Half Vampire – Tujuan Lain

“Apakah aku akan tetap aman selama aku ada di kastil ini?”

Reven menyentuh bahu sosok yang berbaring menatapnya itu, “Akan, tetap dan selalu.” Jawab Reven pasti. Tapi tidak ada jawaban ataupun reaksi lain setelah itu. Hanya sepasang mata hijau yang menatapnya kosong.

“Kau harus percaya padaku, Noura. Kastil ini adalah tempat paling aman.” Diraihnya tubuh Noura ke dalam pelukannya. Mendekapnya erat dan penuh perlindungan.

“Aku melihatnya lagi, Rev. Kilasan yang sama ketika aku mengistirahatkan pikiranku. Ini mungkin petanda.” Bisik Noura pelan dalam dekapan Rev.

 Reven menggeleng, “Tidak akan ada yang bisa melukaimu selama aku bersamamu.” Diusapnya pelan rambut Noura, disalurkannya semua energi positif yang dimilikinya.

 “Tapi kau tidak akan selamanya bersamaku, Rev. Begitu banyak tugasmu di luar sana yang harus kau kerjakan. Lagipula, segala yang kulihat bukan hanya tentang aku. Tapi Maurette juga. Aku menkhawatirkannya.” Sahut Noura seraya memandang mata biru Reven.

 Reven tersenyum, “Aku akan menyuruh Damis melindunginya. Kau bisa mempercayakan sahabatmu itu pada Damis.”

 Noura mengangguk dan menenggelamkan wajahnya ke dada Reven. Tangan Reven lembut menyentuh punggung Noura dan mengusapnya. “Segalanya akan baik-baik saja. Aku janji. Kau akan hidup selamanya bersamaku. Kau akan menjadi ratu untukku. Dan aku akan menjadi pelindungmu. Aku janjj.”

***

“Sherena Audreista. Kau…”

Reven mencengkeram erat teralis jendela di depannya dengan kuat sampai terdengar bunyi besi patah yang berkeriak. Dia berbalik, meninggalkan teralis yang setengah hancur dalam beberapa detik itu.

***

 Akhir-akhir ini aku terus saja dihantui mimpi-mimpi buruk yang membuatku terjaga di tengah malam dengan nafas tersengal-sengal dan keringat yang membanjiri wajah dan tubuhku. Namun setiap kali aku memcoba mengingat apa. Mimpi seperti apa yang membuatku seperti ini. Aku hanya mendapatkan ingatan kosong tanpa bayangan apa pun. Sederhananya aku tak mampu mengingat apapun tentang mimpi itu.

Akupun berhenti mempermasalahkan mimpi-mimpi itu ketika bayangan tentang pertemuanku berikutnya dengan Reven, menghantuiku dengan lebih pasti. Aku bersyukur, mengingat sejauh ini, sejak pertemuan terakhir kami, aku sama sekali belum bertemu Reven. Dia seolah menghilang. Lenyap dan aku merasa beruntung. Damis, Rosse maupun Russel yang sesekali kutemui di kastil juga tidak berkata apapun tentangnya. Dan aku juga tidak mau terlalu memikirkan keberadaannya. Dia tak menampakkan wajah jahatnya di hadapanku saja sudah lebih dari cukup.

 Aku melangkah pelan-pelan. Tanah basah, licin bekas hujan deras semalam membuatku enggan melangkah lebih jauh ke lapangan latihan panahanku. Kuputuskan kembali ke kastil dengan alas kaki penuh lumpur dan gagal berlatih.

Mengerutu tak jelas aku tetap memperhatikan langkah kakiku dengan baik. Aku tak mau kembali ke kastil dengan tak hanya dengan alas kaki penuh lumpur tapi juga seluruh tubuh penuh lumpur karena terpeleset dan jatuh. Langkahku terhenti ketika tanpa sengaja aku melihat sesosok tubuh melangkah keluar dari pintu utama kastil. Aku memicingkan mataku, mengenali itu Russel, nyaris saja aku memanggilnya ketika kulihat sosok lain berjalan di belakangnya. Sosok ramping penuh pesona, Lucia. Keningku berkerut, merasa mendengar suara lembut tajam milik Lucia tersaring ke dalam indra pendengaranku.

 Dalam jarak sejauh ini?

Aku menggeleng. Tapi yang kudengar benar-benar suara Lucia. Meski samar. Aku menelan air ludahku ketika akhirnya suara Russel yang kudengar. Bening, jelas. Seakan-akan dia berdiri di sampingku dan tengah berbincang denganku. Padahal dia berdiri begitu jauh dari tempatku sekarang. Mungkinkah kemampuan indra pendengaranku naik dengan demikian hebatnya karena aku half vampire? Terasa seperti inikah pengaruhnya?

“Kita tak bisa melarangnya melakukan itu Lucia. Reven punya hak mutlak.” Suara Russel terdengar putus asa. Lelah berdebat dan kehabisan pikir.

 “Tapi itu berbahaya. Bagi dia maupun bagi kita. Reven BISA TERLUKA!” Debat Lucia setengah berteriak.

 Reven? Nada kekhawatiran itu meluncur dengan jelas dalam setiap suku kata yang dikatakan Lucia. Apa yang tengah dilakukan makhluk itu sekarang? Adakah sesuatu yang dilakukannya itu begitu berbahaya sehingga dia bisa terluka?

“Vlad sudah setuju. Dan Rev pergi bersama Vogue dan Lucius. Tidakkah kau pikir mereka bertiga sudah menjadi kelompok kecil yang tangguh.”

Lucia menghembuskan nafas panjang, suaranya melembut, cenderung putus asa “Justru karena ada Vogue.”

Aku melihat Russel berbalik, menghadap ke Lucia, menunduk dan mengecup bibir Lucia sekilas. “Jangan seperti itu.” Ucapnya kalem. “Vogue anggota klan kita. Kita harus mempercayainya. Lagipula dia sudah menerima hukuman dari Vlad untuk segala kelalaiannya dulu. Dan aku yakin, hukuman itu cukup untuk membuatnya kembali lebih fokus pada tugas.”

“Berhentilah bersikap naif. Kau tau apa yang sebenarnya kutakutkan.” Tajam, sinis. Dan Lucia langsung melangkah pergi begitu selesai mengucapkan itu. Dia menghilang dengan cepat seperti  angin entah ke arah mana.

Aku berlari ke arah Russel ketika kusadari dia hanya memandang ke arah hutan jauh di depan tanpa bertindak apapun. Russel menoleh ketika jarakku sudah agak dekat dengannya, “Sherena.”

 “Oh hai.” Kataku kikuk. Aku bahkan tidak tahu harus bicara apa. Tidak mungkin kukatakan bahwa aku telah menguping pembicaraannya dengan Lucia.

 Begitu dekat, aku menyadari kalau wajah Russel benar-benar kacau. Wajah putih pucatnya benar-benar kekosongan aura. Datar. Seperti mati. Aku memandanginya dengan fokus. “Ada apa?” Tanyaku membuyarkan fokusku, “Kenapa memandangiku dengan tatapan seperti itu?”

“Kau terlihat lebih tua.” Kelakarku dengan bodohnya.

Kedua alisnya bertemu, menatapku sebelum akhirnya tawa Russel pecah, “Itu pujian paling indah yang dilontarkan untukku sejak seabad lalu. Kupikir aku hidup dengan wajah seperti ini tanpa batasan waktu.”

Aku tertawa, menepuk pundaknya, “Kalau begitu aku akan mengatakan hal itu setiap kita bertemu.”

 Russel tersenyum, “Kedengarannya bagus.”

“Aku seperti melihat Lucia tadi.” Cetusku

“Dia, pergi. Baru saja.”Jawab Russel terdengar biasa.

 “Kalian bertengkar?”

 Russel memandangku. Mengamatiku. Apakah dia berpikir aku melihat dan mengupingnya tadi.

“Tidak, tidak. Aku hanya.. Eh,”

“Tidak, Rena. Dia pergi karena tugas. Bukan pertengkaran. Kami hanya sedang sibuk. Ah padahal aku sedang ingin lebih lama bersamanya.” Dia mengangkat bahunya. “Kau tahu, rasanya sudah lama sekali kami tidak punya waktu-waktu bersama yang intensif.”

“Ha?”

Russel tertawa, “Sudahlah. Jangan dipikirkan. Ngomong-ngomong aku harus pergi dulu, Rena. Tugas.” Katanya datar.

Aku mengangguk. Russel memelukku singkat sebagai ucapan perpisahan dan dia kemudian berjalan ke arah hutan. Benar-benar berjalan. Seperti manusia. Pelan. Aku percaya ada sesuatu yang tidak beres dan disembunyikannya. Apakah berhubungan dengan pembicaraannya dengan Lucia tadi?

Aku menggeleng. Menyerah karena tiba-tiba merasa sangat haus, aku berbalik. Melangkah masuk ke kastil menuju ruang makan.

***

Beberapa hari terakhir ini aku benar-benar merasa kesepian. Aku tidak melihat Russel maupun Lucia di kastil sejak saat itu. Sementara Damis dan Rosse hanya sesekali mendadak muncul dan menyapaku. Tak banyak waktu. Karena mendadak mereka akan menghentikan obrolan dan mengatakan harus pergi. Vlad? Jangan tanya, aku bahkan tak melihat sosoknya lagi sejak di pesta penyambutanku ketika itu. Dan sosok-sosok lainnya seperti Dev, Maurette, bahkan seperti hilang dan entah dimana.

Aku memandang keluar dari balkon lantai dua kastil ini, menyukai suasana hijau penuh tanaman dalam pot-pot besar dan sulur-sulur setengah basah di tepiannya, aku duduk dengan santai. Mendung masih mengantung di langit. Tak heran, tempat ini memang nyaris tak pernah kebagian sinar matahari. Dan aku tak terkejut kalau para vampir itu memilih tempat ini sebagai pusat kelompok mereka. Disini dingin dan tanpa matahari. Hijau, penuh lumut dan rerimbunan pepohonan berusia ratusan tahun. Aku jadi tergoda untuk menjelajah hutan di seberang sana.

 “Kau baik-baik saja?”

Aku menoleh mendengar suara nyaring itu. Mendapati Lyra melangkah ke arahku. Aku jadi ingat, aku dan Lyra punya pengalaman tidak mengenakkan di hutan. Tapi bukan hutan disini, melainkan hutan perbatasan negeriku dulu, ketika aku dalam pelarian bersama kakaknya, Dev.

Dia duduk di depanku. Meletakkan piala perak berisi cairan merah kental yang dibawanya ke atas meja kayu tua di sampingnya. Wajahnya terlihat segar. Dan aku selalu ingat bahwa Lyra memang sedikit hyperaktif.

“Ada apa?” Aku balik bertanya

“Hanya mampir. Mencari Damis. Tapi kata Vlad dia sedang pergi. Mungkin petang baru kembali.”

Aku sedikit merasa curiga. Lyra bukan tipikal yang akan dengan mudah menerima percakapan biasa tanpa celaan dan sindirian jika denganku. Tapi tadi, dia menyapa, dan menjawab pertanyaanku dengan biasa. Seolah-olah kami adalah teman lama.

“Kenapa kau memandangku begitu?”Teriaknya kesal dan aku mengurungkan niatku berpikir bahwa mungkin dia sudah menerimaku dengan baik sebagai kelompoknya.

Aku mengalihkan pandanganku. Kembali menatap rerimbunan hutan yang jauh di depan. Sambil berusaha tidak mengacuhkan Lyra.

“Kau!” Aku menoleh, “Siapakah yang akan kau pilih?”

Aku mengerutkan keningku dan dia berdecak tak sabar, “Vlad sudah menyambut dan mengumumkan keberadaanmu sebagai seorang calon ratu secara resmi kepada kami. Kau taukan kalau kau harus memilih antara Damis atau Reven sebagai pendampingmu. Apakah sudah kau putuskan?”

Kugelengkan kepalaku cepat, “Belum.”

Aku bahkan baru ingat tentang hal itu. Dulu mungkin Russel pernah bercerita tentang ini padaku. Tapi aku tidak tahu batasan waktu yang diberikan padaku. Vlad maupun Rosse juga sama sekali tidak menyinggung tentang hal ini

“Belum?”

Aku mengangguk.

“Sebaiknya cepat kau putuskan. Lebih cepat lebih baik. Noura bahkan sudah memilih Reven sebelum dia secara resmi diumumkan sebagai calon ratu. Itu baik. Karena akan menegaskan keberadaanmu dalam kelompok.”

Aku memandang Lyra. Kenapa dia mendadak berbicara tentang hal ini denganku.

“Kau menyulitkan Dev.” Ucapnya singkat seolah menjawab semua pertanyaan dalam benakku.

Aku mengubah letak dudukku. Memandang Lyra, “Menyulitkan Dev?”

Dia mengangguk, “Ya. Kau membawa pengaruh yang buruk terhadap kedudukannya dalam kelompok. Dia tidak fokus dan menjadi lebih liar daripada biasanya. Kau tau, kau memang bukan perempuan pertama yang dikencaninya tapi aku tahu bahwa kau memliki tempat yang berbeda di mata Dev dibanding perempuan-perempuan lainnya.”

“Tidak terlalu buruk jika kau bukan kau yang sekarang. Tapi sebagai calon ratu kami. Itu petanda musibah baginya. Kau bisa membuatnya berada dalam masalah. Sejauh ini hanya Rev yang bertindak, tapi jika Vlad turut campur. Aku takut memikirkan apa yang akan dialami Dev.”

“Apa maksudmu dengan bicara ini?” Tanyaku benar-benar tak paham.

“Kau hanya milik salah satu dari mereka, Rev atau Damis. Bukan vampir atau makhluk lainnya. Karena memang disitulah tempatmu. Tapi jika ada yang mengusik. Berarti tugas anggota kelompoklah untuk memusnahkan apapun itu nantinya. Kau harus tau, jika perasaan Dev padamu tidak hanya membawa kesulitan baginya. Tapi juga pada kelompok kecil kami.”

Otakku berusaha mencerna semua yang dikatakan Lyra. Tapi terasa sulit. Dan aku kembali hanya mendengarkan ketika kudengar dia bicara lagi.

“Aku tau kau sudah tidak menyukainya. Tapi Dev masih. Jadi ku harap kau bisa tegas. Pilih pendampingmu lebih cepat. Itu akan lebih baik bagi Dev. Jika kau memang masih peduli padanya.” Lyra meraih pialanya, meneguk isi didalamnya dalam tiga kali teguk sebelum dia meletakkan kembali piala kosong itu.

“Sekali ini, kuharap kau mau memikirkan Dev. Dia sudah berada dalan kesulitan tanpa kau perlu menambahnya lagi. Reven memang mempercayainya, tapi jika sikapnya terus seperti itu. Aku tidak tau lagi, aku pun tidak yakin dia masih bisa memegang kepercayaan yang diberikan Rev.”

“Sebentar. Aku tidak mengerti.”

Lyra tertawa sinis. “Otakmu sulit mencerna arah pembicaraanku?”

Mau tak mau aku mengangguk. Meski sedikit merasa ragu.

“Itulah buruknya berada dalam tahap “half”. Separuh-separuh. Aku akan sangat menantikan saat kau bisa benar-benar menjadi seperti kami. Kau mungkin bisa diajak bicara.”

Kedua alisku tertaut, merasa sangat kesal dengan Lyra. Kupikir dia akan menjelaskan sesuatu tapi ternyata malah menghinaku dengan sindiran menyebalkan seperti itu. Aku bangkit dan berjalan ke tepi balkon. Merasakan basah menyentuh kulitku ketika tak sengaja ku sentuh sulur-sulur di tepiannya.

“Pergilah. Aku tidak butuh teman bicara menyebalkan sepertimu.” Kataku jengkel.

Namun aku justru mendengar kekeh Lyra, aku menoleh dan mendapati dia tertawa dengan kerasnya. “Kau.. Lucu juga.” Katanya sebelum benar-benar pergi dan meninggalkanku kembali sendirian.

Ketika akhirnya aku benar-benar sendirian. Ucapan-ucapan Lyra tadi bertumpuk-tumpuk masuk ke dalam pikiranku. Pelan-pelan aku tahu, dia bicara seperti itu karena dia menghawatirkan Dev dan ayahnya. Apakah selama ini aku sudah menyulitkan Dev?

Mendadak ingatan terakhirku bersama Dev melintas di kepalaku. Aku mengutuk diriku sendiri karena ketika itu aku harus memilih menciumnya hanya untuk menghentikannya bicara pada Rev. Dan Rev pun, ketika di ruanganku menunjukkan dengan jelas ketidaksukaannya terhadap hal itu.

Apakah dia menerima hukuman karena ciuman dariku ketika itu?

Tidak bisa.

Aku berlari secepat mungkin masuk ke dalam kastil. Aku harus menemui Vlad.

***

“Kau datang disaat yang tepat, Sherena Audreista.”

Suara Vlad seperti mengaung di telingaku. Aku melangkah maju dengan ragu. Ini pertama kalinya aku masuk ke ruangan Vlad. Aku tau tempat ini, tapi tak pernah punya keinginan ataupun keberanian untuk masuk dan bicara dengan pemilik ruangan ini. Bagiku Vlad tetap merupakan sosok yang sangat membuatku gugup dan takut. Dia punya aura yang kuat untuk mengintimidasi lawan bicaranya dan matanya. Mata merah itu terlalu tajam dan merah. Begitu jahat.

Aku menelan ludahku. Aku baru saja masuk dan sudah disambut suara tebal dan tegas milik Vlad. Aku melihatnya duduk dengan satu kaki menyilang pada kaki lainnya, terlihat elegan dengan buku yang terbuka di atas pahanya. Dengan satu tangannya yang kosong dia memberiku tanda agar aku duduk di kursi lain di depannya.

Satu-satunya penerangan di tempat ini hanya berasal dari perapian yang menyala besar di dekat kami dan satu jendela tinggi yang membiaskan cahaya kelabu dari luar. Tak begitu membantu, dan aku tak tahu bagaimana Vlad bisa membaca dalam kondisi seperti ini.

Aku patuh, mengambil tempat di depannya, aku duduk dan tak berani bicara sebelum dia bertanya. Akupun juga tak berani memandangnya, dalam penerangan seremang ini, aku tahu penampakan sosok Vlad jauh lebih menakutkan dan membuat jantungku berdetak lebih keras. Aku menyesali tindakan buru-buruku yang langsung memilih menemuinya.

“Sebelumnya. Katakan padaku apa yang membuatmu menemuiku bahkan sebelum aku berkata pada Damis untuk membawamu kesini.”

Aku menatap ke arahnya, tapi mengambil fokus perhatian pada deretan lukisan di belakangnya. Berdehem pelan sebelum bicara dengan gugupnya, “In-inn- ini tentang Dev. De-Deverend Corbis.”

“Ah anak itu. Ya. Ada apa kali ini? Apakah di-“

“Dia tidak bersalah.” Sahutku kencang. Aku menutup mulutku dan merutuki kelancanganku.

Kulihat Vlad meletakkan bukunya. Menatapku. Aku nyaris gemetar. Dia mengangguk.

“Ak-aku minta ma-maaf. Tapi, dia tidak bersalah. Semua hanya..”

Vlad melambaikan tangannya dengan malas, “Aku tidak mau tau urusan seperti itu. Rosse sudah bicara. Reven juga meyakinkanku bahwa dia percaya pada si Corbis muda itu. Bagiku cukup. Selesai.”

Reven?

“Sekarang ada masalah lain yang ingin kutanyakan padamu.”

Aku kembali memusatkan konsentrasiku pada Vlad. Merasa bahwa ini sesuatu yang besar, aku menunggu.

“Kau mengenal seorang penyihir bernama Arshel?”

Aku nyaris berjingkat ketika Vlad mengucapkan nama Ar. Arshel, apakah terjadi sesuatu dengannya. Aku mengangguk cepat dan menjawab dengan tak sabar, “Ya, Ar dan aku sudah seperti saudara. Dia satu pelatihan denganku. Dan di-“

“Apa dia juga heta sepertimy?”Potong Vlad

Aku menggeleng, “Dia Slayer.”

Kulihat Vlad mengangguk. Seperti memikirkan sesuatu aku menyadari perubahan ekspresi Vlad. Dia seperti tertarik. Entah karena apa.

“Apa terjadi sesuatu dengannya?”

Vlad memandangiku, “Tidak.” Jawabnya pendek. Dan nada dalam jawabannya seakan menegaskan bahwa dia melarangkanku bertanda lebih lagi.

Aku memainkan jari-kari tanganku dengan gusar. Aku merasa ada yang tidak baik.

“Kau boleh pergi.” Dengan suara rendah, dia membuatku benar-benar tidak ingin membantahnya. Aku bangkit, masih gusar. “Apa Ar-“

Vlad sudah membuka bukunya lagi, dengan malas dia memandangku. “Kau boleh pergi.” Ulangnya jelas dan tegas.

Disaat kekhawatiran akan Dev dapat kuatasi, kini seluruh otakku dipenuhi tentang Ar. Apakah yang sebenarnya diharapkan Vlad dari pertanyaanya tadi? Apakah dia tengah merencanakan sesuatu terhadap Ar? Kalau begitu, apakah Vlad tau dimana Ar sekarang?

Aku membolak-balikkan tubuhku dengan gelisah. Sedetik pun aku tidak dapat memejamkan mataku. Bayangan Ar berbaur menjadi satu dan membuatku tidak tenang. Aku takut dan cemas. Apakah Ar baik-baik saja?

Kualihkan pandanganku ke satu-satunya jendela tinggi yang ada di ruangan tidurku ini. Entah kenapa pikiranku tiba-tiba teralih ke peristiwa lain. Jendela tinggi itu, dulu aku pernah mencoba kabur dari kastil dengan dengan memanjat turun ke bawah melalui jendela itu. Nyaris berhasil ketika akhirnya Rev..

Reven.

Satu pikiran tersapu pikiran lainnya dan terlintas di otakku makna ucapan Vlad berkaitan dengan masalah Dev. Reven telah menjelaskan segalanya pada Vlad. Menjelaskan segalanya? Jadi dia membela kami. Dia menyelamatkan Dev? Aku menggelengkan kepalaku. Tidak memahami jalan pikiran makhluk ajaib satu itu.

Mataku mengerjap. Entah bagaimana mendadak tubuhku didera kelelahan yang sangat. Tubuhku terasa lemah. Kelopak mataku memaksa tertutup perlahan. Dan aku..

***

Aku sekali lagi mengerjap, merasa sangat pusing dan mual. Aku mengerjap beberapa kali. Setelah mengatasi semua kondisi tidak menyenangkan ini aku menyadari ada seseorang lain di depanku.

Rambut panjang bergelombang berwarna hitam kemerahan. Mata hijau lembut. Aku menahan nafas. Mengenali ciri-ciri pemiliknya, Noura. Fokusku pada Noura menjadi buyar ketika aku mulai menyadari tempat apa ini. Aku mengitari tempat ini dengan mataku, menyadari bahwa aku merasa tidak asing. Ini..

“Hutan perbatasan..” Aku mengucap nama tempat itu dengan pelan dan seperti tidak percaya. Noura. Di hutan perbatasan klan manusia. Sedang apa?

Aku kembali memandang Noura yang duduk bersandar di salah satu pohon besar, tangannya memainkan ranting-ranting kering yang banyak berceceran di sekitarnya. Sesekali dia memandang ke arah lain. Sebelum akhirnya, menghembuskan nafas bosan dan beralih memandang ke langit.

“Cantik.” Aku mendengar dia berkata dengan pelan ketika gerak dedaunan berada pada posisi yang mengizinkannya melihat bulan di atas sana secara utuh tanpa perlu lagi tertutupi dedaunan yang menari seirama dengan lagu angin.

Tapi hanya sebentar sebelum dia menghela nafas panjang dan menoleh lagi ke belakang. Noura sedang menunggu. Simpulku percaya. Dan aku nyaris melonjak bersamaan dengan gerakan berdiri Noura yang tiba-tiba. Wajahnya mendadak terlihat sangat lega.

“Arshel..” Panggilnya ketika akhirnya sesosok tubuh berjalan mendekat ke arahnya.
—————

 “Arshel?” 

Tubuh letih itu menoleh ketika mendengar seseorang memanggil namanya. Mata coklatnya menatap tajam ketika dia merasa asing dengan sosok di hadapannya. Sebelah tangannya memegang dengan siaga pedang perak yang diikatkannya di pinggangnya.

 “Siapa kau?” 

 “Kita pernah bertemu sebelumnya.”

Ar memicingkan matanya, mencoba mengingat. Dan ketika sepotong ingatan tentang sosok di depannya telah didapatkannya, dia menarik pedangnya dengan satu gerakan cepat.

 “Kau vampire yang dulu mencoba melukai Rena saat kami berjaga di hutan perbatasan. Apa yang kau cari sekarang?” Sergahnya penuh kemarahan.

 “Reven.” Sosok di depannya mengenalkan diri dan maju selangkah lebih dekat ke arah Ar. Mengabaikan pedang yang berkilau tajam yang mengarah ke arahnya. “Aku mencarimu.” 

 “Mencariku? Untuk apa?”

  Reven tersenyum tipis, “Tidakkah kau ingin tahu kabar Sherena sekarang?”

 Ar bereaksi sedikit. Kemudian dengan gerakan pelan dia mengembalikan pedangnya ke dalam sarung pedangnya. “Aku tau dia baik-baik saja bersama kalian, klan vampire.” Katanya singkat sebelum dia berbalik, berjalan pergi. Mengabaikan Reven. 

 Kedua alis Reven bertaut, awalnya dia mengira topik tentang Sherena akan membuat Ar mendengarkan apa yang sebenarnya menjadi tujuannya mencari Ar. “Dan tak maukah kau berbagi apapun yang kau tahu mengenai Noura.” Suara pelan itu mengalir tertahan. Membuat Ar menghentikan langkahnya dan berbalik.

 “Sebenarnya apa tujuanmu mencariku?”

 Reven memandang Ar tajam, “Banyak yang perlu kutahu dan kudengar darimu.”

 Arshel balas memandang Reven, kedua tangannya bersilang di depan dadanya. Wajahnya terlihat malas menanggapi Reven. “Lalu apa kau pikir aku mau bicara denganmu? Dan lagipula, kenapa vampir calon pengganti Vlad mau bersusah payah mencariku beramai-ramai hanya untuk masalah seperti ini. Berdiskusi bukan cara kalian.” 

 Kening Reven berkerut. “Kau..”

 “Aku mengenalimu lebih dari sekedar vampire yang mencoba melukai Rena ketika itu. Segala ciri-ciri yang melekat di dirimu membawaku dengan mudah menebak vampire jenis apa kau sesungguhnya. Dan lagi, kurasa seorang dirimu sudah cukup jika memang kita harus berkelahi. Tak perlu dua orang lagi temanmu mengawasi dari jauh.”

 Wajah Reven memerah, dengan satu gerakan dia maju dan meraih leher Ar. Mencengkramnya. Bersamaan dengan itu gerakan-gerakan tak jelas memunculkan dua sosok lain di belakang Reven. Lucius dan Vogue berdiri memperhatikan dengan wajah penasaran yang jelas. 

 “Bunuh aku.” Kata Ar ketika dia mulai kesulitan bernafas. Dia sama sekali tak menunjukkan bahwa dia takut. Matanya bahkan bersorot tenang ketika Reven semakin kuat mencekik lehernya. 

Satu gerakan pasti, dilemparkannya tubuh Ar hingga menghantam sebuah batang pohon yang cukup besar. Terbatuk-batuk, Ar menahan sakit yang mendadak melumuri sekujur tubuhnya. Dia yakin ada salah satu tulangnya yang patah ketika dengan penuh perjuangan dia mencoba menggerakkan tubuhnya. Bekas membiru nampak melingkar di lehernya sementara beberapa bagian tubuhnya yang lain terasa perih dan mengeluarkan darah. 

“Katakan padaku apa yang kau ketahui tentang Noura!” Penuh amarah, Reven mencoba menahan semua keinginannya untuk membunuh Ar detik itu juga. Dia maju, setengah berjongkok menjajari Ar yang terduduk tidak berdaya. 

“Katakan padaku.” Katanya akhirnya dengan nada yang sedikit melembut ketika dia menatap dengan tajam mata coklat Ar. 

Arshel tersenyum tipis. Reven membisu, mengerti. Dan tanpa bicara apapun mendadak dia bangkit lalu berbalik menatap Vogue dan Lucius yang hanya diam memperhatikan apa yang dia lakukan sedari tadi. 

“Kalian pergilah.” Perintahnya mendadak. 

Vogue maju, “Tapi..”

“Kembali ke kelompok kalian.”

 Lucius mengangguk. Berbeda dengan Vogue yang masih ingin tinggal dan nampak akan membantah Reven. “Pergilah!” Setengah membentak Reven menatap keduanya dengan tidak sabar. Lucius sekali lagi mengangguk, dia tahu Reven sedang benar-benar tidak ingin dibantah. Dia mengenal Reven lebih lama dari siapa pun disini. Ditepuknya pundak Vogue, “Ayo.” Katanya pelan, berbalik dan berlari pergi dengan sangat cepatnya. Setengah kesal, Vogue berbalik dan mengikuti Lucius. Dalam beberapa detik keduanya sudah berada sangat jauh dari tempat Reven kini memandang Ar.

 “Kau mengerti juga akhirnya.” Suara pelan menahan sakit itu meluncur dari bibir Ar. 

 Reven berbalik, “Apa tujuanmu sebenarnya?”

 Ar tersenyum tipis sambil menyeka sisa darah yang ada di ujung bibirnya, “Itu tidak penting. Bukankah kau hanya ingin tahu tentang Noura.”

 Reven mengamati Ar. Dan perlahan dia mengangguk. “Sebenarnya, apa yang terjadi diantara kau dan Noura?”

 “Tidakkah lebih baik kita mencari tempat lain untuk berbicara. Aku juga perlu minum dan membersihkan lukaku. Kau membuat seluruh tubuhku terasa seperti hancur.”Jawab Ar dengan santainya. Dia berjalan tertatih setengah menyeret tubuhnya melewati Reven yang tidak bergerak sama sekali. Reven menoleh perlahan ketika Ar sudah agak jauh darinya. Dia memicingkan matanya, sampai akhirnya memilih berbalik dan mengikuti Ar yang sudah pergi lebih dulu. 


<< HALF VAMPIRE – Darah dan Ikatan
HALF VAMPIRE – Petanda >>

Mau Baca Lainnya?

3 Comments

Leave a Reply

Your email address will not be published.