Half Vampire – Respon

“Jadi tidak ada apapun yang kau dapatkan selama berbulan-bulan disana?” suara Vlad menggema di seluruh ruangan. Dia tidak perlu meninggikan suaranya tapi nada penuh kemarahan yang terkandung disana sudah cukup membuat Russel menundukkan kepalanya dalam-dalam. “Aku berharap banyak padamu, Russel. Kau yang mengatakan padaku bahwa kau akan bisa melakukan ini dengan baik sama seperti jika Reven yang melakukan tugas ini.”

Vlad bangkit dari duduknya. Dengan langkah perlahan dia mendekat ke tempat dimana Russel berdiri dengan kegelisahan yang jelas. Di sudut lain Reven mengamati dalam diam. Dia sama sekali tidak menyela dan hanya memperhatikan. Dia sudah ada di ruangan ini ketika Russel datang, sama halnya dengan Rosse yang duduk di samping tempat dimana sebelumnya Vlad duduk.

Sama sekali tidak ada suara yang menginterupsi. Hanya suara langkah kaki Vlad yang memenuhi ruangan yang senyap. Dia memutari Russel, berjalan dengan mata menatap tajam pada Russel yang masih terus menunduk, “Jadi katakan kepadaku bagaimana bisa kau gagal??” dia membentak marah dan berhenti tepat di depan Russel. Satu tangannya mencengkram leher Russel yang langsung terlihat kesakitan.

Kepalanya mendekat ke arah Russel, “Jelaskan sesuatu yang masuk akal padaku atau ini akan menjadi hari terakhirmu di dunia ini.” Bisiknya penuh ancaman tepat di telinga Russel. Rosse maupun Reven bisa melihat dengan jelas bagaimana tangan Russel gemetar. Namun mereka berdua tahu mereka tidak bisa melakukan apapun untuk menolong Russel karena ketika Vlad sudah memtuskan sesuatu, dia tidak akan mengubahnya.

“Mereka benar-benar tidak tahu apa-apa mengenai apa yang terjadi dengan Victoria Lynch. Penyihir-penyihir disana bahkan tak terlihat sebagai kelompok penyihir yang sanggup melakukan sihir sekuat itu kepada seorang vampir. Jika memang ada yang bisa mematahkan sebuah sihir kutukan seperti yang kau ceritakan itu. Mereka juga mengatakan sesuatu tentang seorang penyihir murni bernama Akhtzan. Namun menurut kabar yang terdengar diantara kalangan penyihir, Akhtzan mungkin saja sudah mati karena dia sudah tak pernah terlihat lagi selama hampir sebelas tahun ini.”

Russel menyusun semua yang dikatakannya dengan hati-hati. Dia tahu satu kata yang salah saja mungkin bisa membuat nyawanya melayang. Dan berada di dekat Vlad yang sedang dipenuhi kemarahan yang sekuat ini, dia tahu dengan auranya saja dia akan berakhir dengan buruk jika dia tidak bisa membuat Vlad puas dengan jawabannya.

Vlad memandang tepat di kedua mata Russel. Dia memindai setiap makna dari pendaran mata Russel. Dia melemparkan tubuh Russel dengan mudah hingga menghantam dinding batu di belakangnya dengan keras ketika dia tidak menemukan sesuatu yang dicarinya, “Kau bodoh.” Desisnya marah, “Jika cuma informasi seperti ini yang kau dapat, maka lebih baik Reven yang melakukannya untukku. Kau benar-benar membuatku kecewa.”

Dengan susah payah Russel maju dengan merangkak, menyentuh kaki Vlad, “Aku mohon maafkan aku, Vlad. Aku sudah berusaha dengan menggunakan berbagai macam cara. Tapi mereka benar-benar tidak tahu. Aku mencoba menyamar, aku mencoba berbaur, akupun juga menggunakan kekerasan tapi tak ada satu katapun dari mereka yang berubah. Mereka benar-benar tidak tahu.”

Kedua bola mata Vlad yang merah menatap Russel dengan jijik, “Seorang Corbis bahkan mungkin bisa mendapatkan informasi seperti yang kau dapat hanya dalam waktu seminggu dan kau..” dia menendang tubuh Russel dengan keras, “..jangan pernah lagi menyebut dirimu sebagai bagian dari kelompok utama lagi.”

“Vlad..” Rosse memberanikan diri bersuara dan dia melangkah maju, menyentuh bahu Vlad dengan sangat lembut, “Mungkin apa yang dikatakan Russel memang benar. Mungkin para penyihir disana memang tidak tahu apa-apa tentang apa yang kau cari ini, mereka..”

“Mereka berbohong.” Sergah Vlad cepat, “Mereka tahu apa yang mungkin sedang ingin kulakukan dan mereka menutupi semuanya. Kutukan sialan itu harus dihapuskan atau aku tidak akan pernah bisa tenang!” bentakknya kasar.

Rosse mundur mendengar raungan kemarahan Vlad, dia menunduk dan memandang Russel dengan tatapan minta maaf. Russel hanya mengangguk lemah, dia beralih memandang Vlad dengan menyesal, “Aku sudah melakukannya sebaik yang aku bisa.”

Vlad tertawa, tawa yang sarkastik dan Russel semakin takut dengan apa yang akan terjadi padanya. Tidak. Dia belum siap jika memang Vlad akan membunuhnya. Dia belum bertemu dengan Lucia dan menjelaskan semuanya. Dia bergerak pelan dan mencoba untuk berdiri meski rasanya semua tulangnya sudah remuk. Vlad benar-benar mengerikan, dia hanya menendang Russel satu kali dan bagi Russel rasanya sudah seperti bertarung menghadapai sepuluh manusia serigala sendirian.

“Aku akan memperbaiki kesalahanku. Tolong beri aku kesempatan, Vlad.” Russel memohon dengan sangat. Mengabaikan harga dirinya dia maju dan berlutut di depan Vlad yang menatapnya dengan tanpa belas kasihan, “Aku mohon. Beri aku kesempatan, Vlad.”

Vlad menggeleng, “Kau tidak berguna.” Bisiknya, “Mereka berbohong tepat di depan hidungmu dan kau bahkan tak menyadarinya. Kau yang berkeras meminta tugas ini untuk dirimu sendiri dan kau sudah mengacaukan semuanya.” Dia melangkah mendekati Russel, berjongkok di depannya dan menjambak rambut Russel. Memaksa Russel menatap wajahnya yang penuh kemarahan yang mengerikan. Russel benar-benar tahu bahwa dia sudah selesai. Vlad benar-benar tidak mau menerima penjelasannya. Dia jelas tahu bahwa Vlad adalah sosok yang kejam, namun dia tidak pernah menyangka bahwa dia akan menerima perlakuan seperti ini dari Vlad setelah ratusan tahun dia ada dalam kelompok ini dan setia padanya.

 Sebentar lagi mungkin dia akan mati dan Lucia? Tidak, setidaknya dia harus bertemu dengan Lucia. Dia tidak bisa mati dengan begitu saja. Dia meneteskan airmatanya dengan putus asa, “A-aku mohon..ja-jangan bunuh aku. Berikan aku satu kesempatan lagi. Kumo-hon.” Ucapnya parau, memohon belas kasihan Vlad padanya.

“Kau masih berani membuat permohonan kepadaku? Kau benar-benar tidak berguna.” Vlad tertawa sinis dan dia beralih meyentuh dada kiri Russel. Tepat di atas jantungnya dan Russel menggeleng dengan putus asa. “A-aku mmohon.” Ejanya dalam ketakutan yang jelas.

Rosse memalingkan wajahnya tepat ketika Vlad menekankan tangannya dan menembus dada Russel. Meremas apa yang sebelumnya adalah jantung Russel. Dan suara terakhir yang dapat didengar Reven bukannya jeritan kesakitan atau umpatan Russel. Reven hanya  mendengar bagaimana nama Lucia disebut dengan terbata oleh Russel tepat ketika Vlad akhirnya menghancurkan jantung yang digenggamnya.

Vlad berdiri dengan tenang seolah yang baru saja dilakukannya adalah sesuatu yang biasa. Tangan kanannya masih berlumur darah dan tubuh Russel yang kaku meringkuk dengan mengenaskan di dekat kakinya. Lubang besar seukuran tangan Vlad terlihat jelas di dada kirinya yang dipenuhi darah.

Rosse menutup mulutnya dan dia menangis tanpa mengeluarkan suara. Russel sudah seperti putranya sendiri dan melihat bagaimana dia dibunuh dengan tanpa perasaan seperti itu oleh orang yang sangat dicintainya membuatnya benar-benar terpukul. Dia menjatuhkan tubuhnya ke atas kursi dan menatap tidak percaya pada Vlad yang membelakanginya. Reven berdiri dengan kaku masih di tempatnya semula. Dia benar-benar tidak tahu apa yang sebenarnya sedang terjadi disini. Dia tidak mengerti kenapa Vlad bisa semarah itu hanya karena Russel gagal mendapatkan informasi yang baginya mungkin memang sangat penting. Tapi tetap saja? Membunuh Russel? Tidak. Dia sama sekali tidak mengerti.

Mata Vlad menatap dingin ke arah tubuh Russel yang beberapa menit kemudian terbakar dalam sekejap dan meninggalkan abu hitam dan bekas yang membentuk tubuhnya di lantai ruangan ini. “Akhtzan..” sengalnya penuh kemarahan, “Kau menipuku.” Tangannya terkepal dengan keras dan dengan cepat dia berbalik menatap pada Rosse dan Reven. Jubahnya berkibar ketika dia berputar, membuat abu-abu Russel berterbangan seperti sesuatu yang tidak berguna.

“Rosse..” panggilnya dan Rosse hanya mengangkat wajahnya, terlihat jelas bekas airmata di wajahnya dan matanya masih berkaca-kaca, “Kau tidak seharusnya melakukan ini.” Isaknya dengan kecewa. Namun Vlad sama sekali tidak mendengarkan apa yang dikatakan oleh Rosse dan malah berkata dengan nada memerintah yang jelas, “Kau ikut bersamaku setelah ini. Kita harus membuat perhitungan dengan penyihir tua itu. Dan kau..” dia menunjuk Reven dengan jari tangan kanannya yang masih berlumur darah Russel, “Tinggallah di kastil ini selama aku pergi.”

Reven hanya mengangguk, memandang Vlad masih dengan tatapan tidak percaya.

“Jangan biarkan Sherena meninggalkan kastil ini. Jika dia memberontak dengan alasan apapun. Kurung dia.”

Mata Reven melebar mendengar perintah Vlad. Dia baru saja akan mengeluarkan suara untuk memprotes ketika Vlad sudah berkata lagi dengan nada suara yang sangat tegas, “Jangan biarkan dia berdekatan dengan siapapun kecuali kau dan Damis. Jangan izinkan dia berbicara dengan vampir lain atau bahkan makhluk lain. Jika ada yang memprotes, bunuh saja mereka!”

“Tapi-“

“Aku tidak menginginkan bantahan, Reven!” desisnya mengancam dan Reven mengurungkan niatnya untuk bicara, “Kau sudah mendapatkan kepercayaanku lebih daripada siapapun dan kuharap kau tidak mengecewakanku atau aku akan sangat kehilangan dirimu nantinya.” Matanya bersorot misterius dan Reven mengerti apa arti perkataan Vlad. Jika dia  membantah, dia bisa saja berakhir seperti Russel.

“Dan terus dekati Sherena sampai dia benar-benar bisa menyerahkan hatinya kepadamu. Damis jelas bukan saingan yang sepadan untukmu bukan, Rev?”

Reven mengangguk kaku, “Ya.”

Vlad tersenyum, “Aku tahu aku bisa mengandalkanmu.” Dan dengan begitu dia beralih memandang Rosse, “Kita pergi sekarang.” Perintahnya tegas dan Rosse hanya mampu berdiri, mengangguk pelan dan tidak mengatakan apapun. Tanpa menunggu lagi Vlad melangkah dengan tergesa keluar dari ruangan diikuti dengan Rosse yang pergi dengan wajah kosong. Mereka pergi begitu saja meninggalkan Reven sendirian dengan berbagai macam pikiran yang berkecamuk di benaknya.

Dia melangkahkan kakinya dengan berat ke arah sisa-sisa abu Russel dan berjongkok di depannya, “Russel..” panggilnya dengan suara serak. Dia menyentuh abu Russel, menggengam beberapa yang masih bisa digenggamnya. Dia menatap abu hitam yang mengotori tangannya dan dia mengepalkan tangannya dengan keras hingga buku-buku jarinya memutih.

“Maaf..”

***

Jantungku berdetak dengan cepat dan menyakitkan tanpa aku tahu kenapa. Aku berhenti tepat di depan pintu keluar utama kastil dan berpegangan dengan kuat pada pintu tersebut. Aku tidak tahu kenapa tapi aku merasa ada sesuatu yang salah. Tapi apa?

Aku menoleh lagi ke belakang dan melihat tangga di kejauhan. Russel? Entah kenapa aku memikirkannya. Aku menggeleng, mungkin hanya kekhawatiran yang terlalu berlebihan. Aku menenangkan diriku sendiri. Memangnya apa yang bisa terjadi pada Russel di kastil yang sudah seperti rumahnya sendiri ini? Aku mengangguk dan merasa sedikit tenang.

Dengan kecepatan manusia normal aku kembali berjalan. Aku mencium aroma Damis dan aku mengikutinya sejak aku berada di aula utama tadi. Aku butuh keceriaan Damis agar aku berhenti merasa khawatir tentang Russel dan berhenti merasa kesal pada Reven. Kurasa aku bisa mengandalkan Damis untuk hal ini. Dia selalu bisa membuatku tertawa dan merasa nyaman ketika aku sedang merasa tidak baik-baik saja. Aku mengangguk senang dan berjalan mengikuti aroma Damis. Kenapa dia ada di luar kastil?

Langkahku terhenti berberapa meter dari tempat dimana aku bisa melihat Damis duduk di atas pembatas koridor luar kastil. Dia memandang ke kegelapan di kejauhan dan aku memicingkan mataku mencari fokus ketika aku menyadari bahwa dia tidak sendirian.

“Lyra..” aku menyebut nama seseorang yang sedang duduk di samping Damis dengan sangat pelan. Aku mundur dan merepet pada dinding batu kastil yang dingin. Mendengarkan percakapan mereka dari jarak yang lumayan jauh ini. Aku sadar aku menguping tapi aku tidak tahu kenapa aku tidak memilih pergi dan malah berdiri bersembunyi disini. Mungkin aku hanya penasaran. Mengabaikan sopan santun dan tata krama, aku menajamkan pendengaran dan penglihatanku.

“Ada apa?” suara Damis terdengar sangat jelas di telingaku.

Aku melihat Lyra menggeleng dengan lemah, “Tidak ada apa-apa. Aku hanya tidak tahu harus pergi kemana. Aku tidak tahan berada terlalu lama di rumah. Aku benar-benar kacau disana. Bayangan Dev terlalu kuat dan aku tidak bisa hidup dengan baik jika seperti ini.”

Aku memejamkan mataku beberapa saat. Menyadari betapa sedihnya nada suara Lyra. Ini mungkin sudah beberapa waktu sejak kematian Dev dan kesedihan itu masih begitu jelas disana. Aku ingat bagaimana frustasinya Lyra ketika itu, bagaimana dia berteriak pada Lucia, Damis, Rosse dan juga padaku. Bagaimana dia menangisi kematian Dev. Sebelumnya aku sama sekali tidak tahu sekuat apa jalinan diantara Dev dan Lyra, namun ketika melihat semua itu, aku tahu.. sesering apapun mereka bertengkar, berkelahi, memukul satu sama lain. Mereka adalah saudara, meski tanpa ikatan darah.

“Kau bisa berada disini selama yang kau mau, jika tempat ini bisa membuatmu nyaman. Aku akan dengan senang menerimamu disini.” Damis menyentuh lengan Lyra dengan lembut, Lyra hanya menoleh, tidak mengatakan apa-apa dan tersenyum.

“Seperti itu lebih baik. Menangis dan terus murung hanya akan membuat wajah cantikmu terlihat jelek.”

Lyra tertawa ringan dan memukul lengan Damis pelan, “Kau menyebalkan.” Semburnya manja. Aku menutup mulutku dengan tanganku, menyadari sesuatu yang sebelumnya sama sekali tidak terpikir olehku. Mungkinkah mereka berdua? Aku menggeleng. Tidak. Tidak mungkin. Aku kembali memandangi mereka dalam diam yang menyebalkan.

“Kudengar Sherena sudah menjadi vampir sepenuhnya ya? Bagaimana dia?”

Damis mengangguk, “Ya, seperti yang kau dengar. Dia sudah seperti kita sepenuhnya, hanya saja mungkin masih sedikit perlu beradaptasi dengan semua keadaan ini. Namun yang kutahu, sejauh ini dia baik-baik saja.”

“Begitukha? Lalu tentang keputusan itu, apakah dia sudah menentukan, antara kau dan Reven?”

Aku mendengus kesal, awalnya kupikir Lyra mulai sudah banyak berubah dan bisa bersikap peduli padaku. Tapi pada akhirnya dia akan selalu menanyakan topik ini. Kenapa dia begitu ingin tahu tentang siapa yang akan kupilih?

“Mungkin saja dia akan memilih Reven.”

Aku mengerutkan keningku ketika mendengar jawaban Damis. Bagaimana bisa dia berpikir bahwa aku akan memilih Reven? Dari sisi mana dia mendapat kesimpulan seperti ini, aku bahkan tidak terlihat menyukai Reven.

“Reven sudah memutuskan akan serius mengejar Rena. Aku tidak tahu kenapa dia mengubah pikirannya secepat itu. Tapi aku tidak akan membiarkan Rena jatuh ke pelukannya jika alasan yang digunakannya untuk melakukan ini adalah sesuatu yang akan melukai Rena.”

“Jadi apa yang membuat Reven berubah pikiran?”

Damis mengangkat bahunya, “Aku tidak tahu. Tapi aku benar-benar merasa bahwa dia sama sekali belum bisa menghapus tentang Noura dari otak maupun hatinya.”

“Aku juga sepakat tentang hal ini. Reven terlalu memuja Noura dan dia tidak akan semudah itu masuk dalam pertarungan ini jika dia tidak punya alasan yang kuat. Namun berusahalah, jika kau memang menginginkan posisi itu, kau pasti bisa mendapatkannya. Aku tahu kau dan Sherena sudah menjalin hubungan yang cukup baik jika dibandingkan dengan Reven.”

Damis tersenyum, “Ya, aku mungkin punya kelebihan yang satu itu. Tapi..entah kenapa aku merasa bahwa ini bukan lagi berada dalam kontrolku. Maksudku.. aku..” Damis berhenti. Mengalihkan pandangannnya ke kegelapan yang ada di depannya, wajahnya menyimpan sesuatu dan Lyra tidak bertanya lagi. Jika Damis memang tidak ingin bercerita, maka dia tidak akan bertanya lebih lanjut lagi.

“Aku hanya ingin melakukan apa yang memang benar-benar ingin kulakukan.”

“Eh?” Lyra menoleh dan wajah Damis tepat ada di depannya, “Ada apa?” tanyanya tanpa memalingkan wajahnya. Sekarang dia bahkan bisa merasakan nafas Damis di wajahnya.

“Aku berharap bisa bersamamu lagi.”

Deg

Aku terjatuh ke bawah lantai ketika aku merasakan itu. Tanganku sempat mengapai obor yang menempel di dinding batu tak jauh dariku, membuat benda itu terjatuh ke bawah dan menimbulkan suara yang membuat Damis dan Lyra menoleh ke arahku.

“Rena.” Damis berteriak terkejut dan begitu menyadari raut kesakitan di wajahku, dia melompat dan berlari kepadaku. Menjauhkan obor yang juga ada di dekatku, dia merangkul tubuhku dan menyandarkan setengah tubuhku di dadanya, “Rena, ada apa? Kau baik-baik saja??”
Mataku panas dan aku mendadak menangis tanpa kutahu kenapa. Damis menatapku lurus-lurus, tubuhnya membeku. Dengan begitu perlahan dia menyentuh dadanya, “Russel?” lirihnya.
Aku mengangguk dan menangis semakin keras. Damis meraup tubuhku yang bergetar dan memelukku kuat-kuat tanpa mengatakan apapun lagi. Di belakangnya Lyra menatap kami dengan tatapan tak mengerti. Aku menyandarkan kepalaku di dada Damis, membiarkan airmataku membasahi dadanya yang bidang. Damis begitu hangat dan aku merasakan ketenangan yang menyejukkan berada di pelukannya. Damis tidak mengatakan apapun tapi aku tahu dia bersedih. Hanya melalui pelukannya, aku bisa memahami bagaimana dia sama sekali tidak bisa percaya bahwa ini terjadi pada Russel. Russel yang baik, Russel yang begitu mencintai Lucia.
“Padahal aku baru bertemu dengannya beberapa saat lalu.” Isakku di dadanya. Tubuh Damis mengejang dan dia menarik pelukannya, meremas kedua bahuku dan menatapku dengan tatapan terkejut, “Russel? Disini?”
Aku mengangguk. Apakah Damis tidak tahu bahwa Russel sudah pulang.
“Aku kira.. dia..”
Aku menggeleng, “Dia sudah kembali beberapa waktu lalu. Dia mengatakan padaku bahwa dia harus segera bertemu dengan Vlad untuk melaporkan apa yang dia dapat selama menjalankan tugas. Dia..”
“Vlad??” Damis memotong penjelasanku dengan mata membelalak. Dia menggeleng berulang kali sebelum mendadak dia bangkit dan berlari secepat kilat masuk ke dalam kastil. Mengabaikan aku dan Lyra yang memanggilnya.
“Kita harus mengejarnya.” Lyra membantuku berdiri dan aku mengangguk menyetujui sarannya. Aku dan Lyra berlari secepat yang bisa kami lakukan. Damis berlari seperti kesetanan dan aku tahu jelas kemana tujuannya. Ruang pribadi Vlad.
Aku dan Lyra berhenti mendadak tepat di belakang Damis yang sudah membuka pintu ruangan pribadi Vlad dengan kasar. Dari balik punggung Damis, aku bisa melihat Reven yang sedang berjongkok di depan bayangan gelap sesuatu yang- Aku menutup mulutku menyadari apa itu. Abu hitam yang membentuk tubuh manusia, tubuh Russel.
“Ba-bagaimana bisa??” suara Damis bergetar ketika dia mengatakan hal itu. Reven mengangkat kepalanya dan memandang Damis. Untuk pertama kalinya aku melihat ekspresi di wajah reven, dan itu adalah kesedihan. Meski tidak tegas, aku tahu sorot mata Reven berpendar kelam. Dia menggeleng pelan. Damis berlari dengan marah, menerjangnya dan melayang satu pukulan telak yang sama sekali tidak dihindarinya. Dia terjungkal jauh, dan ketika dengan perlahan dia kembali berdiri, aku bisa melihat dengan jelas darah menetes dari sudut bibirnya.
“Bagaimana bisa ini terjadi di kastil ini??” Damis berteriak marah. Reven sama sekali tidak terlihat akan mengatakan sesuatu. Dia bahkan juga tidak menatap kami dan hanya memandang ke abu hitam milik Russel. Damis maju selangkah mendekat kepada Reven. Apakah dia akan memukul Reven lagi? Tapi untuk apa?
Aku baru saja akan maju selangkah untuk menghalangi Damis melakukan sesuatu kepada Reven hanya karena emosi sesaatnya, ketika aku melihat Lyra berlari ke arah Damis. Dia menyentuh lengan Damis dengan lembut, “Tenanglah.” Bisiknya.
Damis menoleh, satu gelengan kepalanya terlihat begitu berat dan aku melihat matanya berwarna merah pekat dan mengerikan. Untuk pertama kalinya aku melihat Damis dalam kondisi seperti ini.
“Ba-bagaimana bisa, Lyra??” suaranya kembali bergetar, “Bagaimana bisa aku tenang ketika aku tahu saudaraku mati di tempat yang sudah seperti rumah sendiri baginya? Dan siapa? Menurutmu siapa yang bisa membunuhnya? Di tempat ini, di ruangan ini??”
Lyra mengangguk, “Aku tahu, Damis. Aku tahu..”
“VLAD!” Damis berteriak keras did epan Lyra yang sama sekali tidak terlihat takut. Lyra bahkan semakin erat mengenggam lengan Damis. Dia tidak mengatakan sesuatu lagi dan hanya memandang Damis. Beberapa detik kemudian, yang kutahu mereka berpelukan dan Damis menangis. Ya, dia menangis. Di pelukan Lyra dan dia menangis. Aku hanya menatap semua yang terjadi di depanku ini tanpa bisa berreaksi apapun. Reven pun sama, dia tetap diam dan hanya memandang ke arah abu itu.
“Aku tidak tahu kenapa Vlad melakukan ini.”
Aku, Damis dan Lyra menoleh ke asal suara. Menemukan Reven yang berbicara, buku-buku jari kedua tangannya mengepal keras dan dia terlihat marah. Matanya berwarna hitam kelam dan dia lebih menakutkan dari dia yang selama ini kutahu. Auranya begitu mengerikan dan aku mundur satu langkah tanpa kutahu kenapa.
“Aku tidak tahu kenapa Vlad membunuhnya. Dia hanya gagal dalam tugas yang dilakukannya dan Vlad membunuhnya. Dia membunuhnya.”
Damis memandang Reven dan seketika itu juga dia tahu bahwa Reven sama tidak tahunya seperti dirinya. Dia menjauh dari Lyra dan mendekat ke arah Reven, “Gagal dalam tugas?”
“Selama ini, tidak hanya Russel yang gagal melakukan tugas yang dimintanya. Tapi dia Cuma membunuh Russel. Cuma Russel.”
“Tugas apa itu, Rev?”
“Entahlah, aku sama sekali tidak tahu tentang ini. Vlad tidak mengatakan apapun. Dia hanya terlihat begitu murka dan tidak bisa memaafkan Russel. Dia membunuh Russel begitu saja tanpa mau memberinya kesempatan.”
“Dimana Vlad? Dimana Rosse??”
Reven menggeleng, “Sesuatu yang buruk sedang terjadi, Damis.”
Meski aku sama sekali tidak tahu apa yang sedang mereka bicarakan. Aku bisa merasakan seburuk apa sesuatu yang tengah mereka diskusikan. Karena hanya mendengar bagaimana cara Reven mengatakannya saja, aku bisa percaya. Sesuatu yang sangat buruk benar-benar sedang terjadi. Meskipun entah itu apa.
***
“Apakah kita benar-benar akan menemui penyihir tua itu?” Rosse menyentuh bahu Vlad yang terlihat kaku. Vlad sama sekali tidak menoleh dan hanya memandang lurus-lurus ke arah hutan di bawah kaki bukit dimana sekarang mereka tengah berdiri dengan tegak.
“Apakah menurutmu Victoria benar-benar sudah dibangunkan?” Rosse menunggu dan Vlad sama sekali tidak mengatakan sepatah katapun. Dia hanya berdiri diam seolah dia adalah batu. Rosse menghela nafas panjang. Dengan lelah dilangkahkannya kakinya maju beberapa langkah, “Aku mulai lelah dengan ini semua, Vlad. Tidakkah menurutmu ini sudah terlalu jauh. Kau membunuh banyak orang yang tidak seharusnya kau bunuh. Russel-“
“Diam, Rosse.”
Rosse menoleh cepat hanya untuk menemukan mata merah Vlad menatapnya, “Aku tidak membutuhkan seseorang yang tidak berguna bagiku.”
Mata Rosse menatap Vlad dengan sendu, “Jika nanti aku sudah tidak berguna bagimu, apakah kau juga akan membunuhku?”
Tatapan tajam Vlad menusuknya, namun lebih dari itu dia menunggu jawaban dari Vlad melebihi segalanya. Dia tahu dia sudah terlalu berani dengan menanyakan hal itu. Namun jika tidak mengatakannya, dia hanya akan dihantui perasaan tidak tenang sepanjang hidupnya. Dia sudah menyerahkan dirinya sepenuhnya kepada Vlad dan mencintai Vlad melebihi segalanya.
“Aku selalu membutuhkanmu berada di sampingku.”
Datar. Meski diucapkan dengan tanpa perasaan sedikitpun, hati Rosse seperti mau meledak karena bahagia. Dia berlari menerjang Vlad dan memeluk Vlad dengan sangat erat. “Aku mencintaimu, Vlad. Aku mencintaimu. Meskipun aku kehilangan semua orang yang kusayangi, dan hanya memilikimu. Aku mau. Aku akan melakukan segalanya asal aku bisa tetap bersamamu seperti ini.”
Sudut bibir Vlad tertarik ke atas, “Itulah yang kuharapkan.” Bisiknya.
***
Morgan merenggangkan bahunya yang terasa kaku. Seluruh tubuhnya terasa kaku karena dia terus berjalan tanpa henti seharian ini. Malam sudah larut ketika dia dan Ar memutuskan untuk bermalam di tepi hutan. Awalnya Ar berkeras menolak dan memaksa untuk meneruskan perjalanan. Namun Morgan lebih keras kepala lagi dan akhirnya Ar mau mengalah. Morgan melirik Ar yang duduk beberapa meter darinya dengan tampang marah.
“Jangan bertampang seperti itu. Kau bahkan akan menakuti semua hantu hutan yang mungkin ada disini.”
Ar menoleh sekilas dan kembali mebgabaikan Morgan. Dia melemparkan beberapa batang kayu kecil ke arah api ungun di depan mereka. Morgan hanya menggeleng kecil melihat tingkah Ar. Dia sama sekali tidak percaya bahwa ini adalah sisi lain dari seorang Arshel yang selalu dikisahkan Noura sebagai laki-laki yang demikian luar biasa.
“Menurutmu, apakah Victoria akan menepati janjinya?”
Morgan kembali menatap Ar dan dia terpaksa mengeleng, “Aku tidak tahu pasti. Namun aku berharap dia akan menepati janjinya.”
Ar mendengus, “Kau melakukan sesuatu tanpa memperhitungkan hasil yang kau dapat.”
Morgan tertawa, mengangguk setuju, “Memang seperti itulah aku. Ketika dulu aku memilih mempercayai seorang vampir perempuan untuk tinggal berbaur bersama kaumku dan membiarkan dia menyelidiki apa yang dia ingin ketahui, aku sama sekali tidak berpikir panjang dan yah, aku hanya ingin percaya. Sesederhana itu saja.”
“Aku tidak tahu harus mengatakan apa. Apa yang kau mau dengar, pujian atau celaan?”
Tawa Morgan semakin keras dan dia menatap Ar dengan jenaka, “Aku sering menerima keduanya. Jadi tidak masalah bagiku, pujian atau celaan.”
Ar menggeleng tidak percaya, dia benar-benar merasa bahwa Morgan memang bukan orang jahat. Namun bukan itu yang dia khawatirkan sekarang. Setelah Morgan menjelaskan banyak hal ketika mereka berjalan, dia tahu bahwa Rena dalam bahaya sekarang. Jika perkiraan Noura tepat, mereka benar-benar harus bertindak dengan cepat atau segalanya akan berakhir sama, seperti Noura.
Dia memejamkan matanya dengan lelah begitu punggungnya bersandar ke batang pohon di belakangnya. Rasanya baru beberapa detik ketika dia mendengar suara auman serigala. Dia membuka matanya dengan cepat dan Morgan bahkan sudah berdiri tegap di tempatnya. Tak lama kemudian sesosok serigala putih melompat ke arah mereka dan terjatuh tak jauh dari api unggun. Serigala itu langsung berubah wujud menjadi manusia dan Ar bisa melihat dengan jelas bagaimana kacaunya penampilan pemuda yang sekarang terbaring tengkurang dengan beberapa bercak darah memenuhi tubuhnya.
“Rupert!!” Morgan berlari menolong Rupert yang terbaring kehilangan tenaga. Begitu dia membalik tubuhnya, Ar bisa melihat bahawa pemuda ini terluka parah sekali.
“M-mereka.. m-m..”
Morgan demikin pucat menyadari bahwa apa yang dilihatnya sekarang benar-benar petanda buruk. Rupert tidak seharusnya berada disini dalam kondisi seperti ini. Dia seharusnya ada di hutan tempat Akhtzan tinggal dan menjaga ayah Arshel tersebut bersama anggota kelompoknya yang lain. Meskipun awalnya banyak yang menentang keputusannya, semua anggota kelompoknya akhirnya menyetujui apa yang diinginkan Morgan dan melakukan semua sesuai dengan apa yang dikatakan Morgan. Lalu sekarang? Bagaimana bisa?
“Tidak. Jangan banyak bicara. Kami akan mengobatimu dulu dan kau tidak perlu terburu-buru.” Morgan bicara dengan panik ketika akhirnya dia tahu bahwa Rupert tidak akan bisa diselamatkan. Dia tahu bahwa apa yang dia katakan sesungguhnya hanya untuk menenangkan dirinya sendiri.
Rupert menggeleng dengan lemah, “M-mereka da-tang. P-penyi-hir itu.” Nafasnya terputus-putus dan sia mengunakan semua kekuatannya yang tersisa untuk bicara, “M-mereka m-membu-nuh s-sem-mu-a.”
“Apa maksudmu? Paman Gabriel?? Danial??”
Rupert kembali menggeleng dan airmatanya menetes dari sudut matanya.
Ar yang sama sekali tidak tahu apa yang sedang terjadi hanya berdiri dengan bingung dan mengamati bagaimana terpukulnya Morgan.
“V-vlad..” mulut Rupert terbuka, seakan-akan ingin mengatakan lebih banyak lagi namun tepat saat itu juga dia kehilangan nafasnya yang terakhir. Mata Morgan menatap tubuh temannya yang terbaring tak bernyawa di pelukannya. Matanya basah, dia menatap tajam ke arah Rupert. “Tidak.” Bisiknya nanar.
“TIDAK!!” raungnya mengerikan.
“Morgan.” Teriak Ar menenangkan, “Kuasai dirimu.” Katanya.
Morgan beralih menatap Ar. Sama sekali tidak kuasa untuk menjelaskan apa yang sesungguhnya sedang terjadi. Seandainya dia tahu bahwa ini bukan hanya menyangkut anggota kelompoknya tapi juga ayahnya. Morgan masih menatap Ar. Tidak dia tidak boleh lemah. Semuanya baru dimulai, dia tahu resiko yang dia hadapi ini. Dia sudah tahu dari awal.
Dengan pelan, dia meletakkan mayat Rupert di atas tanah, “Naik ke punggungku ketika kuminta kau melakukannya.” Perintahnya. Ar sama sekali belum mengatakan apapun dan Morgan sudah bertransformasi menjadi sesosok serigala besar. Dia menaikkan moncongnya ke langit dan mengaum dengan keras beberapa kali. Usai melakukan itu, dia memutar kepalanya dan memandang Ar dengan matanya yang hitam tajam. Serigala besar itu mengangguk dan Ar paham, sekali lompat dia sudah ada di punggung Morgan yang langsung melesat cepat meninggalkan mayat Rupert. Dia sudah memberikan tanda dan akan ada yang datang untuk mengurus mayat Rupert.
Sementara itu dia harus cepat. Kembali ke hutan tempat Akhtzan berada. Meskipun sangat kecil, jika masih ada kemungkinan dia bisa menyelamatkan Akhtzan, dia harus melakukannya. Dan Rupert mengatakan tentang Vlad. Rupanya dia sudah bertindak. Morgan hanya tidak menyangka bahwa Vlad akan sadar secepat ini. Dia sama sekali tidak memiliki rencana cadangan.

Dia berlari semakin cepat. Semoga segalanya belum terlambat.

<< Sebelumnya
Selanjutnya >>

Mau Baca Lainnya?

95 Comments

  1. G sabar menanti besok

    Kembali kehilangan satu tokoh(⌣́_⌣̀)
    Reven kamu ya
    Ternyata?????!!!

    Kasian rena terjebak disana

  2. Huahhhh penasaran2… authornya curang nih hahah bikin readernya gemes aja *cubit nih* wkwkw chapter lengkapnya tambah panjang yh? Awas aja kalo engga *tatapan kejam vlad* muehehe

    Omg russel? Vlad sumpah jahat banget ga demen banget sama Vlad, boleh dimatiin aja ga dia thor? Pantesan anaknya kyk sireven bapaknya kayak bgtu-__-
    Hahhh… ga tau dh ini akhirannya begimana, ga bisa ketebak.. cuma berharap aja authornya baik hati dan happy ending yah.. kalo bisa Damis ama Lyra dh kasia liat Damis-Lyra *saran thor* 🙂
    trus terserah dh Rena ama siapa, kalo ga ama Reven jg gapapa-__- Reven ngeselinnya blm ilang2 deh thor, bukannya nolongin Russel gt ..

    Ditunggu lanjutannya thor :))

  3. Astajim…. Russel matiiiiiii!!!! Demi apaaa!!!vlad tega bgtt….. Kayaknya dia "memang" ada hubungan dibalik masalah ini…..oh yaampun kasian rhena;( damis masih suka lyra, yah cinta emang gak bisa dipaksain sih *ehh . Btw thor chptr ini panjangin dikit yaaa^^ hehehe semangat ngelanjutin yaa thor^^

  4. Tegaanyaa aku.. 😛

    Russel mati dan Rena merasakannya..
    Well, Russelkan anggota kelompok utama dimana disana juga ada Damis, Reven dan Rosse. Kita lihat aja gimana reaksi atau respon yang lain begitu petanda kematian Russel akhirnya muncul 🙂

  5. Hahahha.. iya dong, inikan TEASER. Jadi cuma buat ngegoda-goda biar penasaran. Muahahahahha *evil laugh*

    Iyah, Vlad ini jahat dan apakah emang nular ke Reven?? OMG, semoga engga. Aku sayang Reven soalnya. *eh

    Yap, semoga happy ending.. semoga semoga semogaa…

    Damis dan Lyra?? Tapi tapi.. Damiskan punya kewajiban buat tetep berada dalam lingkaran Damis-Rena-Reven. Dia ga boleh nyerah dengan perasaan pribadinya.

    Siapp.. Semangat nunggu full chapter ya 😀

  6. Demi…kianlah. 😛
    Yup, Vlad punya peran penting kok dalam HV meskipun dia jarang ngeksis di setiap partnya.
    Yahh cinta meang ga bisa dipaksa. I see.

    Yup, akan ada full chapternya nanti ya.

    Semangaatttt 🙂 🙂

  7. AAAAAAAAA DIGANTUNG LAGI KAAAK!!
    Russel tragis sekali akhir hidupmu 🙁 penasaran gimana reaksinya lucia

    Iiiih ternyata reven ga tulus deketin rena:"( mudah mudahan aja reven kemakan omongan

    Buruuu ka lanjut!!!!!!!!!!

  8. wah kk vlad jahat bgt, sih sama russel kan dia udah setia sama vlad selama bertahun-tahun,
    dan untk ar & morgan bagaimna cara kalian agar bertemu dgn rena??? sedangkn rena tdk di perbolehkan menemui siapapun kecuali reven dan damis oleh dav ??
    untuk akhzan sepertinya ia dalam bahaya ?? semga tidak terjadi apa2 dgn akhzan , amin hee
    untuk rose, kmu seprtya terlalu mencintai vlad, tetapi ku mrasa vlad tdk mencintai rose karena vlad memprlakukan rose tidak seperti raja yang memperlakukan ratunya dengan sangat lembut dan baik,
    untuk vlad, kenapa kmu jahat sekali, apakah karena victoria kamu murka dan berniat untuk mengurung rena, ???? tapi kenapa ? apa salah rena sehingga km jahat ma rena ??? kan yang membohongimu ayah rena bukan rena ???
    untuk reven , wah rev knp km juga ikutan vlad sih kan kasihan rena ??
    untuk damis & leyra , wah aku penasaran kelanjutan kalian , karena tanpa di segaja rena menguping pembicaraan kalian ?? tapi mengapa kalian tidak menyadari bahwa di sekitar kalian ada rena bukankah vampire itu pinciumannya sangat tajam ????

    kk makasih atas infonya di twitter yah , heee maaf aku jrg blz karena jrg buka twitter , heee

    di tunggu kelanjutannya yah 🙂 ,,
    kk hebat bgt bisa bikin para pembaca penasaran tingkat akut heee,,, good job kk 🙂

  9. Untukmu.. terima kasih sudah demikian menyukai HV. Membaca komentarmu benar-benar membuatku bahagia. Setidaknya aku tahu bahwa cerita yang kutulis bisa dirasakan oleh para pembaca, kamu misalnya.
    emosi yang ada di komen ini.. Astaga astaga.. aku speechless.

    *blushing berkaca-kaca* :')

    Semangat..
    Ini sudah ada full chapter Respon. Selamat membaca ya, Silvia. Semoga suka 😀

  10. Udahh diupload? Kok berasa kurang yh thor hehe pisss :p kurang panjang 😀

    Hufft bingung mau comment apalg trlalu banyak teka teki 🙁

    Tapi baguss bikin readers penasaran thor hahah tapi aku tetep keki ama Reven dh thor-_-

    Si Reven diapain kek gt thor, biar lebih greget hahah jagain Rena yah Rev, awas aja klo Rena kenpa2-__-

    Kalo ga happy end jg gapapa kok thor, aku menyerahkan semuanya ke author, pasti itu yg trbaik 😀 tapi karena aku suka cerita yg happy ending aku sellau brharapnya HV jg happy ending..

    Damis-Rena-Reven hadehh ini salah satu pasangan yg bikin pusing hahah biarkanlah hanya author yg tau mau dibawa kemana hub setiap tokohnya.. asikk ahahaha:p

    Selalu ditunggu lanjutan ceritanya thor 😀 semangatttt!!!

  11. semakin menegangkan….
    aaaaaaaa….
    npa mua org baik mati seeeh…..
    gag dev…russel…dan mnusia" srigala to…
    jhaaaaat bgeeet si vlad…
    pi lebih jhat gee authorx…
    coalx kan authorx yg bkin cerita ne…
    hehehehe

  12. Bgtu bnyak yang pergi di part ini.. Part yg bikin hati ikut menangis, setelah part di bgian dev pergi :((
    HUWAAA!!!!
    MORGAN+ARSHEL, MREKA TIM YG HEBAT!!!
    Smpah gila Vlad kejem bngt dah.. ituuu.. aku ga bsa bayangin deh.. pas waktu dia ambil jantungnya Russel :(( BadEnding buat Russel.
    SEMNGAT TRUSS!!! BUAT KLNJUTANYYA…. 😀 CAYOOO!!!

  13. Rena sama siapa dong?
    Kalo Reven ternyata belum move on dan nggak tulus, Damish yang ternyata punya hubungan dengan Lyra.
    Udah sama Bang Morgan aja neng Rena.

  14. Tsk tsk tskk.. iya yahh. bingung juga yah ><
    Rena nunggu aja dehn sampe belahan jiwanya muncul, diakan uda jd vampire, idupnya lama. Hahahahha
    *ngasal*

  15. aaaaaahhhhhh . . . . Russel, kenapa harus ada tokoh yang dihilangkan lagi dari cerita ini . . .sedih tau kak . .ngenes banget sih . . baru muncul setelah menghilang sekian lama . . .
    aku kira bakalan ada yg nolongin . . ternyata malah berakhir dengan cara seperti itu . . .

    itu lagi si Vlad kenapa sih?, dia kelakuin itu. . .
    sebenernya apa yg sedang terjadi disini?

    hawanya sedang mencekam . . .banyak yg mati . .
    deg2an nunggu klimaksnya . . .
    kira2 bakal seperti apa yah . . .?

  16. waduh, vlad jahat bnget ini,
    jangan2 yg ngebunuh noura itu juga vlad,

    bete sama reven nih, niatnya nggak tulus
    rena tabahkan atimu, ambil hati reven
    semangat

    ditunggu kak, lanjutannya, kren abis cerita ini

  17. Jahat. Jahaaattt baanngeett..
    Tp yg lbh jahat ya Penulis'y 😛
    Lagi hayu, mbak.. Yg bnyak skalian. Udh gak sbar nahan rasa penasaran.
    #nisaadjah

  18. iyuhhhh…. Vladnya tega bgt,, kok Vladnya bisa sampe marah bgt sih???
    tiap chapter yg kamu bikin bener2 bikin deg2an trus penasaran bgt tau nggak,,, like this story,,, love bgt,,, hahhaha,,, di tunggu updatenya lagiii,,,,

  19. Iya kasihan Russel ya, jarang muncul, gitu muncul eh dibunuh sama Vlad. *muka sedih*

    Vlad emang kelakuannya kek gitu. Alami jahat kayaknya dia.
    Banyak hal yang sedang terjadi disini. Sebuah rangkaian peristiwa yang berawal dr masa lampau.. yang begiyu lampau 😛

    Kira2 bakal kayak gimana?? Tunggu kelanjutan HV yah 😀

  20. Aku juga berharap begitu. Ar tokoh yang baik. Dan seperti yg km tahu juga, Rena bahkan belum tahu kalau Ar memang kakak kandungnya.
    Yaj, semoga saja Ar berumur panjangg. 🙂

  21. Iyaaaahhh, setujuuuu pake banget. Vlad JAHAT!
    Jangan-jangan-jangan-jangannnnn… :X

    Ah iya, banyak yg bete sama Reven juga tapi tapi.. Aku tetep suka Reven. Hohohoho

    Semangat semangat..

  22. Jahattt jahattt penulis jahaatttt *lagi ngaca*
    Hahahaha

    Yg banyak sekalian?? Waduhh waduhh.. proyek menulis yang lainnya jadi luntang lantung gegara HV.
    -____-

  23. Huup hup..
    Sepakat, Vlad ini kejem bgt yah.
    Dia marah sampe segitunya pasti ada sebab khusus. Kita lihat saja apa sebenarnya alasan Vlad sampe segitunya.

    Aaakkk.. makasii makasiii

  24. Hahahah.. masih kurang banyakkk??
    *garukin tembok*

    Aku sebenernya ga niat bikin orang penasaran tapi.. tapi.. gimana yah..

    Ah jangan jangann.. ailopRepen.. jangan dijahatin. Kasian 😛

    Selamat menunggu kelanjutan kisah ini.
    Suka deh baca komenmu. 😀 😀

  25. Haha jangan garuk tembok thor, garuk si Reven aja biar sadar tuh orang wkwk kalo ga si Vlad *menakutkan*

    Tapi emang authornya jago sih bikin penasaran wkwk -__-

    Yahh susah kalo authornya cinta ama si Reven mah aku jg dulu cinta ama Reven tp sekrang pelan2 terkikis *asikkk haha

    Pasti, always waiting:D
    aku jg seneng dpt balasan dr kmu thor, ohh iya aku follow twitter mu thor, followback yaa ;;) makasih 😉

  26. Ketemu lagi kak >o<
    *hug*
    Maaf ya baru baca, banyak tugas u.u
    Aaaa… kenapa? kenapa russel harus mati? kalo mati sih mungkin bisa di terima, tapi kenapa di tangan VLAD? KENAPA? KENAPA?
    *jedotin kepala ke tembok*
    Dengan munculnya konflik baru jadi tambah penasaran :3
    Btw ceritanya kurang nih, minta tambah dong :p
    But, over all, good job kak 🙂
    Keep spirit yaa~
    *hug*

  27. Halooo Bryan.. *hug*

    Dimaafkan. Hahahah
    Kenapa Russel harus mati? Hum.. apa ya? Kenapa ya??
    I dunno *kabooor*

    Hahaha minta nambah terus, sabar yaahhh.
    Keep calm and Love Half Vampire
    😛

  28. Oai salam kenal kaka yg kece. 😀 Kapan kepastian lanjutannya nih ka ?. Setiap minggunya pasti update kan ?

    Russell.. (T,T) *nangis di pojokan*

    Semoga si Rena berakhir sama salah satu diantara Rev dn Damis.. Ya thor.. Kalo di buat jomblo jadi gantung dong.. *ga rela*#saran aja sih.

    Ar sama Morgan juga jangan di matiin.. Kasian Rena. Ibu, bpknya mati. Dev (T,T) juga. Authornya jahat niiihh… *peace hee

    Jadi disini tuh intinya yg jahat si VLAD deh. Cuma konpliknya baru ketauan sekarang. Ga bosen ka bacanya. Sumpah deh. Nemu crita ini di watty. Trus aku buka blognya aja. Sampean ngebut bacanya, mulai dari mlm dn bru slesai skarang. Amazing. Ini ga ada rencana buat di jadiin novel beneran Ka ?. Maksud aku di terbitin. Keren loh Ka..

    Intinya sih. Next chapnya jangan lma2… Setiap hari apa sih ka kalo updet ?

    Terimakasih

  29. Smpah penasaran bgt buat next chapternya…
    Vlad jhat bgt siiih..
    Trs Reven yg ternyata masih gk bsa move on..
    huaaa

    C.M

  30. Belum ngeh aku, Reven ni sebenarnya baik atau sama aja dengan Vlad,, Vlad sebenernya kenapa sih kok sadis amat,, huh,, author harus tanggung jawab nih udah bikin penasaran,, di tunggu selalu next chapternya yaaaa

  31. ok sipp kk hee,,,,

    aku mu baca lanjutannya ,
    & jgn lupa kasih tau aku lg yah kk ,,, kalo udah ada lanjutannya

  32. kk aku udah baca lanjutannya,, heee

    wah reaksi damis, benar-benar diluar dugaan tapi benar juga apa yng di katakan damis mengapa hanya russel yang di bunuh oleh vlad?
    jika memang vlad adalah kekasih masa lalunya viktoria ? mengapa viktoria membenci vlad ? lalu apa benar vlad tidak akan membunuh rose jika rose sudah tidak di butuhkan lagi ? aku masih ragu thor karena menurutku vlad masih sangat mencintai viktoria , dan aku masih penasaran jika nanti vlad dan viktoria bertemu apa yang akan di lakukan oleh rose ? dan untuk ar semoga saja ayahnya masih bisa di selamatkan dan aku ingin sekali akthzan , ar& rena dapat berkumpul karena yang aku tahu rena tidak mengetahui bahwa ayahnya masih hidup dan ia mempunyai seorang kk yang selalu ada di sampingnya ,,,,,heee
    untuk rena apa yang kamu rasakan setelah leyra mencoba untuk menenangkan damis, dan damis menangis dipelukan leyra ? apakah kamu akan merelaakan damis bersama leyra jika kamu nanti tahu bahwa leyra dan damis dulunya adalah sepasang kekasih ?? dan apakah kamu mau menerima revan ???
    untuk revan , sepertinya kamu marah kepada vlad lalu apa yang akan kamu lakukan ? dan apakah kamu akan mengikuti perinntah vlad ???
    untuk morgan , semoga kamu dan ar tidak terlambat untuk menyelamatkan akthzan dari amarah vlad ?

    untuk kk amoura aku suka banget ceritanya hee,,

    semangat yah kk buat bikin kelanjutannya hee di tunggu kk 🙂

  33. Huuuffff…ga nyangka Vlad benar2 bunuh Russel. Satu lagi yang pergi…huaaaa semoga Ayah Ar dan Rena bisa selamat…
    Untuk Reven please wake up…kau tahu apa yang di lakukan Vlad itu salah. Baru sekarang lihat sisi gelap Damis…Thor besok di upload ya next chapternya.
    I wait it with patient…semangat

  34. Ahhhh… ini Om Vlad minta di bunuh ini >.<
    ngeselin banget, jahatnya ngga ketulungan…
    Hoiii Om, Russel 'kan udah kaya anakmu sendiri masa di bunuh, kasar banget lagi ngebunuhnya, ngga bisa agak manisan dikit apa(?) di elus-elus dulu gitu Russelnya(?)

    Reven… mau sampai kapan? mau sampai kapan patah hati mulu? ngga capek apa? ckck…

    Part berdarah, semoga udah ngga ada yang pergi lagi kecuali Vlad *pelototin Om Vlad

    Terus menunggu updatean lanjutannya…
    Semangat, Kakak….
    Keep Writing!

  35. Holaaa, salam kenal jugaaaa 🙂
    Updatenya sih biasanya seminggu sekali untuk HV. Tapi buat dua minggu ke depan kayaknya masi belum pasti. Soalnya aku ada UTS di kampus.

    Semoga… Rena mendapatkan jodoh yang tepat. Kalo Damis ya monggo, kalo Reven.. *hadooh Reven sama aku aja yahh yah..*

    Membunuh Ar sama Morgan?? Duh mana tega.. mana tega.. akukan baik dan ga pernah bunuh tokoh-tokohku. *innoncent*

    Ho'oh, Vlad yang udah jelas jahat banget, meskipun jarang nongol di chapter-chapter sebelumnya, dia punya peran penting loh di cerita ini.

    Aaakkkk, nerbitin HV?????
    MAUUU MAUUU.. MAUUU BANGET..
    Tapi.. tapi.. nunggu tak edit dulu baru mau ngirim ke penerbit. Semoga aja diterima. Amin

    Kembali kasihhh 🙂

  36. Aku juga loh.. Reven ini memang ga bisa ditebak. Terlalu misterius. ><

    Vlad sih kayaknya meang alami dari sononya jahat deh. Makanya bisa ngga punya perasaan kek gitu.

    Whattttt??? Apa yang kulakukan apa yang kulakukan?? Kenapa aku harys bertanggung jawab??? *sok dramaa bgt*

    :)) Selamat menunggu chapter berikutnya

  37. Bagaimana? Bagaimana?? Kita tunggu saja next chapternya.
    Muahahahaha *evil laugh*

    Btw, Victoria kemanah yah?? Oh iya dia kan lagi berburu. Laper dia, udah ratusan tahun jadi tengkorak, gitu bangkit pasti butuh darah yg banyak.

    Selamat menanti next chapternya yahh

  38. Iyahh, Vlad kejam yahh. Sungguh sungguh kejam dia.
    Semoga Akhtzan dan Rena mempunya akhir yg baik di kisah ini.

    Reven.. lihat tuh.. banyak yang pengen km move on. Please, Noura udah lama pergi dan kamu.. masih gini-gini aja. Ckckckck.

    Hehehe, Damis ya? Aku juga baru tahu. Dia kan charming bgt biasanya.

    selamat menunggu chapter berikutnya yaaa.
    Semangatttt 😀

  39. Iyaahhhhh, sespaskat!!!
    Jahat bgt ini si Vlad. Russelkan udah kaya anaks endiri, eh main bunuh aja. Caranya tragis lagi. Kan kasian Russel yang baik 🙁 🙁

    Nah nah nahkan… banyak yg doain Reven move on. Ayok dong Reven, pleasee…. move on. Jangan stuck terus kayak gini. Capekkan mempertahankan perasaan sama seseorang yang jelas-jelas ga akan kembali lagi.

    Semangat semangatttt!!! 😀

  40. deg..deg…deg.. gitu tau kak suara jantungku pas baca part ini. aku udah nyangka kalo vlad jahat. tapi gak percaya kalo korbannya malah russel. reven ternyata kamprett, damis lebih ngefeel ke lyra, ayahnya rena mati, werewolf mati, vlad ngambek, arshel masih blank. terus gimana rena kak? kan kasian. ajak kerumahku aja tak jadiin kakak. mo sedih susah, mo marah sama siapa? masa sama author? kan impossible. mo nangis malu. jadi? bantu saya supaya perasaan saya jadi lega, gampang kok kak. ngupload part yang bagus ya 😀 kutunggu!!!!!!!!!!

    #SalamKangenFansHV

  41. Thooorrrr…. ayo dong semangat aplod nyaaa… jgn kelamaan yahhh ntar penasarannya bisa jadi jerawat nihhh….

  42. Ahh garuk-garuk Reven?? Mauuu banget banget bangett ><

    Aku bikin penasaran? Hehehe ngga tuh 😛

    Yah yah.. ga pa-apa, makin sedikit yg demen sama Reven, maka aku akan jadi satu-satunya yang jatuh cinta sama Reven. Huahahha. He's mine.

    Hihihi, menyenangkan membalas semua komen yang ada di HV. Oke siaaapp, aku folback ya. tapi usernamenya apa??

  43. Hahahah, jantungnya haloo.. jangan deg deg deg gitu. Kan kalo kenapa-napa aku yang sedih. 😛

    Iyah, sayang yah Russel jadi korban. Vlad bener-bener jahat. 🙁

    Wow wow wow, jangan dooong. Jangan marah ke aku. Hahahha
    Bantu dengan cara update new chapter?? Sabar ya, kelar uts tak penuhi rasa penasaranmu. 🙂

  44. Huaaa aku baru baca cc.

    Itu bapaknya si rena (lupa namanya) gimana kabarnya? Sehat sehat aja kan?
    Ah intinya penasaran sampe lupa apa yang mau ditanyain -__-"

    Tolong dijalanjut ya cc, ditunggu secepatnya *maksa*

  45. Like!! I blog quite often and I genuinely thank you for your information. The article has truly peaked my interest.

Leave a Reply

Your email address will not be published.