JINGGA

Namanya Jingga, aku mengenalnya di tepi pantai di kala senja. Seperti namanya, warna langit kala itu juga jingga. Lalu seperti langit yang cantik, pesona jingga di senja itu pun setara cantiknya.

Rambut sepinggangnya tergerai berantakan dipermainkan angin pantai. Tubuh semampainya berdiri tegak menatap laut lepas. Dari sudut tempatku mencuri-curi pandang, dia terlihat begitu menawan. Meski langit semakin gelap karena terbenamnya matahari, pesona jingga di mataku justru semakin terang. Siluetnya pun bagiku terlihat seperti siluet bidadari yang tersesat di bumi. Jingga, sepertinya dia telah berhasil menawan hatiku bahkan disaat aku sama sekali tidak tahu apa-apa tentangnya kecuali bahwa dia mungkin adalah perempuan yang menyukai senja.

Ekor mataku terus mengikutinya ketika dia mulai beranjak menjauh dari tempatnya berdiri. Hanya pandanganku yang mampu mengikutinya karena aku tak cukup punya keberanian untuk melangkahkan kakiku mengikutinya. Aku menghela nafas panjang ketika sosok jingga akhirnya benar-benar menghilang dari pandanganku. Entah mengapa, aku menyukai ini. Mengamati perempuan itu. Memandangnya tanpa bosan. Aku merasa lega dan tentram ketika melihatnya. Ada perasaan nyaman.

Esoknya lagi aku kembali ke pantai ini. Berharap Jingga ada disana. Dan aku nyaris berteriak kegirangan ketika ku dapati sosoknya berada di tempat yang persis sama seperti yang ku lihat kemarin. Jingga juga berdiri tegak sama seperti kemarin. Memandang laut lepas. Diam. Tak bergerak sama sekali. Lagi-lagi sama seperti kemarin.Terima

***

Jingga memandang senja. Aku memandang jingga. Seperti itulah terus menerus selama lima hari ini. Setiap menjelang senja aku akan bergegas ke pantai. Dan di sana pasti sudah kudapati jingga yang berdiri menikmati senja. Aku menikmati keadaan ini. Memang tak cuma sekali, perasaanku menantangku untuk bergerak mengajaknya berkenalan. Setidaknya hanya menyapanya. Satu kata saja, sesederhana kata hai. Tapi aku jadi batu. Aku gugup. Kikuk. Tahu bahwa aku tak berani.Terima

Akhirnya aku mengalah. Cukup bagiku menjadi orang yang mengaguminya dari jauh begini. Meski kerap kuharapkan aku bisa memeluk tubuh jenjangnya, mengenggam jemarinya dan membisikkan rangkaian kata tentang seberapa besar aku mengaguminya, tapi tak pernah benar-benar kulakukan sesuatu agar aku bisa mendapatkan harapan itu. Jadi disini, aku berdiri sebagai laki-laki yang tak pernah berhenti dipesonakan olehnya.

***

Aku berlari seperti orang kesurupan. Luruh emosiku bercampur dengan keringat. Jingga, Jingga, ceracauku sepanjang jalan. Kumohon, kumohon. Kupanjatkan serangkaian harap dan doa, biar Tuhan membantuku.

Jingga, Jingga. Entah kenapa aku begitu khawatir. Langkahku berhenti tepat di tempatku biasa memandang jingga ketika warna langit di atas kepalaku mulai luruh menghitam. Jingga, Jingga. Tersengal-sengal kuitari seluruh tempat dalam jangkauan mataku. Jingga, tidak ada Jingga. Tidak ada. Dimana? Jingga, dimana?

Peluhku mengalir dari dahi ke pipi. Membasahi wajahku yang memerah, kelelahan. Jingga. Tidak ada hentinya ku panggil namanya dalam gumamanku. Jingga, tidakkah dia ada disini? Tidakkah dia memandang senja seperti biasanya. Jingga. Entah kenapa dia sudah seperti penyempurna hariku. Apa bisa baik-baik saja jika hari ini tanpa Jingga. Aku gemetar ketakutan. Aku sangat takut kehilangan jingga.

“Perempuan itu tidak datang lagi?”

Aku menoleh tanpa sengaja, menatap dua laki-laki, penjual cinderamata yang biasa berkeliling di sepanjang pantai ini.

“Perempuan yang mana?”

“Perempuan yang menjelang petang selalu datang dan berdiri di sebelah situ. Memandangi laut.”

Jinggakah? Apa mereka membicarakan Jinggaku?

“Oh, perempuan itu. Tadi sih kesitu, tapi cuma sebentar. Kelihatannya seperti orang kebingungan. Sayang yah, padahal kelihatannya wajahnya cantik. Tapi agak gila.”

“Hush, jangan ngawur. Perempuan itu tidak gila. Kudengar calon suaminya mati tenggelam di pantai ini. Padahal harusnya minggu depannya mereka akan menikah. Sejak itu perempuan itu selalu kesini setiap sore.”

“Beruntung sekali dia tidak benar-benar gila. Tapi tingkahnya tetap saja aneh.”

“Hah, coba saja kau yang mengalami itu. Bagaimana kalo istrimu mati tenggelam di sini?”

“Nah, aku akan cari istri baru”

Lalu gelak tawa mereka menggema di telingaku sebelum akhirnya hilang sama sekali, seiring langkah mereka yang semakin menjauh dari tempatku berdiri.

Jingga? Calon suami? Meninggal? Tenggelam?

Mendadak kepalaku seperti dijatuhi beban berat. Jingga. Jingga. Aku menceracau sambil menekan kepalaku dengan kedua tanganku. Kenapa? Ada apa ini. Aku merasa sakit. Kepalaku berdenyut-denyut menyakitkan. Kilasan-kilasan itu. Rasa sakit ini menyiksaku. Tapi di baliknya, entah apa. Aku merasa ada kelegaan yang sangat besar menyeruak di dalam dadaku. Kepalaku terus berdenyut-denyut seperti mau pecah. Aku terjatuh. Menggerang. Mendadak aku seperti melihat senyuman Jingga. Tanganku mengapai-gapai meraihnya. Dia menyentuhku, dan semua rasa sakit itu hilang, digantikan rasa lega dan bahagia yang membuncah memenuhi dadaku. Jinggaku.

***

“Cuma sekali saja. Aku janji. Setelah itu aku tidak akan melakukan hal-hal berbahaya yang membuatmu mengkhawatirkanku. Serius. Aku janji, setelah menikah aku akan bertobat dari segala hal yang berhubungan dengan berselancar, menyelam, mendaki gunung, panjat tebing, paralayang. Pokoknya semua yang membuatku mengkhawatirkanku, tidak akan pernah ku lakukan lagi. Janji. Tapi kumohon, sekali ini saja yah, Jingga..

***

Aku merasa kakiku kram. Bagian bawah tubuhku mendadak melawan semua perintahku. Kakiku tidak bergerak ketika aku berusaha untuk bergerak. Tanganku mengapai-gapai ke permukaan dengan gugup. Air laut yang masuk ke mulutku memerangkap semua teriakan minta tolong yang dengan putus asa terus kuteriakkan.

Air laut membuat mataku perih. Sinar matahari menyilaukan mataku.

Tolong. Aku putus asa.

Jingga. Jingga. Jingga. Maafkan aku. Jingga.

Dan ombak, bau asin air laut, suara-suara asing. Pandanganku mengabur. Paru-paruku dipenuhi air laut.

Jingga..

***

“Jangan melakukan hal-hal yang bisa membuatku mengkhawatirkanmu dengan berlebihan begini. Ini yang terakhir. Janji ya, Ryan. Ah iya, satu janji lagi, setelah ini kamu harus menemaniku melihat senja beberapa kali. Benar-benar menemani, bukannya meninggalkanku dan malah asyik berenang sendirian di pantai. Bagaimana, setuju?”

Aku tergelak, “Setuju.”

“Aku mencintaimu, Ryan”

“Aku juga mencintaimu, Jingga.”     

***

Angin pantai kembali memainkan helai-helai rambutnya. Sementara rok putihnya berkibar pelan. Anggun. Cantik. Tubuh jenjangnya berdiri tegak, menghadap ke lepas pantai. Tangannya memeluk sebuket besar bunga mawar putih. Dengan pelan, dilangkahkannya kakinya maju. Mendekati bibir pantai. Ombak yang pasang surut berlomba membasahi betis dan telapak kakinya yang telanjang.

Mata coklatnya bersorot lembut, memandang lurus ke depan, ke lautan luas, “Ryan, aku tahu kamu sudah bahagia di tempatmu saat ini. Aku tahu aku harus belajar menerima takdir ini, agar kita bisa bahagia suatu hari nanti ketika kita bertemu lagi. Ryan, terima kasih banyak. Terima kasih telah hadir lagi di mimpiku dengan wajah riangmu yang biasa kukenali.”

“Aku akan menjadi wanita yang tegar untukmu. Aku tidak akan pernah melupakanmu. Demi kamu, aku akan hidup sekali lagi dan terus berusaha hidup sekali lagi. Aku tahu kamu akan selalu melihatku dan melindungiku.”

Dia membungkuk, melepaskan pelukannya pada buket mawar putih itu dan menyajikannya pada ombak yang datang padanya. Larungan mawar putih itu mengambang, bergerak tak beraturan dipermainkan ombak. Tak butuh waktu lama baginya untuk menjauh, mengarah ke laut lepas meninggalkan tubuh yang sebelumnya mendekapnya erat.

Tegak. Perempuan itu masih berdiri di tempatnya. Ombak sudah membasahi ujung roknya yang panjangnya hanya selutut. Cahaya matahari perlahan-lahan memudar. Berkas-berkas memerah pucat dan mendekati gelap. Senja hampir berakhir. Suara debur ombak memainkan harmoni lagu yang membuatnya memejamkan mata. Menikmati belaian angin pantai yang lembut. Sisa-sisa senja mendekap tubuhnya yang pasrah dilimpahi indahnya keserasian alam.

Matanya terbuka perlahan saat cahaya terakhir beranjak pergi dan hanya akan menyisakan malam yang ditaburi kilau bintang. Dia memandang laut yang menghitam kehilangan pantulan sinar matahari.

“Terima kasih sudah menemaniku melihat senja seperti janjimu, Ryan. Aku mencintaimu. Sangat.” Bisiknya kepada angin laut.

Kemudian dengan gerakan lembut, dia berbalik. Melangkah pergi meninggalkan pantai. Meninggalkan senja. Dan kepada lautan, dia menitipkan rasa cintanya. Rasa cinta yang hidup dalam dirinya sepanjang usianya. Dia melangkah lagi, tersenyum kepada penjual cinderamata keliling yang terbengong-bengong mendengar sapaan ramahnya ketika mereka tak sengaja berpapasan. Penjual cinderamata itu nyaris membuka mulutnya dengan lebar ketika melihat dari dekat dan menyadari betapa cantiknya gadis yang dilihatnya sering datang ke pantai ini ketika menjelang matahari terbenam. Dia menggeleng-gelengkan kepalanya sebelum kembali meneruskan langkahnya menjajakan cinderamata khas tempat ini kepada wisatawan-wisatawan yang masih berada di sekitar pantai. Dalam hati dia berjanji akan memberikan gelang cantik dari kerang-kerang kecil kepada perempuan itu kalau dia bertemu dengannya lagi esok hari. Dia tak tahu, tak pernah tahu kalau itulah untuk terakhir kalinya dia melihat perempuan itu di pantai ini. Senja esok hari, perempuan itu tak muncul. Tidak pula pada senja esoknya lagi dan senja-senja berikutnya. Perempuan itu tak pernah datang lagi ke pantai ini untuk melihat keindahan semburat wana-warni senja yang memukau. Perempuan itu tak pernah datang lagi untuk membiarkan jingga senja membias melukis tubuhnya.

Jingga, dia cantik. Secantik senja yang berwarna jingga. Dia adalah wujud nyata dari biasan dari lukisan Tuhan. Jingga. Aku juga mencintai Jingga. Selalu.

Mau Baca Lainnya?

Leave a Reply

Your email address will not be published.