Remember Us – Firasat

“Rena..”

Sentuhan lembut tangan Reven di pundakku membuatku mengangkat wajahku. Kedua bola mata biru Reven membingkai wajahku, dengan sabar dia mengusap wajahku, membersihkan tanah yang menempel di wajahku, “Ayo pulang.” Bisiknya.

Aku menggeleng, “Mereka harus membayar ini semua. Aku bersumpah. Mereka harus membayar ini semua.”

Reven mengangguk, “Pasti.” Dan dia menarikku ke dalam pelukannya. Membiarkan aku menangis terisak di dalam pelukannya.

Butuh waktu yang lama bagi Reven untuk menungguku mau beranjak dari tempat ini. Ketika akhirnya aku sanggup membiarkan diriku meninggalkan tempat ini, Reven mengenggam tanganku erat dan membiarkanku memimpin langkah kami, pulang. Pulang. Sebuah kata yang kerapkali membuatku marah dengan bangsa manusia. Mereka menghancurkan rumah kami, kastil utama bangsa vampir. Merusaknya hingga tidak mungkin lagi bagi kami untuk tinggal di sana. Entah berapa banyak serbuk perak yang mereka tebarkan di sana dan membuat kami, bahkan untuk sekedar mendekat saja tidak bisa.

Untuk pertama kalinya dalam hidupku, aku melihat tatapan nanar Reven ketika kami memandang kastil itu dari kejauhan. Belum lagi cahaya kekecewaan yang kental ketika tatapannya beralih ke padang bunga ungu yang kini telah menjadi padang rerumputan liar. Seandainya kami bisa kembali, aku akan mengubah tempat itu menjadi seperti semula. Indah dan penuh kenangan. Tapi kembali bukan lagi kata yang bisa kami semua gunakan untuk tempat itu sekarang.

Sebab, kata pulang sekarang berarti sebuah gua gelap yang dulunya tempat ayahku tinggal. Melalui ingatan Ar, aku bisa menemukan tempat ini dan menggunakannya bersama kelompok kami yang tersisa untuk berkumpul. Dan tempat ini pula yang akhirnya menjadi tempat tinggal kelompok utama. Kami masih lengkap, itu adalah kebahagiaan yang terbesar yang bisa kurasakan ketika aku telah kehilangan Ar.

Setidaknya aku masih memiliki mereka, Reven, Damis, Victoria, dan Lyra. Sebab tak banyak yang tersisa dari kaumku. Beberapa yang selamat itu kembali ke rumah kelompok mereka, yang kehilangan seluruh anggota kelompoknya dipersilakan untuk tinggal bersama kami. Victoria yang mencintai keindahan dan kemewahan menyulap gua yang awalnya penuh dengan kuali-kuali dan botol-botol ramuan sihir menjadi tempat yang layak bagi kelompok utama bangsa vampir. Aku dan Lyra tak pernah mengeluh tentang tempat ini meskipun kuakui, kemudahan, kemewahan dan tempat yang lebih dari layak yang biasanya mengelilingi kami membuat kami tidak nyaman di sini pada awalnya, namun dengan berbagai pertimbangan, Reven meminta kami untuk bertahan di sini.

Aku mengernyitkan dahiku ketika merasakan kehadiran begitu banyak vampir di sekitar gua kami. Aku tidak mendengar akan ada pertemuan besar. Lalu kenapa nyaris semua vampir hadir di sini? Aku memandang Reven, namun dia sama sekali tidak menatapku. Victoria keluar dari kerumunan dan menyongsong kami—atau hanya Reven lebih tepatnya.

“Illys bilang inilah saatnya.”

Reven menatap Victoria tajam, melepas genggamannya pada tanganku dan berjalan penuh keyakinan ke arah Illys. “Kau yakin sekaranglah saatnya?”

Illys mengangguk mantap, “Tidak salah lagi. Ini waktu terbaik yang kita miliki selama hampir lima belas tahun menunggu.”

Reven mengangguk, “Aku percaya pada penglihatanmu.” Ucapnya singkat sebelum dia mengalihkan tatapannya pada Michail dan Damis yang berdiri berjejer, “Persiapkan semuanya.” Perintahnya tegas.

Keduanya mengangguk mantap dan berjalan ke arah kerumunan, mengucapkan sesuatu yang tidak bisa kudengar dengan baik karena aku terburu mengikuti Reven yang melangkah cepat masuk ke dalam gua. Keheningan menyambut kami ketika kami masuk semakin ke dalam. Ujung gua ini adalah ruangan kami, dan di sanalah kami sekarang.

Aku tidak mengatakan apapun, hanya mengamati apa yang Reven lakukan. Dia terlihat begitu sibuk. Mencari-cari sesuatu, tanpa mengindahkan aku sama sekali. Keningku berkerut semakin dalam. Kesabaranku terkikis dan aku meraih tangannya dengan kasar, “Ada apa ini, Rev?” tanyaku setengah berteriak.

Tatapan mata Reven berhenti di kedua mataku yang menuntut penjelasan darinya. Aku bisa melihat keraguan di sana. Bersama Reven selama ini membuatku sedikit demi sedikit bisa membaca bahasa ekspresinya. Helaan nafasnya terdengar berat.

“Duduklah Rena.” Ucapnya pelan sambil menyentuh kedua bahuku, membimbingku duduk.

Aku merasa bahwa ini bukan sesuatu yang baik. Reven tidak pernah menyembunyikan sesuatu dariku sejauh ini. Kami berdiskusi dan membicarakan tentang apapun berdua. Lalu sekarang, mendadak aku tak tahu sama sekali apa yang tengah terjadi. Mendadak aku merasa marah.

“Bukankah kau selalu mengatakan bahwa kau ingin mereka membayar semua yang telah terjadi pada kaum kita dan pada Ar?”

Matanya memerangkapku tajam. Aku tak menjawab maupun menunjukkan reaksi atas ucapannya. Aku menunggu.

“Kepada mereka, para slayer dan heta yang telah menghancurkan kehidupan kita. Aku bersumpah demi dirimu, Rena, dan demi kaumku. Aku akan membuat mereka membayar segalanya, seperti yang kau inginkan. Dan selama ini aku merencanakan semuanya. Mempertimbangkan setiap kemungkinan dan peluang yang ada. Bersama semua kaumku, kami semua menunggu sampai peluang terbesar bagi kami datang. Dan sekarang..”

Dia mengenggam tanganku, tak melepaskan tatapannya padaku, “Inilah saatnya.”

Otakku memproses semua yang dikatakannya, dan ketika semua itu bisa kupahami dengan benar. Aku menarik tanganku dengan kasar dari genggamannya, “Dan kau sama sekali tidak mengatakan apapun padaku?” nada suaraku meninggi.

“Karena aku tidak ingin kau terlibat di sini, Rena.”

Mataku melebar dan aku bangkit, berdiri dengan sangat cepat. Berani-beraninya Reven mengatakan hal ini kepadaku. Dia merencanakan penyerangan, merencanakannya jauh-jauh hari bersama semua kaum kami dan aku sama sekali tidak tahu. Lalu omong kosong apa yang tadi dikatakannya? Dia menginginkan aku tidak terlibat dalam penyerangan ini.

Vampir bodoh!

“Aku menunggu, Reven. Nyaris belasan tahun. Menunggu saat yang tepat bagiku untuk membalas pengkhinatan Edge. Pengkhianatannya pada Ar. Kau tidak pernah tahu bagaimana sakitnya aku, tersiksanya aku melihat ingatan Ar akan kehidupannya. Edge, sahabat-sahabatnya. Kau tidak tahu itu Rev! Dan berani-beraninya kau bilang bahwa kau tidak akan melibatkanku dalam penyerangan ini. Berani-beraninya kau!”

Reven memandangku. Tatapannya melembut. Dia berdiri, menyentuh lenganku namun aku melepaskan diriku. Mundur beberapa langkah dari hadapannya, “Aku tidak akan membiarkanmu melakukan ini padaku.” Desisku kehilangan emosi.

“Aku tidak ingin kau terluka.”

Aku diam, mata Reven mengatakan semuanya. Seandainya ini bukan tentang para slayer dan heta, aku akan meluruh mendengarnya mengucapkan itu. Wajahnya, suaranya, helaan nafasnya, aku bisa merasakan semua cintanya untukku dalam kalimatnya itu. Ketulusannya menyentuhku, namun aku tidak bisa. Aku tidak bisa meloloskan keinginannya.

“Aku tidak akan bisa menjadi pemimpin kelompok yang baik jika yang kupikirkan dalam pertempuran hanya kau. Apa kau baik-baik saja? Apa kau terluka? Apa perak-perak sialan itu merusak kecantikkanmu? Bagian tubuh mana saja yang terasa sakit untukmu. Apa kau.. akan tetap hidup sampai akhir pertempuran.”

Mulutku mengatup, “Rev—“

“Aku tidak bisa bertarung dengan baik jika aku tahu kau juga berada di sana, Rena.”

“Kau adalah kelemahannya, Sherena.”

Aku menoleh, dan Victoria berdiri di sana, hanya beberapa meter dariku., “Kau adalah kelemahan Reven, Sherena.” Ulangnya, “Aku tahu aku tidak seharusnya ikut campur dalam pembicaraan kalian. Tapi aku merasa bahwa aku juga harus membantu Reven untuk membuatmu mengerti. Reven punya tanggung jawab besar. Dia adalah pemimpin kaum kita. Pada dialah banyak dari kita mengantungkan harapan terakhir kita. Kehormatan kita dan harga diri kita.”

“Dan bagaimana bisa seorang pemimpin bisa bertanggung jawab pada kaumnya jika yang ada dalam kepalanya hanya kekhawatiran tentang pasangannya? Kami butuh fokusnya, Sherena.”

Reven menyentuh lenganku, “Kumohon sekali ini, mengalahlah dan biarkan aku melakukan tugasku dengan benar.”

Aku beralih pada Reven, menggeleng pelan. “Ak—“

Tapi Reven sudah bergerak cepat dan menciumku dengan dalam. Membiarkanku merasakan semua perasaannya sebelum dia menarik tubuhku dalam pelukannya, “Aku tidak bisa kehilangan orang yang aku cintai lagi, Rena. Aku tidak bisa.”

***

Lyra menyentuh tanganku, “Semuanya akan baik-baik saja. Percaya pada kami. Kami semua akan pulang. Dan kita mungkin saja bisa menemukan kastil lain yang bisa kita tinggali sesudahnya. Kau tahu, aku mulai bosan hidup seperti manusia serigala yang tinggal di gua-gua. Kita tidak selayaknya tinggal di sini. Bukan begitu?”

Aku mencoba tersenyum, meski aku tahu itu bukan jenis senyum yang cukup bagus untuk dilihat. Tapi apa lagi yang bisa kutampilkan? Tidak ada.

Kami berdiri di dekat hutan, mengamati semua anggota kelompok yang tengah sibuk mempersiapkan segalanya. Aku merasa menjadi orang tidak berguna. Akhirnya aku telah menyetujui permohonan Reven dan Victoria untuk tidak terlibat dalam hal ini dengan banyak pertimbangan. Aku tidak ingin kami gagal. Dan kurasa, tidak ada jalan lain selain aku harus mengalahkan egoku demi kepentingan semua kaumku.

James berjalan ke arah kami, “Victoria membutuhkanmu, Sherena.”

Aku mengangguk dan berjalan mengikutinya. Kami berjalan pelan sekali ke arah gua. Aku mengamati James. Tampak tegas dan tegar, juga kuat meski sekarang dia hanya seorang diri, tanpa satu pun anggota kelompoknya yang masih hidup. Dia sudah kehilangan Noura, Maurette dan Lucius jauh sebelum penyerangan terhadap kaum kami oleh para slayer dan heta. Dan ketika penyerangan itu terjadi, dia kehilangan semua anggota kelompoknya, bahkan pasangan hidupnya, Miranda. Namun aku sama sekali tidak pernah melihat James mengeluh atau bahkan terlihat sedih.

“Apakah segalanya berjalan dengan baik?”

James menoleh, mengangguk taktis, “Sesuai rencana.”

Aku mengangguk, tidak tahu harus mengatakan apa lagi.

“Kupikir itu keputusan yang bagus.”

Aku menoleh, tidak mengerti.

“Ketidakikutsertaanmu akan mempermudah penyeranganmu kali ini. Bukan karena kau tidak punya kemampuan untuk itu, namun untuk melindungimu. Keberuntungan Noura bersamamu.”

Aku mengerutkan keningku. Keberuntungan Noura? Menurutku, Noura bahkan sama sekali tidak memiliki keberuntungan. Jika ya, dia tidak akan mati hanya karena Vlad. Aku mendengus, tidak melanjutkan pembicaraan.

Victoria tersenyum padaku ketika aku mendekat ke arahnya. Dia mengedip pada James, mengisyaratkan untuknya agar membiarkan kami berdua sendirian. Aku menatap Victoria. Entah kenapa, aku selalu merasa dia wanita yang misterius. Kami idak deka, namun juga tidak saling membenci. Jika bisa, aku lebih memilih Rosse. Membandingkan Victoria dan Rosse seringkali membuatku merasa menyesal dan aku tahu, pada akhirnya itu yang terbaik. Rosse terlalu memuja Vlad dan tidak ada yang bisa kulakukan.

“Rena kemarilah, aku ingin memberitahumu sesuatu.” Victoria memintaku duduk di dekatnya dan aku menurut. Aku bisa mendengar dia menghela nafas panjang, “Aku merasakan sesuatu yang buruk akan terjadi.” Ucapnya langsung.

“Apa maksudmu?” keningku berkerut, aku sama sekali tidak mengerti dengan apa yang ingin dikatakan Victoria sebenarnya.

“Meski tidak sekuat dan sejelas Noura, terkadang, ketika sesuatu yang sangat buruk. Dalam hal ini benar-benar buruk akan terjadi. Aku bisa merasakannya. Hanya merasakannya, tidak melihatnya atau segala jenis lain yang lebih rinci. Dan beberapa saat lalu perasaan itu datang padaku. Begitu tiba-tiba dan aku, entah kenapa merasa takut.”

Keningku berkerut semakin dalam, “Vic—“

Dia mengangkat tanganya, memintaku diam dan mendengarkan, “Kami semua sudah lama menunggu saat ini tiba. Pembalasan atas apa yang terjadi pada kaum kita sebelumnya. Illys mungkin memiliki penglihatan akan masa depan, tapi tidak sebagus Noura. Dan masa depan tidak konstan, Rena. Sesuatu bisa mengubahnya. Dan kurasa itu yang terjadi sekarang. Sesuatu yang tidak sesuai dengan rencana kita mungkin sedang berlangsung sekarang”

Kemudian aku bisa melihat dia mengedip, terlihat sedikit putus asa, “Aku tidak bisa meminta ini semua dihentikan hanya karena aku memiliki firasat buruk. Kami harus melakukannya, penyerangan ini. Entah akan berhasil atau—“

“Victoria!” aku nyaris berteriak karena marah, “Jika kau tahu sesuatu yang buruk akan terjadi padamu, pada Reven. Pada semua yang terlibat pada penyerangan ini. Kita harus menghentikannya.”

Victoria menunduk, “Kadangkala, kita harus menghadapi kenyataan.”

Aku menggeleng, masih tidak mengerti dengan jalan pikirannya, “Tidak. Aku akan membicarakan ini dengan Reven.”

Aku bangkit dengan tegas, namun satu tangan Victoria menjegalku.

“Reven sudah memutuskan pilihannya.”

“Dia tahu??” aku berteriak dengan keras, “Dia tahu dan dia tetap melanjutkan ini semua.” Kedua bola mataku membulat. Aku menggeleng. Mereka gila.

“Rena, aku mengatakan ini kepadamu bukan untuk membuatmu menghentikan kami. Tapi untuk membuatmu menyiapkan sesuatu. Jika aku benar dan sesuatu yang buruk itu benar-benar terjadi, kami membutuhkanmu melakukan itu.”

Aku berdiri tegak, mataku menyipit perlahan, “Menyiapkanku untuk melakukan apa?”

Victoria tersenyum pahit, “Duduklah kembali, ini akan memakan waktu yang tidak sebentar.”

***

Aku mengamati aliran air yang beriak tenang di depanku. Senja sudah lewat dan bayangan bulan di air terlihat bergoyang lembut. Reven berdiri sama diam sepertiku. Kami sudah seperti ini sejak dia menyusulku kemari beberapa saat lalu. Aku tahu aku marah padanya. Sangat marah dan rasanya aku bahkan tidak ingin membuka mulutku untuk bicara dengannya. Namun dengan semua waktu yang merambat pelan diantara kami, aku tahu aku tidak bisa.

Dengan lembut aku bisa merasakan tangan dinginnya menyentuh telapak tanganku. Menyisipkan satu demi satu jarinya ke dalam celah-celah jariku dan kemudian menggenggamnya erat. Erat sekali seolah dia tidak rela melepasku barang sedetik saja.

“Sherena..” Ucapnya pelan sekali. Dia mengucapkan namaku dengan hatinya. Seluruh perasaannya padaku, aku bisa merasakannya. Mendadak aku merasa sangat takut. Bagaimana jika Victoria benar dan kami harus terpisah?

Aku tidak bisa menahannya lagi. Satu persatu air mataku jatuh dan Reven menarikku ke dalam pelukannya ketika aku terisak makin keras. Tenggelam dalam kehangatan dada dan dekapannya, tangisku masih saja pecah. Dia tahu kegelisahanku. Dan akupun tahu, Reven sama sepertiku. Kami seolah ingin berlari menjauh dari ini semua, tapi segala hal menahan kami melakukannya. Takdir menahan kami di sini.

Tangannya melingkupiku, mengusap punggungku dengan lembut, “Ini hanya untuk sementara. Tenanglah dan percaya padaku, ini tidak akan apa-apa. Semuanya akan baik-baik saja.” Paparnya dengan pelan. Ada keraguan di sana. Aku tahu itu.

“Tapi.. tapi bagaimana jika Victoria benar. Bagaimana jika aku harus kehilanganmu? Bagaimana aku bisa melewati kehidupanku jika tidak ada dirimu di dekatku? Bagaimana bisa aku terus bertahan hidup tanpa dirimu, Reven?”

Reven melepaskan pelukannya, memintaku menatap wajahnya. Dan diantara kegelapan malam aku bisa melihat kedalaman mata birunya bahkan ketika dia mengecup mataku yang basah dengan perlahan dan penuh cinta.

“Bahkan jika Victoria benar, aku akan melakukan segala cara untuk bisa menemukan jalan kembali padamu. Aku tidak akan pernah meninggalkanmu sendirian di dunia ini. Tidak akan pernah.”

“Reven.. “

Aku berhambur ke dalam pelukannya, memegang kata-katanya di dalam hatiku dan untuk pertama kalinya dalam hidupku aku benar-benar berharap Victoria hanya mengisahkan omong kosong. Hanya ketakutan semu. Victoria bukan Noura, dia bisa saja salah. Bahkan Noura terkadang juga melakukan kesalahan.

“Ketika matahari esok tiba. Bangsa kita akan berubah. Tahun demi tahun akan berganti. Sebuah kisah nyata berubah menjadi legenda. Dan kita hanya akan menjadi sesuatu yang akan dengan mudah terlupakan. Kita, menjadi sebuah kisah yang kebenarannya tidak jelas. Tapi tak pernah benar-benar lenyap.”

Aku memejamkan mataku. Hal itu tidak akan terjadi. Selama aku memiliki Reven dan selama Reven memegang kendali atas kaum kami, kami tidak akan berubah. Kami akan selalu begini. Victoria salah. Dia salah. Kali ini dia akan salah. Dia pasti salah.

***

“Kau masih ingat jalan ke desa tempat tinggal Morgan Freesel bukan?”

Aku tertawa dan menepuk bahu Damis dengan sebal, “Ketika aku kembali dari sana, kalian juga sudah harus sudah kembali.”

“Tentu saja, memangnya menurutmu kami akan menetap di kastil sisa-sisa para slayer. Tidak, terima kasih.”

Aku tersenyum lebar mendengar sahutan dari Lyra dan memeluk mereka satu persatu. Tidak ada yang tahu tentang firasat Victoria kecuali kami berdua. Dan melihat wajah riang Damis dan Lyra sedikit membuatku tenang.

Segalanya akan baik-baik saja. Aku yakin itu. Aku mengalihkan pandanganku pada Reven yang tengah memandangku, mengangguk kecil. Aku berjalan ke arahnya dan berbisik lembut, “Ingat janjimu kepadaku.”

“Aku akan selalu menemukan jalan kembali kepadamu.”

Aku tersenyum dan mengecup bibirnya singkat.

“Hati-hati.”

“Kau juga.”

Aku melambai pada mereka semua sebelum aku berlari cepat meninggalkan tempat ini. Aku tidak bisa menunggu lebih lama lagi. Aku harus segera menyelesaikan ini dan semua kekhawatiran Victoria hanya akan menjadi omong kosong. Jika kaum kami tak cukup kuat menghadapi para manusia, maka dengan bantuan dari Morgan dan para manusia serigala, semuanya akan jadi lebih mudah.

Reven memang tidak menyarankan ini. Tapi aku berkeras dengan ideku ini. Meski hubungan kami, para vampir dengan manusia serigala tidak bisa dikatakan bagus. Tapi aku dan Morgan memilikinya. Dan kurasa dia akan mau membantuku. Siapa yang tahu hasilnya sebelum mencoba. Aku akan mengusahakan yang terbaik untuk kaumku. Demi keberhasilan kami.

Aku berlari seraya mengingat arah yang tepat dan tercepat menuju tempat tinggal keluarga Freesel. Aku sudah lama tidak mengunjungi mereka. Kurasa anak-anak mereka sudah sebesar diriku sekarang. Rowena akan senang menerima kunjunganku. Kuharap dia tidak melakukan hal bodoh dengan memasakkan sesuatu untukku. Dia harus belajar mengingat bahwa aku—meskipun bisa menolerir jenis makanan manusia—tetap saja memilih untuk tidak memakannya.

Langit mulai semburat berwarna merah dan jingga ketika aku mulai memasuki daerah perbatasan desa mereka. Kupelankan kecepatan langkahku dan meneguk beberapa cairan pemberian Reven kepadaku.

Dengan sedikit berharap bahwa ini masih bekerja, aku melangkahkan kakiku dengan kecepatan seorang vampir ke arah rumah Morgan dan mengetuk pintu rumahnya dengan tidak sabar. Aku tahu ini terlalu pagi untuk bertamu, tapi aku tidak bisa menunggu lebih lama lagi atau aku harus bersembunyi di bawah jubahku agar sinar matahari tidak membakarku.

“Akhirnya kau kem—“

Rowena terlihat terkejut melihatku. Butuh beberapa saat baginya untuk menyadari bahwa ini aku sebelum akhirnya dia menarikku masuk dengan cepat dan memeriksa bahwa tidak ada satu orangpun yang melihat kedatanganku. Pintu tertutup dengan cepat begitu dia merasa aman. Aku mengerutkan keningku karena ini terasa tidak biasa bagiku.

Di bawah pancaran cahaya dari perapian di rumahnya, aku bisa melihat wajah gelisah Rowena. Dan hanya dengan melihat pakaian lengkapnya, aku bisa menebak bahwa dia bahkan terjaga sepanjang malam. Entah untuk alasan apa.

“Oh Sherinn.” Dia memelukku singkat dan erat, “Aku tak menduga kau akan datang di saat seperti ini. Tapi aku bersyukur kau di sini.”

“Ada apa? Apa yang terjadi? Dimana Morgan?” aku mulai merasa bahwa ada yang benar-benar salah di sini. Aku tidak bisa memcium keberadaan Morgan di sini.

“Mereka membawanya. Mereka membawa Morgan dan semua kelompoknya kemarin malam. Aku tidak tahu kenapa atau untuk apa. Tapi, tapi.. Oh Sherinn, apa yang sebenarnya terjadi sekarang?”

Aku menyentuh lengan Rowena, memintanya tenang dan membawanya duduk, “Ada apa? Aku tidak mengerti. Siapa mereka? Apa—“

“Para slayer dari kerajaan.” Aku bisa melihat air mata mulai jatuh dari sudut mata Rowena ketika dia mengatakannya, “Mereka tidak pernah datang ke sini sebelumnya, tapi kemarin, ratusan dari mereka datang dan dengan begitu saja.. dengan begitu saja menyeret Morgan dan yang lainnya. Sherinn, tolong mereka. Kumohon.”

“Dan mereka tidak melawan?”

 Rowena nampak putus asa ketika menggeleng, “Mereka kalah jumlah. Dan kurasa Morgan melakukan itu untuk kebaikan penduduk desa lainnya. Apa kau melihatnya Sherinn, mereka membakar rumah pertemuan kelompok Morgan. Mereka membakar habis semuanya. Mereka membongkar rahasia kelompok Morgan di depan semua penduduk desa. Bahkan ayahku tidak bisa melindungiku sekarang. Penduduk desa bisa kapan saja menyerang dan membunuh anak-anakku. Mereka pikir anak-anak dari manusia serigala akan membahayakan hidup mereka.”

Suara isak Rowena terdengar semakin jelas, “Bagaimana mereka bisa melakukan itu pada kami, Sherinn? Padahal Morgan dan yang lainnyalah yang menjaga mereka semua dari makhluk liar lain. Entah dari vampir atau yang lainnya. Aku tidak bermaksud menyinggungmu, tapi—“

Aku mengangguk, “Aku mengerti. Aku mengerti, Rowena. Lalu dimana anak-anak? Dimana Alan? Apa dia juga dibawa oleh para slayer?””

“Tidak. Alan sepenuhnya manusia. Mereka membiarkannya. Sekarang dia ada di ruang rahasia di bawah tanah, bersama anak-anak.”

“Itu yang terbaik. Aku cukup yakin jika Alan sanggup melindungi anak-anakmu. Nah, sekarang dengarkan aku, Rowena.” Aku mencengkeram kedua bahunya dengan erat, “Kau harus tenang. Meski kuakui aku tidak tahu apa yang sebenarnya sedang terjadi. Tapi aku akan mencari tahu. Kelompokku sedang merencanakan penyerangan ke kerajaan. Jika mereka memang menahan Morgan dan yang lainnya di sana, kami akan membebaskan mereka. Aku janji padamu.”

Rowena berusaha tersenyum, “Aku percaya padamu, Sherinn. Meski kau vampir aku selalu percaya padamu. Morgan juga selalu percaya padamu.”

“Kuharap aku bisa banyak membantu. Dan sekarang, kupikir pergi dari sini adalah yang terbaik. Meski kau putri dari keluarga Reeser, itu tidak menjamin penduduk akan membiarkanmu begitu saja. Manusia terkadang lebih tidak manusiawi.” Kataku sungguh-sungguh.

“Aku juga berpikir demikian. Tapi aku tidak tahu kemana harus pergi. Aku bahkan tidak pernah meninggalkan desa ini sejak aku lahir.” Rowena terisak kembali.

“Aku tahu sebuah tempat.” Ucapku sungguh-sungguh, “Kita akan menunggu sampai petang sebelum kita pergi. Sementara itu berkemaslah dan kita hanya bisa menunggu. Jika penduduk menyerang hari ini. Kau memilikiku di sini.”

Rowena mengangguk serius.

“Sekarang pergilah ke bawah. Mungkin Alan dan anak-anakmu membutuhkanmu. Aku akan menunggu di sini.”

Sekali lagi Rowena mengangguk, dia bangkit dan memelukku penuh terima kasih sebelum bergegas menuju ruang rahasia rumahnya. Sejenak aku sempat mengamati Rowena, wajahnya yang terlihat semakin tua. Gurat-gurat kekhawatiran di wajahnya. Beberapa rambutnya yang memutih. Sementara itu aku yakin, seratus persen bahkan lebih bahwa aku sama sekali tidak berubah sejak pertama kali kami bertemu.

Apakah waktu memang sejauh itu telah berlalu?

Mendadak aku memikirkan Ar? Aku melihatnya tumbuh menjadi laki-laki dewasa. Tubuh yang bagus dan kekuatan yang jauh lebih hebat. Tapi aku tak punya kesempatan untuk melihatnya menua atau bahkan memiliki keluarga. Dia memilih menolak itu semua. Demi Noura. Demi cintanya pada Noura. Bahkan sampai kematian datang padanya, aku tahu pasti bahwa tidak ada penyesalan di sana.

Entah kenapa semua ingatan Ar seolah menyergapku. Apa yang akan dilakukan Ar jika dia berada dalam situasi seperti ini? Aku menghela nafas frustasi, tidak adakah yang lebih buruk lagi dari ini?

***

Tidak ada yang terjadi. Aku berdiri di dekat jendela sepanjang hari. Mengawasi dari celah-celah aktifitas yang terjadi di luar sana. Beberapa penduduk yang lewat di depan rumah ini berhenti, memandang jijik lalu melanjutkan langkah mereka. Beberapa yang bergerombol berhenti, menunjuk-nunjuk dan mengatakan sesuatu yang dengan jelas tidak ingin kuingat. Tapi selebihnya mereka tidak melakukan sesuatu yang berbahaya.

Aku bahkan berpikir untuk membatalkan rencana kami untuk pergi dari sini. Tapi bagaimana jika hal lain terjadi? Aku tidak akan memaafkan diriku sendiri jika terjadi sesuatu pada keluarga Freesel. Aku melihat anak-anak Morgan lahir dan bertumbuh. Mereka seolah menjadi bagian dari kehidupanku dan memberitahuku bahwa waktu masih berjalan. Dan aku jelas tidak akan membiarkan siapapun melukai mereka, apalagi ketika Morgan tidak ada di sini untuk melindungi keluarganya.

Ketika malam akhirnya benar-benar datang, Rowena, Alan dan ketiga anak Morgan yang berusia belasan tahun naik ke ruangan utama keluarga. Menunggu aba-aba dariku abhwa segalanya aman untuk kami keluar dari sini.

Kami mengendap-endap cepat keluar dari rumah dan berjalan secepat bayangan di balik siluet-siluet pepohonan. Tak ada suara apapun kecuali gesekan ranting. Aku membawa mereka keluar semakin jauh dari desa. Aku menyadari bahwa sesekali Rowena menleh ke belakang, bukan karena takut dibuntuti tapi lebih karena enggan meninggalkan tanah kelahirannya.

Tapi aku melihat bahwa dia wanita yang kuat. Dia sama sekali tidak mengeluh, sama halnya dengan Alan dan yang lainnya. Bahkan anak Morgan yang paling kecil, Rebbet, sama sekali tidak mengatakan apapun. Dia mengikuti ibunya dengan patuh tanpa sangkalan apapun. Mereka seolah mengerti situasi seperti apa yang sedang terjadi sekarang.

Sementara itu, pikiranku jauh melayang ke tempat lain. Bersamaan dengan kami yang melangkah pelan ke dalam hutan, aku tahu jauh di sana kaumku juga sedang bertaruh dengan nyawa mereka. Malam ini adalah malam penyerangan itu.

Aku berkali-kali mendesah tidak sabar. Jika saja aku bisa mengendong mereka semua, aku akan melakukannya. Namun dengan jumlah dan ukuran mereka, meskipun aku vampir, itu tetap saja tidak mungkin.

“Kemana kita akan pergi sesungguhnya, Sherinn?” Rowena menatapku ketika kami sejenak berhenti untuk membiarkan mereka mengambil nafas lebih.

“Ke rumahku.”

“Rumahmu?”

Aku mengangguk, “Aku dan para vampir tidak lagi bisa tinggal di sana karena semua serbuk besi dan benda-benda yang ditinggalkan para slayer. Tapi kau dan anak-anakmu bisa. Aku berani bertaruh itu adalah tempat terakhir yang bisa mereka pikirkan kau datangi jika para slayer atau penduduk desa mengejarmu. Dan jika Morgan kembali, dia akan membaca tanda yang kutinggalkan di rumah kalian dan dengan mudah akan tahu jalan untuk menjemput kalian.”

Rowena tersenyum lebar, “Terima kasih Sherinn.”

Aku tersenyum tulus, “Sekarang kita harus melanjutkan perjalanan. Lebih cepat sampai lebih baik. Ini akan memakan waktu beberapa malam.”

Rowena mengangguk. “Baiklah.” Dan dengan sedikit ucapan, dia menuntun anak-anaknya untuk mengikutiku.

***

Nyaris tiga hari tiga malam dengan kecepatan manusia, akhirnya aku bisa melihat ujung kastil tempatku tinggal dulu. Semak-semak belukar merambat nyaris menutupi dinding-dindingnya. Beberapa bangunan yang runtuh lebat tertutup lumut dan rumput. Tapi masih ada sisa-sisa bangunan lain yang cukup aman untuk dihuni. Aku tidak bisa melangkah lebih jauh. Pagar tombak besi mengelilingi beberapa bagian. Bahkan, meskipun sudah belasan tahun, aura besi itu masih terasa menganggu bagiku.

“Rowena, kau lihat pintu kecil di dekat reruntuhan itu.”

Rowena menyipitkan matanya, melihat lebih fokus, “Ah iya. Aku bisa melihatnya.”

“Kau bisa masuk lewat sana. Akan ada tangga menuju lantai atas. Di sana segalanya kurasa lebih baik. Kau akan menemukan banyak selimut dan baju hangat untuk dirimu dan yang lainnya. Periksa saja satu persatu kamar yang ada. Di dalam peti-peti, semuanya tersimpan aman. Kuharap para slayer tidak merusaknya.”

Lalu aku menoleh ke arah Alan, “Di sekitar sini, banyak pohon yang buahnya akan cukup untuk kalian makan sehari-hari. Dan jika kau beruntung, kau bisa berburu rusa atau binatang lainnya. Tapi berhati-hatilah, jangan pergi terlalu jauh. Kurasa sihir lama vampir masih ada di sini. Itu akan menyesatkanmu. Jangan keluar lebih dari lembah ilalang di sana. Kau mengerti?”

Alan mengangguk tegas, “Ya.”

“Bagus.”

Rowena memandangku, “Kau akan pergi?”

“Aku harus. Ada yang ingin kulakukan. Tapi aku jamin kalian aman di sini. Tunggulah sampai Morgan datang. Kalian akan baik-baik saja.”

“Sherinn terima kasih.” Rowena memelukku seolah ini adalah pertemuan terakhir kami. Aku menepuk punggungnya. Lalu bergantian memeluk Alan dan ketiga anak Morgan. Sebelum benar-benar pergi, aku memastikan Rowena masuk ke pintu yang benar. Dan begitu dia sampai di atas, aku berbalik arah dan berlari secepat yang bisa kulakukan.

Ada sesuatu yang tidak beres.

Ketakutan menyelimuti benakku sejak awal malam penyerangan kami. Entah kenapa aku selalu merasa dadaku sakit. Bukan jenis yang menandakan kematian salah satu anggota kelompok seperti yang pernah kurasakan ketika Dev mati, hanya saja itu terasa kuat dan nyata. Aku mengerahkan seluruh kesabaranku untuk menahan diriku supaya tidak meninggalkan Rowena sampai dia tiba dengan selamat di kastil.

Padahal aku tahu seluruh anggota tubuhku menginginkan arah yang berbeda. Aku ingin menyusul Reven. Memastikan dari jauh bahwa segalanya baik-baik saja. Lalu aku bisa kembali pada Rowena. Sebab aku telah berjanji bahwa aku tidak akan terlibat di sana.

Aku bergerak lebih cepat daripada angin. Menggunakan semua kemampuanku. Dan ketika aku melihat asap-asap gelap mengepul dari beberapa puncak kastil kerajaan. Aku tahu aku gelisah. Ini sudah hampir hari keempat sejak saat itu dan aku masih bisa merasakan keberadaan kaumku di sana.

Apa yang sebenarnya terjadi?

***

Aku berdiri di salah satu puncak perpohonan tertinggi di dekat perbatasan kastil untuk melihat lebih jelas. Seringkali aku mendengar jerit kesakitan dari beberapa arah. Gemanya membuatku merinding. Suara-suara itu..

Kuku-kukuku menaut erat ke dalam batang pohong yang kucengkeram. Aku tidak bisa mendengarkan lebih dari ini. Setiap suara itu adalah penderitaan. Dan itu milik kaumku. Aku jelas bisa membedakannya. Aku tidak bisa membayangkan apa yang tengah mereka alami. Dan bagaimana bisa mereka berakhir di sana?

Apakah kami gagal?

Aku memilah setiap suara. Berharap dapat menemukan satu saja milik Reven. Tapi sedikit saja tidak ada. Apa dia mati? Tidak. Jika dia mati, aku akan tahu. Aku nyaris terjatuh dari batang pohon yang kupijak ketika aku mendengar satu suara. Teriakan kesakitan yang paling memilukan.

“Lyra..”

Sekali loncat, aku menyentuh tanah yang jauhnya beberapa belas meter di bawahku. Sudah nyaris menyerbu masuk dan tidak memedulikan apa yang mungkin ada di sana ketika sebuah suara yang sama sekali tidak asing menghentikan langkahku.

“Sherinn..”

Aku berbalik lebih cepat dari yang bisa kupikirkan. Dan di sana, tak jauh dari tempatku berdiri, Morgan Freesel nampak baik-baik saja dan bebas.

“Apa yang kau lakukan di sini?” aku mendesis pelan.

“Seharusnya aku yang menanyakan itu. Kenapa kau bisa ada di sini? Kau harus pergi sekarang.”

Aku menggeleng, “Keluargaku di dalam sana.”

Lalu dengan sangat jelas aku bisa mendengar dan mencium bau beberapa manusia dan manusia serigala mendekat ke arah kami.

“Apa kau menemukannya Morgan?” teriak salah satu dari mereka.

Mataku memicing tak percaya, “Kau—“

***

<< Sebelumnya

Mau Baca Lainnya?

15 Comments

  1. ada apa ??
    kyaaa~
    Morgan berkhianat pada Sherin kah ??
    astaga …..
    Reven .. Reven gak knpa" kn ?? Damis …
    astaga …
    apa yg sedang terjadi ??

  2. Akhrnya update juga…tapi..tapi knp dgn morgan?apa dy bkhianat?pnsarn kak sama firasat nya vic apa raven bkal psah sma sherena..kak update nya jgn lama2 dunk..hehe

  3. Jangan bilang terusan dari kata2 Rena adalah kau… "kaki tangan mereka?".. hahha
    Tapi positif thinking sih aku mah sama morgan soalnya dia bilang "kau harus pergi sekarang" hahah
    Pasti morgan nolongin Rena ..
    Selalu deh cerita ini bikin deg2an setiap kali update ..hahha dan di akhir cerita selalu bikin penasaran…dan bikin jadi nggak sabar buat nunggu kelanjutannya..hehheh

  4. Hahahha, aku belum bilang aku belum bilang,, 😛

    Wihi, tengkiess…
    Yang jelas kudu sabar, soalnya penulisnya moody orangnya.. heheheh *ngelesss

Leave a Reply

Your email address will not be published.