Half Vampire – Rowena Reeser

“Vlad..” Rosse menyentuh bahu laki-laki yang sudah hidup bersamanya selama lebih dari ribuan tahun itu. Wajahnya penuh kekhawatiran dan terlihat jelas tidak sabar. Vlad hanya memandang Rosse sekilas sebelum kembali menatap perapian yang apinya menjalar-jalar besar tak jauh di depannya.
“Bukankah sudah saatnya kau turut campur disini.” Suara Rosse setengah memaksa namun Vlad sama sekali tidak bereaksi. Wajahnya berbanding terbalik dengan wajah Rosse. Memucat seperti mayat, datar, mata merahnya menatap tajam tak berkedip.
“Kau tahu jika terus seperti ini, itu akan melukai Reven. Kau menyayangi diakan, Vlad?” tanya Rosse dengan nada lebih lembut, merayu. Rosse nyaris meneteskan air mata ketika Vlad tetap bungkam. Tidak mengiyakan permohonannya tidak pula menolaknya dan itu membuat Rosse semakin frustasi. Bahkan cahaya temaram di ruangan ini tak membuat wajah Rosse yang gusar, memudar.

Dengan putus asa, tubuhnya merosot, memeluk lutut Vlad, memohon. “Vlad, aku mohon. Maafkan apa yang telah dilakukan Noura, dan biarkan Reven hidup dengan nyaman dengan mengetahui semua fakta ini. Kau tidak bisa terus men-“
“Cukup. Bangkitlah, Rosse! Aku tidak mau melihatmu melakukan hal seperti ini.” Desis Vlad, dengan muka datar namun mata yang bersorot sangat tajam. Rosse tidak berani mengangkat wajahnya, dia tahu jika dia menatap mata Vlad, dia tidak akan berkutik. Mata itu mengintimidasi. Tegas dan tak terbantah.
“Aku memohon padamu, Vlad. Tolong.. Jika bukan demi Reven, lakukanlah demi aku. Tidakkah aku ini berarti untukmu. Ak- Arrrgh!!”
Rosse terjungkal ke belakang cukup jauh ketika Vlad bangkit dan melepaskan pelukan tangan Rosse dengan menyentakkan kakinya. Dia menatap Rosse dengan marah, rahangnya mengeras, “Tidak ada satupun yang lebih berarti daripada ini, bahkan kau sekalipun.” Bentaknya, melangkah pergi tanpa suara dengan sangat cepat. Kedua mata Rosse menatap sisa-sisa bayangan Vlad dengan nanar.
***
Aku menghela nafasku dengan kesal, ini sudah yang kelima kalinya aku menjelajahi rumah Morgan dan aku sama sekali tidak menemukan sesuatu yang terlihat penting dan mengandung informasi yang mugkin saja dibutuhkan oleh Reven. Semua sudah kuperiksa sampai ke atap dan sudut-sudut yang kelihatan tidak mungkin, namun aku tetap tidak menemukan sesuatu. Sejujurnya aku juga tidak tahu “sesuatu” yang aku cari itu apa. Aku hanya ingin mencari, memeriksa. Aku jadi ingat bahwa ada satu tempat yang tak bisa kuperiksa, satu kamar yang terkunci dengan rapat. Itu mungkin kamar Morgan dan aku penasaran setengah mati pada apa yang ada di dalam sana.
Kuhentakkan kakiku dengan kesal sambil menutup pintu rumah Morgan. Menatap ke luar, aku memeriksa keadaan di luar rumah. Sepi. Aku bahkan tidak melihat satu orang pun di jalanan yang ada di depan rumah Morgan, kemana semua orang di desa ini. Aku memicingkan matanya, mendengar suara dari samping rumah Morgan. Ada sesuatu atau seseorang yang mengintip dari sana.
“Hey!” panggilku sambil berlari ke arah samping rumah. Aku mendapari bocah sekitar umur sepuluh tahunan berlari menjauh dengan tergesa. Aku mengejarnya dengan cepat dan meraih satu lengannya.
“Lepaskan aku. Lepaskan aku!” bocah laki-laki itu menjerit-jerit sambil berusaha melepaskan lengannya dari peganganku. Dia kuat sekali. Aku meraih kedua lengannya, berjongkok sehingga aku menjadi sejajar dengannya, dan memaksanya menatap ke arahku, “Aku tidak akan melakukan sesuatu yang jahat kepadamu. Jadi tenang saja.”
“Tidak-tidak tidak mau.” Dia terus menjerit-jerit.
Astaga bocah ini berisik sekali, “CUKUP.” Bentakku membuat mulutnya yang kecil langsung terbungkam diam, menatapku takut-takut. Aku jadi merasa bersalah. Aku melepaskan pegangan tanganku pada kedua lengannya dan beralih mengenggam kedua telapak tangannya dengan lembut.
“Aku bukan orang jahat. Namaku Sherinn. Aku tinggal di rumah Morgan Freesel, kau kenal dia bukan?”
Meski ragu, kepala bocah itu mengangguk pelan. Mata kecilnya yang hitam menatapku.
“Nah, aku mengejarmu bukan karena aku berniat jahat padamu. Aku mengejarmu karena aku ingin tahu, apa yang kau lakukan di samping rumah Morgan? Dan kenapa kau memperhatikanmu seperti itu, apa kau sedang memata-mataiku?” aku menatap bocah yang sepertinya berumur tak lebih dari sebelas tahun ini dengan tajam, meneliti.
“Ti-tidak. Tidak. Aku hanya-“
“Alan!”
Kami berdua menoleh bersamaan. Seorang perempuan seusiaku dengan rambut berombak berwarna hitam gelap dan kulit berwarna sawo matang berdiri tak jauh dari tempat kami, bocah itu berlari ke arahnya, “Rowena.” Girangnya.
Aku bangkit, berputar memandang mereka berdua. Perempuan itu berjalan pelan ke arahku, sementara bocah yang dipanggil Alan itu berjalan takut di belakang perempuan itu. Memegang ujung baju perempuan itu kuat-kuat, seolah-olah jika dia lepas darinya, aku akan langsung menerkamnya. Apa aku semenakutkan itu? Meskipun aku tidak terlalu menyukai anak-anak, aku juga tidak akan sejahat itu.
“Maaf.” Kata perempuan itu, “Apa Alan menganggumu?”
Aku menggeleng, “Tidak. Dia hanya terlihat mencurigakan, dan aku ingin menanyainya kenapa dia melakukan itu.”
“Itu?”
“Mengendap-endap di samping rumah Morgan dan terlihat seperti memata-mataiku.” Paparku padanya. Dan mendadak dia tersenyum, memamerkan deretan giginya yang putih bersih. “Kau pasti Sherinn.” Ujarnya ramah.
Aku mengerutkan keningku, kurasa hanya Morgan yang tahu nama itu. Aku mengangguk dengan ragu dan mendadak gadis itu mengulurkan tangannya, “Aku Rowena Reeser, tunangan Morgan Feersel.”
Aku terlalu sibuk ternganga hingga tak menjabat tangannya, membiarkan tangan itu mengambang di udara selama beberapa saat sebelum aku menjabatnya dengan canggung. “Sherinn.” Suaraku terdengar gugup. Dan kurasa itu wajar. Bagaimana aku tidak gugup jika tunangan orang yang tinggal berdua denganku mendadak muncul dan memperkenalkan diri.
Rowena mengajakku berjalan dan duduk di kursi panjang di depan rumah Morgan. Alan menempel terus padanya seperti getah pohon. Dia duduk menjauh dariku, sementara Rowena terlihat tenang dengan wajah ramah yang tidak dibuat-buat.
“Aku sudah lama ingin mengenalmu sejak Morgan mengatakan dia menolong seseorang dari hutan dan membawanya tinggal di rumahnya. Sayang Morgan terus melarangku dan berkata keadaanmu masih kurang baik. Namun akhirnya aku malah bisa bertemu denganmu berkat Alan.”
Aku melirik bocah laki-laki itu, yang langsung menyembunyikan wajahnya di balik lengan Rowena begitu mendapati mataku meliriknya. Kurasa aku benar-benar sudah membuatnya sangat takut tadi. “Bocah itu, siapa?”
“Ah dia.” Rowena menggandeng lengan Alan dan memaksanya menatapku, “Tidak apa-apa, Alan. Sherinn orang baik.” Bisiknya, dan anehnya bocah itu langsung percaya. Meski masih terlihat takut, dia berani menatapku. “Bilang minta maaf pada Sherinn, Alan. Sudah berapa kali kubilang kau tidak boleh memata-matai rumah Morgan seperti itu.”
Mengabaikan ucapan maaf Alan yang terbata, aku mengalihkan pandanganku pada Rowena, “Memata-matai rumah Morgan?”
Rowena mengangguk, mengelus kepala Alan dengan sayang dan membiarkan bocah laki-laki itu kembali duduk di sampingnya dan merapat ke tubuhnya. “Alan sangat menyayangi Morgan. Setiap hari dia datang ke rumah Morgan, mengamati rumah ini secara sembunyi-sembunyi. Berharap bisa bermain dengan Morgan atau sekedar berbincang hangat dengannya. Namun Morgan sangat sibuk, dan sayangnya Alan tidak menghentikan kebiasaannya itu. Dia tetap datang di sekitar rumah Morgan meski aku sudah berulang kali melarangnya melakukan itu.”
Kedua alisku saling bertaut, “Kenapa dia bisa sesayang itu pada Morgan? Apa dia adiknya?”
“Bukan, Morgan anak semata wayang. Alan menyayangi Morgan karena Morganlah yang menyelamatkan nyawanya.” Melihat wajahku yang masih terlihat bingung, Rowena kembali menjelaskan, “Kasusnya seperti kau, Sherinn. Morgan menyelamatkannya ketika dia di hutan. Nyaris mati diterkam manusia serigala kelaparan, itu bukan malam bulan purnama. Jadi kurasa itu manusia serigala baru yang belum bisa menguasai proses transfigurasi pada tubuhnya. Dan kau tahu bukan, jenis yang seperti itu sangat liar?”
Aku mengangguk lagi dan Rowena melanjutkan, “Sejak saat itu kami semua merawat Alan. Kejadian itu sudah berlangsung lebih dari dua tahun yang lalu tapi sepertinya Alan masih trauma. Dia takut pada semua orang kecuali padaku dan pada Morgan. Seperti yang kuceritakan tadi, Morgan yang menyelamatkannya dan aku yang merawat Alan sejak saat itu.”
“Dimana orangtuanya?” tanyaku menatap prihatin pada Alan yang masih bersembunyi di balik lengan Rowena. Entah dia mengerti atau tidak percakapan kami, namun wajah ovalnya masih terlihat takut-takut. Tapi aku curiga itu karena aku. Aku jadi menyesal membentaknya tadi. Kurasa aku mulai harus sedikit menyukai anak-anak.
Rowena menatap ke arah Alan sekilas, terlihat sedih ketika berbicara, “Mereka tewas saat kejadian itu.”
“Maaf. Aku tidak bermaksud seperti itu.” Kataku cepat. Aku memandang Alan dengan kasihan. Dia masih kecil dan sudah dihadapkan pada kenyataan mengerikan seperti itu. Keningku berkerut, mendadak aku mengingat sesuatu dan itu membuatku tidak nyaman. Bukankah di desa ini banyak hidup manusia serigala yang berbaur dengan para manusia. Dan Morgan adalah salah satunya. Lalu bagaimana hal itu bisa terjadi, kurasa Morgan bukanlah pahlawannya. Itu sudah tanggung jawabnya. Dan bisa-bisanya dia membuat bocah ini menyayangi seperti itu, seharusnya dialah yang dipermasalahkan atas kematian bocah itu karena dia pangerannya.
“Apa itu sering terjadi di tempat ini?” tanyaku memandang mata Rowena.
Dia menggeleng, “Kejadian itu hanya sekali sepanjang ingatanku. Dan ketika itu mendadak desa menjadi terasa sangat mencekam. Morgan terlihat sangat marah ketika itu. Ah ya, dan satu kali lagi. Itu kau. Namun kudengar yang menyerangmu bukan manusia serigala tapi vampir?”
“Ya.” Jawabku.
Rowena menyingkirkan rambutnya yang jatuh di wajahnya, terlihat gusar. “Bagaimana bisa ada vampir di tempat ini? Desa ini dulunya sangat aman. Pantas Morgan terlihat lebih sibuk daripada biasanya akhir-akhir ini.”
Aku berusaha untuk tidak tergelitik menanyainya tentang aktivitas Morgan. Kurasa itu nanti saja, akan sangat terlihat betapa aku sangat ingin tahu tentang Morgan Feersel. Dan kurasa Rowena Reeser tidak akan sebodoh itu, apalagi Morgan adalah tunangannya.
“Sejak kapan kau mengenal Morgan?”
Rowena memandangku, tersenyum. “Sudah cukup lama. Sejak Morgan dan orang-orangnya meminta izin pada ayahku untuk tinggal di desa ini.”
“Ayahku bisa disebut tetua di desa ini.” Jelasnya membuatku mengangguk-angguk paham. Dan kupikir, jika Morgan dan laki-laki yang disebut Morgan, paman Gabriel, itu mengenal Noura. Kurasa Rowena juga tahu hal itu. Meskipun sejujurnya, tugasku bukan mencari tahu tentang Noura, aku akan mempertaruhkan penyusupanku disini jika itu bisa membuatku tahu lebih banyak tentang perempuan yang menyeretku dalam kehidupan seperti ini.
“Rowena, kau tahu sesuatu tentang Noura?”
Kurasa aku bertanya dengan suara pelan tapi efeknya cukup membuat Rowena terlunjak. Wajahnya terlihat marah dan aku jadi menebak-nebak apa sebabnya. Matanya menatapku tajam, “Darimana kau tahu tentang Noura?” suaranya menusuk, tidak lembut seperti tadi dan aku curiga dia membenci Noura.
“Aku mendengar Morgan membicarakannya dengan paman Gabriel.” Menurutku tidak baik jika aku berbohong tentang hal ini dan Rowena terlihat ragu menjawab pertanyaanku.
“Tidak baik mendengarkan percakapan orang lain, Sherinn.” Suaranya melembut.
“Aku tidak sengaja. Suara mereka keras sekali, kurasa mereka bertengkar dan-“
“Mereka bertengkar? Morgan dan paman Gabriel?”
Aku mengangguk, “Sepertinya mereka meributkanku. Paman Gabriel sepertinya tidak setuju aku tinggal di desa ini, khususnya di rumah Morgan dan ketika itu, mereka juga meributkan tentang seseorang yang bernama Noura itu. Aku minta maaf.” Kataku melihat ekspresi Rowena, “Aku tidak bermaksud membuat kedua orang itu bertengkar. Aku akan pergi jik-“
“Tidak, Sherinn.” Potong Rowena. Dia beralih pada Alan yang terlihat mengantuk, memposisikan Alan berbaring dengan berbantal pahanya. Dia mengusap lembut rambut Alan dan bocah itu memejamkan matanya. Ketika Alan sepertinya sudah nyaman, Rowena kembali menatapku, “Itu bukan salahmu. Bukan salahmu jika paman Gabriel tidak senang pada apa yang dilakukan Morgan. Dia hanya belajar dari apa yang sudah pernah terjadi dulu.”
“Apa ini berhubungan dengan seseorang bernama Noura itu?”
Rowena mengangguk, “Noura itu nama seorang perempuan yang dulu pernah tinggal beberapa saat di desa ini. Dia sangat cantik, begitu baik, semua orang menyukainya, kecuali aku. Entah kenapa aku merasa tidak nyaman dengan kehadirannya yang tiba-tiba di desa ini.”
“Siapa yang membawanya ke desa ini kalau begitu?” potongku sangat penasaran.
“Morgan.” Wajah Rowena ketika mengatakan itu jelas menunjukkan kekesalan yang tidak mau repot-repot disembunyikannya dariku. “Kuberitahu kau cerita tentang Noura, namun berjanjilah padaku untuk tidak mengatakan pada Morgan bahwa aku yang menceritakan ini padamu.” Dia memandangku lurus-lurus, dan aku tidak butuh waktu lama untuk mengangguk, balik memandangnya tanpa keraguan, “Aku janji.”
Senyum Rowena terkembang, “Ini janji sesama perempuan, Sherinn.” Katanya lagi sebelum dia melanjutkan ceritanya. Dan aku mengangguk lagi, tak sabar.
“Noura itu penuh dengan rahasia dan semua orang seakan-akan menutup mata pada kenyataan itu. Dia datang, bersama Morgan. Terlihat seperti malaikat yang terjatuh dari langit dan dipungut oleh Morgan.”
Aku nyaris tertawa mendengar pilihan kata yang digunakan Rowena, “dipungut” ? Astaga, kurasa Rowena benar-benar tidak menyukai Noura.
“Dia menolong semua orang. Ahli pengobatan, bahkan bibi Muriel saja bisa tertipu pada wajah malaikatnya itu. Dan Morgan lebih parah lagi, dia tergila-gila padanya. Tak ada yang percaya jika kukatakan dia itu jahat, sepertinya hanya aku yang menyadari kalau dia itu sebenarnya iblis.”
“Kau hanya cemburu.” Tebakku yang kontan membuat wajah Rowena memerah.
“Tidak.” Sanggahnya. “Atau ya, kuakui sedikit banyak seperti itu. Aku sudah menyukai Morgan sejak lama dan ketika itu kami hanya berteman. Tidak punya hubungan apa-apa, dan aku takut perempuan itu mengambil Morgan dariku.”
Persaingan cinta? Membosankan. Andai saja Rowena tahu bahwa Noura sudah memiliki Reven. Dia pasti tidak akan sesewot ini. Namun aku tidak berminat ikut campur dalam urusan asmara mereka dan memilih jadi pendengar yang baik dan bertanya jika ada hal yang memang membuatku tertarik.
“Lalu bagaimana? Kudengar paman Gabriel juga menyebut-sebut tentang vampir atau entahlah apa, mereka bicara banyak dan aku tidak dapat mengingat semuanya.”
Rowena menghela nafas panjang, “Haruskah kuceritakan semua padamu?”
“Jika kau tidak mau maka aku juga tidak akan memaksa.” Aku tersenyum.
Kali ini Rowena menggeleng, “Tidak. Aku pikir kau berhak tahu, Sherinn. Karena Nouralah paman Gabriel meminta Morgan mengusirmu dari sini. Setidaknya kau tidak akan salah sangka pada paman Gabriel.”
Aku tidak bisa menyembunyikan senyumku. Sejujurnya tadi aku takut jika Rowena memilih tidak menceritakan lebih lagi tentang Noura. Setidaknya aku butuh cerita dari sudut panadangnya sebelum aku mencoba lagi untuk bertanya pada Morgan. Aku butuh info tentang Noura sebanyak-banyaknya dan kuharap keingintahuanku pada Noura dapat berjalan sebaik kewajibanku mencari tahu tentang apa yang tengah dikerjakan oleh Morgan yang, yah.. merupakan tugasku.
“Kupikir aku menyebutnya iblis karena aku sangat membencinya, namun aku pun, sama seperti yang lainnya, sangat tidak menyangka bahwa Noura memang benar-benar iblis. Meskipun dia sangat cantik, berkulit seputih mutiara, bermata hijau yang indah, tidak ada yang mengira bahwa dia adalah vampir.”
“Vampir?” aku pura-pura terkejut.
Rowena mengangguk dengan antusias, “Jadi dari awal sebenarnya aku ini benar. Noura itu iblis, iblis penghisap darah. Memuakkan.”
Sejujurnya aku agak sebal Rowena bicara tentang Noura dengan seperti itu. Dia membenci Noura karena Morgan tergila-gila pada Noura. Dan apa salahnya kalau Noura itu vampir, dia tidak membunuhi semua orang desa. Dan bukannya tadi Rowena sendiri yang mengatakan kalau Noura itu baik. Menye- tunggu dulu. Tunggu. Sejak kapan aku membela Noura? Sejak kapan aku menganggap bahwa tidak apa-apa menjadi vampir? Sejak kapan aku-
“Sherinn..”
Aku menoleh dengan cepat, “Ya.”
“Ada apa? Kau terlihat bingung. Apa cerita tentang Noura ini membuatmu tidak paham?”
Aku mengangguk dan Rowena menepuk bahuku pelan, “Aku tahu, ceritanya memang sangat panjang dan lagi, sepertinya aku tidak terlalu pandai bercerita.”
Aku tertawa pelan, “Tidak seperti itu.” Tukasku. “Ah ada satu yang membuatku sedikit merasa jangkal. Disini sepertinya matahari bersinar sangat cerah, bukankah vampir takut pada sinar matahari, apa Noura-?”
Rowena menggeleng, “Tidak. Noura memang keluar ketika siang hari, namun dia selalu memakai jubah bertudung gelap sepanjang hari. Dia bilang dia punya penyakit. Dan sinar  matahari bisa membuat dia gatal-gatal parah.”
“Dan kalian percaya begitu saja?”
Dia mengangkat kedua bahunya, “Bagaimana lagi? Morgan ada di belakangnya. Kami tidak bisa apa-apa jika Morgan berkeras membela Noura.”
“Lalu bagaimana semua orang bisa tahu kalau Noura vampir?”
Rowena terlihat ragu mengatakannya dan aku sangat kecewa ketika dia berkata dengan suaranya yang lembut, “Maaf Sherinn, aku rasa aku tidak bisa menceritakan bagian itu padamu.”
“Ah, tidak apa-apa, Rowena.” Aku mencoba untuk terlihat tidak kecewa. Aku masih punya banyak waktu untuk mencari tahu dan kurasa aku harus berhenti membicarakan tentang Noura. Aku memandang Rowena yang sedang membelai rambut Alan yang terlihat sudah nyenyak tertidur, “Lalu kenapa kau tidak membenciku?”
“Apa?” Rowena menoleh, terlihat tidak mengerti.
“Kau tidak menyukai Noura karena Morgan bukan? Lalu, kenapa kau tidak membenciku? Sekarang aku tinggal hanya berdua dengan Morgan dan paman Gabriel mengatakan bahwa ada desas desus di desa ini bahwa Morgan Freesel menyukaiku.”
Anehnya, Rowena tertawa. Dia menggeleng-gelengkan kepalanya, lalu berakhir dengan menepuk pundakku dengan lembut. “Aku mempercayai Morgan, Sherinn. Apa kau pikir dia tidak menjelaskan semuanya padaku sebelumnya?” dia tersenyum lebar, “Morgan menceritakan semuanya padaku. Aku tunangannya.”
Ah ya, Rowena Reeser tunangan Morgan Feersel. Aku hampir melupakan bagian itu. Kupikir, selain bagian dimana dia terlalu tergila-gila pada Morgan, Rowena orang yang baik. Dan aku harus memanfaatkan kebaikannya dengan benar demi tugas yang diberikan Reven padaku.
“Lalu apa kau juga tidak takut kalau aku seperti Noura? Kalau aku mungkin saja vampir?” aku mencoba bertanya dengan hati-hati.
Rowena menatapku, lalu dia tertawa kecil dan menggeleng, “Awalnya mungkin iya, namun ketika kau sakit, terbaring tidak berdaya. Bibi Muriel memeriksa segalanya dan dia bilang kau manusia. Dan kami semua, orang-orang di desa ini, tidak ada yang meragukan kemampuan bibi Muriel. Dia ahli pengobatan di desa ini, dia jelas-jelas akan tahu dengan mudah jika ada yang berbeda di tubuhmu.“
 Jadi, secara fisik luar aku masih manusia? Lalu kapankah kiranya aku akan menjadi vampir sepenuhnya. Aku membiarkan Rowena sibuk dengan Alan, sementara aku menatap matahari yang bersinar di atas sana. Memejamkan mataku dan merasakan kehangatan sinar matahari yang membuat kulitku terasa segar. Matahari pagi menjelang siang? Hangat. Panas. Tapi seperti inilah matahari, dan kelak aku tidak akan bisa merasakan kehangatan seperti ini lagi. Aku mengulurkan tanganku, membiarkan sinar matahari menimpanya.

Mau Baca Lainnya?

13 Comments

  1. ini lebih dari penasaran…. saya udah kena syndrome kepo akut…
    pengen cepet2 tau titik cahaya teka-tekinya 🙂

    dan story kakak itu, fantastic banget deh, saya bingung mesti pke kta apa buat ngegambarinnya 🙂
    yang jelas semangat dan
    Keep writing!!

  2. Saya agak cerewat dalam menerima pendapat… tapi setelah membaca karya nie…
    saya rasa … saya perlu bersetuju dengan awak… tahniah atas persembahan
    idea yang menarik…

    Here is my blog post … Rahsia Suami Isteri Hebat

Leave a Reply

Your email address will not be published.