Remember Us – Elegyar Foster

Apakah janjiku pada Noura masih berlaku? 

Aku masih bertanya-tanya tentang hal itu sepanjang waktu meski aku berusaha untuk mengenyahkannya. Aku, entah bagaimanapun berhutang cukup besar pada Noura. Dia menyelamatkanku, memberiku kehidupannya yang sialnya tidak bisa dikatakan mudah.

Dia meninggalkan hatinya, bayangannya dan sisa-sisa keberadaannya untuk kutempati. Bahkan setelah waktu demi waktu juga dunia yang berbeda, aku tidak bisa sepenuhnya berbangga hidup sebagai pengganti Noura. Namun aku tidak punya pilihan, bukan? Aku, sejujurnya saja, cukup berterima kasih padanya, meskipun aku juga berkali-kali memakinya. Dia, satu-satunya alasan kenapa aku bisa jatuh pada Reven, makhluk menyebalkan tidak tahu diri itu. Karena jiwanya yang kala itu bersemayam di dalam diriku menarikku dalam pesona Reven. Aku sering memikirkan apa jadinya jika aku sepenuhnya berada dalam kendaliku sendiri? Apakah aku akan tetap jatuh hati pada makhluk keras kepala itu?

Mungkin tidak. Mungkin aku akan tetap berada dalam kenyamanan dekapan seorang Deverend Corbis. Mungkin aku juga tidak akan pernah kehilangan dia. Mungkin saja..

“Apa yang dilakukan makhluk kegelapan sendirian di bawah terang bulan? Kurasa cahaya bulan tidak melahirkan kebahagiaan untuk jenismu.”

Aku menoleh terkejut. Menyadari bahwa aku tenggelam terlalu dalam dalam pikiranku sendiri sampai aku tidak menyadari kehadiran asing di dekatku. Kali ini mataku menyipit melihat sosok yang berjalan mendekat ke arahku.

“Aku pikir kau sudah pergi dari sini, tuan Elf dari Merendef.” Sahutku tanpa peduli apa yang diucapkannya sebelumnya.

“Namaku Elegyar Foster, nona.”

“Dan aku Rena. Kau bisa ingat itu.” Aku mencoba tersenyum tipis meski wajah Foster tidak terlihat terlalu bersahabat.

“Aku tidak pernah melihatmu sebelumnya… Rena.” Ucapnya menyebut namaku dengan hati-hati.

“Oh, kau memperhatikanku? Apa kau tertarik padaku?”

Aku tertawa melihat perubahan ekspresi di wajah Foster. Matanya menyipit aneh dan aku bisa melihat dia memandangiku seolah aku makhluk aneh. Aku tidak tahu bahwa para elf adalah makhluk yang sangat kaku dalam masalah ini.

“Makhluk kegelapan benar-benar tidak beretika.”

“Kau hanya tidak tahu bagaimana menikmati hidupmu saja.” Sahutku masih diantara tawaku, “Kau tidak akan sekaku itu jika kau sudah mengalami banyak hal sepertiku. Sedikit bermain-main dan menggoda makhluk tak ekspresif seperti kalian bisa sangat menyenangkan.”

Foster yang berhenti beberapa langkah dariku, masih menatapku dengan ekspresi merendahkanku, “Kurasa aku hidup lebih lama darimu dan kau tidak akan tahu apa saja yang sudah kulalui.”

“Begitulah?” Aku tidak peduli.

Dia mendengus mengejek, “Kesalahanku adalah menyapamu dan berpikir kau berbeda dari Trisha.”

Aku mengangkat kedua alisku, “Kami sama, Elegyar Foster.” Kedua tanganku terlipat ke dada dan berfokus menatapnya, “Apa tujuanmu berbicara denganku?”

“Kau bukan sepenuhnya makhluk kegelapan, bukan?” Dia sekali ini tersenyum, sialnya bukan jenis senyuman yang membuatku senang namun membuatku ingin melemparkannya dari ketinggian tebing ke jurang dalam.

“Ap–?”

“Aku mendengar kedatangan kembali kaum vampir yang dulu dibuang oleh Alzarox ke dunia lain.” Foster memotong ucapanku dengan cepat, “Dan ketika pertama kali melihatmu, aku tahu kau bagian dari kaum yang kembali itu. Hanya saja, kau terlihat berbeda. Seolah aku melihat sesuatu lain di dirimu.”

“Dan kau sudah menyadari sekarang bahwa tidak ada yang berbeda dariku, bukan?” Aku tersenyum sinis.

“Pada akhirnya kau sama.” Dia berkata pelan, “Kau, Trisha, Ritta dan makhluk kegelapan lainnya. Luca sudah mengotori hati kalian. Tapi aku masih melihat ada sisi lain di dirimu yang mungkin tidak akan bisa dilihat mereka.”

Ada jeda yang lama sebelum Foster kembali membuka mulutnya, “Kau juga seorang penyihir.”

Tanganku menggenggam udara kosong erat-erat, aku benci mendengar Foster mengatakan hal itu seolah aku adalah kesalahan diantara para kaumku. Aku tahu benar bahwa aku memang keturunan seorang penyihir, dan Damis memperingatkanku dengan hati-hati bahwa tak boleh ada satupun yang tahu selain kami yang memang sudah mengetahuinya. Dia bilang Alzarox mungkin bisa langsung membunuhku tanpa perlu tahu banyak hal lainnya seperti bahwa hanya darahku saja yang mungkin membawa nafas penyihir, selain semua itu, aku sepenuhnya vampir. Sudah lebih dari cukup buruk ketika dulu Luca datang dan mengatakan secara langsung bahwa dia juga tahu.

“Bagaimana kau tahu?”

Foster tertawa kecil, “Tierraz adalah tanah sihir, Rena. Ketika kau hidup di dalamnya, sedikit apapun sihir dalam dirimu, dia berkembang dan berbahagia. Dan aura yang muncul dalam perkembangan sihir terdalam seringkali bisa dilihat oleh beberapa yang beruntung bisa melakukannya. Lalu milikmu, berkembang terlalu cepat. Auramu.. berbeda.”

“Berhenti mengkhayal,” aku berkata keras, “Yang benar hanya aku lahir dari salah satu dari bagian mereka. Tapi diriku, sepenuhnya vampir sekarang. Kau tidak akan bisa memanipulasiku untuk apapun itu.”

“Aku tidak berniat melakukan apapun.” Dia tertawa pendek, yang sudah jelas bukan tawa yang mengartikan sesuatu yang baik, “Aku hanya kasihan padamu.”

Lalu begitu saja dan dia berbalik meninggalkanku yang menatap punggungnya yang semakin menjauh dengan kebingungan. Aku memaki keras-keras ketika sadar dia hanya mengejekku.

***

“Aku tidak pernah menyarankanmu berpisah dari kelompok, Sherena Audreista.”

Aku berhenti berjalan dan menatap sosok yang menatapku dengan tidak suka itu. Dia tengah bersandar pada salah satu pohon besar yang bayangannya menenggelamkan tubuhnya dalam kegelapan. Aku memaki dalam hati, bersumpah bahwa aku tidak akan  mencekik laki-laki itu karena kesal pada nada bicaranya yang memuakkan itu.

Aku masih dalam keadaan marah, dan sepenuhnya terbawa pada percakapanku dengan Elegyar Foster. Lalu sekarang setelah memutuskan kembali ke ruangan yang disediakan para elf utara untuk kami, aku masih harus menghadapi yang satu ini. Aku menarik nafas panjang. Semoga tidak hilang kesabaranku kali ini, erangku dalam kepalaku.

“Oh, Reven. Aku hampir tidak bisa melihatmu. Apa yang kau lakukan di kegelapan? Apa kau mengikutiku?” Aku tertawa mengejek, “Apa kau begitu ingin tahu apa yang kulakukan? Apa kau masih tidak bisa mengenyahkan perasaan lamamu padamu?”

Dia berjalan meninggalkan kegelapan di sekitarnya, dan maju ke arahku.

“Kau masih di bawah tanggung jawabku, Rena.” Suaranya dalam, menahan apapun itu yang sedang dirasakannya, “Kau katakan padaku untuk tahu batas diantara kita. Dan sekarang aku berbicara sebagai pemimpinmu.”

“Kuharap begitu.”

“Kau harus belajar menaruh hormatmu pada siapa yang berdiri lebih tinggi darimu, Rena. Jika kau terus menerus bersikap seolah kau tidak peduli pada apa yang sering kuperingatkan padamu sebagai pemimpin, jangan salahkan aku jika sesuatu yang buruk terjadi padamu.” Dia berbalik, tidak menunggu jawabanku dan pergi dengan angkuhnya.

“Kau memang memuakkan, Rev.” Ucapku singkat, dan itu berhasil membuat Reven menghentikan langkahnya tapi tidak berbalik ke arahku. Dia hanya berhenti. Seolah menunggu apa yang akan kukatakan selanjutnya.

“Dan aku berharap aku tidak perlu lagi menepati janjiku pada Noura.”

“Kau tidak berjanji apapun padanya. Kau bahkan tidak pernah benar-benar tahu siapa dirinya.” Dia berbalik dan kegelapan iris biru matanya tajam menusukku, yang entah kenapa membuat sesuatu di dadaku bergetar menahan sesak.

“Kau tidak pernah benar-benar tahu siapa Noura sebenarnya, Sherena Audreista. Kau tidak tahu apa-apa dan kau tidak pernah menjanjikan apapun padanya. Berhenti menyalahkannya atas apapun yang terjadi pada dirimu. Noura menyelamatkanmu. Begitu juga aku.”

Seluruh tubuhku bergetar, dan mataku memanas. Aku bahkan tak sanggup menemukan suaraku sampai Reven meninggalkanku dan lenyap di balik salah satu lengkung masuk kastil.

Sialan kau, Rev.

***

“Apa kau mencariku?” Damis bergerak duduk ke salah satu kursi kayu di ruangan itu. Di sudut lain, Victoria hanya mengangkat wajahnya sebentar sebelum kembali menenggelamkan dirinya pada sebuah buku tua besar yang berada di pangkuannya.

“Kau sudah bertemu dengan Lucia, kurasa.” Ucap Damis kembali setelah dia merasa bahwa Victoria tidak akan mengatakan apapun, “Apa yang dikatakannya padamu?”

“Penolakanmu.” Sahut Victoria tanpa meninggalkan pandangannya pada bukunya.

“Ah,” Damis mengangguk, “Aku tahu apa yang akan kau katakan kalau begitu.”

“Kau tidak tahu.” Suara buku yang ditutup membuat Damis menoleh, dan sekarang Victoria sepenuhnya menatapnya, “Kau tidak tahu apa yang akan kukatakan padamu.” Lanjutnya.

“Kau berada di pihaknya?”

“Berada di pihak siapa? Lucia?” Tawa Victoria terdengar setelahnya dan Damis harus menahan diri untuk tidak mengerutkan keningnya tidak suka.

Kedua tangan Victoria menangkup bukunya, matanya lurus pada Damis, “Aku hanya berada di pihak Luca.” Ucapnya datar dan kali ini Damis tersenyum tipis.

“Lalu, apa sebenarnya yang ingin kau katakan padaku?”

“Memperingatkanmu,” jawabnya, “Sherena Audreista akan menjadi seseorang yang kelak dibutuhkan Luca. Aku hanya tidak ingin melihatmu tenggelam dalam kehilangan untuk kedua kalinya. Cukup Lyra Corbis bagimu dan Sherena hanya permainan baru, bukan begitu?”

Damis menggeleng, “Aku tidak mengerti.” Katanya pelan, “Apa kau baru saja memperingatkanku agar aku menjauh dari Rena karena Luca tengah merencanakan sesuatu untuknya?”

Victoria tersenyum dan tak mengatakan apapun sementara Damis langsung membelalakkan matanya tidak percaya, “Kau tidak boleh menyeret Rena dalam apapun itu rencana Luca yang mungkin membahayakannya, Victoria.”

“Satu-satunya alasan kenapa Luca membiarkan kita kembali dan hidup adalah keberadaan Rena, Damis. Dia adalah perisai pelindung kita.”

Rahang Damis mengeras, menahan rasa marah yang membuncah di seluruh tubuhnya, “Dia adalah bagian dari kita dan bukan tumbal untuk kita, Victoria Lynch.”

“Apa aku berkata bahwa Luca akan melukainya? Apa kau tahu apa yang mungkin saja akan dilakukan Luca pada Rena?”

“Aku tidak peduli apa yang akan dilakukan Luca, asal bukan Rena, aku tidak akan pernah ikut campur. Tapi jika ini menyangkut Rena, aku bersumpah Victoria. Aku bersumpah bahkan aku akan menyerahkan jiwaku jika itu untuk melindunginya.”

“Damis–“

“Apa Reven tahu tentang hal ini?”

Victoria menghela nafas, “Apa kau pikir aku akan memberitahunya?”

“Maka jangan libatkan dia, aku sendiri sanggup melindungi Rena.”

“Melindungi dia dari siapa? Luca?” Suara tawa Victoria menggema di ruangan ini, “Kau tidak tahu apa yang baru saja kau katakan, Damis.”

Victoria berdiri, melangkah pelan ke arah Damis dan berkata pelan dan dalam, “Kau.. tidak tahu benar seperti apa sosok Luca sebenarnya.”

<< Sebelumnya
Selanjutnya >>

Mau Baca Lainnya?

10 Comments

Leave a Reply

Your email address will not be published.