Remember Us – Ingatan yang Kembali

Aku sama sekali tidak tidur. Bahkan sedetik pun tidak. Dan entah mengapa aku pun juga tidak merasa mengantuk. Aku lelah, aku tahu itu. Tapi disaat yang sama aku juga merasa bahwa tubuhku juga menghilangkan perasaan itu. Aku merasa segar tak lama kemudian, bahkan ketika aku sama sekali tidak tidur, tidak minum dan tidak makan.

Helaan nafasku yang dalam terdengar dan aku bergerak, beranjak dari tempat tidur ini. Ini percuma, jika aku hanya berada dalam posisi ini semalaman dan mendengar apapun yang terjadi di luar ruangan ini tanpa melakukan apapun. Aku bisa gila. Aku tahu Ed sudah tidak ada di rumah ini. Aku mendengar dia bangun, melakukan entah kegiatan apa dari suara langkah kakinya, lalu suara itu menjauh. Semakin jauh bahkan ketika suara pintu rumah yang diutup sangat pelan kudengar, dan langkah kakinya semakin menjauh, aku tahu dia pergi.

Dengan tanganku yang dingin, aku mengusap wajahku. Mungkin masih ada sisa airmata di sana. Airmata yang aku tidak tahu kenapa bisa tumpah begitu saja dari mataku? Aku tidak tahu kenapa aku menangis. Aku tidak tahu kenapa tadi aku merasakan hatiku begitu sakit, seolah ada tangan tak kasat mata yang meremasnya hingga habis. Dan apa tadi yang kukatakan?

Aku mencintaimu?

Tapi untuk siapa? Aku mendesah lagi. Kurasa itu mungkin bagian dari kenangan yang kulupakan. Dan semakin aku mencoba untuk tahu, semakin aku merasa kesal. Sebab tak ada satupun yang keluar dari ingatanku.

Aku berjalan menuju satu-satunya jendela yang ada di ruangan ini. Kurasa sekarang sudah fajar. Mungkin melihat cahaya matahari akan menjadi baik untukku. Mungkin menikmati kilauan cahaya setelah malam gelap yang begitu panjang akan bagus untukku. Tanganku baru saja menyentuh jendela kayu itu ketika aku mendengar langkah kaki yang familiar mendekat ke rumah ini, lalu masuk dan..

Tok. Tok. Tok.

“Kau sudah bangun?”

Berbalik pelan, aku berjalan ke arah pintu. Membukanya dan sudah menebak siapa yang ada di sana, Edred Ritter.

“Aku membelikan sesuatu untukmu.” Dia mengangsurkan bungkusan kain yang diikat dengan pita indah ke arahku. Aku menerimanya, menatapnya lagi dengan kedua alis terangkat dan dia mengerti.

“Itu baju untukmu. Aku tidak tahu apa itu cukup untukmu. Aku hanya mengira ukuran tubuhmu. Kupikir tidak baik kau berkeliaran di luar dengan hanya menggunakan jubah itu. Kau bisa membahayakan dirimu sendiri.”

Aku masih tidak mengerti. Bukan tentang baju ini, tapi tentang dia. Kenapa dia mendadak bersikap baik padaku? Kurasa aku ingat dengan jelas bagaimana sikap dan caranya memandangku ketika pertama bertemu denganku. Apa karena aku membantunya mengatasi masalahnya dengan Fudge dan kawanannya?

“Pakailah. Lalu kita bisa makan pagi. Aku juga membeli beberapa potong roti tadi. Aku tidak tahu apa kau—“

“Baiklah.” Potongku cepat.

Dia mengangguk, lalu berbalik dan meninggalkanku. Aku menutup pintunya lalu membuka bungkusan di tanganku dengan pelan. Sebuah gaun sederhana berwarna gelap ada di sana. Aku menyentuhnya, dan tahu permukaannya tidak lembut. Entah kenapa merasa tidak senang. Aku tidak tahu. Seharusnya aku berterima kasih pada laki-laki itu. Tapi sebagian diriku merasa bahwa ini tidak bagus. Aku tidak puas dengan gaun ini.

Aku mendesah—entah sudah keberapa kali dalam malam ini—melepaskan jubahku dan segera memakai gaun ini. Aku menunduk—begitu selesai memakainya—mengamati setiap detail gaun yang untungnya ukurannya cocok untukku. Ini terlalu sederhana, tidak ada korset dengan tali-tali rumitnya, tidak ada rendaan indah, tid—aku berhenti. Kenapa aku mengeluh hal bodoh semacam itu?

Kurasa karena tidak tahu apapun tentang masa laluku akan benar-beanr membuatku gila. Aku berbalik cepat, keluar dari ruangan ini dan menuju meja kecil tempat Ed sudah duduk. Dia mengangkat wajahnya, mengisyaratkan padaku untuk duduk dan dia meletakkan anak panah yang separuh selesai ke sebelahnya. Kurasa dia membuat anak panah kapanpun dan dimanapun ketika dia punya waktu melakukannya.

“Kau terlihat lebih baik.” Ucapnya.

Aku mengangguk, “Terima kasih untuk ini.”

Dia hanya menatapku sekilas lalu mengangsurkan sepotong roti ke depanku.

“Kurasa aku akan pergi setelah ini.” Kataku tiba-tiba. Dia mengangkat wajahnya, terkejut sepertinya, tapi tidak mengatakan apapun dan aku melanjutkan ucapanku, “Aku ingin mencari tahu tentang diriku. Aku bisa gila jika aku tidak tahu apapun tentang diriku sendiri.”

Dia mengamatiku lurus-lurus, “Baiklah.” Sahutnya singkat, “Aku juga tidak ingin menahanmu di sini jika kau tidak ingin menerima bantuanku. Kusarankan lebih berhati-hati. Ingat tentang jam malam dan segala peraturan lain agar kau tidak terlibat dengan para penjaga malam.”

Aku baru akan membuka mulutku untuk bertanya ketika Ed sudah memotongnya.

“Kau masih belum mengingat apapun tentang segala aturan itu bukan?”

Aku mengangguk. Lalu dia menarik nafas panjang, “Raja membuat peraturan bahwa setelah matahari terbenam sampai dengan fajar, kau tidak boleh keluar dari rumahmu. Tidak boleh ada aktifitas di luar rumah. Sama sekali tidak boleh kecuali kau memiliki izin yang hanya bisa kau dapat dari para penjaga malam. Mereka ada di setiap desa dan menemukan tempat para penjaga malam akan mudah. Tapi kusarankan, menghindari mereka jauh lebih baik.”

“Itu saja?”

“Yang terpenting hanya itu, peraturan tentang jam malam.”

Aku mengerutkan keningku, “Kenapa ada peraturan semacam itu?”

“Mungkin karena raja takut. Atau karena dia benci memberi peluang kepada para makhluk malam untuk bekerja.”

Oh demi gaun jelek ini, tidak bisakah Ed membuat ini terdengar lebih sederhana?

“Makhluk malam apa? Dan raja takut, takut ap—“

“Dengan semua ketidaktahuan ini dan kau ingin pergi?” Ed menggelengkan kepalanya, “Aku bahkan bisa menebak jika kau juga tidak tahu akan pergi kemana. Kau tidak punya tujuan dan rencana apapun, nona tanpa nama.”

Rahangku mengeras, “Dan kau seharusnya bisa menghilangkan ketidaktahuanku atas hal-hal umum ini jika saja kau menggunakan kalimat-kalimat yang lebih sederhana dan langsung ke pokoknya. Bukan berbelit-belit seperti itu.”

Ed mengangkat kedua tangannya, “Oh baiklah. Kau mau aku menjelaskan apa, nona tanpa nama? Tentang raja kita yang gila setelah kehilangan ratunya yang diracuni oleh penyihir yang dia pekerjakan sendiri sehingga dia menciptakan aturan konyol tentang jam malam atau tentang apa?”

Mataku menyipit. Kurasa dia yang gila dan bukan si raja yang dikatakannya. Pertamanya dia penuh kecurigaan kepadaku, lalu dia jadi baik, lalu sekarang berubah meledak-ledak seperti ini. Kurasa aku berada di rumah yang salah.

Aku berdiri, “Tidak perlu. Aku tidak butuh tahu apapun darimu.” Aku berbalik dan melangkah menuju pintu rumahnya. Membukanya dengan satu gerakan dan diakhiri dengan jeritan kesakitanku. Aku mundur dengan cepat, terjatuh dengan nafas terengah-engah. Ed sudah berada di sampingku setelah dia berlari begitu mendengar jeritanku.

“Kau kenapa? Ada apa?”

Aku mengangkat lenganku, mata Ed melebar. Ada luka memerah di sana, bahkan ada bagian di lenganku yang melepuh dan aku bisa merasakan setiap denyutan rasa sakit yang berasal dari sana.

“Kau—apa yang terjadi?” suara Ed terdengar panik dan aku masih menatap tanganku sendiri dengan penuh horor.

“Matahari.”

***

Aku menatap lenganku, tak berkedip sama sekali. Ed memberikan cairan penyembuh luka yang dia miliki dan membalurkannya ke setiap bagian yang melepuh dengan sangat pelan sebelum dia membalutnya dengan kain tipis ini. Aku membiarkannya melakukan itu semua sementara kepalaku dipenuhi begitu banyak pertanyaan aneh.

Ed berjalan menjauh, duduk di seberangku. Menatapku, kali ini dengan  tatapan yang sama seperti ketika dia bertemu denganku.

“Sebenarnya siapa kau? Atau apa kau ini?”

Aku menggeleng. Tidak bisa mengatakan apapun, bukan karena aku tidak ingin tapi karena aku tidak tahu. Aku tidak tahu apa yang harus kukatakan untuk menjelaskan ini semua kepadanya. Lihat, lihat bagaimana tanganku terbakar seperti ini hanya karena aku terkena sinar matahari.

“Kau penyihir.” Suaranya pelan. Tapi dia mengucapkannya dengan tajam. Aku mengangkat wajahku, hanya untuk menemukan wajahnya yang penuh kecurigaan.

“Kakakku penyihir tapi aku bukan.” Kalimat itu meluncur begitu saja dari mulutku dan matanya membulat sempurna mendengar apa yang kukatakan.

Dia meraih pedangnya, menghunusnya keluar dan mengarahkannya kepadaku. Jika tidak ada meja diantara kami, aku sudah pasti bisa lebih jelas merasakan aura perak  dari pedang itu. Dan luka di lenganku semakin berdenyut menyakitkan karenanya. Tapi aku sama sekali tidak bereaksi atas apa yang dia lakukan padaku. Aku tidak peduli. Apakah dia sekarang akan membunuhku atau apa, aku benar-benar tidak peduli.

“Kau tidak kehilangan ingatanmu. Katakan apa tujuanmu datang ke sini? Apakah kau salah satu Cllarigh?”

Aku membiarkannya. Aku tidak peduli. Entah pertanyaan macam apa yang dia lontarkan kepadaku. Aku tidak mau tahu. Aku mendengar langkahnya dan dia sekarang berdiri tepat di sampingku. Aku tahu. Meski aku sama sekali tidak mengangkat wajahku, aku tahu. Bahkan ketika dia menyentakkan lenganku, membuatku bangun dan menatapnya. Aku tetap memberikan tatapan mata kosong.

Bunuh aku.

“Katakan padaku apa tujuanmu?”

Mataku memejam. Mengambil nafas panjang, dan membuka kelopak mataku kembali, “Aku tidak tahu siapa diriku. Aku bahkan tidak tahu kenapa aku bisa mengatakan hal seperti itu kepadamu. Aku sudah kehilangan semuanya. Aku kehilangan Dev. Aku kehilangan Ar. Mereka semua mati untuk melindungiku. Dan kemudian aku bahkan harus ke—“

Aku menutup mulutku. Terhuyung dengan cepat dan terjatuh ke belakang. Ed memandangiku. Sepertinya terkejut dengan semua yang kukatakan. Tapi aku—aku bahkan tidak tahu apa yang baru saja kukatakan. Dev? Ar? Tapi..

“Tapi aku tetap akan melindungimu meski kau berkata kau bisa menjaga dirimu sendiri. Aku berjanji aku akan selalu melindungimu, Sherena Audreista. Kau bisa pegang janjiku ini.. untuk selamanya.”

“Kumohon. Aku berjanji pada ayah untuk melindungimu. Dan aku tidak mau di saat terakhirku, aku malah gagal. Lagipula, mati tidak semengerikan yang orang pikir, bukan?”

Mataku terbuka lebar, mulutku ternganga dan aku sama sekali tak bergerak. Semua kilasan-kilasan itu kembali. Aku melihat semuanya. Semua yang mungkin menjawab segala pertanyaan yang muncul di dalam kepalaku sebelumnya. Aku berhenti bernafas. Segalanya memenuhi kepalaku dan aku kehilangan semua kontrol akan debar jantung dan bahkan alur paru-paruku.

“Kau—“ Ed berlutut di depanku, “—ada apa ini sebenarnya?” dia menguncang tubuhku, “Kau tidak bernafas. Hei.. hei, sadarlah. Bernafas. Kau tidak apa-apa? Hei, bodoh. Apa yang terjadi? Ap—“

Aku memandang Ed untuk pertama kalinya, “Vampir tidak butuh bernafas jika dia memang mau.” Ucapku pelan dan dia melepaskan kedua tangannya dari lenganku.

“Vam—apa yang sebenarnya kau katakan?”

“Aku mengingat semuanya.” Bisikku pelan, “Aku baru saja mendapatkan semua ingatanku yang hilang.”

Aku menggeleng, mengatupkan bibirku. Bahuku masih tegang.

“Aku bukan manusia.”

***

“Aku harus mencari Victoria Lynch.” Ucapku cepat, “Aku harus mencarinya agar aku tahu apa yang sebenarnya terjadi.”

Aku menyeritakan semua yang kutahu kepada Ed dan dia mendengarkan semua yang kukatakan tanpa menyela sedikitpun. Meskipun dengan jelas matanya memandangku dengan tak percaya dan muncul kerutan dalam di dahinya.

Langkahku tak jelas. Aku mondar mandir di depannya dan dia belum mengatakan apapun sejak aku berhenti bicara tentang siapa aku sebenarnya kepadanya.

“Jadi namamu Sherena. Sherena Audreista? Audreista tidak terdengar seperti nama keluarga bagiku. Itu nama yang sangat asing. Dan vampir, manusia serigala, heta, slayer lalu entah kerajaan apa yang tadi kau katakan. Aku sama sekali tidak mengerti. Kurasa kau hanya mengada-ada.”

Kakiku berhenti melangkah. Aku memutar tubuhku, menatapnya dengan tidak percaya, “Karena itu memang bukan nama keluarga. Lagipula apa pentingnya memiliki nama keluarga? Kau menjadi penting karena siapa kau, dan bukan karena keluargamu. Dan astaga, Edred Ritter, kau hidup di masa apa sebenarnya? Bagaimana kau sama sekali tidak tahu apa-apa tentang apa yang kukatakan?”

Ed mengangkat tangannya, “Tunggu, tunggu dulu. Kurasa kita harus meluruskan sesuatu. Harusnya aku yang menanyakan itu kepadamu. Kau hidup di masa apa memangnya? Seolah kau tertidur berabad-abad dan terbangun di waktu yang tidak kau tahu. Dengar nona, siapapun tadi namamu—“

“Sherena.”

“—ya kau, Sherena. Di masa ini, nama keluarga yang terikat di belakang nama lahirmu akan menentukan apa kau nantinya. Apa kau akan nampak terhormat atau malah terhina.” Rahang Ed mengatup. Dia tidak melanjutkan ucapannya, hanya membuang pandangannya dan aku mendengar detak jantungnya yang terpacu tidak beraturan.

Aku mendesah lelah, “Aku tidak tahu, Ed. Kurasa aku memang bangun di waktu yang salah.” Aku menjatuhkan tubuhku dan duduk di kursi kayu yang keras.

“Apa maksudmu?”

“Seorang vampir perempuan bernama Victoria Lynch membuatku tertidur dan ak—“

“Cukup, Sherena.” Potong Ed, “Berhentilah mengatakan apapun yang sama sekali tidak kumengerti. Sepertinya lebih baik kau memang tidak mendapatkan ingatanmu kembali. Kau menjadi gila. Dan vampir? Omong kosong apa lagi itu? Cukup kali ini, aku harus pergi bekerja dan kau juga bisa pergi dari sini seperti kemauanmu sebelumnya.”

Ed bangkit, berjalan begitu saja ke arah pintu. Aku bergerak sangat cepat, dengan kemampuan vampirku, menghadang langkahnya dan sudah berdiri di depannya hanya dalam sepersekian detik.

“KAU?” suara Ed meninggi, “Sihir apa yang kau lakukan?”

“Ini bukan sihir. Dan berhenti mengacungkan pedangmu ke arahku.” Sahutku ketika aku melihat dia akan menarik pedang perak itu lagi, “Vampir bukan omong kosong Ed. Kami adalah salah satu dari makhluk pemangsa. Kami hidup dari darah manusia, matahari membakar kulit kami, membunuh kami, perak menyakiti kami lebih daripada apapun, dan kami abadi. Setidaknya begitu, kami tidak menua. Kami memiliki kekuatan dan kecepatan yang tidak akan pernah kau sangka. Kam—“

“Berhenti mengatakan kami, memangnya ada siapalagi selain kau?”

“Keluarga Corbis, kelompok utama, pemimpin kami Re—“ aku menggeleng, kehilangan yang satu ini, “Tapi yang jelas jumlah kami cukup banyak, Ed.”

Aku bisa merasakan jika Ed masih tidak percaya, dia memutar bola matanya, “Lalu kenapa tidak ada satupun dari vam—apapun itu tadi—yang pernah muncul di sini. Tidak ada makhluk yang hidup dengan meminum darah manusia. Dan kalau kau memang seperti itu, kenapa kau tidak membunuhku dan meminum darahku.” Dia berhenti, menatapku dengan tatapan mencela, “Kau konyol.”

“EDRED RITTER!” teriakku frustasi, “Aku tidak melakukannya karena aku tidak lapar. Aku sudah membunuh dua laki-laki dan menghisap darah mereka sebelum aku datang ke tempat ini. Butuh kurang lebih satu bulan lagi sebelum aku membutuhkan darah lagi.”

Ed menarik tanganku dengan kasar, “Dengar, Sherena Audreista—kalau itu memang benar namamu—sudah cukup omong kosong ini. Kau bisa mendongengkan ceritamu ini pada anak-anak dan mereka akan ketakutan lalu menurut untuk pergi ke tempat tidur mereka. Tapi denganku? Aku tidak percaya apapun yang kukatakan. Kau penyihir, itulah satu-satunya penjelasan untuk semua hal aneh pada dirimu. Kau adalah makhuk malam. Penyihir hitam. Makhluk paling menjijikan di dunia ini. Satu-satunya alasan kenapa aku menolongmu dan tidak membunuhmu adalah untuk membalas jasamu karena membebaskanku dari masalah dengan Fudge. Sekarang kita impas, pergilah dari hadapanku.”

Matanya lurus ke arah mataku dan suaranya semakin dalam, “Jika kita berdua bertemu lagi, ingatlah bahwa itu adalah saat dimana aku akan membunuhmu, penyihir.”

Ada kebencian yang begitu dalam setiap penggalan kata yang dia ucapkan padaku. Aku tidak tahu apa yang terjadi antara dia dan para penyihir sehingga dia terdengar seeperti itu. Aku tidak mengatakan apapun. Percuma mendebat seseorang yang penuh kemarahan seperti itu.

Dia melepaskan tanganku dan aku menyingkir menjauh ketika dia membuka pintu rumahnya dan pergi begitu saja. Aku masih diam. Sejujurnya juga aku tidak punya alasan mengapa aku harus membuatnya percaya bahwa aku adalah vampir dan vampir itu ada. Manusia itu bahkan tidak tahu apapun tentang apa yang kukatakan.

Kau hidup di masa apa memangnya? Seolah kau tertidur berabad-abad dan terbangun di waktu yang tidak kau tahu.

Suara Ed terngiang di pikiranku. Dan untuk pertama kalinya, aku memikirkan itu benar-benar. Apa aku memang sudah melewatkan begitu banyak waktu sementara aku tertidur?

***

Duduk tepat di depan perapian rumah Ed yang menyala, aku memeluk lututku dan menatap lidah api di depanku. Tidak ada hawa panas. Tidak ada apapun. Vampir tidak merasakan hawa panas api seperti halnya manusia. Seluruh tubuhku tetap dingin tapi kepalaku tidak.

Aku mengingat banyak hal dan mempelajari semuanya dalam diam. Tapi tak ada satupun yang membuatku paham dengan benar. Aku mengingat siapa diriku, apa yang terjadi pada diriku. Tapi pada saat bersamaan. Aku tahu bahwa itu tidak semua. Ada banyak bagian yang hilang di dalam kepalaku. Ada banyak ingatan yang sama sekali tidak terikat satu dengan yang lainnya. Seolah-olah bagian yang menghubungkan semua itu terhapus begitu saja.

Aku ingat bagaimana dulu aku dan Ar ketika kami masih sama-sama di pelatihan. Dia jadi slayer dan aku jadi heta. Aku juga ingat bagaimana aku mengenal dan kemudian jatuh cinta pada seorang vampir bernama Deverend Corbis. Lalu ada banyak yang hilang. Aku tidak tahu kenapa aku bisa menjadi vampir? Aku tidak tahu kenapa aku sering menemukan ingatan tentang kastil besar dan padang bunga ungu sementara aku tidak tahu apapun tentang itu.

Apakah itu tempat tinggal Dev? Apakah Dev yang mengubahku menjadi vampir? Apakah aku memang melakukannya dengan sukarela karena aku begitu mencintai Dev? Lalu bayangan itu muncul, saat-saat dimana Lucia menyeretku, memintaku meninggalkan Dev yang melawan Morgan, seorang manusia serigala, yang kemudian menjadi salah satu sahabatku entah juga karena sebab apa.

“Aku akan melindungimu. Jadi pergilah atau segala yang kulakukan akan sia-sia!”

“Dev..” aku mendesah.

Tapi entah bagaimana, aku menyadari bahwa rasa kehilanganku atas Dev bukan penyebab dari entah apa yang membuat hatiku terasa kosong. Bukan Dev. Aku yakin itu. Lalu apakah Ar? Apakah karena kehilangan Ar aku jadi seperti ini? Meskipun tahu jawabannya juga bukan, aku memaksa untuk percaya itu. Sebab tidak ada lagi yang bisa kuingat.

Ada begitu banyak sosok dan nama bermunculan di kepalaku. Lucia, Elios, Elsass Freesel, namun aku tidak tahu apa hubungan mereka denganku. Aku melihat wajah mereka, aku tahu nama mereka, tapi aku tidak tahu kenapa mereka ada dalam ingatanku.

Lalu ingatan ruang tahanan penuh aura perak itu menyergapku. Tubuh Lyra Corbis yang penuh luka. Dia diambang kematian. Aku melihat dalam kepalaku bagaimana aku menangis di depannya, berharap bahwa dia tidak mati. Berharap bahwa dia akan bertahan.

“Jika kau bertemu dengan Damis. Jika kau.. bertemu dengannya. Maukah.. maukah kau.. maukah kau mengatakan padanya bahwa aku.. aku sangat mencintainya.”

Damis? Tapi siapa Damis?

Kuusap wajahku dengan frustasi. Bagaimana bisa aku berjanji pada orang yang sekarat ketika aku tidak tahu apa-apa tentang janji itu? Mengatakan dia mencintai Damis, tapi—aku bahkan sama sekali tidak punya bayangan siapa itu Damis. Dan diriku yang dalam ingatanku malah mengangguk yakin dan menyanggupinya.

Selamat tidur, Sherena.

Dan wajah perempuan yang begitu cantik dan berbahaya pada saat bersamaan itulah yang paling membuatku kesal. Perempuan itulah yang membawaku dalam tidur panjang dan bangun dalam  keadaan buta waktu dan tidak tahu apapun begini. Victoria Lynch. Aku merapal nama itu berulang kali. Mencoba mengali apa lagi yang kuingat darinya.

“Ketika matahari esok tiba. Bangsa kita akan berubah. Tahun demi tahun akan berganti. Sebuah kisah nyata berubah menjadi legenda. Dan kita hanya akan menjadi sesuatu yang akan dengan mudah terlupakan. Kita, menjadi sebuah kisah yang kebenarannya tidak jelas. Tapi tak pernah benar-benar lenyap.”

 Dia tahu. Mataku membulat penuh horor. Perempuan bernama Victoria Lynch itu tahu bahwa para vampir akan terlupakan dan menjadi seperti ini. Ingatanku kembali ke ekspresi tidak percaya Ed ketika aku menyeritakan kepadanya segala hal tentang vampir. Tentangku. Tengtan kaumku.

“Kau belum pergi?”

Aku menoleh cepat dan Ed berdiri di depan pintu rumahnya yang terbuka, langit berwarna merah gelap ada di balik tubuhnya. Sudah hampir malam? Jadi nyaris seharian aku duduk di sini dan berusaha menata semua ingatanku yang tidak karuan ini?

“Aku menunggu matahari tenggelam.” Jawabku dan aku berdiri, “Aku tidak bisa keluar ketika matahari masih ada. Tapi kurasa sekarang sudah tidak apa-apa.” Aku berjalan melewatinya dan dia meraih lenganku yang masih dibalut kain.

“Aku ingin kau menjawab beberapa pertanyaanku.”

Aku menarik tanganku, berbalik menatap Ed, “Katakanlah, anggap aku melakukannya karena kau memberiku tempat berlindung dari matahari sialan itu.”

Matanya yang sebiru lautan menatapku lurus-lurus, sebelum suaranya yang tegas kembali terdengar, “Apa benar vampir itu benar-benar ada dan kau adalah salah satunya?”

Sudut bibirku tertarik tipis sekali, membentuk senyuman menghina, “Jadi kau memikirkan ucapanku yang kau sebut omong kosong itu selama kau di luar?”

“Jawab saja pertanyaanku.” Selanya tidak suka.

Aku melipat tanganku, memandangnya malas, “Vampir memang ada, dan aku memang salah satu dari mereka. Tapi kurasa kau juga tidak akan mempercayainya, atau—“ aku mengangkat alisku, “Kau berubah pikiran sekarang?”

“Aku teringat sebuah cerita lama yang diceritakan seseorang kepadaku. Cerita tentang makhluk keabadiaan yang hidup dengan menghisap darah manusia. Makhluk yang dulu nyaris membunuh habis darah keturunan kami.”

Mataku membulat, “Siapa yang menyeritakan itu kepadamu?”

Kurasa aku akan menemukan seseorang yang bisa memberitahuku berapa banyak tahun yang sudah kulewati dengan sia-sia. Jika seseorang itu masih percaya dan tahu tentang bangsa vampir, dia mungkin juga tahu apa yang sebenarnya terjadi sampai vampir hanya menjadi bagian dari ada dan tidak ada dunia ini.

Tapi Ed terlihat tidak ingin mengatakannya. Matanya berkedip gusar dan aku semakin tidak sabar, “Ed, katakan padaku darimana kau mendengar tentang vampir? Aku harus bertemu dengannya agar aku tahu berapa banyak waktu yang sudah berlalu sejak sebelum aku dibuat tidur dan tidak tahu apa-apa seperti ini.”

“Aku tidak pernah suka membicarakan tentang seorang Cllarigh.”

Keningku berkerut, “Cllarigh?”

“Keluarga mereka adalah penyebab kejatuhan Ritter, keluargaku.”

Aku membenci laki-laki ini. Kenapa dia tidak pernah membuat segalanya menjadi sederhana dan malah membuatnya rumit? Aku membuang nafas dengan kesal. Aku benar-benar ingin meminum darahnya sehingga aku akan tahu segala hal yang dia tahu. Tapi tidak, aku tidak akan melakukannya. Aku tidak lapar. Bahkan jika aku sedang lapar, aku tidak yakin apa aku mau memiliki ingatan laki-laki ini. Kurasa isi kepalanya lebih rumit daripada isi kepalaku sekarang.

“Jadi dimana aku bisa menemukan Cllarigh yang kau maksud ini?”

“Di kastil kerajaan, mereka adalah salah satu keluarga penting kerajaan dan tinggal di salah satu bangunan pribadi di bagian sayap kanan kastil kerajaan.”

“Dan dimana aku bisa menemukan kastil kerajaan kalian?”

Kedua alis Ed menyatu, “Kau akan pergi ke sana?”

Demi apapun ini, apa memang yang ada di dalam otak laki-laki ini?

“Tentu saja.” Aku menjawab tanpa semangat, “Jika salah satu dari Cllarigh ini memang tahu tentang bangsa vampir. Ada kemungkinan dia tahu tentangku. Meskipun kemungkinannya sangat kecil, aku harus tetap mencobanya. Nah, Edred Ritter, sekarang katakan padaku dimana arah yang tepat menuju kastil kerajaan kalian sehingga aku bisa pergi sekarang.”

“Aku akan mengantarmu ke sana.”

Mau Baca Lainnya?

23 Comments

  1. Iya, kan itu efek ikatan mereka yang diputus waktu itu. Jadi apapun yang berhubungan dengan Reven dia ngga ingat. Bahkan dia ngga inget tentang Noura, tentang kelompok utama.. pokoknya yang ada bau-bau Reven di mah ngeblank.

    Eh eh bukan, rajanya bukan Cllarigh. Rajanya namanya Pettied, ada di chapter sebelumnya di percakapan dia sama Fudge :

    "Tidak sekarang. Dia akan menerima yang lebih buruk dari sebuah pukulan. Kau, secara resmi kutangkap sekarang, Edred Ritter. Atas tuduhan melanggar jam malam yang diberlakukan Raja Agung Pettied." dia maju dan terlihat akan menangkap Ed.

    Kalo Cllarigh itu :

    “Jadi dimana aku bisa menemukan Cllarigh yang kau maksud ini?”
    “Di kastil kerajaan, mereka adalah salah satu keluarga penting kerajaan dan tinggal di salah satu bangunan pribadi di bagian sayap kanan kastil kerajaan.”

    Next chapter, ngantri yah. masih ada another story, xexa dan malaikat hujan dulu sebelum post RU yang baru. 😀

  2. Ya ampuunn….
    ne sebenarnyaaa dhh brapa abaad seh berlaluu….
    seperti jaman tempo dulu ke jaman modern…
    ato kayak jaman purba ke jaman sekarang…hehehehehe
    daaan…
    reven…manaa reveeen thor..
    jangan sembunyiin mulu di kantongx…
    sni kluarin… haaaahahah
    kgeeen ma diaaa….
    knpa belum muncul ughaaa…..
    dtggu next chapternyaaaa yaa….

  3. Belum sampai zaman modern kok, Si Ed aja masih bawa-bawa pedang dan anak panah. Next chapter bakal ngejelasin ini semua, dan penuturnya adalah Richard Cllarigh *eh spoiler*

    Hahahhaa

    Reven? Emmm dia masihhh sama Lucia *eh

  4. Wah butuh penjelasan yg nggak ada habisnya nih hahahhaha
    Kalo baca tiap episodenya selalu kepo tingkat dewa, selalu ada pertanyaan tiap selesai baca ..
    Tapi setiap nunggu kelanjutan dari cerita itu rasanya bisa bikin semangat loh…hahah

  5. Wah butuh penjelasan yg nggak ada habisnya nih hahahhaha
    Kalo baca tiap episodenya selalu kepo tingkat dewa, selalu ada pertanyaan tiap selesai baca ..
    Tapi setiap nunggu kelanjutan dari cerita itu rasanya bisa bikin semangat loh…hahah

  6. Aduhh aku ngeri bacanyaaa, baca comment2nya pada gt hahah takut penasaran lg klo abis baca.. aku nunggu part selanjutnya aja dahh, ngantri yah thor wkwk duhh harus sabar yakk ini nunggu hihih

    Semangattt buat ngelanjutin, sehat2 terus yah thor :))

  7. Kok nyesek ya lihat Rena gak inget apapun soal Reven.Dan kata kakak Reven sama Lucia?Nooooooooo,jangan dong kak,gak sabar nunggu mereka ketemu dan semoga Cllarigh bisa ngebantu,

Leave a Reply

Your email address will not be published.