Remember Us – Genderang Perang

Reven mengangkat kepalanya ketika dia merasakan sesuatu terbang di atasnya. Meski pun terlalu cepat, dia masih bisa menangkap benda–atau bisa disebutnya makhluk apa yang tengah diamatinya itu. Matanya memicing. Tak percaya pada apa yang dilihatnya.

Luca?

Instingnya mengatakan bahwa sesuatu yang buruk tengah terjadi. Dia tak pernah sekali pun melihat Luca menampakkan sayapnya, bahkan sampai perlu menggunakannya. Dia memutar langkahnya dan berlari mengikuti jejak Luca di langit. Terlalu cepat, pikirnya ketika dia kehilangan jejak Luca. Namun ketika Reven menghentikan langkahnya, inderanya yang lain justru menangkap sesuatu yang seharusnya tidak ada di kawasan hutan Merz, penyihir.

Tidak.

Continue Reading

Neuschwanstein Di Suatu Senja

“Aku bosan di München. Jalan-jalan yuk.” ucapku di suatu senja pada pacarku yang akhirnya membawa kami berdua di salah satu destinasi pilihan para wisatawan luar negeri yang datang ke München. Apalagi kalau bukan si cantik nan menawan, kastil Neuschwanstein.

Kastil cantik ini memang terletak tak jauh dari München, ibukota Bundesland Bayern di Jerman. Kami hanya perlu naik kereta regional dari stasiun utama kota München dengan tujuan kota Füssen selama kira-kira dua jam.

Continue Reading

AKU KEMBALI

Aku Kembali

Rasanya nyaman. Rasanya lega. Ketika kamu akhirnya bisa mengatakan bahwa kamu sudah pulang. Membuka kembali pintu rumah yang terlalu lama kamu tinggalkan. Menghirup udara apak dari sisa kenangan yang terabaikan. Ah, rumah lama. Aku kembali. Aku sekarang bisa lega. Bahagia akhirnya bisa memutuskan untuk kembali ke sini. Ke rumah blog yang sudah lama tak terjamah.

Continue Reading

Kunjungan Pertama di 2018

Saya kembali. Rasanya sudah lama sekali sejak terakhir kali saya menginjakkan saya di rumah saya yang satu ini. Semuanya terasa berdebu dan dipenuhi sarang laba-laba. Udaranya pengap dan ketika saya membuka jendela untuk membiarkan udara segar masuk, bunyi berdecit dari jendela kembali mengingatkan saya tentang berapa lama yang sudah saya habiskan tanpa pernah menyentuh tempat ini. Ah, saya merasa bersalah.

Sering kali, ketika saya berlarian–berjibaku dengan kehidupan saya yang akhir-akhir ini terasa menguras habis energi saya, seseorang mengur saya, lalu dia akan bertanya apa kabar rumah saya yang ini. Kenapa saya tak pernah terlihat lagi di sana dan tentang apakah atau kapan saya akan kembali bertandang. Kebanyakan saya mencoba tersenyum, menyembunyikan rasa bersalah tapi juga sulit menjawab dengan benar. Saya juga ingin berkunjung, sebenarnya. Tapi sulit sekali. Rasanya saya menghabiskan dua puluh empat jam saya untuk hal-hal lain dan itu masih kurang, lalu bagaimana bisa saya meluangkan waktu untuk rumah ini ketika saya selalu merasa waktu saya saja tidak cukup untuk hal wajib saya?

Continue Reading

Remember Us – Langkah Penyihir

Aku berjalan setengah menghentak-hentak menerobos hutan, kesal setengah mati sampai rasanya aku ingin menangis. Aku benar-benar berada dalam tingkat frustasi terparah. Oh, andai saja aku bisa membunuhnya. Aku tak yakin jika aku akan melewatkan kesempatan itu.

Reven.

Reven dan semua keegoisannya. Setelah semua yang terjadi, bagaimana bisa dia berkata seperti tadi. Dia bilang dia ingin melindungiku? Dia ingin menjagaku tetap hidup? Dan alasannya hanya supaya dia juga bisa tetap hidup? Astaga, aku tidak tahu apa yang ada di dalam darah Vlad dan Victoria hingga mereka bisa menciptakan makhluk dengan kombinasi menyebalkan dan bodoh yang paling sempurna di dunia ini. Aku harus memenuhi kepalaku dengan imajinasi tentang bagaimana aku bisa membunuhnya, mungkin aku bisa mengajaknya bertarung sampai mati, atau mungkin aku bisa mencari tumbuhan paling beracun di Tierraz dan menyumpalkannya ke mulut Reven, atau aku juga bis—

Continue Reading

Tentang Kesetiaan dan Pilihan


Malam kemarin, saya menemukan teman berbicara yang menyenangkan. Kami membicarakan banyak hal yang selama ini tidak pernah terpikir akan saya ceritakan pada orang lain. Ada sesuatu dalam dirinya yang membuat saya merasa nyaman untuk menceritakan banyak hal yang pada orang lain tak pernah saya kisahkan. Dari sekian banyak hal yang kami bicarakan, topik menjadi setia menjadi hal yang menarik perhatian saya. Ada nyeri yang menyapa setiap kali saya membicarakan hal ini. Dia mendengarkan saya, tidak menyela dan hanya bertanya ketika waktunya tepat. Lalu ketika saya selesai dengan semua cerita saya, dia tidak menyalahkan sosok yang berada dalam cerita saya. Malah dengan lantang dan tegas, dia bilang bahwa itu normal. Bahwa memang seperti itulah prosesnya.

Continue Reading

Remember Us – Tatriana

“Kau sudah mengatasinya?”

Edna tidak menjawab dan hanya mengangguk kecil sembari berjalan lurus menuju perapian di ruangan Luca. Dia membungkuk sedikit dan mengulurkan tangannya, menyentuh kayu-kayu yang bertumpuk di perapian. Sebentar kemudian api biru membakar kayu-kayu itu hingga hangat menyebar ke seluruh ruangan yang semula dingin. Edna menarik tangannya perlahan sebelum dia berbalik dan memandang Luca yang sedari tadi mengamatinya.

“Kenapa kau merasa penting membunuh perempuan itu? Apa masalahnya jika Reven tahu rencanamu, jika pun dia menolak dan membangkang, kita bisa langsung menyingkirkan dia. Reven mungkin memang punya kemampuan bertarung yang cukup baik, tapi dia bukan apa-apa jika melawan kita.” Ucap Edna cepat dengan tangan terlipat di depan dadanya.

Continue Reading