Half Vampire – Takdir Baru

Aku menoleh memandang Dev, ”Apa rencana kita sekarang?”
Aku memandang Dev makin tajam, aku mengharapkan sebuah rencana brilian tentang apa yang harus kami lakukan keluar dari otaknya dan dia katakan kepadaku. Tapi hampir lima menit bisu, Dev cuma melongo menatapku yang antusias, aku membuang nafas sebal. Sia-sia saja mengharapkan vampir bodoh ini berpikir sesuatu yang brilian.
“Memang sepertinys percuma bicara dengan mahkluk sepertimu.”
Aku mendengus kesal, berdiri dan berjalan meninggalkannya.
“Rena!”
Aku tak mau menoleh, hanya untuk melihat wajah idiot itu.
“Rena, bagaimana kalau kau ke tempat tinggslku saja. Kita bisa menikah disana.”

“Apa??” teriakku shock dan langsung memutar tubuhku menghadap Dev yang malah memasang wajah tak berdosa setelah bicara hal konyol macam itu.
“Sepertinya itu rencana masa depan yang sangat bagus. Aku memikirkan itu dengan sangat cepat dan sepertinya pun kau juga tak akan menolakkukan?”cerocos Dev dengan demikian percaya dirinya
Aku membuang muka dan kembali berjalan meninggalkannya. Hah, vampir macam apa itu. Dev memang otak udang. Bagaimana mungkin ada vampir dengan jenis seperti itu, aku yakin dia hanya satu-satunya. Dan sungguh kasihan, reputasi klan vampir sebagai klan yang cukup cerdas, cepat , mempesona harus dinodai oleh kebodohan mahluk bernama Dev ini.
“Hey Rena, apa ideku itu terlalu cepat. Emm mungkin kita bisa saja menundanya kalau kau belum siap.”ucapnya lagi yang kini tiba-tiba telah berjalan di sampingku.
“Aku sebenarnya juga tidak menginginkan sesuatu yang terburu-buru. Aku bisa menunggu kau beradaptasi dengan dirimu yang baru. Dirimu yang seorang half vampire. Aku…”
“Berhenti bicara Dev!!!”teriakku kesal, menghentikan langkahku sambil memukul kepala mahkluk bodoh itu. Cukup keras sepertinya karena dia mengaduh sambil mengusap-usap kepalanya.
“Dengarkan aku Dev. A-KU TI-DAK  A-KAN PER-NAH ME-NI-KAH DE-NGAN-MU!!”
Aku melipat tanganku di atas dada sambil mengamati ekspresi wajah Dev yang sangat lucu. Campuran antara terkejut, kesal, marah atau apa pun itu. Yang jelas menyenangkan sekali melihat ekspresi wajah Dev yang seperti ini. “Lagipula bukankah tadi kau menjelaskan padaku bahwa aku ini adalah half vampire yang merupakan penganti calon ratu. Jadi.. aku tidak mungkin menikah denganmu. Aku kan calon ratu jadi harus menikah dengan pangeran atau yang kau sebut penerus itu. Nah aku yakin penerus klan vampir itu bukan jenis yang buruk untuk kunikahi.” tambahku sambil berusaha terus menggodanya, tapi lama kelamaan aku melihat ekspresi campuran di wajah Dev berubah menjadi ekspresi, sejenis ekspresi sedih mungkin, sorot matanya yang biasanya ceria dan nampak begitu hidup tiba-tiba meredup dan seperti kehilangan sesuatu.
“Dev..” panggilku menyadari kalau mungkin aku mengucapkan sesuatu yang salah. Sepanjang dulu aku mengenal Dev, dia tidak akan pernah nampak benar-benar sedih seperti ini kecuali kalau dia benar-benar merasakan sesuatu yang sangat menganggunya.
“Sherena, kau.. apakah kau senang menjadi seorang pengganti calon ratu?”
“Ap..?”
“Apakah kau yakin untuk menikahi penerus klanku?”
“Dev.. apa yang..?”
“Apakah kau telah menerima takdirmu yang baru itu? Kau bahkan belum mengenal mereka, Rena.’
“Hentikan bicara dan bersikap serius seperti ini Dev. Aku kan cuma..”
Dev hanya menatapku sampai akhirnya dia membuang muka dan berjalan menjauh dariku. Berjalan masuk ke hutan yang semakin gelap. Aku bergerak menyusulnya dengan banyak pertanyaan dalam benakku. Kenapa pula vampir satu ini. Dev jarang bersikap aneh seperti ini. Biasanya dia tak akan terpengaruh dengan semua kata-kata jelek ataupun “kotor” yang kuucapkan untuknya. Dia bahkan menganggapnya seperti angin lalu. Tak pernah nampak sensitif seperti ini.
Aku terus mengikuti langkah Dev yang masuk makin dalam ke hutan. Dia sama sekali tak mengacuhkanku bahkan tidak sekalipun dia menoleh ke belakang untuk memastikan aku ada di belakang mengikutinya.
Aku tak terbiasa tidak dipedulikan seperti ini.
Aku mengejarnya, meraih satu lengannya dan menariknya. Memaksanya berhenti dan menatapku, ”Ada apa??”tanyaku keras.
Tapi dia cuma menatapku dengan kedua mata birunya. Kosong. Tanpa ekspresi
“Apa aku mengucapkan sesuatu yang..”
“Tidak.” potongnya cepat. Dev berbalik meninggalkanku dan duduk di atas akar pohon besar tak jauh dari sana. Aku berjalan pelan ke arahnya dan duduk di sampingnya.Bukannya mau bagaimana, tapi aku harus menyelesaikan apa pun masalahku dengannya. Mengingat bagaimanapun yang terjadi Dev satu-satunya orang yang menemaniku sekarang. Lagipula Ar juga memintaku untuk mempercayai Dev dan mengikutinya. Jadi setidaknya aku harus membuat Dev kembali bersikap normal.
“Rena. Maaf jika sikapku tadi agak keterlaluan. Aku cuma merasa aneh melihat kau sepertinya menyukai menjadi seorang pengganti calon ratu. Tap..”
“Bukan begitu. Aku tidak pernah mengatakan aku senang menjadi seorang pengganti calon ratu atau apapun itu.” potongku meralat ucapan Dev.yang terdengar sangat menyebalkan di telingaku. Aku tadi hanya bercanda dan cuma ingin menggodanya. Bagaimana mungkin aku senang menjadi seperti itu sementara itu semua menyebabkan aku di kejar-kejar kawananku sendiri. Menyebabkan aku pergi dari negeriku sendiri. Bagaimana mungkin aku nampak menyukai ini. Aku kehilangan semua yang aku punya, aku kehilangan semua yang aku perjuangkan selama ini gara-gara sesuatu yang aku tak tahu bagaimana bisa menimpaku.
Menjadi half vampire yang juga seorang pengganti calon ratu? Aku bahkan tidak tahu seperti apa itu sebenarnya.
“Syukurlah kalau begitu..” raut wajah lega terpancar jelas di wajah Dev. “Aku senang sekali mendengar kalau kau juga tidak menyukai takdir barumu itu. Aku kesal sekali tadi melihatmu nanpak sangat menyukai kenyataan bahwa kau harus menikah dengan salah satu dari penerus klanku.” ucapnya jujur.
“Salah satu? Sebentar, sepertinya kau bahkan belum menjelaskan padaku dengan lebih terperinci tentang half vampire, jiwa, calon ratu. Terus terang aku tidak tahu apa-apa Dev. Ini membingungkan.” kataku bersungguh-sungguh.
Jujur saja aku memang belum sepenuhnya mengerti tentang apa bagaimana dan seperti apa yang harusnya kujalani jika aku memang benar seorang half vampire yang juga seorang pengganti calon ratu. Pelatihan hetaku tidak mengajarkan tentang itu hanya cara bagaimana kami melindungi para anggota keluarga kerajaan dan membunuh mahkluk apa pun yang mengancam kehidupan rasku.
“Sudahlah. Tunggu saja, akan ada penjelasan yang kau terima tentang ini semua nantinya. Nah, kau tau Rena? Saat aku membaca pikiran Ar, aku menyangka dia berbohong tapi begitu aku benar-benar berada di dekatmu aku memang mencium bau khas vampir dari tubuhmu. Meski sangat lemah.”
Aku menoleh cepat. Dia bilang apa, bau??
“Bau apa??” reflek aku mengangkat satu satu tanganku dan mengendus bau tubuhku.
Terdengar tawa keras Dev yang sangat menganggu kesunyian dan ketenangan hutan ini, aku mengangkat wajahku dan memandangnya penuh tanya. Tangannya justru menyentuh kedua pipiku, “ Kau belum akan bisa untuk tahu perbedaan bau tubuhmu. Bahkan hanya untuk sekedar membedakan bau-bau khas makhluk seperti kita, manusia serigala atau apapun itu, sayang.”
Sayang??
Aku memukul bahu vampire bodoh menyebalkan itu dengan keras, bagaimana mungkin dia memanggilku dengan sebutan itu. “Jangan pernah memanggilku seperti itu lagi, bodoh. Kau membuatku mual. Dan lagi..” kataku tegas, bangkit dari duduk, “Aku belum memaafkanmu soal kebohongan dan penipuanmu padaku dulu.” semburku sambil melipat kedua tanganku di atas dada, berbalik dan pergi meninggalkannya.
“Apa?? Kupikir kau sudah memaafkanku ketika kau membalas ciumanku di kamarmu tadi.” Katanya dengan suara keras, mukaku memerah, tapi aku tak mau peduli dan terus berjalan meninggalkannya. “Hey Rena!! Tunggu!” aku mendengar derap langkah kakinya yang berlari mengejarku. Kurasa dia membiarkan kecepatan larinya terdengar normal seperti manusia biasa.
Aku mencoba mempertahankan wajah sebalku. Tapi mendengar suara Dev terus memanggilku di belakang, mau tak mau aku tersenyum meski sekilas. Half vampire. Pengganti calon ratu. Separuh jiwa vampire yang kini ada dalam tubuhku. Entahlah, tapi dengan Dev di sampingku..
Aku berjalan makin cepat saat kurasakan Dev mulai menjajari langkahku. Suaranya terdengar makin jelas. Kini bicara tentang banyak hal dan tentu saja bukan hal-hal penting seperti biasanya, dia terus bicara sepanjang jalan, aku masih menunjukkan wajah sebalku padanya, dan dia terus bicara, menggodaku.
..kurasa ini akan lebih mudah
 
Aku menguap sambil bersandar di batang pohon besar, tak mengacuhkan bau gosong burung yang ditangkap Dev dan tengah dibakarnya. Nafsu makanku sudah hilang melihat bagaimana Dev sepertinya menelan air liurnya dan memandang penuh nafsu melihat darah yang menetes dari tanganku ketika tidak sengaja tanganku tergores pisau kecil yang kugunakan untuk memotong bagian-bagian dari tubuh burung itu yang tidak ku inginkan untuk ikut ku makan. Menyebalkan dan memuakkan sekali mengingatnya. Aku sudah membebat tanganku itu dengan sobekan kain bajuku.
Ini sudah hari ke empat aku dan Dev berada dalam hutan ini. Berjalan dan terus menyusuri kedalaman hutan itu tanpa ada tujuan. Ternyata hutan di perbatasan ini cukup luas juga atau kaminya saja yang tersesat sehingga hanya berputar-putar di tempat yang itu-itu saja. Dev bersikeras bahwa kami tidak tersesat tapi aku tidak mempercayainya. Kurasa, meskipun ini agak terlalu percaya diri, dia hanya ingin lebih lama dan terus menerus bersamaku. Di samping itu aku belum merasakan perubahan pada diriku yang sekarang, yang kata mereka telah menjadi seorang half vampire. Insting dan semua kemampuanku masih sama dengan insting dan kemampuanku sebagai seorang heta.
Aku dan Dev sering mendiskusikan tentang aku sebagai Half Vampire atau aku sebagai pengganti calon ratu. Dev mengambil kesimpulan bahwa jika master saja tahu bahwa aku adalah half vampire yang juga seorang pengganti calon ratu kemungkinan besar klan vampire pun  juga mengetahui hal itu. Mereka mungkin juga berusaha untuk mencariku sama seperti para heta dan slayer itu. Jadi kami pikir tak baik berada di satu tempat yang sama untuk waktu yang cukup lama. Meskipun sekarang kami masih belum bisa mengetahui atau melihat jalan keluar hutan ini.
Aku tak terbiasa dengan semua pelarian ini. Sempat terpikir untuk kembali saja ke istana dan menyerahkan diriku. Membiarkan master melakukan apa pun yang master inginkan terhadapku. Toh kalau itu semua nantinya membawa kebaikan untuk rasku, manusia, aku tidak apa-apa. Tapi ingatan tentang bagaimana usaha Ar membawa aku keluar dari asrama membuatku mengurungkan niatku untuk melakukan itu.
“Sepertinya rasanya tidak terlalu buruk.”
Aku tiba-tiba merindukan Ar. Aku tak pernah sendirian tanpa Ar seperti ini. Rasanya aku seperti kehilangan sesuatu yang menjadi kebiasaanku.
“Rena, kau mau coba ini?”
Sekarang Ar ada dimana? Apakah Master dan orang-orang lainnya juga telah mengetahui bahwa Ar adalah seorang penyihir.
“Rena..”
Jika mereka telah tahu apakah mereka akan melakukan sesuatu yang buruk pada Ar. Apakah mungkin mereka akan menghukumnya. Apalagi mengingat Ar juga membantu dalam usaha pelarianku. Apakah mereka akan…
“RENA!!!”
Aku nyaris terlonjak kaget mendengar suara yang Dev mengelegar memanggilku. Apa yang dilakukan mahkluk satu itu. Menganggu sekali. “Apa?” tanyaku memandangnya yang memegang dua burung panggangannya dalam tusukan di masing-masing tangannya, “APA?” ulangku kentara sekali kesal.
“Kau mau coba ini?” katanya sambil beranjak dari depan api dan mendekat lalu duduk di sampingku.
“Ini..”katanya lagi mengulurkan satu tusukan burung bakar itu ke arahku. Mataku menyipit, penampilan burung bakar Dev itu sama sekali tak bisa meyakinkan kalau itu baik untuk dimakan. Apa-apaan ini. Burung bakar itu sangat hitam karena gosongnya. Padahal seingatku dia terus menunggui burung itu di bakar dalam api.
Aku mengalihkan pandanganku ke wajah Dev, “Aku tidak lapar.” kataku berbohong.
“Ah ya aku tahu, ini memang tidak patut dimakan. Tadi aku juga sudah bepikir untuk membuangnya saja.” ucapnya sambil memutar-mutar tusukan burung itu lalu melemparkannya ke arah api yang masih menyala.
“Sepertinya kita harus berburu lagi untuk makan. Tapi sepertinya akan susah berburu lagi. Matahari sudah mau tenggelam, tapi tenang saja Rena. Kau bisa andalkan kemampuanku un…”
“Dev..” aku memotong ucapannya dan menatapnya serius, “Apa tak lebih baik kalau aku membiarkan master menangkapku.”
Kening Dev berkerut, “Master bisa saja berniat membunuhmu.” Semburnya tidak senang mendengar ideku. Aku memang belum pernah mengatakan keinginkanku yang satu ini pad Dev.
“Tapi kalau ini baik untuk rasku.”
“Apa kau pikir semuanya akan baik-baik saja dengan hanya mengorbankan dirimu sendiri seperti itu. Kau pikir apa semudah itu master akan membunuhmu. Tidak!! Jangan bodoh Rena, mereka mungkin saja melakukan sesuatu yang lebih buruk dari sekedar membunuhmu. Ketahuilah Rena, seorang half vampire karena jiwanya bukan darahnya adalah Sangat Langka dan penganti calon ratu.. sepanjang umurku, ini baru pertama kali terjadi. Jadi dirimu pasti akan sangat lebih menarik untuk dijadikan bahan penelitian daripada dibunuh dengan sia-sia. Dan bagaimanakah kau pertanggungjawabkan semua pengorbanan Ar untuk menyelamatkanmu menjadi tidak berarti seperti itu.” nasehatnya panjang lebar yang membuatku terpaku, berpikir dan terdiam merenungi semua yang ucapan Dev padaku.
Ternyata mahkluk satu ini bisa juga bicara seperti itu dan jujur saja ucapan Dev barusan masuk akal juga. Dan tentang Ar, mungkin Dev pun benar. Harusnya aku menghargai pengorbanan Ar untukku.
“Kau mengertikan Rena?” tanyanya pelan.
“Maaf sudah berpikir sedangkal itu Dev.” Jawabku.
Dev mengangguk, “Tenang saja Rena, aku sudah terbiasa menghadapi kebodohan-kebodohanmu.” sahutnya
“Apa kau bilang??” teriakku kesal sambil memukul bahunya sementara dia justru tertawa-tawa.
Tiba-tiba mata Dev menjadi fokus dan dia berhenti tertawa dengan begitu tiba-tiba hingga membuatku panik, ”Ada apa??”
Dev berdiri, pandangannya beredar mengelilingi sekitar kami. “Mereka…. Ada disini.” desisnya
“Mereka? Siapa??” aku mengikuti langkahnya memeriksa keadaan di sekitar kami. Kegelapan hampir merayapi tempat ini. Dan suasana hening membuat semuanya terasa mencekam. Sedetik kemudian mata Dev fokus menatap ke satu arah, pohon besar berjarak lima kaki dari tempat kami berdiri. Aku pun mengekori pandangannya dan tidak melihat sesuatu yang mencurigakan ada disana tapi aku mendengar Dev berkata dengan marah, ”kenapa kau ada disini, Lyra?”
“Kau merasakan kehadiranku juga ternyata.”
Seorang perempuan berambut hitam kebiru-biruan melangkah dari balik pohon itu. Dia nampak serius bermain dengan kuku-kuku jari tangannya. Dia menjentikan sekecil apa pun kotoran yang menyisip di kuku-kuku jarinya tanpa menunjukkan raut muka yang peduli pada kami.
“Well.” kata Lyra, untuk pertama kalinya memandang kami dengan serius, “Sepertinya aku masih harus berlatih lebih giat lagi supaya makhluk lain tidak merasakan kehadiranku sepeka itu.” tiba-tiba dia menoleh jengkel ke pohon lain di dekatnya, “Apa yang kau lakukan dengan berdiri di kegelapan seperti itu Damis. Kau mau bergelung dengan kegelapan seperti ulat bulu, Hah??” tambahnya dengan nada kesal yang jelas.
Aku melihat sesosok laki-laki, bertubuh jangkung dengan wajah putih yang pucat. Dia berjalan dengan wajah bersungut-sungut dari balik pohon lainnya. “Berhenti bicara seperti itu, Lyra. Sangat menyebalkan dan memuakkan, suara petir tampaknya lebih baik dari gelegar suaramu.” Ucapnya keras.
“Apa??” Lyra menoleh sangat cerah, membuat rambutnya berkibar indah. ”Tutup mulutmu Damis. Aku tahu ini ide terburuk sepanjang kehidupanku. Aku tak akan pernah mau bekerja sama denganmu. Kalau saja bukan Vlad yang meminta.” Lyra mengeram menahan marah.
Damis justru melipat kedua tangannya, menatap Lyra dengan tatapan menantang, “Kau pikir aku juga mau berada lama-lama di dekatmu. Kalau bukan untuk menjemputnya, kau pikir aku mau repot-repot seperti ini, rambut biru.”
Keningku berkerut melihat pemandangan di depanku. Dua makhluk tak kukenal di depanku ini sedang bertengkar layaknya anjing dan kucing. Sebenarnya ini tontonan yang cukup menarik kalau saja Dev tak menyela dengan teriakannya dan membuat kami semua menoleh bersamaan ke arahnya.
“Apa yang kalian lakukan disini???” tanyanya
Lyra mengernyit, berkacak pinggang, “Apa yang kami lakukan disini?” ulangnya dengan nada lebih tinggi dari teriakan Dev. “Ini semua gara-gara Kau dan Perempuan itu dan kau bertanya Kenapa? Kau jauh lebih menyebalkan dari Damis, Dev. Atau aku harus memanggilmu dengan lebih sopan, saudaraku
Saudaraku?
Apa aku tidak salah dengar. Perempuan dengan emosi meledak-ledak ini memanggil Dev dengan panggilan saudaraku. Apakah dia adik Dev? Tapi mereka berdua sangat tidak mirip untuk menjadi saudara kecuali pada beberapa bagian seperti wajah mereka yang sama-sama rupawan. Ah ya, aku melupakan bagian bahwa tidak ada vampir yang tidak tampil degan visualisasi sangat menawan.
“Katakan tujuanmu kemari, Lyra!!” bentak Dev yang hanya di sambut dengusan oleh Lyra yang justru mengalihkan pandangannya pada Damis di sampingnya, “Kau bawa saja perempuan itu sekarang. Aku sudah muak lama-lama berada disini.”
Damis tak memandang Lyra, dia justru nampak serius menatapku, membuatku risih sendiri jadinya, “Tanpa kau suruh aku pun akan melakukannya dengan senang hati dan jangan pikir hanya kau saja yang muak.” ucapnya seraya berjalan maju mendekat pada kami, “Aku jauh lebih muak.” Tambahnya.
Damis mengabaikan semburan kemarahan Lyra dan justru terus melanjutkan langkahnya mendekat ke arah kami. Dev nampak siaga dengan apa pun yang akn terjadi, aku mengutuki diriku sendiri karena entah bagaiman aku bisa kehilangan panah dan semua senjataku saat kami menembus lorong sihir yang menyakitkan itu. Dengan tangan kosong akhirnya aku cuma bisa mengandalkan kemampuan berkelahiku sekarang.
“Berhenti di situ Damis!!!” perintah Dev yang sepertinya sama sekali tidak digubris oleh Damis meskipun dia menghentikan langkahnya dan menyeringai, “Kau mau aku atau kau sendiri yang mengatasi Dev , Lyra?” tanyanya dengan demikian santainya.
“Biar aku yang urus.” jawab Lyra yang tiba-tiba sudah ada di samping Damis, “Dev..”panggilnya lembut, “Jangan melakukan perlawanan yang sia-sia, lebih baik turuti apa yang memang telah menjadi tugasmu. Selesaikan dan kita bisa pulang.” sarannya dengan wajah manis.
Aku menoleh ke arah Dev, apa maksudnya dengan tugas??
“Tidak akan setelah aku tahu bahwa pemilik takdir itu adalah Sherena.” tegas Dev membuat ekspresi wajah Lyra berubah marah, mata birunya menghitam perlahan.
“Jadi dengan kata lain kau menghendaki pertarungan kita??”
“Kalau memang itu yang harus terjadi.”
Lyra meraung marah mendengar jawaban Dev, “Kau bodoh!!!”
Aku terdorong jatuh ke belakang begitu Lyra menerjang Dev dalam kecepatan sepersekian detik, dia mendesis penuh kemarahan. Aku beringsut mundur begitu mereka mulai bergelut dalam pertarungan yang hanya bisa ku lihat seperti kelebatan-kelebatan yang sangat tak jelas. Vampir memang memiliki kecepatan yang sangat menakjubkan.
Tapi aku tahu bahwa aku juga tak bisa berdiam saja sementara Dev bertarung sebab aku tahu, masih ada satu vampir lain yang kini memandangku dengan ramah, aku tak yakin itu jenis tatapan yang seperti apa tapi sepertinya bukan tatapan vampir jahat-semoga saja.
Aku berdiri, menarik nafas. Merasa sangat lemah tanpa senjata-senjataku.
“Jadi kau ya..” Damis tersenyum dengan demikan mempesonanya, aku menggelengkan kepalaku. Jangan bodoh Sherena. Dia vampir, mereka punya sihir untuk membuatmu lemah dengan pesona mereka. Aku tidak boleh terpengaruh, “Aku tidak menyangka kita akan bertemu semudah ini, mengingat kami sudah lama mencari-carimu Sherena Audreista. Atau aku boleh memanggilmu dengan nama pendekmu. RENA.” tambahnya yang membuatku makin gugup dan terkejut mengetahui bagaimana dia bisa mengetahui nama lengkapku. Meskipun Dev sudah sering memperingatkanku tentang kemungkinan terbesar kalau klan vampir juga tengah memburuku.
Tapi berada dalam situasi itu secepat ini membuatku tidak siap, tidak siap dalam segala hal. “Apa yang kalian inginkan dariku dan Dev?” tanyaku untuk memperlambat waktu jika memang kami harus bertarung seperti Dev dan Lyra.
Dia tersenyum lagi, “Kami tidak akan menyakitimu, tidak akan pernah. Sungguh. Aku hanya ingin membawamu pergi bersamaku. Jadi lebih baik kau ikut saja bersama kami dengan baik-baik. Pertarungan bukan penyelesaian yang baik.” jawabnya yang menurutku terlalu di buat-buat dengan kesan baik yang berlebihan.
“Pertarungan bukan penyelesaian yang baik?” aku mendengus,  “Lalu mereka?” ucapku memandang Dev dan Lyra yang masih saling berusaha untuk mengalahkan satu sama lain.
Anehnya Damis justru tertawa, tawa yang membuatku terpaksa memandangnya dengan tatapan ingin tahu tentang apa yang membuatnya tertawa begitu “Mereka??” katanya kemudian, “Itu pertengkaran yang biasa mereka lakukan sepertinya, jadi kau tak perlu khawatir. Lyra tidak akan menyerah kalau belum benar-benar bisa mengalahkan Deverend, dia selalu seperti itu.”
Kami nenoleh bersamaan begitu mendengar bunyi keras sesuatu yang menghantam pohon, Lyra meringkuk di antara batang besar pohon yang baru saja roboh karena terhantam tubuhnya. Dia mendesis marah memandang Dev, matanya kini telah benar-benar berwarna merah menyala. Menandakan kalau dia berada dalam kondisi emosi tertingginya.
Diam-diam aku merasa bersyukur juga karena Dev bisa mengalahkan Lyra,
Damis mengelengkan kepalanya, “Dasar kau cuma bermulut besar Lyra, nyatanya kau kalah juga dengan saudara tersayangmu ini.” Dia tak mengacuhkan Lyra yang sepertinya ingin bicara karena sedetik kemudian dia telah bicara lagi, “Aku tidak tahu kenapa kau harus berkeras melarang Rena pergi bersama kami. Kau tahu dengan jelas bahwa kami tak akan melakukan sesuatu yang buruk padanya seperti yang dilakukan oleh klannya sendiri yang ingin memusnahkannya. Kau tahu sebaik aku tentang hal ini Dev”
Dev dengan nafas yang terengah-engah dan kondisi acak-acakan berjalan mendekat pada kami, aku berlari ke arahnya, ”Kau tidak apa-apa?” dia hanya menggeleng dan menyentuh lengan kananku, “Aku tahu itu, Damis. Tapi aku juga tak bisa membiarkan kau ataupun Reven menikahinya.”
Mataku melebar, menikahinya? Aku??
“Apa maksudmu Dev!!” raung Damis untuk pertama kalinya terlihat benar-benar marah. Kemarahan yang berbeda ketika dia bertengkar dengan Lyra. “Kau…”
“Aku yang akan menikahi Sherena.”
“Tutup mulutmu.” Damis berteriak mengerikan dan dengan begitu cepatnya telah berada di depan kami dan merengut kerah pakaian Dev, “Kuharap kau hanya bercanda dengan ucapanmu tadi.” Dia bicara dengan geraman rendah penuh ancaman. Begitu mengerikan.
Aku tidak tahu apa yang terjadi denganku. Aku dan semua pikiranku menginginkan tubuhku membantu Dev tapi tidak ada yang terjadi ketika aku ingin tanganku memukul Damis. Ada yang salah dalam tubuhku, aku merasa sesuatu yang lain telah menguasai dan mengontrol tubuhku. Aku terpaku diam di samping Dev
“Aku tidak bercanda Damis, dan kau tahu itu.”
“Dasar Bodoh!!” Damis melemparkan tubuh Dev dengan kekuatannya hingga Dev menghantam pepohonan di belakangnya, beberapa pohon langsung rubuh seketika. Aku memekik meneriakan nama Dev.
“Kau tahu kau sudah lancang Dev. Kau tahu harusnya kau tidak mengatakan hal seperti itu.”
Dev bangun dengan susah payah, “Aku tahu..”
“Tapi aku juga tidak bisa menyerahkannya dengan begitu saja padamu. Aku akan mempertahankannya di sampingku.”
Dev.. aku seperti mau menangis, entah bagaimana semua perasaan sukaku pada Dev seperti kembali dengan bersamaan. Utuh seperti beberapa bulan lalu ketika mendengar dia mengatakan itu.
“Kau berada dalam pilihan yang salah.”desis Damis berjalan sangat perlahan ke arah Dev. Matanya yang menghitam menatap Dev tanpa kedip. Dia mengeram kesal ketika Lyra telah ada di depannya.
“Biar aku yang menyelesaikan ini denganya.”
Damis mengamati Lyra, “Kau takut aku membunuhnya?” aku melihat taring Damis memanjang ketika dia mengatakan itu.
Lyra tak menjawab.
Dev menyentuh dadanya dan dengan tangan satunya dia menyentuh Lyra. Memaksa perempuan itu menyingkir darinya dan Damis, “Kau tidak usah ikut campur.” katanya kasar.
Aku memekik ketika entah bagaimana Lyra justru menyerang Dev bersamaan dengan Damis.
Ini tidak adil, mereka mengeroyok Dev yang sudah kelelahan.
Aku mengumpat, memaki,  menyadari cuma mulutku yang menurutiku karena semua organ tubuhku membangkang. Kakiku bahkan tak mau melangkah selangkahpun ketika aku ingin berlari membantu Dev dengan semua kemampuan bertarung yang kumiliki.
Sial!!
Apa yang seseungguhnya terjadi dengan tubuhku. Aku yakin Damis ataupun Lyra melakukan sesuatu yang tidak kutahu apa dan membuatku membeku disini. “Dev..!!”teriakku frustasi melihat Dev yang kini tersungkur tak berdaya di depan  Damis dan Lyra. Matanya berpendar marah, dan jujur aku tak menyukai mata Dev yang berwarna hitam dan seperti itu. Dia terlihat menakutkan.
“Kau bisa urus perempuan itu sekarang Damis, dia sudah tidak akan bisa melawan kita lagi.”
Damis mengangguk mendengar ucapan Lyra, dia kini berbalik menghampiriku.
“Ja-jangan be.. berani-berani menyentuhnya.” raung Dev marah, tapi aku pun tahu Dev sudah tak akan bisa melawan lagi. Keadaannya terlalu buruk, aku takut jika Dev terus melawan, mereka justru akan membunuhnya. “Apa yang mau kau lakukan?” Teriakku pada Damis begitu dia tepat ada di depanku
Dia tersenyum, “Maafkan aku Sherena..” dan dia menyentuh tengkukku. Aku tidak tahu apa yang dia lakukan kepadaku tapi aku merasa dingin. Kepalaku tiba-tiba berdenyut menyakitkan. Penglihatanku menjadi tidak jelas.
“Rena..!!! Kau tidak boleh membawanya pergi!!” teriak Dev yang telah beringsut bangun dan berusaha berlari ke arahku, tapi tertahan oleh Lyra.
“Berhenti menambah hal bodoh yang telah kau lakukan,Dev. Kau tahu kau sudah dalam posisi sulit sekarang.” Kata Lyra dengan jengkel.
”Dev…”
“Re-”
Suara mereka menghilang, dan penglihatanku makin kacau. Tak jelas. Pelan-pelan menghitam. Tak sampai tiga detik aku merasa lemas. Jatuh. Pingsan

Mau Baca Lainnya?

6 Comments

  1. hey and thanks for this interesting article. I can understand your position. Nice blog, and this has been very enlightening for me. thanks again.

  2. Oh my goodness! It is like you read my mind! You seem to know so much about this, just like you wrote the book in it or something. I think that you could do with some pics to drive the content home a bit, besides that, this is helpful blog post. A outstanding read. I will certainly return again.

Leave a Reply

Your email address will not be published.