Half Vampire – Pesta

“Tidak apa-apa. Tidak apa-apa Noura.”
Aku mengerjap, Noura? Suara ini. Aku begitu ingin melepaskan diri dari tangan yang tengah memelukku ini. Tapi aku tidak bisa. Mendadak aku kehilangan kendali akan tubuhku. Aku hanya seperti roh yang berada dalam tubuh yang salah.
 Ketika tubuhku bergerak perlahan, aku melihat bahwa ini bukan lagi di kamarku. Ini padang bunga ungu yang terletak tak jauh dari kastil. Aku terduduk, bersimpuh masih dengan bahu yang bergetar hebat dengan REVEN di depanku. 

Aku harusnya membelalakkan mataku terkejut ketika melihatnya ada di depanku. Tapi yang ada, aku justru memandangnya sedih dengan mataku yang basah. Kedua telapak tangan Reven menangkup pipiku dan mengusap bekas air mata yang ada disana dengan satu sapuan lembut.
Entah ini detak sungguhan atau bukan. Aku merasa jantung di tubuhku ini berdetak kencang satu satu. Semakin kencang ketika wajah Rev mendekat. Aku berusaha mundur menghindar. Tapi yang ada, aku justru memejamkan mataku dan merasakan kecupan lembut bibirnya di kelopak mataku. Menghapus sisa air mata di bulu mata maupun sudut mata.
Aku demikian gugup, sangat kikuk dan tak tahu harus berkata apa. Mataku membuka perlahan dan wajah Reven hanya berjarak tak kurang dari sepuluh centimeter dari wajahku. Dengan jarak yang sedekat ini, aku baru menyadari kalau dibalik mata birunya yang tajam dan kadang jahat. Ada sesuatu yang lain. Kelembutan, kepedulian dan ..
“Aku akan menjagamu. Aku bersumpah demi hidupku bahwa aku akan melakukan apapun untuk menjagamu tetap hidup dan tetap berada di sampingku. Aku akan selalu ada disini untuk melindungimu Noura.”
Suara lembut yang penuh perasaan kasih ketika dia mengucapkan kata terakhirnya itu menyadarkanku. Ini, ini tubuh Noura. Aku, apakah aku berada dalam penglihatan itu lagi. Aku mencoba melihat tanganku sendiri, tapi tetap Reven yang menjadi fokus penglihatanku. Aku, apa ini? Ada apa ini sesungguhnya. Aku berusaha mengelak, menghindar atau melakukan apa pun yang mungkin bisa membuatku keluar dari tubuh ini. Dari perasaan gugup dan kikuk diperangkap tatapan mata Reven yang seperti itu. Tapi sia-sia, aku tak bisa.
Jemari tanganku justru meneliti wajah Reven. Kuku-kuku cantik panjang berwarna kemerahan itu bergerak meraba wajah Reven dengan lembut dan berhenti di pipinya. “Aku takut.” Suara lembut yang asing keluar dari tenggorokanku. Suara yang lelah dan terdengar putus asa.
Tangan kanan Reven beralih ke rambutku, membelainya penuh perhatian. Aku bisa merasakan perasaan aman dan terlindungi yang mungkin saja dirasakan Noura sekarang. Jari-jari Reven mengusap rambut kemerahan bergelombang milik Noura. Dan pada ujung yang diraihnya, bibir itu kembali mengecup. Kali ini pada rambut milik Noura.
 “Aku tidak akan membiarkan satu makhluk pun menyakitimu. Aku janji, Noura.”
 Aku begitu terharu. Sangat merasakan betapa Reven bersungguh-sungguh mengucapkannya. Ada ketegasan disana. Dan sudut mataku, atau mungkin mata Noura, basah saking harunya.
 Dan kali ini, entah kuasaku atau bukan. Aku mendekat meraih wajah Reven. Satu kecupan lembut kulepaskan di bibir Reven. “Aku.. Percaya padamu.” Suara Noura bergetar, dan tangannya beralih melingkar ke leher Reven ketika Reven mengambil alih segalanya. Entah kusadari atau tidak, aku memejamkan mataku ketika bibir Reven melekat dan melumat lembut bibirku.
 
————————————————————–
 
“Tidak apa-apa. Tidak apa-apa Rena. Menangislah jika itu bisa membuatmu lebih baik”
 Deg
 Rena?
 Aku menarik tubuhku dengan satu sentakan mendadak yang mengejutkan Dev. Mataku mengelilingi tempat ini dengan cepat. Ini, ini ruang kamarku. Aku beralih memandang sosok di depanku. Di-dia. Dia Dev. Deverend Corbis. Benar-benar Dev. Jemari tangan kananku menyentuh bibirku sendiri. Aku masih bisa merasakan ciuman Reven disini. Rev.
“Rena?”
“Kau membaca pikiranku barusan?”Tanyaku tiba-tiba teringat dengan kemampuan Dev.
Dia menggeleng, “Pikiranmu kosong. Apa yang harus kubaca?”
Bola mataku membesar memandangnya. Dev! Dan tadi apa?
Dev mendekat, menyentuh bahuku. Tapi aku dengan gugup malah menepis tangannya. “Rena, kau ke-?”
“Tidak. Aku tidak apa-apa. Aku baik-baik saja.”Potongku cepat. Aku gugup sekali. Jantungku masih berdetak dengan sangat cepat.
“Rena.” panggil Dev masih tidak percaya dengan perkataan bahwa aku baik-baik saja.
 “Bisa tinggalkan aku sendiri, Dev. Aku. Aku lelah. Aku ingin istirahat sebentar untuk malam nanti.”
 Dev memandangiku. Aku menatapnya meyakinkan. Mengangguk, dia melangkah berbalik setelah mengusap bahuku dan berkata, “Segalanya akan baik, Rena. Percayalah. Jangan terlalu banyak berspekulasi seperti tadi. Kalau kau butuh aku, panggil saja. Aku di aula besar.”
 Aku mengangguk lagi, “Iya.” Jawabku pendek. Dan ketika tubuh Dev menghilang di balik pintu yang menutup. Aku merosot. Menjatuhkan tubuhku ke bawah.
 Tadi itu apa-apaan? Penglihatan apa itu. Aku mendekap jantungku yang masih berdetak sangat cepat. Lalu tanganku menelusur ke atas. Meraba bibirku. Benar-benar seperti kenyataan.
 Tatapan mata Reven. Suaranya. Dan.. Ciumannya.
 Aku mendadak merasa salah. Aku menggelengkan kepalaku dengan cepat. Tidak. Ini gila. Tadi itu untuk Noura. Semua yang dilakukannya tadi untuk Noura. Sadar. Sadar Rena. Keluhku sambil menepuk-nepuk pelan pipiku.
 Pengalihan pikiran macam apa ini. Kalutku. Mendadak pikiran cemas dan gundah karena perubahan jiwa manusiaku ke jiwa vampir menghilang. Lenyap tak berbekas sama sekali. Yang ada justru perasaan gugup dan tak tahu harus bagaimana.
 Apa-apaan ini. Kumohon normallah.
 ——————-
 
Aku mematut diriku di depan cermin. Rambutku ditata dengan gelungan cantik ke atas. Menyisakan beberapa helai menggantung di dekat kedua telingaku. Wajahku seperti berubah. Ada kecantikkan yang nampak ditegaskan dengan polesan-polesan yang dilakukan Lucia padaku. Dan gaun ini begitu cantik membalut tubuhku. Meski aku harus menahan nafas ketika memakainya, tapi ini benar-benar indah. Dari ujung sepatu hingga rambutku, tanpa cela. Mau tak mau aku harus mengakui kalau malam ini, aku begitu.. Sempurna.
 Lucia memandangiku seperti sebuah benda hasil karyanya, “Tidak buruk.” Komentarnya pendek yang bagiku sudah merupakan pujian. “Dan jaga prilakumu disana nanti.” Lanjutnya mengingatkanku.
 Aku mengangguk, agak gugup sebenarnya. Pesta sudah dimulai, kurasa. Tapi Vlad jelas belum membukanya secara resmi, karena sampai sekarang Rosse belum menjemputku ke kamar untuk turun ke bawah.
 Kepalaku menoleh ketika aku mendengar suara pintu yang dibuka. Rosse menyeruak masuk dan menjerit kecil melihatku, “Astaga! Kaukah itu Rena! Kau nampak jauh lebih cantik dari sebelumnya, nak.”
 Pipiku merona merah mendengar pujian Rosse. Dan sepertinya baru kali ini aku mendengarnya memanggilku “nak”, tapi bagiku itu terdengar hangat dan bagus. Tapi sebentar kemudian aku langsung merasa salah tingkah ketika melihat satu sosok lain berjalan di belakang Rosse. Reven berjalan dengan gagah menggenakan setelan tuxedo hitam yang membuatnya terlihat lain dari biasanya.
 Astaga apa-apaan aku ini. Aku segera mengalihkan pandanganku ke tempat lain, aku melihat Lucia menepuk lembut lengan Reven sebelum dia keluar dari ruanganku. Rosse berdiri di depanku dan menggenggam tanganku, “Kau sudah siap Rena? Sebentar lagi kau harus turun.” Aku hanya menjawabnya dengan satu anggukan pasti. Jujur saja, malam ini tidak hanya Reven yang terlihat berbeda. Rosse pun juga. Dengan gaun pesta panjangnya, sarung tangan hitam, dan bibirnya yang berwarna merah penuh. Rosse terlihat begitu menawan. Meskipun begitu, aku yakin semua di bawah juga akan menampilkan yang terbaik di pesta malam ini. Bahkan bagiku, meski penampilan Lucia tadi nampak sederhana dengan gaun hitam panjang yang berpotongan dada rendah. Lucia tetap berpendar dengan pesona yang demikian menyilaukan.
 Tangan kiri Rosse mengulurkan sesuatu kepadaku. “Untukmu.” Katanya. Dan di atas telapak tangannya tergeletak sebuah kalung berwarna putih yang kontras sekali dengan sarung tangam hitam yang dikenakannya.
 Dia maju, mendekat ke arahku dan memakaikan kalung itu ke leherku. Bahu jenjangku yang terbuka, dan leherku yang tadinya kosong tanpa aksesoris apa pun kini telah dilingkari sebuah kalung yang menjuntai indah. Mempercantik penampilanku.
 “Sempurna.” Bisik Rosse kagum. “Cantik. Pas sekali untukkmu Rena.”
 Aku menyentuh kalung di leherku itu, meraba liontinnya yang berbentuk rumir namun demikian indah sebelum mendongak memandang Rosse, “Terima kasih.” Sambutku terharu. Entah perasaanku saja atau apa, tapi sepertinya Reven membuang muka ketika melihatku memakai kalung ini. Apa ada yang salah? Apa lagi kali ini?
 Rosse menyentuh tanganku. Membuyarkan pikiranku. “Ayo. Sudah saatnya.”
 Aku mengangguk, bangkit. Dan berjalan pelan keluar mengikuti Rosse. Kami menuruni undakan tangga utama. Berjalan menuju aula utama. Mendadak aku gugup sekali. Aku mendengar suara-suara keramaian dari balik pintu besar itu. Ketika aku semakin dekat suara-suara itu hilang. Mendadak senyap dengan digantikan satu suara.
 “Vlad sedang membuka pestanya.” Jelas Rosse tersenyum memandangku. “Tunggu namamu dipanggil, dan masuklah bersama Reven. Mendekatlah pada dia dan pegang tangannya, Rena.” Kata Rosse ketika melihatku mengambil jarak yang lumayan jauh ketika aku dan Reven berdiri bersebelahan. Rosse jelas tahu aku merasa kurang nyaman dengan ini. Tapi entah kenapa dia tetap memintaku melakukan ini. Kenapa tidak Damis saja yang kesini tadi. Aku akan lebih senang mengandeng tangan Damis daripada tangan dingin seperti mayat milik Reven. Aku memaki. Percuma saja. Lalu dengan enggan aku mengamit lengan kiri Reven sambil berdiri menunggu aba-aba dari Rosse. 
Rosse berbalik, “Sekarang.” Bisiknya sebelum kembali pada posisinya dan membuka pintu ke aula depan ini dengan pelan.
Cahaya-cahaya lilin dan lampu-lampu bergelantungan menyilaukan mataku. Aku berjalan dengan pelan. Ketika perlahan-lahan dengan jelas aku mulai dapat melihat apa dan siapa saja yang berada di balik pintu ini. Tak banyak yang ku kenal. Selebihnya aku seperti melihat perkumpulan para wanita cantik dan laki-laki tampan. Tidak ada wajah yang tidak mempesona. Semua begitu menawan, di atas rata-rata yang bisa dicapai klan manusia. Pesona yang tidak normal terpancar kuat disini. 
Aku menelan ludahku dan mengamit lengan Reven makin kuat ketika menyadari tak satupun mata yang tidak memandangiku. Mereka berusaha melihatku dengan jelas. Beberapa lagi kelihatan sekali menunjukkan tatapan menilai. Aku merasa lebih dari sekedar gugup.
 Kami berhenti tepat di samping Vlad. Sementara Rosse, Damis dan Russel berada di sisi lainnya. Damis tersenyum ke arahku. Matanya memandangiku dengan kagum. Aku membalas tersenyum ke arahnya dan menelan ludah kesal melihat ketika Lucia yang mengamit lengan Russel dengan mesra.
 Vlad, dengan wajah tegasnya mengamati seluruh ruangan ini sebelum dia membuka lagi suaranya. Suasana menjadi demikian senyap. Sepi mengantung dengan sungkan memenuhi ruangan ini. Vlad melangkahkan kakinya selangkah.
 “Akhirnya malam ini pun tiba. Malam dimana kita akan menyambut kedatangan calon ratu baru kita. Calon ratu yang akan mengunci kekuasaan kita di trah tertinggi. Calon ratu yang akan menjadi kunci kedamaian ras kita. Selamat datang dalam kelompokmu yang baru, Sherena Audreista.”
 Aku maju selangkah, sejajar dengan Vlad diiringi dengan suara tepuk tangan yang membahana menguasai ruangan. Rosse memberikan segelas minuman kepadaku dan Vlad, dan semua yang ada di ruangan ini pun melakukan hal yang sama. Semua tangan kanan mereka memegang segelas minuman yang tak kutahu apa ini. Aku meliriknya sebentar tanpa melepaskan senyum dari bibirku. Cairan di dalam gelas ini terlihat kental dengan warna merah yang pekat. Aku menelan ludahku. Darahkah?
 Vlad menatapku lalu mengangkat gelasnya diikuti semua yang ada disini. Pun aku.
 
Kemudian matanya yang kecil dan berwarna merah, mengelilingi ruangan ini sebelum suaranya yang tegas terdengar menggema, “Untuk kejayaan dan keagungan abadi” katanya dan diulangi oleh semua klan vampir. Bersama-sama mereka semua menegak cairan yang ada dalam gelas-gelas di tangan mereka.
Aku cemas dan takut kalau cairan ini memang benar darah. Tapi mau tak mau karena aku berada dalam pusat perhatian semua vampir. Aku menyentuhkan ujung gelasku ke bibirku. Alis mataku berkerut ketika aku mencium bau segar buah. Aku menengok ke arah Damis yang mengedipkan matanya memandangku. Diam-diam aku tersenyum kecil, kembali memandang pasti ke depan dan menenggak habis cairan dalam gelas perakku.
Baru kali ini aku melihat Vlad tersenyum. Dan itu terlihat tidak buruk. Meski ekspresinya masih tetap ekspresi jahat tapi dia terlihat jauh lebih baik. Dia menepuk bahuku pelan dan berkata dengan suaranya yang khas kepada semua yang hadir disini, “Selamat menikmati pesta malam ini” 
Dan sorak sorai menggema memenuhi ruangan ini. Membuat aku merasa merinding akan euforia di dalam sini. Meskipun klan vampir termasuk kategori kelompok ini, aku salut akan kepatuhan dan rasa hormat mereka kepada pemimpin kelompok mereka. Sangat terlihat dari sorot mata mereka ketika memandang Vlad.
 Aku mundur bersama Vlad, kembali ke tengah-tengah Rosse dan yang lainnya. Mereka tersenyum kepadaku. Damis memelukku dan berkata pelan, “Selamat datang, Rena. Terima kasih untuk keberadaanmu disini.”
 Dadaku rasanya penuh karena keharuan. Entahlah, kurasa kalimat-kalimat sederhana itu justru membuatku bersyukur. Rosse juga memelukku. Dan aku merasa malu, teringat bagaimana sebelumnya aku berpikir begitu buruk pada mereka. Lalu Vlad dan Rosse membawaku menjauh, mereka mengenalkanku kepada ketua-ketua kelompok kecil yang tersebar di banyak tempat. Kebanyakan adalah laki-laki seperti Vlad yang selalu nampak serius dan jahat. Tapi ada juga beberapa perempuan dengan tampang cantik yang licik. Bagiku tampang-tampang menawan yang jahat ini mungkin memang khas para vampir. Sejujurnya, Rosse mungkin bisa saja juga berwajah seperti itu. Bangsa vampir itu mudah sekali memainkan ekspresi wajah mereka.
 Selagi bercakap-cakap dan beramah tamah dengan mereka. Aku mengamati suasana pesta ini. Ini pesta vampir pertamaku. Dan bagiku, pesta ini benar-benar mirip seperti pesta-pesta kerajaan yang biasa kuhadiri. Tapi bukan sebagai tamu, melainkan sebagai heta yang berdiri di pinggir ruangan untuk terus memperhatikan dan mengamankan para anggota kerajaan.
Kurasa bangsa vampir memang bangsa kelas atas. Sosialita dan prilaku mereka, mengesampingkan keganasan mereka ketika lapar, benar-benar seperti bangsawan terhormat. Lihat saja sekarang, gaun-gaun mewah yang indah memenuhi ruangan ini. Dipakai oleh mereka vampir-vampir perempuan dengan wajah bak perempuan dari langit yang kecantikkannya benar-benar tidak diragukan.
Aku mencium aroma alkohol disini. Ternyata mereka juga meminumnya. Aku menghindari minuman ini. Entah jiwa vampir di tubuhku ini akan memberikan perbedaan atau tidak ketika aku nanti meminumnya, tapi aku bukan orang yang kuat minum. Segelas alkohol saja sudah bisa membuat kesadaranku hilang total.
 Suara musik perlahan melambat dan berubah lembut. Sangat indah. Aku berdiri di tepi sambil melihat beberapa pasangan yang mulai berdansa di tengah aula besar. Rosse menghampiriku, “Tidak mau bergabung disana?” Tanyanya lembut.
 “Tidak.” Jawabku sambil menggelang.
 Rosse justru tertawa kecil dan membuat gerakan memanggil ke arah lain. Aku tidak memperhatikannya dengan benar, yang kutahu tiba-tiba saja Reven sudah berada di dekat Rosse. Aku berusaha untuk tidak memandangnya.
 “Ajaklah Rena berdansa, Reven.” Kata Rosse, yang lebih terdengar seperti perintah.
Aku menggeleng cepat, “Tidak tidak, tidak perlu Rosse.” Sahutku gugup.
Tapi Reven justru mengulurkan tangan kanannya ke arahku, “Mau berdansa denganku.”Ajaknya dengan suara sangat datar dan ekspresi kosong.
Rosse mendorongku maju seraya tersenyum, “Ayolah.”
Aku berulang kali memandangnya, dan terpaksa menerima tangan Reven. “Ba-baiklah.”
Reven membawaku ketengah ruangan. Dengan satu irama, tangan kanannya menggenggam tanganku sementara tangan kirinya dengan lembut berada di pinggangku. Sialan, makiku dalam hati berusaha meredam kegugupanku. Dan bukannya berusaha memahami kekalutanku, Reven justru menarik tubuhku maju, semakin merapat ketubuhnya. Mau tak mau aku meletakkan tanganku yang lain ke atas bahunya. Dan melangkahkan kakiku sesuai irama musik yang mengalun lembut.
Aku bisa merasakan jantungku berdetak keras. Satu-satu. Semoga dia tidak mendengarnya. Semoga dia tidak mendengarnya, ceracauku dalam hati. Aku benar-benar salah tingkah. Apalagi ketika matanya bersorot ke arahku. Buru-buru kutundukkan kepalaku, menghindarinya.
Sial. Sial. Sial. Ini semua gara-gara penglihatan itu. Bisa-bisanya aku begini gugup hanya karena berdansa dengan Reven. Dia bukan apa-apa. Harusnya aku sudah benar sadar bahwa penglihatanku itu antara Noura dan Reven. Sama sekali tidak melibatkanku. Namun entah pencitraannya atau apa, semua terasa seperti benar dan terlalu nyata bagiku.
Aku benar-benar tidak bisa menikmati dansa ini. Aku melepaskan tanganku dari genggaman tangan Reven. “Maaf.” Kataku ketika pegangan tangan Reven sepenuhnya lepas dari tangan maupun pinggangku. Aku menepi ke arah yang berbeda dari Reven. Aku tahu wajahnya tadi datar sekali. Tapi memangnya mau berharap apa lagi darinya.
 Aku menegak segelas minuman yang buru-buru kuambil dari meja panjang yang ada di dekatku. Dan aku nyaris tersedak dan memuntahkannya ketika merasakan rasa anyir dan kekentalan yang janggal menerobos tenggorokanku.
 Seseorang mengambil gelas di tanganku itu dan menyorongkan minuman lain ketika aku terbatuk-batuk. Dengan buru-buru aku meminumnya dan merasa lega ketika tahu itu air putih. Aku menegaknya sampai gelas itu benar-benar kosong.
 “Hati-hati mengambil apa pun disini.”
 Aku mendongak dan menemukan wajah Dev di depanku. Sementara itu aku hanya mengangguk dan merutuki kecerobohanku tadi. Dev mengangsurkan sapu tangannya ke arahku. Aku menerimanya dan menghapus sisa-sisa air di sekitar bibirku. “Terima kasih.” Kataku berulang-ulang pada Dev yang hanya mengamatiku.
 “Apa itu darah?” Tanyaku ketika aku mendadak merasa mual jika saja perkiraanku benar. Dev tidak menjawab, hanya memalingkan wajahnya ke arah lantai dansa.
 Berarti benar. Aku mengusap bibirku dengan saputangan berulangkali dan mulai benar-benar merasa jijik. Jika semua gelas-gelas disini benar-benar berisi darah. Lalu darah apa? Manusiakah? Dari mana mereka mendapatkan darah sebanyak itu?
 “Tidak perlu khawatir. Bukan darah manusia. Yang kau minum hanya darah binatang.”
 “Kau masih bisa membaca pikiranku?”
 Dev menoleh ke arahku sebentar sebelum kembali memandang ke depan, “Ya, tapi mulai samar. “
 Aku menghela nafas panjang dan tidak tahu harus berkomentar apa. Kurasa perlahan-lahan aku mulai belajar bersikap dewasa dan menerima kenyataan bahwa aku bagian klan ini sekarang. Kami kemudian hanya diam tanpa bicara apa pun. Aku mengamati semua vampir yang ada disini. Mengitari aula besar ini dengan pandanganku yang terbatas. Aku melihat Russel dan Lucia tengah berdansa di tengah aula. Damis yang nampak berbicara dengan kerumunan kecil vampir laki-laki di sudut yang lain. Dan ah, itu Lyra tertawa kecil dengan seorang vampir laki-laki tampan berambut blonde, aku melirik Dev yang nampak tanpa ekspresi.
“Tadi kalian terlihat serasi.” Suara Dev memecah kesunyian yang tadinya beredar mengelilingi kami. Aku menoleh memandangnya. “Seperti melihat sepasang calon raja dan ratu bagi kami.”
 “Apa maksudmu?”
 Dev menoleh, tertawa kecil melihatku dan menepuk bahuku pelan. “Tidak, lupakan saja.” Aku baru saja akan memprotes ucapannya ketika mata Dev memandang ke arah lain dan berkata, “Maurette.”
Aku mengikuti pandangannya dan mendapati vampir perempuan yang tengah mengambil minuman dari meja panjang di dekatku. Dia seperti sedang memandangiku alih-alih memandang Dev yang menyapanya. Dengan langkah-langkah anggun, dia mendekat dan tersenyum pada kami. “Deverend Corbis.” Katanya dengan logat bicara yang berbeda dari kami. Lalu dia memandangku dan tersenyum lebih lebar, “Sherena Audreista.” Sapanya sangat ramah.
“Oh hai.” Sambutku kaku dan salah tingkah. Meski logat bicaranya terdengar aneh bagiku. Tapi sepertinya dia tidak memandangku dengan tatapan yang sering Lucia maupun Lyra perlihatkan padaku. Ini tatapan ramah yang jujur.
“Dia Maurette. Sa-.”
“Sahabat baik Noura.” Sahutnya cepat memotong perkataan Dev. “Senang bisa bicara denganmu, Sherena. Aku sedikit penasaran apakah jiwa Noura dalam dirimu bisa mengenaliku.” Tanyanya dengan bersemangat.
Aku menggeleng pelan, “Maaf. Tapi..”
Dia nampak sedih dan bisa menebak kalimatku yang tertahan sebelum akhirnya beralih memandang Dev dan bicara dengan pelan, “Kudengar desas desus tentang kedekatan kalian di kelompokku. Apa itu benar?”
Dev tertawa sementara aku menunggu dengan ragu. Menebak apa yang akan dikatakan Dev, “Rupanya sudah menyebar sejauh itu ya. Lalu menurutmu bagaimana?”
“Kurasa tidak mungkin. Kalaupun benar, aku tidak percaya jika Reven maupun Damis membiarkan calon Ratu mereka berdiri berdua disini bersamamu.” Ucapnya percaya diri sementara aku bernafas lega.
Dev menoleh ke arahku dan mengamatiku. Kemudian tersenyum penuh arti dan menjelaskan, “Rena, Maurette berasal dari kelompok yang sama dengan Noura. Mungkin, jika kau ingin tahu tentang Noura lebih dari yang dijelaskan Rosse, Damis maupun Russel, kau bisa bertanya padanya.”
Aku mengamati Maurette yang tersenyum lebar. Lalu beralih kepada Dev. Dia mengangguk menyadari makna tatapanku. “Kalian berbincanglah. Aku harus mencari seseorang disini.” Katanya sebelum menepuk bahuku. “Dia bisa menjawab semua yang ingin kau tahu tentang Noura, Rena”. Tak lama kemudian Dev beranjak pergi meninggalkanku berdua dengan Maurette.
Mataku memandang tubuh Dev yang berjalan menjauh dari kami. Hingga akhirnya aku beralih pada Maurette yang masih memandangiku dengan tatapan yang tak bisa kuartikan. “Apakah memang boleh jika aku bertanya tentang Noura?”Tanyaku untuk meyakinkan diri dan Maurette mengangguk dengan cepat. “Apapun.”
 Lalu dia memandang ke sekeliling kami, “Tidakkah disini terlalu berisik.”
Aku mengangguk, “Kita bisa berbincang di luar aula. Kurasa banyak tempat yang pasti akan nyaman jika digunakan untuk berbincang.”
Aku melangkah keluar dari aula besar diikuti Maurette di belakangku. Aku membawanya keluar dari kastil. Udara dingin mendadak menyergap tubuhku. Mengabaikannya semua itu, aku memilih duduk ke satu tempat di koridor luar istana yang diterangi nyala obor yang terang. Aku merasakan kehangatan yang dipancarkan api dari obor itu ketika aku memilih duduk disana sementara Maurette mengambil tempat tepat di sampingku.
“Apakah kau dan Noura memang bersahabat baik?” Tanyaku ketika pandangannya memintaku bertanya dan bicara lebih dulu padanya.
Maurette memandang ke kegelapan di depannya. Seperti sedang menerawang masa lalu, “Sangat baik. Aku dan Noura diubah dalam jangka waktu yang nyaris bersamaan. Kami diubah atau lebih tepatnya diselamatkan dari kematian oleh James,  ketua kelompok kami. Dia mengajari kami cara hidup sebagai vampir. Bertahan, berburu dan berinteraksi dengan sesama vampir. Singkatnya, kami tumbuh bersama sebagai vampir. Jiwa kami terjalin menjadi sangat dekat dan tak terpisahkan. Sampai suatu saat ketika James memberitahu kami bahwa Noura merupakan calon ratu selanjutnya. Hubungan kami sedikit merenggang karena dia harus tinggal disini, sementara aku tetap berada di kelompok.”
“Tapi aku sering mengunjunginya. Dan setiap kali bertemu, Noura selalu terlihat lebih bahagia dari sebelumnya. Dia bercerita banyak kepadaku. Banyak hal, mungkin nyaris semua. Tak terkecuali tentang bagaimana dia jatuh cinta pada Reven. Tak mengherankan memang, semua vampir perempuan disini sangat memuja dan menginginkan Reven.”
Aku memandang Maurette, Reven mungkin memang sangat dingin tapi mungkin dia juga punya aura dan kharismanya sendiri. Aku sedikit memahami apa yang dikatakan Maurette. Di samping Vlad, aku melihat sendiri bagaimana semua yang ada disini juga menaruh hormat padanya. Berbeda dengan Damis yang terlihat sangat ramah dan terbuka, Reven lebih bersikap dingin dan diam. Atau mungkin disitulah letak perbedaannya. Entah, aku juga tak tahu. Sejauh ini aku tetap menganggap Reven itu sedikit jahat. Tapi karena penglihatanku, aku merasa mungkin bisa saja belajar melihat sisi lain yang dimilikinya.
“Maurette, apakah Noura emm.. Tentang.. Ketika kematiannya. Sebab?” Susunan pertanyaanku benar-benar buruk. Karena aku tahu segala tentang kematiaan Noura mungkin akan sangat sensitif. Aku benar-benar kesulitan memilih kata-kata yang tepat. Namun asepertinya Maurette mengerti.
“Perihal kematiannya?”
Aku mengangguk. Sementara Maurette kemudian kembali mengalihkan pandangannya dariku dan mulai berbicara lagi.
“Itu semua tak pernah jelas bagi kami, sampai sekarang. Kau tahu bukan kalau manusia menikam kami tepat di jantung kami maka kami akan mati dan menjadi abu dalam beberapa detik saja. Tapi dalam kasus Noura berbeda, tubuhnya utuh selama hampir sepuluh menit lebih sebelum dia menjadi abu”
“Menurutmu, apa atau siapa yang mungkin melakukannya? Maksudku..”
“Membunuhnya?” Maurette menatapku lalu dia menggeleng pelan. “Entah, tapi ada anak panah tertancap di dadanya. Dan tubuhnya nyaris penuh luka. Penuh darah.”
Aku melihat Maurette menangis tanpa isakan, aku dengan gugup menyentuh bahunya dan minta maaf, “Maaf, hentikan saja jika menyeritakan semua ini padaku membuatmu merasa buruk.”
Maurette menyeka air matanya, “Tidak, maaf. Maafkan aku, Sherena. Aku hanya, hanya belum bisa menerima jika sahabatku mati dengan tragis seperti itu. Itu sungguh kejam, andai kau melihatnya langsung. Aku bahkan hanya diam nyaris hilang akal. Noura sangat baik dan tidak layak diperlakukan seperti itu.”
Aku mengerti perasaan Maurette, perasaan ketika melihat orang yang paling dekat pergi meninggalkanmu untuk selamanya. Ketika ibu meninggal, aku juga begitu. Apalagi bagi Maurette, ditambah dengan semua kondisi Noura yang dia ceritakan padaku.
“Aku sungguh merasa bersalah. Jika aku bisa selalu bersamanya. Mungkin aku bisa sedikit melindunginya. Ketika Noura mendadak menghilang. Semua anggota klan menyebar ke segala arah untuk menemukannya. Tapi yang kami dengar justru teriak paling mengerikan yang keluar dari mulut Reven. Aku dan kelompokku yang berada tak jauh dari tempat Reven menemukan jasad Noura langsung berlari kesana.”
“Itulah untuk pertama kalinya aku melihat bola mata paling menakutkan berpendar dari mata Reven. Dia memeluk jasad Noura sampai jasad itu berubah menjadi abu. Aku melihat sosok Reven yang sangat terluka. Kami sama sekali tidak berani mendekat lebih dari tempat kami berdiri. Kami semua bisu, karena penampakan Reven ketika itu ratusan kali lebih mengerikan dari wajah Vlad ketika murka. Kehilangan Noura dalam keadaan seperti itu sungguh berat baginya.”
Aku benar-benar tidak bisa merespon apa pun ketika Maurette bercerita. Aku juga tidak sanggup membayangkan keadaan ketika itu. Membayangkan ekspresi Reven ketika itu. Membayangkan bagaimana perasaannya ketika menemukan sosok yang begitu dicintainya mati dengan keadaan penuh luka dan anak panah tertancap di dada? Mendadak aku merasa sangat kasihan dan simpati. Reven sangat mencintai Noura. Aku bisa merasakannya dengan jelas dalam penglihatanku tadi sore.
“Sherena.” Maurette memandangku dan menatapku dengan tajam, “Apakah semua slayer dan heta mempunyai kemampuan menggunakan busur panah untuk menghadapi kami?”
Aku cukup terkejut mendengar pertanyaan Maurette. Aku baru menyadari jika dia mungkin saja berpikir manusia yang telah membunuh Noura. Tapi itu mungkin benar juga. Anak panah? Hanya kami, manusia, yang mungkin saja menggunakan benda itu. Makhluk pemburu lain, manusia srigala atau yang lain jelas tidak menggunakannya. Dan anak panah? Hampir semua Heta dan Dlayer bisa melakukannya. Tapi Cuma beberapa yang sangat ahli, dan aku salah satunya.
Aku balas memandang Maurette, mungkinkah dia berpikiran jika aku yang.. Tidak. Aku tidak pernah merasa melakukannya. Dan, tentang luka dan darah. Panahku selalu tepat sasaran. Di jantung. Lalu vampir langsung mati. Aku tidak pernah menyiksa atau melukai vampir dengan kejam. Jika aku bisa, aku akan langsung membunuh mereka dalam hitungan detik.
Maurette mangalihkan lagi pandangannya. Sepertinya dia menarik kesimpulannya sendiri. Kemudian dia tertawa. Tawa yang justru membuat aku keheranan.
“Pertanyaanku sungguh tolol ya? Noura tidak mungkin mati di tangan para slayer bodoh dan para heta. Aku sungguh, ah pertanyaanku seperti meremehkannya. Padahal kemampuan bertarungnya jauh di atasku. Hanya saja, segala tentang anak panah dan semua bekas luka ditubuhnya ketika itu sangat membingungkan.”

Mau Baca Lainnya?

2 Comments

Leave a Reply

Your email address will not be published.