Half Vampire – Petanda

Nyaris tiga hari ini aku diliputi perasaan tertekan dan rasa ingin tahu yang besar. Semua yang kulakukan rasanya salah dan berantakan. Aku tahu Rosse maupun Damis menyadari itu karena mereka berdua dengan pedulinya menanyakan apa ada sesuatu yang mengangguku. Terang saja aku menggeleng cepat dan mengatakan aku baik-baik saja. Sangat tidak mungkin bagiku untuk jujur kepada mereka. Mana mungkin kukatakan tentang Ar dan Noura. 

Tidak.

Kugelengkan kepalaku dengan cepat. Tidak mungkin. Mereka berdua tidak mungkin saling kenal. Tapi rona muka Noura dalam penglihatanku ketika itu menggambarkan dengan jelas betapa Noura sangat lega melihat Ar. Dan dia menyebut nama Ar dengan lugas. Sangat akrab. 

Bagaimana mungkin aku tidak tahu ini? Aku menghabiskan sebagian besar waktuku bersama Ar selama kami di pelatihan maupun dalam tugas. Danlagi, Ar selalu menceritakan apapun padaku. Semuanya, kecuali mungkin yang satu ini. Atau, entah apa lagi. Apa jangan-jangan Ar memang menyembunyikan banyak hal dariku. Atau mungkin saja penglihatan itu hanya sebuah kebohongan. Ya kebohongan. Ya, mungkin. Bisa jadi.

“Penglihatan apa dan kebohongan apa Rena?”

Aku menoleh terkejut dan melihat Damis yang memandangiku dengan penasaran. Tanpa sadar mungkin sedari tadi aku mengucapkan apa yang dipikirkan oleh otakku. Aku menelengkan kepalaku. Lalu pura-pura tersenyum, “Tidak.” Jawabku pendek. 

“Oh ayolah Rena. Aku tahu arti dari kata tidak itu. Ada apa?” Tanyanya memaksa. 

Aku menyentuh pundak Damis dan berkata pelan, “Sungguh tidak ada apa-apa. Dan ada apa ini? Tidak biasanya mempunyai waktu luang untuk mendadak muncul dan menyapaku di luar kastil seperti ini?” 

 “Ah Rena, apa akhir-akhir ini kau kesepian? Maaf, maaf. Terlalu banyak tugas. Masalah. Sehingga tak banyak waktuku yang kuhabiskan untuk menemanimu.” Ucapnya sungguh-sungguh dengan mimik muka menyesal yang kentara. 

 Kusentuh pergelangan tangannya dan berkata aku tidak apa-apa. Damis tersenyum. Mengatakan terima kasih dan masih duduk menemaniku di salah satu koridor luar kastil. Kami berdua diam cukup lama sebelum akhirnya aku membuka suara dan bertanya, “Apa aku masih boleh mendengar lebih banyak lagi tentang Noura darimu, Damis?” 

 Dia menoleh, menyentuh kepalaku dengan lembut dan mengangguk, “Ya, tentu saja. Sepertinya juga sudah lama sejak terakhir kali kau berminat pada pertanyaan yang berkaitan tentang Noura.” 

Aku tersenyum, lalu mulai bicara dengan pelan, “Apakah kehilangan Noura berarti besar untukmu dan Rev?” 

Damis memandangku sekilas sebelum membuang nafas panjang, “Itu pertanyaan klise Rena. Sudah sangat jelas bahwa kehilangan Noura memiliki arti yang sangat besar untukku juga Rev dan semua anggota klan ini. Kami sedih, terpukul dan nyaris menyerah pada kenyataan bahwa kami entah harus menunggu berapa ratus tahun lagi sebelum seorang calon ratu menunjukkan keberadaannya. Tapi ini lebih dari sekedar semua itu bagi Rev. Noura adalah pilihannya bahkan sebelum banyak dari tetua menyadari dia seorang calon ratu..” 

“..bahkan tak lama kemudian Noura adalah calon pengantin Rev. Satu-satunya perempuan dari berabad-abad kehidupannya. Dan kau tahu akhirnya bukan, Noura menjadi calon ratu dan Reven juga merupakan pilihannya. Berat sekali kehilangan sosok yang sangat berati besar dalam hidupmu dengan cara seperti itu Rena.” 

Ucapan Damis mengingatkanku tentang bagaimana Noura mati dan aku sedikit menyesal mengingat hal itu. Damis memandangku dan sekali lagi atau entah untuk keberapa kali bertanya hal ini padaku, “Kau baik-baik saja, Rena? Ada apa?” Dia mengamati reaksiku dan ketika aku diam saja dia kembali bertanya, “Dan setiap pertanyaan tentang Noura, aku tau pasti akan ada yang berubah di rona mukamu. Kali ini apa yang menganggumu?” 

Aku diam. Jujur saja aku tidak tahu kenapa. Aku bukan gelisah karena Noura, tapi aku lebih memikirkan Ar. Pertanyaan Vlad, penglihatan itu. Segalanya membuatku membuat kesimpulan bahwa kali ini segalanya menyangkut Arshel, dan entah kenapa aku takut. Sangat takut jika apapun itu di luar sana akan melukainya dan membuatku tidak akan pernah bertemu dengannya lagi. 

Bagaimanapun ikatan yang terjalin antara aku dan Ar bukan sesederhana sebuah ikatan pertemanan. Dia sudah.. 

Aku menengok ke arah Damis ketika kurasakan tangannya mengenggam jemariku dengan lembut meski demikian erat. Tatapan matanya teduh dan bening. Lurus langsung ke bola mataku. Entah kenapa aku jadi kikuk. Damis memang biasa memandang dan mengenggam tanganku. Tapi bukan seperti ini. 

“Sherena Audreista.”

Dia menyebut nama lengkapku dengan pelan. Dengan nada suara paling memukau yang pernah kudengar. Satu tangannya bergerak menelusuri wajahku dan berhenti di leherku. Entah bagaimana ceritanya aku mulai benar-benar merasa gugup.  “Apapun yang menganggu pikiranmu. Apapun itu. Kau bisa bagi denganku. Noura. Reven. Vlad atau tentang siapapun. Ceritakan padaku dan aku akan menjadi pendengar yang baik.”

“Aku akan mendengarkanmu dan menjawab pertanyaan apapun darimu jika aku memang tahu itu. Dan aku janji, aku akan ada untukmu kapanpun itu. Ketahuilah Rena, aku.. Entah bagaimana merasa bahwa perlahan kau adalah sesuatu yang benar sangat berarti untukku. Jangan pergi ke arah lain jika kau sedang kebingungan, arahkan langkahmu kepadaku dan aku akan selalu siap menemani dan menjagamu.” 

Sebuah jeda dan aku merasa hawa dingin di luar membuatku semakin gugup. Damis dengan bodohnya bahkan tak mau mencoba menyingkirkan tangannya dari leherku. Aku merasa tidak enak. 

Lima belas senti jarak kedua bola matanya dari mataku yang berkedip-kedip mencari fokus lain agar aku tak hanya melihat matanya yang biru bening mengamatiku. 

Sepuluh senti. Lima senti. 

Aku mundur menjauh dengan tiba-tiba dengan satu sentakan ketika wajah Damis sudah sedekat itu. Aku tidak tahu kenapa dan sedikit menyesal melakukannya setelah aku melihat air muka Damis yang mendadak aneh. Kedua alisnya bertaut sebelum dia mendadak minta maaf padaku. 

Aku, setengah merasa bersalah, setengah gugup berusaha dengan buruk untuk mengatakan segalanya baik-baik saja. 

Mendadak aku mendengar suara tawa Damis ketika aku sudah demikian sulit menyusun kata-kata. “Maaf Rena. Maaf. Ah aku bodoh sekali. Apa yang baru saja akan kulakukan. Kau sampai pucat begitu. Maaf. Aku hanya, terbawa suasana. Ah ya, tentu saja. Bodohnya. Maafkan aku, Rena” 

 Aku memandangi Damis penuh tanya tanya. Dia masih saja terkekeh sebelum akhirnya berhenti tertawa dan memandangiku. “Abaikan yang tadi. Aku minta maaf, Rena.” Dia menepuk lenganku pelan sambil bangkit. Dia tersenyum menggoda hingga akhirnya mendaratkan kecupan singkat di dahiku sebelum pergi tanpa berujar apapun. 

 Aku memandangi punggung Damis dalam beberapa detik sebelum akhirnya visualisasinya menghilang di belokan koridor. Tanganku bergerak menelusuri bekas kecupannya di dahiku. Aku diam. Merasa ada sesuatu yang mengusikku. 

 ***

Reven berdiri, memandangi Ar dari bawah kerindangan pohon dengan kedua lengannya yang terlipat ke depan. Ar sendiri sedang sibuk memainkan ranting-ranting kering di sekitarnya sementara arus kecil sungai memanjakan kakinya.  Reven masih tak bergerak. Sesuatu yang sebelumnya sudah panjang lebar dikatakan Ar padanya begitu menganggu pikirannya. Ar sudah selesai bicara. Tapi baginya itu semua belum cukup. Ganjalan itu, yang dirasakannya justru semakin besar. Dia tidak sepakat. 

 Ar akhirnya menoleh. Mendapati Reven yang seperti batu di tempatnya berdiri, dia mengalah dan menghampirinya. Duduk di sekitar akar pohon yang lumayan besar, dia memandangi Reven sekali lagi. Tapi wajah Reven bahkan terpahat seperti tanpa ekspresi. Datar. 

 “Apa lagi?” Tanyanya akhirnya. 

 Reven menoleh, memandangi Arshel dengan matanya yang bersorot sangat tajam. “Aku tidak mempercayaimu.” 

 Ar menghela nafas panjang, mengangkat kedua bahunya, “Itu yang kutahu.” Ujarnya singkat. “Dan lagi, ingatlah untuk menepati janjimu padaku tentang Rena.” 

 “Itu tergantung pada kebenaran yang akan kuterima nanti.” 

 Kening Ar berkerut. Dia bangkit dengan setengah kesal. “Kau..” Geramnya. 

 Reven menatap Ar lurus, matanya mengisyaratkan kalau dia juga tidak main-main. “Aku tidak pernah mengingkari perjanjian yang telah aku buat. Tapi demi apapun aku tidak percaya Noura bertindak seperti itu. Jadi sebelum kudapati kebenarannya. Aku tidak akan mengabulkan apapun itu taruhannya.” Dia berbalik, tak menunggu jawaban Ar, melesat hilang dalam beberapa detik yang digunakan Ar untuk memakinya.

 “Dan kau, Reven,  memang sama seperti yang Noura kisahkan padaku.” Bisiknya pelan pada angin yang mendadak berhembus dingin.

***

Aku tidak baik-baik saja. Ya, aku merasa aku sedang tidak baik-baik saja. Akhir-akhir ini aku merasa aku selalu dihantui mimpi-mimpi buruk yang lebih buruk dari sebelumnya. Dan seperti biasanya aku tak sanggup mengingat mimpi-mimpi itu ketika aku bangun dalam keadaan menangis atau bersimbah peluh dengan nafas memburu tak beraturan. Aku akan menemukan diriku sangat ketakutan ketika aku memandang wujudku sendiri di cermin. Aku gugup sepanjang waktu dan mudah terkejut.  Ya, benar. Meski tidak tau kenapa aku tahu aku sedang tidak baik-baik saja. Aku ingin bertanya pada Rosse kenapa, mungkin saja dia tahu. Tapi aku bahkan sudah tak melihat Rosse hampir dua minggu ini. Bercerita pada Damis? Sama saja, dia terlihat sangat sibuk dan terburu. Russel pun entah dimana. Dan Rev, aku tidak akan memasukkannya dalam daftar orang yang kubutuhkan jikalaupun dia ada. Dan entah bagaimana aku merindukan obrolan sinis Lyra ataupun Lucia. Setidaknya jika ada mereka aku tidak akan merasa sesendiri ini.  

Aku keluar dari kastil ketika malam mulai turun. Berjalan di koridor luar sambil memperhatikan kegelapan pekat hutan-hutan di kejauhan. Aku selalu penasaran untuk mencoba masuk dan menelusuri tempat itu. Dulu ketika masih di klan manusia, aku selalu berharap menjadi slayer yang daerah kerjanya berada di hutan-hutan perbatasan dan tempat-tempat berbahaya, tapi pada kenyataannya aku malah menjadi heta yang selalu berada di pusat kota, istana kerajaan atau tempat-tempat kunjungan para anggota kerajaaan. Cenderung kegiatan dan tempat yang sangat membosankan. Melihat tempat ini kadang membangkitkan naluriku untuk menjajal kemampuanku sebagai kelompok pelindung manusia. 

Aku menghela nafas panjang. Menyadari bahwa masa-masa menjadi heta sudah lewat bagiku. Sekarang, aku sedang menapaki takdir baru. Calon ratu klan vampir.  

Kuhentikan langkahku sambil masih berusaha menatap kegelapan hutan nan jauh disana. Aku memicingkan mataku ketika tanpa sadar aku menangkap pergerakan tak wajar ranting pepohonan di hutan dimana seolah sedang ada sesuatu yang menerobos lewat dari sana.  

Aku mundur. Menyadari bahwa aku melakukan itu lagi. Kemampuan di luar wajarnya kemampuan manusiaku. Tidak mungkin indra penglihatanku bisa seawas itu menangkap sesuatu yang jaraknya bermeter-meter jauhnya dariku dan dalam keadaan segelap ini pula.   Tidak. Ini.. Mustahil. Apakah aku semakin dekat dalam masa transisi itu. Masa dimana aku akan mendapatkan kemampuan vampirku. Aku menggeleng. Tidak. Tidak boleh secepat ini. Aku masih ingin normal. Sebentar saja tetap menjadi manusia normal. 

Aku menoleh cepat ketika kudengar sesuatu menabrak pintu kastil. Aku melihat sesosok tubuh dengan tangan berlumur darah berusaha mengapai daun pintu. Lagi-lagi aku memicingkan mataku. Mengabaikan bau anyir darah yang kuat menusuk hidungku. Padahal tempatku berdiripun berada beberapa puluh meter dari pintu depan kastil. 

“Lu-cia?” 

Aku berlari secepat aku bisa ketika melihat sumber darah yang membasahi tubuhnya berasal dari luka di dada kirinya.  

“Lucia.” Teriakku panik ketika menangkap tubuhnya yang melemah. Matanya yang biasa memandangku dengan tatapan benci nampak begitu sayu. Bibirnya bergerak membentuk kalimat-kalimat yang sangat susah kupahami. 

“Pa-panggilkan Reven??” Ejaku tak yakin. 

Dia mengangguk. Aku memaki dalam hati. Bagaimana bisa tetap seperti ini. Dia mungkin saja sedang sekarat sekarang tapi entah kenapa malah masih saja memikirkan Reven. Kenapa bukan Russel? Calon pengantinnya. 

Aku gugup, kesal, dan khawatir. Dengan tangan satu berusaha memapah Lucia dan tangan satunya lagi membuka pintu kastil, mulutku tak henti-henti meneriakkan nama Reven. Dimanapun dia, asalkan masih di kastil ini, aku tahu indra pendengarannya akan mampu menangkap teriakanku. 

Lucia roboh tepat di anak tangga pertama ketika aku berusaha membawanya ke ruangan peristirahatan. Berat tubuh dan tingginya yang melebihi aku membuatku kewalahan menahannya. Aku melihat sesuatu yang melukai dadanya ketika dia sudah tergeletak di bawah. Sebuah anak patah yang ujungnya sudah patah nampak menancap di dadanya. 

“Lucia!!”  Aku mendengar suara Reven dari tangga atas, sedetik kemudian dia sudah berjongkok di depan Lucia. Mengangkat kepala Lucia dan membantunya setengah duduk bersandar di tangga. “Me-me-reka..” Lucia berusaha bicara ketika menemukan wajah Reven di dekatnya. 

“Diamlah, itu akan semakin melukaimu.” Kata Reven sambil menyentuh tangan Lucia.  

“Apa yang terjadi??” Suara Rosse. Dan aku melihat dia dan Damis bergerak menuruni tangga dengan sangat cepat. Sementara itu aku kembali mengalihkan fokusku ke Reven. Dia berjingkat, berdiri sangat cepat dan mundur beberapa langkah ketika menyentuh potongan anak panah yang masih bercongkel di dada kiri Lucia. Wajah terkejutnya tak dapat disembunyikan. 

“Ada apa??” Aku panik. Wajah pucat Lucia semakin pucat seperti menahan kesakitan luar biasa. 

“Anak panah itu dilumuri serbuk perak murni. Kita harus segera mencabutnya. Anak panah itu hanya meleset beberapa senti dari jantungnya. Kemurnian peraknya bisa saja menghancurkan jantungnya jika kita tidak segera mengambilnya.” 

“Tidak! Lucia!!” Rosse berhambur ke samping Lucia. Aku, untuk pertama kalinya melihat Rosse menangis, terpaku didepannya, di sisi lain tubuh Lucia yang semakin lemah. Dia berusaha memeluk Lucia, mengabaikan bercak-bercak darah Lucia yang menempel di gaunnya, namun dengan tetap menghindari sisa potongan anak panah di dada kiri Lucia.  

Aku paham. Para vampir tidak tahan terhadap perak murni. Semakin tinggi tingkat kemurnian perak tersebut, akan semakin besar efek menyakitkannya terhadap tubuh mereka. Mematikan jika apapun itu yang mengandung perak murni melukai jantung vampir yang bahkan sebenarnya tak berdetak. Manusia, aku, dulu sebagai heta dan nyaris semua slayer melumuri senjata kami dengan perak murni. Tidak semua memang, karena perak murni hanya bekerja pada vampir, sedangkan kami tidak hanya melawan makhluk itu sebagai satu-satunya musuh bangsa kami. 

“Biar aku yang ambil, aku- masih manusia bukan?”Kataku meluncur begitu saja.  Reven, Damis dan Rosse memandangku. Rosse dengan matanya yang basah menatapku dengan tatapan memohon, “Selamatkan Lucia, Rena” ujarnya sambil mundur sedikit. Memberiku tempat yang lebih leluasa akan tubuh Lucia. 

Aku mengangguk. Pelan-pelan kusentuhkan tanganku ke dada Lucia. Aneh rasanya ketika aku tidak dapat merasakan detak apapun disana, tak ada aliran udara yang menaik turunkan dadanya. Ya, vampir tak bernafas. Mereka hanya “terlihat” bernafas.  

Kedua tanganku mengenggam erat sisa potongan anak panah itu. Aku menariknya perlahan, gurat-gurat di wajah Lucia menunjukkan kesakitan yang sangat ketika serbuk perak murni itu kembali mengores lukanya.  

Tidak. Sebenci apapun aku pada Lucia aku tetap tidak tega melihat Lucia dalam keadaan seperti ini. Aku harus cepat. Aku harus menariknya dengan cepat. Aku memejamkan mata dan menarik anak panah itu secepat dan sekuat aku bisa. Aku terjungkal ke belakang dengan potongan anak panah yang berlumuran darah di genggaman tangan kananku bersamaan dengan jerit kesakitan Lucia.  

Rosse terlihat lega, dia mengusap rambut Lucia, “Tidak apa-apa sayang. Sudah, ini sudah berakhir.” 

Kedua alisku bertaut, vampir memiliki kemampuan menyembuhkan diri yang luar biasa. Tapi aku tidak melihat itu terjadi pada Lucia, lukanya masih terbuka, masih berdarah. Sepertinya sisa-sisa perak murni itu menghalanginya untuk menyembuhkan dirinya sendiri. Reven mengangkat tubuh Lucia dengan cepat, membopongnya ke ruang peristirahatannya di lantai dua dengan sangat mudah dan cepat. Rosse mengikuti mereka.

Aku masih duduk di tempatku terjungkal. Berlumuran darah Lucia dan mengenggam sisa anak panah itu. Siapakah yang sanggup mengarahkan ini ke Lucia? Para slayerkah? Tidak, ada senjata perak lain yang lebih cepat dan lebih praktis dari ini. Kalau bukan mereka, lalu siapa? Tapi pada Lucia? Jelas. Jelas bukan “sesuatu” yang biasa. Pasti kuat. Setingkat lebih di atas Lucia.

Tapi..

Dengan frustasi aku melemparkan sisa anak panah itu dengan marah. Ada sesuatu lain yang menggangguku sedari tadi. Dan itu menyebalkan. Bau darah. Sesuatu di tubuhku merasa terganggu. Aku merasa aku gugup mencium bau anyir darah. Ini darah vampir. Kupandangi tanganku yang berlumuran darah. Sesuatu yang kuat, sangat kuat memerintahkan tubuhku. Aku mendekatkan tanganku. Mencium bau darah yang semakin kuat. Aroma ini.. 

“Rena?”  Aku terkejut. Melupakan kehadiran Damis yang rupanya tidak ikut bersama Reven dan Rosse. Dia memandangku dengan tatapan yang tidak dapat kuartikan apa. 

“A-aku. Perlu mandi.” Kataku buru-buru. Bangkit dan menaiki tangga menuju ruanganku.

Gugup.  

***

Hari demi hari berlalu dan kondisi Lucia semakin membaik berkat serbuk-serbuk yang ditaburkan Venice, vampir perempuan berkemampuan menakjubkan dalam hal pengobatan, di atas luka Lucia. Aku sendiri melihat bagaimana lubang menganga bekas anak panah di dada Lucia menyempit dan mengering. Sementara itu Reven terus mendampingi Lucia sepanjang hari. Tidak meninggalkannya sedetikpun kecuali untuk urusan-urusan penting dengan Vlad. Rosse dan Damis pun juga sering menemani Lucia. Mereka berbincang akrab dan kadang serius. Aku juga pernah sekali melihat Vlad keluar dari ruangan Lucia.  

Namun yang mengherankan, sampai sekarang aku tak melihat Russel datang melihat keadaan Lucia. Tak khawatirkah dia terhadap keadaan calon pengantinnya? Kenapa disaat-saat krusial seperti ini Russel justru membiarkan Lucia semakin dekat dengan Reven? Tidak menderitakah Russel tak ada disamping Lucia ketika pasangannya itu nyaris saja memutuskan takdir keabadiannya sebagai vampir? Aku menanyakan pertanyaan terakhir itu kepada Damis ketika kami bertemu di ruang makan pagi ini. 

Damis menarik kursi dan duduk disampingku. Dipandanginya diriku sesaat sebelum dia membuka mulutnya dan menjawab, “Berita tentang Lucia lebih dari sekedar membuatnya menderita, Rena. Itu sudah seperti membunuhnya. Lucia adalah separuh kehidupan Russel. Kau tau bukan mereka sepasang calon pengantin. Namun justru ketika Lucia membutuhkannya, dia malah berada jauh dari Lucia dan tidak bisa kembali kesini sampai tugasnya selesai.” 

Aku mengerti. Membayangkan bagaimana tersiksanya Russel sekarang. Dia pasti menyalahkan dirinya sendiri. “Sepenting apakah tugas itu sehingga dia tidak langsung kembali kesini?” 

Damis tersenyum, “Russel sangat bertanggung jawab pada apa yang sudah menjadi kewajibannya. Lagipula jika tugasnya selesai, dia bisa balas dendam pada para werewolf yang menyerang Lucia.” 

“Werewolf??” Keningku berkerut, “Tapi panah itu..” 

“Ya, kedengarannya memang tidak masuk akal. Tapi cerita Lucia membuatnya tidak terdengar tidak masuk akal. Nanti akan kuceritakan, Rena. Tapi tidak sekarang.”  

“Aku janji.” buru-buru Damis menambahkannya ketika melihat raut protes di wajahku. Aku mengalah, kuhabiskan sisa makan pagiku dengan masih ditemani Damis di sampingku. 

“Kau tidak haus, Rena?”  Aku melirik Damis. Pertanyaan bodoh macam apa itu. Jelas saja Damis juga melihat kalau aku baru saja meletakkan gelas kosong ke atas meja dimana air putihnya telah berpindah ke perutku. 

“Aku baru saja minum, Damis.” Jawabku malas. Damis jelas sedang menggodaku. Aku menggeleng-gelengkan kepalaku, berdecak. Kusempatkan menepuk pundaknya ketika aku bangkit dan melangkah keluar dari ruangan ini.  Aku tidak tahu kalau Damis terus memandangku yang menjauh. Dia menatapku serius.

“Apa kau benar-benar tidak haus, Rena?”

<< HALF VAMPIRE – Tujuan Lain

HALF VAMPIRE – Kembalinya Arshel >>

Mau Baca Lainnya?

5 Comments

Leave a Reply

Your email address will not be published.