Half Vampire – Tugas Pertama

Aku menyeka rambutku yang masih basah seraya memandang lurus ke depan. Tanpa sengaja aku menyentuh kalung yang kini melingkar indah di leherku. Aku merabanya, ini kalung milik Noura yang dulu diberikan Rosse padaku. Aku menghela nafas, aku tidak tahu kenapa akhir-akhir ini aku ingin memakainya padahal dulu setelah Reven begitu marah padaku karena kalung ini, aku menyimpannya dalam laci kayu di samping tempat tidurku. Tanpa pernah menyentuhnya. Namun entah bagaimana ceritanya, beberapa hari yang lalu, aku mengambil kalung ini dari laci dan memakainya sebelum aku kembali berlatih memanah.

Aku melepaskan sentuhan tanganku pada kalung ini dan kembali menyeka rambutku yang baru saja kucuci seraya memandang keluar melalui jendela tinggi dari kamarku, aku hanya dapat melihat siluet pepohonan di hutan. Namun jauh dari situ, pikiranku justru melayang mengingat percakapanku dengan Reven. Percakapanku dengan Damis dan Rosse. Tugas pertamaku. Bagaimana perasaan gugup dan was-was yang kurasakan sekarang nyaris sama seperti ketika dulu aku menerima tugas pertamaku sebagai heta dari Master. Malam sebelumnya aku sama sekali tidak bisa tidur dan hanya berguling-guling di kamarku memikirkan tugas seperti apa yang akan kulaksanakan besok. Dan sekarang, aku pun merasakan hal yang sama.

Tugas pertamaku sebagai anggota klan vampire. Tugas pertama yang akan menunjukkan bahwa aku diterima di kelompok ini. Aku, bagian dari mereka. Bagian? Entah bagaimana masih ada bagian dalam diriku yang menolaknya. Aku..kadang merasa seperti pengkhianat. Mengkhianati kaumku, manusia.

Tapi aku bukan sepenuhnya manusia sekarang.

Tetap saja, kau lahir sebagai manusia. Kau masuk ke organisasi heta karena kau ingin melindungi mereka, manusia.

Aku half vampire sekarang.

HALF! Bukan vampire sepenuhnya. Kau harus ingat itu, Sherena.

Aku calon ratu.

Jadi kau suka menjadi seperti itu? Bagaimana dengan cita-citamu dulu? Bukankah kau ingin menjadi heta yang paling hebat. Dan kemudian beralih menjadi seorang slayer seperti Arshel. Bukankah itu cita-citamu?

Tapi, aku..

“Sherena..”

Aku menoleh pelan, pikiranku masih belum sepenuhnya disini. Namun ketika aku melihat siapa yang ada di dalam ruang pribadiku itu sekarang, seluruh pikiran dan nyawaku seperti kembali memusat.

“Reven. Ada apa?” keningku berkerut. Kenapa selarut ini dia mencariku.

“Aku perlu meluruskan sesuatu.” Jawabnya sambil duduk di satu-satunya kursi berlengan yang ada di kamarku. Menyilangkan satu kakinya ke kaki yang lain dan kedua tangan di lengan kursi, dia menatapku, “Kau sudah bersiap-siap untuk besok?”

“Ya.“

Dia mengangguk, “Baiklah kalau begitu, aku harus menjelaskan sesuatu padamu atau jika tidak, Damis akan menerjangku dengan marah hanya karena hal sederhana ini..” keningku berkerut makin dalam. Apa Damis tadi sore benar-benar mencari Reven dan mendatanginya. “..tugasmu, seperti yang mungkin saja Damis sempat ceritakan padamu adalah menyusup di salah satu desa manusia dimana disana juga ada kawanan manusia serigala yang hidup berbaur bersama penduduk lainnya. Benar-benar hidup bersama tanpa pernah membunuh satupun manusia yang ada disana bahkan ketika mereka berada dalam malam perubahan mereka.”

“Apa tepatnya tujuanku menyusup kesana?” aku berjalan, duduk di tepian tempat tidurku.

“Cari seseorang bernama Morgan Feersel dan dekati dia. Cari tahu sebanyak mungkin darinya tentang tujuan terselubung kawanan serigala itu berbaur dengan para manusia. Aku akan sangat senang jika kau juga bisa mendapatkan kepercayaan darinya sehingga kau mungkin saja dapat bergabung dengan apapun itu yang tengah mereka lakukan.”

“Morgan Feersel..” aku mengulang nama itu. Nama yang sama sekali asing bagiku.

“Dia adalah calon penerus kelompok mereka.”

“Calon penerus? Seperti pangeran dari klan manusia serigala?”

Reven mengangguk, “Apa kau mengerti?” tanyanya mengamati ekspresiku.

“Ya, tapi bagaimana bisa aku menyusup kesana?”

Sudut bibir Reven tersenyum tipis, cenderung menakutkan menurutku, “Kau akan tahu itu besok, aku akan bersamamu ditugas pertamamu.”

“Kau?”

“Ya. Apakah tidak sesuai harapanmu? Sayangnya Damis ataupun Deverend Corbis sedang sibuk melakukan tugas lainnya. Jadi mau tak mau aku harus menjadi penjagamu selama kau melakukan tugas disana.”

Glek

Aku menelan ludahku sendiri. Sepertinya ini akan kurang menyenangkan meski sepertinya penuh tantangan. “Tapi bukankah para manusia serigala dapat mencium bau para vampire? Aku..”

“Beruntungnya, kau belum benar-benar seperti kami. Bau tubuhmu..” disini aku agak sebal dengan ekspresi Reven yang aneh. Dia nampak seperti menghirup udara di sekitarnya dengan mata terpejam pelan sebentar. Membuka mata, tersenyum tipis sambil menatapku dan melanjutkan, “..masih sama seperti manusia. Dan aku, tidak menyusup bersamamu. Aku hanya akan menjagamu dari jauh. Dari jarak yang cukup untuk mengecoh penciuman mereka. Dan jika memang aku perlu mendekat, aku akan memakai sedikit ramuan yang dibuat oleh Venice untuk sedikit mengaburkan bau vampirku. Nah, ada yang kau tanyakan lagi?”

Aku menimbang, sepertinya sekarang tidak ada, dan aku menggeleng. “Tidak.”

Reven bangkit, dan entah kenapa malah maju, mendekat kepadaku alih-alih melangkah ke arah pintu kamarku. Aku bangkit, memandangnya yang kini tegak di depanku. Tinggiku hanya sebahunya, dan dia menunduk, menyentuhkan tangannya yang sedingin es ke tengkukku, merabanya melingkari leherku dan menyentuh rambutku yang masih setengah basah. Aku menelan ludahku pelan. Apa-apaan dia ini? Jantungku berdegup sangat kencang. Reven berbisik, sangat dekat sehingga aku bisa mencium bau tubuhnya yang.. terasa sangat familiar. Mataku melebar, sama sekali tak mengedip. Dia sangat dekat. Aku..entah kenapa menjadi lebih gugup dan ini sama sekali tidak ada kaitannya denga tugas pertamaku besok.

“Sebaiknya kau simpan kalung ini, Sherena. Mungkin saja masih ada aroma Noura disini.” Lirihnya di telingaku, dan aku sadar tangannya menyentuh kalung yang melingkar di leherku itu. “Kau tidak ingin para manusia serigala membaui aroma vampire di tubuhmu bukan? Dan jujur saja, aroma Noura.. terlalu kuat untuk diabaikan.” Dia menarik wajahnya, tersenyum tipis sekali lagi, dan berbalik, keluar begitu saja dari kamarku.

Aku menyentuh dadaku dan menjatuhkan tubuhku, terduduk di tepian tempat tidurku. Astaga. Apa yang baru saja kurasakan. Aku..kenapa jantungku. Reven. Aku menarik kalung itu dari leherku, melepaskannya dan mendekatkan kalung itu ke hidungku, “Aroma Noura?” tapi aku sama sekali tidak mencium bau lain di kalung itu selain aroma tubuhku dan aroma basah dari air yang kugunakan untuk mencuci rambut dan tubuhku tadi. Aku menatap ke arah pintu kamarku yang menutup. Apa-apaan Reven itu tadi? Aku bangkit, buru-buru menyorongkan kalung itu ke dalam laci.

***

“Reven..” suara itu memanggil lembut. Reven menoleh, mengangkat wajahnya dari buku tebal yang dibacanya dan menemukan wajah Noura hanya beberapa senti dari wajahnya. “Kenapa membaca terus daritadi?” Reven menutup bukunya, tersenyum memandang Noura dan menarik wajah itu mendekat ke wajahnya. Mencium lembut bibir merah Noura.

Noura tertawa, menarik wajahnya. Dia melompat ringan, duduk merapat ke Reven dan mengalungkan tangannya ke leher Reven dan memandang Reven dengan mata hijaunya yang berpendar aneh. “Reven, maukah kau berjanji sesuatu padaku?” rajuknya.

Tangan Reven yang tengah menelusuri rambut Noura terhenti, dia menatap Noura, menaikkan kedua alisnya, “Ada apa? Apakah ada sesuatu yang menganggumu sehingga kau perlu mendengarku berjanji padamu?”

Noura menyentuh tangan Reven yang membelai rambutnya, mengenggam tangan itu dan mengecupnya lembut. “Tahukah kau seberapa besar aku sangat mencintaimu?” mata Reven menyipit, merasa aneh dengan arah pembicaraan Noura. Bagaimanapun, Noura bukan tipe perempuan yang akan suka membicarakan masalah cinta dengan bertele-tele begini. Dia merasa ada sesuatu yang benar-benar menganggu pikiran Noura sekarang. “Aku.. dengan sepenuh jiwaku, memberikan semua cintaku untukmu Reven. Dan aku tahu benar kau juga melakukan hal yang sama kepadaku. Namun..” suara Noura mengambang dan Reven menemukan sepasang mata hijau Noura yang begitu lelah, menatapnya. “.. jika entah bagaimana ada sesuatu yang buruk menimpaku, maukah kau.. maukah kau tetap melanjutkan hidupmu dengan baik dan menjalankan tugasmu sebagai penerus kelompok ini dengan benar?”

Reven menarik tangannya dari genggaman Noura, menatap perempuan itu dengan marah. “Apa yang sedang kau bicarakan?” matanya berubah hitam dan dia masih menatap lurus ke Noura, marah. Ketika dilihatnya setetes air mata mengalir turun dari sudut mata Noura, mata hitamnya berubah membiru, melembut. “Ada apa Noura? Katakan padaku ada apa sebenarnya?” tanyanya khawatir. Dia menarik tubuh Noura, memeluk Noura yang sekarang justru menangis di atas dadanya.

“Maukah kau berjanji seperti itu, Reven?” isaknya.

“Aku..”

Noura menarik tubuhnya, meraup kedua tangan Reven dan mengenggamnya. “Kumohon.. apapun yang mungkin terjadi padaku nantinya. Tolong.. aku mohon terimalah siapapun yang akan mengantikan posisiku nantinya.”

Reven membeku. Sama sekali tak bergerak.

“Apa yang kau lihat?” suaranya bergetar.

Noura menggeleng, “Tidak. Tidak ada.” Kilahnya masih dengan airmata yang mengalir turun membasahi pipinya dan jatuh ke tangan Reven.

“Apa yang kau lihat??” Reven mengulangi pertanyaannya dengan suara dalam, tegas.

“Tidak ada. Tid-“

Reven menarik tangannya, menyentuh kedua bahu Noura, “Aku tahu, aku tahu kau melihat sesuatu dalam pikiranmu. Aku tahu kau mampu melihat apa yang terjadi di masa depan. Aku tahu kau punya kemampuan itu. Jadi katakan! Katakan padaku, Noura. Katakan, apa yang kau lihat?” Reven berteriak. Menguncang bahu Noura dengan frustasi sementara Noura hanya menggeleng. Tidak mengatakan apapun.

“Katakan padaku apa yang kau lihat..” suaranya menghilang. “Tolong..” nyaris putus asa ketika kata terakhir tadi meluncur dengan tulus dari mulutnya. Seumur hidupnya, dia tidak pernah mengucapkan tolong kepada orang lain. Tidak pernah. Bahkan kepada Vlad sekalipun dia tidak pernah mengucapkannya.

Kedua tangan Noura menangkup ke pipi Reven, “Rev.. percayalah padaku. Aku tidak bisa mengatakan ini kepadamu. Hanya saja, maukah kau.. seperti yang kukatakan tadi. Maukah kau menerima siapapun yang akan mengantikan posisiku nantinya jika memang terjadi sesuatu yang buruk terhadapku?”

Reven bangkit dengan marah, “Tidak.” Dan tanpa bicara apapun lagi dia pergi meninggalkan Noura yang menatapnya sedih sampai punggungnya menghilang dari balik pintu perpustakaan yang dibantingnya sangat keras.

***

Reven mengusap wajahnya dengan lelah. Api dari perapian di ruang pribadinya masih berpendar lembut menerangi wajahnya yang terlihat penuh pikiran. Dia baru saja menemui Sherena di kamarnya dan sekarang, dia tidak tahu kenapa dia melakukan hal itu kepada Sherena. Mengatakan hal yang sama sekali tidak benar tentang aroma Noura di kalung itu. Dia berbohong. Itu sudah jelas. Kalung itu, sudah lama sekali sejak terakhir kali Noura memakainya. Lagipula sebelum Sherena menerimanya, Rosselah yang menyimpannya. Dan aroma Noura? Lelucon gila macam apa yang dikatakannya tadi.

Dia memejamkan matanya, dan semua ingatan Noura yang dia dapat dari darah Sherena memenuhi benaknya. Semua ingatan Noura tentangnya jika dia benar menebak. Sebab semua ingatan Noura yang ada dalam Sherena hanya ingatan Noura ketika bersamanya, di kastil ini, di kelompoknya. Apakah Sherena menyadari itu atau mungkin sudah melihat semuanya? Penglihatan yang dialaminya? Apa memberikan gadis itu gambaran tentang semua yang Noura rasakan terhadapnya. Perasaan Noura..

Reven menggeleng. Tidak. Gadis itu punya jiwanya sendiri. Tidak akan. Perasaan Noura, tidak akan terbagi pada gadis itu meskipun dia memiliki separuh jiwa Noura yang entah bagaimana ada padanya dan mengubahnya menjadi Half Vampire. Mengoreskan takdir calon ratu dalam kehidupannya.

Dan sekarang, Reven tidak tahu lagi harus melakukan apa. Damis mungkin benar ketika mengatakan bahwa dia mungkin saja entah sebentar atau bagaimana menganggap Sherena sebagai Noura. Bahwa benar, ada sedikit keinginan dalam dirinya untuk mengubah gadis itu menjadi seperti Nouranya. Lagipula, bukankah Sherena memang memiliki separuh jiwa Noura di dalam dirinya. Separuh jiwa Noura? Tidakkah itu cukup baginya untuk merasa hidup bersama Noura meski secara nyata Noura memang sudah pergi dengan meninggalkan separuh jiwanya pada manusia lain. Ya, manusia lain dan bukannya vampire lain.

Reven mengusap wajahnya sekali lagi. Janji itu. Permintaan Noura ketika itu..

“..Maukah kau menerima siapapun yang akan mengantikan posisiku nantinya jika memang terjadi sesuatu yang buruk terhadapku?”

Dia mengepalkan tangannya dengan marah. Memukulkannya pada dinding batu di ruangannya dengan keras, “Kenapa kau memberikan pilihan yang sulit kepadaku? Kenapa, Noura? Kenapa??

***

Aku turun dengan gugup ke ruang makan. Hari ini, aku akan berangkat menjalankan tugas pertamaku. Dan dengan Reven? Aku menarik nafas panjang. Tidak. Tidak akan apa-apa. Setidaknya aku tahu aku akan dilindungi oleh seseorang yang benar-benar kuat. Aku membuka pintu ruang makan dan menemukan beberapa orang tengah duduk disana. Rosse, Damis, Russel. Lucia, dan.. Reven. Beberapa menoleh ketika aku masuk dan tersenyum, Damis melihat barang yang kubawa dalam buntalan kain besar di tanganku.

Dia tertawa, dan berbisik padaku ketika aku duduk di sampingnya, “Kau mau pindahan? Tidak perlu membawa sebanyak itu.” Alisku saling tertaut, aku memandangnya dan mengangkat bahuku.

“Makanlah dulu, Rena. Perjalananmu nanti mungkin sedikit panjang.” Ucap Rosse dengan baiknya meletakkan sepiring makanan dan satu piala berisi air di depanku, sebelum dia duduk lagi di tempatnya. Aku mengucapkan terima kasih dan membiarkan mereka semua melanjutkan obrolannya sementa aku makan. Aku menangkap mata Lucia beberapa kali mengamatiku, tapi dia langsung berpaling dan beralih menatap Reven yang duduk di depannya ketika aku memergokinya memandangku. Aku tidak mau memikirkan kenapa, sudah cukup bagiku dengan memenuhi kepalaku dengan tugas yang akan kulakukan daripada memikirkan hal tidak penting seperti Lucia. Dia juga sudah biasa menunjukkan ketidaksukaannya kepadaku.

Aku ikut berbincang dengan mereka ketika aku sudah menghabiskan sarapanku, sedikit obrolan ringan yang sedikit menghiburku. Rosse, Damis dan Russel juga memberikan beberapa saran kepadaku. Memintaku agar santai dan tidak terlalu gugup. Aku bangkit dengan tergesa ketika Rosse mengatakan bahwa sudah saatnya bagiku dan Reven untuk berangkat, sampai aku menjatuhkan buntalanku.

Damis mengambilnya, “Kau tidak akan membutuhkan ini, Rena. Percayalah padaku. Cukup busur, anak panahmu dan beberapa pisau kecil yang biasa kau gunakan dalam tugamu ketika kau menjadi heta.” ucapnya lembut, mengandengku berjalan keluar mengikuti yang lain, “Aku akan mengembalikan ini semua ke kamarmu nanti.”

Aku mengangguk. Memalukan sekali rasanya. Bagaimanapun juga aku tahu semua orang sudah melihat bagaimana besarnya buntalan itu. Damis mungkin benar mengatakan jika aku seperti mau pindahan saja.
Aku dan Damis berjalan paling belakang, dan tanpa sengaja aku melihat bahwa telapak tangan Reven terlihat membiru, lebam dan ada sedikit luka. Seingatku, tangannya terlihat baik-baik saja ketika dia ke kamarku semalam. Mungkinkah aku salah ingat semalam? Entahlah, aku tidak ingat benar.

Kami semua berhenti di depan pintu utama kastil. Aku memeluk Rosse, Russel dan sedikit canggung ketika melakukan itu dengan Lucia yang sepertinya melakukannya hanya untuk sopan santunnya di depan Rosse. Damis memelukku sangat erat, menyentuh kedua tanganku, “Berhati-hatilah dan jangan ceroboh. Disana, bagaimana pun juga merupakan tempat yang berbahaya bagimu. Berusahalah sebisamu untuk tidak bertemu orang-orang yang mengenalmu, para heta atau slayer yang secara kebetulan mungkin melalui desa itu. Dan jika ada apa-apa, kau bisa memanggil Reven. Dia akan melindungimu disana.”

Aku mengangguk, dan Damis mengecup pipiku lembut. Aku merasakan hawa panas di bagian yang dikecupnya. Mengabaikan itu, aku mengucapkan selamat tinggal kepada semuanya dan berjalan mengikuti Reven. Aku menarik nafas panjang. Meraba busur dan anak panah yang tergantung di belakang tubuhku. Tidak-apa-apa, Rena. Anggap ini seperti tugas yang biasa kau lakukan dulu.

Kami berhenti di tepi hutan, Reven menoleh padaku, “Naiklah ke punggungku. Kita harus cepat dan berjalan dengan kecepatan manusia akan membuang banyak waktu berharga kita.” Aku mengangguk dan beringsut naik ke atas punggung Reven ketika dia berjongkok. Aku memejamkan mataku. Aku sudah tahu sensasi yang sedetik kemudian kurasakan ketika Reven berlari dalam kecepatan luar biasa. Aku sudah pernah merasakan ini sebelumnya ketika Dev dulu melakukannya untukku ketika dia dan Lyra menemaniku berkunjung ke rumahku. Dan menurutku, sensasi ini selalu saja tidak menyenangkan. Perutku mual dan kepalaku jadi pusing.

Beberapa saat kemudian yang sepertinya sangat lama bagiku, Reven menurunkanku perlahan. “Turunlah, kita berhenti disini dulu.” Aku tidak benar-benar mendengarkan apa yang dikatakan Reven ketika itu, aku terhuyung dan Reven menangkap tanganku. “Hati-hati.” Katanya.

Aku mengucapkan terima kasih dan berusaha menguasai diriku. Setelah aku benar-benar merasa sudah tidak apa-apa, aku justru menemukan keningku berkerut dan mataku menyipit. Di depanku, bukan sebuah desa yang kutemukan, melainkan sebuah rumah yang besar sekali dengan kesan tua dan kuat yang muncul bersamaan. Itu satu-satunya rumah yang ada disini, sebab di kanan dan kirinya hanya pepohonan besar yang memenuhi pandanganku. Halaman di depan rumah ini, bagaimana pun sangat luas. Dengan batu-batuan kecil yang ditata rapi, beberapa bunga juga terlihat disini. Sulur-sulur yang merambat di tembok-tembok batu rumah ini ditata dengan sangat rapi. Aku yakin, siapapun yang tinggal di dalam sini, merawat tempat ini dengan sangat baik.

Pintu kayu rumah itu terayun terbuka dan aku melihat, seseorang yang kelihatan jauh lebih tua dari kami berjalan pelan mendekat ke arah kami. Laki-laki tampan dengan wajah runcing, mata tidak terlalu lebar dan rambut hitam sepanjang bahu itu berhenti di depan Reven, tersenyum padanya. “Selamat datang, Reven. Kami sudah menunggu kedatanganmu sejak tadi.” Dan ketika matanya beralih padaku, dia tersenyum lebih lebar. “Ah Nona Sherena. Silakan masuk..”

Aku balas tersenyum, dia kelihatan ramah. Reven tak membalas apapun, hanya berjalan mengikuti laki-laki yang jika dalam umur manusia mungkin berumur sekitar akhir empat puluh tahunan. Jangan tanya lagi, dia vampire. Tentu saja. Apa lagi.

Ketika aku masuk ke dalam rumahnya. Aku menemukan ruangan yang sangat luas menyambut kami dengan kursi-kursi berlengan dan perapian yang berpendar hangat di sebelah kiri. Aku menatap sebuah lukisan yang ada di atas perapian tersebut. Ada delapan orang yang kulihat ada di dalam lukisan tersebut. Delapan orang yang kecantikan dan ketampanannya dilukiskan dengan sangat sempurna. Mataku melebar ketika aku mengenali dua diantaranya.

“Ah, kalian sudah datang rupanya. Padahal aku sama sekali belum bersiap.”

Aku menoleh mendengar suara riang yang juga kukenali itu. Lyra Corbis, berjalan anggun turun dari undakan batu yang ada di sebelah kanan ruangan itu. Menghampiri kami, dan tersenyum begitu lebar melihatku.“Halo Sherena.”

Aku yakin dia tidak benar-benar senang melihatku.

HALF VAMPIRE – Keluarga Corbis >>

Mau Baca Lainnya?

38 Comments

  1. Wahh.. jd tugasnya nntar bareng ama dev jg ya?
    Jd makin pnasaran, gmana Sherena milih antara reven/damis.. 🙂 😀
    Aku jd ikut2an Dilema.. haha ^_^
    Lanjutt Terus Thorr!!!
    SEMANGAT!!!! 😀

  2. Kaaaa keren pake banget!!!!!!!!
    Mudah"an rena milih reven!
    Ahhhh suka banget sama sifatnya reven
    Tapi gasuka juga karena dia inget noura terus(?)
    Keep writing ka!
    Next partnya jgn lama" :p

  3. Chapter yang ini baru saja diupload.
    Sabar yah untuk next chapternya 😀
    Btw, follow atau join di situs ini ya untuk info update Half Vampire lebih cepat.
    Terima kasihhhh. 😀

  4. Aaaaaaaaakkkkkkkk makasiiii..
    Hahhaha aku juga suka Reven loh <3
    Btw Reven ini emang belum bisa move on dari Noura loh.
    Kayaknya dia ini generasi menolak move on 😛

    Sipzz, semangat!!
    eh, kaya yg sudah2.. follow atau join di situs ini yuk. Biar cepet dapet info kalo ada chapter baru HV.
    *promoosi*

  5. Hahhahah, sampe komentarnya banyak typo gitu. semangat banget ya? :p

    btw aku juga gemes nih sama Reven. Gak move on – move on dari Noura.

    Iya nih, aku lagi mau UAS, jadi minggu-minggu ini sibuk banget di kampus. Banyak tugas, banyak presentasi, jadi molor update HV-nya.

    Semoga next chapter bisa lebih cepat dari ini. 😀

  6. Tetep keren, tetep bikin penasaran, tetep pengen cepet2 baca lanjutannya hahah
    Ihh gemes dh ama Reven, lama2 juga bakalan suka tuh ama Rena, kalo nanti dia suka sama Rena aku setuju banget tp nanti bakalan aku ketawain si Reven, sok jaim sih soalnya wkwk
    kalo Damis ama Rena ga cocok lebih cocok jd kka yh thor heheh *Damis ama aku aja boleh ga? Wkwk kaburrrr*
    Thor bisa ga sekali aja ga usah munculin si Noura dipart2 selanjutnya? -_-
    Emm, penasaran dh si Noura kebunuhnya kenapa yak? Ama siapa gt? Bocorin dong thor hohoh
    Ohh iya kayaknya bskalan ada org ganteng baru nih yak? Pangeran serigala? Orgnya kece pasti nih tp pasti masih kecean Reven Hehe

    Ohh iya lanjutannya jangan lama2 yh thor, maacih 😉

  7. Hallo sist, saya comment di mari. Biasanya baca di wattpad sii -dan jarang comment deh kayaknya hehe salam kenal.
    Saya ngerasa gimana gitu tiap Rena sama Reven ketemu, beda kalo Rena sama Damis -saya ngerasanya biasa2 aja gitu. Next chap bakalan banyak scene Rena sama Reven nih hihi seneng saya. Dan kayaknya Reven udah lebih care ya sama Rena 🙂
    Tugas ini bareng Lyra juga, wow bakalan seru kayaknya. Next chap jangan lama2 ya, thor. *bow*

  8. Hah.. Kakak author aku merindukan HV 🙂 🙂
    Akhirnya setelah penantian panjang muncul juga, lega sekali..*lebay mode-on

    haah.. tugas pertama sama Reven, pasti bakalan setia nunggu scene-scene mereka…
    dan juga bakalan sabar terus nantiin terpecahkannya puzzle yg ada di HV ini…

    ngomong-ngomong Arshelnya lagi di mana sih?
    aku merindukannya… 🙂

  9. wah keren ceritaya makin keren & makin penasaran ,,
    aku suka ,, sama dev tapi aku gak suka dia suka ngigetin noura ,, yg jelas-jelas di depan dia rena bkn noura,,,,
    semoga berhasil tugasnya di tunggu lanjutanya,,,
    ohya ,, thor aku kan waktu itu mau berteman di fb author tapi gak bisa ajah ,,, kenapa yah ,, tapi aku udah follow author ko & makasih yah udah di follback twit aku thor kasih tau aku klo udah ada lnjutanya yah seru bgt,,

    semangat untuk buat lnjutannya yah ,, 🙂

  10. Aaakkkk tetep makasiiiiii buat semua yang komen dan baca di blogku :* :*
    Btw aku juga gemes banget sama Reven. Dia ini duta anti move on deh kayaknya -___-
    Damis? Dia kekakakan ya? *bahasanya aneh 😛 *
    Cerita kematian Noura nanti akan jelas dari chapter ke chapter, dan aku uda nulis draft kasar HV sampai ending. hehehe

    orang ganteng lagi?? pangeran serigala?? hahahha ditunggu aja yaaa

  11. Hallo hallooo salam kenal jugaaa. 😀
    Banyak yang suka Rena sama Reven dan bahkan ada yang merasa kalo sikap Damis ke Rena ini lebih kayak kakak. Aku sendiri bingung gimana sikap mereka ini sebenarnya ke Rena :p
    Yup, next chap (yang kayaknya bakal telat banget) emang bakalan banyak adegan Rena sama Reven.
    Tapi maaf ya, kayaknya next chapter bakal moolooooor banget.
    Dua minggu ini aku ujian di kampus >.<

  12. Haaaa aku merindukanmu *eh

    Yup tugasnya bareng Reven so pasti banyak adegan-adegan mereka berduaan. Ihiirrr :p

    Btw, Ar lagi banyak tugas. Nanti akan ada penjelasan apa sih yang sebenernya dikerjain Ar setelah dia keluar dari organisasi Slayer. Ar ini sebenernya punya peranan penting loh disini. 😀

  13. Aduuhh, maaf maaf kayaknya next chapternya bakal (lumayan) lama. 🙁
    Aku ujian dua minggu kedepan. Fokus dulu ke urusan kampus. Huhuhu. Maaf ya membuat kalian semua menunggu. >.<

  14. Makaasiii dipuji lagi *blushing*
    Dev apa Rev hayoo?? 😛
    Reven emang belum bisa melupakan Noura, secara mereka dulu saling mencintai dan sudah akan menikah dan jadi pasangan sesungguhnya seperti Rosse dan Vlad.

    Oiya, fb nya apa biar aku konfirm. Soalnya banyak banget permintaan pertemanan dari org2 yang kadang sering inbox rese' jadi gak aku konfirm. Maaf ya.
    Heheheh makasih lagi, udah follow akun twitter-ku. Username kamu apa? 😀

  15. Samasama author :*:*
    Perasaan ga enak ternyata oh ternyata bakalan lama keluarnya :'( :'( tapi no problem aku bakalan sabarrrrrrr nunggu buat abang Reven hahah
    Iya thor kakakakaan setuju kannnn? Hihih :p
    Reven duta anti move on? Come on Rev masih aja galau2an wkwk *piss rev
    Ahh kalo bisa si Noura kagak usah dimunculin thor mengganggu perjalanan cinta Reven ama Rena aja -_- wkwk

    WHAAAAAATTTTTTTT????????!!!!!!!!!
    *inilebay* wkwkw
    Udah ada draft kasarnya sampe end? Huahhhhhhhhh penasaran setengah mati thor *tarik-tarik baju author* Rena sama Reven kan pastinya yah yah yah? 😉 pleaseeeeeeeeeee

    Aishh jadi penasaran ama lanjutannya ini banyak adegan Rena Reven lagi yak?
    Tapi aku sabar menunggu kok hihu
    Tetep semangat thor buat ngelanjutin ini cerita and good luck for your exam 🙂

  16. rena m reven x y…pantes z jdi rja vampir hehehe
    cemangt wat author byr tau endingny

  17. Pls update it as soon as possible.. Good luck for your exam, it seems that author are really busy that it takes more time to update the next chapter than usual.. I don't know if this was only my imagination but i feel that Noura death's was related with Arshel.. o_O

  18. thor, penasaran bnget nih, sama kelanjutannya
    wah semoga reven bisa cepet nerima rena, kasian tuh si rena kan kayak nggak nyaman gitu sama reven
    ditunggu ya.. lanjutannya
    keep writing 🙂

  19. Ayoo kita buat Reven move on *dandan menor dan sexy buat Reven*
    Hehehehe iya, uda sampai tamat kalo draft kasarnya. Tapi yang lembut.. ennnggg… belum. 😛

    Semangat semangat terima kasiiih semangatnya..

  20. Makasii makasii doanya, umm (sepertinya) ujianku minggu lalu berjalan lancar dan aku sedang menulis HV untuk cerita selanjutnya dan kurasa akan lebih panjang untuk menebus keterlambatan upload cerita sebelumnya.
    Kematian Noura berhubungan dengan Ar??
    Hemm.. I think so. *ngelirik dg misterius*

  21. Secepatnya dan akan lebih banyak pastinya. Hehehehe sebagai penebus dosa buat lamanya upload next chapter. Kalo engga minggu ini, paling molor minggu depan. :p

Leave a Reply

Your email address will not be published.