Malaikat Hujan – Nuna II

Aku sudah kehilangan semua yang kumiliki. Aku sudah kehilangan semua kesempatan untuk bahagia. Aku sudah kehilangan semuanya dan aku cuma bisa menangisi itu sekarang. Papa memelukku dengan lembut dan mengusap punggungku pelan. Aku masih terisak ketika papa memintaku berbaring dan tidur sejenak. Tidak ada bantahan sebab aku sudah terlalu lelah. Jadi aku membaringkan tubuhku perlahan dan papa menarik selimutku sampai batas leher.

“Tidurlah sebentar. Papa tahu kau lelah. Apa papa perlu bawakan mentimun atau es untuk mengompres matamu? Kurasa itu akan bengkak besok, kau sudah banyak menangis sejak kemarin malam.”

Aku tersenyum pahit, “Tidak, pa. Terima kasih.” Kurasa aku tidak akan memusingkan mataku yang sembab parah. Lagipula siapa yang akan melihatnya di tempat terpencil ini.

“Kau lebih cocok tersenyum.”

Aku tersenyum penuh terima kasih, “Papa istirahatlah, papa pasti juga capek.”

Papa memandangku ragu, tapi aku mengangguk dengan yakin, “Kau tahu papa ada di kamar sebelah jika kau membutuhkan apapun.”

“Aku sudah besar, pa.”

“Kau akan selalu jadi anak kecil bagi papa.” Lalu sebuah kecupan ringan mendarat di keningku, “Mimpi indah.” Bisiknya sebelum papa melangkah ke luar dari kamar dan menutup pintu kamarku dengan sangat pelan.

Aku masih memandang ke arah pintu selama beberapa menit. Setidaknya aku masih punya papa. Satu-satunya orang yang tidak akan pernah menyakitiku di dunia ini. Seburuk apapun kesalahanku, papa akan dengan sabar menghadapiku dan menasehatiku dengan lembut. Papa memanjakanku dan mendidikku dengan baik dalam waktu bersamaan. Mencurahiku dengan kasih sayang sebagai seorang ayah dan seorang ibu.

Setidaknya aku tidak benar-benar pernah sendirian. Aku selalu punya papa. Selalu punya papa yang sekalipun tidak pernah menyakiti. Punya papa yang tidak akan menyingkirkanku karena perempuan lain. Punya papa yang tidak akan melepaskanku karena aku mencintai laki-laki lain.

Setetes air mata jatuh lagi dari mataku. Kenapa aku masih mengingat semua itu sejelas dan sepahit ini?

***

Aku melihat layar ponsel papa yang tidak berhenti berkedip-kedip sejak beberapa menit tadi. Aku beralih menatap papa yang sama sekali tidak mempedulikan ponselnya dan sibuk membuatkan coklat panas untukku.

“Ini untuk putri cantik papa.” Katanya begitu coklat panasnya selesai dan dia duduk di meja makan di depanku.

“Terima kasih, pa.” Aku tersenyum lebar, lalu melirik ke ponselnya, “Daritadi kedip-kedip terus, ada telpon mungkin pa. Ngga diangkat?”

Papa mengikuti arah pandanganku, lalu hanya mengangguk dan mengabaikan ponselnya lagi. Dia menyeruput kopinya sebelum akhirnya bicara dengan sangat santai, “Sekretaris papa. Padahal papa sudah bilang untuk tidak menghubungi papa sampai papa yang menghubunginya dulu.”

“Tante Ambar?”

Papa mengangguk.

Aku sudah mengenal sekretaris papa yang biasa kupanggil tante Ambar itu. Dia wanita baik dan sangat ramah. Sangat profesional dan untungnya, memang sekretaris baik-baik.

“Mungkin ada pekerjaan yang penting?”

Papa meletakkan cangkir kopinya. Diam. Terlihat berpikir dan aku tahu benar apa yang ada di kepala papa sekarang. Aku berdiri, berlutut di dekat papa dan meraih tangannya, “Papa, Nuna baik-baik saja. Papa bisa pulang. Nuna tahu papa banyak pekerjaan sekarang.”

Aku menggenggam tangan papa makin erat, “Nuna sungguh baik-baik saja. Mungkin untuk sementara waktu, tinggal di sini akan lebih baik untuk Nuna. Nuna belum siap bertemu dengan Adrian lagi.” aku memejamkan mataku.

Juga Erel..

***

Aku berjalan, menikmati dinginnya setiap butir pasir pantai yang menyentuh telapak kakiku yang telanjang. Nyaris tiga bulan berlalu, atau mungkin lebih—aku tidak pernah benar-benar menghitungnya—dan aku masih di sini. Setelah usahaku meyakinkan papa berhasil dan papa mau kembali ke kota, aku membiarkan diriku terasing di sini.

Ombak, angin pantai, air laut, pasir pantai, mungkin hanya mereka yang benar sanggup membuatku bahagia. Mereka menyembuhkanku. Dengan semua kenyaman di sini, entah kenapa aku takut untuk pergi. Aku berhenti melangkah, memandang senja yang mulai meruam di horison.

“Nona Nuna, jaket anda.”

Aku berbalik, melihat Imana—perempuan paruh baya yang diperkerjakan papa untuk membantu dan mengurus semua kebutuhan rumahku di sini—berlari kecil ke arahku. Aku tertawa, tidak tahu kenapa, merasa bahwa ini lucu. Aku bukan bayi yang akan mati kedinginan hanya karena tidak memakai jaketku. Tapi lihat, bagaimana raut wajah penuh kekhawatiran Imana. Dia membantuku memakai jaketku dan mengomeliku. Dia bahkan lebih parah dari bi Narsih. Aku bahkan tidak yakin apakah dia cuma pengurus rumahku apakah dia adalah jelmaan dari ibuku?

Ibu?

Aku memandang Imana, “Bibi..” panggilku pelan, menghentikan mulutnya yang bergerak komat kamit menceramahiku, “Seperti apa rasanya punya ibu?”

Gerakan Imana terhenti, dia menatapku tidak mengerti. Tapi sedetik kemudian tersenyum, dia menepuk-nepuk lenganku pelan, membenarkan lengan jaket wool tebal ini, “Kenapa nona bertanya seperti itu?”

Aku menggeleng, “Tidak apa-apa.” Jawabku pelan, lalu tersenyum, “Lupakan saja. Ngomong-ngomong bibi mau masak apa untuk makan malam? Aku sedang ingin makan kerang.”

“Nona mau bibi masakkan kerang?”

Aku mengangguk antusias seperti anak berumur lima tahun.

“Saya akan ke tempat Darman untuk beli kerang kalau begitu, nona. Dia pasti punya kerang-kerang segar.”

“Mau kutemani, bi?”

Dia menggeleng cepat sekali, “Nona sekarang harus kembali ke rumah dan tunggu saja di rumah. Udara sedang sangat dingin, tidak baik untuk tubuh nona.”

Mulutku sudah terbuka untuk protes namun tangan Imana yang sudah mulai keriput menggandengku berjalan menuju rumah. Jelas sekali dia tahu aku akan menolak. Aku tersenyum kecil, kehabisan kata-kata. Lihat. Siapa sekarang yang memerintah dan diperintah.

***

Aku sedang membaca hasil audit yang dikirimkan oleh Arthalia ke emailku ketika aku mendengar suara bel rumah berbunyi. Aku mengerutkan keningku. Aku tidak pernah punya tamu. Lalu itu siapa? Imanakah? Bukankah dia punya kunci rumah ini? Apakah dia lupa membawanya?

Meski enggan, aku akhirnya meninggalkan pekerjaanku dan berdiri. Berjalan dengan malas menuju pintu. Aku tidak suka diganggu ketika aku sedang mengerjakan sesuatu. Meskipun aku di sini, aku masih mengerjakan semua pekerjaan kantorku. Aku mendesah, mengubah ekspresi wajahku, aku tidak ingin menakuti Imana dengan ekspresi kesalku. Pelan, kubuka pintu rumah ini.

“Kenapa harus pencet be—“

Mulutku terbuka, tidak sanggup melanjutkan apapun itu yang sebelumnya sudah diujung lidahku. Bahkan ketika tubuh tegap itu maju dengan sangat tergesa, nyaris menubrukku meski pada akhirnya dengan lengan-lengannya yang kukenali benar, dia memelukku, aku masih belum sepenuhnya sadar dengan apa yang ada di depanku.

“Nuna.. Nuna..” dia melafalkan namaku seperti orang gila. Dia menenggelamkanku di dalam dekapannya dan aku bisa mendengar suara degupan jantungnya yang tidak karuan. Dadanya naik turun dengan cepat.

“Nuna..” bahunya bergetar dan tangannya yang melingkari punggungku semakin terjalin erat. Butuh beberapa menit sampai akhirnya aku sadar bahwa apa yang terjadi sekarang bukanlah halusinasiku. Dan aku meremang, merasakan betapa aku ternyata aku merindukan pelukan tangan ini.

“Adrian..” aku mengucapkan namanya dengan ragu-ragu, melepaskan diri dari pelukannya dan raut wajah Adrian yang ada di depanku benar-benar membuatku tercengang. Ada bekas airmata di sudut mata dan  pipinya. Adrian hanya sekali menangis, ketika tante Amy masuk rumah sakit karena percobaan bunuh diri yang tante Amy sendiri lakukan. Selebihnya, Adrian selalu terlihat kuat, tegar dan dingin.

Namun sekarang, aku melihat jelas airmata itu ada di sana, diantara matanya yang bersorot penuh kelegaan. Namun aku juga menyadari ada lingkaran hitam mengantung di bawah matanya. Rambut Adrian yang selalu dipotong rapi nampak lebih panjang sehingga sebagian jatuh begitu saja menutupi daun telinganya. Ada sisa cukuran yang tak rapi di dagu dan di bawah hidungnya.

“Jangan pergi dariku lagi.”

Itu adalah satu kalimat penuh pertama yang diucapkannya setelah dia hanya menyebut namaku beberapa kali. Aku memejamkan mataku beberapa detik, membukanya dan menatap Adrian lagi. Benar-benar tidak tahu harus mengatakan apa. Aku tidak menyangka bahwa dia akan menemukanku. Aku mendengar semua yang dilakukannya demi mencariku dari papa. Arthalia menulis e-mail padaku ketika dia menerjang masuk ke ruang kantorku demi mencariku. Tapi aku tidak membiarkan siapapun tahu dimana aku. Tidak Arthalia, tidak bi Narsih. Hanya papa yang tahu dan aku yakin benar bahwa papa tidak akan pernah memberitahu Adrian dimana aku berada jika aku memang tidak menginginkannya.

Dia berusaha dengan sungguh-sungguh mencariku. Itulah kesimpulan pertama yang kudapat. Dan meskipun begitu, aku tetap tidak tahu harus bagaimana menyikapi ini semua. Aku tidak pernah menyangka dia akan ada di sini. Tepat di depanku ketika aku masih memutuskan diri untuk menghindar bertemu dengannya maupun dengan Erel.

“Masuklah.” ucapku mengabaikan perkataannya, berusaha sekuat tenaga agar telihat tidak peduli meskipun sejujurnya, jauh di hatiku yang terdalam, aku bersyukur melihatnya.

Adrian mengangguk, mengikutiku dengan patuh. Aku mempersilakan dia duduk di sofa panjang di ruang tamu dan diapun duduk di sana dengan sama patuh. Hanya tatapannya yang tak pernah lepas dariku. Dia tidak mengikutiku ketika aku mengatakan aku akan mengambil minum untukku. Dia mengangguk, dan masih tetap hanya memandangiku seolah dia takut aku akan menghilang lagi darinya.

“Kenapa kau kemari, Adrian?” aku memecah keheningan diantara kami ketika akhirnya aku kembali ke ruang tamu dan duduk di samping Adrian yang baru saja meneguk hampir separuh isi dari gelas berisi jus jeruk yang kuberikan padanya.

Dia menghela nafas panjang, “Maafkan aku.”

“Tidak ada yang perlu dimaafkan, Adrian. Bukankah aku sudah mengatakan kepadamu bah—”

“Nuna!” Adrian memotong ucapanku dan tangannya menarik tanganku lembut, menggenggamnya. Aku memandang ke arah tangannya sebelum kembali menatap ke mata Adrian yang memandangku lurus-lurus, “Aku tidak bisa jika tidak ada kau di dalam hidupku. Kembalilah kepadaku, Nuna. Aku mohon.”

“Adr—”

“Aku akan berubah. Aku berjanji aku tidak akan pernah menyakitimu lagi. Aku akan berhenti bermain-main dengan semua perempuan jalang itu. Aku..” suaranya menghilang. Dia memejamkan matanya sebentar, lalu kembali memandang ke arahku dengan yakin, “..aku akan memaafkan Dimas Primbadi. Aku akan melupakan dendamku pada laki-laki itu. Meski aku harus menanggung rasa bersalahku pada mama, aku akan melakukannya demi kau. Aku ingin kita kembali ke kehidupan kita yang dulu. Aku merindukan masa-masa itu. Aku sangat merindukannya, Nuna”

Kejujuran itu terlihat kentara di setiap tutur kata dan sorot matanya. Aku berbohong jika kukatakan aku tidak tersentuh dengan apa yang dikatakannya. Aku tahu aku tidak akan bisa menolak semua yang ditawarkan Adrian. Dan akupun tahu itu tidak mudah baginya. Memaafkan Dimas Primbadi. Memaafkan papanya. Aku tahu bagaimana menjadi Adrian. Aku bersamanya. Aku ada di sana ketika dia melalui semua masa-masa tergelap dalam hidupnya. Tante Amy, Om Dimas, dan semua lingkaran penderitaan yang melingkupi mereka.

Aku tidak bisa membohongi diriku sendiri jika aku juga merindukan masa-masa sebelum tante Amy jatuh koma. Aku..

“Hanya jika kau berada di sampingku, aku akan bisa hidup, Nuna. Hanya jika kau mau kembali bersamaku dan bertahan dengan semua sifatku. Lengkapi aku Nuna, hanya kau yang bisa memberi cahaya dalam—”

Aku memeluk Adrian. Aku tidak bisa berbohong jika aku merindukan laki-laki ini. Aku tidak bisa berbohong jika aku mencintainya. Tidak tiga bulan, tidak tiga tahun, tidak tidak dasawarsa. Tidak ada satu jengkal waktupun yang bisa meghapus perasaanku pada laki-laki yang sekarang balas memelukku dengan penuh kelegaan ini.

Maaf Erel..

***

“Aku tidak menyangka kau akan memaafkanku secepat ini, Nuna. Aku pikir aku harus bersimpuh selama berhari-hari memohon maafmu. Aku sungguh tidak menyangka hatimu selapang itu.”

Tangan Adrian membelai lembut pipiku. Matanya memandangku penuh cinta. Aku tidak bisa mengatakan jika aku tidak terpesona pada tatapannya. Aku merindukan belaian Adrian yang seperti ini sepanjang waktu. Aku merindukan suara Adrian yang lembut seperti ini. Selalu. Bahkan ketika bersama Erel, wajah Adrian masih kerap ada di sana. Membayangiku penuh dengan rasa bersalah.

Dan ketika menyebut nama Erel dalam benakku. Aku tahu bahwa aku telah menjadi manusia paling kejam di dunia ini. Jauh, jauh di dalam hatiku aku menyadari sesuatu. Sesuatu yang selama ini kutolak mentah-mentah kebenarannya. Sesuatu yang selama ini kubutakan dari hati dan kepalaku. Sesuatu yang berujar bahwa selama ini Erel hanyalah pengganti sosok Adrian.

Erel yang datang ketika aku merindukan sosok lama Adrian yang mencintai dan memujaku. Erel datang dengan segala aroma lama Adrian. Yang lembut, yang mencintai, yang tidak pernah menyakitiku, yang.. aku memaksakan menarik sudut bibirku. Menghembuskan rasa bersalahku pada Erel dan balas memandangi Adrian yang sama sekali tidak melepaskan pandangannya dariku barang sedetikpun.

“Kau cantik, Nuna. Selalu cantik.”

Aku tertawa kecil, memukul bahunya. Dan dia tersenyum bahagia, menarik tubuhku yang berbaring menghadap ke arahnya, mendekat. Semakin merapat padanya dan aku menyandarikan kepalaku di dadanya yang bidang. Mengdengar degupan jantungnya. Aku tidak tahu kenapa, namun aku mendengar jantung itu berdegup kencang. Terlalu cepat. Bukan ritme normal. Adrian kenapa?

Hembusan nafas Adrian menerpa puncak kepalaku dan aku bisa merasakan dagunya yang bertumpu pada ubun-ubunku, tangannya mendekapku semakin rapat dan kemudian aku mendengarnya, pelan, lembut namun tegas dan pasti.

“Nuna, maukah kau menikah denganku?”

***

“Aku dan Adrian akan menikah.”

Aku mengucapkan kalimat itu dengan pelan. Sangat pelan namun aku tahu esensinya mampu menebas habis hati Erel. Aku tidak sanggup melihat reaksinya. Dengan cepat aku berjalan, melewatinya dan masuk ke dalam rumahku.

Di balik pintu yang tertutup, aku sadar tubuhku gemetar dan aku jatuh terduduk dengan punggung menempel pada daun pintu di belakangku. Aku membekap mulutku, menahan semua isakanku dan membiarkan airmataku jatuh seperti aliran sungai, deras.

“…Bahkan jika kau masih ingin kembali pada Adrian dan memilikiku pada saat yang bersamaan. Aku tidak apa-apa. Aku benar-benar tidak apa-apa.”

Maaf.. maaf.. maafkan aku, Erel. Maafkan aku..

“Bukan aku, Nuna, bukan aku malaikat hujan itu. Tapi kau, itu selalu dirimu dan bukan aku, Nuna. Kau adalah malaikat hujanku. Jika tanpamu, entah apa jadinya hidupku. Jika tak pernah mengenalmu, entah aku bisa merasakan kehidupan ini dengan benar atau tidak. Itu hanya kau Nuna, hanya kau yang bisa melakukan semua ini kepadaku. Kau..”

Bahuku berguncang makin hebat. Puas Nuna? Puas kau menghancurkan hidup seseorang hanya karena keegoisanmu mengejar kebahagiaanmu sendiri.

“Kembalilah padaku Nuna. Kembalilah menjadi malaikat hujanku. Biarkan aku selalu basah oleh kebahagiaan karena keberadaanmu. Kau hujan diantara semua kemarauku, Nuna. Kembalilah padaku. Kumohon. Kembalilah menjadi malaikat hujanku. Aku tidak akan meminta hal lain lagi. Hanya kembalilah padaku. Aku akan melupakan semua janji hujan itu. Semuanya. Kita bisa memulai segalanya dari awal. Bahkan jika aku harus selalu menjadi laki-laki dalam bayang gelap untukmu, aku akan melakukannya, Nuna.”

Erel..

Sepasang lengan memelukku dan aku mengubur wajahku ke dalam dadanya. Menangis semakin keras dan terisak dalam dekapannya. Adrian membelai rambutku, membiarkan aku membahasakan rasa bersalahku dalam airmata dan dia tidak mengatakan apapun. Adrian hanya memelukku dalam diam. Meskipun dia tahu aku menangisi laki-laki lain. Meskipun dia bisa menebak apa yang terjadi, dia diam dan hanya memelukku. Memelukku dengan semua penyerahan tulusnya.

***

“Apakah kita harus menemui laki-laki itu?”

“Untuk apa?”

“Minta maaf padanya?”

Aku menggeleng, lalu menelusupkan kepalaku diantara lengan Adrian, “Aku terlalu malu untuk menemuinya. Biarlah seperti ini dan dia hanya akan mengingatku sebagai perempuan yang tidak baik.”

Adrian memilin helaian rambutku lembut dan mengangguk, “Jika itu yang terbaik menurutmu.”

“Adrian..”

“Ya.”

“Kenapa kau tidak marah padaku ketika aku menyeritakan semua tentang Erel padamu? Bukankah itu menunjukkan bahwa akupun sama. Kau bersama Dilla dan aku memiliki Erel. Kita sama-sama buruk.”

Aku mendengar tawa Adrian, lalu dia mendekapku erat, “Itulah kenapa Tuhan menyatukan kita. Karena kita sama-sama buruk.”

Senyumku terkembang dan aku tertawa, menertawai nasib yang kami miliki.

“Kau tahu, Nuna. Aku justru berterima kasih pada laki-laki itu. Aku harus berterima kasih kepadanya karena telah menggantikan tempatku untuk menjaga dan membuatmu bahagia. Disaat aku malah sibuk membuatmu terluka, ada laki-laki itu untukmu. Menenangkanmu dan melindungimu.”

Aku mengerjap, tidak menyangka jika Adrian malah berpikir seperti itu. Awalnya aku menyangka dia akan marah. Akan memakiku dan entahlah. Aku sama sekali tidak menduga jika malah seperti ini jadinya.

“Tidurlah Nuna. Tidurlah bidadariku. “

Aku mengangguk pelan, lalu memejamkan mataku. Dan tangan Adrian mengusap kepalaku lembut seraya bersenandung pelan.

“Aku mencintaimu, Nuna.” bisiknya ketika aku terlelap semakin dalam.

***

Terkadang kita akan menjadi egois ketika kita menginginkan apa yang kita mau. Terkadang kita tahu bahwa menjadi seperti ini tidak akan pernah menghasilkan sesuatu yang baik namun kita membutakan mata kita, menulikan telinga kita dan mengeraskan hati kita. Karena kita egois? Benar seperti itu bukan, Adrian?

Aku mendekap Erel, karena aku kehilangan pelukanmu yang biasa menghangatkan hatiku yang kerap dingin. Aku mengikat Erel di sampingku meski aku tahu aku tidak seharusnya seperti itu karena aku tidak akan punya tempat untuk berlari ketika kau melakukan hal-hal yang menangis. Aku jatuh cinta dan menyayangi Erel, karena dalam hati terdalamku aku tahu bahwa itu akan membuatku bahagia ketika kau sibuk dengan perempuan-perempuan lain. Aku membiarkan Erel berkeliaran di dalam hatiku karena aku tahu aku tidak bisa hidup dengan hati yang terus kau, sia-siakan.

Adrian, kau adalah satu-satunya alasan kenapa aku membiarkan Erel masuk ke dalam kehidupan kita. Dan sekarang, ketika kau mengatakan bahwa kau ingin berubah dan memperbaiki semua yang salah selama ini, akupun membuka semua kesempatan yang ada untukmu. Perasaanku tidak berubah. Meski aku berteriak aku membencimu. Meski aku berteriak kita tak pernah ada dan hanya menyisakan ingatan-ingatan masa lalu. Aku tahu itu tipu lisanku karena hatiku selalu menerimamu. Selalu..

***

Kecelakaan beruntun di tol Jagorawi siang tadi membawa korban jiwa. Tiga dinyatakan meninggal di lokasi kejadian, dan tujuh dilarikan ke rumah sakit terdekat. Masing-masing korban meninggal adalah AP (33th), DK (19th) dan BG (46th). Seorang pengusaha muda yang masuk jajaran elite Jakarta dikabarkan ikut menjadi korban. Belum ada konfimasi dari pihak terkait tentang penyebab tragedy ini, banyak sumber menyatakan bahwa…

***

Mereka bilang takdir bisa lebih kejam dari horor paling mengerikan yang bisa kau bayangkan. Mereka bilang apa yang terjadi di masa depan tak akan pernah bisa diperkirakan. Sama sekali tak ada ramalan yang sepenuhnya akurat. Sama sekali tak ada rencana yang bisa menyaingi apa yang dikehendaki takdir. Bukankah begitu?

Takdir..

Mataku menatap kosong pada gundukan tanah memerah yang penuh taburan bunga di depanku. Aku berpusat pada nisan batu berukir indah di depanku, mengabaikan puluhan karangan bunga bela sungkawa lain yang ditata apik di sekitarnya.

Adrian Primbadi.

Nama itu diukir dengan bentuk indah dan tanpa cela. Tapi tak ada gunanya bukan? Tak ada gunanya karena itu cuma nama di atas nisan. Nama di atas nisan. Simbol yang menyatakan bahwa pemiliknya telah berbaring diantara dingin tanah pekuburan. Kembali ke bumi.

Airmataku rasanya sudah habis untuk menangis. Aku bahkan tidak bisa lagi mengatakan apapun. Lidahku kelu dan semuanya terasa berhenti. Kehidupanku berhenti di sini. Dihentikan takdir. Dihentikan dengan kejam dan tanpa pandang bulu.

Busana pengantin sudah dipesan. Sudah akan jadi bulan depan. Semua urusan katering, semua urusan gedung, sudah diurus Tante Ambar. Papa terus berbinar menatap aku dan Adrian yang sama sekali tidak terpisahkan. Senyum-senyum dan tawa ceria kembali terdengar di meja makan kami. Bahkan bi Narsih ikut tergelak ketika Adrian dengan sengaja membuat mukaku cemong penuh dengan tepung ketika kami sepakat membuat kue bersama sementara kami berdua sama payah dalam hal masak memasak. Tanggal 21 Juli 2015 sudah dilingkari besar-besar oleh papa, olehku, oleh Adrian. Tapi apa gunanya sekarang? Apa pentingnya semua itu sekarang?

“Nuna..”

Sentuhan lembut di pundakku itu sama sekali tidak mengerakkan tubuhku yang sudah duduk bersimpuh di samping tanah makam Adrian yang masih basah oleh airmataku ini selama berjam-jam. Aku masih bebal. Masih jadi batu. Masih tidak bisa menerima apa yang terjadi.

“Nuna..”

Dia memelukku dari belakang, tak sanggup melihatku yang terpuruk. Aku terisak lagi, tidak bisa menahan semua luka menganga di hatiku. Semua kekosongan yang ditinggalkan oleh Adrian.

“Kenapa dia tidak mengajakku bersamanya, Erel?”

***

“Hujan, Adrian. Sebaiknya batalkan saja, seberapa penting memang urusanmu itu?” aku cemberut, duduk di atas meja di ruangan kantor Adrian.

Dia bangkit dari duduknya, menangkup kedua pipiku, “Ini urusan yang sangat penting. Sangat-sangat penting karena ini menyangkut dirimu. Semua yang denganmu tak ada yang tidak penting bukan?”

“Apa memangnya?”

“Ini kejutan.”

“Aku tidak suka kejutan.”

Adrian tergelak dan mengecup puncak kepalaku, “Aku mencintaimu, malaikatku.”

Mendadak bayangan Erel melintas di kepalaku. Erel yang selalu menyebutku sebagai malaikat hujannya. Aku membuang muka, memandang hujan yang terlihat dari jendela kantor Adrian.

“Ada apa?” tanyanya menyadari perubahan ekspresiku.

“Aku tidak suka jadi malaikatmu.”

Ada senyum tulus di wajahnya dan dia maju semakin rapat. Menempelkan pipinya di pipiku, matanya mengikuti arah pandangku. Ada beberapa detik diam dan kami hanya memandangi deras hujan di luar sana.

“Jika kau tidak suka jadi malaikatku, maka aku yang akan menjadi malaikatmu. Mengawasi dan menjagamu. Memastikan kebahagiaanmu setara dengan tetesan tak terhitung hujan di luar sana.”

“Malaikat hujan?” tanpa sengaja kata-kata itu terucap dari bibirku. Pelan. Tapi aku yakin Adrian mendengarnya karena dia mengangguk. Ada penyesalan di dalam hatiku karena mengucapkan itu. Sebab lagi-lagi itu membawaku kembali dalam ingatanku tentang Erel. Aku masih dipenuhi rasa bersalah pada Erel dan entah sampai kapan akan seperti ini.

“Aku akan menjadi malaikat hujanmu, Nuna.”

Dia memutar wajahnya dan memberiku kecupan singkat di bibirku, “Nah, tapi sekarang aku harus pergi.”

“Aku ikut.” aku merajuk manja dan tangan Adrian membelai rambutku penuh kasih.

“Kita beda arah, sayang. Dan ini tidak akan jadi kejutan buatmu jika kau ikut denganku.” Adrian tersenyum, lalu memelukku dan mengendong tubuhku turun dari meja kantornya, “Kau juga bawa mobil sendiri bukan?”

“Aku bisa meninggalkannya di parkiran kantormu. Memangnya siapa yang mau melarang?” tantangku keras kepala. Entah kenapa aku tidak ingin Adrian pergi. Aku ingin menghabiskan waktuku bersamanya, dan Adrian malah akan pergi, entah kemana. Menyiapkan kejutan untukku katanya? Aku tidak suka kejutan dari Adrian. Dia tidak romantis dan tidak pandai dengan segala jenis urusan seperti itu. Aku lebih memilih duduk melihatnya bekerja dan bukannya seperti ini.

“Tidak akan ada yang berani melarang jika mereka melihat wajahmu sekarang. Kau terlihat menyeramkan. Bahkan satpam kantorku saja akan mengkerut jika melihatmu.”

“Adrian!” aku menaikkan suaraku, setengah kesal. Namun dia mengabaikanku dan malah meraih tasku dan membawanya, sebelah tangannya merangkul pinggangku.

“Kita bisa turun ke tempat parkir bersama. Kau akan ke rumah sakit bukan?”

Aku mengangguk, sepertinya percuma melawan Adrian, “Aku ingin melihat hasil check tubuh Tante Amy. Martha baru saja menelponku, sepertinya hasilnya tidak bagus.” ucapku tanpa menghentikan langkah pelan kami yang mulai meninggalkan ruangan Adrian.

“Aku khawatir pada kondisi mama.”

“Tante Amy pasti sembuh. Di pernikahan kita nanti, tante pasti hadir.”

“Tentu saja, mama pasti datang. Mana mungkin dia begitu tega tidak menghadari pernikahanku. Jika dia tetap berkeras tidak bangun, aku yang akan menjemputnya. Bagaimana mungkin dia tidak bangun jika anak kesayangannya ini yang menjemputnya?” Adrian tersenyum, dan aku tertawa kecil.

Namun, kami sama-sama tahu itu tidak mungkin, keadaan tante Amy sama sekali tidak menunjukkan perubahan ke arah yang bagus. Tapi Adrian selalu berusaha terlihat ceria menanggapinya. Kami sepakat bahwa kami tidak akan menyerah. Jika Adrian saja sanggup, aku pasti juga.

Tangan Adrian menekan tombol lift menuju ke bawah dan kami menunggu dalam diam. Tangan Adrian turun dari pinggangku dan mencari jemariku. Mengenggamnya erat dan aku tersenyum.

Aku sangat mencintai laki-laki ini.

Lonsee, Baden Württemberg, Germany
11.32 PM, 21 Mei 2015

Mau Baca Lainnya?

6 Comments

  1. Pada awalnya aku maunya juga gitu, tapi ngga tahu kenapa.. kemaren malem pas nulis ini tetiba aja bikin ending kayak gini.. Sial bangetkan.. Kasian Adrian.. Kasian Nuna.. Tapi apa yang bisa dilakuin lagi..

    Selamat jalan, Adrian.. :')

  2. aku sih sbenernya udh jadi pembaca stia setiap tulisan kka

    tapi baru kali ini smpet koment hihihi

    sbenernya cerita ini tuh happy ending kalo gak sad ending *apaansih

    Terus berkarya yak kak

Leave a Reply

Your email address will not be published.