Half Vampire – Rahasia Morgan

“Mana kudanya?”

Kedua bola mataku mencari-cari dengan tidak tenang. Tidak ada seekor kudapun di depan rumah Morgan ketika aku dengan semangatnya berjalan ke luar rumah. Morgan berjalan di belakangku, berhenti di sampingku. Memandang ke depan.

“Aku membatalkan tentang kuda tapi kita akan tetap jalan-jalan hari ini.”

“Apa?” aku menoleh dengan tidak senang. “Kenapa? Aku sudah lama tidak berkuda.” Protesku keras.

“Aku bilang soal ini pada bibi Muriel tadi malam. Dan dia menyarankan untuk kita menunda berkuda hari ini. Mungkin kakimu masih belum sembuh benar.”

“Aku sudah sembuh.” Tegasku. “Lihat.” Aku menghentak-hentakkan kakiku dengan sebal. Morgan hanya melirik sebelum dia melangkah ke depan.

“Ayo jalan-jalan. Tutup pintunya, Sherinn.”

Apa yang dikatakannya? Aku membanting pintu menutup, Morgan tidak menoleh. Dia tahu jelas bahwa aku kesal tapi dia diam saja. Aku benci Morgan. Aku benci dia. Sudah berapa kali dia bertindak seenaknya seperti ini. Seharusnya dia tidak usah bilang tentang berkuda kemarin. Jadi aku tidak perlu kesal dan kecewa seperti ini. Morgan ini, dia baik dan menyebalkan dalam waktu yang sama.

Aku berjalan dengan cemberut, seratus meter di belakangnya.

Morgan sadar aku tertinggal jauh, dia berbalik. Berkacak pinggang. Menungguku.

“Sherinn.” Teriaknya. “Lebih cepat sedikit.”

Aku semakin cemberut. “Kau bilang kita jalan-jalan bukan? Jalan-jalan dan bukannya berlari. Jadi jangan protes.” Tegasku begitu aku sudah di sampingnya.

Morgan tergelak, “Kau manis sekali kalau marah-marah seperti itu, Sherinn.” Lengannya merangkulku dan telapak tangannya mengusap-usap rambutku dengan gemas.

Ap-apa-apaan Morgan ini. Ini di jalanan desa dan bagaimana bisa dia melakukan itu. Dia sudah punya tunangan. Aku menginjak kakinya dengan keras.

“Auw, sakit, Sherinn.”

Aku berkacak pinggang, menatapnya berang. “Jangan peluk-peluk aku sembarangan.” Teriakku.

Anehnya Morgan kembali tergelak. “Kau benar-benar pemarah ya?” katanya sambil memegangi perutnya, tertawa lagi. Dia benar-benar menyebalkan, mirip Dev. Dulu Dev juga akan seperti itu, selalu menggodaku. Membuatku marah-marah dan dia akan tertawa senang ketika aku marah.

Keningku berkerut. Kenapa aku malah memikirkan Dev? Aku melotot geram pada Morgan, “Jangan tertawa. Menyebalkan.” Desisku, berjalan kembali meninggalkan Morgan yang langung berlari mengejarku. Menjajari langkahku.

“Aku sudah pernah bilangkan, Sherinn, kau mengingatkanku dengan seseorang.” Katanya bersemangat.

“Karena aku bersemangat, penuh ekspresi dan benar-benar hidup? Huh.”

Morgan mengerjap, “Ingatanmu cukup bagus, Sherinn.”

Aku menoleh sekilas. Dan kata-katamu barusan juga mengingatkanku dengan seseorang, batinku. Reven. Kira-kira ada dimana dia sekarang. Aku menatap bukit jauh yang hanya nampak sebesar jempolku dari sini. Reven mungkin ada disana, mengamatiku.

“Morgan! Sherinn!”

Aku menoleh, sama seperti Morgan dan sedikit terkejut mendapati Rowena setengah berlari menuju ke arah kami. “Selamat pagi.” Sapanya riang.

“Selamat pagi juga, Rowena.” Jawabku mencoba sama riangnya seperti dia, namun sepertinya gagal. Morgan malah tidak membalas sapaan pagi Rowena dan memandangnya dengan tatapan aneh yang seolah berkata, sedang apa kau disini. Aku menahan untuk tidak menertawakan pasangan ini.

Akhirnya kami berjalan bertiga, Morgan kehilangan keriangannya pagi tadi, yang sepertinya diserap oleh Rowena, karena kupikir dia terlalu ceria untuk pagi yang bagiku sedikit menyebalkan ini. Bagaimana tidak menyebalkan kalau semuanya jadi seperti ini, batal berkuda dan malah harus menonton dua orang yang sedang dimabuk cinta. Ralat, sepertinya cuma satu orang, karena Morgan jauh sekali dari penggambaran orang yang mabuk cinta, dia lebih seperti mabuk laut atau begitulah ekspresinya.

Mau tak mau aku nyengir, berjalan agak menjauh dan menikmati pagiku sendiri sementara Rowena terlalu sibuk memonopoli Morgan dengan bicara terus dan bertanya macam-macam. Kurasa aku tahu kenapa Morgan tidak terlalu menyukai Rowena, dia memang cantik, lembut, tapi terlalu banyak bicara dan merajuk ketika bersama Morgan. Dan entah kenapa, aku merasa Morgan beberapa kali melirik ke arahku yang ada di belakangnya. Antara mengajak kabur dari Rowena atau memintaku membungkam mulut Rowena.

Aku tak mau ikut campur. Aku melenggang dengan santai. Menghirup udara pagi di pedesaan. Berjalan beberapa meter di belakang mereka, menikmati bau gandum, bunga dan desa. Aku suka tempat ini. Aku selalu suka desa. Aku jadi rindu ibu. Rasanya sudah lama sekali. Aku mendongak, menatap langit pagi hari.

Ibu, kau baik-baik saja disana? Aku merindukanmu.

“Sherinn.”

“Eh.” Aku beralih menatap ke depan dan melihat Morgan dan Rowena sudah memandangiku. “Ada apa?” aku bertanya tak mengerti.

“Aku sudah memanggilmu beberapa kali dan kau sepertinya sedang memikirkan hal lain.” Suara lembut Rowena mengalun merdu, aku jadi ingat nada suara vampir yang menggoda ketika mereka berusaha merayu mangsanya. Terdengar mirip.

“Tidak.” Jawabku singkat. “Hanya sedang menikmati suasana tenang disini. Aku jarang berada di tempat seperti ini.”

Rowena memandangku penuh tanya, “Kau sebelumnya tinggal dimana?”

“Di rumah tuanku. Disana aku selalu sibuk.” Jawabku lagi, segera berjalan kembali. Rowena mengangguk dan ikut berjalan, mengandeng Morgan yang jelas terlihat risih tapi tidak melepaskan diri.

Kami berjalan, sesekali sambil ngobrol hingga akhirnya berhenti di suatu tempat yang sepertinya ladang gandum. Aku menganga, memandang hamparan luas padang gandum di depanku yang sudah mengguning. Banyak orang di ladang ini yang sepertinya sedang memanen gandum dan mereka semua menyapa kami dengan sopan sebelum kembali lagi melanjutkan aktifitasnya.

Aku memicingkan mataku ketika melihat seseorang yang kukenal berada di sudut jauh ladang ini. Berpakaian seperti para petani, namun jelas menatap tajam, sekilas, padaku. Aku memandang Rowena yang sibuk bercerita entah apa pada Morgan.

“Morgan.” Panggilku.

“Ya.” Dia menyahut cepat, bersemangat. Seolah-olah panggilanku memberinya kehidupan baru.

“Aku ingin berkeliling sendiri ke ladang ini. Mungkin mencoba sedikit membantu para petani, boleh?” tanyaku hati-hati.

Kedua alis Morgan tertaut, “Tidak. Kau tidak perlu membantu. Sudah cukup banyak orang hari ini. Lagipu-“

“Sudahlah, Morgan. Izinkan saja. Sherinn mungkin hanya ingin mencoba hal baru. Bukankah tadi dia bilang dia jarang berada di tempat seperti ini. Jangan bersikap protektif seperti itu.”

Aku nyaris bersorak mendengar ucapan Rowena. Astaga, Rowena, kau malaikatku.

Morgan jelas sekali terlihat enggan ketika berkata, “Baiklah, tapi jangan lama. Aku akan menunggumu disini.”

Rowena tertawa, “Astaga, jangan dengarkan dia, Sherinn. Lakukan sesukamu, berapa lamapun terserah. Aku dan Morgan akan dengan senang hati menunggumu, kami akan mencari tempat duduk di sekitar sini dan menghabiskan waktu berdua.”

Aku tersenyum lebar. Memandang ke arah Morgan yang mengerutkan keningnya, terlihat frustasi. Aku melambai ringan ke arah mereka sebelum berjalan ke arah yang sebelumnya menyita pandanganku. Menyusuri tepian ladang, ternyata ini lumayan jauh. Di salah satu sudut ladang, di tempat yang sedikit sepi, hanya terlihat beberapa petani dan aku mendekati salah satunya. Menjajarinya dan pura-pura mengerjakan hal yang sama dengannya dan banyak petani lainnya.

“Bagaimana kau bisa ada disini?” bisikku.

“Sudah kukatakan aku akan mengawasimu.” Suara itu tajam. Menusuk.

“Aku tahu, Reven.” Aku mengalihkan fokusku dengan mengamatinya dari atas sampai bawah. Pakaiannya tertutup dari atas sampai bawah. Dengan telapak tangan yang juga dilindungi dari sinar matahari. Kepalanya menggunakan tudung sehingga wajahnya ditutupi bayangan-bayangan gelap. Sebenarnya dia terlihat sangat konyol, baru kali ini aku melihat Reven dengan tampilan yang sama sekali tidak elegan, berkelas, tidak seperti Reven yang biasa aku lihat.

“Mereka tidak mencium baumu?”

Reven melirikku, “Sudah kukatakan Venice punya ramuan yang-“

“Ah iya maaf, aku ingat.” Potongku dan Reven hanya mendengus kesal.

“Apa saja yang sudah kau dapat?” kami menunduk, saling berbisik.

“Tidak banyak, aku-“

“Ini sudah hampir tiga minggu.” Reven membentakku. Aku menggigit bibirku, dia sama sekali tidak berubah. Matanya melirikku dengan tajam, aku semakin menunduk, menghindari tatapannya. Bagaimanapun aura mengintimidasi miliknya masih sangat pekat dan aku benci mengakui kalau itu juga mempengaruhiku.

“Aku memang belum mengetahui apapun tentang apa yang dilakukan Morgan Feersel.” Matanya berkilat membunuh dan aku buru-buru melanjutkan, “Tapi aku tahu sesuatu tentang Noura.”

Secepat kilat dia meraih lengan kananku, mencengkramnya sangat erat.

“Arghh,  sakit Rev-“

Reven mengendurkan cengkramannya, menarikku mendekat. Berbisik begitu dekat di telingaku, “Apa yang kau tahu tentang Noura disini??” desisnya membuat bulu kudukku meremang.

“Noura pernah tinggal disini.”

Mimik muka Reven berubah, kedua alisnya bertaut. Tanpa sadar dia melepas cengkramannya di lenganku. Aku buru-buru beringsut sedikit menjauh. Membiarkan Reven sibuk dengan pikirannya sendiri sebelum akhirnya dia menatapku lurus-lurus. Mata birunya berpendar aneh. “Ceritakan.” Singkat, penuh nada memerintah.

Aku menghela nafas, tidak ingin membantah Reven.

“Noura pernah tinggal disini selama beberapa saat. Morgan sendirilah yang membawanya ke tempat ini. Aku tidak tahu apa yang dikerjakan Noura disini, namun yang jelas dia mempunyai tujuan menyusup disini. Namun dia ketahuan-“

“Mereka yang membunuh Noura?” desis Reven penuh amarah.

“Tidak.” Aku menyahut tepat, “Dia hanya ketahuan tapi berhasil kabur. Jadi, kau tidak tahu Noura pernah tinggal disini? Apa dia tidak dalam tugas?”

Mata Reven kosong, entah apa yang sedang ada dalam pikirannya. Aku juga tidak berminat untuk bertanya dan berusaha sibuk dengan batang-batang gandum yang sedang kupegang. Aku sedang menebak-nebak tentang banyak kemungkinan ketika kudengar lagi suaranya.

“Apa hubungan Morgan Feersel dengan Noura?”

Aku menoleh, Reven tidak menatapku. Dia seolah bicara dengan dirinya sendiri.

“Apa yang dilakukan Noura di tempat ini? Menyamar?? Itu hal yang mustahil.”

Aku seperti mengerti perasaannya, “Entahlah, namun sepertinya mereka dekat. Morgan menyukai Noura. Dia tergila-gila padanya.” Seperti kau, batinku.

Dia menoleh cepat, “Serigala busuk itu menyukai Noura?”

Aku mengangguk, “Entah kenapa, aku merasakan bahwa Noura sepertinya sedang merencanakan sesuatu. Menyusup di sarang musuh, seorang diri. Apalagi dia sepenuhnya vampir. Tidakkah bau tubuhnya tercium kuat? Lalu bagaimana dnegan matahari, kau.. kalian..” aku melihat penampilan Reven, “Bisa mati terbakar sinar matahari.”

Reven tidak menjawab, sepertinya dia sepakat dengan ucapanku.

“Ramuan dari Venice hanya bertahan sekitar dua jam.” Gumamnya.

“Dia benar-benar tidak dalam tugas?”

Sekali lagi Reven menatapku, “Aku harus menemui Vlad.” Tukasnya cepat, mengabaikan pertanyaannya. Dia berjalan menjauh dariku dan aku hanya menatapnya dengan bingung. Keputusan macam apa itu. Meninggalkanku seorang diri disini? Jika mereka tahu aku adalah Sherena yang adalah calon ratu, mereka mungkin membunuhku.

“Bagaimana denganku?” desahku pelan.

Reven menoleh, padahal dia sudah jauh melangkah. “Akan kuminta Damis atau Russel menjagamu selama aku menyelesaikan masalah ini.” Tegasnya sebelum lenyap dalam larinya yang cepat. Hanya perlu beberapa kedipan dan dia benar-benar hilang. Aku membuang nafas panjang. Entah kenapa merasa kehilangan.

***

Aku tidak tahu siapa yang mengawasiku sekarang. Kadangkala tanpa sengaja aku sering menatap ke bukit di kejauhan dengan nanar. Entah kenapa aku merasa sangat terluka. Apa karena Reven? Tidak mungkin. Kami tak dekat, bahkan cenderung bermusuhan. Percakapan kami hanya datang karena tugas atau perkara lain yang memang membutuhkanku untuk diajak bicara. Lalu perasaan apa ini?

“Sherinn.” Morgan mengambil tempat,  duduk di dekatku.

Aku menoleh, tidak menjawab dan hanya tersenyum. Ini sudah empat hari sejak aku melihat Reven pergi dan aku juga tidak mendapat informasi apapun. Semuanya berjalan terlalu lambat. Morgan jelas-jelas membatasi beberapa hal dariku meskipun dia sangat terbuka di banyak lainnya. Dan aku merasa sangat tidak berguna.

“Kau murung akhir-akhir ini, ada apa?”

Aku mengangkat bahuku, “Tidak tahu. Aku hanya merasa tidak bersemangat.”

“Apa kau rindu kegiatanmu sebagai heta bayaran?”

“Mungkin. Aku hanya merasa kosong.” Akuku dan dia menatapku, seolah menelitiku. Aku tidak membalas tatapannya dan sibuk memandangi bulan yang bersinar terang di atas sana. Ini memang bukan bulan purnama tapi bulan di langit terlihat sangat penuh, juga mempesona.

“Kau bosan disini?”

Mataku menatap Morgan, aku tersenyum, “Aku hanya tidak terbiasa tidak melakukan apa-apa seperti ini. Aku ingin melakukan sesuatu. Entah apa. Aku juga tidak punya uang.” Aku tertawa. Memandangnya sekilas, “Aku merasa sudah membuatmu menanggung hidupku. Aku minta maaf.”

“Astaga, Sherinn.” Morgan memekik, membuatku mengerutkan keningku. Dia menepuk pundakku dengan keras, “Apa yang baru saja kau katakan? Aku sama sekali tidak keberatan dan tidak merasa terbebani dengan keberadaanmu disini. Aku bahkan merasa sangat senang. Dan kalau bisa.” Dia berhenti, terlihat ragu. “Aku ingin kau tetap tinggal disini.”

“Heh?” aku tidak mengerti, “Tinggal disini?” aku menggeleng cepat, “Tidak Morgan. Maaf. Aku tidak mau seperti parasit yang hanya menempel padamu. Tidak melakukan apa-apa selain makan dan tidur. Tidak. Maaf. Aku tidak bisa jika hanya seperti itu. Lebih baik ak-“

“Kau bisa bekerja untukku.” Potongnya cepat.

“Bekerja untukmu? Memangnya apa yang selama ini kau lakukan?”

Morgan terlihat lebih ragu, dia memandangku dengan tajam. Seolah-olah menebak apa aku terlihat pantas untuk diberitahunya sesuatu. “Sherinn..” panggilnya pelan. “Aku akan berterus terang tentang sesuatu kepadamu. Namun kumohon jangan menyela dulu sebelum aku selesai. Setelah aku selesai, semua terserah padamu. Tapi jangan ceritakan apa yang sudah kuceritakan padamu kepada orang lain. Atau aku.. tidak bisa menjamin keselamatanmu.” Dia mengucapkan kalimat terakhirnya dengan sulit, terbata. Matanya yang hitam tajam memandangku, menuntut jawabanku.

Jadi, Morgan sudah akan bercerita tentang rahasianya. Bahwa dia adalah manusia serigala, semudah dan secepat ini? Aku balas menatap Morgan. Sama tajam, tanpa ragu. Jika semudah ini, maka aku harus hati-hati. Atau apakah mungkin rumor yang pernah dikatakan laki-laki bernama Gabriel itu benar, Morgan menyukaiku? Menyukaiku? Cinta pandangan pertama? Konyol. Memangnya apa kelebihanku. Rowena jauh lenih cantik dariku. Aku bahkan cerewet dan keras kepala.

“Bagaimana, Sherinn?”

Aku mengangguk, “Ya. Tentu saja. Apapun itu, aku berjanji kepadamu Morgan.”

Morgan tersenyum, “Kurasa kita harus masuk ke dalam rumah. Membicarakannya di dalam. Sebab ini akan panjang dan lama.” Dia bangkit, masuk ke dalam rumah. Aku tersenyum tipis, Reven akan senang mendengar kemajuan yang aku dapat ini. Aku ikut bangkit, masuk mengikuti Morgan.

***

“Jaga Sherena sampai aku kembali.”

 Dev terus mengulang momentum ketika Reven mengatakan itu padanya. Dia tak percaya. Beberapa detik setelah Reven berkata seperti itu, dia hanya diam. Menatap Reven seolah tak percaya pada apa yang telah didengarnya. Dev jelas tak bisa menyembunyikan kegembiraannya mendapatkan tugas itu.

Menjaga Rena??

Ini sama sekali bukan tugas bagi Dev, ini adalah bonus baginya. Hadiah. Kegembiraan tak terbatas. Tak perlu menunggu lama baginya untuk mengatakan ya dengan setengah girang. Membuat mata Reven memicing dengan tatapan tajam padanya. Dev tak peduli. Yang penting dia mendapatkan tugas ini. Dia akan tahu dimana Rena sekarang, dan seperti yang diinginkannya, dia akan menjaga Rena. Dia akan menjaga Sherena-nya. Seperti janjinya pada Ar.

Kemudian disinilah dia berada, berdiri di bukit tertinggi memandang desa di kejauhan yang nampak sangat kecil. Angin pegunungan berkibar-kibar menerbangkan ujung jubahnya, tudung jubahnya tersampir di punggungnya. Dev tidak memerlukannya sekarang, ini malam hari dan dia aman dari sinar matahari. Bulan bersinar terang di atasnya sangat penuh dan mempesona meski ini bukan bulan purnama. Seandainya dia bersama Rena, seandainya ada Rena ada di sampingnya, suasana ini akan sangat syahdu. Dia dan Rena, memandang bulan yang sama. Menghabiskan malam berdua, berbincang sampai pagi tentang banyak hal, tentang mereka.

Dev membuang nafas lelah. Dia hanya berimajinasi. Rena tidak bersamanya, tidak di sampingnya, tapi di salah satu tempat di desa yang kini tengah dipandanginya. Tidak apa-apa. Meskipun tidak ada Rena di dekatnya tapi dia tahu, setidaknya dia ada disini demi Rena. Demi menjaga Rena dari para manusia serigala itu. Dia menggeram marah mengingat beratnya tugas yang harus dijalani Rena. Bagaimana Vlad bisa memilih Rena menjalankan tugas ini sementara dia tahu keselamatan Rena sangat berharga bagi kaum mereka. Rena adalah calon ratu mereka. Kunci kekuatan mereka yang melegenda.

Tapi kenapa sekarang Rena dibiarkan ada disini. Di tengah-tengah musuh. Diantara para manusia serigala. Bahkan tinggal berdua dengan anak pemimpin kaum manusia serigala, Morgan Feersel. Ini gila. Jika dia tidak ingat bagaimana peringatan Reven agar dia tidak mengacaukan tugas ini, hanya karena perasaannya pada Rena, dia sudah pasti akan menerjang masuk ke desa itu, mencari rumah Morgan dan membawa Rena pergi dari situ.

Tidak, tapi Dev jelas tidak akan melakukan itu. Tugas ini penting bagi kaumnya dan Reven bilang Rena sudah melakukan tugasnya dengan sangat baik sejauh ini. Jadi dia tidak akan merusak apa yang telah dilakukan Rena hanya karena perasaannya. Lagipula tugas ini pasti menyenangkan untuk Rena. Tugas ini akan membuatnya bersemangat, membunuh rasa bosan Rena karena tidak melakukan kegiatan menegangkan apapun selama dia tinggal di kastil. Dev tahu jelas bagaimana hasrat Rena akan melaksanakan tugas-tugas, dulu ketika Rena masih menjadi heta, dia yang paling bersemangat diantara Dev dan Ar.

“Merindukannya, Dev?”

Dev menoleh, tersenyum pada sosok yang duduk dengan manis di atas salah satu akar pohon besar yang ada disana, beberapa meter di belakang Dev. “Ya.” Jawab Dev. Sosok itu mengangguk, mengerti. Membelai rambutnya yang panjang. Matanya yang berwarna coklat terang berkilauan.

“Jangan terlalu jujur pada setiap orang. Bisa saja itu berbahaya bagimu.”

Dev tertawa, kembali memandang ke arah desa, “Aku tahu kau teman yang baik, Lucia.”

Lucia tersenyum, dan keduanya kembali diam. Menikmati malam yang penuh dengan sinar bulan dengan pikiran masing-masing yang mengelana jauh dari tempat mereka berdiri..

***

Aku menyentuh dadaku, menahan keterkejutan yang tak bisa aku bendung. Meskipun sejak awal aku tahu bahwa Morgan adalah manusia serigala. Tetap saja sangat mengejutkan dan asing melihat Morgan yang bertubuh gagah dan berwajah tampan mendadak berubah menjadi manusia serigala di depan mataku. Aku terbiasa menghadapi langsung manusia serigala dalam bentuk perubahan mereka dan tidak pernah melihat mereka berubah langsung di depanku.

Kusadari aku mundur sampai beberapa langkah ketika serigala setinggi dua kaliku itu itu mendekatkan mocongnya yang berliur ke arahku. Mau tidak mau aku bergidik melihat taringnya yang sangat tajam. Mendadak aku merasa lebih suka melihat Morgan dalam bentuk manusia, dia lebih manis daripada serigala besar yang kini menatapku dengan tajam. Serigala ini berbulu dengan corak antara hitam dan putih. Sebenarnya sangat tampan jika dalam ukuran anjing atau serigala biasa tapi tentu saja akan sangat mengerikan jika dalam ukuran seperti yang sekarang ada di depannku.

Serigala besar perubahan dari Morgan itu mengendusku. Lalu menggesek-gesekkan kepalanya dengan manja ke tubuhku. Pelan-pelan aku menyentuh kepalanya, mengusap bulu-bulu serigala besar ini. Lembut. Lalu serigala besar itu mendadak berjalan berbalik dan melompat. Serigala besar itu hilang dan aku melihat Morgan Feersel yang sudah berdiri di tempat sebelumnya serigala besar itu melompat. Dengan konsisi acak-acakan. Dia sudah bertelanjang dada dan celana yang dipakainya compang camping dan panjangnya hanya tinggal selutut tak sampai. Aku menelan ludahku melihat otot-otot di tubuh Morgan, dia benar-benar terlihat sangat laki-laki. Astaga! Apa yang sebenarnya ada di dalam otakku. Fokus Rena. Fokus!

Mata hitamnya memandangku, “Sherinn..” dia menyebut namaku dengan ragu. Dia sudah bercerita panjang lebar kepadaku dan aku sama sekali belum berkomentar apa-apa bahkan ketika dia mendadak berubah menjadi manusia serigala di depanku. Sejujurnya aku tidak terkejut, namun aku harus tampil seolah-olah ini untuk pertama kalinya aku tahu bahwa Morgan adalah manusia serigala.

“K-kau..” aku tergagap.

Dia maju, mendekatiku dan aku mundur beberapa langkah. Ketakutan. “Tidak apa-apa, Sherinn. Aku tidak akan menyakitimu,” dia berusaha meyakinkanku. “Sherinn..” dia maju, dan ketika itu, aku tidak mundur lagi. Morgan menyentuh tanganku, mengajakku kembali duduk di kursi yang ada di ruang tengah rumahnya. Morgan masih menyentuh tanganku, menggenggamnya dengan erat. Aku membiarkannya melakukan itu, dan sepertinya, aku sedikit yakin kalau rumor yang dikatakan Gabriel adalah benar.

“Aku mohon jangan takut dan jangan mengubah pikiranmu tentangku. Aku tidak jahat, Sherinn. Aku..” dia kesulitan menyusun kata-katanya ketika dia melihat wajahku yang datar, memandangnya dengan tatapan mata yang tak terbaca, “Aku bukan seperti yang mungkin terlintas di pikiranmu. Tidak semua manusia serigala adalah makhluk jahat, kami-“

“Siapa bilang?” potongku, “Sebagai heta bayaran, aku melihat banyak manusia serigala yang membunuh manusia dengan sadis. Seolah-olah kami adalah binatang ternak. Bukannya-“

“Tidak, Sherinn. Aku sangat yakin bahwa apa yang kau lihat bukanlah apa yang sesungguhnya ada dalam kelompokku. Manusia serigala yang berada dalam kontrolku sama sekali tidak ada yang membunuh manusia. Kami justru melindungi manusia.” Tegas Morgan dan genggaman tangannya semakin erat.

“Kelompokmu? Di bawah kontrolmu?”

Morgan melepas genggaman tangannya, terlihat bingung harus bicara apa lagi. Seolah-olah apa yang sudah dijelaskan kepadaku sebelum dia berubah menjadi manusia serigala sudah cukup bagiku. Dan menjelaskan lebih adalah sesuatu yang harusnya tidak dia lakukan. Tapi kemudian aku mendengar suaranya. Sepertinya dia memilih menjawab pandangan penasarannku, “Aku adalah anak dari pimpinan ras manusia serigala, Elliot Feersel. Kau mungkin tidak tahu tentang hal itu, namun para petinggi dalam setiap ras yang ada di dunia ini akan tahu nama itu, Sherinn.”

“Kau, anak dari pimpinan ras manusia serigala?” aku mengulang dengan wajah tidak percaya.

Morgan mengangguk dengan tegas. Aku berusaha memasang wajah yang seterkejut mungkin. Meneliti wajah Morgan, “Aku tidak percaya.” Kudengar Morgan menghembuskan nafas panjang. “Aku mengerti, Sherinn. Tapi itulah kenyataannya.”

“Lalu apa yang kau lakukan disini?”

“Melakukan tugas.”

Singkat. Sepertinya Morgan enggan membicarakan hal ini. Aku juga tidak berminat mendesaknya lebih lanjut jadi aku mengangguk, “Aku mencoba mengerti.” Kataku pelan.

“Aku senang mendengarnya.” Morgan terlihat gembira. “Besok aku akan menemui paman Gabriel dan memberitahu padanya untuk menyetujui keputusanku memasukkanmu dalam kelompok. Kuharap dia mau mengerti. Akan sangat menyenangkan bisa melakukan banyak hal bersamamu, Sherinn. Dan lagi, aku bisa sedikit lega karena tidak harus terus membohongimu jika kau bertanya kemana aku pergi ketika siang.”

Aku mencoba tersenyum, “Apa aku akan ikut? Maksudku ketika kau pergi melakukan hal-hal berkaitan dengan urusanmu dan manusia serigala, apa aku akan ikut?”

Morgan mengangguk dengan antusias, “Itulah tujuanku.” Katanya riang.

Entah kenapa aku menjadi takut. Kenapa Morgan semudah dan sepercaya ini kepadaku. Aku tidak bisa semudah itu percaya bahwa Morgan benar-benar jujur kepadaku, ini baru menjelang satu bulan dan aku sepertinya sudah akan sukses besar dengan Morgan Feersel di tanganku, yang setengah mati percaya padaku.

Aku harus hati-hati. Siapa tahu aku yang malah terjebak dan bukannya menjebak. Aku terbiasa waspada seperti ini karena pelatihan yang kujalani selama aku menjadi heta. Ini terlalu mudah, sangat mudah. Seolah-olah aku sudah datang, direncanakan bertemu Morgan Feersel, dekat dengannya, masuk ke kelompok dan bumm. Rupanya aku sendiri yang terjebak.

Tidak. Aku benar-benar tidak boleh senang dulu.

“Apa paman Gabriel juga sepertimu?” aku mengalihkan pembicaraan kami tentang tugas yang dijalani Morgan hanya untuk membuat dia tidak terlalu curiga. Aku hanya ingin terlihat natural, seolah-olah aku memang benar-benar tidak tahu apa-apa.

“Ya.” Morgan mengangguk. “Paman Gabriel dan banyak lagi yang lain. Hampir separuh penduduk di desa ini adalah manusia serigala.” Paparnya dengan ringan.

Keningku berkerut, “Ini sarang kalian?”

Morgan tertawa, “Sebenarnya tidak tepat seperti itu. Ini hanya yah, seperti tempat untuk singgah.”

Aku ber-ohh panjang, sejujurnya tidak mengerti. Tempat untuk singgah? Jadi ini bukan tempat utama para manusia serigala untuk bertindak? Mencurigakan. Aku memandang Morgan dan memilih berkata bahwa aku butuh istirahat, bahwa ini terlalu mengejutkanku. Morgan mengangguk dan mengantarkanku masuk ke kamarku, dia menunggu sampai aku berbaring dan menyelimuti diriku sendiri sebelum dia menutup pintu kamarku setelah berkata selamat tidur kepadaku.

Dalam kegelapan kamarku, mataku nyalang terbuka. Aku merasa takut. Sudah kurasakan berkali-kali bahwa segala yang terjadi terasa begitu mudah bagiku. Aku curiga. Apakah Morgan tidak sebaik yang terlihat? Apakah dia hanya berpura-pura bersikap baik, terbuka dan sangat mempercayaiku hanya untuk memuluskannya melakukan sesuatu? Sesuatu yang mungkin saja sangat berbahaya bagiku. Aku mengehela nafas panjang. Semoga kekhawatiranku ini berlebihan, semoga Morgan memang hanya benar-benar seorang pribadi yang sangat mudah mempercayai seseorang. Semoga..

***

Mata Morgan masih bening, menatap langit-langit kamarnya dengan gelisah. Ini mungkin sudah dini hari sejak dia mengantar Sherinn masuk ke kamarnya. Dia tidak bisa tidur, sama sekali tidak bisa memejamkan matanya sejak saat itu. Dia masih ingat dengan jelas bagaimana kedua bola mata Sherinn menatapnya dengan tatapan yang tak bisa dia baca. Wajahnya menyiratkan sedikit ketakutan tapi selebihnya hanya datar, tanpa ekspresi.

“Apa yang sebenarnya dipikirkan, Sherinn?” dia berguling, merasa sangat lelah.

Mungkin nanti, dia akan menghadapi kemarahan yang sangat besar dari paman Gabriel karena keputusannya berterus terang kepada Sherinn tentang semua yang selama ini rapat-rapat mereka sembunyikan. Apalagi paman Gabriel sudah menentang keberadaan Sherinn di desa ini sejak awal.

Dia berguling lagi ke sisi yang lain. Tidak, paman Gabriel hanya terlalu takut. Dia hanya bertindak waspada karena dia tidak ingin kejadian ketika itu terulang kembali. Ketika ada seorang vampir, menyusup dan hidup dengan mudah bersama mereka dalam waktu yang lama. Ya, paman Gabriel hanya mencoba tidak terkecoh untuk kedua kalinya. Dia hanya tidak ingin kelompok ini terancam.

Dan, Sherinn..

Dia mendesah, mengusah wajahnya dengan kedua tangannya. Apakah benar memberitahu perempuan itu semuanya? Kalaupun dia salah, semua sudah terlambat. Sherinn sudah mengetahui banyak hal. Dan dia sendiri yang menceritakannya kepada Sherinn. Sherinn bahkan tidak pernah memaksa untuk ingin tahu banyak hal yang selama ini disembunyikannya. Sherinn tidak pernah memaksa.

Keputusannya sendirilah yang membawanya untuk berkisah kepada Sherinn. Dia hanya ingin menahan Sherinn lebih lama berada di sampingnya. Ketika melihat Sherinn termenung tadi, dan mengatakan bahwa mungkin dia harusnya sudah pergi membuatnya ketakutan. Dia tidak ingin Sherinn pergi dengan secepat itu. Tidak, tidak lagi sekarang. Kehilangan Noura sudah cukup baginya.

***

Aku bangun cukup pagi dan sudah menemukan Morgan duduk dengan tenang di ruang makan, tersenyum lebar padaku seolah semalam tidak terjadi apa-apa. Seolah semalam, dia tidak pernah melompat dan berubah menjadi manusia serigala yang mengerikan di depannya.

“Kau bangun pagi sekali, Sherinn.”

Itu sebuah pernyataan dan bukan pertanyaan. Aku tersenyum. Memandangnya yang sedang menyesap minuman hangat dari gelasnya, asap masih terlihat mengepul dari minuman itu.

“Kau juga bangun lebih pagi dari biasanya.” Kataku seraya duduk di salah satu kursi di depannya.

Morgan mengangguk, meletakkan minumannya di atas meja, memandangku, “Kita akan agak sibuk hari ini.”

Aku menaikkan salah satu alisku, “Kita?”

“Ya. Bukankah sudah kukatakan kemarin bahwa setelahnya kau akan masuk dalam kelompokku.”

“Oh itu.” Aku mengangguk, paham. “Memangnya kita mau kemana?”

“Makan dulu, akan kujelaskan sambil kita makan.” Morgan menyorongkan semangkuk sup jagung ke arahku setelah dia menuangkannya untuk dirinya sendiri. Aku menerimanya, mencicipi sesendok dan merasa takjub dengan rasanya. Sup ini sangat enak. Aku menyendok sekali lagi, lebih penuh sambil membiarkan Morgan menjelaskan.

***

Morgan membawaku masuk ke sebuah rumah yang sangat besar dan tertutup. Dibangun dari kayu-kayu yang disusun dengan sedemikian rupa sehingga nampak kokoh. Pintu kayunya tinggi dan lebar, namun Morgan mendorongnya dengan sangat mudah dengan satu tangan. Ruang tamu dengan kursi-kursi kayu yang mengitari satu meja panjang menyambut penglihatanku ketika akhirnya aku masuk dan Morgan kembali menutupnya.

Semua kepala memutar, menatap kami dengan tatapan yang bermacam-macam. Kebanyakan kaget dan satu wajah yang paling ujung, terlihat berang. Gabriel bangkit dengan marah, wajahnya merah padam.

“APA YANG KAU LAKUKAN? KENAPA KAU MEMBAWA PEREMPUAN ITU KE MARKAS KITA??”

Dia berteriak keras. Terus terang, jika tidak menghormati Morgan, aku pasti sudah menutup kedua telingaku karena suara Gabriel benar-benar memekakkan telingaku. Aku merasakan Morgan mengenggam tanganku, sepertinya dia ingin menyalurkan keberaniannya kepadaku. Aku agak geli karena sejujurnya aku sama sekali tidak merasa takut dengan Gabriel.

Aku sudah pernah melihat yang lebih buruk dari Gabriel. Vlad dan Reven bahkan lebih menyeramkan daripada dia. Tanpa kemarahan, tanpa benatakan, aura mengintimidasi dan mengerikan Vlad sudah cukup membuat bulu kuduknya meremang dan Gabriel bukan apa-apa jika dibandingkan dengan Vlad. Mau tak mau, aku merasa bersyukur mengenal yang paling seram lebih dahulu.

Morgan menarik tanganku, mengikutinya berjalan perlahan ke depan. “Duduklah, paman. Akan kujelaskan semuanya.” Morgan bicara dengan sangat tenang. Dia duduk di salah satu kursi yang ada di samping Gabriel yang melirikku dengan tatapan membunuh. Gabriel mengeretakkan giginya, menahan marah. Namun kelihatannya dia menuruti perkataan Morgan, duduk dan menunggu sampai Morgan yang bicara.

“Sherinn akan masuk ke kelompok kita.” Suara Morgan tegas. Matanya mengelilingi ruangan ini. Menyebarkan ketegasan kepada semua orang yang ada disini. Terdengar bisik-bisik, namun tidak ada yang berbicara dnegan terang-terangan. Aku melirik Gabriel yang matanya seperti membesar dua kali lipat. Ekspresinya murka, itu jelas.

“Tapi kenapa?”

Ada suara yang berkata namun aku tidak tau siapa, Morgan menatap ke arah sosok yang bicara itu, “Sebab aku yang memutuskannya.”

Sangat tak terbantah. Aku menyadari Morgan mengeluarkan aura yang berbeda dari yang biasanya aku rasakan. Wajahnya mengeras, matanya bersorot sangat tajam berapi-api, dan aku merasakan itu. Sedikit sama meskipun tidak sekuat milik Reven, aura mengintimidasi.

“Kau terlalu gegabah.”

Itu suara Gabriel.

“Membiarkan perempuan itu tahu begitu saja. Kau membahayakan semua kelompokmu sendiri. Mempertaruhkan keselamatan semua orang hanya demi keegoisanmu semata. Perempuan itu bahkan seorang heta.”

“Heta bayaran, paman.” Koreksi Morgan cepat, “Dan dia tidak berhubungan dengan para heta atau slayer istana. Aku membawa Sherinn masuk ke kelompok ini juga bukan tindakan gegabah. Aku mempertimbangkan banyak hal.”

“Oya?” Gabriel mencibir, “Yang kulihat hanya seorang laki-laki yang tergila-gila dengan seorang perempuan dan menyeret perempuan itu dalam rahasianya hanya agar perempuan itu tetap bersamanya. Bukankah begitu, keponakanku?” Gabriel tersenyum sinis, seakan sudah berhasil menebak inti kepala Morgan. Morgan sendiri terlihat tak terbaca, ekpresinya datar. Namun kulihat dia berusaha mengatur nafasnya yang mendadak terburu. Jantungnya berdetak satu-satu.

Kedua alisku bersatu, detak jantung? Bagaimana mungkin aku bisa mendengar detak jantung Morgan yang duduk di sampingku. Kami berjarak, berbeda kursi, suasana sedikit penuh bisik-bisik, dan aku mendengar detak jantung Morgan? Detak jantung? Astaga ini tidak mungkin. Apakah aku.. Tidak. Tidak. Abaikan ini dahulu. Aku harus fokus. Mengabaikan pikiran gila dari otakku itu dan kembali fokus pada pembicaraan orang-orang ini. Fokus. Fokus Rena.

Dan tadi Gabriel bilang apa soal laki-laki dan perempuan? Laki-laki itu sinting. Aku memicingkan mataku, merasa sebal. Morgan tidak tergila-gila padaku, kurasa dia lebih bersikap seperti teman. Lagipula Gabriel harusnya tahu kalau Morgan sudah punya Rowena. Perempuan itu baik dan sangat mencintai Morgan. Aku benar-benar ingin menyela, namun sepertinya aku harus menahan diri untuk bicara. Biar Morgan saja yang bicara.

“Aku sudah punya Rowena, paman. Bukannya kau orang yang paling bersemangat ketika aku bertunangan dengan Rowena. Lalu bagaimana bisa paman bicara seperti itu sekarang.” Sahut Morgan dengan santainya. Aku menahan senyum melihat ekspresi Gabriel yang terlihat sangat kesal. Kurasa dia mengharapkan Morgan akan gugup atau apa. Namun Morgan malah bersikap sangat tenang. Seolah-olah Gabriel hanya melemparkan pernyataan yang sama sekali tidak menganggunya.

Setelah Gabriel sepertinya tidak ingin berkata apa-apa lagi, Morgan kembali memusatkan dirinya kepada semua orang. Aku pikir, mungkin kebanyakan orang disini sebenarnya juga ingin membantah Morgan. Tapi hanya Gabriel yang sanggup melakukan itu. Morgan benar-benar memegang kendali penuh dalam kelompoknya. Ah iya, aku melupakan satu hal, dia ketuanya. Tidak mengherankan.

“Sherinn telah tahu seperti apa kita sesungguhnya dan dia tidak keberatan untuk membantu kita dalam beberapa tugas yang akan atau sedang kita lakukan. Aku berharap kalian menerima Sherinn seperti kalian menerimaku. Aku akan menghukum siapapun yang berani melukai Sherinn. Sebab dia adalah anggota kelompok ini, dan anggota kelompok adalah keluarga. Setiap keluarga harus dijaga, bagaimanapun keadaannya.”

Setiap keluarga harus dijaga, bagaimanapun keadaannya.

Aku memandang Morgan dengan terpana. Sedikit merasa berdosa karena sebenarnya aku punya tujuan di balik semua ini. Seperti aku pula, semua di ruangan ini terpana pada apa yang dikatakan Morgan. Meskipun ada ancaman dalam perkataannya, sisanya adalah kelembutan dan ketegasan yang yang biasa dilakukan oleh seorang kepala keluarga. Seperti ayah yang melindungi anak-anaknya. Dan Gabriel terlihat tidak akan membantah lagi. Sepertinya, sama seperti yang lain, dia memilih mempercayai Morgan untuk saat ini.

<< HALF VAMPIRE – Tentang Cinta 
HALF VAMPIRE – Akhtzan >>

Mau Baca Lainnya?

14 Comments

  1. OMG makin baguuusss =) huaaaa pingin baca lanjutannya.. Tapi..kasian authur hehehehe… Aku tunggu deh 🙂 jangan lama-lama ya author yangg keceee 😀 -AF

  2. Hai author
    Nambah kereeennnn ni HV nya
    Uda lama ngikutin baru koment sekarang:)

    Morgan,vlad,noura dan sekarang akhtzan!!!
    Makin komplek penasara saia
    Kemisteriusan noura belum terpecahka…
    Akkkkhhh auuutthhooor
    Paling bisa deh bikin penasaran
    *Gemeeesss sambil teriak lanjuuuuuut…

    Author semangat чa
    Tetap terus bikin kita bertanya tanya 🙂

  3. Gimana kalau ternyata sherena lebih nyaman tinggal bersama morgan daripada jadi ratu vampire y? Melihat morgan yang sepertinya mulai main hati…
    *saianya jadi suka menghayal sendiri gara" authornya bikin penasaraaaannnn ketingkat dewa hihihi

  4. Ka kayanya ada bagian yg salah deh yg 'aku memandang sherinn yg sedang mengobrol entah tentang apa dgn morgan' itu harusnya rowena kan ka? Coba di cek lagi deh ka^^

    Semangat ka!!!

  5. Hai Rika..
    terima kasih komennya ya.

    Selamat berpenasaran. 😀
    Well tapi semuanya akan terpecahkan dalam waktunya.
    Ditunggu saja ya 😛

    Semangt juga

  6. yaah kalau aku jadi sherena mungkin bakalan nggak tega bohongi morgan feerseel 🙁 tapi kalau terpaksa mau gimana lagi.. Dunia terlalu kejam ya, kenapa selalu ada pilihan yang membuat kita susaaah 🙁
    semangat kak 'amoura xexa' 🙂

  7. Makin seru aja nih HV,, semakin banyak pemain" baru, semakin penasaran dibuatx.. Hehe..
    Tetep semangat 45 ya sist nulisx, aq ttp setia menunggu kelanjutannya…. *Hug*
    (artharia)

  8. Penasarannya udah makin akut dan akut aja ini…
    emm.. ada Mas Dev juga loh di sini yg masih setia aja sama Rena..
    haduuh.. aku salut banget deh sama kesupersetiaannya Dev 🙂
    dan mangkel sekali liat tingkahnya Reven yg masih kaya bongkahan es..
    okeylah, Morgan juga tambah manis nih di sini..
    complicated… seru dan keren..

    Semangat terus, Kak!
    Keep writing!

Leave a Reply

Your email address will not be published.