Half Vampire – Tanggung Jawab

 

Aku memandang cahaya matahari yang bersinar sangat lemah di luar sana melalui jendela di ruanganku. Kabut mengantung tipis dan udara berhembus sangat dingin. Aku mengeratkkan baju hangat yang kukenakan. Aku mengerti kenapa klan vampir memilih tempat ini sebagai pusat kontrol kelompok mereka. Aku tahu tempat ini mungkin tidak cocok untukku. Aku suka sinar matahari. Aku suka berlari-lari di bawah pancaran cahaya hangat matahari pagi, aku suka berkuda di cuaca yang cerah, aku suka membawa Cora jalan-jalan di bawah langit biru. Tapi disini, lihat saja bagaimana. Dingin, lembab dan berkabut.

Aku menyentuh kayu jendela kamarku yang bahkan masih berembun.

“Sherena…”

Aku menoleh cepat dan mendapati Rosse di seberang ruanganku. Bagaimana dia bisa ada disitu sementara aku tidak mendengar suara pintu yang terbuka, “Mau jalan-jalan keluar?” lanjutnya.

Aku mengangguk dengan bersemangat dan beberapa saat kemudian kami sudah berjalan pelan di luar kastil, melewati rerumputan yang masih basah sisa hujan yang turun semalam.

“Jadi, apakah Damis sudah menceritakan tentang Noura padamu?” tanya Rosse tanpa menghentikan langkahnya yang anggun melewati taman yang menurutku sangat jauh berbeda untuk ukuran taman di kerajaanku sebelumnya. Selain itu, tempat ini lebih indah. Penuh bunga dan tanaman-tanaman cantik yang tidak kutahu namanya, dan tumbuh rimbun.

“Ya, tapi terlalu sedikit. Hanya seperti pararaf-paragraf pembuka untuk sebuah cerita panjang.” Jelasku.

“Paragraf-paragraf pembuka ya?”

Aku mengangguk, “Aku merasa sesuatu tentang Noura bukan hanya sekedar apa yang diceritakan Damis padaku. Masih terlalu banyak yang tidak kuketahui tentang Noura.”

Rosse diam, tak menanggapi. Berhenti dan duduk di kursi kayu tua di taman ini. Aku melangkah, mengikutinya dan duduk di sampingnya. “Yah, Memang cukup banyak yang tidak kau ketahui tentang Noura. Dan aku sudah berjanji padamu akan menjawab semua pertanyaanmu. Kurasa kita bisa memulainya dari sekarang.”

Kedua sudut bibirku tertarik ke atas, membentu senyum yang kentara “Jadi seperti apa perempuan itu sebenarnya?” tanyaku bersemangat. Aku sudah mendengar pendapat Damis tentang Noura dan sekarang aku ingin mendengar pendapat Rosse.

“Dia yang terbaik. Ketika itu aku merasa beruntung bahwa dialah calon ratu berikutnya. Dia cerdas dan terampil juga sangat ceria. Terlalu ceria untuk kebanyakan kami. Dan sifat-sifatnya unik. Berbeda, seperti misalnya bahwa dia terlalu bersemangat dengan urusan manusia serigala.” Entah kenapa aku mendengar nada tidak suka dari suara Rosse. “Sayang sekali kalau mengingat hal itu justru membawanya pada kejadian-kejadian buruk. Tapi Noura sangat sulit di hentikan untuk yang satu ini. Bahkan Reven pun tidak dapat membuatnya berhenti melakukan hal-hal konyol yang lebih senang disebutnya dengan “memperbaiki hubungan klan vampir dengan manusia srigala”.”

Aku mengernyitkan dahiku mendengar nama Reven, “Bahkan Reven sekalipun?”

Rosse mengangguk, “Ya, Noura sangat keras kepala.”

“Lalu apa itu juga yang membuatnya terbunuh?”

“Belum Sherena..” selanya, “Belum mencapai bagian itu. Dengarkan dulu.”

Aku menyerah untuk terus berusaha menggali topik ini.

Rosse melanjutkan dengan suaranya yang lembut, “Vlad tidak menyukai usaha Noura untuk memperbaiki hubungan kami dengan para manusia serigala. Vlad meminta Noura menghentikan apapun yang tengah dilakukannya. Vlad pemimpin kami, jadi dengan berat hati Noura menurutinya. Dia menghormati Vlad sama seperti kami semua.”

Aku tidak tahu kenapa, tapi tiba-tiba wajah pucat Rosse nampak muram, “Aku tidak tahu bagaiman mereka bisa mengetahui tentang calon ratu. Padahal hal itu telah menjadi rahasia kami selama nyaris beratus-ratus tahun lamanya.”

“Mereka?”

Rosse menoleh, memandangku, “Manusia, para manusia serigala dan semua makhluk yang terlibat dengan kami.” Rosse tidak memandangku lagi ketika dia melanjutkan ceritanya, “Sejak saat itu kami tahu dia tidak aman. Kami sadar dia terancam. Terlalu banyak musuh yang menginginkan kehancuran kelompok kami. Dan mereka tahu membunuh Noura adalah langkah awal yang baik.”

Perutku terasa mual saat mendengar Rosse mengatakan “mereka”, jelas terdengar kebencian disana. Bagaimana pun juga aku pernah atau bahkan masih menjadi bagian dari “mereka”, mengingat aku juga masih manusia sekarang.

“Tapi sulit melindungi Noura karena dia juga tidak terlalu suka berada dalam pengawasan dan perlindungan yang berlebihan. Dia terlalu menyukai kebebasan. Dia selalu menemukan cara bagaimana menyelinap dan menghindar dari pengawasan kami.”

Sepertinya Rosse sudah sampai pada cerita bagaiman sampai Noura bisa terbunuh dan aku mulai kurang nyaman. Bagaimana pun juga aku belum melupakan bagaimana pendapat Dev, bahwa mungkin saja aku yang telah membunuh Noura.

“Dia sangat menikmati bagaimana kami kebingungan mencarinya. Dia selalu suka berlari menjauh dari kami dan berjalan-jalan sendirian. Dia tidak pernah tahu bahwa itu membahayakannya.”

Tiba-tiba aku membayangkan sosok Noura, dan entah bagaimana aku merasa terpesona sendiri dengan sosok yang kubayangkan dalam kepalaku. “Apa menurutmu Noura cantik, Rosse?” aku tahu ini pertanyaan yang bodoh. Aku sudah jelas tahu apa jawabanya. Tidak ada vampire yang tidak begitu menawan, mereka terlalu menawan.

“Ya, sangat cantik. Tapi kau juga secantik dia, Sherena” tambah Rosse membuat pipiku bersemu merah. Aku menggumamkan ucapan terima kasih yang tidak jelas. Aku masih merasa malu Rosse memujiku seperti itu.

Kami memandang ke langit ketika tetes-tetes kecil air membasahi wajahku.

“Sepertinya cukup untuk hari ini, Sherena, kita kembali ke kastil sekarang atau kau lebih suka berada di bawah hujan dan basah kuyup.”

Aku bangkit, mengikuti Rosse yang telah lebih dulu berdiri, “Aku lebih suka kering.” sahutku yang membuatnya tersenyum. Mengerti maksudku. Kami berjalan kembali ke kastil dengan cepat. Cepat menurut ukuranku yang masih berkemampuan sebagai manusia dan mungkin sangat lambat bagi Rosse. Tapi dia dengan senang menjajari setiap langkahku.

***

Hujan turun terus menerus dan membuatku kesal dan bosan. Aku ingin berjalan-jalan dan berbincang dengan Rosse di luar kastil. Tapi sepertinya akan sangat sulit dengan kondisi cuaca seburuk ini. Selain itu, sejak obrolan ringan kami pagi tadi,  Rosse mengatakan bahwa dia akan meninggalkanku selama beberapa hari. Wajahnya penuh penyesalan karena harus pergi, beberapa kali Rosse meminta maaf padaku. Aku mengiyakan dengan senyum terkembang. Aku tahu dia mempunyai urusan yang cukup penting dengan membaca kekhawatiran di matanya.

Sebenarnya Rosse mengatakan aku boleh berkeliling kastil ini. Tapi dia melarangku memasuki beberapa ruangan di lantai tiga atau sebaiknya jangan ke tempat itu. Itu adalah ruangan pribadi Vlad, katanya. Dan Vlad tak menyukai siapa pun datang ke ruangannya tanpa izin darinya. Aku mengangguk patuh, lagipula aku tidak berminat melakukan apapun yang membuatku harus bertatap muka dan bicara dengan Vlad. Aku tidak suka berada di dekatnya karena auranya yang tidak membuatku nyaman.

Aku tidak menemukan siapa pun di kastil ini sepeninggal Rosse. Tempat ini terlalu sepi dan mencekam untuk disebut istana. Sangat bertolak belakang dengan keadaan istana kerajaan klan manusia yang dulu sering kukunjungi. Istana disana terang, selalu di penuhi orang-orang dan agak berisik menurutku. Tapi disini, tidak ada penjaga. Tidak ada slayer atau heta yang keluar masuk istana, bahkan sama sekali tak terlihat keberadaan para pelayan yang biasanya memenuhi istana klan manusia.

Kastil ini pun juga agak gelap, arsitektur dinding dan desain ruangannya adalah jenis yang hanya akan ditemukan di bangunan bangunan bersejarah. Sangat indah dan tua. Aku mengeratkan baju hangat dari rajutan benang wol yang kupakai ketika aku merasa hawa di kastil ini justru semakin dingin daripada di luar. Aku masih bisa mendengar suara hujan yang nampaknya turun makin deras di luar sana ketika aku melewati jendela-jendela tinggi dengan kacanya yang buram.

Kesendirian ini menyebalkan. Aku tidak terbiasa sendirian. Biasanya selalu ada Ar atau Dev. Aku menepis pikiran tentang mereka. Tidak, mengingat mereka membuatku merasa ingin pergi daari tempat ini tapi aku tahu aku tidak boleh pergi. Entahlah kenapa, tapi itu yang aku rasakan. Seolah-olah ada yang memaksa diriku untuk tetap tinggal di tempat ini dan aku tidak bisa menolaknya.

Aku berjalan ke arah ruangan terdekat yang ada di sekitarku, menyentuh daun pintu ruangan tersebut. Rosse sudah mengizinkanku berkeliling dalam artian tentu saja dimana aku boleh memasuki ruangan-ruangan yang ada. Lagipula ini masih di lantai satu bukan lantai tiga tempat ruangan pribadi Vlad berada.

Rak-rak tinggi yang di penuhi buku buku menyambutku begitu pintu ini terbuka. Mungkin ruangan ini semacam perpustakaan kecil. Aku melangkah masuk dan senang mendapati kalau ruangan ini cukup hangat. Jari-jariku menelusuri buku-buku yang tersusun rapi. Aku berhenti, beralih mengamati ruangan ini. Selain rak-rak buku, aku juga melihat kursi-kursi berlengan ada disalah satu sudut ruangan, menghadap ke perapian yang sayangnya tanpa api. Ada meja persegi yang tidak begitu lebar berada di dekat salah satu kursi berlengan tersebut, beberapa buku nampak tertumpuk di atasnya. Sepertinya itu buku-buku yang telah dibaca namun belum sempat dikembalikan ke raknya. Aku melangkah mendekat kesana, mengambil beberapa buku dari atas meja dan membaca judulnya. Kebanyakan berupa buku-buku tentang rasku, manusia. Jadi selama ini mereka juga mempelajari kami.

Aku meletakkan buku itu dan membaca judul lainnya, satu buku yang paling tebal dan paling usang dari yang lainnya menarik perhatianku. Aku mengambilnya dan membawanya, duduk di kursi yang paling dekat denganku. Beberapa kali aku menelan ludahku membaca kalimat-kalimat pembuka buku ini. Aku bergidik dan langsung menutup buku itu. Menaruhnya kembali ke atas meja. Aku tidak akan membaca yang seperti itu lagi.

“Sepertinya memang lebih baik tidak membaca yang itu. Pertumpahan darah selalu tidak menyenangkan untuk dibaca.”

Kepalaku bergerak cepat menoleh ke asal suara tersebut, dan mendapati Russel sudah berdiri di depan pintu ruangan yang masih tertutup. Nampaknya para vampir mempunyai keahlian lain untuk masuk ke sebuah ruangan tanpa disadari oleh orang lain, Rosse juga melakukan hal itu tadi pagi saat dia masuk ke kamarku.

“Aku hanya..”

Russel bergerak maju, mendekat “Tidak apa-apa. Kau bebas membaca buku apa pun yang memang ingin kau baca, Rena.” suaranya terdengar bersahabat.

“Aku tidak tahu kau suka membaca.” komentarnya kemudian saat dia sudah berada dalam jarak yang cukup dekat denganku.

“Well, kau memang belum tahu terlalu banyak tentangku.” Aku mencoba tersenyum, lalu kembali memilih buku-buku yang ada di atas meja.

“Aku tahu.” Tukasnya yang membuatku menoleh memandangnya, penasaran. Apa yang dia ketahui tentangku.

“Kau Sherena Audreista, seorang manusia yang entah bagaimana bisa menjadi seorang calon ratu bagi klanku.” Lanjutnya kemudian. Kedua alisku terangkat. Jadi hanya itu, pikirku lega. Aku sudah berpikir macam-macam tadi, ”Ya, dan kau adalah salah satu calon pemimpin klan vampir bukan.” timpalku.

“Sayangnya kau salah.”

“Salah ??” kedua alisku bertaut memandangnya. Dia menghindar untuk menatap mataku. Dia justru melangkah menjauh dengan gerak tubuh yang memikat. Duduk di kursi yang berada paling dekat dengan perapian. Secara naluriah aku mengikutinya. Memilih duduk di kursi lain di depannya. “Apa maksudmu dengan sayangnya kau salah.” tanyaku memburunya. “Bukankah kau juga salah satu dari calon penerus kelompok ini, seperti Damis.”

Matanya yang anehnya kali ini berwarna coklat, mirip seperti milik Arshel tapi lebih gelap, menatapku. Aku tak dapat menebak apapun dari sorot mata tersebut.“Kau salah pada semua yang telah kau katakan.”dia berhenti hanya sekedar untuk mengalihkan tatapannya ke perapian, “Setidaknya aku memang bagian dari pusat klan ini. Tapi sayangnya aku tidak mendapat kehormatan untuk menjadi salah satu penerus.”

Aku tidak begitu mengerti dengan apa yang di ucapkannya, tapi aku tidak ingin menyela. Jadi aku menunggu dia melanjutkan. “Meskipun Rosse memperlakukanku sama seperti dia memperlakukan Reven maupun Damis tapi tetap tak mengubah kenyataan bahwa aku bukan salah satu dari penerus yang terpilih. Meskipun dia yang telah menciptakanku.”

Kalimat terakhirnya mengambang, dan aku benci dibuat tidak mengerti dan penasaran begini. Jadi aku bertanya ketika dia sepertinya tidak ingin menjelaskan apa maksud ucapannya. “Apa yang kau maksud dengan Rosse yang mencip… Oh tidak.” Aku menggeleng, menyadari pikiran yang tiba-tiba terbersit di kepalaku.

Matanya menelitiku sebelum bicara pelan namun cukup jelas untuk kudengar. “Ya, aku memang bukan vampir origin. Aku tidak sama dengan Reven atau Damis yang alami sejak awal seperti itu. Aku sudah tidak ingat bagaimana dengan kehidupan manusiaku tapi aku merasa lega untuk hal ini. Dari mata Rosse aku bisa membaca kalau kehidupan tersebut bukan jenis kehidupan yang baik untuk diingat. Rosse menyelamatkanku ketika tidak ada lagi pilihan bagiku selain kematian. Dia membawaku pada kehidupannya. Dan aku tidak menyesali hal tersebut.”

“Apakah sakit?”

“Apa ??” kening Russel berkerut, tidak memahami maksud pertanyaanku.

“Proses transisinya, apakah sakit?” ulangku, “Saat di pelatihan heta aku mendapatkan pengetahuan bahwa proses perubahan menjadi vampir bagi seorang manusia sangat menyakitkan. Kebanyakan hanya bertahan beberapa hari sebelum tewas.”

Matanya kembali memandang perapian, “Itu hari-hari terburuk yang pernah aku jalani.” ungkapnya pelan.

“Apakah aku juga akan mengalami hal itu?” tanyaku takut. Membayangkan diriku berteriak histeris karena kesakitan yang teramat sangat membuatku muram. Aku tidak menyukai kemungkinan itu.

Russel mengamatiku, menyadari ketakutan yang tergambar jelas di wajahku, ”Tidak, tidak akan sesakit itu.” hiburnya menyentuh lenganku.

Aku tidak tahu bagaimana dia yang detik sebelumnya masih duduk di depanku sudah ada di sampingku. Sentuhan tangannya yang dingin membuatku entah bagaimana merasa agak tenang, “Kau berbeda, kau bukan manusia yang akan berubah menjadi vampir karena darahmu yang terkontaminasi. Tapi tentang jiwa, aku yakin itu akan lebih mudah. Bukankah sejauh ini kau tidak merasakan sesuatu yang membuatmu tidak nyaman karena kau separuh vampir?”

Aku mengangguk, ”Aku cuma merasa belum siap.”

“Tidak akan secepat itu kurasa. Lagipua tidak akan ada yang siap jika mengalami takdir sepertimu. Percayalah.” Dia bangkit, aku mendongak memandangnya, ”Dan kurasa, kau cukup baik untuk mengantikan posisi Noura.”

Aku melihat senyum menghiasi wajahnya, “Aku harus pergi dulu, Rena.” katanya singkat sebelum tiba-tiba sudah berada di dekat pintu ruangan ini, menyentuh daun pintu lalu menatapku,”Selamat membaca” katanya sebelum membuka pintu dan menghilang di balik pintu yang kemudia tertutup kembali.

Aku masih  memandang pintu itu dalam diam bermenit-menit sesudahnya. Russel cukup bersahabat juga rupanya. Senang mengetahui kalau ada banyak vampir yang cukup ramah dan menerima keberadaanku disini. Setidaknya aku tidak akan terlalu merasa sendirian, pikirku sebelum kembali bangkit meneliti rak-rak buku lagi untuk mencari buku yang menyenangkan untuk membaca.

 ***

Aku sangat jarang bertemu dengan Reven selama hampir seminggu lebih berada di kastil ini. Tapi aku juga tidak pernah benar-benar merasa sendirian selama Rosse tidak ada. Terkadang Russel atau Damis menemaniku berbincang sambil berjalan-jalan di dalam kastil atau sesekali di luar kastil saat cuaca cukup bagus, dalam artian hujan tidak turun. Tak jarang mereka berdua bersama-sama menemaniku berbincang-bincang tentang banyak hal tapi kami sama sekali tidak menyinggung hal sensitif seperti tentang Noura. Aku senang menyadari Russel ternyata bukan tipe pendiam seperti yang dulu kupikirkan tentangnya di makan malam pertama kami. Dia cukup ramah.

Aku menyambut pagi ini dengan tersenyum lebar. Ini hari yang cukup cerah, bahkan ada matahari di atas sana. Aku melangkah pelan di bawah sinar matahari yang sangat jarang bisa bersinar terang disini. Ini bahkan pertama kalinya aku melihat matahari benar-benar bersinar di tempat ini. Kuikat rambutku lumayan tinggi untuk membiarkan kehangatan sinar matahari membelai leherku.

Aku tidak boleh menyia-siakan cuaca sebagus ini. Jadi aku berjalan lumayan jauh dari kastil. Tapi bukan ke arah utara dimana terdapat hutan lebat melainkan ke arah selatan dimana aku kemarin melihat sesuatu yang menarik dari arah sana melalui jendela kamarku. Sesuatu seperti warna ungu yang tidak jelas.

Mata dan mulutku terbuka lebar begitu aku mencapai tempat itu. Di depanku terhampar padang bunga yang luas. Yang hanya didominasi oleh satu warna, ungu. Aku menunduk setelah lumayan lama terbengong mengagumi keindahan tempat ini. Aku duduk, mengamati bunga-bunga yang tingginya tidak lebih dari mata kakiku. Bunga ini mirip lavender tapi aku yakin ini bukan bunga lavender. Ini jenis yang lain, aku menundukkan kepalaku untuk mencium baunya tapi tidak tercium apa-apa disana. Bunga ini tak beraroma.

Namun itu sama sekali tidak mengurangi keindahan tempat ini dan aku tahu aku akan sering mengunjungi padang bunga ini. Sinar matahari membuat tempat ini menjadi lebih indah. Seperti melihat taman dari surga dengan kilauan yang mengagumkan.

Kepalaku reflek menoleh ke atas ketika aku merasa kehilangan kehangatan sinar matahari. Dan di atas sana. Awan hitam pekat tiba-tiba sudah menutupi matahari yang sepertinya baru sebentar singgah di tempat ini. Aku mengeluh menyadari kalau sebentar lagi hujan akan turun. Dan benar saja rintik-rintik kecil jatuh dari langit yang membasahi wajahku yang masih memandang ke atas.

Aku bangkit dan berlari-lari kecil ke kastil. Sekarang sudah bukan rintik-rintik kecil lagi melainkan butiran-butiran air yang cukup besar. Hujan makin deras. Sudah nyaris basah kuyup ketika aku mencapai kastil. Aku bejalan di lorong luar kastil yang terlindung dari hujan. Berhenti untuk melepas ikatan rambutku. Rambutku tergerai dan aku mengibaskannya seperti kucing yang mengibaskan bulu-bulunya yang basah.

Aku tidak suka pada perumpamaan yang baru saja kubuat. Mengelikan sekali membayangkan aku nampak seperti kucing, aku tertawa kecil membayangkan hal tersebut.

“Apa yang sedang kau tertawakan, Rena?”

Jantungku tercekat, suara itu. Aku sadar mengenal dengan baik suara milik siapa itu. Aku menoleh sangat pelan ke arah suara itu berasal. Tak mau berharap lebih pada apa yang akan aku kulihat nanti, tapi.. Disana. Dia berdiri. Tak jauh dariku dengan senyum lebar yang menghiasi wajahnya yang tampan. Aku terpaku masih tidak mempercayai apa yang kulihat. Aku berkedip beberapa kali mencoba meyakinkan diriku sendiri bahwa yang ada di depanku bukan hasil imajinasiku.

“Dev.“ ucapku menyebut namanya. Sangat pelan dan cenderung tidak mempercayai ucapanku sendiri. “Kaukah itu?”

Dia mengerutkan keningnya lalu tergelak menatap reaksiku, “Ya, tentu saja ini aku. Siapa lagi?” kali ini dia tersenyum lebar.

Nafasku tertahan bersamaan dengan merosotnya tubuhku. Terisak. Aku tidak tahu kenapa aku justru menangis melihatnya. Hanya saja, seperti merasakan banyak tangan-tangan aneh menekan dadaku. Membuatku kesulitan bernafas.

”Rena..Rena..“ panggilnya khawatir, dan dia sudah di depanku sekarang. “Kau kenapa? Apa yang salah?” tanyanya panik yang melihatku tiba-tiba sudah banjir air mata.

Aku mendongak memandang wajah putih pucatnya yang sarat kekhawatiran. Kedua tangannya yang sedingin es menyentuh pundakku. “Rena…” panggilnya lagi.

Kedua tangannya kini menangkup pipiku. Mengusap air mata yang masih jatuh satu-satu dari mataku dengan ibu jarinya. “Ada apa? Katakan padaku.” suaranya pelan, lembut memukauku dan membuat aku terisak makin keras. Aku sungguh tak bisa menguasai perasaanku sendiri.

“Ak-aku takut itu bukan kau. Aku takut apa yang ku ihat hanya khayalanku saja, Dev. Aku takut itu bukan kau.” suaraku parau.

Kedua matanya lembut menatapku sebelum dia memelukku. “Ini aku, Rena. Ini memang aku dan bukan khayalanmu.” bisiknya di telingaku. Dia melepaskan pelukannya dan aku terganggu oleh itu tapi apa yang dilakukan Dev selanjutnya megurungkan niatku untuk memprotes. Dev menunduk mencium keningku lalu bergerak turun ke mataku, “Jangan menangis lagi, kumohon.” bisiknya sebelum menyentuhkan bibirnya yang dingin ke bibirku..

“Aku begitu merindukanmu.” Dev berhenti menciumku. Tapi aku bahkan sudah tak sanggup menanggapi perkataannya. Perasaanku yang campur aduk membuatku kesulitan menngeluarkan kata-kata. Aku memandang Dev lekat-lekat sebelum menarik wajahnya mendekat. Membiarkan ciuman kami yang terhenti kembali berlanjut. Aku tak tahu apa-apa lagi kecuali suara hujan yang terdengar turun makin deras di belakang kami.

Aku tersentak kaget, merasakan tubuh Dev tertarik menjauh dengan sangat cepat. Tapi begitu mataku terbuka aku malah melihat Dev terlempar ke belakang dan menghantam dinding batu tak jauh di belakang kami dengan cukup keras. tak jauh di belakang kami dengan cukup keras. Dia menggeram marah kepada siapa pun yang telah melakukan itu kepadanya. Mataku mengitari tempat ini, mencari pemilik kekuatan yang melakukan itu terhadap kami.

Aku terpaku menatap sosok tegap yang berdiri di lorong kastil, hanya beberapa meter dari tempatku berada sekarang, “Reven.” bisikku gugup. Ini bukan hal yang baik.

Aku dan Dev bangkit perlahan begitu langkah Reven membawanya mendekat ke arah kami. Aku bergidik, ekspresinya datar tapi sorot matanya menakutkan. Nyaris benar-benar mirip seperti milik Vlad, merah. Dia sedang marah. Aku mengigit bibir bawahku. Merasa bersalah, aku tidak tahu kenapa justru itu yang kurasakan sekarang begitu Reven telah berada tepat di depan kami. Aku menunduk, menghindari tatapannya yang mengintimidasi kami, tapi Dev tidak. Dia balas menatap Reven, namun bukan seperti tatapan yang dia berikan pada Damis dulu di hutan. Aku merasa ada penyesalan disana. Apa Dev merasa bersalah karena menciumku?

“Reven, aku..”

“Aku tidak butuh penjelasanmu.”potong Reven tegas, “Kau membawa dirimu terlalu jauh, Deverend Corbis.” nada suaranya demikian rendah tapi sarat kemarahan. Aku menoleh pada Dev, mendapati raut muka Dev yang berubah aneh.

Setelah itu suasana benar-benar hening. Aku mendengar beberapa langkah kaki mendekat ke arah kami. Dari balik punggung Reven, aku bisa melihat Damis dan.. Lyra?? Dalam beberapa detik, mustahil sekali mereka sudah berada di samping Reven, tapi itulah yang terjadi. Aku mencoba membiasakan diriku dengan kecepatan yang di miliki oleh para vampir.

Kening Damis berkerut menatap Dev, lalu entah bagaimana tiba-tiba dia memandang Dev marah setelah beberapa detik melayangkan pandangan bertanya pada Reven. Aku tahu mereka telah saling berbicara dalam kemampuan yang tidak kuketahui.

“Beraninya kau..” desisnya marah.

Lyra menatapku lalu menggelengkan kepalanya, “Kenapa kau tidak bisa memahami apa yang sudah dijelaskan panjang lebar kepadamu, Dev.” Suaranya terdengar putus asa. Sungguh bertolak belakang dengan Lyra yang ku lihat di hutan dulu, seingatku dia tipe yang meledak-ledak.

Dev diam, aku tahu dia pun merasaka hal yang sama seperti yang kurasakan sekarang. Merasa dihakimi. Tapi aku tidak tahu kenapa Dev sama sekali tak menentang, dia seperti bukan Dev yang ku kenal. Aku pikir dia akan menentang semua argumen yang dikatakan mereka dan bersikeras mempertahankanku. Seperti yang dia lakukan di hutan waktu itu. Namun sekarang dia diam, terlalu diam. Dan aku, merasa sedikit kecewa.

“Ikutlah denganku, Corbis.” Kata Reven dengan demikian rsminya. Dev memandangku sekilas sebelum dia mengikuti Reven. Dia mencoba tersenyum menatapku, tapi gagal. “Sampai jumpa, Rena.” katanya pelan.

Aku hanya memandang punggungnya yang semakin menjauh tanpa bisa mengatakan apa pun padanya. Karena aku juga tidak tahu harus bicara apa, sementara Damis dan Lyra masih memandangku dengan tatapan seakan menyalahkan aku atas semua yang terjadi.

“Damis..” panggilku begitu Reven dan Dev benar-benar sudah pergi. “Apa salahnya?” tanyaku pelan. Aku entah bagaimana merasa Damis akan tetap bersikap baik padaku, dan aku memang tidak salah dalam hal ini. Damis menatapku dengan mata birunya yang masih berwarna agak kelam, “Kesalahan yang sangat besar, Rena.”

Lyra memandangku, rambutnya yang kebiru-biruan berkibar indah tertiup angin yang berhembus lumayan kencang ke arah kami. Tapi dia tak bicara apa pun. Dia hanya memandangku, “Sepertinya kalian harus bicara.” Dan tanpa memperdulikan kami dia memutar tubuhnya dan menjauh. Entah pergi kemana.

Damis melepaskan jubah yang dikenakannya yang memakaikannya ke tubuhku. Aku tidak sadar aku sedikit menggigil kedinginan. Bajuku masih agak basah. “Sebaiknya aku mengantarmu ke kamarmu dulu, Rena. Kau perlu pakaian baru.” sarannya yang langsung kuturuti.

Damis membawaku ke kamarku dalam diam, aku tidak protes meskipun ini cukup aneh bagiku. Damis selalu banyak bicara jika di sampingku. Tapi aku tahu, aku tidak akan memaksanya bicara. Aku masuk ke kamar mandi untuk menukar pakaian, Damis di dalam kamarku jadi aku tidak bisa berganti baju begitu saja di depannya,

Dia menoleh ketika aku keluar dari kamar mandi dengan baju yang kering dan lebih hangat. Aku berjalan mendekat padanya. “Aku minta maaf, Damis.” ucapku mengalir begitu saja. Aku sendiri cukup terkejut dengan apa yang kukatakan. Aku tidak punya alasan kenapa harus minta maaf. Tapi entah bagaimana sesuatu memaksaku untu berkata begitu.

“Rena, sudahkah kukatakan padamu tentang kewajibanmu sebagai pengganti calon ratu.” tukasnya mengabaikan permintaan maafku.

“Ada beberapa hal penting yang harus kau ketahui, jadi duduklah.” katanya sambil menunjuk ke tempat tidurku. Aku menurutinya, duduk di pinggiran tempat tidurku yang empuk, sementara dia tetap berdiri. Tidak memandangku melainkan menatap lurus ke luar melalui jendela kamarku.

“Jangan membiarkan dirimu jatuh cinta dengan orang lain.” Damis tak memberiku kesempatan untuk bertanya ketika dia melanjutkan, ”Meskipun terdengar egois tapi kau hanya boleh memberikan perasaanmu kepadaku atau Reven.” Kata Damis tegas.

Aku memutar kedua bola mataku, apa maksudnya ini. “Tap..”

“Itu takdirmu Rena. Kau adalah pengganti calon ratu. Jadi kumohon, hentikan sekarang. Hentikan perasaan apapun yang kau miliki pada Dev. Sebelum segala sesuatunya memburuk.” Baru kali ini aku mendengar nada suara yang  putus asa dan gelisah keluar dari mulut Damis.

Dia berbalik, memandangku, “Lakukan itu Rena. Setidaknya patuhilah aturannya. Jangan melakukan hal-hal seperti itu lagi.”

“Hal-hal apa?” aku mencoba menghadapi ketidakpahamanku oleh apapun yang telah Damis katakan.

“Ciuman itu menyakiti kami.” katanya mengakui.

Dan bagaimana bisa, ketika Damis bicara seperti itu. Aku benar-benar merasakan gelombang penyesalan memenuhi dadaku. Padahal aku tak mengerti, aku sama sekali tak memahami apa yang telah dikatakan Damis padaku, kalimat-kalimat yang di ucapkannya membuat keningku berkerut. “Kami?” tanyaku lirih.

“Ya, aku dan Reven. Tidakkah kau menyadari bagaimana sikap Reven tadi ?”

“Dia hanya terlihat mengerikan.”

Damis menggeleng, “Bukan itu Rena. Mungkin kau tidak akan bisa memahaminya dengan mudah tapi intinya kami mempunyai ikatan pada calon ratu kami. Sebuah ikatan yang membuat kami merasakan apa pun yang terjadi padanya. Lebih kuat lagi ketika calon ratu tersebut telah menentukan siapa. Kami merasakan jiwa kami sakit ketika kau melakukan hal itu dengan penuh perasaan bersama Dev. Setidaknya tidak terlalu menyiksa karena kau belum memilih, Rena.”

Aku sadar Damis menghindari kata “berciuman”. Apakah hanya dengan mengatakan itu dia juga merasa sakit. Apakah Damis cemburu. Aku menepis pikiran itu. Tidak, mungkin cuma karena ikatan yang baru saja Damis katakan kepadaku.

“Aku tidak mengerti.”

Damis melangkah maju, duduk di sampingku. “Kau menghancurkan kami kalau kau mengkhianati takdirmu.” bisiknya lirih di telingaku.

Aku menoleh cepat, mencari kebenaran dalam matanya. Dan aku tahu dia tidak berbohong. “Calon ratu sangat penting bagi klan kami, Rena. Ketika Noura mati, ketakutan besar menyerang kami. Kekuatan kami melemah. Vlad berusaha melakukan apa pun yang dia bisa untuk mengatasi keadaan terburuk ini. Tidak pernah aku melihat ketua kelompok dari berbagai penjuru dunia berkumpul selengkap itu di kastil ini sejak beratus-ratus tahun yang lalu. Dan kami merasa lebih dari sekedar lega ketika Illys mengatakan akan ada penggantinya, akan ada perempuan lain yang memiliki jiwa Noura. Meskipun Illys mengatakan perempuan itu bukanlah berasal dari ras yang sama dengan kami.” dia memandangku ketika mengatakan itu. Aku tahu dia sedang membicarakanku.

“Kami mencarinya selama berbulan-bulan, menangkap beberapa manusia dengan putus asa karena menyadari kami harus cepat. Kami harus mendapatkanya lebih dahulu sebelum para manusia atau malah manusia serigala menyadarinya.” Dia berhenti untuk memandangku lagi, “Lalu Reven menemukanmu di hutan. Meskipun dia tidak membawamu tapi kami sangat senang mengetahui bahwa Illys benar. Kami memiliki harapan meskipun Reven bilang kau tak cukup pantas menerima kehormatan seorang calon ratu.”

 “Jadi Rena, mengertilah. Jalanilah apa yang kini menjadi takdirmu. Kumohon.” katanya akhirnya. Kami duduk berdampingan selama beberapa saat tanpa bicara apapun.

Aku tidak tahu bahwa tanggung jawabku begitu besar. Aku tidak tahu kalau aku harus menghadapi hal seperti ini. Perasaanku pada Dev telah ada bahkan sebelum Noura mati. Bagaimana bisa, memaksakan bahwa aku menyukai mereka. Damis, mungkin. Tapi Reven, aku menghela nafas panjang. Dia bahkan menunjukan sikap bahwa dia tidak menyukaiku sejak awal. Dia seperti membangun pembatas diantara kami. Mendadak aku menyadari sesuatu.

“Damis..”

“Ya.”

“Apakah Noura sudah memilih siapa?”

Damis menatapku, meneliti. Sebelum akhirnya dia mengangguk, “Cukup yakin untuk menentukannya.”

“Lalu siapa. Kau??”

“Bukan. REVEN”

 ***

Aku tahu aku telah melakukan kesalahan karena berciuman dengan Dev. Aku pun tahu kalau Rosse juga telah mendengar tentang kejadian itu. Dia dengan jelas menunjukan ketidaksukaannya terhadap apa yang telah kulakukan. Tapi Rosse sama sekali tidak mengatakannya. Vlad belum kembali, dan kuharapkan dia tidak perlu tahu tentang hal ini. Sungguh tidak bisa kubayangkan bagaimana atau apa yang akan Vlad lakukan dan katakan kalau dia mendengarnya. Dan aku benci mengakui kalau aku takut padanya

Perasaanku bergolak aneh sejak Damis menceritakan banyak hal padaku kemarin. Sesuatu seperti bangkit dalam diriku dan aku merasakan penyesalan yang lebih besar lagi meremas-remas jantungku. Menimbulkan rasa sakit yang menganggu, terlebih ketika aku melihat Reven. Dia mengabaikanku sejauh ini. Sama sekali tidak menganggapku ada.

Memang biasa dia melakukan itu padaku. Tapi entah kenapa aku merasa kalau lama-kelamaan aku merasa tidak ingin di abaikan olehnya. Aku ingin bicara dengannya, tapi aku merasa gugup dan takut untuk memulai. Aku mendekati Rosse ketika kami hanya berdua saja di ruang makan, selalu hanya aku yang makan dan mereka menemani, “Rosse…” panggilku ragu-ragu ketika dia sudah akan beranjak meninggalkanku.

Dia menoleh memandangku,”Ya, Sherena.” katanya selembut biasanya namun aku yakin dia masih kecewa padaku.

“Bisakah kita bicara sebentar.” Pintaku.

Dia mendekat, duduk kembali ke kursi di sebelahku, “Tentu saja. Ada apa?”

Aku mendongak, memandangnya dan bicara, “Maafkan aku. Aku benar-benar tidak tahu kalau itu”

“Tidak apa-apa Sherena, meskipun kuakui aku agak kecewa dengan apa yang kau lakukan.” sahutnya memotong ucapanku. Jelas dia memahami arah pembicaraan kami.

“Ya, aku tau itu. Aku menyesal” akuku.

Dia mengelus lenganku sebentar, “Jangan melakukan hal itu lagi. Perasaanmu pada Deverend Corbis hanya sisa perasaanmu yang dulu. Perlahan Sherena, perasaan itu akan mengabur. Mencobalah lebih keras agar hal itu terjadi lebih cepat. Dan memilihlah ketika kau sudah yakin siapa yang harus kau pilih, dan hanya ada dua pilihan. Reven ATAU Damis.”

Aku menelan ludahku, cukup yakin kalau ini akan sangat sulit.

“Kau seorang heta bukan??”

Aku mengangguk, ini pertama kalinya Rosse menyinggung tentang diriku yang seorang heta sejak aku ada di tempat ini. “Kalau begitu apakah kau tidak merindukan kegiatan yang biasanya kau lakukan sebagai heta.”

Aku memandang Rosse tidak percaya. Kegiatan yang biasanya kulakukan sebagai heta yang tentu saja adalah menjaga keselamatan para anggota kerajaan. Dalam hal ini kami tentu saja menjalin hubungan yang “sangat tidak baik” dengan para makhluk pemangsa. Vampir tentu saja masuk dalam kategori itu.

Bagaimana mungkin Rosse menanyakan hal seperti itu. Apa dia mau aku berburu anggota klannya. Rosse sepertinya menyadari apa yang sedang kupikirkan karena dia nampak geli sebelum akhirnya mengusap lenganku dengan lembut.

“Kau bisa berlatih memanah mungkin supaya kau tidak terlalu jenuh disini.” Katanya kemudian.

Aku ber-ohh panjang. Menyadari pikiranku yang konyol, juga tidak menyalahkan kalau Rosse mungkin saja nanti menertawakan aku. “Kau bisa meminta Damis atau Reven menemanimu, Sherena.”

Aku menenggelengkan kepalaku, “Meminta Reven??” aku bergumam sangat pelan.

Rosse menepuk pundakku, “Reven bukan sosok yang harus kau takuti, Sherena.”

Aku memandang Rosse, mencoba menyelami apa yang dimaksudkannya. Aku tersenyum memahami makna perkataan Rosse. Aku tahu dia menginginkan aku untuk lebih berani bicara pada Reven. Aku mengangguk, yah mungkin aku harus mencoba untuk bicara dengan Reven.

Mau Baca Lainnya?

4 Comments

Leave a Reply

Your email address will not be published.