Remember Us – Dendam yang Menuntut Pembalasan

Halooo semuanya.. seperti janjiku sebelumnya. Aku datang di sabtu malam. Eitts.. di sini masih jam sepuluh malam jadi aku menepatinya sekarang. Sabtu malam dan new chapter RU nongol di sini.

*kabuuurrr*

Hei heii.. aku tahu aku harusnya memberikan chapter ini minggu lalu. Tapi sungguh, aku sedang ngga enak badan minggu lalu. PMS, mood yang ngga karu-karuan dan migrain. Hore banget pokoknya jadi.. Astaga astaga.. kurasa kalian tidak ingin mendengarku mengoceh semakin tidak jelas. Baiklah baiklah.. selamat membaca dan maafkan aku.

Ketjup,

@amouraXexa

***

“Kau baik-baik saja?”

Ed menyentuh bahuku dan menguncangnya dengan keras. Tepat ketika aku mendongak, pandanganku mengabur. Aku mengerjap cepat dan menemukan Ed yang tengah memandangiku dengan tidak mengerti. Namun aku tak memberi Ed waktu untuk bertanya lagi karena aku segera menampik tangannya dari bahuku. Tanpa memandang Ed, aku bangkit dengan cepat dan berlari keluar dari kastil ini.

Berlari sejauh aku bisa. Berlari meskipun kepalaku berdenyut begitu menyakitkan. Berharap aku bisa melenyapkan semua rasa sakitku. Aku tidak tahu dimana aku berada ketika mendadak aku merasakan sinar matahari mengenai lenganku. Aku menjerit keras dan segera mencari tempat perlindungan. Sebuah gua liar yang kotor dan berada tak jauh dari tempatku berada akhirnya menjadi satu-satunya pilihan tercepat.

Duduk di mulut gua dengan kepala bersandar pada dinding gua yang dingin, semua ingatan yang kembali, menyerang kepalaku lagi. Aku merasakan segala jenis rasa sakit dalam waktu bersamaan. Kepalaku semakin berdenyut-denyut mematikan dan aku bisa melihat tanganku gemetar. Tapi lebih daripada itu, aku merasakan semua pusat rasa sakit itu. Perlahan, aku menekan dadaku kuat-kuat.

Pergilah.. pergilah dan jangan kembali. Aku tidak membutuhkan semua rasa sakit ini, bisikku lirih.

Tapi semua ingatan itu semakin terasa nyata dan ada. Membentuk sendiri susunan dari kepingan-kepingan yang hilang menjadi sebuah masa lalu yang utuh seolah memang semua itu terjadi kemarin. Aku menangis terisak-isak sendirian. Tidak sanggup menerima semuanya. Ada rasa sakit asing yang mengerogoti jiwaku. Ada tangan tak kasat mata yang seolah meninju-ninju tepat ke dadaku berulang-ulang hingga sulit bagiku sekedar berpura-pura mengambil nafas.

Aku melihat wajah Ar. Aku melihat wajah ibu. Aku melihat wajah Dev. Aku  melihat wajah Morgan. Bahkan wajah Rosse dan Lyra. Mereka semua tersenyum tapi aku justru merasakan kemarahan yang luar biasa besar di dalam diriku. Aku berdiri dengan cepat, meraih batu besar di sampingku dan melemparkannya dengan sekuat tenaga ke luar gua. Sebuah pohon besar langsung ambruk terkena lemparanku dan aku menjerit sekeras-kerasnya. Meremas dadaku dan jatuh ambruk ke bawah dengan airmata membanjir. Satu wajah menghantuiku dengan pasti.

“Reven..” isakku tertahan.

Hanya satu nama dan itu mewakili semuanya. Semua rasa sakit dan perasaan aneh yang terasa mengerogoti semua batas yang kumiliki. Segala yang dulu terjadi diantara kami berlarian di depan mataku. Reven yang menyeretku dengan kasar ketika menemukanku yang sedang berusaha kabur dari kastil utama. Reven yang selalu memandangiku dengan marah dan benci. Semua perkataan kejam Reven tentang betapa tidak pantasnya aku mengantikan Noura.

Lalu perasaanku yang entah bagaimana berubah pada Reven. Keikutcampuran jiwa Noura. Hingga pada ciuman pertama kami yang kasar. Ciuman yang datang karena rasa sedih dan bersalahku karena kematian Dev. Pun darah pertama yang kucecap ketika aku menjadi vampir secara utuh juga miliknya.

Segala yang pertama diantara aku dan Reven. Sebuah pelukan yang tulus dari Reven ketika kami berada di rumahku dalam perjalanan mencari Ar. Pelukan yang beraroma kenangan Noura.

Aku bergerung makin keras dalam ketidakberdayaan menerima kenyataan yang ada. Menangis dengan separuh menjerit dan meraup tanah di sekitarku dengan garukan tangan yang dalam. Aku merasakan semuanya menghabisi kekuatanku perlahan. Semua yang terjadi di masa lalu dan semua yang terjadi saat ini.

Tubuhku gemetar dengan hebat. Ketakutan itu datang dengan ingatan yang lain. Aku yang berteriak panik. Aku yang memohon-mohon pada Venice untuk menyelamatkan Reven yang sekarat setelah bertarung dengan Vlad. Aku yang untuk pertama kalinya dalam hidupku, sadar benar tentang arti keberadaan seorang Reven bagi kehidupanku. Dimana ketika itu, aku menangis memeluknya erat. Terlalu erat. Sampai pada waktu ketika kubagi darahku pada Reven untuk membuatnya tetap hidup dan bertahan, hanya ada dia dalam pikiranku.

Segala yang hilang dan kembali. Segala yang menuntut tempatnya.

Buku-buku jariku tergenggam kaku, dan kuku-kuku jariku kotor oleh tanah tapi aku tak peduli. Aku masih dalam posisi yang sama. Merosot dan bersimpuh jatuh. Perasaan tersiksa selama tiga tahun yang dulu datang sekali lagi. Menyiksaku kembali dan aku hanya bisa menangis. Tak pernah kuharapkan aku akan merasakan rasa sepi dan rindu ini lagi. Tapi segalanya nyata. Hidup yang tak hidup.

Tiga tahun bertahan. Tiga tahun melarikan diri dan mencoba untuk mengenyahkan kenyataan bahwa aku telah jatuh cinta pada Reven yang sama sekali tak bisa melupakan Noura. Tiga tahun berusaha keras dan aku akhirnya tahu aku tak bisa. Tapi perasaan bahagia yang datang setelah Reven membawaku kembali dan mengikrarkan perasaannya padaku tak akan sebanding dengan kebencian dan amarahku yang mengebu setelah ingatan hari-hari selanjutnya berputar pelan di kepalaku.

Perasaan cinta. Kebersamaan belasan tahun. Apa yang sudah kami bagi bersama. Rasa sedih, duka dan kemarahan yang kami rasakan berdua. Amarah pada para slayer yang menghancurkan rumah kami. Rasa percayaku padanya. Segalanya luruh dengan cepat.

Satu tindakan dan Reven menegaskan apa diriku sebenarnya di matanya. Satu keputusan dan dia memberiku batas jelas seperti apa patutnya aku. Aku mengangkat wajahku. Airmata itu masih jatuh tanpa aku bisa mengontrolnya. Tapi aku tak sedikitpun memedulikan hal tersebut. Dadaku seolah terbakar. Dan suara-suara pecakapan itu berdengung menyakitkan telingaku.

“Aku tidak ingin menjadi lemah ketika aku harus melindungi kelompokku.”

“Apa kau pikir aku membuatmu lemah?”

“Ya.”

Ya.

Satu kata. Singkat saja. Dan aku tahu bahwa Reven dan Vlad sama sekali tak berbeda. Yang satu bangkit untuk mengantikan yang mati. Hati dingin yang sama. Suaraku yang memohon padanya. Tatapanku yang meminta belas kasihannya. Hingga kemarahanku pada mata angkuhnya yang bersorot tanpa keraguan.

“Aku mencintaimu.”

Bahkan kalimat itu tak menimbulkan perasaan apapun lagi padanya. Matanya tetap memandangku dingin dan dia tak menghentikan apa yang tengah dilakukannya. Aku tertawa dalam airmataku yang berderai. Mengasihani diriku sendiri. Bagaimana bisa aku sebodoh itu selama ini?

“Bahkan jika Victoria benar, aku akan melakukan segala cara untuk bisa menemukan jalan kembali padamu. Aku tidak akan pernah meninggalkanmu sendirian di dunia ini. Tidak akan pernah.”

Omong kosong.

“Aku akan selalu menemukan jalan kembali kepadamu.”

Dan tubuh Lucia yang menempel erat pada tubuh Reven ketika dia menatapku yang datang kembali padanya setelah tiga ratus tahun berlalu, menghantamku kuat. Mata itu kembali seperti awal. Kembali seperti yang memang seharusnya. Dia tidak mempedulikanku. Aku tak pernah berarti baginya. Memangnya apa yang kau harapkan, Rena?, bagian lain dari diriku mengutukku keras.

Aku masih bisa merasakan tubuhku yang gemetar ketika kuangkat kepalaku makin tinggi. Mendongak menatap cahaya matahari di luar sana. Amarah menguasaiku dan aku merasakan segalanya mencapai apa yang disebut batas akhir.

Mataku memandang dengan tajam. Kelopak mataku membesar dan bibirku bergetar pelan tapi aku bisa merasakan semua sisa kekuatan yang ada di samping kekuatan lain yang samar mengelayutiku.

“Kau akan menyesal melakukan ini.” mulutku mendesiskan kalimat yang sama. Kalimat yang juga kuucapkan pada Reven tepat setelah darahnya membasahi wajahku sebelum semua ritual yang dilakukannya dengan Victoria selesai.

Dan aku mengucapkannya lagi. Penuh tekad dan dikuasai dendam. Dan semua sisa perasaan cinta yang ada, lenyap bersamaan dengan datangnya rasa sakit ini.

***

“Darimana saja kau?”

Ed berdiri di depan pintu utama kastil ketika aku berjalan pelan mendekat ke arahnya.

Sudut bibirku tertarik sedikit dan aku memandangnya lama. Kening Ed berkerut dan aku bisa membaca apa yang ada di dalam pikirannya. Aku mengerjap. Menyadari hal tersebut namun wajah terkejutku tersembunyi dengan rapat.

“Ada apa Ed?” tanyaku ramah alih-alih menertawakan isi kepalanya yang ternyata tidak sebebal ucapannya.

Ed memandangiku dengan aneh. Seolah dia sedang memindai apakah aku memang baik-baik saja atau tidak. Tapi aku hanya menampilkan wajahku yang biasa padanya. Butuh beberapa detik lain sampai akhirnya dia memutuskan untuk tidak mengungkapkan apa yang ada di kepalanya. Tapi aku bisa mendengarnya dengan jelas. Isi kepalanya dan bahkan sesuatu lain yang disembunyikannya.

Mataku memicing, menyadari bahwa aku akhirnya mendapatkannya. Berkat istimewa yang kadang kala memang dimiliki para vampir. Kurasa aku seperti Dev, yang bisa membaca isi kepala manusia. Kurasa tidak buruk juga daripada aku yang sebelumnya, sama sekali tidak memiliki keistimewaan apa-apa.

“Bisakah kau membawaku kembali ke kediaman Finn?”

“Apa?”

Ed menarik nafas panjang, “Aku harus kembali ke sana. Aku harus menyelasaikan urusanku di sana. Selain itu, semua tentang keluargaku—“ dia diam, wajahnya bingung, dan aku menepuk pundaknya pelan.

“Aku ingin melakukannya, Ed. Tapi aku tidak bisa. Masih ada hal lain yang harus kuselesaikan di sini.” ucapku padanya. Kuharap Ed tidak akan menyadari betapa ujung jariku gemetar ketika aku mengucapkan itu. Seluruh emosiku masih belum stabil dan aku tidak ingin menyeret Ed terlibat di dalam sini. Aku berniat membawanya kembali ke desanya sebagai ucapan terima kasihku untuk segala yang dia lakukan untukku selama ini. Meskipun itu tidak banyak.

“Kalau begitu aku akan pergi sendiri dari sini.”

“Kau tidak akan pergi dari sini.”

Aku melihat si pemilik suara yang mengatakan kalimat tersebut dari balik bahu Ed. Aku menekan perasaanku kuat-kuat ketika Lucia berjalan mendekat ke arah kami. Mataku terfokus padanya dan aku sama sekali tidak memedulikan Ed yang menatap penuh kekaguman pada sosok sempurna Lucia.

Rambut Lucia yang pirang jatuh sempurna sampai ke pinggangnya dan berayun pelan seirama dengan langkah kakinya. Ed masih menatap Lucia seperti laki-laki bodoh sementara aku berusaha dengan keras untuk tidak maju dan menyerangnya. Merusak wajah penuh kepalsuan itu.

“Kau tidak diizinkan meninggalkan tempat ini, manusia.” ucap Lucia sekali lagi. Lalu dia beralih padaku dan tatapan mata tajamnya mengurungku. Itu tatapan sama yang diberikannya padaku ketika pertama kali dulu dia memperingatkanku untuk menjauhi Reven. Sementara dia sendiri adalah pasangan dari Russel. Dan bahkan, kematian Russel sama sekali tidak mengubah perangainya. Apakah dulu, selama aku masih dengan Reven, dia memendam semuanya dan bersabar hingga tiba waktunya bertindak dan bisa memiliki Reven seutuhnya? Lucia sangat menjijikan.

“Dan kau Sherena, kau tidak punya kewenangan apapun untuk membiarkan makhluk ini pergi dari sini dan membiarkan dia mengatakan pada kaumnya tentang keberadaan kita.”

Aku tersenyum tipis, nyaris sinis, “Kau tidak akan bisa mengintimidasiku dengan tatapanmu itu, Lucia. Aku bukan lagi vampir lemah yang bisa kau gertak dengan mudahnya. Dan kuperingatkan padamu, kau..” aku menatapnya sangat tajam, “.. tidak punya hak apapun dalam kehidupanku. Jangan ikut campur dengan apa yang kulakukan atau aku akan membuatmu menyesal melakukannya.”

Lucia membelalak, “Kau.. bukankah kau—“

Tawaku menjadi satu-satunya suara selanjutnya, sementara Lucia masih memandangiku dengan tidak percaya.
“Sejak awal aku tahu kau sama sekali tidak pantas mendapat semua cinta dan kepercayaan Russel.”

Aku melihat dia mundur selangkah, “Victoria bilang kau—“

“Kehilangan ingatan?” aku mengangkat daguku, menantangnya, “Kau tidak perlu mencemaskan hal itu, Lucia. Satu-satunya yang perlu kau cemaskan adalah apa yang akan kau lakukan setelah ini. Sebab aku akan mengambil semua yang memang seharusnya menjadi milikku.”

Lucia menerjangku dengan cepat namun aku sudah siap. Dengan satu gerakan pasti aku mengalau serangannya dan meraih tangannya. Lalu menyentakkannya dengan kuat sampai dia melayang jatuh beberapa meter dariku. Aku bergerak cepat, dan langsung mencengkeram lehernya ketika dia sedang berusaha untuk bangun dan mengatasi keterjutannya akan kemampuanku.

Aku mencengkeram leher Lucia begitu erat dan semua kemarahanku menjadi satu-satunya hal yang menguasaiku. Aku sudah pasti akan meremukkan leher Lucia dan melepas kepalanya dari lehernya jika saja tidak ada sosok lain yang mendorongku kuat menjauh hingga tanganku terlepas dari leher Lucia.

“Apa yang kau lakukan, Rena?”

Damis berteriak keras padaku. Aku yang terjatuh duduk, menatap Damis dengan  marah. Sedetik kemudian aku seolah mendapatkan kembali kesadaranku. Apa yang baru saja kulakukan?

Aku menoleh pada Lucia yang tersengal-sengal dan memandangiku dengan tatapan terkejut, takut dan mungkin juga marah. Tapi aku sendiri, aku bahkan seolah kehilangan akalku ketika melakukannya. Satu-satunya hal yang ada di dalam kepalaku sebelumnya hanya membunuhnya. Melenyapkan Lucia.

Aku berdiri dengan cepat, tidak mampu mengatakan apapun dan kembali berbalik pergi ke arah hutan. Aku bisa mendengar Ed yang tergopoh berlari mengikutiku. Aku memang sengaja berjalan dalam kecepatan manusia karena aku butuh mengontrol semua kemarahanku. Rasa sakit, dendam, segala hal negatif yang seolah memenuhi semua ruang di dalam kepalaku.

“Kau hampir membunuhnya.” ucap Ed begitu aku berhenti dan kami sudah berada di tengah-tengah hutan.

Kepalaku memutar memandang Ed, terkejut menyadari dia masih di sini. Kupikir Ed pada akhirnya akan mengambil jalan lain dan pergi menjauh dariku. Setelah melihat apa yang kulakukan pada Lucia, aku bahkan tidak berminat membaca apa isi kepalanya.

Aku mendesah, menyandarkan tubuhku pada batang pohon di belakangku dan duduk dengan tenang. Ed masih berdiri di depanku. Mengamatiku sebelum akhirnya dia juga duduk di atas akar pohon yang ada di dekatku.

“Kau hampir membunuh perempuan cantik itu.” ulangnya lagi.

“Aku tahu,” jawabku singkat tanpa memandang Ed.

“Apakah dia juga vampir?” tanyanya hati-hati.

“Semua yang ada di kastil itu adalah vampir, Ed.” aku berusaha bersabar. Menjawab semua pertanyaan tidak penting yang dilontarkannya.

Aku bersyukur Ed tidak mengatakan apapun lagi karena dia sepertinya sibuk dengan pikirannya sendiri. Sementara aku juga butuh untu menenangkan diriku. Ini salah, rutukku berkali-kali. Bukan seperti ini yang kuinginkan. Aku tidak berpikir bahwa aku ingin membunuh Lucia. Jika memang aku ingin membunuh seseorang, maka satu-satunya yang pantas mati hanya Reven. Aku tidak menolak mengakui jika aku memang membenci Lucia, namun tidak seharusnya hanya karena aku tidak menyukainya dan memiliki sejarah lama yang buruk dengannya, aku bisa semudah itu membunuhnya.

Selain itu…

Aku mengangkat tanganku dan menatapnya. Kekuatan apa itu tadi? Aku tidak menyangka jika aku sanggup bertarung seperti itu dengan Lucia. Dan bahkan, aku sanggup membunuhnya dalam waktu kurang dari tujuh detik. Jika saja Damis tidak muncul, mungkin sekarang bukannya berada di hutan ini namun aku mungkin justru ada di depan kastil dan memandangi abu Lucia. Namun entah mengapa, seandainya itu memang terjadi, aku tahu aku tidak akan merasa menyesal. Aku menarik nafas panjang, tidak tahu apa yang sebenarnya sedang terjadi sekarang. Pada diriku utamanya.

“Yang tadi itu mengerikan.”

Aku menoleh dan ternyata Ed sedang mengamatiku dengan tajam. Aku tidak tahu sejak kapan dia menatapku seperti itu.

“Apa maksudmu?”

“Apakah kau melihat bagaimana wajahmu ketika kau nyaris membunuh perempuan cantik itu?”

Dahiku berkerut dalam, aku memandang Ed tidak mengerti. Dia menggeleng.

“Kau terlihat mengerikan, Sherena,” ucapnya pelan, “Iris matamu, entah aku yang salah lihat atau apa, berubah menjadi merah pekat. Dan kau—” dia diam lagi, nampak ragu, “Kau terlihat senang. Kau tersenyum. Senyum yang membuatmu semakin terlihat mengerikan. Kau seolah—“

“Aku tahu,” kataku akhirnya. Kepala Ed sudah meneriakkan semuanya dan aku mendengar meskipun mulutnya belum atau mungkin tidak akan berujar semuanya.

“Apa yang terjadi di tangga kastil sebelumnya?”

Mataku terpejam dan aku menarik nafas, “Aku mengingat semuanya.” ujarku pelan.

Aku tidak menatap ekspresi Ed. Namun dari suara di kepalanya, aku mendengar betapa terkejut dan bingungnya dia pada situasi ini. Aku tidak menyalahkan Ed. Dia tidak seharusnya terlibat dengan ini semua. Dia hanya manusia yang sayangnya bertemu denganku setelah manusia lain membangunkanku tanpa sengaja. Atau mungkin seperti itu. Sebab jika mengingat apa yang dikatakan Finn tentang sejarah keluarga Ed. Ada sebagian dari diriku yang juga ingin melenyapkan.

Dia adalah keturunan Elior.

Tapi aku tidak bisa melakukan tindakan bodoh. Bukan salah Ed atau bahkan juga bukan keinginannya untuk terlahir dalam keluarga pengkhianat seperti Elior. Aku mungkin sudah nyaris gila karena semua amarah dan rasa tidak terima yang membuncah tak terkontrol dalam diriku. Tapi aku masih jelas bisa membedakan apa yang seharusnya dan tidak seharusnya kulakukan. Nyaris membunuh Lucia adalah pengecualian. Karena kurasa Lucia memang patut menerimanya. Setelah apa yang dia lakukan di belakang Russel, terlebih setelah dia merebut Reven dariku selama aku tertidur. Atau mungkin bagian terakhir harus kukoreksi karena aku tahu bahwa bukan hanya Lucia yang berperan dalam hal ini. Jika Reven juga tidak membuka lebar tangannya untuk Lucia, Lucia juga tidak akan punya kesempatan.
Mereka berdua memang pantas bersama. Beruntung Russel tidak perlu melihat semua hal menjijikan ini. Reven dan Lucia, dua makhluk itu akan sangat pas bersanding dengan semua wajah dan perasaan palsu mereka. Dua orang yang paling pantas untuk mati.

“Kau melakukannya lagi.”

Aku nyaris terlonjak. Lupa jika Ed masih di sampingku dan aku malah sibuk berkelana dengan pikiranku sendiri.

“Kau melakukannya lagi,” ulang Ed, “Ekspresi itu.”

Kuusap wajahku dengan lelah. Aku tidak ingin mengatakan dan menjelaskan apapun pada Ed. Dia tidak akan terlibat lebih jauh lagi dengan semua masalah ini. Aku bangkit, memandang Ed dengan fokus.

“Apa kau ingin kembali ke desa tempat tinggalmu, Ed? Aku bisa mengantarmu pergi sekarang. Kurasa akan berbahaya jika kau tinggal di sini.”

Ed melompat bangkit dan menatapku dengan kesal, “Kau pikir aku mau kembali ke desa itu lagi setelah semua ini?” Dia menggeleng, “Jika ada satu tempat yang akan aku tuju, maka itu adalah kastil Raja Pettied. Aku akan membersihkan nama keluargaku dan membawa keluargaku keluar dari penjara bawah tanah. Lalu menyingkirkan semua keluarga Cllarigh dari kerajaan dan menendang mereka keluar dari kemewahan dan nama besar mereka. Sama seperti yang mereka lakukan padaku dan pada keluargaku.”

Aku mengeram marah, maju selangkah ke arah Ed hingga jarak yang tersisa diantara wajah kami tak sampai dua jengkal tangan.

“Kuberi tahu padamu, Ed. Aku memang tak tahu apa yang sesungguhnya terjadi pada keluargamu. Tapi jika kau berani menyakiti keturunan Morgan. Aku akan membunuhmu sekarang. Aku berhutang banyak pada Morgan dan aku tidak akan pernah membiarkan keturunan Elior menghabisi keturunan Morgan seperti yang dia lakukan dulu. Ingat itu.” ancamku dengan geraman rendah.

Ed menelan ludah. Aku tahu seluruh isi kepalanya mengabarkan ketakutan padaku. Tapi bukan itu sekarang fokusku, sebab aku merasakan kehadiran makhluk lain. Aku menoleh ke belakang dan menemukan Damis yang berdiri dengan tubuh tegang menatap ke arah kami.

“Keturunan Elior?”

Suara Damis begitu pelan. Namun aku bisa mendengarnya dengan jelas. Ekspresinya kelam dan iris itu sudah tidak biru lagi. Melainkan hitam gelap. Terlalu gelap dan aku merasakan sesuatu yang buruk akan menimpa Ed. Dan belum sempat aku mengantisipasi semuanya. Damis sudah menerjang ke arahku, membuatku terjatuh dan dia meraih Ed dengan cepat.

“Apakah kau keturunan dari Elior Ritter?” geramnya rendah.

“Damis,” aku mencoba melepaskan tangannya yang mencekik leher Ed. Ed bahkan sudah menendang-nendang dengan putus asa. Aku melihat bagaimana Damis memandang Ed. Auranya mengerikan dan aku mendadak mengerti seperti apa yang dirasakan oleh Ed ketika dia melihatku hampir membunuh Lucia.

Tapi Damis menyingkirkan tanganku dengan kasar. Dia menjatuhkan Ed yang sudah nyaris kehabisan nafas. Mata gelapnya beralih memandangku.

“Aku tidak tahu apa maksudmu dengan dia berniat membunuh keturunan Morgan Freesel. Namun jika manusia ini memang keturunan dari Elior, kau atau siapapun, tak akan bisa menghentikanku untuk membunuhnya.”

Aku baru akan mengucapkan sesuatu ketika suara Ed membuat kami berdua menatapnya. Ed sudah berdiri dengan sebuah belati di tangannya. Aku bahkan tak menyadari dia masih memiliki senjata lain tersembunyi di tubuhnya. Itu bukan belati perak sehingga jelas tidak terasakan olehku.

Ed mengarahkan belati itu tepat ke depan Damis, “Aku tidak tahu apa masalahmu dengan nenek moyangku. Tapi ya, aku memang keturunan dari Elior Ritter. Tepatnya dari salah satu anaknya yang bernama Jared Ritter dan—“

Aku mengalihkan pandanganku ketika darah Ed menciprat ke arahku. Sepersekian detik dan Damis sudah meraih belati Ed. Menikamnya tepat ke tubuh Ed sebelum akhirnya dia membuat tubuh Ed terbelah dengan kekuatannya. Aku bahkan tidak sanggup mengatakan apapun.

Damis berdiri di depan tubuh Ed yang sudah tidak berbentuk dengan darah manusia Ed terciprat nyaris di semua tubuhnya. Tapi mata itu tak berkedip. Tak ada emosi dan terlihat mati.

“Untuk Lyra,” bisiknya.

***

Aku memohon pada Damis untuk membiarkanku menguburkan tubuh Ed dan dia mengizinkanku melakukannya karena kukatakan padanya bahwa Ed berjasa membantuku hingga aku bisa bertemu dengannya.

Selama aku menguburkan tubuh Ed, Damis hanya berdiri tak jauh dariku. Memandangiku tanpa mengatakan apapun. Aku menancapkan kayu kering di atas gundukan makam Ed dan memandangi tempat itu cukup lama. Ada sedikit penyesalan di dalam diriku karena aku seharusnya bisa menghentikan Damis agar tidak membunuh Ed. Meski tidak lama mengenalnya, aku tahu bahwa Ed tidak seburuk Elior atau pendahulunya yang lain.

Tapi semuanya terjadi terlalu cepat bahkan untukku. Bahkan jika aku sanggup menahan Damis, aku tetap akan melihat Ed mati karena belati itu ditancapkan Damis tepat di jantung Ed. Mungkin aku bisa menghindarkan agar jasad Ed tidak terlalu semengerikan tadi, namun keterkejutanku melihat Damis menikam Ed membuatku kalah lagi beberapa detik dan hasilnya tubuh Ed sudah terpisah seperti tadi. Aku bahkan masih bisa mencium sisa darah Ed dengan kuat di tempat ini. Terlebih pada tubuh Damis. Aku menghela nafas. Berbalik perlahan dan memandang Damis.

“Kau seharusnya tidak membunuhnya.” ucapku pelan.

Dia menatapku tanpa ekspresi, “Kau mungkin mengingat Lyra. Tapi entah seberapa banyak dan—“

“Aku sudah mengingat semuanya Damis.” potongku cepat dan aku bisa melihat matanya yang membelalak menatapku. Aku maju ke arahnya dan berhenti tepat di depannya. Aku tidak tahu kenapa, tapi aku tidak bisa marah pada Damis meskipun dia sudah membunuh Ed. Jika aku harus bertengkar dengan Damis hanya demi Ed, itu tidak akan sebanding dengan semua yang telah terjadi antara aku dan Damis sebelumnya. Damis jauh lebih berharga ribuan kali lipat dari seorang Edred Ritter. Lagipula aku mengerti alasan Damis. Aku paham benar. Sebab jika mengingat semuanya. Aku tahu sebesar apa penderitaan yang dirasakan oleh Damis.

Suara tawa Lyra Corbis, gerutuannya dan wajahnya yang kadang riang menyelinap dalam kepalaku. Lalu semua gambar bahagia itu digantikan oleh tubuh mengerikan Lyra yang sekarat dalam pelukanku di ruang penjara kastil manusia ketika itu.

“Dia di sana. Sama terantai sepertiku. Sama seperti semua yang lain. Dia menderita lebih daripada yang kurasakan, Rena. Aku bisa melihatnya. Dan aku tidak ingin dia merasakan lebih dari itu. Buatlah dia menggenangku dengan indah. Aku berusaha tidak terlihat tersiksa. Aku berusaha tidak berteriak. Tidak menjerit. Tapi itu sulit sekali. Perak sialan ini benar-benar membuatku kesakitan. Dan dalam setiap jeritanku, aku tahu aku menyiksa Damis. Tapi aku tidak bisa melakukan apapun untuk membuat ini terasa lebih baik. Tidak untukku, tidak untuk Damis.”

Aku tidak tahu kenapa, namun ingatan itu terasa berat bagiku. Terlebih jika Damis tahu seperti apa keadaan Lyra sebelum kematian mendatanginya. Mungkin ada baiknya aku memang tidak menceritakan perihal ini padanya dan menyimpan sendiri semuanya. Juga janjiku pada Lyra untuk tetap hidup dan membalas semuanya.

Mendadak saja, aku meraih tubuh Damis dan memeluknya erat. Mengabaikan sisa darah Ed yang menempel di tubuhnya. Tanganku mendekap Damis. Merasa terluka untuknya dan merasa iri pada betapa besar dia berjuang untuk membalas kematian belahan jiwanya. Sementara aku, belahan jiwaku sendiri yang menyingkirkanku.

Belahan jiwa?

Aku menggeleng, dan menenggelamkan wajahku pada dada Damis. Aku bahkan tidak dapat merasakan apapun selain luka, dendam, amarah dan rasa sakit sekarang. Belahan jiwa? Aku sudah tidak percaya pada ikatan itu.

Mau Baca Lainnya?

21 Comments

  1. Asyiik kekuatan baru Rena mulai muncul,Damis pakek acara muncul segala biar aja Lucia di balas sama Rena.Tinggal lihat gimana entar Victoria sama Reven tahu semua itu.Ayo Rena kasih pelajaran Reven sama Lucia.Kasihan Ed juga sih sebenernya,tapi Damis juga tersakiti kehilangan Lyra,

    (Puput_Kiki)

  2. yeaay akhirx update jg, kekuatan rena keren thor. Tp sempat nyesel kok ed dbiarkan mati, q kira setelah rena bangkit lg ia bakal suka ma ed n ngelupain reven. Biar rasa tu reven gmn rasax kehilangan rena, emangx cuman reven doang yg bisa selingkuh ma lucia, rena jg bisa kali. Tp hiks………..hiks……. harapanku sirna pas ed mati

  3. Wow rena kau kau keren! oke saat nya ajak reven berkelai jambak jambak an! Ya ampun rena punya kekuatan sama kayak dev bahkan dia kuat sekali tapi kenapa red mati kasian kan tapi biarlah biar rena sama damis kan sama2 sendiri biar reven Kejer2!!

  4. Lama gak update RU terlupakan gara2 kesibukan masuk kuliah. Pas masuk udah ada 3 bab baru. Gemes2 sebel sama si reven sampe pengen bantai muka datarnya. Ayo rena kamu bisa! Masa kamu terus yg ngarepin reven. Gantian dong biar tau rasa dia. Hahahaaa….
    Kak, next chapter jangan lama2 dong, masih kangen *ngelunjak lol. Tapi gapapalah yang penting update terus, daripada hiatus

  5. Oh, itu kekuatan baru rena,, hmm.. bisa baca pikiran dan kemampuan super, lucia pasti lsg ngibrit, nyari reven n ngadu, biar victoria sama reven tw rasa.. giliran dulu aj disingkirin, skrg pas butuh, minta bntuan tp maksa, rena diremehin bgt.:-(, apakah mgkn RU diupdate dlm waktu dekat? (Puppy eyes)

  6. Emosinya polllll hahahahhaha
    Baru muncul langsung metong, tak kukira berakhir begitu saja hidupnya…
    Aku agak merasa sedih karena hati Rena sepertinya dikuasai oleh dendam dan amarah 🙁

  7. huwaaaa rena jadi se marah it dan jadi kuat, hampir bunuh luccy, ya ampun swdihh ed harus pergi, dia kan nolong rena juga, kalo ingt partnya lyra itu nyeseknya luar biassa bisa, kejadian itu kalo diinget bisa buat mata berkabut huwaa….apa revan udh ingt juga?? rena marah beaar kayaknya…ditunggu kelanjutannya..makash

  8. Rena sama damis aja kak wkwkwk 😀 aku udh bete sama revan-___- karna alasan dia bikin rena tidur, belom bisa aku terima kak. Dan awalnya emg aku lebih senang rena sama dev. Nah skrg sama damis aja. Si damis juga jomblo 😀

  9. Ooooooo noooo si ed mati??are you seriously??wait. . .gk guna jg c hehehe.rena dpt kekuatan luar biasa dr mn yak??btw revan harus di bunuh rena."amel ,ea g seru klw revan mt ntr gimna alur na??||oh iya2" (konflik batin) huft.lnjut

  10. kasian rena, orang" yg disayangi meninggalkannya termasuk belahan jiwanya yg menginginkan rena tetap hidup dgn mengorbankan perasaannya.
    rena memiliki kemampuan tetapi juga memiliki dendam. disitu saya merasa sedih.

  11. ayooo rena mau aku bantuin ga buat bales dendam sm reven .. #ketawasetan
    gasabar untuk chapt selanjutnya, gimana cara rena balas dendam dan seperti apa kekuatannya setelang tertidur panjang

    semangat untuk author buat lanjutin story nya dan semoga sukses dengan kuliahnya 🙂

Leave a Reply

Your email address will not be published.