Half Vampire – Teka – Teki Baru

Morgan Feersel bukan seseorang yang angkuh dan dingin seperti Reven. Dia hangat, sangat baik dan bersahabat. Selama dua hari berturut-turut dia menemaniku berbincang saat pagi, siang dan malam ketika dia mengantarkan sup obat itu ke kamarku. Dia memaksaku untuk tetap di kamar, beristirahat, kecuali ketika aku akan ke kamar mandi. Itupun aku harus dibantu olehnya, karena rupanya kaki kiriku masih tidak bisa kugunakan untuk bergerak dengan benar. Aku berjanji akan membalas Lyra setelah semua ini selesai. Dia benar-benar berambisi membuatku terluka separah-parahnya dan sepertinya dia berhasil.
Aku beringsut bangun dari tempat tidurku bersamaan dengan Morgan yang masuk ke dalam kamarku. Begitu melihat aku sedang mencoba bangun, dia dengan sangat terburu berlari ke arahku. Mencoba membantuku bangun dan berdiri dengan benar.

“Aku tidak apa-apa. Aku harus belajar berdiri sendiri. Jika tidak aku akan seperti ini sepanjang hidupku.” Kataku keras sambil menyingkirkan tangannya dari pinggangku.
“Tap-“
“Aku tidak apa-apa.” Sahutku tegas dan dia diam. Hanya menatapku yang sedang berusaha dengan sangat keras untuk berdiri dengan tegak. Aku memegang tepian meja dengan erat ketika kakiku mendadak terasa sangat sakit.
“Sherinn..”
Aku mengangkat satu tanganku, melarangnya membantuku. “Aku baik-baik saja.”
Meski enggan, aku tahu dia menuruti permintaanku karena dia hanya diam. Menontonku selama bermenit-menit selanjutnya, tertatih-tatih melangkah. Meski sangat sulit, sakit dan lama. Aku bisa berjalan tanpa bantuannya. Dan ketika aku berjalan lagi, sampai ke kembali depannya, aku tersenyum lebar. “Lihatkan, aku bilang apa. Aku baik-baik saja.”
Morgan menampilkan ekspresi yang tidak dapat kuterjemahkan dengan baik, dia hanya menatapku dengan mata membulat, tidak berkata apapun padaku. Aku mengerucutkan bibirku, dia seharusnya menyelamatiku atau apalah. Aku sudah berusaha keras untuk melakukannya.
“Apa kau tidak melakukan pekerjaanmu di luar sana? Kenapa masih disini?” tanyaku sinis, masih sebal. Anehnya dia malah tersenyum lebar. Memandangiku. Sepertinya aku tahu salah satu hobinya, memandangiku.
“Kau mau pergi ke luar, Sherinn?”
Aku membelalak tak percaya, “Aku boleh keluar dari rumah ini?”
“Kau bukan tahanan di tempat ini, Sherinn. Tentu saja kau boleh keluar, jalan-jalan jika memang kau sudah cukup bisa untuk melakukannya.” Jawabnya sambil menatap kaki kiriku yang juga dibebat oleh kain. Kepalaku sudah tidak dibebat lagi, kurasa aku sudah baik-baik saja kecuali untuk kakiku. Aku menyambut tawarannya dengan sangat antusias. Aku sama sekali belum keluar dari kamar ini kecuali untuk ke kamar mandi. Jadi intinya, aku hanya tahu kamarku dan kamar mandi saja selama hampir lima hari berada di desa ini. Selama berbincang dengan Morgan pun kami tak membicarakan masalah penting, dia hanya menanyaiku tentang bagaimana aktifitasku sebagai heta bayaran, seperti apa tuanku dan macam-macam lain yang sama sekali tidak berhubungan dengan manusia serigala, vampir atau apapun. Aku juga belum berani bertanya tentang itu. Dia pasti curiga. Aku memang berniat melakukannya dengan lamban, kupikir itu lebih baik. Aku harus membangun kepercayaannya padaku dulu sebelum aku masuk lebih lanjut ke dalam kehidupannya. Reven pasti akan memarahiku karena tugas ini pasti lama, tapi mau bagaimana lagi. Itu yang terbaik yang bisa kulakukan.
Rumah milik Morgan Feersel ini rupanya cukup besar meski semua terbuat dari kayu dan beberapa lagi dari bambu yang disusun dengan baik. Aku memberengut kesal menyadari bahwa sepertinya kamarkulah yang merupakan bagian terburuk dari rumah ini. Bukannya aku menyukai kemewahan, tidak, aku hanya menyukai sesuatu yang ditata dengan indah dan rapi. Rumahku dulu juga kecil tapi ibu berhasil membuatnya indah dengan semua penataan perabotan rumah yang baik dan hiasan-hiasan yang dibuatnya sendiri.
Namun rumah ini sangat sepi, aku bahkan tidak menemui satu orang pun ketika aku berjalan dengan tertatih-tatih di samping Morgan yang dengan sabar menjajari langkahku. “Kenapa sepi sekali?” tanyaku sambil tetap berfokus pada langkahku.
“Siapa lagi? Hanya aku yang tinggal disini. Dan sekarang ditambah kau.”
Aku berhenti mendadak, menatap Morgan dengan tidak percaya, “Hanya aku dan kau?”
Morgan mengangguk, “Ya, aku dan kau, Sherinn.”
Aku menggeleng-gelengkan kepalaku, “Astaga-astaga. Hanya kita? Apakah orang-orang tidak-“
“Tidak, Sherinn.” Jawab Morgan mengerti kemana arah pembicaraanku. Aku menghela nafas lega, aku mempercayainya. Kulangkahkan kembali kakiku ke depan dan Morgan membuka pintu rumahnya perlahan. Cahaya matahari pagi menyeruak masuk dan aku melihat suasana desa yang lama kurindukan. Jika dulu aku tinggal di desa yang khas dengan bau apel, aku mencium bau gandum yang kuat disini.
Morgan menuntunku duduk di salah satu kursi kayu panjang yang ada di depan rumahnya. Beberapa orang melintas di jalanan di depan ruman Morgan, dan semuanya menyapanya dengan ramah, sesekali mereka melirikku dan tersenyum kecil tanpa berkata apa-apa.
“Ada apa dengan mereka?” tanyaku penasaran dan Morgan hanya mengangkat bahunya tanpa menjawab apa-apa. Aku mendengus kesal. Morgan ini sama sekali tidak bisa diharapkan.
Mendadak aku mendengar dia tertawa, “Aku suka ekspresimu itu.”
“Apa?”
Dia menggeleng dan mengabaikanku. Aku malas berdebat dan memilih menikmati pagi yang tidak terlalu sibuk di desa ini. Sementara mataku memandang lurus ke depan, aku memikirkan banyak hal di kepalaku. Akhirnya aku tahu kenapa ketika itu Vlad berkata bahwa aku tak lama lagi juga akan bisa memiliki kemampuan seperti para vampir. Rupanya aku memang sudah berubah. Namun kenapa justru pada darah, dan akupun juga menjadi separuh vampir karena jiwa. Noura? Nama itu masih penuh misteri bagi kehidupanku. Meski aku sama sekali tidak mengenalnya, sepertinya dia mengikatku kepada kehidupannya dengan sangat erat.
“Kau mengingatkanku dengan seseorang, Sherinn.”
Aku menoleh pelan, mendengarkan suara Morgan memecah keheningan diantara kami.
“Dia juga sepertimu. Bersemangat, penuh ekspresi. Benar-benar hidup.”
Keningku berkerut, “Aku memang hidup.”
Morgan tertawa, “Ya, ya aku tahu itu. Ini lebih seperti..” dia berhenti, mencari kosa kata yang pas dan ketika dia menemukannya, aku mendengar lagi suaranya, “..menghargai hidup.”
Aku diam, mencoba menelaah kata-kata Morgan. Terus terang aku tidak tahu kemana arah pembicaraannya. Namun aku tidak berminat mencari tahu, aku hanya kembali memandang ke depan. Kembali memikirkan nasibku sendiri. Mendadak aku teringat Ar. Kira-kira dimana dia sekarang? Ar bilang dia sudah keluar dari organisasi slayer, lalu apa saja yang dilakukannya selama ini? Ah, aku merindukan Ar.
Aku nyaris terlonjak kaget ketika mendadak lima ekor kuda yang dipacu kencang berhenti tepat di depan kami, lima penunggangnya meloncat dengan lincah dan langsung menghampiri kami setelah menyerahkan semua tali kekang kuda mereka pada satu orang  lainnya.
“Tuan Freesel. Ada berita penting yang perlu kami sampaikan, orang yang kita tugaskan untuk me-“ dia berhenti ketika menemukan wajahku yang juga memperhatikannya dengan serius sama seperti Morgan yang tanpa kuketahui telah memberi kode mata kepada mereka dengan melirik ke arahku.
“Ah, maaf.” Laki-laki yang tadi berbicara itu menunduk. Dan mundur, memberi kode kepada teman-temannya. Beberapa saat kemudian, aku hanya mendengar derap langkah kaki kuda meninggalkan halaman rumah Morgan.
Aku menoleh kepadanya, “Ada apa? Mereka siapa? Ken-?”
“Sherinn.” Panggil Morgan menghentikan ceceran pertanyaanku. “Sebaiknya kau kembali ke kamar. Aku harus pergi dulu, ada yang harus kuselesaikan.”
Aku menampilkan wajah protes, namun ketika mendadak Morgan bangun dan meraup tubuhku, mengendongku dengan kedua tangannya yang kuat, aku melupakan untuk protes dan malah menjerit-jerit terkejut, “AP-APA YANG KAU LAKUKAN? TURUNKAN! TURUNKAN AKU!!”
Tapi Morgan malah mengabaikanku, dan tetap menggendongku semakin erat di depan dadanya. “Aku tahu kau tidak akan menurut, jadi aku terpaksa melakukan ini demi kesembuhanmu. Sudah cukup latihan berjalannya untuk hari ini.”
Aku mendengar kikikan beberapa orang yang melintas di depan rumah Morgan. Aku menutup wajahku dan tetap memberontak dengan gigih. Apa yang sebenarnya ada di pikirannya?
***
“Bagaimana keadaan Rena?” Damis memandang desa kecil di kejauhan dengan penasaran. Matahari bersinar sangat terik dan dia menarik tudung jubahnya semakin ke depan, menutupi wajahnya. “Apa kita tidak bisa mendekat? Ini sudah lima hari sejak dia berangkat, aku mengkhawatirkannya.”
Reven tertawa sinis, “Seharusnya kau mengkhawatirkan keadaan Lyra daripada Sherena.”
Damis menoleh, meski di balik bayangan gelap tudungnya, ekspresi wajahnya menyiratkan sesuatu yang membuatnya membuang nafas dengan lelah, “Dia tidak akan suka melihatku.”
“Kalian seharusnya bisa berbaikan.”
“Aku tahu.” Damis menjawab singkat. Dia kembali memandang ke depan. Pikirannya sudah tidak lagi terpusat pada desa yang semula begitu antusias diperhatikannya. “Apa menurutmu aku akan diterima dengan baik jika pergi ke rumah keluarga Corbis dengan alasan melihat keadaan Lyra?”
Reven memandang Damis, “Kenapa tidak? Kau tidak bersalah apa-apa, kenapa mereka harus menolak kehadiranmu di rumah itu.”
“Kemarin mereka mungkin menerimaku dengan baik karena aku datang untuk menjemput Rosse, namun sekarang.” Damis menghela nafas panjang, “Aku merasa bersalah jika harus menghadapi Viona. Aku merasa lebih baik jika langsung berhadapan dengan Lyra yang akan memaki-makiku dan marah denganku. Hanya saja..” dia berhenti, melirik ke arah busur dan anak panah yang disandarkan rapi di akar pohon besar yang ada di dekat Reven. “Apa Sherena baik-baik saja?”
Reven tertawa pelan, menyadari bahwa Damis sengaja mengalihkan pembicaraan mereka. “Dia baik-baik saja. Aku tidak menyangka para serigala bodoh itu menerimanya dengan semudah itu di desa mereka. Bahkan membiarkan dia tinggal bersama Morgan Freesel di rumahnya.”
Damis menoleh cepat, “Bukankah Morgan tinggal sendirian di gubuknya itu?” mulutnya melebar, “Jangan bilang jika dia dan Sherena hanya tinggal berdua saja di tempat itu. Ini gila. Bagaimana jika serigala bodoh itu melakukan sesuatu kepada Sherena. Aku tidak bisa membiarkan ini, Rev.“
Tangan Reven menyentuh bahu Damis, “Tidak apa-apa. Sherena bisa menjaga dirinya sendiri. Lagipula dia tidak terluka terlalu parah ketika bertarung dengan Lyra.”
Alis Damis saling bertautan, “Kau yakin?”
Reven tidak berkata apa-apa, dan Damis menggelengkan kepalanya dengan frustasi, “Aku tidak mempercayaimu, Rev.”
***
Aku memegang dengan erat kayu-kayu bundar kecil yang digunakan untuk menjadi jendela di kamar ini, menampilkan kesan seperti jeruji dan aku terkurung di kamar ini. Aku tidak mengada-ada jika aku memang terkurung disini. Ini sudah pekan kedua dan aku sama sekali tidak keluar dari sini kecuali untuk ke kamar mandi. Aku sudah bisa berjalan seperti biasanya, tapi Morgan sama sekali tidak mengizinkanku keluar dari sini. Ketika dia pergi, dia akan mengunciku di dalam kamar kecil ini. Dan aku nyaris mati bosan karena semua ini. Para vampir memperlakukanku jauh lebih baik daripada ini. Aku tidak akan mempercayai kata-kata Morgan lagi, aku masih ingat dengan jelas bagaimana dia berkata bahwa aku boleh keluar kapan saja dari sini karena aku bukan tahanannya. Namun faktanya, aku terkurung disini.
Aku tidak berbalik ketika mendengar suara derit pintu yang terbuka. Mataku masih lurus memandang ke luar. Membiarkan udara pagi di pedesaan ini menerpa wajahku. Aku tidak bergerak sama sekali bahkan ketika mendengar suara mangkuk yang diletakkan di atas meja kayu.
“Sherinn.” Suara Morgan menguasai pendengaranku.
Tubuhku tidak bergerak. Aku marah padanya. Itu sudah jelas. Dia itu pembohong dan aku benci dibohongi. Kurasa lebih baik dia tidak berkata apapun dan langsung saja menggurungku seperti ini.
“Sudah lebih dari seminggu kau mendiamkanku. Apakah kau tidak lelah?”
Aku berbalik, “Aku mau ke kamar mandi.” Kataku dingin tanpa menatapnya.
Morgan menghela nafas, melangkah lebih dulu ke luar dan aku mengikutinya. Dia berhenti di depan kamar mandi di rumah ini dan membiarkan aku masuk ke dalam. Aku membasuh wajahku dengan air dan merasakan kesegaran yang membuatku lebih bersemangat.
Aku membuka pintu kamar mandi dan terkejut tidak mendapati Morgan ada di luar sana. Biasanya dia akan menungguiku dan diam di depan kamar mandi sampai aku selesai. Namun sekarang aku tidak melihatnya dimanapun. Aku melangkah ke ruang depan ketika aku mendengar suara-suara ribut di sana. Aku berhenti, bersembunyi di balik dinding kayu ketika melihat Morgan tengah berdebat dengan seorang laki-laki dewasa yang bertubuh tinggi kekar di ruang tamu rumah ini.
“Kau tidak bisa membiarkan perempuan itu tetap tinggal disini. Kau membahayakan kelompok jika bertindak egois seperti itu.” Teriak laki-laki itu.
“Kita tidak pelu mencurigainya. Bibi Muriel juga sudah meyakinkanmu jika dia memang manusia. Apa lagi sekarang?”
Itu suara Morgan, mereka membicarakanku? Aku merapatkan tubuhku ke dinding, mendengarkan dengan lebih fokus.
“Morgan, ayahmu memintamu ke tempat ini bersama kami untuk melakukan tugas yang sudah dibebankannya padamu. Dan aku juga punya tanggung jawab padanya untuk mengawasimu. Menjagamu agar kau tidak melakukan kesalahan lain seperti yang kau lakukan sebelumnya.”
“Paman..”
“Kau harus mendengarkan aku kali ini, Morgan. Kau terlalu baik pada perempuan dan itu kelemahanmu. Tidakkah kau dengar desas desus yang beredar di seluruh desa ini bahwa kau menyukai perempuan itu.”
Aku menutup mulutku dengan tangan tanpa suara, Morgan menyukai? Aneh sekali.
“Kau tidak perlu mendengarkan desas desus omong kosong seperti itu.” Bantah Morgan.
“Jika memang itu tidak benar, kenapa kau masih membiarkan dia tinggal di rumahmu?”
“Dia masih terluka, paman. Aku tidak bisa membiarkan dia pergi dalam keadaan seperti itu.”
“Omong kosong.” Suara laki-laki itu terdengar marah, “Muriel bilang perempuan itu sudah sembuh.”
Aku menahan nafas. Dia benar, aku sudah sembuh dan jika Morgan menyetujui permintaan laki-laki itu, bisa jadi aku harus pergi dari desa ini dan aku gagal. Aku tidak mendapatkan informasi apapun dan semua usaha yang dilakukan Reven dan Lyra untuk membawaku masuk ke desa ini akan menjadi sia-sia.
Morgan terdengar menghela nafas dengan berat, “Aku tidak akan membiarkan Sherinn pergi dari sini.”
“Jadi, nama perempuan itu Sherinn?”
“Ya. Dan paman yang harus mendengarkanku kali ini. Aku sudah berbicara cukup banyak dengan dia dan aku tahu dia tidak berbahaya bagi kita. Kau tidak perlu mencurigainya. Dia cuma seorang heta bayaran dan aku percaya padanya. “
“Mor-“
“Aku pemimpinnya disini. Dan paman harus menghargai keputusanku.”
Laki-laki itu mendengus keras, “Kau memang tidak bisa diandalkan. Tidakkah kau masih ingat bagaimana perempuan bernama Noura itu membawa kesulitan bagi kita. Dia vampir dan kita semua tidak menyadarinya hanya karena dia tidak tercium seperti kaum penghisap darah itu. Harusnya kau belajar dari pengamalan, heh.”
“Berhenti berbicara tentang Noura dengan seperti itu paman.” Suara Morgan meninggi dan jantungku tercekat. Noura? Mereka berdua menyebut nama Noura? Apa ini Noura yang sama? Aku gemetar, apa hubungannya para manusia serigala ini dengan Noura?
“Aku memang berbuat kesalahan ketika itu, tapi aku tidak menyesalinya. Noura tidak melakukan apapun pada bangsa kita. Dia hanya mencoba bersahabat dan semua penduduk disini menyukainya, tak terkecuali paman. Tapi semua berubah hanya karena kalian tahu dia vampir.”
Brakk
Aku mendengar suara sesuatu yang dipukul dengan keras dan aku semakin merapat ke dinding. Berusaha sebisa mungkin tidak menimbulkan suara apapun.
“Tutup mulutmu anak muda. Bagaimana kau bisa berkata segampang itu tentang vampir. Iblis penghisap darah itu tidak akan pernah menjadi makhluk yang baik. Mereka kaum barbar dan musuh kita. Selamanya musuh kita. Kau harus ingat itu.”
“Aku tahu itu paman. Tapi No-“
“Aku tidak mau mendengar apa-apa lagi tentang vampir perempuan itu.”
Pintu rumah Morgan terbanting menutup dan aku tahu seseorang telah pergi, aku masih membeku. Belum menguasai diriku sendiri atas apa yang aku dengar ketika mendengar langkah-langkah kaki yang bergerak mendekat.
“Sherinn, apa yang kau lakukan disini?”
Bola mata Morgan menatapku lurus-lurus dan wajahnya masih menyisakan frustasi yang tergambar jelas. Dia maju menyentuh lenganku, “Kau mendengar semuanya?” anehnya suaranya melembut dan aku mengangguk. Tidak ada gunanya lagi berbohong jika dia mendapatiku menguping disini.
“Aku akan pergi dari sini jika memang aku tidak diharapkan ada disini.” Kataku pelan.
Morgan menggeleng dengan tegas. “Kau tinggal. Itu keputusanku dan aku tidak akan mengubahnya lagi. Paman Gabriel hanya belum mengenalmu. Aku yakin dia akan berubah pikiran jika dia sudah mengenalmu. Kau teman bicara yang menyenangkan.”
Aku menatapnya tidak percaya. Apa yang barusan dikatakannya? Teman bicara yang menyenangkan? Aku bahkan mendiamkannya hampir selama seminggu ini dan dia bilang aku teman bicara yang menyenangkan. Kurasa Morgan Freesel memang tidak bisa ditebak.
“Kita kembali ke kamarmu, Sherinn.” Katanya sambil menggandengku.
Langkahku ragu-ragu dan aku menatapnya, “Apa kau akan menggurungku lagi.”
“Tidak. Kau harus minum sup obatmu dan setelah itu terserah kau mau kemana. Aku menggurungmu hanya karena kau orang yang terlalu bersemangat. “
Keningku mengerut dan dia buru-buru melanjutkan, “Jika kau memaksakan tubuhmu terlalu keras untuk sembuh. Itu akan buruk dan berakibat fatal bagi dirimu sendiri. Lebih baik kau beristirahat dengan baik di kamar dan menunggu. Bukannya jalan kesana kemari sementara tulang-tulang kakiku masih seperti itu.”
Aku masih tidak mengerti.
“Kau harus benar-benar sembuh dulu baru kau boleh ke luar. Melakukan apapun yang kau suka di tempat ini. Dan aku tidak akan keberatan.”
“Aku sudah sembuh.” Kataku tegas dan dia tertawa.
“Aku tahu. Aku tahu. Jadi makan dulu supmu dan setelah itu silakan berjalan-jalan kemanapun sesukamu.”
Baiklah, aku benar- benar tidak mengerti kemana jalan pikiran Morgan. Aku menurut saja. Aku makan supku dengan perlahan, sesekali meliriknya yang duduk tak jauh dariku tapi tidak memandangiku. Dia melamunkans esuatu sambil memandang ke luar melalui jendela jelek kamar ini. Dia bahkan tidak menyadari ketika aku menruh mangkuk sup yang telah kosong itu ke atas meja. Aku memanggil namanya beberapa kali, namun dia tak juga menoleh. Aku penasan apa yang sekarang tengah ada di otaknya.
“Morgan!” panggilku lebih keras.
Dia menoleh dengan terkejut, mengerjap beberapa kali sampai akhirnya baru memandangku dengan tatapan minta maaf, “Ah-iya, Ada apa Sherinn? Eh, supmu sudah habis?”
Aku mengamati garis-garis wajahnya dan berhenti di kedua bola matanya yang hitam tajam. “Aku yang seharusnya bertanya seperti itu.” Sahutku. Kedua alisnya yang tebal saling menempel, memandangku dengan tidak mengerti.
“Ada apa? Apa ada sesuatu yang sangat berat sedang mengganjal pikiranmu?”
Dia diam.
“Apa ini berkaitan dengan pembicaraanmu tadi?”
Dia tetap diam.
“Siapa Noura?”
Matanya membulat dan dia bangkit, “Aku ada pekerjaan di luar. Aku harus pergi. Aku tidak akan mengunci kamar atau rumah ini. Kau bisa jalan-jalan kemana saja sesukamu. Tapi sebaiknya kau pulang sebelum petang. Tempat ini mungkin sedikit berbahaya jika malam tiba.” Katanya sebelum menghilang di balik pintu kamarku yang menutup pelan.
Aku menyilangkan kedua tanganku di depan dada. Aku harus mencari sesuatu.
***
“Ayah, aku tahu kau menyadari kedatanganku. Jadi tolong jangan sesatkan aku lagi. Aku harus menemuimu.” Suara Arshel terdengar putus asa. Dia menatap ke arah semak-semak liar sama yang kembali ditemuinya entah ke berapa kali padahal dia sudah yakin bahwa dia telah berjalan cukup jauh dan tidak berputar-putar ke tempat yang sama di hutan ini.
Tak terjadi apapun dan Arshel semakin terlihat putus asa. “Ayah..” bisiknya. “Aku mohon, aku harus menemuimu. Ini berkaitan dengan Sherena. Aku mohon, ayah.”
Dia menunggu. Tak terjadi sesuatu dan dia menunduk, berbalik dan berjalan lesu. Dia berbalik lagi dengan bersemangat  ketika dia mendengar suara gesekan-gesekan keras. Semak-semak liar itu bergeser, membentuk jalan setapak.
Ar memandang dengan berkaca-kaca, “Terima kasih, ayah.” Dia bergegas dengan cepat melalui jalan setapak yang langsung menutup ketika dia sudah melewatinya. Langkahnya semakin tergesa ketika dia tahu tujuannya semakin dekat. Dia melompati akar pohon yang menjuntai menutupi jalannya.

Tangannya menyibakkan rerimbunan terakhir di depannya, dan dia berhenti begitu menatap gua yang ada tak jauh di depannya. Gua itu gelap, tidak terlihat apapun dari sini dan dinding-dinding di sekitar mulut gua ditutupi lumut-lumut tebal dengan sulur-sulur lebat yang menjalar rimbun. Tak ada tanda-tanda kehidupan disini namun Ar melangkah dengan mantap ke depan.
“Ayah, kau di dalam sana?” bisiknya di depan mulut gua. Ar hanya mendengar gema suaranya sendiri memantul dan dia menghela nafasnya dengan berat. Melangkah masuk ke dalam gua.

Mau Baca Lainnya?

27 Comments

  1. Keren.. Puas lah.. Dan trbayar kekecewaan lama upload nya.. Tp klo lama lgi.. Siapa2 lah anda author *haha.. Mode garong on..
    Wkakakkkaka…

    Tapi jujur.. Makin penasaean nih.. Wkakakak
    aku mohon bsk sdh upload lg wakkaka
    * ngarap…

  2. OMG!! OMG!! Huahhhhh….. *teriak2 jingkrak2* setiap hari ngeceknih blog HV udh dipost belum tp selalu plng dengan kekecewaan hiks hiks
    Tapi pagi ini hahahah seneng bangettttt langsung baca 3 subjudul, kerennnn authornya ga sia2 nunggu sampe berminggu2 hehe
    Keren, tambah seru, tambah bikin penasaran 😀
    si noura hebat yah, dia sebenernya siapa sih? Kayaknya baik banget yah semua org suka sama dia-_-"
    Ini ceritanyaaa masi panjaaaaang banget kematian noura belum kebongkar, semua pemainnya punya rahasia sama jalan cerita masing2, dr arshel sipenyihir yg kenal noura, si Dev, siDamis semuanya punya rahasia masing2 yg bikin penasaran 😀

    Kayaknya juga si morgan mulai suka tuh sama Rena hahah awas nanti saingan lagi sama Reven hihi

    Ayoooo author semangat lanjutin ceritanya!! Keep writing 😀
    Jangan lama2 lg yh postnya ;):) walaupun saya org nya sabar tp kalo lama gt sedih jg hiks2 walupun trbayar sih hehe makasih yah author :))

  3. OMG!! OMG!! Huahhhhh….. *teriak2 jingkrak2* setiap hari ngeceknih blog HV udh dipost belum tp selalu plng dengan kekecewaan hiks hiks
    Tapi pagi ini hahahah seneng bangettttt langsung baca 3 subjudul, kerennnn authornya ga sia2 nunggu sampe berminggu2 hehe
    Keren, tambah seru, tambah bikin penasaran 😀
    si noura hebat yah, dia sebenernya siapa sih? Kayaknya baik banget yah semua org suka sama dia-_-"
    Ini ceritanyaaa masi panjaaaaang banget kematian noura belum kebongkar, semua pemainnya punya rahasia sama jalan cerita masing2, dr arshel sipenyihir yg kenal noura, si Dev, siDamis semuanya punya rahasia masing2 yg bikin penasaran 😀

    Kayaknya juga si morgan mulai suka tuh sama Rena hahah awas nanti saingan lagi sama Reven hihi

    Ayoooo author semangat lanjutin ceritanya!! Keep writing 😀
    Jangan lama2 lg yh postnya ;):) walaupun saya org nya sabar tp kalo lama gt sedih jg hiks2 walupun trbayar sih hehe makasih yah author :))

  4. crtya , keren ku makin penasaran sama org yaudah bunuh , naoura dan apa alasaaanya ???
    sepertinya rahasia besar yang selama ini di tunggu-tunggu akan datang di part berikutnya,, hemnn jadi gak sabar buat lanjutin baca kelanjutanya,, masih penasaran sama rena yang mau pilih siapa ?
    bagaimana dengan dev ?

    semangat yah thor buat bikin lnjutannya,, lagi ku tunggu ,, heee salam kenal

  5. wahh…ceritanya makin ketren aja nih…
    mm…apakah reven bakalan cemburu yachh…liat kdektan rena ama morgan…
    makin penasaran aja…ditunggu kelanjutannya…
    semangatttt!!!:D

  6. Reven itu masih duta anti move on kayaknya. Aku agak ragu kalo dia bakal jealous. Reven itu hatinya kayak batu. Keras kepala. Uh Revenn.. -___-

    Btw makasiii komen dan semangatnyaaaaa 😀

  7. Rahasia besarnya entah masih keselip di chapter berapa.. yang jelas bukan chapter selanjutnya setelah ini. 😛

    Bagaimana dengan Dev, Oh God.. I miss him.
    kasian Dev.

    Semangat semangat dan terima kasih.
    Salam kenal jugaaa 😀

  8. Duh maaf maaf ya telat banget, tapi bulan ini aku bakal memanjakan para pembaca HV dengan banyak postingan chapter baru.
    Hohohohooh

    Makasii makasiii terus menerus bilang HV keren
    *aku terharuuu*

    Panjangg banget, HV masi super panjang sepertinya atau entahlah jika aku mau memangkasnya menjadi lebih pendek dengan mengurangi detail-detail di beberapa chapter.

    Morgan suka Rena?? Ehem ehem

    Semangat yuk semangatttt 😀

  9. Uhuyyy syukurlah jika pembac puas, maka penulis juga puaaasss. 😀

    Ups engga engga akan lama next chapternya.
    *Takuut*

    Hihihi, Tengkiess komennya yaaa

  10. Kereeeeennnn….. Ayo §ǝ̍̍̍мα̍̍̊nğα̍̍̊τ (´▽`)/ upload lagi ceritanya yg banyak ya :D. REE

  11. Asiiikkkk!!!! Ini beneran girang loh dijanjiin langsung ama authornya hehe makasih author *kecup dr jauh* wkwk

    Pass aku liat nih blog udh ada 2 cerita baru aja hehe aku mau baca sayang jdnya :p

    Emang keren kok pokoknya aku jd pembaca setia HV deh ;;)

    Gapapa thor sepanjang apapun aku tungguin *asikkk hehe

    Kenapa batuk thor? Kayaknya bakalan ada yg trjd nih hihih antara morgan rena-_-

    Wokeeee semangatttttt

  12. Ada kak Arshel….
    *jingkrak jingkrak

    aku begitu merindukannya 😀

    dan teka-tekinya semakin bercabang tapi titik temunya tetep satu, Noura..
    hah.. aku penasaran, tancap gas ke next part…

    Keep writing, kakak!!

Leave a Reply

Your email address will not be published.