Remember Us – Genderang Perang

Reven mengangkat kepalanya ketika dia merasakan sesuatu terbang di atasnya. Meski pun terlalu cepat, dia masih bisa menangkap benda–atau bisa disebutnya makhluk apa yang tengah diamatinya itu. Matanya memicing. Tak percaya pada apa yang dilihatnya.

Luca?

Instingnya mengatakan bahwa sesuatu yang buruk tengah terjadi. Dia tak pernah sekali pun melihat Luca menampakkan sayapnya, bahkan sampai perlu menggunakannya. Dia memutar langkahnya dan berlari mengikuti jejak Luca di langit. Terlalu cepat, pikirnya ketika dia kehilangan jejak Luca. Namun ketika Reven menghentikan langkahnya, inderanya yang lain justru menangkap sesuatu yang seharusnya tidak ada di kawasan hutan Merz, penyihir.

Tidak.

Dia mempercepat langkahnya.

Rena.

Setelah perempuan itu memukulnya dan meninggalkannya termangu menatap sisa-sisa keberadaannya, dia yakin Rena belum terlalu jauh meninggalkan hutan Merz. Dia berharap jika apa pun itu yang ditemui dari sumber bau ini, tidak melibatkan Rena. Tapi di saat aroma itu makin kuat, ada bau terbakar dan bau darah yang kuat.

“Apa yang mereka cari darimu, Sherena Audreista?”

Reven menegang, dia mendengar suara Luca mengatakan itu dengan tajam. Awalnya dia tak tahu pada siapa Luca berbicara. Sosok itu terlihat menggunakan jubah penyihir, sama seperti banyak sosok sejenis yang tergeletak tak bernyawa di sekitar tempat ini.

Apakah itu satu dari mereka yang dibiarkan hidup oleh mereka? Tapi kenapa nama itu tersebut dari mulut Luca?

Dan akhirnya ketika Luca bergerak ke arah lain, dia bisa melihat dengan siapa sebenarnya Luca berbicara. Jantung Reven berdetak terlalu cepat sampai dia tidak tahu apakah dia bernafas dengan benar. Itu Sherenanya. Terluka, berbau api dengan raut wajah yang ketakutan juga bingung.

Seseorang meraih tangan Reven cepat ketika dia berusaha bergerak ke arah Rena. Reven hampir menyerang siapa pun itu yang meraih tangannya tepat ketika sosok itu berbicara padanya.

“Jangan,” ucapnya, “Jika kau merusak suasana hati Luca lebih buruk dengan menyela apa pun itu yang sedang berusaha diterkanya, perempuan itu yang akan menanggung akibatnya.”

Memnus, si makhluk angin yang akhirnya bisa dikenali Reven masih memegang erat tangannya, berusaha menahan. Dia terlampau serius hingga Reven akhirnya sadar bahwa apa yang dikatakannya adalah benar. Keberadaan para penyihir di hutan Merz, wajah merah lelah milik Memnus dan Trisha yang terlambat disadarinya hingga aura gelap pekat yang mengelilingi Luca membuatnya menghentikan apa pun itu yang sebelumnya ingin dikatakannya. Memnus benar. Dia tak bisa masuk begitu saja dan membuat segalanya semakin buruk untuk Rena. Jadi dia hanya diam, jika diamnya sanggup melindungi Rena.

“Apa yang mereka cari darimu?” Luca mengulang lagi, kali ini Reven bisa melihat tangan Luca mengulur, menyentuh wajah Rena dengan pelan, “Apa yang diincar Mevonia darimu sampai dia melanggar sumpahnya pada hutan Merz? Apa yang sebegitu berharganya darimu?”

Reven berusaha sekuat tenaga untuk menahan diri dan tidak melakukan apa pun. Dia hanya melihat dalam diam. Meskipun dia menyadari bahwa hampir seluruh tubuhnya berharap dia bisa menyingkirkan tangan Luca dari wajah Rena. Tapi dia terpaksa mengabaikan egonya jika dia memang ingin melindungi Rena. Sebab tanpa jauh berpikir, dia tahu bahwa Luca bukanlah lawannya.

Rena hanya menggeleng, “Aku tidak tahu.” jawabnya terlalu pelan, hingga bagi mereka yang tak memiliki pendengaran sebagus bangsa vampir, tidak akan bisa mendengarnya.

Luca melepaskan tangannya dari wajah Rena, sebelum akhirnya bangkit dan berbalik, menatap pada Reven langsung, “Mevonia sudah menabuh genderang perangnya sendiri. Reven, kau bersiap pada rencana terakhir kita.” ucapnya singkat dan tanpa punya raut  terkejut bahwa dia mendapati Reven di sana.

Namun justru Reven yang nampak tak siap, dan hanya mampu mengangguk karena sedari tadi fokusnya hanya jatuh pada Rena. Bahkan, ketika pada akhirnya Rena menyadarinya kehadirannya dan mata keduanya bertemu, dia berusaha sekuat tenaga untuk mengabaikannya dan fokus pada Luca.

“Trisha, kumpulkan semua makhluk api yang tersisa dan bawa mereka ke luar hutan Merz lewat jalur utara. Aku akan membawa Edna ke sana sebelum kalian sampai. Sekarang, pergilah.”

Trisha mengangguk, lalu langsung berbalik dan pergi dengan cepat. Luca tak mengatakan apapun lagi setelahnya, kecuali sayap gelapnya yang kembali muncul dan membawanya pergi dalam kelebatan mata ke arah pusat hutan Merz. Reven masih belum bisa sepenuhnya memproses apa yang seharusnya dilakukannya ketika satu saura membuyarkan diamnya.

“Nah, genderang perang akhirnya sudah ditabuh.”

Reven mengangguk, “Pergilah ke Gjorg. Aku yakin Luca juga sudah mengatur semuanya untuk pasukan yang tersisa.”

Memnus mengangkat bahunya, nampak tak peduli dan justru mengalihkan pandangannya pada Rena, “Sampai jumpa di medan perang, nona vampir. Kau harus sedikit lebih kuat agar bisa hidup di Tierraz lebih lama.”

***

Begitu Memnus juga meninggalkan kami, aku merasa kesunyian yang aneh membelengguku. Aku bisa merasakan tatapan aneh Reven yang melekat padaku.

“Kau baik-baik saja?”

Aku mengangguk, tidak punya kemampuan untuk menjawab lebih. Reven sudah mendekat ke arahku, dan dia masih memandangiku, sampai akhirnya aku melihat tangannya terulur.

“Boleh aku membantumu?”

Aku mengangguk, dan menerima tangan Reven yang membantuku bangun. Dia tidak mengatakan apa pun lagi dan seolah memberiku ruang untuk menyelami apa yang sebenarnya baru saja terjadi padaku. Aku yakin Reven juga menyadari betapa gelap aura Luca tadi. Aku tidak tahu kenapa dia seolah menyalahkanku atas pengkhianatan Mevonia pada sumpahnya tentang hutan Merz. Bukan aku yang membawa para penyihir ini masuk ke hutan Merz. Atau setidaknya seperti itulah yang aku pahami.

“Aku tidak tahu apa yang diinginkan para penyihir itu dariku.” aku tidak tahu bagaimana atau kenapa aku mengatakan hal itu pada Reven. Tapi rasanya membiarkan kesunyian menguasai kami dan menyerapku semakin dalam pada kebingungan tentang apa, kenapa dan ratusan pertanyaan lain membuatku membuka mulutku.

“Aku tidak tahu kenapa hal-hal buruk selalu datang mengincarku. Mungkin seseorang mengutukku tanpa aku pernah menyadarinya.”

Reven memandangku, hanya mengangguk, “Kau seolah magnet dari semua hal sepertinya tidak kau inginkan, seperti aku.”

Aku memicingkan mataku. Bagaimana bisa dia mengatakan hal seperti itu sekarang?

“Apa yang harus kita lakukan sekarang?” tanyaku akhirnya karena tidak tahu bagaimana menanggapi kalimatnya barusan.

“Beritahu seluruh kelompok kita yang tersisa. Kumpulkan mereka bersama para makhluk angin. Aku akan segera menyusul setelah menemui Alzarox.”

Aku mengangguk, dan baru saja ketika aku melangkahkan kakiku meninggalkannya. Aku mendengar Reven memanggilku. Pelan, aku menoleh ke arahnya.

“Aku harap aku bisa tetap melihatmu ketika semua ini berakhir.”

Deg

Aku tidak tahu harus bereaksi seperti apa, meskipun aku bisa merasakan bahwa ada seseuatu lain di dalam dirinku yang ingin menahannya di sini. Tapi yang kulakukan justru hanya mengangguk dan segera berlari pergi meninggalkannya.Aku takut. Takut pada apa yang mungkin kulakukan jika aku bertahan terlalu lama menatap Reven.

***

Aku mengamati semua wajah yang ada di kelompok kami. Beberapa wajah menunjukkan keengganan untuk maju berperang. Kami, para vampir, baru menikmati Tierraz. Menikmati setiap kecupan hangan matahari Tierraz yang tidak menolak kami. Kami merasa baru saja pulang ke rumah. Tapi sekarang, kami harus berjuang kembali. Tapi aku tahu, seenggan apa pun itu, kami tetap berada di sini. Bergabung bersama kelompok besar para makhluk kegelapan dan menunggu perintah Alzarok serta Luca untuk maju. Kami tahu pada siapa kami harus menundukkan kepala dan patuh.

Aku memanjangkan leherku, mencari-cari. Dan ketika kutemukan wajah Reven diantara kelompok para pemimpin pertama di depan, entah kenapa aku merasa lega. Tapi sayangnya hanya sesaat. Karena teriakan dari Reven yang memberikan perintah pada kami untuk merapatkan dan mempersiapkan barisan membuatku kembali mengatur fokusku.

Kami membentuk satu jalan lurus panjang, membelah sebuah kelompok besar ketika kulihat dari arah kastil dua hewan besar serupa kuda, namun dengan dua tanduk hitam bercabang berjalan pelan di jalan lurus itu. Aku melihat Alzarox menunggang salah satunya, dan di satu hewan lainnya, duduk Edna dengan anggun. Di belakang mereka berdua, Luca berjalan gagah menggenakan baju perang berwarna hitam pekat. Kami semua mengangkat wajah dengan bangga, ketika kelompok utama berjalan maju memimpin barisan. Aku bisa melihat semua pemimpin besar dan makhluk-makhluk lain kepercayaan Alzarox ada dalam barisan. Wajah mereka rata-rata terlihat bengis, dan siap membantai apa pun yang ada di barisan lawan.

Tiba-tiba aku merasa kuat dan hebat, tidak ada ketakutan apa pun muncul tentang kemungkinan terburuk yang dihasilkan oleh perang. Para penyihir sepatutnya takut apa apa yang akan mereka hadapi. Terlebih setelah kejadian di hutan bersama para penyihir, makhluk-makhluk licik itu patut mendapatkan balasan yang lebih. Mereka yang tidak bisa menghormati sumpahnya, tidak bisa mendapatkan pengampunan apa pun.

Aku juga tak akan membiarkan mereka mendapatkan apa pun itu dariku. Entah apa yang ada di balik rencana mereka mengirim segerombolan penyihir ke wilayah kami untuk menyerang dan menangkapku, aku sudah bersumpah tak akan memberikan mereka alasan untuk memanfaatkanku demi melawan kaumku. Tidak akan pernah.

Kuanggukkan kepalaku pelan saat James yang berdiri di sampingku, memberiku kode bahwa kami juga harus mulai masuk dalam barisan. Berbaur bersama para makhluk kegelapan lainnya, kami membentuk barisan yang sangat panjang menembus hutan Merrz, menuju ke medan perang. Iringan panjang ini diiringi suara tabuhan genderang dan teromet bersahut-sahutan, memekakkan telingaku. Namun aku tahu, bahwa bebunyian itu merupakan petanda, petanda bahwa kami siap. Siap melawan para penyihir dan makhluk apa pun yang berada dalam satu naungan bersama mereka. Aku menarik nafas panjang, aku benar-benar siap berperang.

<< Sebelumnya

Selanjutnya >>

Mau Baca Lainnya?

9 Comments

Leave a Reply

Your email address will not be published.