Half Vampire – Tentang Cinta

Haloo semua pembaca HV, aku sangat berterima kasih, kalian semua telah mampir ke blog ini. Semua yang datang, baca, komen bahkan share. Makasih ya. Oiya, karena banyak komentar dengan akun anonim (anonymous) dan aku ga tau gimana manggil kalian. Bagaimana kalau kalian yg pakai akun komentar ini menggunakan inisial atau nama di bawah komentar kalian. Jadi aku bisa tahu dan menyapa kalian. Hehehe. Sekedar saran sih, tapi kalau kalian tidak mau. Itu tidak apa-apa. Tetep baca dan komen HV aja sih. Share juga kalau bisa. 😛
Kalian semangatku. Terima kasih..

***

“Jadi kau sudah bertemu dengan Rowena?” tanya Morgan ketika siang hari dia pulang ke rumah untuk membawakan makanan dan sup obat kepadaku. Aku mengangguk, masih sibuk dengan sup obat yang membuat nafsu makanku meningkat berkali-kali lipat.

“Dia perempuan yang baik.” Komentarku setelah meneguk sesendok sup obat terakhirku. Aku melihat Morgan mengangguk-angguk kecil, namun wajahnya terlihat tidak bersemangat.

“Ada apa?” tanyaku begitu kuletakkan mangkuk supku ke atas meja.

“Aku takut membuatnya tidak bahagia, karena seperti yang kau katakan, Rowena perempuan yang sangat baik.” Dia mendesah.

Aku mengamati wajah Morgan dan aku menyadari satu hal yang pasti, kurasa dia tidak menyukai Rowena. Jika dia memang tidak suka, kenapa dia mau bertunangan dengan Rowena. Menjalin hubungan yang hanya didasari perasaan salah satu pihak tidak akan menghasilkan hubungan yang baik.

“Kau tidak menyukainya ya?”

Morgan mengangkat wajahnya, mengerutkan keningnya, “Apa begitu kelihatan?”

Aku mengangguk, “Seperti itulah.”

Morgan bangkit dari kursi, berjalan ke arah jendela, memegang teralisnya dan membuang nafas panjang, “Entahlah. Aku tidak tahu. Kupikir lama kelamaan aku bisa menerima kehadiran Rowena sebagai perempuan yang bisa mendampingiku sampai aku mati. Namun sejauh ini, ternyata aku tetap merasa dia seperti adikku, bukannya kekasihku.”

“Kau tidak boleh terus-terusan seperti itu. Itu bisa berakibat buruk bagi hubungan kalian ke depannya.” Saranku.

Kulihat Morgan tidak bereaksi apa-apa, kemudian dia berbalik dan menatapku, “Kau pernah merasakannya?”

“Apa?” aku tidak paham.

“Berusaha mencintai seseorang yang sesungguhnya tidak kau cintai.”

Aku mengangkat kedua bahuku, menggeleng, “Sepertinya tidak.” Morgan hanya mengangguk mendengar jawabanku dan dia kembali memandang ke luar.

Berusaha mencintai seseorang yang sesungguhnya tidak kau cintai?

Sepertinya aku memang tidak pernah merasakannya. Bersama Dev pun bukan perasaan yang berat sebelah, dulu kami saling menyukai. Lalu setelah Dev? Kurasa aku belum pernah benar-benar bisa menentukan perasaanku. Aku tidak pernah yakin jika aku menyukai Damis seperti perasaan suka yang dulu pernah kurasakan pada Dev. Damis baik, dan sangat mudah untuk menyukainya, dan kurasa aku bisa belajar memulai mengubah perasaanku untuk bisa menyukai Damis dengan lebih benar.

Kemudian, Damis dan Reven? Jika tiba waktunya aku harus memilih, kurasa aku akan merasa lebih nyaman di samping Damis daripada Reven. Damis baik dan bersamanya aku merasa terlindungi. Sementara Reven hanya membuatku merasa terintimidasi dengan keberadaannya. Dia tidak pernah bersikap baik padaku, bicara hanya ala kadarnya dan dia kelihatan jelas tidak menyukaiku, ditambah dengan fakta tentang jiwa Noura yang bersemayam di tubuhku, itu semakin membuatnya tidak pernah terlihat senang dengan keberadaanku. Ya, Reven selalu punya banyak cara untuk membuatku membencinya, sementara Damis akan melakukan ribuan hal yang membuatku tersenyum dan merasa bahagia. Itu benar, kurasa aku akan punya jawabannya jika kelak Lyra kembali bertanya siapa yang akan kupilih. Kurasa akan lebih mudah belajar mencintai Damis daripada bergulat dengan perasaan Reven yang masih tertaut erat pada Noura.

“Kau pernah mencintai seseorang dengan sangat dalam, Sherinn?”

“Heh?” lamunanku buyar dan kulihat punggung Morgan. Dia masih menatap ke luar dan bicara tanpa memandangku.

“Aku pernah.” Katanya lagi.

Aku memandang punggung Morgan. Terus terang masih belum paham kenapa dia berkata seperti itu. Aku bukan tipe orang yang terbuka, apalagi jika dengan orang yang baru beberapa hari saja aku kenal. Namun sepertinya Morgan tidak seperti itu, dia sudah membicarakan banyak hal yang kadang bersifat pribadi denganku, padahal kami juga baru saling mengenal.

“Dengan Noura?”

Morgan berbalik, menatapku dengan mata yang jelas terkejut. Aku menutup mulutku, kurasa aku sudah salah bicara.

“Kenapa kau bisa berkata seperti itu?” tanyanya masih mengamatiku.

Aku menggeleng, “Hanya menebak.” Sanggahku.

Tapi Morgan sepertinya tipikal yang sulit dibohongi karena dia menggeleng, “Kurasa Rowena sudah berbicara lebih daripada yang seharusnya dia katakan.”

“Rowena tidak bicara apapun tentang Noura padaku.” Sergahku. Aku sudah berjanji pada Rowena tentang masalah ini dan ini bahkan belum satu hari sejak pagi tadi dan aku sudah membongkar janjiku padanya, meski tanpa sengaja.

“Aku tahu Rowena tidak pernah menyukai Noura.”

“Apa?” keningku berkerut, tidak terlalu paham pada lompatan pembicaraan yang kerap terjadi ketika Morgan berbicara.

“Tidak. Kurasa kita harus berhenti membicarakan ini. Kau sibuk besok, Sherinn?”

Nah, apa kubilang, Morgan sepertinya memang hobi berganti-ganti topik pembicaraan, “Besok. Tentu saja tidak. Aku tidak punya kesibukkan selama disini.” Jawabku.

“Bagaimana kalau kita jalan-jalan besok. Bibi Muriel bilang kau mungkin sudah sembuh benar. Dan kupikir, jalan-jalan mengitari desa ini besok, bukan ide yang buruk.”

Aku menatap Morgan dengan mata berbinar, “Sungguh?”

Morgan kembali mengangguk, “Kau bisa menunggang kuda?”

Aku mengangguk cepat, “Sangat mahir.”

“Kalau begitu kurasa besok akan menjadi hari yang menyenangkan.”

***

“Damis?”

Viona Corbis menatap Damis yang berdiri kaku di depan pintu rumahnya. Damis mencoba tersenyum dengan ceria tapi gagal. Viona melipat kedua tangannya di depan dadanya, “Ada apa?” tanyanya dengan nada tidak senang.

“Aku ingin melihat keadaan Lyra, kudengar-“

“Dia baik-baik saja. Dia cukup kuat. Hanya butuh sedikit istirahat dan dia akan kembali seperti biasanya.” Potong Viona.

Damis menghela nafas panjang, “Bisakah aku menemuinya?”

“Tidak.” Sahut Viona cepat dan lantang. “Untuk apalagi?”

“Viona. Aku tahu kalian semua mulai membenciku sejak kejadian itu. Tapi aku dan Lyra bahkan tidak pernah mempermasalahkan itu lagi. Kami sudah bersikap biasa bahkan sejak dia sering berkunjung ke kastil. Kami tidak lagi-“

“Seperti itukah?” lagi-lagi Viona tidak membiarkan Damis menjelaskan semuanya sampai akhir. Viona Corbis tidak terlihat mau menyembunyikan ekspresi ketidaksukaannya. Dia jelas-jelas ingin mengusir Damis sesegera mungkin dari kediamannya.

“Viona?”

Damis melihat Dev berjalan mendekat ke arah mereka dari balik bahu Viona yang sedikit lebih pendek darinya. “Ada apa?” suara Dev terdengar ingin tahu, dan begitu melihat Damis, dia mengerti kenapa Viona berwajah seperti itu.

“Ah Damis.” Katanya kemudian.

“Hai.” Damis menyapa dengan canggung.

“Apa yang membawamu ke rumah kami?” Dev mengamati Damis. Dia sendirian dan terlihat tidak membawa apapun. “Bukan tugas lagi untuk kelompok kamikan?” tebaknya.

Damis menggeleng, “Tidak. Aku hanya ingin melihat keadaan Lyra. Kudengar dia terluka cukup parah ketika menjalankan tugas dengan Rena.”

Dev mengerti, “Masuklah kalau begitu. Lyra ada di ruangannya.”

Damis berjalan mengikuti Dev, melewati Viona yang jelas-jelas terlihat tidak suka namun tidak ingin menghalangi mereka. Viona menutup pintu kayu rumah mereka, tidak mengikuti keduanya namun berjalan ke arah lain. Membiarkan Dev dan Damis menaiki undakan batu menuju ruangan Lyra.

“Kau tidak melarangku menemui Lyra?” tanya Damis ketika mereka berjalan menaiki undakan batu yang bentuknya memutar.

Dev menoleh sekilas, “Kenapa aku harus melakukannya?”

Damis menghela nafas, “Semua anggota kelompok kalian tidak menyukaiku, bukan?”

Dev tertawa sekilas, “Sepertinya begitu. Tapi aku tidak terlalu sama seperti mereka. Aku netral.” Katanya kemudian. Damis tersenyum. “Aku senang mendengarnya.”

“Itu urusanmu dengan Lyra. Aku tidak berhak ikut campur. Nah, itu kamar Lyra, kau tidak lupa bukan?”

“Tentu saja tidak.” Damis tertawa

“Kau mau kutemani masuk?”

“Tidak, terima kasih Dev.”

Dev mengangguk, berbalik meninggalkan Damis setelah menepuk bahunya pelan. Sepeninggal Dev, Damis memandang pintu kayu berukir indah itu. Memantapkan hatinya, dia melangkah maju. Membuka pintu itu perlahan.

“Lyra.” Panggilnya pelan ketika dia sudah masuk dan menutup pintu itu lagi perlahan.

Perapian indah dari batu-batu yang disusun rapi dengan buku-buku di atasnya yang bertumpu pada kayu-kayu ukiran yang dibentuk seperti rak-rak buku mungil yang dipelitur halus menyambut mata Damis ketika dia masuk ke ruangan ini. Dua jendela besar menghadap ke selatan dibingkai indah dengan kelambu-kelambu cantik dari dua kain bertumpuk yang berwarna berbeda, menjuntai indah sampai ke lantai.

Di dekat jendela, Lyra Corbis duduk nyaman di kursi berlengan dengan buku terbuka di pangkuannya. Tidak mengangkat wajahnya ketika Damis masuk dan memanggil namanya. Damis berjalan mendekat. Duduk di kursi berlengan lain yang tak jauh dari Lyra. Diam, tak bicara apapun. Hanya duduk mengamati Lyra.

Selama beberapa saat, keheningan menyelimuti ruangan ini dan keduanya tidak bergerak, sampai akhirnya Lyra menutup bukunya, memandang lurus-lurus ke arah Damis yang masih mengamatinya.

“Apa yang kau lakukan disini?”

“Tidak ada.” Sahut Damis, menegakkan badannya dan tersenyum lebar menatap Lyra. “Kau baik?” tanyanya kemudian.

Lyra mendengus, “Aku sudah dengar perdebatanmu dengan Viona di bawah. Apa sebenarnya yang kau rencanakan? Aku tidak membutuhkanmu.” Semburnya kesal.

Damis tertawa, “Kurasa kau memang benar baik-baik saja. Kau sudah bisa marah-marah seperti biasanya.”

Kedua mata biru indah Lyra memicing, “Aku sedang tidak ingin bertengkar denganmu. Aku tidak berminat. Sebaiknya kau pergi saja. Kurasa tidak ada yang suka kau berada di rumah ini.”

Damis menyandarkan punggungnya, membuang nafas, “Aku mengkhawatirkanmu.” Katanya pelan.

Lyra mengerjap, merasa salah dengar sebelum akhirnya dia bangkit, membuka pintu ruangannya, “Keluar. Aku sedang tidak ingin melihatmu.” Desisnya.

Mata Damis memandang Lyra, lelah. “Tidakkah kita bisa berbicara baik-baik?”

Damis bangkit, namun bukannya berjalan mendekat ke arah pintu yang dibuka Lyra, namun ke arah perapian yang mati. Dia menarik satu buku dari rak di atasnya, membolak balik lembar demi lembar, sebelum mengembalikannya lagi ke tempatnya. Jarinya yang pucat panjang bergerak menyusuri satu demi satu buku-buku itu, “Tidak ada yang berubah disini.” Desahnya.

“Sebenarnya apa maumu?” Lyra berteriak keras, membanting pintu yang sudah dibukanya, kembali menutup. Suara berdebum keras itu hanya membuat Damis menoleh ke arah Lyra yang bersungut-sungut seraya duduk dengan kesal di tepian tempat tidurnya yang dilapisi kain berwarna putih yang lembut. Dia terus memandangi Lyra yang masih terdengar mengomel

“Maaf.”

Lyra terdiam, mengangkat kepalanya dan menemukan Damis yang sudah bersimbuh di depannya. Memegang kedua tangannya, “Maafkan aku.” Bisik Damis tertahan. Lyra tidak bereaksi apapun, tidak memaki-maki Damis atas atau bahkan menarik tangannya dari genggaman Damis. Dia terus diam, memandang lurus-lurus ke kedua bola mata Damis.

“Kenapa minta maaf?” tanya Lyra dingin. “Kenapa minta maaf sekarang??” dia bangkit, melepaskan genggaman tangan Damis setelah beberapa saat dibiarkannya diam mengikat mereka.

Dia berjalan cepat, menjauhi Damis dan terlihat sangat marah. “Kenapa kau minta maaf sekarang? Tidak ada yang perlu dimaafkan. Sebaiknya kau pulang. Aku sudah tidak apa-apa jika tujuanmu kemari memang ingin melihat keadaanku.

Damis berdiri, menatap Lyra dengan sedih.

“Pulanglah, Damis.” Kata Lyra dengan suara melembut.

Damis menatap Lyra dengan putus asa, “Tapi-“

“Kau sudah memilih.” Sahutnya akhirnya, “Kau sudah memilih ketika takdir itu muncul kembali. Dan aku juga sudah menerima apapun itu pilihanmu. Jadi kau tidak perlu merasa bersalah karena aku baik-baik saja. Lagipula itu lama sudah lama sekali dan kaupun sepertinya juga sudah menikmati keadaanmu sekarang.”

“Lyra, aku-“

“Sherena Audreista. Dialah takdirmu sekarang dan aku tidak apa-apa.”

Damis semakin terlihat putus asa, “Rena belum memilih.”

“Dia sudah.” Senggal Lyra, “Dan jelas itu kau. Dia membenci Reven.”

Kedua alis Damis saling tertaut, “Darimana kau tahu itu?”

“Menanyainya, dan Sherena bukan jenis yang bisa berbohong. Aku membaca keputusannya itu dengan jelas di kedua bola matanya. Lagipula kau malaikatnya selama di kastil. Dan cerita-cerita dari Dev membuatku melihat dengan cukup jelas, bahwa kau berusaha. Iyakan?”

“Cerita-cerita Dev?”

Lyra mengangguk, “Kau tahu dengan jelas bahwa Dev masih sangat mencintai Sherena. Dan setiap dia pulang dari kastil, dia selalu terlihat sangat terluka. Dia tidak terlalu terbuka pada banyak orang dan meskipun kami terlihat tidak akrab, dia bercerita kepadaku segalanya. Tentang bagaimana kau dan Sherena, tentang Reven dan Sherena. Segalanya.”

Damis tidak membantah. Dia diam, mendengarkan Lyra bicara, sampai akhirnya Lyra selesai dan tidak berbicara lagi. Keduanya diam, mematung seperti dua orang asing sampai akhirnya Lyra bergerak, duduk kembali di kursi berlengan yang sebelumnya didudukinya.

“Lalu seharusnya aku harus bagaimana?”

Lyra menatap Damis, “Tetaplah seperti itu, karena itu juga yang kau pilih dan aku sudah tidak peduli. Itu terserah padamu. Kita berdua sudah sepakat dan kau juga sudah menentukan. Lagipula kau tidak bisa beralih dari takdirmu itu. Kau atau Reven dan Sherena, tidak ada yang lain. Bahkan juga aku.”

Damis menghela nafas panjang, membanting tubuhnya duduk di tepian tempat tidur Lyra, “Aku tidak bisa melupakanmu.” Akunya ketika Lyra kembali diam. “Aku mencoba dan Rena jelas membantuku beralih darimu. Namun pada akhirnya aku tetap tidak bisa melupakanmu. Kita bersama cukup lama.”

Hanya tawa sinis Lyra yang terdengar, dan Damis tidak menanggapinya. Dia duduk sambil menyentuh tempat tidur Lyra, mengusapnya pelan, “Benar-benar tidak ada yang berubah disini.” Bisiknya begitu pelan seolah-olah bicara pada dirinya sendiri.

Lyra menggelengkan kepalanya, “Aku benar-benar tidak bisa memahamimu.” Dia memperhatikan Damis yang sibuk dengan pikirannya sendiri, “Sejak kita berpisah, kita tidak pernah berbicara baik-baik seperti ini lagi. Kita selalu bertengkar, saling memaki, membentak. Dan kurasa itu lebih dari cukup untuk membuatku sadar bahwa kita memang sudah benar-benar berakhir.”

“Tidak.” Sahut Damis tanpa memandang Lyra.

“Apanya yang tidak? Kau ini menyebalkan. Selalu seenakmu sendiri.” Lyra kembali mengomel. Bersungut-sungut memandang Damis.

“Seandainya Noura tidak mati. Kita mungkin baik-baik saja.”

Lyra mendengus, “Tidak ada gunanya kau berkata seperti itu. Apa kau pikir, dengan berkata seperti itu, Noura bisa bangkit dari kematian dan menyelesaikan masalah yang timbul karena kematiannya itu, termasuk hubungan kita? Tidak, Damis. Jangan terlalu naif.”

Kali ini Damis mengangkat wajahnya, dan menangkap mata Lyra yang memandangnya, “Aku hanya-“

“Damis, kau pikir aku marah karena kau memilih menjalankan kewajibanmu sebagai pilihan Vlad, berdua dengan Reven memperebutkan hati sang calon ratu yang akhirnya akan menentukan siapa pemimpin kita selanjutnya? Tidak, aku tidak marah dan kau bisa berpikir normal sekarang.”

“Jangan pernah datang padaku dan berkata hal-hal memuakkan seperti tadi. Aku tidak ingin mendengar kau minta maaf, tidak juga ucapan bahwa kau tidak bisa melupakanku. Itu konyol.”

Damis mengusap wajahnya dengan kedua tangannya, jelas-jelas terlihat frustasi. “Aku tidak tahu, Lyra. Aku benar-benar kacau.”

Lyra mendekat, menepuk bahu Damis pelan dan duduk di sebelahnya lagi. “Kau hanya sedang bimbang, Damis. Tapi aku yakin setelahnya kau akan baik-baik saja.” Nasehatnya lembut. Sangat jauh berbeda dengan suara Lyra yang biasanya terdengar ketus dan tidak bersahabat.

“Kupikir Sherena Audreista adalah takdirmu, dan itu baik, jika pada akhirnya kau adalah pemimpinnya. Tidak masalah bagiku. Lagipula kita masih bisa tetap bertengkar jika bertemu. Iya bukan?” katanya lagi, kali ini dengan tertawa.

Damis menyahut dengan tawanya yang kering, “Ya, kita masih bisa bertengkar.”

Dan keheningan pekat kembali menyelimuti mereka berdua. Keduanya sibuk dengan pikiran mereka sendiri-sendiri. Damis menghela nafas panjang, menoleh pada Lyra yang tidak memandangnya. “Lyra..” panggilnya pelan.

Lyra mengangkat wajahnya, memandang Damis.

“Terima kasih.” Damis mendekat dan menarik tubuh Lyra dalam pelukannya. Lyra tidak memberontak. Membiarkan Damis memeluknya dalam diam.

***

Deverend Corbis menatap perapian yang berkobar hangat menyinari ruangannya. Begitu meninggalkan Damis memasuki ruangan Lyra dia kembali ke ruangannya, duduk memandang perapian dengan tidak tenang. Banyak pikiran memenuhi otaknya dan kehadiran Damis disini membuatnya kembali teringat pada Rena. Sherena Audreista, sosok yang dengan begitu keras dicoba untuk dilupakan Dev. Dia tahu Damis datang kemari untuk memperbaiki hubungannya dengan Lyra. Setidaknya membuat keduanya tidak setegang yang biasanya terlihat.

Dev ingat bagaimana dulu Damis dan Lyra selalu terlihat mesra. Pasangan sempurna seperti halnya Reven dan Noura. Damis bersama Lyra tak lama setelah Noura menentukan Reven sebagai pilihannya dan itu jelas terlihat, bahkan Damis pun juga tak pernah repot-repot membuat Noura tertarik padanya karena perempuan itu sudah mencintai Reven sejak awal.

Lalu segalanya berubah setelah Noura mati, dan menyeret Rena ke dalam takdir yang seharusnya dijalaninya. Noura merubah banyak hal, kematiannya mengacaukan banyak tatanan yang seharusnya sudah nampak sangat baik. Reven berubah, lebih kejam dan dingin. Damis dan Lyra berpisah karena semua menyadari, bahwa sang calon ratu telah muncul kembali. Dan mau tidak mau Damis harus kembali pada tugasnya, seperti Reven, menjadi pilihan. Segalanya menjadi lebih buruk lagi ketika Ar membuatnya tahu bahwa Renalah orangnya. Renalah sang calon ratu bagi bangsanya.

Dia kehilangan Rena dalam prosesnya dan Dev sama sekali tidak bisa mengubah perasaannya meski Vlad dan Reven menyiksanya. Memberikan hukuman yang tidak hanya dirasakan dia sendiri namun juga kelompoknya. Dev akhirnya tidak punya pilihan selain mundur perlahan, bukan tandingannya untuk melawan Vlad dan Reven. Lagipula ini bukan hanya tentang dia. Jika hanya Dev yang merasakan sakit, dia akan maju. Memperjuangkan Rena sampai akhir. Namun segalanya semakin sulit, jika dia membangkang, kelompoknya yang akan menanggung resikonya.

Melihat bagaimana Michail kesakitan karena Vlad saja membuatnya benar-benar merasa bersalah. Dia tidak boleh egois. Ada Lyra, Viona, Ramuel dan tiga orang lagi dalam kelompok kecil ini. Dan bagi Dev, mereka adalah keluarganya. Mereka adalah keluarga Corbis dan dia bagian dari mereka. Dia, Deverend Corbis.

Maka sekali lagi Dev terus berusaha menjauhi rena. Namun segalanya selalu berakhir sia-sia. Sedingin apapun dia mencoba bersikap, yang ada dia akan luluh dengan hanya melihat doa bola mata rena yang menatapnya. Dan kejadian ketika dia membawa Rena berkunjung ke rumahnya membuatnya sadar dengan pasti bahwa dia sama sekali tidak bisa menghapus nama Sherena Audreista, sedetikpun dari otaknya.

Dia juga mengingat dengan jelas bagaimana dia dulu pertama kali bertemu dengan Rena. Bagaimana dia pada akhirnya tertarik pada perempun yang terlihat sangat dekat dengan Ar itu. Dia mengenal Ar lebih dulu daripada Rena, dan sebelum dia tahu hubungan seperti apa yang dimiliki mereka berdua, dia pernah merasakan marah melihat Ar yang mengusap rambut Rena sambil tertawa-tawa. Dia selalu tidak suka melihat Rena berbincang dengan Ar.

Namun pada akhirnya dia mengerti hubungan apa yang dimiliki Rena dan Ar dan dia tertawa mengingat bagaimana dulu dia marah pada Ar. Kemudian pada akhirnya dia terus berusaha mendekati Rena, membuat perempuan ceroboh dan banyak bicara itu juga jatuh hati padanya. Hingga akhirnya keduanya menjadi sepasang kekasih meski harus diwarnai pertengkaran dengan Ar. Mereka setim dan ada aturannya jika tidak boleh ada hubungan seperti itu dalam satu tim. Tapi Rena selalu punya cara untuk merajuk pada Ar, meminta Ar menutupi fakta itu dari semua orang sehingga mereka berdua tetap baik-baik saja.

Dev merindukan masa-masa itu. Saat-saat dimana dia bisa dengan sangat mudah menghabiskan waktu berdua dengan Rena. Memeluk perempuan yang selalu bisa membuat hatinya bergetar. Mengenggam jemari Rena yang kadang terasa kasar karena hobinya berlatih memanah dan bermain pedang. Mendengarkan Rena mengomelinya karena banyak hal. Membiarkan Rena memukul kepalanya dengan kesal karena Dev yang terus menggodanya.

Dev benar-benar merindukan masa-masa itu. Entah apakah dia bisa kembali dekat dengan Rena atau tidak. Harapannya menipis. Dia masih ingat dengan jelas bagaimana ciumannya yang terakhir dengan Rena di padang bunga ungu di dekat kastil. Ciuman yang hambar dan dia tahu perasaan Rena sudah berubah.

Dia bukan Sherena-nya lagi.

Dan mengingat bagaimana Damis memeluk Rena ketika Rena sakit membuat hatinya seperti diremukkan dengan sadis, tanpa ampun. Dia sadar posisinya, namun tidak ada yang bisa dilakukan Dev. Dia tidak punya hak. Sekarang, Rena adalah calon ratu. Calon ratu yang kelak harus memilih, dan Dev tidak berada dalam pilihan itu. Hanya ada Damis dan Reven bagi Rena, bukan lagi Deverend Corbis.

Seandainya dia bisa kembali ke masa lalu, dia akan membawa pergi Rena jauh-jauh dari semua ini. Dia akan menjaga Rena sebaik yang dia mampu, seperti yang dia janjikan pada Ar ketika dia membawa Rena kabur dari kastil. Dan dia dengan sekuatnya, akan melawan Damis dan Lyra yang ketika itu merebut Rena darinya. Ya, seandainya Dev bisa, dia akan melakukan itu semua demi Rena. Demi Sherena-nya.

<< HALF VAMPIRE – Rowena Reeser

HALF VAMPIRE – Rahasia Morgan >>

Mau Baca Lainnya?

44 Comments

  1. maaf ya baru koment sist.. soalnya saya bukan tipe orang yang suka koment buat cuma bilang "wow, good job" atau "iih.. ceritanya bagus bangeeet, lanjutannya donk" atau semacamnya.. :yucks:
    soalnya ceritanya udah bisa d pastiin bagus, kalo gk, knp sy bolak balik k blog ini?
    sy mau request sist, SHERENA MA DEV AJAAAAAAAAAAA!!!
    sy benar-benar-benar-benar benci ma reven.. cowok cengeng sok cool.. kalo damis itu tipe nice boy yg pasti membosankan..

    yah yah yah?? ma Dev aja ya.. hehe.. :peace: hehe

  2. – P –
    Huaa kapan nih rena sama reven-nya 😀 ??
    Baguss banget, lebih sering + cepet ya di update :)..
    bosen nih liburan gak ada bacaan, terus coba-coba buka blog ini ternyata HV udah dilanjut aja, semoga next chap cepet di update.. 🙂

  3. HV is the best vampire story that I'd read so far. Fantastic! Wow! I didn't realise that I already read all the updates.. I thought that I just had read only one chapter. And I don't know what to say anymore to express my feeling towards HV. And thanks a lot author for the updates.. Hope you'll ba able to update the next chapter soon:)

    -A

  4. yey… akhirnya update
    nggak nyangka ternyata damis sama lyra dulunya
    rena sama reven aja….
    penasaran sama noura dan apa yg disembunyiin sama vlad
    ditunggu lanjutannya

  5. Poor Dev :((
    Yang kuat yyaa ^0^
    Jd kasian juga sama si Damis.. lg Galau~

    Pnasaran bgt sama rahasia ttng noura, mistery bgt!
    Pokoknya buruan di lanjut dehh!
    Semangat!! >0<

  6. hahaha,,
    gag nyangka damis bisa galau,, 😛

    rasanya egois banget kalo minta next chapternya cepetan, tp emang penasaran sihh,,
    hehehehe,,
    smangaattt lo bunn,, ^^

    #tere

  7. Huahhhhh…. sekali lagi part ini kerennn (y) hihi
    Ohh jd begitu toh hub Damis sama Lyra, kasian yah Damis pasti dia masih syg deh sama Lyra… tuh kan thor Damis jangan sama Rena mereka lebih cocok kaka adik, Damisnya jg sayangnya sam Lyra hihihi *sotoy banget yah aku*

    Ihhh Dev kasian banget deh sedih ngeliatnya :'( aduh jd mikir Rena buat Dev aja ga usah buat Reven *padahal dulu aku semangat banget jodohin Rena ama Reven* wkwkw tp kan yah thor si Reven susah move on kan yah? Dia jg kayaknya msih syg sama Noura jd ga mungkin suka Rena, Reven kan tergila2 bangt sama Noura-_- jd Dev sama Rena aja yak? Hehe trus Damis sama Lyra biar Lyra ga jutek lagi sama Rena, terusss Reven sama Noura hahaha si Noura diidupin lg gt *ada kali org meninggal idup lagi* hahah

    Yuhuuuu, semangat nulisnya thor!!! 😀
    Postnya 2chapter sekaligus yah *eh hahaha :p

  8. Lah saya jadi bingung..
    Dev nelangsa banget, ngga tega baca cerita dri sisi dia..
    halahh.. bener takdirnya jdi sungguh kusut, berbelit tapi klo ngga kaya gtu jln ceritannya kan ngga akan ada story menarik ini…
    pokoknya entah itu Reven, Damis, Dev bhkan Morgan..
    aku tetap akan dukung asal jangan sama Ar, aku fansnya :p

    Keep writing!

  9. update soon please, terutama romance'y sma spa j blh, cz karakter cowo'y keren2
    (oia, aq bakerstreet 221b :-))

  10. updatenya jangan lama-lama dong…
    aku suka banget ceritanya::D..pleasee ..:(
    tetap semangattt thor!!!:)

  11. noura punya rahasia apa lagi sih?, rena sama dev aja yaa, kayanya lebih baik dev dibanding reven atai damis

  12. Huhuhu kasian sih dev :O tapi mau gimana lagi.. Rena juga ga punya perasaan lagi sama dev 😀 mending Rena sama reven aja.. Reven kan gitu-gitu baik sama noura.. Kali aja kalo rena bisa bikin reven move on perhatiannya reven ke rena pasti bakal persis kayak perhatian reven ke noura ^^ -AF

  13. Sherena dengan Dev??
    Hemm bisa dipertimbangan mengingat Dev sendiri sangat baik.
    Btw thanks komentnya ya..

    dan pendapatmu tentang sosok Reven bener-bener bikin aku ketawa bahagia, jangan terlalu benci Reven ya. *peluk*

    Thanks Gye..

  14. Hi A…
    makasihh banget, aku sampe terharu baca komen ini.
    Well, hari ini aku juga bakal update 2 chapter baru. selamat membaca ya 😀
    Semoga kau selalu menyukai HV.

  15. Iya mereka memang pernah menjalin hubungan,
    Nah kalo ttg Rena sama Reven, kita serahkan saja semua akeputusannya ke tangan merekas.. *halahh* 😛

    Vlad?? hem serem mah kalo ngomongin dia

  16. Huaaahhh.. sekali lagi thanks Senja 🙂
    Iye, si Damis sama Rena kakak-kakak'an aja yah 😛

    Rena, Dev, Reven..

    ahh biar mereka aja yang memutuskan perasaan masing2. *kabauurrrr*

    Well, kukabulkan. hari ini aku bakal post 2 chapter sekaligus
    muahahahhahah

  17. AKu juga merasa tidak tega memperlihatkan sudut pandang dari mata Dev. DIa terlalu baik, lembut dan nelangsa.. *hiks hiks

    Ceritanya semakin komplek, tapi pada akhirnya akan selalu berlabuh pada satu titik. 😀

    Hi, fansnya Ar. 😀

  18. Hi Af..
    Kalo seandainya Reven bisa move on..
    >.< aku mau bangaet sama dia. soalnya Reven tuh tipe cowok paling baik kalo sama cewek yang dia sayang.

Leave a Reply

Your email address will not be published.