Remember Us – Belahan Jiwa

 

Hai.. hai.. aku datang lagi. Maaf tidak bisa menepati janjiku untuk memposting cerita ini dengan lebih teratur. Aku sedang sibuk berperang. Perang melawan hawa dingin. Winter is coming.. Brrrr.. *Kayak di Game of Throne. LOL*

Aku sedang di Jerman sekarang dan di sini dingin sekali. Sebagai makhluk yang terbiasa hidup di Surabaya dan berjibaku dengan matahari Surabaya yang ejegileeee panasnyee.. Hawa di sini bikin aku langsung mati kutu dan menelan umpatanku pada panas Surabaya. Sekarang aku merindukan dan memuja cuaca panas *tapi ya jangan panas-panas banget kaya Surabaya kalo lagi mode on*.

Nah, selain perang sama hawa dingin.. aku juga lagi sibuk.. narsis. Foto-foto ngga jelas di sini. LOL. Dimanapun dan kapanpun, selfie is the best. Kalian bisa lihat gaya endel-ku tempat apa saja yang kukunjungi di Jerman di IG-ku @amouraxexa , as always. Omaiguuuteee, aku promosi akun sosialku. Uhuk uhuk! *abaikan*

Oh astagaaa astagaaaaa, nulis apa sih aku ini. Eh tapi ngomong-ngomong kalian masih menyukai cerita ini tidak sih? Aku merasa semakin banyak yang meninggalkan Reven dan Sherena.. *pasang wajah sedih*

Tinggalkan komentar kalian ya, biar aku tahu jawabannya.

I love you all..

@amouraXexa

***

Aku duduk dengan memeluk lututku—di tengah ruangan ini—ketika seseorang membuka pintu ruang tahananku dan membiarkan seseorang lain masuk. Aku tak perlu mengangkat kepalaku untuk mengetahui siapa itu. Bau tubuhnya sudah menguar sejak dia masih bercakap-cakap dengan slayer penjaga ruang tahananku.

“Mau apa kau?” kataku menatapnya dengan muak.

Matanya menyipit, menelusuri kondisiku dengan tatapannya. Dia lalu beralih dariku, mengelilingi ruangan ini dengan matanya Yang masih datar, tanpa ekspresi.

“Lyra sudah mati jika itu yang kau cari.” Desisku penuh amarah, “Kau puas sekarang, James?”

Kali ini dia memandangku lagi, tersenyum, “Belum.” Jawabnya singkat.

Aku berdiri dengan sangat cepat, ingin meraih lehernya dan mematahkanya dalam sekali serang. Namun sialnya aku lupa dengan rantai besi di kakiku, hanya tinggal lima belas senti dari tempat James berdiri dan aku tidak bisa menjangkaunya.

“Kau menjijikan. Kau adalah hal terburuk yang kutemui dalam hidupku. Bahkan kau lebih buruk dari Vlad. Kau.. lebih buruk dari semua perak dan besi sialan ini.” lengkingku.

Dia mengedip, terlihat tenang dan sama sekali tidak terpengaruh dengan sikap emosionalku.

“Kau akan mengenal yang lebih buruk dari diriku setelah ini, kurasa.” Ucapnya pelan, “Hanya ingin melihat kondisimu. Aku tidak ingin terlibat dengan kemarahan Reven jika para manusia itu terlalu ceroboh dan membiarkanmu mati.”

“Aku lebih baik mati daripada dipergunakan oleh mereka untuk memanfaatkan Reven!”

Kedua alisnya terangkat, “Lihat siapa yang mengatakan ini sekarang.” Suaranya datar, namun dalam dan penuh makna, “Kau hanya terlalu polos, Sherena. Kau tidak tahu apa-apa.” Dan setelah itu dia membalikkan badannya. Meninggalkanku dan membiarkan slayer penjaga di depan menutup pintu ruang tahananku di belakangnya.

Mataku menatap nanar ke arah pintu. Aku tidak peduli dengan apa yang dikatakan oleh James. Aku tidak peduli. Pada akhirnya seorang pengkhianat kaumnya tidak akan mendapatkan apa-apa. Dia yang tidak tahu apa-apa dan bukannya aku.

***

Aku tidak tahu ini sudah berapa lama sejak mereka memasukkanku ke sini. Aku tidak tahu apakah hari demi hari sudah berlalu tanpa aku menyadarinya. Tidak ada matahari di sini. Tidak ada celah apapun yang bisa memberitahuku berapa waktuku yang terbuang hanya untuk teronggok di tempat menjijikan ini seperti sampah.

Aku mengambil nafas dalam. Menatap ke pergelangan kakiku yang menghitam seperti terbakar. Apakah aku juga akan mati seperti Lyra? Aku menggeleng. Tidak, tidak sekarang dan tidak di tempat seperti ini. Jika aku memang harus mati, maka aku harus membuat kematianku berguna. Aku harus membuat kematianku berjalan setimpal dengan apa yang kubawa dalam kematianku. Selain itu aku telah berjanji pada Lyra bahwa aku akan hidup. Aku akan hidup dan mengingat semua yang mereka lakukan padaku, pada Lyra, pada kaumku dan membalasnya. Aku akan membalasnya.

Bergerak mundur, aku menyeret tubuhku menjauhi pintu ketika bau manusia srigala tercium kuat dari arah sana. Manusia srigala bisa lebih buruk dari para slayer, mereka membuatku jijik pada tubuhku sendiri ketika mengingat apa yang terjadi padaku beberapa waktu lalu. Mereka tidak akan bisa merendahkanku lagi. Aku menggenggam buku-buku jariku kuat-kuat.

Pintu terbuka dan aku memicingkan mataku, tubuh slayer penjaga ruangan ini tergeletak beberapa senti di dekat sosok tinggi yang berdiri tegak, “Sherinn..” ucapnya.

“Morgan!” aku berdiri dengan cepat namun terjatuh dengan sama cepat karena luka di kakiku. Morgan berlari ke arahku, melihat kondisiku dan tidak mengatakan apapun, namun aku melihat sesuatu seperti rasa bersalah berpendar di matanya.

Dia memutuskan rantai besi yang melingkari kakiku dengan sekali tarik dan begitu mudahnya. Keningnya berkerut dalam melihat luka di kakiku, “Aku akan mengendongmu. Mustahil pergi dengan cepat dari sini jika kau melakukannya sendiri dengan keadaan yang seperti ini, sementara kita harus cepat. Terjadi sesuatu yang tidak kuduga di luar sana. Segalanya kacau. Jadi kita harus segera keluar dari sini.”

Aku mengangguk, tidak protes atau bertanya apapun dan langsung naik ke atas punggungnya ketika dia berubah menjadi seekor srigala besar. Aku menunduk dan memeluk lehernya yang berbulu dengan sangat erat. Namun sebelum dia sempat melangkahkan keempat kakinya, seseorang berdiri di ambang pintu dan menatap ke arah kami.

“Tidak untuk kali ini, Morgan Freesel.”

Kepalaku terangkat dan aku memaki. James.

Morgan menggeram, memperlihatkan taringnya dan gigi-gigi tajamnya. Liur menetes dari sudut mulutnya. Tapi James bukan manusia atau makhluk lemah yang takut pada geraman srigala raksasa. Dia vampir. Dan menghadapi manusia srigala adalah hal biasa bagi kami.

Aku melompat turun dan menahan sakit pada kakiku, tepat sebelum Morgan melompat dan menerjang James. Mereka bergelung dan bertarung dengan sangat sengit. Aku tidak bisa mengatakan jika Morgan bertarung dengan tidak baik, namun melawan James sepertinya sedikit sulit untuknya. Seolah dia sudah melewatkan pertarungan sengit lainnya sehingga dia kehabisan energinya untuk pertarungannya kali ini.

Bunyi berdegum keras menyakiti telingaku ketika Morgan menghantam dinding dan jatuh. Dia menghancurkan teralis besi yang mengelilingi tempat ini dan merobohkan sedikit dinding batu tepat pada bagian dia tergeletak sekarang. James berdiri beberapa meter dari Morgan, terluka namun tak separah Morgan.

Dengan sisa kekuatan yang kumiliki, aku menghadang langkah James yang akan menyerang Morgan lagi. Morgan bahkan tidak bisa berdiri dan dia bisa terbunuh jika kali ini James akan menyerangnya lagi.

“Menyingkirlah, Sherena.” Desis James tidak sabar.

“Tidak.” Tegasku sebelum menyerang ke arah James. Dia menghindariku dengan sangat mudah dan berdiri di belakangku bahkan sebelum aku menyadarinya. Dengan satu gerakan dia menarik tanganku dan menyentakkan tubuhku dengan keras, “Sudah kukatakan untuk menyingkir.” Katanya singkat dan tangannya beralih ke leherku, mencengkeramnya. Mencekikku kuat-kuat.

“K-k..au..” aku kehilangan nafasku dan menyerangnya dengan kedua tanganku yang bebas. Tapi sepertinya sama sekali tidak berguna. James hidup lebih lama daripada aku dan Morgan. Dia bisa membunuh kami dengan mudah.

“Kau harus menyadari betapa beruntungnya dirimu, Sherena Audreista.” Dia melepaskan cekikannya dan menoleh ke belakang, “Aku tahu aku harusnya tidak melukainya. Tapi kebodohan dan sifat keras kepalanya membuatku tidak bisa menahan diri.”

Aku mengerti.”

Mataku melebar mendengar suara itu. Lalu dengan pelan, ketika James sedikit menyingkir, aku bisa melihatnya. Dengan jelas, sangat jelas tanpa satu kesalahanpun pada apa yang mataku tangkap.

“Victoria.”

Dia tersenyum, mengangguk, “Senang melihatmu hidup, Rena.”

***

“Senang melihatmu hidup, Rena.”

Aku melihat Victoria seperti melihat horor paling mengerikan. Dia utuh. Tanpa luka sedikitpun dan tersenyum. Tersenyum seperti biasanya seolah-olah tidak terjadi sedikitpun hal buruk dalam kehidupannya. Dia melangkah hati-hati ke arahku. Aku mundur. Menyadari kenyataan lain dan mendadak merasa muak hingga bisa muntah jika dia semakin dekat ke arahku.

Victorialah otak semua ini. Dia merencanakan semua ini. Semua hal yang dia katakan padaku, pada Reven adalah kebohongan. Kekhawatirannya, omong kosong tentang firasatnya. Tidak. Aku menggeleng. Dia tidak mungkin melakukan ini semua. Tidak. Dia tidak bisa. Bagaimana bisa dia mengkhianati Reven. Dia memilih Reven alih-alih menginginkan kekuasaan kepemimpinan bangsa kami untuknya sendiri. Dia melindungi Reven dari Vlad. Dia menolong Noura melewati semua ketakutannya pada kekuatannya. Dia..

“Semua pertanyaanmu akan memiliki jawabannya, Rena. Tapi tidak sekarang.” Katanya hangat menyadari tatapanku padanya, “Tidakkah kau ingin bertemu dengan Reven? Kurasa kita harus segera bergabung bersamanya di aula besar.”

Aku menggeleng, “Kau tidak akan bisa menipuku lagi, Victoria.”

James mendengus tidak sabar, namun Victoria mengangkat tangannya, “Aku tidak menipumu, Rena sayang. Temui Reven dan kau akan tahu. Kemarilah.. Reven menunggu kita semua.” Dia mengulurkan tangannya ke arahku, aku tidak ingin mempercayainya lagi.

Dengan keras aku menampik tangannya dan matanya melebar. Keramahan di wajahnya menghilang dalam sekejap dan dia meraup wajahku dengan satu tangannya, mencengkram daguku dengan erat. Aku bisa merasakan kuku-kuku tajamnya menusuk ke pipiku. Aku mengernyit merasakan perih namun tidak melawan.

Inilah dia, Victoria yang sesungguhnya. Akhirnya aku tahu alasan kenapa aku tidak pernah bisa berbaur dengan Victoria selayaknya ketika bersama dengan Rosse. Akhirnya aku tahu kenapa Victoria selalu terlihat sulit dijangkau dan sangat misterius. Mungkin semua keramahan dan kebaikan hatinya selama ini hanya topeng yang digunakannya untuk menutupi sifatnya yang sebenarnya.

“Aku tahu, cepat atau lambat kau pasti akan membuat kesulitan untukku. Dan inilah yang terjadi. Sesungguhnya aku jauh lebih menyukai Noura untuk berdiri di samping Reven dan bukannya kau. Noura cerdas, kuat dan dia tahu dengan benar bagaimana memanfaatkan semua kelebihan yang dia miliki. Tapi sayangnya dia terlalu penakut. Terlalu pengecut untuk membiarkan kekuatannya menguasai dirinya dan membuatnya lebih kuat. Dia terlalu takut mengetahui kebenaran di masa depan. Dia bahkan menangis. Mengeluh kepadaku bahwa dia tidak sanggup lagi.”

Victoria menggeleng, “Aku bahkan menyarankan padanya untuk mengambil alih tubuhmu tapi dia menolaknya ketika itu. Noura, perempuan bodoh. Aku jelas tidak bisa berharap padanya jika dia tidak bisa mempercayai dirinya sendiri. Dan di sinilah akhirnya, seorang vampir baru lemah, menggantikan posisinya.”

Aku menatap Victoria tanpa berkedip. Aku memandangnya dengan tajam dan tidak akan membiarkan dia membuatku takut atau khawatir. Terserah apa yang akan dia katakan, namun aku tahu bahwa sekarang, mungkin saja kematianku benar-benar sudah dekat. Aku tidak akan membiarkan dia puas dengan ketakutan di mataku sebagai tatapan terakhir yang Victoria kenang dariku. Tidak akan.

“Sayangnya Reven memujamu melebihi Noura. Dia mengkhawatirkanmu dengan berlebihan. Aku tidak bohong padamu ketika kukatakan kau adalah kelemahannya. Dan aku benci melihat Revenku lemah. Tidak. Aku benar-benar tidak suka itu.”

“Kau.. menginginkannya?”

Alisnya terangkat lalu dia tertawa, “Siapa perempuan di dunia ini yang tidak menginginkan Reven, sayangku? Itulah kenapa aku memberinya keabadian. Itulah kenapa aku membawanya pada bentuknya sekarang.” dia tersenyum tipis sekali, dan aku benar-benar muak. Dulu, dia mengatakan bahwa Reven selayaknya putra baginya, dan sekarang..

“Kau hanya vampir bodoh yang beruntung. Sayangnya ada aku di sini. Aku yang dapat dengan mudah membunuh keberuntunganmu. Namun seharusnya kau berterimakasih padaku karena pada akhirnya aku akan membuatmu terlepas dari Reven. Kau membencinya bukan?”

“Aku mencintainya.” Kataku keras dengan susah payah.

Victoria memiringkan kepalanya, “Apakah kau yakin kau mencintainya? Ataukah kau percaya, kau akan tetap mencintainya ketika kukatakan beberapa kebenaran yang belum pernah kau dengar tentang Reven sebelumnya?”

“Jangan, Vic—“ James menyentuh lengan Victoria tepat ketika Morgan—yang entah bagaimana sudah bisa bangun dan bergerak lagi—menyerangnya dengan tiba-tiba. Membuat Victoria tanpa sengaja terdorong ke arah lain dan melepaskan cengkaramannya pada rahangku. Aku sendiri terjerembab ke belakang dengan keras.

Victoria keras terlihat begitu marah dan dia maju membantu James. Mengambil alih pertarungan dan menjatuhkan Morgan dengan hanya satu kali serang.

“Cukup, Morgan Freesel!” Victoria melemparkan Morgan dan serigala besar itu jatuh terjerembab di sudut dan tidak bangun lagi. Meski aku bisa mendengar erangan kesakitannya.

“Morgan..” aku berlari ke arah Morgan namun terhenti karena Victoria dengan cepat meraih tanganku dan menjatuhkanku kembali ke lantai, “Sudah cukup, Sherena. Atau kau ingin aku membunuhnya sekarang? Dia belum mati jika kau ingin tahu, dia hanya sekarat. Namun satu gerakan saja darimu ke arahnya, kuyakinkan kau.. detik itu juga aku akan membuat srigala sialan itu benar-benar mati. ”

Aku menoleh ke arah Morgan, dia menggeleng dengan kesusahan. Wujud manusianya sudah kembali dan dia tidak nampak lebih baik dari sebelumnya, “Re..na, jangan.” Lalu dia terbatuk dan darah keluar dari mulutnya.

“Kau tidak boleh menyentuhnya lagi.” aku berteriak pada Victoria yang hanya mengangkat alisnya. Begitu tidak peduli.

“Aku tidak menjanjikan padamu apa-apa jika kau membuatku berada di tempat ini lebih lama lagi. Aku seharusnya sudah membunuh Morgan Freesel sejak lama, namun karena dia berjasa dalam membuatku ada di sini. Aku membiarkannya hidup sampai sejauh ini.”

“Kau memilikiku.” Aku mengangguk, menahan airmataku dan Victoria tersenyum dengan puas.

“Pilihan yang bagus.”

Aku bisa mendengar langkah James mendekat ke arah Victoria dan dia memandang Victoria, mengabaikanku sama sekali, “Kita tidak bisa berlama-lama di sini, Victoria. Kita harus segera menyelesaikan rencana kita.”

Victoria mengangkat tangannya, “Aku tahu. Kau, kembalilah ke aula. Katakan pada Reven bahwa aku akan menangani perempuannya ini dan dia tidak perlu khawatir. Semuanya akan sesuai dengan rencana.”

James mengangguk dan dia meninggalkan ruangan ini tanpa mengatakan apapun. Sementara itu aku menjadi bingung. Aku tidak mengerti dan frustasi dalam waktu bersamaan. Rencana? Dan Reven terlibat di dalamnya? Apa-apaan ini? Apa yang sebenarnya sedang terjadi sekarang?

“Kau tidak akan membawaku pada Reven? Tapi kau.. kau bilang sebelumnya bahwa kita akan menemui Reven.” Aku berteriak marah padanya, namun Victoria hanya menatapku, datar. “Kau membuatku berubah pikiran.” Ucapnya, “Terlalu berisik dan tidak bisa dikontrol.”

Aku berdiri, “Tidak. Kau tidak boleh melakukannya. Aku harus bertemu dengan Reven. Aku har—“

Dan dia melakukan sesuatu, menyentuh belakang kepalaku dan membuat segalanya gelap dalam sekejap. Aku jatuh dan tidak tahu apa-apa lagi.

***

Aku membuka mataku dengan pelan. Merasakan sakit pada seluruh tubuhku. Aku berkedip, melihat langit-langit dari batu di depanku. Aku mengerjap cepat dan bangun, namun tak lebih dari sekedar duduk karena aku merasa tubuhku menolak megikuti perintahku setelah itu. Seolah aku hanya memiliki kontrol atas kepala dan leherku, dan tidak pada yang lainnya.

Ada apa ini?

Dengan cemas aku mengerakkan seluruh tubuhku, namun aku hanya duduk dengan punggung tegak dan kaki terselunjur rapi. Aku bahkan baru sadar bahwa aku sebenarnya berada dalam sebuah peti batu. Aku mengitari tempat ini dengan mata panik. Aku tidak tahu dimana ini. Namun aku yakin tempat ini tidak berada di bawah tanah karena kelembaban dan jenis udaranya.

Ada perasaan lain yang membuatku merasa bahwa aku pernah berada di sini. Tidak. Ini salah. Aku tidak tahu tempat ini. Tapi perasaan itu terasa benar-benar nyata. Seolah-olah aku memang pernah ada di sini, menyentuh peti ini dan..

Arshel.

Fakta itu menyadarkanku. Ingatan Ar, dan bukan milikku. Ar yang pernah ada di sini. Dan bukannya aku. Lalu semua ingatan itu menghantamku seolah-olah memang aku yang mengalaminya. Seolah-olah memang aku yang berada di sini. Mulutku terbuka lebar.

“Victoria..” bisikku tanpa suara.

Ar dan Morgan. Merekalah yang membangunkan Victoria. Aku bahkan mengabaikan satu fakta ini. Tidak menyadarinya dan seolah-olah memang wajar mengetahui keberadaan Victoria tanpa perlu tahu darimana asalnya. Dia vampir. Memangnya apalagi yang bisa kuharapkan ketika itu. Salah satu yang terhebat. Satu-satunya yang dikatakan banyak lainnya sebagai pasangan sejati Vlad. Aku bahkan tidak pernah mendengar atau tahu tentang Victoria sebelum kekacauan terjadi di kastil waktu itu.

Sementara itu, ternyata Ar dan Morgan tahu lebih banyak dan aku memiliki kesempatan untuk tahu itu juga karena ingatan Ar adalah milikku sekarang. Namun aku mengabaikannya selama ini. Aku merasa sangat bodoh. Bagaimana bisa? Apa karena banyak yang terjadi padaku selama ini membuatku berpikir bahwa aku punya banyak hal lain untuk kuketahui selain hanya berkutat dengan ingatan Ar.

“Ah kau sudah bangun rupanya.”

Mataku mengikuti asal suara. Dan di sanalah dia.

Victoria menuruni undakan batu dengan anggun. Berjalan pelan ke arahku dan berhenti tepat di depan undakan pendek lain menuju ke peti tempat aku terduduk membatu sekarang.

“Apa yang kau lakukan pada tubuhku?”

Dia hanya menatapku lalu menaiki undakan pendek hingga akhirnya hanya dinding rendah peti ini yang menjadi pemisah di antara kami. Dia memandangku lurus, dan aku bisa melihat bola matanya yang berwarna merah alami berpendar penuh teka-teki dan tak dapat tersentuh makna.

“Victoria!” aku berteriak padanya. Tidak sabar dan marah.

Sudut bibirnya bergerak dan dia tersenyum tipis.

“Tidak penting apa yang kulakukan pada tubuhmu sekarang. Tak lama lagi kau akan tertidur, Rena. Tidur yang dalam dan lama. Tidur yang sama seperti yang pernah kurasakan dulu.”

Bola mataku membesar, “K-kau.. apa maksudmu? Kau tidak bisa melakukannya padaku!”

“Kami bisa melakukannya, Rena. Tidakkah kau pikir kenapa para vampir kuno bertahan lebih baik daripada jenis lainnya. Karena kami memiliki banyak sihir dan kekuatan yang dimiliki vampir-vampir biasa sepertimu. Jika kami mau, kami bisa mengistirahatkan diri kami dari keabadian untuk sejenak. Terus hidup itu melelahkan, Rena.”

Dia menatapku dengan misterius sebelum memiringkan kepalanya dan berkata pelan, “Dan sebaliknya, kami juga bisa membuat vampir lain beristarahat jika kami mau. Vlad dan Reven melakukan itu padaku. Dan untuk menutupinya dari kelompok lain, mereka mengatakan bahwa para penyihir murni yang melakukannya, seperti yang diketahui para manusia serigala. Sementara di kelompok kami, mereka yang cukup beruntung hidup di masa itu mengetahui bahwa inilah hukuman yang diberikan Vlad untukku karena aku berkhianat padanya. Ah kenapa aku justru bercerita tentang ini padamu?”

Aku memandangnya dengan marah, “Apa yang sebenarnya ingin kau katakan?”

Dia tertawa kecil, “Selalu tidak sabaran. Aku hanya ingin kau tahu beberapa cerita. Dan mungin saja itu akan berkaitan dengan apa yang mungkin saja terjadi padamu setelah ini. Tidakkah kau ingin tahu?”

Aku diam dan Victoria mengangguk, “Seperti itu lebih baik.” Lalu dia berjalan pelan, mengitari peti batu tempatku berada, menyentuh tepian peti dengan ujung-ujung jarinya yang indah.

“Sangat ironis ketika kau harus terduduk di dalam sini sementara pembuatnya adalah belahan jiwamu. Belahan jiwa? Mendengar kata-kata itu seringkali membuatku ingin tertawa keras dan mengejek dunia. Belahan jiwa? Bagaimana bisa seseorang membiarkan orang lain menjadi pemilik sebagian jiwamu. Merelakan sebagian diri mereka berada pada orang lain dan menjadi lemah karenanya. Mencintai seseorang yang bisa saja membuatmu kuat dan lumpuh dalam waktu bersamaan.”

Sementara Victoria bicara, entah kenapa aku melihat sedikit sorot aneh di mata merahnya. Nampak samar dan tersembunyi di balik ketegasan dan keangkuhan wajahnya.

“Tapi aku mungkin saja pernah tahu seperti apa itu. Perasaan itu. Aku pernah mencintai seseorang seperti itu. Aku pernah.. memiliki belahan jiwa.”

Mataku menyipit dan Victoria tidak berhenti. Dia tidak menatapku ketika bicara. Hanya melangkah dengan irama sepelan buaian angin. Berbicara seolah lebih kepada dirinya sendiri. Sementara aku cuma bisa menatapnya dan mendengar meski aku tidak sepenuhnya tahu apa tujuannya mengatakan semua ini.

“Aku mencintainya sepenuh jiwaku. Aku menemaninya. Membantunya dan berdiri selalu di sisinya. Aku akan memberikan semua yang kumiliki untukknya. Aku akan mempertaruhkan kehidupanku untuknya. Namun dia merasa bahwa apa yang terjadi diantara kami adalah salah. Dengan memiliki semua perasaan ini, maka kami akan bergantung satu sama lain. Kami akan menjadi… lemah. Dan menjadi lemah adalah hal yang paling dibencinya.”

Victoria diam, lalu tersenyum tipis sekali, “Lalu dia melakukan sesuatu. Membuat kami terlepas dari ikatan kutukan ini. Kami tidak akan bergantung pada masing-masing kami lagi dan itu membuatnya lebih kuat dan puas. Tapi sebagai akibatnya, kami kehilangan cinta. Kami kehilangan perasaan. Sepenuhnya kosong. Sepenuhnya hanya .. kami. Tidak ada sisa perasaan apapun yang bisa ditemukan diantara kami. Hanya.. sebuah ruang senyap dan ingatan yang terasa sepah.”

Mendadak aku menyadari sesuatu, aku menatap Victoria dengan ngeri, “Itu Vlad? Kau dan Vlad.. Vlad melakukan itu”

Dan Victoria menatapku kembali untuk pertama kalinya.

“Untuk kekuasaan. Untuk kekuatan yang tak tertandingi. Untuk menjadi satu-satunya yang tidak memiliki kelemahan. Kami memang seharusnya sejak awal tidak mencintai satu sama lain. Aku tidak pernah menyesal. Vlad mengambil pilihan yang sangat tepat.”

Aku memandang nanar pada Victoria. Tapi dia justru terlihat biasa saja, “Jangan mengasihaniku, Rena. Aku tidak membutuhkan itu. Sebab aku tidak merasakan apa-apa. Itu benar-benar pergi. Seolah-olah itu memang tidak ada sejak awal. Tidak ada kesedihan.”

“Cinta?” dia tertawa sarkastik, “Aku bahkan tidak yakin aku pernah memiliki perasaan itu.”

Sebab Vlad sudah menghilangkannya darimu.

“Jika memang seseorang bisa memilih untuk menghilangkan perasaan cintanya, menghapus belahan jiwa yang sudah ditemukannya, kenapa masih begitu banyak makhluk yang tersiksa karena kehilangan belahan jiwanya? Kenapa takdir belahan jiwa masih berjalan seperti itu?”

Victoria menatapku seolah dia baru saja mendengar sesuatu yang sangat bodoh. Dia mendengus jengah, “Memangnya kau pikir semua mengetahuinya? Tidak, Rena. Jangan terlalu naif. Hanya kami. Hanya kami, yang hidup cukup lama untuk tahu begitu banyak rahasia. Dan jangan pikir kami akan dengan senang hati membaginya.”

Dia tertawa sinis, “Menurutmu apa yang akan terjadi jika semua orang tahu bahwa mereka punya pilihan untuk melepaskan diri dari nasib jelek mendapatkan belahan jiwa? Apa yang akan terjadi jika seseorang tidak memiliki perasaan apapun?”

Kekacauan.

Dan akan lebih banyak lagi yang bersifat seperti Vlad. Dingin, mati rasa dan kejam. Juga indah dan mematikan, seperti Victoria. Itulah mengapa Vlad dan Victoria menyembunyikan fakta ini. Mereka tidak ingin tersaingi. Lalu kenapa sekarang dia memberitahuku ini? Apakah dia akan—

“Tidak!” jeritku penuh kengerian, “Kau…”

Victoria tersenyum, menyentuh pipiku dengan jari-jarinya yang sedingin es. Aku berusaha meronta. Berusaha mengerakkan sedikit saja bagian tubuhku. Namun semuanya sia-sia. Seolah hanya bagian kepalaku saja yang merupakan milikku. Aku menggeleng putus asa.

“Jangan.. jangan berani-berani kau melakukan itu kepadaku. Kau tidak bisa. Tidak boleh. Aku mencintai Reven dan dia juga mencintaiku, Victoria. Kau mendukung kami. Kau.. kau.. tidak boleh..”

Jari-jarinya bergerak di wajahku, menelusuri rahang hingga berhenti di ujung mata kiriku. Dia berhenti, menarik tangannya. Dan kedua bola matanya memandangku, lembut, seolah-olah dia tidak pernah mengatakan hal-hal buruk kepadaku sebelumnya.

“Aku tidak pernah menyarankan ini, Rena. Tidak pernah. Bukan aku yang menginginkan hal ini terjadi padamu. Sesungguhnya aku bahkan bisa menolerir dirimu sebagai pasangan Reven. Aku bisa saja diam.”

Aku menggeleng, “Jangan membohongiku lagi. Kumohon Victoria. Lakukan apapun. Namun jangan pernah pisahkan aku dengan Reven. Jangan pernah.. aku tidak bisa. Aku tidak bisa jika tidak dengannya. Aku mohon..”

Victoria mendesah, “Tapi memang bukan aku yang menginginkan ini. Melainkan—“

“Aku yang meminta Victoria melakukannya.”

Aku memutar leherku secepat yang aku bisa. Jantungku berhenti berdetak. Nafasku habis. Aku tidak bisa berpura-pura melakukan itu sebagai manusia ketika yang kuharapkan detik ini adalah lenyap dan tidak pernah tahu apapun.

Di ujung undakan batu, mematung di balik remang-remang bayangan cahaya api dari obor, dia menatapku.

“Reven.” Mulutku mengucapkan namanya dalam balutan kerinduan yang pekat namun dia memandangku dengan tatapan asing yang tidak bisa kuterjemahkan.

“Reven..” aku memanggil namanya lagi dan dia bergerak, mendekat ke arah kami. Berhenti di ujung undakan rendah menuju ke tempatku.

“Apa maksudnya ini?” aku tidak bisa menahan air mataku. Aku tidak bisa. Aku tahu aku menangis dan aku tidak mau berpura-pura terlihat kuat di depannya. Aku melihat dia sehat. Aku melihat dia utuh tanpa cacat sedikitpun. Aku melihat dia bugar. Dia baik-baik saja.

Aku merasa bahagia dan hancur pada waktu bersamaan. Orang yang paling kukhawatirkan. Orang yang paling kupuja sampai aku mati. Orang yang begitu kutakutkan akan terluka. Berdiri di depanku, memandangku dengan tatapan datar tanpa sedikitpun cinta. Apakah dia tidak merindukanku? Apakah dia tidak memikirkan aku selama ini?

Tidakkah Reven ingin tahu apa yang kualami selama ini? Aku menggeleng. Aku tidak tahu apakah dia benar-benar orang yang sama yang memelukku dengan hangat, yang berjanji akan hidup selamanya bersamaku. Yang melindungiku.. yang…

Tidak mungkin.

“Aku yang memaksa Victoria memutuskan ikatan diantara kita.”

Hanya satu kalimat dan aku tidak ingin mendengar apapun lagi setelah itu. Jika saja tangan sialanku mau menuruti apa mauku, aku akan menggunakannya untuk menutup telingaku dan memilih tuli sekarang. Aku takut pada apa yang mungkin kudengar darinya. Aku takut dan tidak bisa. Aku bisa benar-benar hancur.

“Ke..napa?”

“Aku tidak ingin menjadi lemah ketika aku harus melindungi kelompokku.”

“Apa kau pikir aku membuatmu lemah?” teriakku tak terkontrol mendengar suaranya yang begitu dingin.

“Ya.”

Mati. Mati saja. Bunuh saja aku. Dia menjawabnya dengan cepat, dengan menatapku tanpa kedip. Dengan mata birunya yang tegas dan .. jujur.

“Aku tidak bisa berkonsentrasi pada apa yang seharusnya kulakukan ketika aku selalu mengkhawatirkanmu. Aku tidak bisa menggunakan seluruh kemampuan dan kekuatanku ketika aku tidak fokus. Aku tidak bisa seperti ini terus. Aku memiliki tanggung jawab besar.”

“Bodoh.” Suaraku keluar begitu pelan dan sarat kekecewaan, “Vampir bodoh. Bisa-bisanya kau mengatakan hal itu. Kita sudah menyelesaikan masalah ini sebelumnya. Kita sudah selesai dengan semua omong kosong ini. Kau berjanji padaku.”

Reven diam, masih memandangku dengan tatapan yang sama. Tak menunjukkan emosi apapun. Aku merasakan gerakan Victoria, tapi tak ingin melihat ke arahnya. Aku tidak ingin melihat senyum kepuasan di wajahnya.

“Reven..” aku memohon. Memanggil namanya dengan semua perasaan cinta yang kumiliki untuknya.

“Sudahlah.” Kali ini suara Victoria menghancurkan kontak mata kami. Reven memandang ke arah Victoria dan sepenuhnya mengabaikanku.

“Kita harus melakukannya dengan cepat. Kita masih punya banyak hal yang harus diselesaikan dengan para manusia dan sekutunya. Aku tidak ingin membuang-buang waktuku dengan percuma di sini. Nah, Reven, katakan padaku, kau masih ingin melakukannya atau tidak?”

“Tentu saja.” Tegas Reven dan dia menaiki undakan tangga ke arahku.

Aku menggeleng, “Tidak!”

Victoria menyentuhku dan aku kehilangan seluruh kontrol tubuhku. Dia menidurkanku di dalam peti dan aku bisa merasakan semua cahaya obor meredup. Aku mengedip, berusaha sekuat tenaga untuk melakukan sesuatu namun tidak ada yang terjadi.

Aku melihat Reven dan Victoria mengucapkan sesuatu yang tidak bisa kumengerti. Entah bahasa apa. Reven mengangguk. Dan dia berjalan memutari peti. Berdiri di sisi yang bersebrangan dengan Victoria. Dalam genggamannya, aku bisa melihat sesuatu. Belati perak?

“Reven.. jangan.” Suaraku sepelan bisikan angin. Tapi aku percaya dia bisa mendengarnya. Dia memandang ke arahku, tak mengatakan apapun dan mengalihkan pandangannya pada Victoria.

“Kau siap?”

Victoria mengangguk dan aku bisa merasakan semuanya berubah. Udara di sekitarku berdesing aneh. Victoria memejamkan matanya. Mengangkat belati perak yang persis sama seperti milik Reven, mengiris telapak tangannya dan membiarkan darahnya menetes jatuh di wajahku. Aku bisa mencium bau amis darahnya dengan kuat.

Tidak bisa. Mereka tidak boleh. Kemarahan besar menyelimuti tubuhku. Bagaimana bisa orang yang paling kucintai dan mencintaiku melakukan ini padaku? Bagaimana dia bisa memilih menyingkirkanku untuk kekuatan mutlak dalam genggamannya?

Reven memejamkan matanya, melakukan hal yang sama seperti yang dilakukan Victoria. Aku bisa merasakan darah Reven jatuh di bibirku. Aku bisa merasakan tetesan darah lainnya jatuh mengenai pipiku, bergerak turun dan jatuh di rambutku.

“Kau akan menyesal melakukan ini.”

Reven menatapku ketika aku mengatakan itu. Tapi dia cepat-cepat menghindari tatapan marahku. Dia mengumamkan sesuatu, lalu memandang Victoria sementara aku sama sekali tidak melepaskan tatapanku padanya. Tidak akan. Aku ingin melihat bagaimana wajahnya, bagaimana ekspresinya ketika melakukan semua ritual ini.

Aku tidak berkedip, tidak menunjukkan perasaan apapun ketika Reven menunduk. Wajahnya hanya berjarak beberapa senti dari wajahku. Tapi aku tahu dia melakukan ini bukan untuk menciumku atau untuk membatalkan ini semua.

“Aku mencintaimu.”

Mataku melebar, merasakan sakit yang luar biasa di dadaku. Tepat di tempat dimana Reven menusuknya dengan belati miliknya. Unsur perak menguar menghancurkan jaringan-jaringan tubuhku. Aku bisa merasakan dadaku naik turun dengan sangat cepat dan Reven mengangkat wajahnya, tidak menarik belatinya dan menolak memandang ke arahku. Dia memejamkan matanya dan aku melihat sudut matanya basah. Lalu dia membalikkan tubuhnya dan pergi. Aku tidak bisa melihatnya lagi. Dan aku tidak bisa berkonsentrasi tentang apapun setelahnya karena aku kesakitan.

Sakit yang luar biasa melebihi ketika aku berproses menjadi vampir. Ini lebih sakit dan segalanya semakin samar. Indera-indera tubuhku melemah. Aku bisa mendengar suara Victoria tapi tidak bisa mengerti apapun karena kepalaku rasanya seperti mau pecah. Victoria terlihat menjadi begitu banyak di mataku. Ruangan ini seperti berputar cepat dan membuatku ingin muntah.

Aku ingin berteriak. Aku ingin meronta meluapkan semua kesakitan ini. Namun aku tidak bisa dan tubuhku semakin kaku. Kurasa sekarang Victoria mengambil alih segalanya. Aku bisa melihat dia berjalan memutari peti tempat aku berbaring tersiksa. Dia berhenti di ujung peti, meraih rambutku dan memotong seikat dalam genggamannya dengan belatinya. Aku tidak peduli. Aku tidak peduli pada apapun sekarang. Rasa sakit ini menghujam berpusat pada dadaku dan menjelar ke semua bagian tubuhku dan aku tidak bisa melakukan apapun bahkan untuk sekedar menyentuh belati yang masih tegak berdiri di sana, terbenam di dadaku dan hanya meninggalkan beberapa senti ujungnya.

“Tidak akan lama, Rena. Tidak akan lama. Bertahanlah.”

Itu suara Victoria. Setelahnya aku tidak tahu dia melakukan apa lagi. Semuanya semakin tidak jelas. Namun aku bisa merasakan sesuatu menusuk leherku, menyerap kehidupanku. Victoria melakukannya. Dia menghisap darahku, membuat kesakitanku bertambah ribuan kali lipat. Aku bisa merasakan seluruh tubuhku mengerut dan aku ingin sekali menjerit dengan sangat keras karena aku sudah tidak sanggup lagi merasakan semua penderitaan dan rasa sakit ini.

Seluruh tubuhku terasa sakit dan bergetar hebat. Aku bisa merasakan semuanya semakin memudar dalam pandanganku. Aku seperti ekhilangan semuanya, dan hanya meninggalkan sedikit kesadaran.

Victoria mengangkat taringnya, “Selamat tidur, Sherena.” Dan dia membenamkan kembali taringnya ke leherku. Lalu semuanya menghilang.

PS. Next Chapter POV-nya Reven ya.. :D

<< Sebelumnya
Selanjutnya >>

Mau Baca Lainnya?

41 Comments

  1. Aihhh aku baru ngeh kl reven – rena ada.sequelnyaaa…
    Sumpahh aku.kangen bgt sama cerita ini.. Dan bikin aku melek semeleknya dipagi buta gini.. Hahahhaa …
    Aduh asik.bgt sih.di.jerman.. Kapan balik non???
    Ditunggu lnjutannya…. Xoxo

  2. Hahahha.. banyak yang bilang gitu ke aku.. Duh kayaknya aku musti bikin promosi nih kalo HV uda ada sekuelnyaaa *eaa 😛 😛

    Duh, tengkieessss. DIbela-belain baca RU pagi2 bgt.

    Kapan balik?? Mungkin 2 tahun lagi.

    Siapppp.. Tungguh aja ya next chapternyaa 😀

  3. Reven mah emang gitu. Susah ditebak, kepala batu dan… ganteng. LOL

    Btw, next chapter bakal jadi milik Reven dari sudut pandang dia. So, mungkin kita bakal tahu kenapa dia milih ngelakuin itu semua pada Rena

  4. AAAHH KAK GAKUAT GAKUAT!!!!!!!!
    yaampun ka udh lam ga nengokin blog kaka soalnya waktu itu sempet bolak2 sini tp ga updet2:(
    yg updet dong kak yg cepet gile venasaran bgt
    ah kak ga bisa komen lg tulisan kaka2 keren semua rapihhhhhh
    btw keren kaak dijerman? belajar ato liburan kak?

    -anna.

  5. Aku nyesek baca part Belahan Jiwa ini,kayak merasakan apa yang Sheerena rasakan,kayak merasa dikhianati banget sama Reven dan Victoria.Aku sebel sama Reven,,tapi penasaran sebenernya apa yang terjadi dan apa yang di rencanain Reven sama Victoria.Tapi feeling aku bilang Reven ngelakuin ini demi melindungi Rena.Masih abu-abu huhu eh kak ayo bikin Rena kuat dong biar gak dibilang lemah mulu sama yang lain…Pokoknya harus dilanjut dan ditunggu next-next part nya…Moga aja bisa cepet update hihi semangat kakak 🙂

    -Puput_Kiki-

  6. Aku jadi kepikiran girlband seven icon pas baca komenmu yang bagian ga ga ga kuatt.. hahaha *abaikan*

    Iyaa.. aku dua bulan ngga ngeblog. hiks hiks. soalnya sibuk ngurusin segala hal buat ke Jerman. Belajar dan liburan dan cari pengalaman.. itu judul buat alasan ke Jerman.

    Updatenya. huhuhu.. belum tahu kapan. Nunggu yang lain dulu, kayak Xexa, another story dkk.. Ini aja aslinya jadwalnya Xexa tapi RU uda nampang aja. Heheheh

    Pokoknya ditunggu aja yaaa.. 😀

  7. Astaga astaga.. iya yahh. rasanya pasti mak jleb banget. Tahu kalo dua orang yang harusnya paling bisa kamu percaya malah mengkhianati kamu.

    Ah Reven emang emang alami paling gampang bikin orang sebel.

    Nah buat jelasnya kita tunggu next chapternya ya.. bakalan jadi milik Reven.

    Semangat juga dan thanks komennya 😀

  8. Lagi di jerman thor?? Asikkk pantesan ga nongol2 hihih bawa oleh2 thor kalo plng 😀

    Aku baru buka blog kamu lg ternyata ada lanjutannya toh, ya ampun ya ampun lanjutannya bikin emosi yeee!!! Huahhhhhh, mau nonjok Reven nih ngerasain penderitaan Rena, boleh yah thor???
    Tp kayaknya sih ada alesannya, tp tetep aja ngerasain kayak Rena itu sakit bangett, arggghhhhhh Reven-Rena emang selalu bikin gemessssss huhuh
    Kayaknya banyak teka2 lg nih yah di RU menyeramkan sekaligus menegangkan 🙁

    lanjutannya jangan lama2 thor penasaran pngn baca pov Reven, coba dia mau ngomong apa coba awas aja kalo ga ada rasa bersalah sama sekaki aku mogok baca cerita ini, keselllll ama Reven! Hahahaha *ngancem

    Semangat thor!!

  9. Kenapa reven melakukan itu?????
    sumpah, aku bisa merasakan ap yg dirasakan oleh serena…
    sakit…nyesek…gak percaya…benci…mrah… cinta…
    aaaaaa npa puny belahan jiwa itu harus semenyakitkan ini….
    kenap thor…!!!!!
    aaaaa reveeeen…
    npa harus gni seeh jadinyaa…..

  10. Hidup kok.. kalau ngga nanti aku malah repot nyari pasangan buat ngalahin ketotolannya Reven.

    Hahhaha
    Sabar ya, new chapter RU musti ngantri dulu setelah Xexa. another story dkk 😛

  11. Hhahahha.., oleh-oleh ceita aja ya. 😛 😛

    Gpp, banyak kok yang pengen nonjok Reven karen sikap eek dan ngga mau ngalahnya. Soalnya dia ini pengennya mikirin sendiri masalahnya dan nyelesaiin semua pake caranya, tapi dia ngga tahu caranya itu bagus atau ngga buat orang lain. Tipe-tipe ngeselin deh, jadi kalau banyak yang pengen nonjok dia, aku maklum. Hahahha

    Yup, di RU.. (semoga saja) lebih negangin dan bagus ketimbang HV. Semoga.. 😀

    Lanjutannya kapan ya?? Hemm.. Sebenernya RU di laptop uda sampe jauh, tapi RU musti ngantri. Masih ada Another Story, Xexa dan cerita2 lainnya. Jadi sabar ya.. Ini aja aslinya RU nyerobot giliran Xexa buat diposting. Hehehhe

  12. Soalnya Reven itu… bodoh. Hahhaha..
    Iyaaaa.. banget. Coba gini. Kamu percaya banget sama seseorang tapi dia eek banget ngekhianati kepercayaan kamu itu. Semisal emang buat kebaikan kita toh kita bakal tetep ngerasa sakit hati.

    Duh Reven.. banyak yang pengen nonjok dia kayaknya 🙁

    Soalnya bebal banget sih

  13. aku nangis baca ini, beneran aku nangis. Maaf bukan bermaksud hiperbola, tapi itu kenyataannya. Huaaa jahat bangettt deh, dan jujur kepo banget nih sama ceritanya. ditunggu next chap yaaa

  14. Ceita apaan thor? Bule jg boleh thor wkwkwk

    Nah itu yang bikin rasanya pengen nonjok!!! Sotoy banget kan jd orang, mencintai lalu dikhianati itu sakittttt banget:( walaupun ada alesannya atau demi kebaikan tetep aja sakit ih! Reven oneng bangettt-_-
    Tapi nonjok Reven ga tega jg yak, nanti muka gantengnya begimana? Kayaknya banyak yg pengen nonjok yak? Bisa2 babak belur die nanti hahaha

    Bagus kok thor aku selalu suka tulisan kamu, ga lebay gt hehe keren deh pokoknya!

    tuh kan udah adaaaaa, ahhh bocoran dong penasaran nihh hehehe:p yahh masih lama dong yah? Apa ga bisa minggu ini thor? *Maksa wkwkw

  15. hmm, langkah berikutny adl gmn carany mencuri laptop author yg katany udh update RU smpai jauh, -_-
    rena bilang "kau akan menyesal melakukan ini!" berarti rena nanti bakalan jd canggih bgt secara dy punya darah penyihir, kn blm ketahuan kekuatan special dy ap, ky bella d twilight, y kn, y kn
    tgu aj reven, kamu pasti bkl nyesel bgt
    tp, kl bsa updateny jgn lama2 thor, kl d lihat2 dr alur ceritany kyny panjang bgt,
    lagian kl winter gtu, enakny dlm rumah minum coklat panas d dpn perapian smbl update RU deh (he he modus)
    maaf y jd curhat :p
    tp aku yakin bnyk kok silent reader yg nunggu bgt cerita ini, meskipun mrka jrg comment

  16. Cerita ini tuh udah jadi candu buat aku jadi nggak mungkin aku tinggalin secara kalo udah ada updateannya nih senengnya bukan main deh..soalnya tiap part selalu ngena dihati dan tak mudah untuk dilupakan..selalu terbayang difikiran..dan selalu menerka2 apa yg akan terjadi selanjutnya ..

  17. Dah lama gk keliatan…cerita nya nyesek bnget sih kak…duh.knpa rena msti tdur lama?q ykn pasti ada alasan nya tuh si raven gt..tp..tp…gk tega bnget dperlakukan gt..iya kak q stju sma kment diatas,sherena gk ada kekuatan sesuatukah??tuh si viktoria bs ngeluarin perak kan ya…mbok ya dksh gt.btw,dtnggu bnget kak..dan jgn lama2.hehe

  18. penasaran banget sama kelanjutannya .. postingnya jangan lama2 dong, seenggaknya satu minggu sekali
    #penasaran… penasaran binggo

  19. Astaga!!!!! Jht bgt deh reven! Gamau tau, reven harus nyesel senyeselnya ka! Dih ga mikir perasaan rena begimana 🙁 rena ntar kalo bangun, harus jahat juga ya sm reven biar impas! Hwhw. Btw, aku baru buka blog ini setelah sekian lama siap baca HV, eh taunya nemu sequel HV. Ceritanya buat greget ya ka, gemesin revennya pgn ditabok pake mobil 🙂 Fast update ya kaaa, nunggu bgt niiiii. Ohya, have fun di Jerman yah! :p

  20. Delete victoria eh?
    Ada apa disebalik ini? Reven diapain sih. Terlalu cinta ga mau nyakitin rena tapi koq gitu sikapnya. Rena ayo bangkit.

    Lg musim dingin byk minum jahe wangi mbak buat hangatin body.

    Kangen berat ma malaikat hujan n xexa. Moga cepat di updet

  21. Kesal banget sama tindakan reven. Dengar ya reven belum tentu apa yg kita anggap benar dan baik dimata kita dianggap benar dan baik di mata orang..
    Huffttt reven nya ngeselin…

    Rena yang sabar ya… reven itu sebenarnya masih cinta kok sama mu. Cuman caranya aja yg dalah dalam menyelesaikan masalah..

    Author nanya dong rena nya bisa hamil gk ya?? Kan keren aja gitu tau2 rena hamil dalam tidur nya yg panjang terus revennya gk tau..
    Semangat author lanjlanjutinnya…

  22. Reven jahatttt,
    rena ayo kita cr mate baru. Trs bales deh apa yg reven buat ke kamu. Biar dy ngerasain sakitnya. Nyesel baru tahu rasa tu s reven

  23. huueeh abang even jahat, tapi nasib sherena kekk gini amat yaa,,, ya udahlah ditunggu net pov revennya, author makin keren nulis kesini chapternya,,,,

  24. Salam kenal.. suka dengan tulisan half vampirenya..cara menulis dan alurnya..sulit ditebak..bikin mikir waktu bacanya.. "ini kira2 apa ya..ini bakal gmn ya".. baru mulai baca kemarin..belain2 sampai jam 3 pagi..kyaknya bakal menjadikan blog ini masuk dlm list bookmark ^_^..semangat kakak

  25. hai kak author..suka banget sama karyanya kakak..kapan ni lanjut lagi nulisnya?? penasaran stadium akut ni sama kelanjutannya remember us sama another story.Ditunggu ka..salam kenal

  26. Ya ampun ka aku ketinggalan bgt kayaknya , soalnya baru tau klo HV itu ada skuelnya itu juga tau dr temen aku
    Salah satu cerita fiction favorite aku
    Hua baru baca be berapa part tapi udh mewek terus T_T
    The best pokoknya buat author 😀

  27. ya ampun aku superrr telattt
    iseng buka wattpad trus liat ada sekuel hv dan langsung hebohhhh… langsung baca dan langsung baperr.. bisa langsung dibikin nyesekkk bangetttt… thankksss banget kak ceritanya luarr biasa dan suka bangetttt

Leave a Reply

Your email address will not be published.