Malaikat Hujan – Erel II

“Kita harus meluruskan ini. Dengar, Erel. Aku tahu lebih banyak tentang Nuna daripada perempuan manapun. Jadi aku tidak butuh mencari tahu lebih lagi. Aku tahu pasti dengan siapa aku akan memperebutkan Adrian. Dan.. “ Dilla menatapku, “Sekarang Adrian tak punya satupun perempuan di sisinya. Tidak Nuna, tidak pula aku. Meskipun aku berusaha keras membuatnya kembali padaku, dia menolak. Padahal perempuan sialan itu sudah meninggalkannya.”

Mataku melebar, “Nuna? Nuna meninggalkan Adrian.”

Dilla mengangguk, nampak jelas mengerutkan keningnya, “Aku tidak tahu apa hubungannya kau dengan semua ini. Tapi kurasa kau terlib—“

“Kau yakin benar bahwa Nuna meninggalkan Adrian?” potongku cepat. Aku tidak butuh Dilla mengucapkan apapun yang tidak penting bagiku.

“Aku ada di sana. Sedikit banyak kurasa akulah yang menyebabkan perempuan sialan itu mengambil keputusan itu. Tapi kurasa itu tidak penting. Fakta yang kubutuhkan adalah, Adrian tidak lagi punya ikatan apa-apa dengannya jadi aku bi—“

Jadi Nuna meninggalkan Adrian. Dia meninggalkan Adrian setelah mengatakan padaku bahwa dia tidak bisa pergi dari Adrian dan malah memilih laki-laki itu daripada aku. Apa maksudnya semua ini? Apa terjadi sesuatu pada Nuna?

“Apa hubunganmu dengan perempuan sialan itu?”

Suara keras Dilla membuatku mengerutkan keningku dengan dalam. Apa yang baru saja dikatakan perempuan ini?

“Jangan. Pernah. Memanggil. Nuna. Dengan. Sebutan. Itu.”

“Kau dan dia?”

Aku meletakkan selembar ratusan ribu di dekat cangkir kopiku dan bangkit. Melangkah meninggalkan Dilla begitu saja. Aku tidak mau membuang waktuku dengan hanya mendengarkan Dilla bercuap tentang omong kosong hubungannya dengan Adrian.

Awalnya aku sangat terkejut ketika melihatnya yang sedang mengamati Adrian di depan rumah Nuna. Tiga tahun berlalu dan Dilla masih terlihat sama. Dia masih terlihat sama seperti perempuan yang dulu meninggalkanku hanya karena dia bosan padaku. Tapi sama sekali tidak ada dendam atau sakit hati. Masa lalu hanya masa lalu.

Satu-satunya yang membuatku berakhir di kafe tadi bersamanya hanya karena aku ingin tahu apa yang dilakukannya dengan menguntit Adrian. Dan jika memang benar apa yang dikatakan Dilla tentang hubungannya dengan Adrian, maka sekarang Nuna..

Aku menggeleng cepat dan langsung berlari ke arah mobilku terparkir.

Nuna, ada apa sebenarnya?

***

“Jadi ada apa sekarang? Setelah hampir dua bulan kau resign dan sekarang tiba-tiba mengajakku bertemu. Apa kau merindukanku?” Innova meletakkan tas tangannya ke atas meja lalu duduk di depanku. Tersenyum setelah selesai mengucapkan tiga kalima panjang itu dalam satu helaan nafas.

Aku tertawa kecil, “Aku ingin menanyakan sesuatu kepadamu.”

Innova menatapku, “Aku tahu. Kau pasti membutuhkan sesuatu dariku. Aku mengenalmu dengan baik, Erel. Nah apa yang bisa kubantu?”

Aku bersyukur memiliki Innova sekarang. Meskipun seringkali dia dulu begitu cerewet, aku tahu sekarang dia akan berguna. “Aku mendengar sesuatu tentang bu Nuna—“

“Kau tahu itu? Bagaimana bisa?”

Mataku memicing. Apa yang ada di dalam pikiran Innova sekarang?

“Aku tidak tahu kalau kau ternyata juga masih mengikuti gossip di kantor kita. Kau tahu Erel, bu Nuna dan pak Adrian tidak jadi bertunangan. Bahkan—“ dia memajukan wajahnya dan memelankan suaranya, “Pak Adrian sekarang dilarang masuk ke area kantor kita. Perintah langsung dari pak Wijaya. Astaga Erel, bisa kau bayangkan apa yang sebenarnya terjadi?”

Innova menggeleng, dia baru saja akan mengatakan sesuatu ketika pelayan mendatangi meja kami. Begitu dia selesai mengucapkan pesanannya, Innova kembali memandangku, “Sampai mana kita tadi? Tapi tunggu dulu—“ dia berhenti, menatapku dengan tatapan misterius, “Kenapa kau mendadak tertarik dengan masalah ini?”

Kuusap wajahku dengan lelah, aku tidak mungkin mengatakan alasannya dengan jujur kepada Innova, “Hanya penasaran.” Jawabku datar.

Mata Innova masih meneliti wajahku, tapi aku bersyukur dia tidak mengatakan apapun lagi meskipun aku tahu dia menyadari ada sesuatu yang tidak ingin kukatakan padanya. Tentu saja dia menyadari itu.

“Yang kudengar, pak Adrian berselingkuh. Astaga aku masih tidak percaya pada berita ini. Tapi yah, pak Adrian memang masih muda dan tampan juga kaya, pasti banyak saja perempuan yang mendekatinya meski sudah tahu dia punya bu Nuna.  Tidak bisa disalahkan tap—“

“Lalu dengan bu Nuna?”

Innova nampak protes ketika aku memotong ucapannya. Tapi aku sudah tidak sabar. Aku meminta bertemu dengannya agar aku bisa tahu tentang Nuna, bukan untuk mendengar tentang Adrian. Masa bodoh dengan laki-laki sialan itu.

“Sudah dua bulan lebih tidak datang ke kantor. Sudah ada penggantinya. Banyak yang mengatakan bu Nuna depresi atau—“

Nuna depresi? Tidak mungkin.

“—tapi tidak ada yang benar-benar tahu apa yang terjadi dengan bu Nuna. Bahkan Artalia yang sekretarisnya saja tak tahu apa-apa. Tapi ada yang bilang kalau bu Nuna mungkin saja sekarang mengambil alih salah satu kantor cabang kita.”

***

Hampir satu bulan penuh aku mengecek semua kantor cabang yang dimiliki oleh perusahaan Nuna lewat telepon. Tapi tak satupun yang bisa memberiku petunjuk tentang dimana Nuna sebenarnya berada. Nyaris setiap malam aku begadang untuk mencari semua informasi yang bisa membawaku pada Nuna. Tapi tidak ada yang menghasilkan sesuatu.

Apa yang sebenarnya terjadi padanya? Ini semua benar-benar bisa membuatku gila. Jika aku tidak bisa menemukan Nuna berada, aku tahu bahwa aku tidak akan pernah merasa tenang. Bagaimana jika apa yang dikatakan Innova memang benar? Bagaimana jika Nuna memang mengalami depresi?

Aku menjatuhkan tubuhku ke atas tempat tidurku dan mengusap wajahku dengan lelah. Merasa bersalah. Jika Nuna memang benar mengalami depresi, aku juga berperan di dalamnya. Jika saja ketika itu aku tidak meminta Nuna memilih, mungkin Nuna akan baik-baik saja.

Nuna akan tetap baik-baik saja ketika si brengsek Adrian itu kembali melukai dan menyia-siakannya. Aku mengusap wajahku sekali lagi. Kau bodoh, Erel. Kau egois. Sekarang lihat apa yang terjadi.

Menghela nafas dalam, aku bangkit dan kembali duduk. Aku harus menemukan Nuna, bagaimanapun caranya. Seberapapun lamanya, aku harus menemukan dimana Nuna sekarang berada.

***

Aku tidak yakin benar ini tempatnya. Tapi apa salahnya mencoba, toh ini semua demi Nuna. Aku menarik nafas dalam, mengencangkan tas ranselku dan berjalan membuka pagar kayu sederhana rumah ini. Sebelumnya aku berdiri lama di depannya. tidak yakin jika aku memang berada di tempat yang tepat.

Apakah seorang Nuna akan bisa tinggal di tempat sederhana seperti ini?

Tapi aku memberanikan diriku mencoba terus maju. Jika ini bukan tempat Nuna berada, aku tidak akan berhenti. Aku akan terus mencari sampai aku bisa menemukan dimana sebenarnya Nuna berada.

Aku berhasil menemukan tempat inipun juga dengan usaha yang tidak kecil. Aku ingat bahwa Nuna pernah mengatakan kepadaku bahwa tempat yang akan selalu membuatnya nyaman adalah pantai. Tempat yang Nuna bilang merupakan tempat penyembuhan alami baginya ketika dia merasa dia tidak baik-baik saja.

Pantai, di sanalah Nuna sering berkunjung ketika dia punya masalah dengan Adrian sebelum dia mengenalku. Nuna bilang suara ombak adalah lagu yang paling indah di dunia ini. Seperti lagu yang didendangkan oleh ibu alam. Aku tersenyum, mengingat Nuna entah kenapa tidak pernah membuatku gagal untuk merasa bahwa dia adalah anugerah terindah yang ada dalam hidupku. Diam-diam aku berjanji, jika aku bisa memilikinya kembali. Jika aku memiliki kesempatan untuk bersamanya lagi, aku tidak akan pernah melepaskan dia lagi. Aku tidak akan pernah membiarkan Nuna melangkah pergi barang setapak saja dari kehidupanku. Aku akan menjaganya, memilikinya, selama yang ditawarkan hidup kepadaku. Aku janji.

Aku berdiri diam di depan pintu kayu rumah ini. Sekarang apa? Aku harus memencet bel rumah ini dan melihat, apa aku kembali salah atau tidak? Apa aku harus kembali mengulang dari awal semua rute pencarian yang sudah kususun. Mencari tahu properti milik keluarga Wijaya yang lain, yang berada paling dekat dengan pantai. Mungkin.

Sudut bibirku tertarik sedikit. Tidak apa-apa. Jika memang aku harus mencari lagi dari awal, tidak apa-apa. Selalu tidak apa-apa jika demi Nuna. Tidak apa-apa.

Ting tong.

Aku bisa mendengar bunyi suara bel rumah ini ketika aku menekannya. Satu menit, dua menit. Aku menunggu dengan sabar. Aku bisa mendengar suara langkah kaki, tapi tidak dari dalam rumah ini. Aku menoleh ke belakang.

“Erel?”

***

Kau tahu bagaimana dewi kebahagiaan berwujud? Aku tahu. Itu dia. Nuna.

Hal pertama yang kulakukan ketika aku tahu itu Nuna adalah berlari ke arahnya. Mungkin meng cuma lima langkah, tapi aku tidak bisa hanya berjalan santai saja ketika Nuna memang benar-benar nyata dan ada di depanku.

Aku menatapnya, berdiri tepat di depannya. Satu detik, dua detik lalu aku memeluknya erat. Menariknya dan menenggelamkan tubuhnya dalam dekapanku. Astaga, ini benar-benar Nuna. Ini benar-benar dia. Meskipun dia terasa lebih kurus, aku tahu ini memang dia. Aku tidak sedang berhalusinasi. Ini Nuna.

“Maaf.”

Aku terus mengulangnya. Mengulang satu kata itu sambil terus memeluknya.

“Maafkan aku.” ucapku lagi ketika akhirnya aku melepaskan Nuna yang menatapku dengan tatapan wajah bingung.

“Erel? Bagaimana kau bisa sampai di sini?”

Aku tersenyum, “Sangat sulit untuk bisa menemukanmu dan bisa sampai sejauh ini. Bagaimana bisa? Akupun tak tahu, Nuna. Mungkin karena perasaanku yang menuntunku kepadamu.”

“Er–“

“Tidak perlu mengatakan apapun, Nuna.” aku memotongnya cepat, “Aku yang bersalah. Aku sungguh-sungguh berharap kau bisa memaafkanku. Aku tidak akan pernah menuntut apapun lagi darimu. Bahkan jika kau masih ingin kembali pada Adrian dan memilikiku pada saat yang bersamaan. Aku tidak apa-apa. Aku benar-benar tidak apa-apa.”

Kedua bola mata Nuna menatapku dengan terkejut, sebelum kemudian kembali sayu. Aku tidak tahu apa yang salah. Aku meraih kedua tangannya, menggenggamnya erat.

“Nuna, apakah aku mengatakan sesuatu yang salah?” tanyaku cepat dan dia menggeleng pelan.

“Kau membuatku malu, Erel.” dia menatapku lama dan aku melihat matanya berkaca-kaca.

“Nu–ak aku tidak bermak–“

“Kau membuatku malu pada diriku sendiri. Ingatkah bagaimana aku meninggalkanmu dan memilih Adrian? Aku yang meninggalkanmu, Erel. Aku yang membuangmu. Tapi lihat, apa yang kau lakukan di sini kemudian? Kau masih saja sebaik malaikat hujanku.”

Aku menyentuh wajahnya dengan satu tanganku, mengusap pipinya yang dingin dengan lembut, “Bukan aku, Nuna, bukan aku malaikat hujan itu. Tapi kau, itu selalu dirimu dan bukan aku, Nuna. Kau adalah malaikat hujanku. Jika tanpamu, entah apa jadinya hidupku. Jika tak pernah mengenalmu, entah aku bisa merasakan kehidupan ini dengan benar atau tidak. Itu hanya kau Nuna, hanya kau yang bisa melakukan semua ini kepadaku. Kau..” aku menarik tubuhnya lembut dan kembali mendekapnya.

“Kembalilah padaku Nuna. Kembalilah menjadi malaikat hujanku. Biarkan aku selalu basah oleh kebahagiaan karena keberadaanmu. Kau hujan diantara semua kemarauku, Nuna. Kembalilah padaku. Kumohon.” bisikku pelan di telinganya.

Kulepaskan pelukanku dan aku menatapnya fokus, “Kembalilah menjadi malaikat hujanku. Aku tidak akan meminta hal lain lagi. Hanya kembalilah padaku. Aku akan melupakan semua janji hujan itu. Semuanya. Kita bisa memulai segalanya dari awal. Bahkan jika aku harus selalu menjadi laki-laki dalam bayang gelap untukmu, aku akan melakukannya, Nuna.”

Tapi Nuna tidak mengatakan apapun, dia hanya memandangku. Nampak ragu dan aku merasa takut. Apakah Nuna akan menolakku? Apakah dia tidak akan pernah lagi menjalin hubungan denganku?

Dia melepaskan tangannya dari genggamanku dengan sangat perlahan. Matanya yang sedikit basah memandangku. Aku masih merasa takut.

“Erel, terima kasih.” ucapnya pelan, “Tapi aku tidak tahu apa aku masih bisa. Aku mencintaimu. Aku mencintaimu dan aku tidak pernah ragu akan hal itu. Namun membuatmu selalu berada di posisi yang tidak terlihat karena keegoisanku bukan hal yang lagi ingin kulakukan. Aku bisa saja dengan mudah mengatakan ya, Erel. Tapi–” dia berhenti, terdiam cukup lama. Aku bisa melihat segulir air mata jatuh dari sudut matanya.

“Aku juga masih mencintai Adrian.”

Aku merasakan sesuatu menusuk jantungku. Ada rasa sakit yang tidak bisa kujelaskan. Aku menatap Nuna. Mencoba mencari kebohongan dari wajahnya. Setelah semua yang Adrian lakukan kepadanya dan Nuna masih mencintainya?

“Tidak apa-apa.” ucapku tertahan.

Aku tahu aku berbohong. Tapi apa lagi yang bisa kulakukan? Aku akan mati jika aku tidak memiliki Nuna? Apa lagi yang bisa kulakukan selain mengalah dan kembali menjadi laki-laki kedua. Egoku terhina, tapi aku tidak bisa menyerah akan Nuna. Aku tidak sanggup.

“Erel!” suara Nuna meninggi, “Apa yang kau katakan? Jangan membuatku terlihat semakin kejam. Kumohon, kau lebih dari segalanya. Aku tahu kau akan menemukan perempuan lain yang jelas akan bisa lebih membuatmu bahagia daripada aku. Tidakkah kau menyadarinya, bersamaku hanya membawa kesedihan untukmu.”

“Kau salah, Nuna.”

“Erel..” suaranya parau, “Kumohon..”

“Aku akan berjuang untukmu, Nuna.”

“Jangan membuatku terlihat semakin rendah di depanmu.”

Aku meraih tangannya, “Kau tidak pernah terlihat seperti itu, Nuna.”

Aku mendengar desahan panjang Nuna. Dengan begitu pelan, dia melepaskan pegangan tanganku. Matanya memandangku dengan lembut, “Erel, tahukah kau? Kau adalah satu-satunya laki-laki yang tidak ingin kusakiti lagi. Aku sudah lama menyiksa perasaanmu. Aku tak akan melakukannya lagi. Selain itu, aku juga telah memutuskan sesuatu. Dan itu membuatku tidak bisa kembali padamu. Selamanya.”

Aku terdiam. Otakku berhenti bekerja, sepertinya. Tidak ada reaksi apapun dariku. Bahkan ketika Nuna mengecup pipiku pelan. Dia memelukku lembut, “Maafkan aku, Erel. Tapi aku sudah memutuskan ini.” Dia melepaskan pelukannya, tapi tidak mundur menjauh dan aku mendengarnya. Satu kalimat terakhir yang membuat seluruh tubuhku lemas.

“Aku dan Adrian akan menikah.”

Suara Nuna sepelan bisikan angin yang mengabarkan berita kematian kepadaku. Aku terdiam makin beku. Sama sekali tidak bisa berpikir apapun. Bahkan ketika Nuna berjalan, melewatiku dan masuk ke rumahnya.

Sepi, aku tidak bisa mendengar apapun. Bahkan suara riuh debur ombak tak mampu tersaring oleh gendang telingaku. Waktu di sekelilingku dihentikan. Aku butuh waktu untuk memahami semuanya. Aku butuh lebih lama mengambil nafas dan membiarkan udara bersih memasuki paru-paruku agar otakku bisa lagi bekerja.

Dan begitu aku kembali terseret pada kenyataan yang ada. Aku menatap ke depan, lalu berbalik pelan, memandang pintu tempat Nuna menyembunyikan dirinya. Aku menggenggam buku-buku jariku yang bergetar hebat. Aku ingin menerobos masuk ke sana. Aku ingin mendobrak pintu sial itu dan mencari Nuna. Menguncang bahunya sekeras yang aku bisa lakukan agar dia bisa sadar akan apa yang dia putuskan.

“Aku dan Adrian akan menikah.”

Lalu suara itu kembali merasuk ke dalam pikiranku. Dia tidak ragu ketika mengucapkan itu. Tidak ada satupun helaan nafas asing yang keluar dari bibirnya. Aku tahu. Dan kemudian, aku berbalik. Meninggalkan tempat ini.

Semuanya berakhir.

Aku kalah.

<< Sebelumnya
Selanjutnya >>

Mau Baca Lainnya?

Leave a Reply

Your email address will not be published.