Malaikat Hujan – Nuna (Part 1)

Aku berharap dia melupakannya.

“Hujan.” Bisiknya di sebuah pagi yang dingin. Aku melirik ke jendela besar di belakangnya. Menyadari sesuatu yang selama ini berusaha kuhindari. Please.. jangan katakan apapun Erel. Aku menghela nafas, berusaha berekspresi senormal mungkin, “Yah?” aku mendesah, jelas-jelas tidak ingin membuatnya membahas masalah itu lagi, “Hujan.” Kataku datar, “Kau mau kopi, Erel?” tanyaku singkat ketika aku bergerak turun dari tempat tidur. Aku sadar dia menatapku dengan kerutan dalam di keningnya.

“Hujan, Nuna. Hujan di akhir bulan November.” Ulangnya membuat jantungku berdetak lebih cepat dari biasanya.

Namun aku mengabaikannya. Mengabaikan Erel, mengabaikan jantungku dan mengabaikan semua kilasan-kilasan memori tentang janjiku padanya. Aku terus melangkah dan berputar ke dapur kecil di apartemennya. Menyibukkan diriku dengan aroma kopi, air panas, cangkir, suara hujan dan semua teriakan di kepalaku.

Aku mendengar suara langkahnya mendekat. Aku terus berusaha mengabaikannya dan membiarkan pikiranku fokus pada seduhan kopiku. Aku merasakan nafasnya di leherku. Dengan lembut dia melingkarkan tangannya di pinggangku dan memelukku dari belakang, “Di luar hujan deras, Nuna.” Bisiknya, “Hujan deras di akhir bulan November.”

“Hujan deras di akhir bulan November.”

Deg

Tubuhku berhenti melakukan apapun. Gerakan tanganku pun berhenti. Aroma harum kopi yang menguar di sekeliling kami mendadak lenyap begitu saja. Hujan deras di akhir bulan November. Kedua bola mataku menerawang kembali ke masa itu. Erel..

Aku tidak bisa diam saja seperti ini. Tidak lagi. Dia tidak pantas kubuat berharap terus menerus. Aku menyentuh tangannya yang melingkari tubuhku dan melepaskannya dengan lembut, “Erel.” Kataku sambil berbalik, menatap lurus-lurus ke arahnya. Dengan tatapan sedih aku memandangnya yang menatapku dengan pancaran cinta yang tak pernah berkurang.

“Nuna?”

“Erel, aku minta maaf.” Kataku sambil meremas tangannya. Hatiku bergolak hebat. Ada satu sisi dalam diriku yang menentang dengan keras atas apa yang telah kuputuskan untuk Erel. Sisi yang begitu memuja dan mencintainya. Namun aku tidak bisa, ada sisi lain yang lebih dominan dari sisi itu yang juga ikut berteriak di kepalaku. Sisi dominan milik Adrian. Sisi yang selama ini terus menerus mencaci maki diriku atas apa yang kulakukan di belakang Adrian. Aku tak bisa menanggung semua ini. Perlahan sudut mataku basah dan aku menangis di depan Erel. Dia menatapku dengan pandangan bertanya-tanya.

 “Aku minta maaf. Maaf. A..aku.. aku tidak bisa.” Isakku tertahan dan genggaman tanganku pada tangannya mengendur hingga terlepas ketika aku sudah tidak bisa mengontrol perasaanku sendiri. Kepalaku sakit dan semua teriak serta argumen sialan yang terus menerus muncul di sana membuatku semakin bingung. Aku menjatuhkan tubuhku ke lantai. Duduk bersimpuh dengan bahu yang berguncang.

Aku tidak sanggup memandang Erel. Aku tidak cukup punya harga diri untuk melihat mata hitamnya yang selalu bersorot lembut terhadapku. Aku tidak sanggup. “Nuna?” aku mendengar suaranya dan merasakan kehangatan telapak tangannya di kedua pipiku. Dengan lembut dibimbingkan aku agar menatapnya.

Dan di sana aku melihat kedua bola mata hitamnya masih bersorot lembut padaku. Mata itu masih mengabarkan cintanya yang begitu besar kepadaku. Padahal aku tahu kalau dia paham benar apa arti dari semua ini. Apa arti dari permintaan maafku.

Aku tidak bisa menahan diri untuk tidak memakinya dalam benakku. Bagaimana bisa dia punya hati semurni ini. Aku menatapnya dengan seribu kata maaf terlafal di jiwaku. Mataku semakin panas dan aku terisak makin hebat, “Tidak apa-apa, Nuna. Tidak apa-apa. Aku mengerti.” bisiknya lembut di telingaku.

***

Aku menatap tumpukan berkas-berkas menggunung di atas meja kerjaku yang harus kuperiksa dan kutanda tangani hari ini, dengan malas. Aku sedang tidak ingin memikirkan ataupun melakukan sesuatu yang berhubungan dengan pekerjaan. Kejadian tadi pagi di apartemen Erel benar-benar mengangguku. Rasa bersalah yang begitu kuat menjalar ke seluruh tubuh dan nuraniku. Aku tahu aku telah berlaku begitu jahat padanya. Aku yang memberinya harapan dan janji itu, aku yang membuatnya selalu menatap hujan dengan mata berbinar dan berkata, “Nuna, aku harap hujan selalu turun. Agar aku bisa selalu bersamamu. Hujan yang membawamu menjadi milikku. Hujan menahanmu untuk bisa tinggal lebih lama di sampingku.”

Erel..

Aku mendesah dan menyandarkan punggungku ke belakang. Apa yang harus kulakukan pada hubungan kami ini. Apa yang bisa kulakukan agar aku tidak menyakiti perasaannya terus menerus. Dia terlalu baik bagi perempuan sepertiku.

Tidak apa-apa, Nuna. Tidak apa-apa. Aku mengerti.

Kalimat itu mendadak berputar di dalam pikiranku. Entah sudah berapa kali Erel mengatakannya untukku selama ini. Erelku yang berhati besar, apakah kau benar-benar tidak apa-apa?

Tok tok tok

Suara ketukan pintu itu membuyarkan semua lamunanku. Menegakkan tubuhku, aku mempersilakan siapapun itu untuk masuk. Tubuh Artalia, sekretarisku, muncul ketika pintu ruanganku terbuka. Dengan setumpuk berkas-berkas lain dalam map besar di pelukannya, dia berjalan ke arahku, “Maaf, bu Nuna. Ini ada tambahan berkas-berkas yang harus Ibu tanda tangani hari ini.” katanya formal. Aku menyadari dia menatap berkas-berkas lain yang dia antarkan pagi tadi kepadaku. Dia jelas tahu bahwa aku sama sekali belum menyentuhnya.

“Apakah bu Nuna sedang tidak enak badan?” tanyanya pelan. Dia jelas tahu betapa gila kerja dan perfeksionisnya aku selama ini. Jarang sekali aku menunda pekerjaan yang bisa kulakukan sekarang. Namun aku hanya menggeleng, “Bawa saja kembali semua berkas-berkas ini. Aku sedang tidak ingin melakukan apapun hari ini. Dan tolong batalkan semua janji yang ada di agenda hari ini.” kataku sambil bangkit dari dudukku dan meraih tasku.

“Iya, bu.” Jawab Arthalia yang sebenarnya masih menatapku dengan tanda tanya yang jelas. Tapi aku mengabaikannya dan berjalan begitu saja keluar dari ruanganku. Aku sudah tidak bisa menahannya lagi. Jika hanya berdiam di sini saja, otakku bisa meledak. 

Aku sengaja turun melewati tangga agar aku bisa melewati ruangan tempat divisi Erel bekerja. Aku memelankan langkahku ketika melewatinya dan akhirnya benar-benar berhenti ketika aku bisa melihat Erel dengan jelas. Keningku berkerut dalam ketika aku melihat Erel tidak sendirian di cubiclenya. Dia sedang berbincang dengan seorang perempuan cantik seusianya. Siapa perempuan itu? Berani-beraninya dia terlihat seakrab itu dengan Erelku. Buku-buku jariku bergetar menahan kemarahanku ketika aku melihat perempuan itu tertawa riang dengan Erel. Apa yang sedang mereka bicarakan?

“Ibu Nuna? Adakah yang bisa saya bantu?”

Aku menoleh dan mendapati laki-laki paruh baya, kepala divisi tempat Erel ini, berdiri di sampingku dan menatapku dengan penasaran. Aku tersenyum tipis, menggeleng pelan, “Hanya melihat bagaimana karyawan-karyawanku bekerja.” Sahutku datar.

Laki-laki itu terlihat gugup, mengira bahwa aku melakukan inspeksi dadakan ke divisinya. Dia sudah akan membuka mulutnya untuk bicara panjang lebar ketika aku akhirnya mengakhiri suasana tidak menyenangkan ini dengan berkata pelan, “Tidak perlu cemas. Tidak ada yang terlihat salah di sini. Anda bisa melanjutkan lagi pekerjaan anda.”

Dia mengangguk dengan kikuk dan mengucapkan selamat siang dengan suara bergetar ketika aku melewatinya dan berjalan meninggalkan tempat ini. Semua orang selalu seperti itu. Entah apa yang dipikirkan mereka tentangku. Aku tidak peduli. Aku memang tidak ingin menjalin keakraban dengan mereka. Bagiku hubunganku dengan mereka hanya sebatas hubungan profesional kerja. Tidak lebih. Namun tentu saja ada pengecualian, bagi Erel..

Aku masuk ke dalam lift yang terbuka. Orang-orang yang keluar dari sana langsung menunduk dengan hormat dan menyapaku dengan basa basi formal. Menyingkir di tepian, memberiku jalan masuk. Beberapa orang yang sepertinya tidak terlihat akan turun di lantai ini, buru-buru keluar dari lift. Membiarkan lift ini kosong sehingga bisa kugunakan seorang diri. Aku hanya mengangguk kecil setiap sapaan basa-basi itu mereka lontarkan untukku. 

Dengan gerakan cepat aku masuk ke lift. Menekan tombol di lift yang akan membawaku turun ke basement dan meninggalkan orang-orang gugup ini bergerombol di lantai ini. Aku mendesah berat, menyandarkan punggungku ke dinding lift yang dingin ketika akhirnya pintu lift tertutup dan aku hanya sendirian di dalam sini.

Aku melihat pantulan diriku di pintu lift. Tubuh tinggi semampaiku terbalut setelan kantor yang fashionable. Sepatu hitam berhak tinggi menghiasi kakiku dan rambutku yang hitam panjang, jatuh dengan sempurna di bahuku. Namun sapuan make up ringan di wajahku yang cantik tetap saja tidak bisa menyembunyikan betapa penatnya pikiranku. Aku akhirnya tahu kenapa orang-orang tadi terlihat lebih gugup dan lebih takut berada di dekatku daripada biasanya. Wajahku jelas menyiratkan bahwa aku tidak berada di dalam moodyang bagus hari ini. Mereka tak akan mau terkena imbasnya karena tanpa itupun, aku tahu aku sudah terkenal galak dan keras di sini.

Semua ini karena hujan yang turun di akhir bulan November. Sekali lagi aku mendesah. Bukan.. semua ini bukan salah hujan. Semua ini salahku. Salahku. Ya salahku..

“Jika hujan turun di akhir November tahun depan, aku janji, Erel. Aku janji akan mengumumkan pada semua orang bahwa kau adalah kekasihku. Bahwa kau adalah laki-laki yang akan aku nikahi. Bahwa kau adalah malaikat hujan yang selama ini melindungiku di belakang. Malaikat tak tampak seperti hujan namun jelas terasa kehadirannya. Kau adalah malaikat hujanku, Erel. Yang dikirim Tuhan untuk membuatku bahagia. Dan aku tidak akan pernah bisa melepaskanmu.”

Aku mengutuk diriku sendiri. Bagaimana bisa aku membuat janji yang belum tentu bisa kutepati pada orang sebaik Erel? Bagaimana bisa mulutku dengan lancang memberikan harapan terlalu tinggi tentang hubungan kami padanya.?Aku menyapu wajahku dengan lelah. Semua salahku..

Suara denting lift yang menandakan aku sudah sampai di tempat tujuanku membuatku kembali menegakkan tubuhku dan melangkah keluar ketika pintunya sudah terbuka. Dengan lelah kuseret tubuhku menuju parkiran khusus tempat mobil kesayanganku yang berwarna putih terparkir. Begitu masuk di dalam sana, dan kembali diam. Semua spekulasi dan argumen tentang Erel kembali merasukiku.

Aku benci menjadi seperti ini. Dengan kasar kujalankan mobilku dengan cepat meninggalkan tempat ini. Aku bisa gila jika terus seperti ini. Aku melajukan mobilku berbaur bersama kemacetan di kota metropolitan ini tanpa tahu kemana tujuanku. Mendadak seutas senyum terbentuk di bibirku. Akhirnya aku tahu kemana aku harus pergi. Aku selalu kesana ketika aku tidak punya tujuan. Tidak, salah. Tempat itu selalu menjadi tujuanku. Selalu.

***

Aroma ruangan ini begitu kukenal dengan benar. Aroma obat-obatan dan bau harum bunga mawar merah kesukaannya. Aku duduk di sebelahnya yang terbaring dengan mata terpejam. Aku tersenyum menatapnya, “Tante, aku datang lagi.” Sapaku lembut. Aku menarik satu tangannya dan mengenggamnya lembut.

“Tante..”

Aku menatap tubuh kurus tak berdayanya di ruangan ini, “Tante bangunlah. Aku dan Adrian akan bertunangan bulan depan. Apa tante tidak ingin ikut merayakan momen bahagia kami ini? Aku melakukan ini semua demi. tante.”

Mataku berkaca-kaca. Aku mencintaimu, tante. Aku tidak bisa mengatakan apapun lagi di depannya. Aku merubuhkan kepalaku di dekatnya dan menangis tertahan. Terisak dalam ruangan yang hanya dipenuhi suara alat pendeteksi detak jantung dan alat bantu kehidupan lainnya. Aku mengenggam tangannya erat. Berharap jemari tangan lemah ini bergerak dan meresponku.

“Tante, aku dan Adrian akan menikah. Kami akan menikah sesuai yang kau mau. Kami akan menikah. Jadi bangunlah. Dan biarkan aku membalas semua kebaikanmu kepadaku. Aku akan merelakan kebahagiaanku demi melihatmu tersenyum bahagia. Aku akan melakukan apapun. Apapun, tante..” suaraku semakin tak jelas dan aku membenamkan wajahku di dekat pinggangnya. Menangis di sana seperti yang sering aku lakukan selama ini.

***

Aku memuja wanita cantik itu. Aku benar-benar mengagumi sosoknya. Aku tidak pernah mempunyai bayangan sosok ibu di kepalaku sejak aku kecil. Aku tidak punya ibu dan aku tak akan pernah tahu kehangatan yang dimiliki oleh seorang ibu jika bukan karena wanita anggun ini, tante Amy, sahabat dekat papaku. Satu-satunya orang yang diizinkan oleh papa untuk masuk dalam kehidupan tertutupnya sejak mama meninggal karena kecelakaan pesawat ketika umurku masih satu tahun. Mereka bukan kekasih. Bukan. Sama sekali bukan karena aku tahu seperti apa sosok mama masih begitu kuat hidup dalam benak papa. Selain itu, tante Amy juga sudah berkeluarga.

Meskipun aku tidak punya kenangan apapun tentang mama, papa selalu melimpahiku dengan cerita-cerita dan foto-foto perempuan cantik yang kata papa adalah ibuku. Tapi kehangatan dan kebenaran tentang sosok ibu hanya kudapat dari tante Amy yang rutin berkunjung ke rumah besarku yang sepi. Aku selalu suka waktu dimana tante Amy datang ke rumah. Aku bahkan bisa hafal suara langkah kakinya dan kebiasaannya. Begitu dia datang ke rumahku, yang pertama dia lakukan adalah memanggil dan mencari diriku. Begitu dia menemukanku, dia akan memelukku dan mengusap lembut kepalaku, “Nuna sayang, tante sangat merindukanmu.” tante Amy akan selalu mengucapkan kalimat itu.

Dan aku akan mendengar suara tawa anak laki-laki seusiaku setelah tante Amy setelahnya, “Mama, kau bahkan baru bertemu dengannya kemarin.” Aku akan balas tertawa dan menjulurkan lidahku ke asal suara itu, “Adrian tidak boleh iri.” Sahutku centil.

Tante Amy kemudian akan tertawa lepas dan menarik putra semata wayangnya itu mendekat, mengacak-acak rambut kami berdua, “Betapa beruntungnya aku memiliki kalian berdua.” Bisiknya sungguh-sungguh. Kemudian dia akan menangkup kedua pipi Adrian dan menatapnya dengan serius, “Nah, nak.. berjanjilah pada mama kalau kau akan melindungi Nuna dan tidak akan pernah menyakitinya. Kau harus selalu menyayanginya seperti mama menyayangi Nuna. Ingat itu.”

Adrian kecil hanya akan mendengus dan mengangguk dengan muka pura-pura cemberut, “Kenapa mama selalu berkata seperti itu?”

Tante Amy hanya akan mengabaikan pertanyaan Adrian dan mengecup pipinya lembut lalu beralih kepadaku, “Hay putri cantik, apakah kau mau menikahi anak laki-laki tante yang jelek ini ketika kau dewasa nanti?”

“Mama!” Adrian memprotes ucapan mamanya sementara wajahku sudah bersemu merah. Tante Amy mengatakan hal itu ketika umurku baru lima belas tahun dan  ketika itu siapa sih yang tidak mau menikahi Adrian? Ketika masih muda pun ketampanan yang terukir di wajahnya sudah demikian kentara. Selain itu Adrian benar-benar sosok yang menyenangkan. Dia selalu melindungiku, menyayangiku dan tertawa bersamaku. Ditambah lagi, dia punya tante Amy sebagai mamanya. Dan pikiran konyol masa kecilku adalah, jika aku menikahi Adrian, maka tante Amy akan menjadi ibuku selamanya. tante Amy benar-benar akan menjadi ibuku. Bukankah itu benar-benar harta karun paling menakjubkan?

“Nah bagaimana Nuna sayang? Kau mau?”

Adrian menjauh dan melemparkan tubuhnya ke sofa terdekat, mengamati kami dengan wajah pura-pura cemberutnya. Aku meliriknya dan melihat kilatan yang sama dengan yang ada di mataku, berpendar di mata coklatnya. Tante Amy sepertinya menyadari itu dan dia tertawa bahagia, “Aku tahu.. aku tahu..” katanya kemudian, “Nuna kau sudah makan? Bi Narsih masak apa hari ini? Atau kau mau tante masakkan sesuatu untukmu?”

“Aku mau makan masakan, tante.” Sahutku cepat.

“Kalau begitu kau harus membantu tante memasak.”

“Tapi aku tidak suka berkotor-kotoran di dapur.” Jawabku malas.

Tangan tante Amy mengacak rambutku, “Kau harus terbiasa dengan dapur, Nuna. Meskipun kau punya puluhan orang yang akan memasak untukmu, tapi kau tetap harus bisa memasak sendiri. Suatu saat nanti, Adrian pasti juga ingin merasakan masakan istrinya.”

Kontan saja wajahku langsung bersemu merah mendengar ucapan tante Amy. Adrian terkikik di belakangku. Aku buru-buru melangkah ke dapur menyusul tante Amy yang juga pergi dengan senyum geli melihat ekspresiku.

Aku merindukan semua momen yang kumiliki bersama tante Amy yang tentunya sepaket dengan Adrian. Tante Amy tak pernah meninggalkan Adrian dan selalu mengajaknya ketika dia datang. Kurasa Adrian juga tidak keberatan dengan hal ini. Kami berdua punya kesamaan, kami begitu mencintai dan mengagumi perempuan yang sama. Adrian sangat mencintai mamanya. Dan aku sangat berharap juga punya mama yang sama seperti itu.

Waktu berlalu, detik berganti menit, menit berganti jam. Bulan-bulan beralih menjadi tahun-tahun yang berbeda dan aku tumbuh dalam kehangatan yang dipenuhi dengan kasih sayang dari orang-orang yang selalu ada dan mencintaiku. Papa, tante Amy dan Adrian.

Adrian..

Nama itu perlahan-lahan mengakar sangat kuat di salah satu ruang khusus di hatiku. Kami bisa dikatakan tumbuh besar bersama. Menikmati kasih sayang dari orang yang sama dan saling mengenal satu sama lain lain melebihi orang lain. Aku mencintai Adrian. Namun sekarang dalam bentuk yang berbeda. Sekarang aku mencintainya seperti seorang wanita mencintai seorang laki-laki, dan aku tahu kehidupanku sempurna ketika Adrian juga mengungkapkan hal yang sama kepadaku.

Aku tidak ingat jelas kapan, tapi kami mulai pacaran bahkan sebelum abu-abu putih lepas sebagai seragam kami. Papa tidak pernah memaksakan kehendaknya kepadaku, dia menerima Adrian jika itu adalah keputusanku. Tante Amy? Jangan tanya lagi, dia adalah orang yang paling bahagia ketika kami mengatakan kepadanya bahwa hubungan kami bukan lagi sekedar sahabat. Aku ingat dengan jelas bahwa tante Amy bahkan menangis bahagia karena itu.

“Kalian harus menikah kelak. Aku sendiri yang akan merancang semua nantinya. Aku akan memberikan pernikahan terbaik yang pernah ada di dunia ini untuk kalian berdua. Kalian harus menikah kelak.” Serbunya diantara air mata kebahagiaannya.

Aku hanya sanggup mengangguk menahan haru. Adrian menyentuh bahu mamanya itu dan memeluknya, “Pasti, mama.”

Aku begitu bahagia. Rencana masa depanku terlihat begitu sempurna bahkan di usiaku yang ketika itu belum genap delapan belas tahun.

***

Orang bilang kebahagiaan sejati itu tidak ada. Kebahagiaan ada berdampingan dengan kesedihan. Tapi aku tak pernah percaya itu. Namun semua hal yang akhirnya terjadi selanjutnya memaksaku untuk mempercayai omong kosong itu. Itu adalah awal dari semua perubahan terbesar dalam hidupku. Pada sebuah malam di pertengahan bulan Maret yang kelam, ketika aku harusnya berbahagia karena keuntungan besar yang diperoleh perusahaan papa karena usaha yang kulakukan, aku malah harus menangis histeris dan berakhir dalam pelukan papa. Sebuah telepon gugup dari seorang pembantu di rumah tante Amy yang membuatku segera pergi ke sebuah alamat yang disebutkan olehnya, bersama papa yang memaksa mengantarkanku karena dia mengkhawatirkan kondisiku.

Untuk pertama kalinya dalam hidupku aku melihat Adrian dengan wajah sepucat itu. Berdiri di depan ruang operasi sebuah rumah sakit elite dengan kondisi berantakan, “Nuna..” panggilnya ketika dia melihat sosokku yang berlari ke arahnya. Aku memeluknya dan kurasakan air matanya membasahi bahuku, “Nuna.. mama..” isaknya dalam pelukanku.

Papa mematung melihat kami dan dia membiarkan kami menikmati waktu kami sendirian. Aku masih memeluk Adrian dan membiarkan dia melampiaskan kesedihan di dalam pelukanku. Hatiku hancur melihat kondisi Adrian. Perasaanku hancur melihat laki-laki yang begitu kucintai menangis karena kesedihan mendalam seperti ini. Adrianku sedang terluka dan aku bahkan tidak tahu apa yang bisa kulakukan agar mata itu kembali seperti mata penuh kebahagiaan milik Adrian yang biasa kulihat setiap hari. Aku membiarkan dia menangis di pelukanku sepuasnya. 
Tidak apa-apa, Adrian.. menangislah. Menangislah dan aku akan tetap disini untukmu.

“Mama.. mencoba bunuh diri.”

Kalimat singkat itu meluncur dari bibir Adrian dan membuat waktu serasa berhenti bagiku. Tante Amy apa? Bunuh diri? Percobaan bunuh diri? Lalu satu demi satu kalimat penjelas lainnya meluncur dari bibir Adrian. Aku terpaku dengan wajah melebihi pucatnya mayat mendengar semua penuturan dari Adrian.

Tante Amy yang selalu terlihat riang ternyata menyimpan masalah besar yang tak pernah dia tunjukkan kepada kami. Papa Adrian ternyata tak pernah benar-benar mencintainya. Pernikahan mereka yang memang didasari karena perjodohan memang terlihat baik-baik saja. Tapi tidak bagi mereka. Papa Adrian rupanya tak pernah bisa membuka hatinya untuk tante Amy. Papa Adrian justru sibuk menjalin hubungan dengan wanita-wanita cantik dan muda yang mengejarnya hanya karena kekayaan dan jabatannya. Mata hatinya tidak pernah terbuka meskipun dia sudah memiliki tante Amy dan Adrian. Tante Amy tahu tapi dia diam. Diam karena perlahan-lahan dia rupanya sudah mencintai suaminya itu dengan sangat dalam. Dia mencoba mengerti dan terus berusaha membuat suaminya itu juga mencintainya.

Kenapa aku bisa sebuta ini dalam masalah sekrusial ini? Harusnya aku tahu, harusnya aku bisa membaca tanda-tandanya. Tante Amy yang selalu meluangkan banyak waktu bersamaku, bersama Adrian, rupanya hanya sesuatu yang dilakukannya untuk menghapus kesendirian dan kesedihannya. Keberadaanku dan keberadaan Adrian adalah pengobat lukanya yang bernanah karena sikap papa Adrian.

“Tante..” aku merasa bersalah. Tak sanggup mengatakan apapun lagi.

Malam itu, sepertinya mungkin malam terberat bagi tante Amy. Mungkin inilah batas kesabaran yang bisa dijangkau tante Amy. Pembantu Adrian mengatakan bahwa sebelum ini papa Adrian pulang dengan membawa seorang wanita, terdengar pertengkaran hebat antara papa Adrian dan tante Amy yang kemudian berakhir dengan papa Adrian yang memilih keluar dari rumah. Setelah itu keheningan yang aneh dan diakhiri jeritan salah satu pembantu yang menemukan tubuh majikan perempuan mereka bersimbah darah di dekat beranda depan setelah sepertinya melompat dari balkon kamarnya yang berada di lantai tiga.

Adrian yang selama ini sibuk dengan urusan bisnisnya merasa bersalah karena hal ini. Dia menganggap bahwa entah bagaimana semua ini juga salahnya. Harusnya dia bisa menyadari semua ini meskipun mamanya selalu terlihat baik-baik saja. Dia tahu hubungan kedua orang tuanya memang kurang harmonis tapi wajah ceria dan bahagia mamanya ketika bersamanya dan bersamaku membuat Adrian percaya bahwa mamanya tidak apa-apa. Semua dalam kendali. Namun ternyata dia salah. Adrian salah mengambil kesimpulan..

Aku memeluk Adrian, membiarkan dia menenggelamkan kepalanya di dadaku. Aku mengusap lembut rambut hitamnya. Memintanya memaafkan dirinya sendiri karena semua ini terjadi bukan sepenuhnya karena dia. Tapi Adrian-ku hanya diam dan memejamkan matanya. Ini sudah beberapa bulan sejak kejadian itu dan tante Amy tak pernah bangun lagi. Dia tidak meninggal, tidak. Dia hanya koma. Hanya?

Kupeluk Adrian dengan erat. Ya, hanya koma. Aku percaya hanya koma. Suatu hari nanti tante Amy akan bangun dan dia akan kembali mewarnai kehidupan kami dengan cinta dan senyumannya. Dia akan kembali menjadi malaikat pembawa kebahagiaan bagiku dan Adrian. Dia akan bangun. Persetan dengan dokter yang mengatakan tentang kerusakan otak, kerusakan saraf, kelumpuhan dan kata-kata sial lainnya. Aku tidak percaya. Tante Amy baik-baik saja dan dia akan bangun. Dia pasti bangun..

Tapi dia tidak bangun. Bulan berlalu dan tahun tahun berganti tapi tante Amy tidak bangun. Dia tidak bangun dan hanya berbaring dengan tubuh makin kurus di salah satu ruang VIP rumah sakit yang sama. Dia tidak bangun dan membiarkan Adrianku semakin terpuruk dalam kesedihannya. Kesedihan dan luka yang sepertinya mengubah semuanya, bahkan Adrian. Adrianku berubah. Dia berubah.

Dia mulai sering pergi ke club, dugem, mabuk-mabukkan. Tak jarang dia mulai berteriak kasar padaku dan berhenti mempedulikanku seperti dulu. Aku tidak tahu kenapa. Aku tidak tahu kenapa dia melakukan ini padaku. Seharusnya kami bisa tetap kuat dan melalui ini bersama-sama. Tapi kenapa Adrian justru memilih menjadi seperti ini?

“Adrian..”

Aku memanggil namanya dengan tidak percaya ketika aku melihat semua itu. Wanita berlipstik merah pekat itu menoleh terkejut melihat kehadiranku di apartemen Adrian. Lalu dengan terburu-buru dia meraih semua pakaiannya yang berserakkan di lantai. Dengan riasannya yang berantakan dia berjalan melewatiku dan keluar dari apartemen mewah ini setelah mengenakan gaun mininya dengan asal-asalan. Aku hanya diam. Tidak menatap ke arahnya namun hanya membeku pada satu titik, Adrian.

Adrian tidak bicara. Sama sepertiku dia hanya menatapku, tapi dengan tatapan yang dingin. Kemudian dengan gerakan pelan dia membuang muka dan menarik selimutnya menutupi dadanya yang telanjang. Aku masih mematung di tempatku, menatapnya yang berbaring memunggungiku. Dia tak bereaksi apa-apa dan seolah menganggap bahwa aku tidak ada.

Aku menangis, tapi hanya satu tetes air mata. Hanya satu tetes dan aku mengusapnya dengan kasar. Aku berjalan mendekat pada Adrian dan membenarkan letak selimutnya dengan lembut, “Tidurlah yang nyenyak.” Kataku dengan suara bergetar setelah mengecup pipinya. Dan tanpa menunggu, aku berbalik dan berjalan keluar dari apartemennya.
Semuanya tidak pernah sama lagi setelah itu. Tidak pernah sama lagi. Aku benar-benar kehilangan Adrianku yang dulu. Sekarang aku sering melihatnya pergi dengan banyak perempuan yang berbeda setiap minggu. Kami sering bertengkar tanpa adanya penyelesaian yang jelas. Dia selalu pergi begitu saja ketika aku belum menyelesaikan semua perkataanku. Aku berusaha menyabarkan diriku dan belajar memahami kondisi Adrian. Namun Adrian lebih sering bertindak keterlaluan dan aku mulai kehilangan kesabaranku.

“Jika aku memang ada salah, katakan apa salahku? Jangan memperlakukan aku seperti ini!” ucapku di suatu malam ketika kami sedang bersama.

Adrian meminggirkan mobilnya dan menatapku dengan kesal, “Sudah berulangkali kukatakan padamu, Nuna. Tidak ada yang salah. Kau tidak melakukan kesalahan apapun.”

“Lalu kenapa? Kenapa kau jadi seperti ini?”

“Nuna!” erangnya.

“Jelaskan padaku. Setidaknya biarkan aku tahu apa masalahnya.”

“Aku hanya ingin membalas semua wanita murahan itu. Wanita murahan yang membuat mamaku merasakan penderitaan seperti itu.” Bentaknya keras, “Kau lihat, Nuna. Aku akan membuat mereka semua jatuh bertekuk lutut padaku sebelum aku menghancurkan mereka. Aku akan membalas semua yang terjadi pada mama!”

Aku menggeleng, “Tidak, Adrian.” Isakku kering, “Bukan seperti ini caranya. Kau hanya akan menyakiti dirimu sendiri. Tante juga akan sedih melihat perubahan dirimu yang seperti ini.” Aku menyentuh lengannya dan dia malah menyentakkan tanganku dengan kasar.

“Berhenti berkata seolah kau malaikat suci, Nuna. Aku tahu mama mendukung apa yang kulakukan. Aku tahu mama juga ingin membalas sakit hatinya kepada semua wanita murahan gila harta yang ada di dunia ini. Jadi aku akan melakukannya demi dia.”

“Tante Amy tidak akan pernah punya pikiran sepicik itu!”

“Nuna!!” bentaknya kasar.

“Kau berubah. Aku sama sekali tidak bisa mengenalimu lagi, Adrian.” Desisku kecewa sebelum kubuka pintu mobilnya dengan kasar dan melangkah keluar dari sana. Namun Adrian tidak melakukan apapun ketika aku melakukan itu. Dia malah menjalankan mobilnya dengan sangat cepat. Meninggalkanku di pinggiran jalan ini sendirian.

Aku menatap mobilnya yang semakin menjauh dengan perasaan nanar. Adrian..

Aku sadar banyak orang memandangiku ketika itu. Mungkin karena dandananku atau entah apa. Tapi aku mengabaikan semua mata yang memandangiku itu dan memilih berjalan menelusuri trotoar jalan tanpa tahu harus kemana. Hujan turun rintik-rintik dan aku melangkahkan kakiku makin cepat. Di kejauhan aku menemukan sebuah minimarket kecil dan aku berlari masuk ke dalam sana.

Berteduh disini? Tidak. Aku harusnya membeli sesuatu. Aku berjalan ke arah rak-rak berisi minuman dan mengambil satu botol air mineral di sana dan membayarnya dengan uang pecahan seratus ribu. Aku hanya punya jenis pecahan itu dalam rupiah tunai di dompetku. Wanita paruh baya penjaga minimarket itu memandangiku dan karena aku tidak mau menunggu, aku meninggalkannya begitu saja, “Ambil saja kembaliannya.” Sahutku singkat ketika dia memanggilku.

Terdengar ucapan terima kasih darinya tapi aku tidak peduli. Hujan sudah turun dengan deras ketika aku keluar dari minimarket itu. Apa yang harus kulakukan?Aku menghela nafas panjang dan berjalan ke bagian depan lain minimarket. Suara hujan memenuhi gendang telingaku dan entah kenapa aku merasa damai. Ketika mendengar suara hujan semua pikiran dan masalah dalam kepalaku lenyap. Digantikan bunyi hujan yang terasa menyenangkan.

Aku merapatkan punggungku ke dinding kaca minimarket yang dingin ketika hujan turun semakin deras dan cipratan-cipratan airnya mulai membasahi sepatu dan betisku. Aku mengambil ponselku dan menelepon salah satu perusahaan taxi. Membaca plang minimarket ini, dan menyebutkan dimana aku berada. Setelahnya, aku kembali diam dan menikmati lagu hujan yang dinyanyikan semesta.

Indah.. indah. Begini saja dan aku akan berusaha melupakan semua masalahku bersama Adrian. Melupakan semua masalah yang memenuhi kehidupanku sekarang

“Apa yang kau lakukan disini?” Aku mendengar suara seseorang di dekatku dan aku menoleh. Mendapati seorang laki-laki di sana dan aku entah kenapa tidak merasa asing dengan wajah itu. Ah ya, aku tahu. Aku tersenyum padanya, “Kau, yang menolong menganti ban mobilku beberapa hari lalu itu bukan?” kataku sambil menunjukknya.

Dia mengangguk, “Ya.”

Lalu aku tertawa mengingat bahwa kejadian itu juga terjadi saat hujan. Beberapa hari lalu banku bocor di tengah jalan yang sepi dan hujan sedang turun deras sekali. Aku sudah menelepon bengkel langgananku tapi hampir satu jam menunggu tak ada siapapun yang datang. Menelepon Adrian juga percuma. Sedangkan papa juga sedang ada di Belanda. Akhirnya aku terpaksa keluar dari mobil dan memeriksa keadaan banku sendirian.

Sejujurnya itupun percuma. Aku hanya akan membasahi tubuhku sendiri karena meskipun tahu ban mana yang bocor, toh aku juga tidak bisa melakukan apapun. Aku hanya memaki keadaan sial ini dan menatap ban itu, berharap dia tiba-tiba memperbaiki dirinya sendiri. Tapi ini bukan adegan film Harry Potter. Aku tidak punya sihir. Tidak ada sihir. Jika aku tidak melakukan sesuatu maka ban itu tetap akan bocor. Lalu mendadak dia datang, tanpa banyak bicara dia membantuku menganti ban mobilku. Dia mengambil dongkrak dari mobilnya. Mengambil ban cadangan yang ada di bagasiku. Lalu setelah melakukan semua itu dia hanya menatapku sekilas lalu pergi begitu saja.

Aku bahkan belum sempat mengucapkan terima kasih padanya. Aku tidak percaya bahwa aku akan bertemu dengannya lagi karena kupikir dia bukan sosok riil, dia mungkin saja jelmaan malaikat. Malaikat yang muncul saat hujan. Aku masih tertawa ringan. Dengan bersahabat aku menepuk bahunya pelan, “Kenapa aku selalu bertemu denganmu ketika hujan sedang turun dan aku sedang dalam kesusahan?” tanyaku diantara tawaku, “Apa kau malaikat hujan?”

Dia hanya tertawa dan menggeleng, “Bukan. Aku manusia biasa. Kau lihat. Aku tidak punya sayap.” Jawabnya sambil memutar tubuhnya dan menunjukkan bagian belakang punggungnya. Aku tertawa lagi, dia benar-benar lucu, “Kau tahu, jika satu kali lagi kita bertemu seperti ini lagi, ketika hujan. Aku akan mentraktirmu makan. Aku janji.”

“Apa?”

Aku hanya tersenyum dan tidak mengatakan apa-apa lagi. Aku kembali menatap ke depan. Memperhatikan hujan. Mendadak aku mendengar dia tertawa, aku menoleh dan memandangnya keheranan, “Ada apa?”

“Tidak.” Jawabnya buru-buru, “Apa yang kau lakukan disini?” tanyanya kemudian.

Aku tidak menjawab pertanyaannya dengan benar. Tapi kemudian kami berdua akhirnya berbincang seolah kami adalah teman yang sudah lama tidak bertemu. Dia laki-laki yang menyenangkan dan sopan. Aku mengucapkan selamat tinggal kepadanya ketika taxi yang kupesan tiba. Dengan riang kulambaikan tanganku ketika aku masuk ke dalam taxi. Dia membalas lambaianku dengan hangat dan sisa senyumnyalah yang terakhir kali kulihat ketika taxi ini akhirnya melaju menuju alamat yang kusebutkan.

Lalu bayangan laki-laki itu lenyap dan tergantikan dengan Adrian. Aku bersandar dengan lelah pada bangku taxi dan menerawang kosong. Entah kenapa aku merasakan sakit yang luar biasa di dadaku. Seperti ada lubang kosong yang dalam dan menyakitkan disitu.

“Adrian..” panggilku lemah tanpa tahu bahwa hari itu, aku berjumpa untuk kedua kalinya dengan sosok yang kemudian akan melimpahi kehidupanku dengan kebahagiaan seperti yang Adrianku dulu lakukan. Dan sosok itu adalah Erel.. malaikat hujanku.

To be Continue..

<< Malaikat Hujan – Erel
Malaikat Hujan – Nuna (Part2) >>

Mau Baca Lainnya?

9 Comments

  1. Ah iya, selalu ada "alasan" di balik semua keputusan. Siapp dilanjutin sama Malaikat Hujan-nya Nuna kelar.. terus entar lanjut versi Adrian dan Dilla. Kaya yang di covernya. Hohoho. Semangat semangat!! 😀

  2. Nah kalo uda ketauan apa alasan yg bikin Nuna keukeh milih Adrian…. aku jadi bingung mau maki-maki siapa ! *berasa mandorrr
    Ah mba, sedih deh kalo inget masalah laptopnya. Itu filenya yg corrupt di semua data C, D, (E) ?

  3. Iya kalau kayak gini jadi bingung mau nyalahin siapa, Adrian punya alibi, Nuna punya alasan.. dan Erel.. ah ya gitulah ><

    Yang kekorup semua file dengan jenis word, jpg, png, ppt, pdf.. 🙁 🙁

  4. Like!! I blog quite often and I genuinely thank you for your information. The article has truly peaked my interest.

Leave a Reply

Your email address will not be published.