Half Vampire – Sakit

Kedua tubuh itu berdiri tegak mengamati dari puncak bukit tertinggi. Bersembunyi dari pancaran panas sinar matahari siang, diantara rerimbunan pohon, dua pasang mata itu menatap dengan awas ke keramaian jauh di bawah mereka.

“Jadi tempat itu ya?”

Dev mengangguk tanpa menoleh pada Damis yang berbicara padanya.

“Nampak normal bukan? Tapi kalau mencium bau yang menguar kuat dari sana, kau tahu betulkan Damis, tempat apa itu?”

 

Damis tertawa kecil, “Werewolf  punya bau paling busuk dari semua bau yang pernah kucium. Jadi sebaiknya kita pergi sekarang Dev. Urusan kita disini sudah selesai.”

Dev mengangguk. Mengikuti Damis yang berbalik dan meninggalkan tempat itu dengan cepat.

***

Dua hari ini aku merasa tidak enak badan. Seringkali aku terbangun dengan tubuh mengigil hebat. Padahal perapian di kamarku menyala dengan sangat terang. Aku bahkan menyeret selimutku dan berbaring melingkar di depan perapian karena aku tak juga merasa hangat. Aku terbangun dengan lemas ketika merasa seseorang memanggilku berkali-kali. Kelopak  mataku terbuka dengan enggan, menangkap tubuh Damis yang ada di depanku.

“Kenapa tidur disini?” tanyanya lembut.

Aku menggeleng, tak mampu berkata apa-apa. Kemudian tangannya yang dingin menyentuh dahiku dan mendadak dahinya mengerut. “Kau sakit, Rena? Suhu tubuhmu tinggi sekali?” katanya dengan sangat khawatir.

Ketika aku tak juga menjawab, hanya mengedipkan mataku dan menatapnya dengan sayu, Damis paham dan dengan sekali gerak dia mengangkat tubuhku dengan mudah. Seakan-akan aku hanya berbobot dua atau tiga kilo. Damis membawaku ke atas tempat tidurku. Membaringkanku perlahan di atas sana. Merapikan selimutku dan menariknya menutupi tubuhku sampai batas dada. Matanya yang biru memandangku, tapi aku tak tahu apa yang tengah dipikirkannya sampai akhirnya dia berkata, “Apa yang harus kulakukan agar kau sembuh, Rena? Aku tidak pernah merawat manusia yang sedang sakit. Vampire tidak pernah sakit, kami hanya sakit karena luka yang mungkin muncul setelah pertarungan atau serangan.”

“Aku merasa tidak berguna.” Tambahnya, menyentuh lembut tanganku dan menggenggamnya. Aku mencoba tersenyum dan berkata tidak apa-apa. Tapi Damis menggeleng, “Kau harus diobati.” Tegasnya. “Tunggu disini sebentar. Aku akan mencoba menemui Venice. Dia pasti tahu bagaimana caranya mengobatimu.” Tanpa berkata apapun lagi Damis mengecup dahiku cepat sebelum dia keluar dari kamarku dengan tergesa. Aku tidak bisa melakukan apapun untuk mencegahnya pergi karena untuk bicara saja rasanya aku tak punya tenaga.

Aku menghela nafas panjang dan merasa benar-benar sangat tidak enak badan. Aku mencoba memejamkan mataku ketika rasa dingin itu kembali datang. Aku menggigil, gigiku berkeletuk dengan sendirinya. Rasa pusing dan mual menyerangku disaat aku masih juga kedinginan. Aku bangkit, mengerahkan semua tenagaku yang tersisa untuk berlari masuk ke kamar mandi di dalam kamarku dan memuntahkan semua makanan yang ku makan kemarin.

“Rena?”

Aku mendengar suara itu ketika aku terhuyung keluar dari kamar mandi. Dev menangkap tubuhku tepat sebelum aku jatuh. “Rena!” Dev tahu aku sakit ketika tangannya menyentuh kulitku. Suhu tubuhku yang panas mengalir ke permukaan kulitnya yang dingin Dia mengangkat tubuhku, mengendongku dan seperti yang Damis lakukan sebelumnya, Dev juga membawaku kembali ke atas tempat tidurku. “Kau demam.” Katanya memandangiku yang sudah sepucat mayat.

“Tunggu sebentar, Rena.” Dia meninggalkanku sekilas, lalu kembali dengan kain lembab yang kemudian ditempelkannya di dahiku. “Aku melihat beberapa orang melakukannya ketika aku berada dalam penyusupan di pelatihan slayer ketika itu.” Dev tersenyum bangga dan aku berkedip masih memandanginya, mencoba mengatakan terima kasih lewat tatapanku. “Mereka juga biasanya akan memberikan minuman hangat kepada yang sakit. Nah, dan itu yang akan kulakukan untukmu setelah ini, Rena.  Aku akan turun ke bawah dan mengambilkan sesuatu untukmu. Tidak apa-apakan kutinggal lagi sebentar.” Aku mengangguk lemah.

Ketika sepertinya baru beberapa detik Dev menutup pintu kamarku, dan aku mencoba memejamkan mata, pintu terjeblak terbuka lagi dengan Damis yang terengah-engah dan langsung mendekatiku. “Rena, apa ini yang diatas dahimu?” Damis mengambil kain basah yang dilipat Dev di atas dahiku untuk mengurangi demamku dengan mata menyipit. Meletakkannya di atas meja kecil di samping tempat tidurku masih dengan mata menyipit sebelum dia kembali memandangku. “Telan ini, Rena.” Dia memberikan sesuatu yang mirip kumpulan dedaunan basah yang dibentuk menjadi bulatan kecil jelek ke tanganku. Damis membantuku duduk, meraih air putih di dalam piala yang ada di atas meja yang sama dimana dia meletakkan kain yang digunakan Dev untuk mengompresku.

Aku menelan apa-pun-itu yang diberikan Damis dan mengakui kalau agak sedikit ragu tentang sesuatu yang sepertinya dianggapnya obat ini. Rasanya pun juga sangat tidak enak. Tapi karena aku percaya padanya aku menelannya dan bibir Damis melengkungkan senyuman yang membuatku merasa kondisiku akan membaik. Damis mengusap lembut kepalaku dan mengenggam tangan kananku ketika dia mengambil tempat dan duduk di tepi tempat tidurku. “Tidurlah, Rena. Aku akan menjagamu disini.”

Anggukan lemahku menjawab perkataan Damis padaku, aku sempat menoleh ke arah pintu ruanganku yang sedikit terbuka. Sekilas aku seperti mendengar ada orang lain di balik sana. Tapi sepertinya tidak ada siapapun dan aku memutuskan memejamkan mataku kembali karena mendadak aku merasa sangat ingin tidur. Ketika Damis masih memandangiku, mengenggam erat tanganku dan aku terpejam lelah, aku tak pernah tahu bahwa Dev memandangi kami. Dengan satu piala berisi minuman hangat yang diambilnya dari ruangan makan di tangan kanannya, dia menghela nafas. Menutup rapat pintu kamarku dan berlalu pergi.

***

“Noura..”

Aku memeluk sosok yang merentangkan kedua tangannya ketika aku mendekat itu dengan erat. Dia balas memelukku sama eratnya dan kerinduan yang sangat besar dalam diri kami melebur hilang seiring pelukan yang semakin menghangat ini. Aku melonggarkan pelukan ini dan akhirnya melepasnya ketika aku mulai berkata dengan bersemangat.

“Maurette berkata kalau ada kau disini. Aku senang sekali kau kemari, Reven.”

Ketika aku mengucapkan nama itu aku sadar, aku, Noura. Aku dalam penglihatan itu lagi. Dan sayangnya semua persfektif yang dilihat Noura persis sama dengan apa yang aku lihat atau dalam kata lain, aku sebagai Noura dan merasakan semua yang dirasakannya. Sekarang semua bukan hanya tentang apa yang kulihat tapi juga tentang apa yang kurasakan.

Tempat ini sama sekali belum pernah kuketahui sebelumnya. Aku tidak tahu ini dimana tapi bangunan besar dengar jendela-jendela tinggi runcing ini mengingatkanku tentang rumah-rumah di belahan bumi bagian barat yang sering aku lihat dalam buku-buku.

Reven memandangku, atau lebih tepatnya memandang Noura, ada tanya tanya dan protes dalam pancaran mata itu. Aku tahu. Dia berjalan, dan aku mengikutinya. Dia berhenti di balkon yang kutahu ada di lantai teratas karena ketika melihat keluar, aku menyadari bahwa di atasku adalah atap bangunan ini. Reven menyentuh pembatas balkon, menoleh memandangku yang kini berdiri di sampingnya. “Kemana saja kau dua hari ini, Noura? Aku sudah di rumah ini sejak dua hari lalu dan kau sama sekali tidak ada disini. Aku tahu James dan Maurette terus saja berusaha menutupi kemana kau pergi tapi aku tidak bodoh, Noura. Jadi jawablah, kau kemana dua hari ini?”

Aku balas memandang Reven, tapi aku segera berpaling dan memandang lurus ke depan karena aku tidak bisa memandang matanya. Aku selalu merasa bersalah jika harus terus membohonginya. Aku tahu aku tidak bisa menyembunyikan sesuatu dari Reven. Noura menyembunyikan sesuatu dari Reven?

“Aku mengizinkanmu pulang ke rumah James karena kau bilang kau merindukan kelompokmu terutama Maurette. Tapi aku tahu ada yang tidak kau katakan sepenuhnya padaku jadi aku menyusulmu. Dan benar saja, kau tidak ada bersama mereka. Kau tahu kau calon ratu kami, Noura. Jangan terus menerus melakukan hal-hal yang bisa membahayakanmu. Kau selalu saja membuatku khawatir padamu.” Tegas Reven seperti kehabisan akal menghadapiku.

Aku menunduk, “Aku minta maaf, Reven.” Aku menyentuh tangannya. “Maaf karena aku terus menerus membuatmu mengkhawatirkanku. Tapi percayalah padaku. Aku bisa menjaga diriku. Jadi kumohon, Rev. Belajarlah mempercayaiku.”

“Bagaimana aku bisa mempercayaimu kalau kau bahkan tak mengatakan apapun padaku tentang apa yang kau rencanakan, apa yang kau lakukan.” Reven menyentuh kedua pundakku dan dia terlihat frustasi.

Aku selalu merasa takjub ketika mendapatkan penglihatan tentang ingatan Noura. Karena ketika itulah aku bisa melihat ekspresi lain di wajah Reven yang biasanya selalu terlihat sama jika di depanku. Dingin dan tak bersahabat. Tapi aku tahu sekarang, di depan Noura, Reven punya ribuan bahkan lebih ekspresi untuk ditampilkannya.

Aku menurunkan kedua tangan Reven dari pundakku. Menyatukannya dan menggenggamnya. “Percayalah.”

Reven menarik tangannya, “Entahlah, Noura. Aku hanya tidak bisa membiarkanmu melakukan hal-hal yang membahayakanmu.”

“Aku menemui Akhtzan.” Kataku akhirnya. Mengalah. Namun, bukannya merasa puas pada jawabanku, Reven malah memandangku dengan tatapan tidak percaya. Aku tidak lagi melihat sepasang bola mata berwarna biru yang biasanya bersorot lembut darinya.

“Akhtzan? Untuk apa lagi kau menemui penyihir itu? Apa yang kau rencanakan Noura?” nada suranya meninggi.

 Aku menutup kedua wajahku. Merasa lelah dengan pertanyaan-pertanyaan Reven. Aku sedang tidak ingin bertengkar dengan orang yang paling kucintai ini. Noura cintai tepatnya. “Maaf.” kataku sebelum berbalik pergi dan setengah berlari meninggalkannya. Aku menelusuri lorong panjang dengan lampu-lampu cantik yang menempel di dinding kanan dengan jarak setiap lima meter itu dengan gelisah. Aku terus berjalan dan tidak berhenti pada pintu-pintu yang ada di sebelah kiri sampai aku menemukan satu pintu lain yang akrab denganku. Pintu ruang pribadiku. Aku membukanya dan berhambur masuk ke dalamnya. Aku tahu Reven tidak akan menyusulku karena dia masih cukup marah denganku. Kami sudah banyak memperdebatkan tentang Akhtzan sebelumnya. Reven tidak suka kalau aku terlalu dekat berhubungan dengan makhluk lain selain bangsa kami. Aku memasukkan tanganku ke dalam kantung di jubahku. Menarik satu untaian kalung dari kerang-kerang kecil dari dalam sana. Aku memandang kalung itu. Menghela nafas panjang. Kalung ini baru saja diberikan Arshel padaku.

Bagaimana kalau Reven tahu aku juga dekat dengan seorang manusia?

***

Dev turun dari lantai dua kastil ini dengan wajah kecewa. Tangannya masih mengenggam piala itu. Pikirannya berkecamuk. Jauh di dalam dirinya, dia ingin menyeret Damis keluar dari kamar Rena. Memukul wajah Damis ketika  tangan Damis mengenggam tangan Rena. Tapi dia tahu dia tak bisa atau tak boleh melakukan itu. Damis punya hak atas Rena. Sama seperti Reven. Namun dia sama sekali tak punya hak itu sejak Rena menjadi calon ratu, dan jika dia menganggu semua tatanan itu, dia akan berurusan dengan Vlad dan semua anggota kelompok. Buku-buku jari Dev mengenggam piala di tangan kanannya sampai benda itu remuk. Dengan marah dilemparnya piala itu ke bawah sebelum dia melesat pergi dari kastil ini dengan bola mata yang berwarna merah darah. Pekat.

***

Aku membuka mataku. Mengerjap. Mencoba menyingkirkan perasaan gelisah milik Noura yang tertinggal padaku. Aku ingat dengan jelas semuanya. Ingatan Noura. Penglihatan ini. setelah sekian lama tak pernah datang lagi padaku, mendadak muncul lagi ketika aku sudah hampir lupa aku pernah menemukan serpihan-serpihan ingatan Noura dalam penglihatan-penglihatan yang dulu kerap datang padaku.

Aku mengeser tubuhku, membalikkan tubuhku ketika segala hal tentang Noura semakin membuatku bingung. Dan Noura segera lenyap dari kepalaku ketika aku menemukan Damis meringkuk di dekatku, memejamkan mata. Ah ya, aku baru ingat. Ketika aku sakit kemarin, Damis menemaniku disini. Mengobatiku dan begitu perhatian padaku. Aku bergerak sepelan mungkin agar tak membangunkannya ketika aku mencoba bangun. Tapi sepertinya sia-sia saja karena Damis mendadak meraih tanganku, membuatku terkejut dan terjatuh berbaring tepat di sampingnya. Damis membuka matanya yang hanya berjarak tak sampai sepuluh senti dariku. Dia tersenyum. “Sudah merasa baikan, Rena?”

Aku memandangnya. Kuakui aku sudah tidak merasa sakit sekarang. Semua rasa sakit yang kemarin kurasakan lenyap dan aku belum pernah merasa sesegar dan sesehat ini. Aku tersenyum, mengangguk. “Ya.” Jawabku singkat karena aku sedikit gugup harus memandang wajah tampan Damis dalam jarak sedekat ini.

Mata biru Damis begitu dekat dan warnanya sebening laut. Sepertinya baru kali aku menyadari Damis punya mata yang seindah ini. Wajahku merona merah dan aku mencoba beringsut menjauh. Bangun. Namun Damis lebih cekatan untuk kembali menarik tanganku. Dia membawaku ke pelukannya. Aku gugup sekali ketika Damis mendadak memelukku. Aku merasakan tangannya yang besar mengusap rambut di belakang kepalaku.

“Sebentar saja, Rena. Biarkan aku memelukmu agar aku benar-benar yakin kalau kau sudah baik-baik saja. Aku khawatir sekali ketika melihatmu sakit tadi. Aku merasa aku tidak bisa menjagamu dengan benar. Aku minta maaf, Rena. Aku minta maaf.”

Aku, diantara dada Damis yang bidang tidak bisa mengatakan apa-apa ketika dia mengatakan itu. Aku terharu dan merasa sangat berterima kasih karena semua perhatiannya kepadaku. Dan juga diantara bau tubuhnya yang menyenangkan, seperti perpaduan aroma segar hutan dan kayu manis yang entah bagaimana terasa menenangkan. Aku merasa jantungku berdegup satu-satu.

***

Esoknya, ketika aku melihat Damis berjalan masuk ke ruangan makan, entah bagaimana aku merasa gugup dan wajahku merona merah. Aku buru-buru memalingkan wajahku dan meneruskan obrolanku dengan Ar. Untungnya Ar tidak menyadari perubahan sikapku yang gugup karena dia masih sibuk mengomeliku karena aku tidak pandai menjaga kesehatanku. Aku memang baru saja bercerita padanya bahwa aku  kemarin sakit, aku bahkan belum sempat bertanya padanya kemana saja dia kemarin tapi dia malah masih terus menerus bicara tentang bagaimana cerobohnya aku pada diriku sendiri.

Aku menjawab sapaan pagi Damis dan mengangguk padanya ketika dia duduk di depanku. Damis meneguk segelas air dalam piala di depannya dan memandang Ar, “Kau sudah bertemu dengan Dev kemarin, Ar?”

Ar mengangkat wajahnya, “Dev?”

Damis mengangguk. “Sepertinya belum bertemu ya? Padahal kemarin dia bersamaku.”

“Jadi dia disini sekarang?”

“Sepertinya. Atau mungkin dia sudah kembali ke kelompoknya karena tugas yang diberikan kepadanya sudah diselesaikannya.”

Ar mengangguk, “Apa dia masih menyebalkan bagimu, Rena?” tanyanya kini padaku. Aku menggeleng cepat, “Dev sudah jauh lebih baik. Lagipula dulu aku membencinya karena dia menyusup di organisasi kita. Sekarang, aku sama sekali tidak punya alasan untuk sebal padanya. Dev sangat membantuku selama awal-awal aku ada disini.”

“Termasuk menciummu ketika itu?” sela Damis yang langsung membuatku terbatuk sementara Ar langsung menghentikan acara makannya dan memandangku. Meminta penjelasan. “Kau masih menjalin hubungan dengan Dev, Rena?” aku menggeleng cepat sementara Damis hanya mengangkat alisnya ketika aku memandangnya dengan tatapan protes.

“Tidak. Itu sudah lama sekali. Dan kenapa harus diungkit lagi? Damis, kau menyebalkan.” Gerutuku yang malah disambut dengan  tawa kecilnya.

“Aku mencium bau manusia.”

Kami bertiga menoleh ketika mendengar suara itu, aku melihat Lucia dan Russel berjalan ke arah kami. Lucia terlihat jauh lebih baik daripada ketika terakhir kali aku melihatnya. Russel tersenyum padaku, menyapaku. Tapi keduanya sama menghentikan pandangannya pada Ar. Ar mengangguk menyapa mereka ketika keduanya semakin dekat dan mengambil tempat di samping Damis atau tepat di depan kami. Tapi baik Lucia maupun Russel sama sekali tak membalas sapaan Ar. Mereka hanya memandangi Ar.

Lucia beralih memandang Damis, “Apakah dia manusia yang dibawa oleh Reven?”

Damis mengangguk. Dan Lucia kembali mengalihkan tatapannya kepada Ar. Matanya tak berkedip, sudut bibirnya tertarik ke atas. Dia tersenyum tipis. “Semoga kau nyaman selama berada disini.”

Ar tersenyum lebar, “Ya. Terima kasih.”

Namun entah kenapa aku merasa ucapan Lucia terdengar tidak tulus. Ada sesuatu yang tersimpan rahasia di dalam setiap huruf yang kemudian diucapkannya basa-basi kepada Ar. Mereka kemudian terlibat obrolan-obrolan ringan yang juga melibatkan aku, Russel dan Damis. Meski kuakui sepertinya Lucia sama sekali tidak berminat berbicara denganku. Tidak mengacuhkanku ketika masih bicara dan terlihat jelas mengamati Ar. Seringkali Lucia tesenyum tipis seperti yang sebelumnya dia perlihatkan. Senyum yang seperti menyembunyikan sesuatu yang entah apa.

***

“Ini minggu terakhirmu disini.” Suara Reven memecah keheningan yang tersisa diantara dia dan Arshel. Ar mengangguk meski tak bicara sepatah katapun. “Kau sudah melakukan semua yang kau mau selama disini bukan?”

Lagi-lagi Ar mengangguk, “Ya. Sudah.”

“Lalu bagaimana?”

“Entah, harus kukatakan agak sulit tapi aku mencoba untuk bisa melepaskan Rena bersama kalian disini. Setidaknya sekarang aku bisa percaya bahwa kalian bisa melindunginya.”

Reven tertawa, “Kami jelas akan melindungi Sherena dengan sangat baik. Dia calon ratu kami, ingat?”

Ar tersenyum, “Ya, untuk yang satu itu aku sangat bersyukur. Karena dia calon ratulah dia bisa terlindungi sejauh ini. Selanjutnya, aku berharap besar pada kalian semua. Tolong jaga Rena sampai dia benar-benar bisa menjaga dirinya sendiri.”

“Lalu, kapan kau akan meninggalkan tempat ini?”

“Secepatnya. Aku punya urusan lain yang harus kukerjakan di luar sana. Meski tanpa perjanjian inipun, aku juga tidak akan mungkin bertahan di tempat ini lebih lama.”

Reven terlihat mengerti, dia mengamati Ar dengan baik dan harus mengakui kalau manusia di depannya ini memang tidak punya niat buruk. Walaupun Reven sangat tidak menyukai semua yang Ar pernah katakan padanya tentang Noura, dia menghargai kejujuran dan kepatuhan Ar pada apa yang mereka berdua sepakati dulu.

“Apa kau akan kembali menjadi slayer? Menjadi sekelompok orang yang sangat hobi memanahi kaumku dengan panah perak kalian itu?”

Ar melirik Reven, dia berdehem. “Tidak tahu. Aku sudah keluar dari organisasi itu. Lagipula aku memanah para vampir bukan karena hobi. Lebih untuk pertahanan diri dan harga diri daripada untuk kepentingan-kepentingan lainnya. Selain itu, jika para slayer tidak memanahi para vampir, merekalah yang akan membunuh dan menghisap darah kami sampai kami mati. Bukankah itu cara vampir bertahan hidup, Reven?”

Salah satu sudut bibir Reven tertarik ke atas. “Seperti yang kau ketahui dengan baik.”

***

Aku mengamati Ar yang berdiri di depanku dengan sedih. Aku masih merengek memintanya untuk menetap di tempat ini atau setidaknya lebih lama lagi tinggal disini. Tapi jawaban Ar masih sama. Dia menolakku dengan halus. Mengatakan bahwa dia punya urusan penting yang harus dikerjakannya di tempat lain. Jawaban yang sama seperti yang diberikannya padaku dua hari lalu, ketika untuk pertama kalinya Ar memberitahuku bahwa dia akan pergi dari kastil ini. Dan hampir selama dua hari itu, aku mengikutinya kemana saja. Merengek seperti anak kecil, membujuknya agar dia mau tetap di tempat ini bersamaku. Aku melakukan semua yang aku bisa. Aku bahkan menangis di depannya kemarin malam. Namun Ar, hanya memelukku. Mengusap lembut kepalaku seperti seorang kakak dan meyakinkanku bahwa aku akan baik-baik saja tanpa dia di tempat ini. Bahwa aku dikelilingi orang-orang terbaik yang diketahuinya akan menjagaku sepenuh hati.

Kaki Ar melangkah mendekatiku. Dengan tangannya dia menyentuh kepalaku, menepuknya pelan. “Jaga dirimu baik-baik, Rena.”

Aku memandangnya dengan mata berkaca-kaca. Mengerutkan mulutku. Menampilkan wajah protes yang nyata. “Tak bisakah kau ting-“

“Tidak, Rena.” Ar memotong cepat. Dipegangnya kedua pundakku dan dia kembali berkata, “Mulai sekarang kau harus belajar menjadi perempuan dewasa. Jangan bersikap seperti ini lagi. Kau punya tanggung jawab besar terhadap takdir yang tersemat di atas pundakmu. Kau tidak boleh lagi hanya mengandalkanku atau orang lain untuk banyak hal. Belajarlah untuk menjadi calon ratu yang sempurna bagi kaummu. Aku akan sangat bangga padamu jika kau benar bisa melakukannya dengan baik.”

Kaummu? Nafasku tertahan ketika Ar sampai pada kata itu. Aku masih manusia. Aku belum menjadi vampir sepenuhnya. Aku bahkan sama sekali tidak merasakan perubahan diriku seperti yang aku lihat jika seseorang diubah menjadi vampir karena kontaminasi darah mereka dengan racun vampir. Lalu bagaimana bisa Ar berkata seperti itu. Meskipun aku juga tidak akan mengatakan kalau aku menyesal berada disini. Sebab para vampir yang kukenal disini sangat baik padaku, tapi tetap saja. Ar bicara seolah-olah aku sudah menjadi vampir seutuhnya.

Dia memeluk singkat dan menepuk pundakku ringan, “Kau tahu, Rena. Aku merasa tenang meninggalkanmu bersama mereka.” Matanya yang coklat bersinar penuh rasa terima kasih memandang ke arah Damis dan Reven yang sedari tadi berdiri di dekatku dan hanya diam. Mengamatiku dan Ar.

“Tolong jaga Rena.”

Reven mengangguk. Wajahnya tenang. Damis juga mengangguk dan menyahut dengan cepat dan tegas, “Tentu saja. Aku akan melakukannya dengan senang hati.”

Ar tersenyum, “Reven. Tolong.” Dia mengedip. Aku melirik Reven yang tidak bereaksi apa-apa. Tapi Ar tersenyum dan beralih memandangku. “Sampai jumpa lagi, Rena.” Dia memandangku penuh kasih sayang sebelum dia berbalik. Melangkah masuk ke hutan.

Aku maju, memanggilnya dengan putus asa. Ar menoleh. Melambaikan tangannya dengan riang sebelum dia kembali meneruskan langkahnya yang semakin menjauh dariku. Ketika akhirnya Ar benar-benar menghilang dari pandanganku, satu bulir airmata jatuh dari sudut mataku. Damis merangkulku. Menguatkanku.

“Mulai sekarang, latihlah kembali kemampuanmu untuk bertarung dan bertahan diri. Kau juga akan mulai mendapatkan tugas seperti anggota kelompok lainnya.”

Aku menoleh, mendapati Reven bicara itu dengan enteng dan sama sekali tidak bersimpati denganku karena aku baru saja mengantarkan kepergian sahabat terdekatku. Dengan jaminan tak pasti apa aku akan bertemu lagi dengannya. Tapi reven malah berkata sesuatu dengan nada memerintah dan dingin seperti itu. Tunggu. Apa katanya tadi? Mendapatkan tugas? Kulit di keningku berkerut dengan jelas.

“Kau ajari dia untuk meningkatkankan kemampuan Heta-nya, Damis.” Katanya disambut anggukan dan persetujuan singkat dari Damis. “Besok, temui aku di ruang pribadiku ketika tengah hari. Aku perlu bicara denganmu, Sherena.” Ucap Reven kali ini untukku. Dia berbalik, pergi begitu saja tanpa menjelaskan lebih banyak lagi padaku.

Aku menatap Damis, meminta penjelasan. Sementara Damis malah tersenyum lebar. “Bingo! Waktunya sudah tiba, Rena. Kita akan mulai melakukan hal besar bersama-sama dengan kelompok.”

Damis terlihat sangat senang sementara aku tak mengerti apapun. Dia tak menjelaskan apa-apa, hanya mengandengku. Mengajakku berjalan mengikuti Reven, masuk kembali ke dalam kastil

Mau Baca Lainnya?

24 Comments

  1. Gak sabar nunggu lanjutannya..:) Berharapnya sih rena milih raven yang misterius.. Tp itu terserah author jg sih hehe 😉

  2. Well, banyak yang suka Rena milih Reven ya?
    Padahal Reven cuek gitu sementara Damis care banget.
    Tapi selera orang emang beda-beda ya.
    Jadi tunggu lanjutannya aja ya 😀

  3. Ehmmm, bagussss (y) tp masih tetep kurang panjang yah hehe
    Reven sama Renanya masih dikit 🙁
    Ini cerita kayaknya masihhhhh panjaaaaaang banget yah? Hoho kapan sih thor rena berubah jd vampire seutuhnya?
    Percepet dong thor updatenya, maacih 🙂

  4. akhirnya pelan-pelan udah menemui titik terang dicerita ini. ayooo Rena, jangan abaikan kesempatan untuk dket sama Rev, buat reven jatuh cinta sama rena :p hihihi

  5. Semoga aku ngga ketinggalan bacanya…
    hahah.. tapi kayanya saya telat sekali bacanya…
    totally ceritanya memang tidak pernah mengecewakan..
    di tunggu selalu updateannya..
    apalagi scenenya Rena and Reven 🙂
    Keep writing!

  6. Semoga ngga ketinggalan update chapter entar.

    Makasii makasiii, alhamdulillah ngga mengecewakan.
    Wihh, banyak yang menantikan scene-nya Rena sama Reven ya? 😀

  7. waaaah makin penasaran kak, aku baca di blog kakak yang ini dan di wattpadnya tapi baru sempet ninggalin jejak disini.
    ceritanya keren kak, sungguh jujur aja walaupun kadang ada typo hehe tapi overall, cerita ini udah ngebuat aku falling in love, ditunggu part selanjutnya kak. keep writing ^^

  8. Waa selamat datang di Blog-ku.. 😀
    hihi iya banyak typo. maklum ga telitian orangnya.
    Duh makasih banget udah sampe jatuh cinta sama HV.
    makasii 🙂

  9. thor , aku penasaran ,,,bgt ,, sama reven yg sikapnya dingin dia itu suka gak sih sama rena ,, kaya,nya dia mulai suaka, yah ,,
    dan untuk demis,,, perhatiannya,,, beneran ,,,, baik bgt untuk rena , karna kalo gak ada ar,, cuma demis atau rose doak yag mnrt rena baik,,

    dan , apakah rena suka sama demis,, trus rev gmn??
    penasaran makin meningkat ,, jgn lupa lnjtannya yah

  10. Aku juga jujur sama penasarannya >.<
    Ini Reven makan batu es kali ya bisa dingin kaya gini.
    Btw kayaknya gitu juga sih, kan kata orang batasan benci sama cinta itu tipis banget.
    Dan untuk Damis, dia emang baik banget dan lembut. Arrrrrhhh, aku jadi iri dan pengen punya seseorang kaya Damis gini.

    Rena suka Damis? Atau suka Reven??
    baca terus kelanjutannya biasr tahu jawabannya ya.

    Btw, follow atau join di situs ini ya biar cepet dapet info kalo ada new chapter dari HV.
    Terima kasih 😀

Leave a Reply

Your email address will not be published.