Mengabarkan Rindu

Doc. Pribadi

Kau tahu rasanya merindukan seseorang tapi tidak bisa melakukan sesuatu untuk menghilangkan perasaan itu? Apa kau juga tahu bagaimana rasanya disiksa oleh perasaan itu detik demi detik dan kau masih saja tidak bisa melakukan apapun? Jika kau tahu, mari kita bicara. Sebab aku ingin membagi perasaan sesak ini. Aku ingin membaginya agar aku tidak perlu terus menerus berdiam dalam luka yang mengikisku habis dari dalam. Aku merindukan banyak orang. Aku merindukan banyak hal. Dan rindu itu membunuhku perlahan. Aku menangis, tapi tidak pernah tahu kapan airmataku bisa habis. Aku ingin berhenti menangis, tapi setiap kali aku diam. Aku akan menangis lagi dan lagi. Sampai kebas dan bosan rasanya pada rasa sakit ini. Rasa sakit karena rindu yang tak pernah terbayar.

Aku rindu berada dalam dekap ibuku. Aku rindu berbicara macam hal dengan ayahku. Aku rindu mengoda adik laki-lakiku. Aku rindu anakku. Aku rindu kakak perempuanku yang suka sekali membuat masalah. Aku rindu adik perempuanku yang ego dan kekakuannya melebihi aku. Aku rindu semua orang di dalam rumah kecil kami yang nyaris roboh itu. Aku rindu bau masakan ibu yang lebih sering keasinan daripada enak. Kalau kata orang Jawa, memasak keasinan menjadi petanda bahwa orang tersebut ingin menikah. Aku curiga ibuku akan menjadi duta poliandri di bumi ini. Tapi aku tidak khawatir, sebab aku tahu ibuku hanya punya satu laki-laki di dalam kehidupannya, hanya satu, ayahku. Laki-laki pertamanya dan yang akan menjadi yang terakhir pula untuknya.

Aku merindukan setiap hembusan nafas yang kumiliki di dekat mereka. Aku merindukan semua tawa, semua canda, semua omelan, semua kesah amarah, semuanya.. Aku rindu sampai rasanya aku sulit bernafas dengan baik. Aku merindu sampai ringkih rasanya. Aku rindu dan aku menangis. Membenci diriku sendiri karena aku tidak bisa melakukan apapun untuk mencicil rindu ini. Tak akan lunas, namun setidaknya mungkin aku berusaha menguranginya. Bukannya diam dalam guaku dan tidak melakukan apa-apa. Aku benci situasi ini. Aku benci sekali dan amarahku seperti sudah sampai pada angka tertinggi yang bisa ditolerir tubuh dan jiwaku. Dan amarah itu kembali membawaku pada satu titik, airmata.

Oh, aku benci menjadi lemah dan tidak berdaya seperti ini. Sebab aku tahu ini jalan yang kupilih. Berada jauh dari mereka, jantung hidupku. Setidaknya aku tahu, tujuanku demi mereka. Demi mengenyahkan semua masalah yang mengendapkan kebahagiaan kami menjadi detak takut dan khawatir. Aku mencintai mereka dan aku akan rela mengorbankan apapun demi mereka, keluargaku. Aku menyerah pada kisah cintaku yang tidak ramah. Aku menyerah pada keinginku untuk menjadi gadis lugu tukang jaga rumah. Aku menyerah pada beberapa hal yang sebelumnya kuinginkan, target 23 mungkin salah satunya. Tapi percayalah, tak ada penyesalan. Tak ada. Sedikitpun. Jika demi mereka, apalah artinya sedikit mengunyah pahitnya hidup. Aku akan berjuang, mengatasi rinduku dan selipan putus asa untuk menyerah. Aku akan berjuang dan kupikir, aku pasti bisa mengatasi ini. Aku percaya.

Jika sekali, dua kali atau seringkali menangis dan dihujani rindu yang tak pernah terbayar, aku maklum. Sedikit mengomel dengan bumbu putus asa juga tidak apa-apa. Sebab aku masih manusia dan aku yakin itu yang namanya manusiawi. Logikaku untungnya berperan cukup bagus di sini. Mungkin itu salah satu keuntungan dari menyerah pada kisah cintaku. Kurasa, sebab jika aku masih tidak menyerah, perasaan dan kebodohanku yang akan ambil kendali untuk keputusan apapun. Bahkan di luar yang berbau romansa sekalipun.

Andai saja Poseidon ada, aku mau menitip rindu pada air laut. Biar dibawanya pesanku. Biar dibawanya cintaku. Biar diberikannya semua pada keluargaku. Begitu aku bisa lega. Sedikit membahagiakan diri sendiri, bolehkan?

Wahai Poseidon, bisakah kau berhenti sejenak di dekat pulauku.

Wahai Poseidon, lewat angin yang berhembus, menarilah sampai ke dekat gunung kecil itu.

Wahai Poseidon, jika sudah, berhentilah dan peluk keluargaku untukku.

Wahai Poseidon, bau lautmu mungkin asing bagi orang gunung seperti mereka.

Wahai Poseidon, jangan jadi Neptunus sebab kau harus ramah pada mereka.

Wahai Poseidon, lunaskan rinduku dan kembali padaku setelahnya.

Wahai Poseidon, terima kasihku padamu.

Mau Baca Lainnya?

8 Comments

  1. Sabar saiii,,, sedikit lagi, sebentar lagi,, kelak airmata yg akan terjatuh lagi bukan airmata kesedihan lagi melainkan kebahagiaan, aminn
    Keep strong,,, mereka bangga punya anak, kakak, adik seperti kamu….

  2. Sabar ya kak aq yakin kesabaran itu ibarat pohon yang lama tumbuh nya tetapi ketika berbuah rasanya sangat MANIS.Selalu semangat sabar dan berdoa.

  3. Iya.. aku super sabar kok. Hahah. Kok PD.. 😛

    Sepakat sepakat. Dan aku juga uda pengen ngerasain buah yang manis itu. Semoga Tuhan ngasih berkah. Amin

  4. Sama kk, rindu sama orang itu kalau menurutku menyakitkan apalagi kelak tidak dapat tertawa dan berkumpul bersama.
    Baca postingan kk, aku jadi kembali menangis karna mengingat salah satu sahabatku dipanggil Yang Maha Kuasa lebih dulu dan tiba2 tanggal 24 juli kemari.
    10tahun mengenalnya dan baru 6 tahun benar-benar dekat, rasanya seperti 1/2 jiwa pergi hilang entah kemana.

    Mungkin rasa rindu kita hampir sama kk, hanya doa sekarang yg dapat kupanjatkan untuknya agar dia tenang disana.
    Sorry ya kk jadi curcol?

  5. Ngga usa minta maaf karena curcol, dear. Percaya deh, salah satu kesukaanku adalah dengerin orang lain curhat ke aku. 😛 😛

    Well, turut berduka cita yah. Mungkin memang rasa rindunya bakal sama. Tapi lebih perih kamu, sebab setidknya aku masih bisa melihat sosok-sosok yang kurindukan. Kamu yang sabar yah.. doakan saja sahabat kamu itu. Semoga ruhnya dijaga oleh malaikat dan keberadaannya tenang di sana. AMin

    🙂

Leave a Reply

Your email address will not be published.