemukan Ar dan melakukan permintaan terakhir Noura kepadanya. Setidaknya ini akan sedikit membayar rasa bersalahku kepada Maurette dan Lucius.

“Terima kasih. Terima kasih Sherena.” Maurette memelukku dengan erat hanya beberapa detik sebelum dia bangkit.

“Kita pergi sekarang, Maurette?” aku memandangnya dari bawah.

“Pergi?” Maurette menggeleng, “Sudah kukatakan aku tidak pergi. Lagipula aku tidak akan menghancurkan tugas penyusupanmu disini, Sherena.”

Aku bangkit, berdiri memandang Maurette yang sedang menatap ke arah pintu keluar, “Lalu apa yang akan kau lakukan?”

Kepala Maurette berputar, menatapku. Seutas senyum terpampang di wajahnya, senyum tipis yang mengandung misteri. Mendadak aku merasa takut melihat senyuman Maurette. Firasatku mengatakan ini tidak akan baik.

“Ini saatnya membalas dendam, Sherena.” Desisnya penuh ancaman. Bibirnya membuka, dia tersenyum lebar dan aku melihat dua taring diantara giginya yang rapi. Runcing. Matanya berwarna merah darah, sarat kemarahan. Aku bergidik menyadari selintas pikiran buruk bersarang di benakku.

“Ap-apa yang kau lakukan?” aku mengulangi pertanyaanku dengan tergagap. Berharap aku salah dengar. Atau aku salah mengira dan dia akan menjelaskan bahwa dia tidak akan melakukan sesuatu yang berbahaya. Tapi Maurette hanya tersenyum sebelum dia berbalik, berjalan sangat pelan dan anggun menuju pintu keluar bangunan ini.

“Maurette!” aku memanggilnya. Namun dia sama sekali tidak menoleh. Langkahnya semakin cepat dan dengan satu tangannya dia mendorong pintu kayu bangunan ini hingga terbuka lebar. Nyaris terlihat seperti didobrak dengan kasar, padahal dia hanya menggunakan satu tangannya.

Aku menggeleng cepat, “Maurette. Tidakk!! Jangan..” aku mengejarnya namun dia sudah menghilang. Tidak. Maurette. Apa maksudnya dengan balas dendam? Apa dia akan membunuh para manusia serigala? Tidak, itu konyol. Dia sendirian dan manusia serigala itu hampir satu komplotan. Dia akan mati sia-sia.

Jantungku berdetak sangat cepat. Aku harus mencari Maurette. Astaga, bukankah dia tadi bilang dia dan Lucius tertangkap dalam keadaan sangat kelaparan. Jangan-jangan Maurette? Penduduk desa? Rowena, Alan. Tidak. Maurette tidak boleh. Aku berlari, mengejar Maurette yang entah menuju ke arah mana dengan kalap, sembari memasukkan benda yang digenggamkan Maurette di tanganku ke dalam saku bajuku dengan tergesa. Tidak. Maurette tidak boleh membunuh orang-orang yang tidak bersalah. Tidak boleh.

“Maurette!!” jeritku putus asa, mengejarnya.

<< Sebelumnya
Selanjutnya >> 

Mau Baca Lainnya?

32 Comments

  1. yaaa ampuuuuun sedih bgeeeet liat maurete gtu…
    truuus ap yg akan dlkukanx krg???
    blas dendam????
    oooooohh ku harap dy tdak membunuh warga yg tdak berdosa…
    cpet dlnjuut yaa thoor
    n moga bapaknyaaa cepet dberi kesembuhaaan…amiin

  2. Semoga bapaknya author cepat sembuh dan sehat ya
    Aamiin..

    Ashel ngelakuin apa???
    noura menyuruhnya berhenti??!??
    Tekatekibaru*lirikauthor*

  3. Semoga bapaknya cepat sembuh yah author… jadi bisa tenang dan bisa lanjutin ceritanya…
    ughhh… sumpah saya gemes bgt nie,,, authornya pinter bgt main teka teki,,,,
    ditunggu lnjutannya… hohohohoh

    Mimi

  4. semoga bapak'y author diangkat penyakitnya dan diberikan kesehatan
    aamiin
    hmm,, noura lagi, noura lagi
    episode yg pnjg sepertinya demi mengungkap misteri ini,
    (tanda tanya, tanda seru d atas kepala

  5. Aq doakan semoga Ayahmu cepat sembuh dan slalu sehat…
    Aamiin ya rabbal aalamiin…

    "Hmm… smakin bnxak teka tekix dan semakin g bs d tebak jln critax… semakin seru nih kayakx… Tetep Semangat ya Thor bkin lanjutanx… d tggu… segera… SEMANGAAATTT…
    >_<b "

    ~ Gie ~

  6. Semoga bapaknya author cepat sembuh. Amin..

    Untuk HV kenapa rada bosen ya? Lama banget misterinya pecah, bikin saya geregetan ck 😐
    Dicepetin ya thor kalo perlu dipanjangiinn lagi

  7. Yeaaaaahhhhhhhhhhhhhhh ………. aku datang kembali untuk menghantuimu…. aggrrrrrr sumpah aku gemes banget sama Revan dan Rena… kapan hubungan mereka berkembang perasaan jalan di tempat melulu…. #Kunyah Bantal

    Tapi cara kamu membuat cerita ini berkembang membuat kekesalanku pada kekakuan hubungan mereka jadi sedikit terobati.

    Astaga…. aku gak menyangka mereka bersaudara… dan Noura, apa sebenarnya yang di pikirkan Noura, Apa dia sebelumnya merencanakan hal yang buruk pada Rena? ck ck ck…. tuh kan… kamu udah bikin aku penasaran lagi.

    Kalau ini sebuah Novel mungkin aku udah nyari ke tiap toko buku….. haxhaxhaxhax…..

    Semoga Ayah kamu cepat sembuh yah… ^^

  8. Hahahahha, maaf ya membuatmu gemas.. 😛
    Cerita ini memang agak panjang dan berliku tapi tetap akan menemukan titik nemu dan akhir yang yahh semoga saja cocok di hatimu.

    Astagaaa… memangnya ada yang mau menerbitkan HV. Aku agak pesimis tentang ini.

    Well, thanks doanya untuk kesembuhan bapakku ya Ji Shoun

Leave a Reply

Your email address will not be published.