Menjadi Dewasa

Ketika perasaan menuntut terlalu banyak dariku. Aku akan berhenti hanya untuk memijat tulang hidungku dan mencoba mendinginkan kepalaku. Bersama dengan semua masalah dan tuntutan yang ada, akankah semua berjalan dengan baik-sesuai dengan yang mereka mau?

Aku tidak pernah mengerti kenapa kepalaku bisa menampung begitu banyak pikiran yang bila kutulispun akan butuh berrim-rim kertas untuk menyalinnya. Aku tidak tahu kenapa aku tidak bisa mengosongkan isi kepalaku sesaat. Tidak memikirkan apa-apa dan merasa bebas. Ya, kebebasan. Aku merindukan saat-saat itu. Dulu, di sebuah masa aku pernah merasakan perasaan itu. Merasa sangat bebas tanpa peduli pada apa yang terjadi, melakukan apa yang memang benar-benar ingin aku lakukan. Bukannya melakukan sesuatu karena orang lain menginginkan aku melakukannya.

Aku berharap aku bisa mendapatkan masa itu kembali?

Tapi aku tahu itu tidak mungkin. Ketika umur semakin bertambah, hidup menuntutku untuk tidak egois seperti dulu lagi. Membawaku kepada sebuah titik dimana aku tidak hanya memikirkan diri sendiri lagi tapi juga orang lain. Orang lain yang selama ini mungkinku abaikan. Jadi seperti inikah rasanya menuju kedewasaan? Sepertinya aku tidak menyukai ini. Benar-benar tidak menyukai ini terjadi padaku.

Aku sering menemukan diriku kelelahan dan tidak tahu harus melakukan apa. Aku sering menemukan diriku bersembunyi di balik senyum palsu yang sejujurnya menyebalkan untuk dilakukan. Tapi mau bagaimana lagi? Ini tuntutan kedewasaan bukan?

Aku benci menjadi dewasa.

Apakah jika aku melakukan sesuatu yang sesuai dengan apa yang kuinginkan sekarang, aku akan mengecewakan banyak orang? Apakah mungkin bagiku keluar dari semua kekangan paradigma ini dan mendapatkan kebahagiaan sejatiku?

Kebahagiaan sejati?? Benarkah itu yang akan kudapat nanti? Aku bahkan ragu mengenai hal ini dan aku masih saja mencoba memikirkannya. Tidak. Dasar bodoh!

Mungkin menjadi dewasa akan menyusahkan seperti ini. Tapi aku jelas-jelas bukan orang yang akan kalah dengan begini mudahnya. Aku akan mencoba, meskipun dengan mencoba, aku akan banyak terluka. Namun aku tidak akan menjadi seseorang yang menekan diriku sendiri terlalu keras. Jika aku memang tidak bisa menjadi apa yang seharusnya aku mau, jika aku memang tidak bisa melakukan sesuatu yang memang aku inginkan, maka aku akan berbahagia dengan apa yang aku miliki. Apa yang sudah aku genggam?

Apakah itu cinta?

Jangan menanyakan hal bodoh itu lagi. Semua tahu aku sudah kehilangan apa yang itu para anak-anak muda sebut dengan cinta. Aku kehilangan cinta bahkan sebelum aku pernah sadar aku tak pernah memilikinya. Jadi apakah sekarang kedewasaan yang dibahas berubah menjadi cinta? Mungkin ya, mungkin tidak. Atau lebih baik jika aku menjawab, bisa jadi.

Cinta. Kedewasaan. Pada akhirnya aku menyadari satu titik diusiaku ini bahwa cinta juga menuntut kedewasaan. Cinta bukan hanya sebuah bentuk polos yang hidup ribuan tahun lalu. Dia juga berkembang sesuai zaman dan begitulah yang kurasakan. Entahlah, mungkin aku hanya terlalu banyak berpikir, mungkin..

Aku berhenti. Memijat tulang hidungku dan meredakan pusing di kepalaku. Aku benci menjadi dewasa dan berpikir begini banyak. Tidak bisakah aku melewati fase ini saja? TIDAK. Oh baiklah, jawaban yang memuaskan. Aku tersenyum di sudut dan kembali memijat tulang hidungku. Sekarang aku bahkan membenci iblis dan malaikat yang saling berbisik di kedua sisi tubuhku.

Berhentilah menjadi egois, dan dewasalah.

Kenapa harus bersikap dewasa kalau itu hanya untuk menyakitimu.

Menjadi dewasa adalah proses hidup dan kau harus melakukannya agar kau tahu kau masih menjadi dirimu sendiri.

Omong kosong! Jangan pedulikan dia dan ikuti saja apa yang memang ada di kepalamu.

Ya, tapi sialnya kalian berdualah yang ada di kepalaku. Mengoceh tentang hal-hal tidak pasti, yang membuatku semakin pusing. Jadi pergilah dari kepalaku dan biarkan aku berpikir dengan tenang..

Tapi.

..sendirian!

Aku beralih memijat kedua pelipisku dan bersyukur dengungan-dengunan itu lenyap dari kepalaku. Aku benar-benar butuh waktu untuk berpikir sendirian. Tenang. Tanpa argumen dari pihak manapun. Atau dari sisi diriku yang manapun.

Menjadi dewasa.. cinta..

Mungkinkah benar dua hal ini berhubungan?

Aku menjalinnya nyaris selama beberapa bulan. Sama sekali tidak ada cinta dan hanya ada kedewasaan. Cara berpikir, perbincangan. Aku lelah berbohong. Lelah mengatakan banyak hal yang kulakukan dengan dasar kedewasaan, bukannya cinta. Dan lebih dari itu, aku merindukan saat dimana aku berbicara dengan cinta. Meski lawan bicaraku tak akan pernah menyadari bahwa aku benar-benar berbicara dengan cinta, setidaknya aku merasa terberkati karena, yah-aku jatuh cinta ketika itu. Bukan yang seperti ini. Bicara cinta tapi sama sekali tidak ada cinta. Sama sekali tidak ada cinta. Hanya kedewasaan. Sebuah proses membosankan yang membuatku bertanya apa yang sebenarnya membuatku tetap melakukan ini. Apa yang membuatku tetap tampil dengan sikap seolah-olah aku punya cinta. Aku tidak punya cinta. Sama sekali tidak ada. Aku kosong.

Mungkin ini hanya sebuah tubuh dengan pikiran dipenuhi hal-hal yang berkenaan dengan cara menjadi dewasa. Cara mencapai kedewasaan itu sendiri.

Dengan mengorbankan perasaan orang lain?

Oh tidak! Si malaikat datang lagi. Halo!

Tidak. Tidak. Aku sedang malas menyapamu, nona egois.

Aku tidak egois. Aku hanya sedang menjadi dewasa. Kau tahu. Ke-de-wa-sa-an. Itukan yang ada di pikiran orang-orang selama ini. Jadi apa salahnya aku mengikuti apa kemauan mereka. Ini, meski membosankan, tapi tidak menyakitiku.

Jadi apa kejujuran dan cinta menyakitimu? Dan kedewasaan membahagiakanmu??

Aku diam. Berpikir. Lalu mengangguk perlahan.

Seperti itulah kenyataannya. Dulu aku menyerahkan seluruh hidupku pada apa yang orang sebut cinta. Aku mencintai. Aku jatuh cinta. Tanpa memikirkan kedewasaan. Tanpa mendengarkan logikaku. Aku terus jatuh cinta dan terus jatuh cinta hingga aku tak pernah tahu bahwa bersamaan dengan itu aku sudah kehilangan semua yang kumiliki. Kedewasaan pernah menyapaku dan mengingatkanku untuk itu, tapi aku mengabaikannya dan berkata bahwa aku akan baik-baik saja.

Aku menoleh, memandang malaikatku. Mengeleng.

Tapi kau tahu aku tidak baik-baik saja bukan? Aku menangis. Banyak sekali dan aku terluka sampai hatiku membusuk dan aku terpaksa membuang hatiku karena aku tidak bisa lagi hidup dengan hati yang sudah busuk karena luka. Kedewasaan datang, bukan menertawakanku tapi menepuk bahuku pelan dan memelukku. Tidakkah aku tahu itu sangat menyenangkan. Saat cinta melukai dan membinasakan hatiku sampai tak bersisa, aku masih punya kedewasaan untuk bisa terus hidup.

Yah kau benar.

Ah suara si iblis. Entah kenapa aku senang mendengar suaranya. Setidaknya aku tahu aku punya seseorang yang akan mendukung keputusanku untuk tetap berpikir dewasa dan mengabaikan semua pertanyaan yang dilontarkan si malaikat padaku.

Cinta itu cuma topeng kaca. Kau hanya akan menemukan pantulan dirimu yang menyedihkan ketika kau bersua dengannya. Jadi tetaplah menjauh dan jangan dekati cinta lagi. Kau akan tetap baik-baik saja.

Aku mengangguk.

Aku memang sudah memilih ini. Kedewasaan, entah seperti apa mungkin sulitnya. Akan tetap membuatku baik-baik saja. Meski dengan pikiran sepenuh apapun. Tuntutan dari kedewasaan tak akan pernah membuatku menangis sebanyak yang cinta lakukan kepadaku. Meski memang kuakui aku menangis, aku menangis karena aku tahu itu salahku dan aku tidak akan menyesalinya. Hidup tidak cuma tentang senyum bukan. Ada airmata sebagai penyeimbang dan aku paham benar tentang hal itu. Aku tidak akan mengeluh lagi.

Hai kedewasaan, meskipun sulit, meskipun aku akan banyak menimbulkan masalah. Bisakah kau tetap menjagaku? Bisakah kau tetap disampingku dan menjadi sahabat yang selalu ada untukku dan tidak meninggalkanku seperti apa yang cinta lakukan kepadaku?

Dia pasti melakukannya.

Si iblis tersenyum. Aku balas tersenyum dan kembali melanjutkan langkahku.

Semoga kau tidak menyesal, nak.

Itu suara si malaikat. Terdengar kecewa tapi dia tidak melakukan apapun untuk menahanku. Sepertinya dia mencoba untuk mempercayaiku dan aku bersyukur isi kepalaku tidak akan meledakkan otakku lagi jika mereka bertengkar. Apapun itu, hidup sudah memilihku untuk tetap hidup dan aku akan melanjutkan lagi langkahku. Entah akan jadi seperti apa nanti. Aku sedang hidup.

Surabaya, 17 Oktober 2013
17.44 PM

Mau Baca Lainnya?

2 Comments

Leave a Reply

Your email address will not be published.