Apa Kabar Remember Us, Kak?

Hallo semuanya..
Saya balik lagi. Sayangnya kali ini bukan untuk posting cerita baru Remember Us atau Xexa, tapi pengen kasih tahu sesuatu. Berhubung saya kurang waktu untuk menyelesaikan RU maupun Xexa bersamaan, saya putuskan untuk menunda Xexa sampai saya selesai menulis RU.
Well, kali ini saya pengen fokus dengan RU. Akhir-akhir ini banyak banget yang nanyain kabar Rena Reven dan sayanya ngga bisa kasih jawaban pasti. Sedih juga, soalnya rasanya hampa. Saya seneng nulis dan sekarang saya bahkan ngga punya waktu buat banyak menulis lagi. Kerjaan di Eropa menyedot habis inspirasi saya dalam berfantasi. Astaga astaga, sepertinya ngga sepenuhnya salah perbedaan prioritas. Hanya saja, saya sedang dalam usaha untuk menyelesaikan satu kewajiban saya pada orangtua. Dan itu membuat saya sepenuhnya harus sibuk dengan pekerjaan dan sekolah.
Continue Reading

Apply Visa Bundesfreiwilligendienst

Hallo,

Gue nih, tapi sorry ya postingan kali ini bukan tentang chapter baru Remember Us atau Xexa. Btw, serius guys, saking lamanya draft dua cerita ini ngendap di Fire HD gue, gue sampe lupa gimana jalan ceritanya. Ah, sial sial, ngomongin soal nulis malah bikin makin down.
 
Ngomong-ngomong gue lagi pengen curhat dikit tentang betapa ribetnya apply visa Jerman. Serius duarius, selalu banyak makan ati, banyak-banyak ngehela dan narik nafas dalam-dalam dan bad-mood kalau udah urusan sama dokumen-dokumen melelahkan ini.
Continue Reading

Salju di Bulan April

 Musim dingin tahun ini lebih panjang dari tahun-tahun sebelumnya.
 
Itulah kalimat yang sering aku dengar akhir-akhir ini. Ketika cuaca harusnya sudah mulai menghangat karena sudah masuk musim semi, kami masih harus struggling dengan jaket musim dingin. 
Minggu depan turun salju. 
 
Aku cuma bisa ketawa saat hostfamily-ku mengatakan kalimat itu. Bahkan oma dan opa juga ketawa, mereka bilang akhir-akhir ini cuaca sering galau. “Kemarin di ramalan cuaca, dibilang bakal hujan di Forstinning, nyatanya malah cerah. Sudah jangan ribut soal salju.” Kata Oma dengan percaya diri. Aku mengangguk, sepakat dengan apa yang dibilang Oma. 
Continue Reading

Remember Us – Elf Utara

Marhaban Ya Ramadhan.

Selamat menunaikan ibadah puasa bagi yang menjalankan. Berbahagialah kalian yang masih bisa merasakan Ramadhan lengkap bersama keluarga. Bisa sahur bareng, buka puasa bareng, shalat tarawih bareng dan ah aroma Ramadhan yang serba khas di Indonesia. Kalian yang masih merasakannya, patut bersyukur. Bagi anak rantau macam aku, yang denger suara adzan langsung dari masjid aja gak pernah (hampir setengah tahun lebih).. Ramadhan di Indonesia itu benar-benar wah. Ah malah curhat. Tapi ya sudahlah. Selain itu maafkan aku yang selalu serba lemot dalam nulis dan ngurusin blog ini. Aku ngga tahu harus bagaimana lagi menghadapi rasa ini. Ah bahas apa ini? Sudah sudah. Selamat membaca.

Salam, 
REE
Continue Reading

Xexa – Mata

“Putriku. Temukan putriku.”

Dave mengerutkan keningnya dalam-dalam. Apa lagi ini, pikirnya tak paham. Tapi dia tahu, apapun itu nantinya yang dijelaskan Reven, Dave tak punya pilihan lain selain melakukannya. Namun untuk yang satu ini Dave benar-benar tidak bisa menyembunyikan kerutan dalam di keningnya, “Aku tidak mengerti. Selain itu kenapa aku harus menemukan purimu?”

“Karena melalui dialah, kau mungkin bisa membayar hutang yang terpendam di dalam silsilah keluargamu.” ucap Reven tegas. Ada amarah dan rasa dendam yang lekat pada suaranya, “Mevonia menghancurkan kehidupannya.”

Continue Reading

Remember Us – Kekhawatiran Utama

“Kau harus menolongku, Damis.”
 
Damis menatap Lucia sebelum dia tersenyum pendek, “Aku tidak ingin ikut campur dengan urusanmu dan Reven.”
 
“Tapi dengan membantuku, kau juga bisa mendapat keuntungan jika aku dan Reven kembali menjadi satu seperti dulu. Aku tahu kau menginginkan Rena sebagai wanitamu, Damis.”
Kedua alis Damis saling bertaut, “Kurasa kau sedikit melewati batasmu, Lucia.” dia memperingatkan.
 
Lucia tertawa sinis, “Kau bertindak seperti pengecut, Damis. Jika kau terus seperti ini dan tidak mencari posisi pastimu di mata Rena. Percayalah, hanya menunggu waktu sampai kau kehilangan dia.”
Continue Reading

Xexa – Jati Diri

Actur Gllarigh meletakkan pena bulunya dengan kening berkerut. Dia mengangkat wajahnya dari perkamen yang tengah ditekuninya hanya untuk menemukan sosok besar gelap terhalang bayangan gelap malam tak jauh darinya. Dia sedang berusaha menyelesaikan laporan tugasnya ketika anilamarry-nya membisikkan kehadiran sosok itu.

 

Wajahnya berkedut, “Kau tidak punya alasan apapun untuk mendatangiku, Sorglos.”

 

Sebuah desahan tak senang dan sosok besar Sorglos melangkah maju menuju cahaya sehingga akhirnya Actur bisa melihat wajahnya dengan benar.

“Kau sudah melakukan kesepakatan kita? Ini lebih cepat dari dugaanku. Ternyata si pangeran kedua itu tidak ada apa-apanya.” dia tersenyum tipis, “Aku akan memberimu bonus emas kalau begitu. Tapi tunggu dulu–” dia diam, mendadak sebuah fakta yang sejak tadi dilewatkannya menghantam kepalanya. Dia memandang wajah Sorglos yang ekspresinya sama sekali tidak berubah.

Continue Reading