Half Vampire – Victoria Lynch

Haloo semuanya, HV datang lagi. LOL.

Emm, ini sebenarnya versi lengkapnya chapter sebelumnya, jadi aslinya ini dan chapter sebelumnya adalah satu kelompok chapter yang judulnya “Balas Dendam” tapi karena aku tidak bisa menyelesaikan mengedit chapter ini bebarengan, jadinya diupload misah. Karena jika menunggu lengkap, kalian mungkin baru akan membaca new chapter HV sekarang. Hehehe.

Well, aku ingin sedikit menjelaskan disini. sepertinya aku harus mengubah aturan yang kutetapkan untuk diriku sendiri tentang wkatu pengupload-an HV, Xexa maupun Another Story. Karena akhir-akhir ini aku benar-benar sangat sibuk, sepertinya aku tidak akan bisa menepati janji tentang seminggu sekali upload HV. Jadi mohon pengertiannya ya. Tapi tenang saja, aku akan mengupload HV ketika aku punya kesempatan mengedit draft-nya dari laptopku yang sebenarnya disana, kisah ini sudah selesai.

Terima kasih buat kalian semua.

Salam peluk

@amouraXexa

***

“Apa yang kau ketahui tentang Victoria? Katakan padaku segalanya dan aku akan membiarkan putramu hidup. Katakan padaku apa yang kau dan Noura rencanakan selama ini. Sejauh mana Noura bercerita padamu tentang apa yang sebenarnya terjadi?”

Akhtzan tersenyum, mencoba dengan sekuat tenaga untuk bisa tetap berdiri tegak dan memandang ke arah Vlad, “Kenapa aku harus mengatakan semua itu kepadamu?”

Vlad memandang Akhtzan dengan tidak percaya. Dia tidak menyangka bahwa seseorang yang sudah diambang kematian masih punya cukup keberanian untuk mengatakan hal itu kepadanya. Menekan amarahnya, dia tertawa kecil dan berjalan memutari Akhtzan yang jelas-jelas terlihat begitu lemah dan tidak berdaya, “Kau tahu kau harus melakukannya atau kau akan kehilangan putramu. Kau sangat menyayangi slayer itu bukan, Akhtzan?”

Anehnya Akhtzan tak terlihat takut dan malah balas memandang Vlad dengan berani, “Arshelku bisa menjaga dirinya sendiri. Aku tidak perlu mengkhawatirkannya, Vlad. Dan satu anakku yang lainnya, aku tahu kau tidak akan mungkin bisa membunuhnya atau itu berarti bahwa kau membuat dirimu sendiri kehilangan kekuatanmu.”

Langkah Vlad terhenti. Ditatapnya Akhtzan dengan kedua matanya yang memerah tajam. Rosse yang berdiri tak jauh dari mereka juga mengamati Akhtzan. Mereka berdua sama tidak mengertinya dengan maksud perkataan Akhtzan.

“Apa maksudmu, penyihir tua?” Vlad menatap Akhtzan lurus-lurus. Namun ketika tak ada satu penjelasanpun keluar dari mulut Akhtzan. Dia kehilangan kesabarannya dan menarik leher Akhtzan mendekat padanya, mencekikknya dengan keras namun tidak cukup kuat untuk membunuhnya, “Katakan padaku apa maksud ucapanmu?” geramnya.

Rosse berlari mendekat dan menyentuh tangan Vlad yang digunakannya untuk mencekik Akhtzan, “Tenangkan dirimu, Vlad atau kau akan membuat lehernya remuk dan kita tidak akan mendapatkan informasi apapun.”

Vlad menggeram marah dan melepaskan tangannya dengan kasar. Mengibaskannya dengan keras sehingga Akhtzan terpelanting ke belakang. Rosse menghela nafas, “Biar aku yang tangani ini semua.” Katanya lembut dan Vlad tak menjawab, melainkan hanya mundur selangkah  dan mengamati.

Rosse mendekat ke arah Akhtzan dan berjongkok di dekat tubuh Akhtzan yang terkulai lemah, “Bicaralah, Akhtzan. Atau kematianmu akan menyakitkan. Jika aku jadi kau, aku akan bicara. Karena dengan itu aku akan bisa menyelamatkan anak-anakku. Kau mengatakan bukan hanya Arshellah putramu, lalu siapa lagi? Dan kenapa kau sangat yakin bahwa kami tidak akan bisa membunuhnya jika kau tak bicara apapun tentang Victoria dan rencanamu bersama Noura?”

Tak ada jawaban dan hanya suara batuk Akhtzan yang memecah keheningan setelah ucapan panjang Rosse. Vlad berdiri di kejauhan dengan tidak sabar. Dia benar-benar ingin membunuh penyihir tua itu jika memang dia tidak membutuhkannya. Namun faktanya dia harus menunggu untuk melakukan itu karena penyihir itu tahu begitu banyak hal yang akan bermanfaat baginya.

“Bicaralah, Akhtzan. Maka aku akan berjanji untuk membakar mayatmu dengan layak ketika kau mati nanti.” Rosse tersenyum, “Kau tidak akan bertahan hidup jika berada di luar dari area kutukanmu bukan?”

Akhtzan melirik ke arah Rosse. Sudut bibirnya berdarah dan dia menyekanya dengan perlahan. Bukan karena apa-apa melainkan karena dia sudah kehabisan tenaganya. Jangankan melakukannya dengan cepat, mengerakkan tubuhnya dan membuatnya bangun dari tanah saja dia sudah tidak bisa melakukannya, “Aku tidak peduli pada mayatku nanti, vampir licik.” Desisnya.

Rosse menjambak rambut Akhtzan dengan keras sehingga dia bisa memandang Akhtzan tepat di kedua matanya, “Dengarkan aku.” Bisik Rosse mengancam, “Jika aku jadi kau, aku akan bicara. Kau sudah tidak punya apa-apa lagi untuk bisa kau pertahankan. Bahkan jika kau berkeras pada kebisuanmu, aku janji pada diriku sendiri bahwa tanganku inilah yang akan merenggut jantung Arshel dari tempatnya. Namun sebelumnya, aku akan menyiksanya, membuatnya mati dengan perlahan sebelum aku mengambil jantungnya. Percayalah padaku, Akhtzan. Aku sanggup melakukannya.”

Akhtzan mengatupkan matanya sejenak sebelum dia kembali membukanya dan menatap Rosse dengan matanya yang berwarana sama seperti milik Arshel, “Aku tidak percaya bahwa kau adalah wanita yang sama seperti yang dikisahkan oleh Noura. Noura bilang kau adalah wanita yang sangat baik dan dia mempercayaimu. Namun kurasa dia salah besar untuk hal ini.”

“Apa kau bilang?” kening Rosse berkerut dalam mendengarnya.

“Tidakkah kau sadar kau ini dimanfaatkan Rosse?” Akhtzan memandangnya dengan matanya yang berair, “Cinta. Hanya karena kau mencintai vampir itu, kau merelakan tanganmu untuk membunuh perempuan yang sudah kau anggap seperti anakmu sendiri. Noura menyayangimu dan tulus padamu, Rosse. Aku bisa melihat bagaimana berpendarnya matanya ketika dia bercerita tentangmu. Dan aku bisa menebak kalau kau juga menyayanginya. Sama tulusnya seperti yang juga dilakukan oleh Noura.”

“Rosse..”

Rosse menoleh dan dia menatap Vlad dengan mengisyaratkan bahwa dia baik-baik saja dan Vlad tidak perlu ikut campur. Dia kembali memandang ke arah Akhtzan ketika dia kembali mendengar suara serak miliknya.

“Dia menangis ketika dia bercerita padaku tentang apa yang dilihatnya. Kau tahu, Rosse. Noura melihatnya. Noura melihat kau membunuhnya dan dia menangis. Namun dia menangis bukan karena dia tahu dia akan mati. Dia menangis karena dia tahu itu kau. Orang yang akan membunuhnya adalah kau.”

“Rosse!”

“Tidak apa-apa, Vlad.” Sela Rosse tanpa menoleh. Dia memandang lurus-lurus ke arah Akhtzan yang kini justru tengah tersenyum padanya, “Dia tahu namun dia tidak merubah sikapnya kepadamu. Kau tahu, Rosse. Noura adalah kemurnian yang sayangnya muncul dalam kelompok mengerikan seperti kalian. Namun setidaknya aku bersyukur, dia menitipkan sebagian jiwanya yang murni ke dalam tubuh putriku agar putriku bisa hidup meski aku harus membuatnya menjadi bagian dari kalian. Dia telah menjadi bagian dari kalian dan aku tahu, aku tahu kau maupun vampir iblis itu tidak akan bisa membunuhnya.”

Mata Rosse melebar dan genggaman tangannya pada rambut Akhtzan terlepas, “Sherena?” katanya tak percaya dan tawa lemah Akhtzan menggema di telinga Vlad maupun Rosse, “Putriku akan terus hidup dan kalian akan mati.”

“Penyihir sialan!” Vlad maju dengan kemarahan yang tak terbentung dan tanpa Rosse sempat mengatakan apapun dia sudah melihat Vlad merampas tubuh Akhtzan dan menariknya menjadi dua bagian dalam beberapa detik. Dengan tangan gemetar dia melemparkan kedua bagian tubuh yang semula milik Akhtzan ke sembarang arah, “Tidak mungkin.” Suara Vlad terdengar mengerikan dan Rosse bisa melihat dengan jelas bagaimana buku-buku jari Vlad yang berlumuran darah Akhtzan, mengepal dengan kuat-kuat.

“Kita kembali ke kastil, Rosse.” Perintah Vlad dengan tegas dan tanpa menunggu sedetik pun dia berbalik arah dan melesat menuju rumahnya, kastil utama kelompok vampir.

***

Aku menapakkan kaki dengan pelan ketika memasuki halaman yang ditumbuhi ilalang dan rumput-rumput liar dengan subur. Cahaya malam membuat tempat ini terlihats edikit menyeramkan. Namun aku tetap melangkah dengan sama sama pelannya saat aku menaiki undakan kecil menuju pintu rumah tua di depanku dan menyentuh kayunya yang rapuh. Sepertinya pintu ini bahkan bisa roboh jika aku membukanya meskipun itu dengan gerakan sepelan apapun. Aku menghela nafasku dan beralih menyentuh kenopnya namun tangan Reven lebih cepat memegang kenop tua itu dan membuka pintu tua itu untukku. Suara berderit yang memekakkan menyambut kami dan sedetik kemudian pintu itu benar-benar roboh tepat di tempat dimana sebelumnya aku dan Reven berdiri.

Namun aku tidak apa-apa karena Reven menarik tubuhku mundur lebih cepat. Debu-debu bertebaran dari bekas jatuhnya pintu itu dan aku menutup mulutku. Reven mengibas-ibaskan tangannya di depan wajahnya, “Tempat ini mnegerikan.” Komentarnya pedas.

Anehnya bukannya marah aku malah tertawa, “Tapi aku pernah tinggal disini selama belasan tahun.” Kataku padanya dan dia hanya menatapku dengan tatapan tidak percaya. Kami berjalan masuk setelah debu-debu sedikit berkurang. Aku sama sekali tidak melihat ada perubahan disini. Aku teringat kunjungan terakhirku di rumah ini yang berakhir dengan pertarungan antara para slayer yang dipimpin oleh Edge dengan Dev dan Lyra yang ditugaskan untuk menjagaku. Aku tidak melihat kerusakan yang berarti karena kejadian itu karena kerusakan berat lainnya sudah terjadi di rumah ini karena waktu.

“Tidak ada, Arshel disini.” Suara Revem membuyarkan ingatanku dan aku menoleh ke arahnya yang rupanya hanya berdiri beberapa meter dari pintu masuk. Aku mengangguk, “Ya, sebaiknya kita pergi dari sini.” Kataku ringan.

“Kau hanya ingin datang ke rumah ini, bukan? Kau tahu sejak awal tidak Arshel disini.” Reven menatapku dengan tajam. Aku berjalan mendekat dan berhenti ketika jarak kami hanya tinggal dua langkah, “Jika kukatakan ya, apa yang akan kau lakukan Rev?”

Keningnya berkerut, aku memandangnya dengan tatapan yang melembut, “Aku memang tahu bahwa Arshel tidak ada disini. Namun aku sangat ingin datang kesini. Entah kenapa mendadak aku merasa sangat merindukan tempat ini. Aku merindukan ibuku. Aku merindukan ayahku, yang bahkan wajahnya pun aku tak tahu seperti apa. Aku merindukan mereka, Rev. Jadi kumohon, biarkan aku menikmati tempat ini dan waktu di masa lampau ketika hidupku tidak serumit sekarang.”

Aku tidak bohong padanya. Aku mengatakan kejujuran dan memang seperti itulah yang kurasakan sekarang. Entah kenapa, ketika Reven bertanya kepadaku kemana harusnya kami, aku mengatakan tempat ini di jawaban pertamaku. Aku tidak tahu kenapa juga perasaan merindukan masa laluku mendadak menjadi sekuat ini.

Aku berbalik dan berjalan menjauh. Kusibakkan satu kain kuning kecoklatan, yang dengan jelas kuingat dulu warnanya putih, dari satu rak buku tinggi. Kugunakan jemariku yang memucat untuk menelusuri tepian raknya dan aku sadar debu-debu kehitaman beralih menempel ke jemariku. Aku tidak tahu kenapa mendadak aku merasa seperti ini. Seperti sebuah perasaan ingin pulang. Pulang?

“Apa yang ada di dalam pikiranmu, Sherena?”

Aku mendengar suara Reven dan aku tidak menoleh melainkan hanya menggeleng.

“Aku benar-benar tidak mengerti, Rev.” Jawabku setelahnya, “Aku tidak mengerti apa yang sebenarnya ada di dalam hati dan pikiranku. Kadang kala aku merasa apa yang ada di pikiranku terlihat begitu jelas, namun seringkali aku hanya melihat kabut dan segalanya terlihat begitu meremang.”

“Apa maksudmu?”

“Seperti sekarang ini. Aku tidak tahu kenapa aku membawamu kemari. Entah kenapa aku hanya merasa ingin pulang. Entah kenapa begitu sampai disini aku malah merasa sangat sedih. Seolah-olah aku kemari melihat seseorang yang dekat denganku, pergi selama-lamanya. Perasaan ini sama seperti ketika ibu meninggalkanku untuk selama-lamanya.”

Aku mendengar suara langkah kaki Reven mendekat ke arahku dan suaranya yang bermelodi merasuk ke gendang telingamu, “Apakah kau dianugerahi berkat ketika kau berubah menjadi seorang vampir?”

“Berkat?” aku berbalik dan Reven sudah berada tepat di depanku. Dia mengangguk, “Seperti Dev yang bisa membaca pikiran manusia. Seperti Noura yang bisa melihatdan membaca pikiran semua makhluk?”

Aku menelengkan kepalaku dan berpikir, “Entahlah.” Aku menggeleng, “Aku tidak tahu. Tapi yang jelas aku tidak bisa membaca pikiran siapapun, tidak manusia, tidak vampir, tidak makhluk apapun, kecuali pikiranku sendiri. Aku juga tidak memiliki penglihatan tentang masa depan seperti Noura. Penglihatan yang kumiliki Noura adalah gambaran dan kekuatan yang dia berikan padaku ketika jiwa Noura masih ada dalam diriku.”

Reven mengamatiku dan dia mengangkat tangannya, membawa kedua telapak tangannya menangkup ke kedua pipiku, “Kalau begitu kenapa kau bisa merasa seperti itu?” bisiknya pelan. Aku menggeleng. Dan entah apa yang ada di dalam kepala Reven, dia menarikku tubuhku merapat padanya dan memelukku, “Noura pernah berkata padaku bahwa hanya dengan memeluknya, itu akan membuatnya tenang. Kurasa perasaan seperti itu berlaku untuk semua perempuan.”

Mataku terpejam. Noura lagi. Kenapa sepertinya pikiran Reven hanya dipenuhi oleh sosok Noura. Tidak bisakah dia melenyapkan Noura dari pikirannya dalam beberapa detik saja. Aku benar-benar merasa iri pada Noura. Bagaimana bisa, meskipun dia sudah mati, tapi tetap hidup dalam pikiran seseorang dengan sekuat ini. Bagaimana Noura melakukannya? Dan Reven? Apa yang sebenarnya ada dalam pikirannya? Seringkali aku merasa dia begitu dingin, kejam dan tak tersentuh, tapi sekarang, aku melihatnya seperti Damis yang hangat dan bersahabat. Sebenarnya yang mana sosok Reven yang sesungguhnya?

“Menemukan pengganti Noura, Reven?”

Reven melepaskan pelukannya dan berbalik dengan cepat menatap ke arah di  belakangnya, tempat dari asal suara itu berasal. Begitu Reven berbalik, aku melihat sosok yang juga dilihat oleh Reven dengan pandangan terkejut yang luar biasa. Namun aku tidak tahu kenapa dia bisa berekspresi seperti itu. Keningku berkerut dan aku masih menatap ke arah sosok itu. Sosok itu adalah perempuan paling cantik yang pernah kulihat. Dan kedua bola mata indah yang sayangnya berwarna merah dan kulitnya yang putih pucat itu membuatku tahu bahwa dia vampir. Baunya pun sama dengan kami dan entah kenapa aku bisa melihat aura yang kuat dari dalam perempuan itu.

“Terkejut melihatku, Reven?” katanya lagi, kali ini dengan melangkah maju mendekat ke arah kami.

Dengan posesif, Reven menarikku ke belakangnya. Aku memprotes namun dia memberiku tatapan yang menggerikan sehingga aku mau tidak mau harus menurut padanya. Dia menggengam satu tanganku meskipun aku sudah ada di belakang punggungnya. Aku tidak tahu kenapa dia melakukan ini. Perempuan itu tidak terlihat berbahaya. Lagipula kami satu ras. Mana mungkin dia akan menyakitiku.

“Victoria.” Ucap Reven untuk pertama kalinya dan perempuan itu tersenyum dengan bibirnya yang penuh dan berwarna merah pekat. Perempuan itu akan melelehkan hati lelaki manapun jika dia tersenyum dengan cara seperti itu.

“Ya.” jawabnya seraya menghentikan langkahnya, “Lama sekali rasanya ya?”

Reven tidak menjawab namun mengamati setiap gerakan perempuan bernama Victoria ini dengan awas. Dia juga masih mengenggam tanganku dan terlihat tidak akan melepaskannya kecuali perempuan ini pergi mungkin. Aku benar-benar tidak mengerti pada apa yang terjadi disini.

“Bagaimana kabarmu, Reven? Kau tahu aku sangat merindukanmu, Rosse dan juga Damis. Kalian bertiga. Sahabat-sahabat terbaik yang selalu kumiliki, bukan?”

Reven menggeleng pelan, “Apa yang kau inginkan, Victoria? Kau tahu kau harusnya tidak boleh dibangunkan sekarang. Hukuman atas apa yang kau lakukan bersama Antonio belum selesai. Dan pengkhianatanmu bersama para penyi-“

“Kau percaya aku melakukan itu semua?” teriak Victoria dengan marah. Entah karena terkejut atau tidak menyangka bahwa perempuan yang terlihat begitu cantik dan anggun ini bisa terlihat semenakutan itu ketika berteriak, aku merapatkan diriku ke punggung Reven dan Reven mengeratkan genggaman tangannya padaku, “Kau percaya aku melakukan itu semua?”ulang Victoria dengan suara yang lebih lembut, “Kau mempercayai semua tuduhan yang Vlad katakan itu, Reven?”

Hening yang lama dan aku tahu bahwa Reven pun juga tidak yakin pada apa yang ada di dalam pikirannya. Namun dia menatap menatap Victoria dengan dagu tegak dan menjawab dengan tegas, “Aku mempercayai Vlad ketika itu. Dia memiliki semua bukti tindakan pengkhianatanmu.”

Victoria justru tertawa mendengar apa yang dikatakan oleh Reven dan setelahnya dia menatap Reven dengan tajam, “Kau percaya pada semua itu? Jangan naif, Rev. Kau tahu semua itu tidak benar.”

“Sebenarnya apa yang kalian bicarakan ini?” selaku dengan tidak sabar. Aku terjebak di dalam situasi membingungkan ini dan aku sama sekali tidak mengerti apa yang menjadi amsalah mereka disini.

“Tidak apa-apa, Sherena. Ini di luar kepentinganmu. Kami hanya sedang berusaha menyelesaikan kesalahpahaman di masa lalu. Itu saja.” Papar Victoria dengan lembut, “Bukan begitu Reven?”

Reven hanya diam dan mengamati Victoria dengan tatapan mata tajam miliknya. Victoria kembali tersenyum, “Apakah kau masih setia pada Vlad, Reven? Apakah kau masih mengatakan pada dunia bahwa kau adalah vampir biasa dan bukannya vampir kuno?”

Kerutan di keningku makin dalam dan sial, aku memaki dalam hati karena aku tidak tahu apapun tentang yang dikatakan oleh Victoria. Vampir biasa? Vampir kuno??

“Kau hidup tak lebih lama dari aku dan Vlad, namun kau hidup lebih dulu daripada semua vampir selain kami. Tapi tak banyak yang tahu hal itu bukan? Kau selalu menampilkan diriku bukan sebagai vampir kuno hanya agar kau bisa menikmati dunia ini dengan lebih baik. Siasat yang bagus dan aku menyukai pilihanmu itu, Reven, putraku.”

Mataku membelalak mendengar apa yang dikatakan oleh Victoria. Putraku? Aku beralih menatap Reven yang tak menyiratkan ekspresi apapun di wajahnya. Victoria tersenyum sangat manis, “Tidakkah kau ingin mendengar apa yang terjadi sebenaranya ribuan tahun lalu ketika kalian semua memaksaku tidur? Kau harus mendengar ini, Reven. Setidaknya memberiku kesempatan untuk membuatmu mengetahuinya. Kau harus mendengarkanku, karena akulah yang memberimu keabadian. Yang mengubahmu menjadi bagian dari dunia ini.”

“Rev..” aku menyentuh bahunya yang terasa kaku, dia menoleh padaku namun tak mengatakan apa-apa dan kembali memandang ke arah Victoria.

 “Semua bukti pengkhianatan itu nyata, Victoria. Kau tahu kita adalah bangsa yang menjunjung tinggi kesetiaan dan loyalitas kepada kelompok. Namun apa yang kau lakukan? Bersekongkol dengan Antonio dan kelompoknya, menjalin hubungan misterius dengan para penyihir murni mengerikan hanya untuk menjatuhkan Vlad?”

“Menjatuhkan Vlad?” suara Victoria terdengar lelah, “Kenapa kau percaya aku akan melakukan hal itu? Kau satu-satunya orang yang tahu dengan benar bagaimana aku mencintai Vlad. Bagaimana selama ini aku peduli dan selalu berada di belakangnya untuk mendukung semua rencananya. Bagaimana mungkin aku bisa melakukan hal itu?”

“Semua orang bisa berubah, Victoria. Dan aku melihatnya, kau dan Antonio. Kalian seperti sampah. Sejak awal harusnya aku percaya bahwa para manusia serigala bukan makhluk yang memiliki kesetiaan tinggi kepada tuannya, kau menggunakan kecantikanmu untuk memanfaatkan otak bodoh mereka demi memudahka rencana pribadimu, Victoria.”

Victoria mendesah, “Kau benar-benar sulit dibuat mengerti, Reven. Kupikir ketika aku datang ke kastil dan justru melihat kau berlari keluar dari kastil dengan menggandeng perempuan itu, hati dinginmu sudah melunak. Tapi kau masih saja bebal seperti dulu.”

Mata Reven memicing. Aku menatap Victoria. Membiarkan otakku mencerna semua percakapan mereka. Sedikit demi sedikit aku akhirnya mengerti dan aku diam, tak bereaksi apa-apa agar aku bisa berpikir lebih banyak dan mengerti lebih jauh tentang apa yang sebenarnya terjadi disini. Victoria melangkahkan kakinya ke sisi lain dan matanya terlihat menerawang. Sedetik kemudian dia berhenti dan kembali memandang ke arah kami, Reven sudah menggeser tubuhnya sehingga dia bisa melihat Victoria dengan baik.

“Aku melihatnya dalam tidurku. Namun sayang sekali aku sudah tidak bisa bertemu dengannya, perempuan yang akhirnya membuatmu bisa merasakan kebahagiaan, Noura.”

Tangan Reven mengejang dan aku menghela nafas dengan berat. Victoria mengambil topik yang sangat membuat Reven antusias meski dia tidak menunjukkannya. Ya, katakan saja apapun tentang Noura dan kau akan mendapat semua perhatian dari vampir dingin ini. Aku menarik nafas panjang. Mendengarkan dengan setengah hati.

“Dia menemukanku. Dia tahu kisah yang sebenarnya dan dia memihakku, Reven. Jika tidak, kau tidak akan melihatku sekarang karena aku pasti masih di dalam peti di kuburan penuh sihir itu. Noura membangkitkanku melalui tangan-tangan lain yang dimintanya melakukan itu ketia dia masih hidup.”

“Apa maksudmu?” suara Reven bergetar, matanya menangkap tubuh Victoria dan sama sekali tak berkedip memandangnya.

“Melalui seorang manusia serigala dan seorang penyihir, dia membebaskanku, Reven. Bertahun-tahun aku memimpikannya bicara banyak hal padaku dan sayangnya ketika aku kahirnya benar-benar bangun, Noura sudah tidak ada. Betapa mengecewakannya hal itu.” Bisiknya penuh kesedihan yang nyata.

“Kenapa kau pikir Noura melakukan hal itu?”

“Aku tidak hanya berpikir, namun dia benar-benar melakukannya. Dia percaya padaku dan hanya dialah satu-satunya yang berpikiran waras di kelompok kita ini kurasa. Dia yang paling bisa melihat sosok seperti apa Vlad itu sebenarnya.”

“Cukup omong kosong berbelit-belit ini,Victoria. Aku tidak punya cukup waktu untuk mendengarkanmu!” Reven berkata dengan tegas dan tanpa menoleh dia berjalan dengan keluar dari rumahku, tentunya dengan membawa atau baiklah menarikku untuk berjalan di belakangnya. Aku memandang ke arah Victoria dan dia tersenyum.

“Tidakkah kau ingin membalas kematian Noura, Reven?”

Reven berhenti mendadak dan aku yang masih melihat ke arah Victoria di belakang kami, tanpa sengaja menabrak punggung Reven. Reven melepaskan pegangan tangannya padaku dan dia membalikkan tubuhnya dengan pelan. Bayangan malam menutupi wajahnya, namun tidak cukup pekat untuk menyamarkan dua bola mata hitam gelap yang sedang berpendar mengerikan ke arah Victoria.

“Apa yang sebenarnya ingin kau katakan? Apa tujuanmu, Victoria Lynch?” desisnya penuh kemarahan.

“Balas dendam.”

<< Sebelumnya
Selanjutnya >>

Mau Baca Lainnya?

52 Comments

  1. makin penasaran aja nech !!
    Rosse kah yg ngebunuh Noura ? Masa sech ?
    Rosse baik bnget . Apa dia d suruh Vlad ?

    Victoria tau kah siapa yg ngebunuh Noura ?

    Omoo~
    Akhzzan mati ! 🙁

    part slanjut 'a selalu d nantikan .

  2. Oh maiii….
    Ternyata oh ternyata Rosee yg membunuh Noura…
    N victoria Lynch to ibunya reven…
    Berarti calon mertua aku donk…haha
    Sdikit demi sdikit terungkap muanya pi malah tambah bikin penasaran…
    Sumpah
    Cpet lnjut yaa thor…
    Fighting. #peluk n cium author biat tambah semangat. ;D

  3. Wahh,, update"… xixixi
    Ternyata oh ternyata,, vlad mmg jahat, selalu memanfaatkan org lain, brp bnyak lagi yg harus dia bunuh sebelum akhirx dia yg mati?? Penasaranx sdh diujung batas.. hahhaa
    Ditunggu ya next chapterx, smoga bisa selesai secepatx eh klo bisa lebih panjang lagi akan lebih bagus.. hahahaha #digebukin penulis..
    By, artharia

  4. Hmm…. Rahasia apa yang membuat Vlad tega membungkam Victoria yang dicintainya? Dan juga membunuh Noura meski ia calon Ratu Vampire.
    Arshel dan Morgan mau ke kastil nyelamatkan Sherena, lah Sherena malah pergi sama Rev. Jadi khawatir nih.

  5. WOAAHHH!!!
    JENGJENGJENG!!! MAKIN ngeri + KE-REN!!!
    bagian yg Vlad bunuh ayahnya RENA bner2 bikn aku mau Muntah! Euuu.. gila!
    Daaannn… disini.. ini dimulainya.. BAGIAN BALAS DENDAM!!!
    BNER2 GA SABAR nunggu kelnajutan demi mbgetahui kenyataan serta kebenaran yg tersimpan. #Pnasaran tingkat akut!
    POKOKNYA.. LANJUT TRUS PANTANG MUNDUR!!
    SEMANGAT KAKA!! AKU SLALU MENDO'AKAN KESEHATAN DAN SEMANGAT YG TERUS ADA UNTUK MELANJUTKAN #HalfVampire
    CAAYOOOO!!! XD

  6. Aaaakkk iyaa.. part-part berdarah sudah dimulai. Hohoho.
    Ditahan dulu ya penasarannya. Soalnyakan ga tahu juga next chapternya kapan. 😛

    Aminn aminn. Makasii makasii doanya ya. Semangat semangat :))

  7. Noura…ampun dah aku aja yg ga kebagian peran iri dengan perempuan ini
    gimana rena ya??
    sabar ya rena..udah RIP ini 😀

    ok..ini cerita semakin W.o.w
    disetiap episode yg ada haNya mengobati penasaran yg lalu dan menimbulkan penasaran baru yg lebih kompleks, ckck benar2 cerita bagus dan penulis yg luar biasa.

    Berjanjilah.. sesibuk apapun sempatkan untuk menyelesaikan HV ini, ok 🙂

  8. Jeez, aku juga iri.. pake banget sama Noura. AKu juga pengen dicintaiin kayak dia. 🙁

    Wihhh, makasii makasii pujiannya. Aku jd tersepona #eh 😛

    Siap siap, aku janji pasti akan terus melanjutkan cerita ini dan mempostingnya sampai tamat.

  9. Merasa kembali ke abad pertengahan…!anehnya aku mlh ngebayangin mereka seperti makhluk abadi dr dataran tinggi/highlander…perfecto!!!

  10. Engga apa-apa telat, yang penting tetep baca. Hohoho.
    Emm iya nih, sebenarnya untuk masa lalu Reven sendiri masih banyak yg belum terungkap. Dan kapan Sherena bakal tahu kalau Ar adalah kakaknya? Mungkin nanti kalau akhirnya mereka bertemu, yuk kita tunggu saja

  11. huaaaaa sekian lama aku ga komen akhirnya komen juga.
    aku makin penasaran sama cerita cc, aku tunggu kelanjutannya cc 😀

    *maaf ya ga bisa komen banyak*

  12. Follow blog ini aja biar ngga ketinggalan info update HV. #Eaaa. 😛

    Ah iya, aslinya Reven emang tua. Tapi.. yah ngga keliatan tua, wajah dan tubuhnya ya gitu2 aja. Stuck di usia dan bentuk yang sama seperti ketika dia diubah jadi vampir

  13. Andai aja Vlad bisa kuinjek, udah kuremes-remes dia biar rikes trus ilang…
    Kok, ya jahatnya ngga ada yang bisa nandingin…
    Nungguin keistimewaannya Rena, kira-kira dia termasuk vampir yang jago di bidang apa yah?? heheh

    Semangat terus kakak nulisnya!

  14. Hahahha.. segitu gemesnya ya sama Vlad?? 😛 😛

    Aku juga menunggu apakah Rena bakal punya berkat seperti halnya Noura atau Dev. Tapi kalau dilihat kondisinya aku jadi sedikit meragukannya. Hehehe

    Semangat semangat semangat menulisss!! 😀 😀

Leave a Reply

Your email address will not be published.