Remember Us – Janji

“Kau—“

Tapi Morgan menggeleng, “Tidak. Kujelaskan nanti. Sekarang ikut aku, Sherinn. Di sini berbahaya.” Dia melompat, berubah menjadi serigala besar. Matanya menatapku sebentar, memintaku mengikutinya sebelum dia melompat dan pergi dengan cepat. Aku tidak punya pilihan selain mengikutinya dengan tak kalah cepat. Meninggalkan derap langkah kaki yang mendekat ke arah kami.

Morgan membawaku menjauh dari lingkungan kastil. Dia berhenti di bukit terjauh dimana puncak kastil hanya terlihat seperti sesuatu yang samar. Serigala besar itu berbalik dan menghilang,  digantikan sosok manusia Morgan. Seorang laki-laki dewasa dengan telanjang dada, otot-ototnya terlihat jelas, tertutup oleh kulitnya yang berwarna semakin gelap. Morgan terlihat lebih tua daripada ketika aku terakhir kali aku bertemu dengannya. Manusia serigala menua, meskipun dengan proses yang tidak secepat manusia.

“Jelaskan padaku.” Desisku tanpa mau menunggu. Aku menatapnya dengan marah, tak peduli bahwa inilah pertama kalinya kami bertemu kembali sejak sebelum kematian Ar.

Morgan menghela nafas dengan berat, dia menolak menatap mataku, “Aku tidak tahu harus menjelaskan darimana.”

“Kau bisa memulainya dengan menjelaskan kepadaku kenapa kau bisa ada di sini?” suaraku menipis, “Kenapa kau ada di sini, berkeliaran bersama para slayer sementara Rowena bilang mereka menahanmu??” aku berteriak dengan kemarahan yang tidak bisa lagi kutahan.

“Rowen— ?”

“Kau harus jelaskan apa yang sebenarnya terjadi, Morgan Freesel. Dimana sebenarnya sekarang para manusia serigala berpihak? Apa kalian dan para manusia itu..” aku diam tak sanggup melanjutkan apapun lagi.

Morgan maju selangkah, terlihat gusar, “Aku minta maaf, Sherinn.”

Aku mundur. Itu menjelaskan semuanya.

“Pengkhianat.” Desisku.

“Kami terpaksa. Ayah menyepakati perjanjian dengan Master para slayer. Kelompokku tidak tahu apa isi kesepakatan mereka. Tapi yang jelas, mereka berencana menghancurkan para vampir sampai habis. Sampai tidak ada satupun dari kalian yang tersisa. Aku tidak bisa melakukan apapun untuk menghentikan ini. Aku ingin memperingatkanmu akan apa yang mungkin terjadi. Tapi para slayer lebih cepat datang dan membawa kami semua ke sini.” Mata hitamnya menatapku, “Percayalah padaku. Meskipun semua kaumku berpihak pada para manusia. Aku, akan selalu ada di pihakmu.”

“Aku tidak percaya padamu.”

“Kau harus.” Dia bicara dengan tegas, “Kau harus jika kau memang ingin menyelamatkan Reven.”

Mataku melebar mendengar nama Reven. Amarahku melembut dan aku memandang Morgan, tak berkedip, “Dimana Reven? Dia.. apa dia baik? Apa mereka menyiksanya? Aku mendengar suara Lyra tadi. Dia terdengar..” aku kehabisan kata-kata untuk menggambarkan kemungkinan buruk yang sejak tadi memenuhi kepalaku.

“Sherinn..”

“Apa kau benar-benar akan membantuku?”  aku menatapnya serius.

Morgan mengangguk tanpa ragu, “Dengan seluruh nafasku. Kau adalah janjiku pada Ar. Aku menyesal tidak bisa membantu kalian ketika itu sehingga aku terpaksa kehilangan sahabat terbaikku. Apa kau pikir sekarang aku akan membiarkan satu lagi sahabat terbaikku mati sia-sia dengan menerobos sarang musuh tanpa aku berusaha membantunya?”

Sudut bibirku tertarik ke atas. Morgan tidak berubah. Dia masih sahabatku. Meski pada awalnya aku begitu takut bahwa dia sudah mengkhianatiku, akhirnya dia membuktikan bahwa dia masih sama. Masih Morgan Freesel seperti yang kukenal dulu.

“Kau tadi mengatakan tentang Rowena? Apa kau ke desa kami? Bagaimana dia.. bagaimana Alan dan anak-anakku?” suaranya nyaris terdengar putus asa dan penuh kecemasan. Aku mengangguk, menenangkannya.

“Mereka baik. Kau tidak perlu cemas. Aku membawa mereka ke tempat yang aman. Kau akan tahu ketika kau kembali ke sana nanti.”

Aku melihat kelegaan terpancar di wajahnya sebelum dia kembali fokus kepadaku, memicingkan mata, “Kau menggunakan ramuan itu lagi? Seperti yang kau gunakan ketika kau menyusup ke desaku dulu? Kau tidak terlalu tercium seperti vampir.”

“Ini yang terakhir.” Ucapku, “Semua sudah digunakan untuk keperluan tugas lain.”

Dia mengangguk, “Setidaknya itu akan berguna sekarang. Para manusia serigala dimana-mana. Melindungi lingkungan kastil kerajaan dengan ketat.”

“Dimana Reven ditahan?”

Morgan menunjuk ke arah menara di sekitar kastil yang ada di kejauhan, “Di sana. Menara ketiga dari kiri. Reven ada di puncak menara. Aku tidak yakin di ruangan yang sebelah mana. Lalu yang lainnya ada di menara yang berada di paling belakang. Aku bisa mencium bau para vampir dengan sangat kuat di sana.”

“Mereka dibiarkan hidup?” mendadak kenyataan aneh itu menyergapku. Hal yang sangat tidak biasa. Biasanya para slayer dan heta tidak akan repot-repot menahan makhluk liar yang tertangkap. Mereka membunuhnya tanpa berpikir panjang. Lalu sekarang?

Aku menoleh pada Morgan dan melihat raut wajahnya yang terlihat ragu, aku tahu dia tahu sesuatu, “Ada apa?”

Morgan menatapku sekilas, “Mereka menggunakan para vampir sebagai bahan percobaan. Dengan segala senjata perak dan matahari. Apapun yang akan membawa kematian paling cepat dan efisien untuk memburu kalian.”

Mataku membulat, aku bisa merasakan semua amarahku kembali, “Para manusia itu..” aku meremas buku-buku jari tanganku dengan kuat, “Jadi semua terikan kesakitan yang kudengar. Mereka…” nafasku memburu dengan kuat, “.. mereka melakukan yang lebih buruk daripada membunuh kami.”

Ingatanku kembali kepada jeritan pilu Lyra. Aku meneteskan airmataku. Aku akan membunuh mereka semua. Bahkan jika aku mati tanpa sempat membunuh Master mereka, aku akan membawa sebanyak mungkin slayer dan heta dalam kematianku. Aku bersumpah. Aku bersumpah atas kehormatan kaumku.

“Sherinn. Kau baik-baik saja?”

Aku menggeleng, “TIDAK.” Sahutku tegas, “Aku harus membunuh mereka sekarang.”

Morgan mencegahku dan menarik tanganku ketika aku sudah akan berlari kembali ke arah kastil manusia. “Jangan bodoh, Sherinn. Kau bisa mati jika kau pergi begitu saja tanpa persiapan apapun. Penjagaan sangat ketat.”

“Lalu menurutmu apa yang sebaiknya kulakukan?” aku berteriak di depannya, “Apa aku harus diam menunggu di sini? Menunggu sampai satu persatu kaumku yang tersisa di dalam sana mati? Sampai.. sampai aku merasakan bahwa Reven juga mati? Itukah yang harus kulakukan?”

Morgan melepaskan tanganku, menatap keputusasaan yang ada di dalam mataku. Kami berdua sama-sama tahu bahwa situasi ini adalah yang terburuk yang bisa kami bayangkan. Meskipun aku memiliki Morgan. Aku tahu bahwa tidak mungkin bagiku untuk menyelamatkan semuanya. Aku terjatuh, merasa lemah untuk pertama kalinya.

“Mereka akan mati. Kaumku..” aku terisak dan aku bisa merasakan Morgan menyentuh bahuku sebelum dia memelukku, “Aku tidak bisa menjanjikan padamu bahwa aku bisa menyelamatkan semua dari mereka. Tapi Reven, aku akan berusaha sekuat tenaga untuk mengeluarkannya dari sana.”

***

Aku duduk dengan tenang dan mendengar semua yang dijelaskan oleh Morgan. Semua yang dia tahu tentang bagaimana penyerangan kaumku berakhir dengan kekalahan total. Ratusan slayer, heta dan manusia serigala melawan para vampir. Jumlah para vampir tidak banyak. Tidak sampai dua ratus. Dan mereka selesai dengan cepat.

“Aku merasa ada pengkhianat di dalam kelompokmu.”

Satu kalimat Morgan itu mengakhiri semua penuturannya. Aku mengamatinya. Meski aku ragu, aku juga memikirkan kemungkinan itu. Tapi jika memang ada, bagaimana bisa itu terjadi? Kami, para vampir adalah bangsa yang paling menjunjung tinggi kesetiaan pada kelompok. Loyalitas kami tidak akan pernah diragukan. Lalu sekarang?

“Semua terasa terlalu mudah dan .. Para slayer dan heta bahkan sudah bersiap. Mereka bahkan membawa para manusia serigala di pihak mereka. Dan bagaimana menurutmu mereka tahu kapan tepatnya penyerangan kalian akan dilakukan jika mereka tidak memiliki informan dari dalam kelompokku.”

Aku mendesah, “Aku tidak sanggup membayangkannya.” Ucapku jujur. Seorang vampir berkhianat. Seorang? Aku bahkan tidak tahu apa itu hanya satu.

Morgan berdiri, dan menatap ke arah kastil, “Aku harus kembali ke sana atau mereka akan curiga. Kau—kumohon jangan melakukan sesuatu yang bodoh. Aku akan mencari tahu keadaan Reven. Dan jika memungkinkan aku akan bicara dengannya. Tapi kau..” dia menatapku tegas, “Tunggulah di sini dan jangan melakukan apapun tanpa menunggu aku kembali.”

Aku memandangnya, sulit bagiku mengatakan ya sekarang. Bagaimana kalau ketika dia kembali ke sana, aku mendengar dan merasakan sesuatu yang buruk pada Reven sedang terjadi. Bagaimana jika dia tidak kembali dalam waktu yang cepat sementara aku sudah menunggu seperti orang gila di sini?

Tidak. Aku berdiri dan menggeleng, “Aku tidak bisa menjanjikan itu, Morgan.”

“Sherinn, jangan keras kepala.”

“Maka pergilah dan kembali dengan cepat. Aku tidak bisa menjanjikan aku masih di sini menunggumu. Aku akan berkeliling, melihat kemungkinan yang mungkin bisa kudapatkan di sana. Aku tidak yakin semua vampir tertangkap. Aku akan mencari yang bertahan dan bisa melarikan diri. Meski aku ragu ada vampir sepengecut itu dalam kaumku.”

Morgan menatapku, “Aku nyaris lupa betapa keras kepalanya dirimu.”

Aku tersenyum, “Pergilah.” Kataku, “Aku sanggup menjaga diriku. Aku akan hidup.”

Dia menghela nafas, menatapku lembut sebelum dia berbalik dan pergi dalam wujud serigala besar. Kembali ke arah area penjagaannya.

Aku masih menatap ke arah serigala besar itu meghilang dalam beberapa detik yang lama. Aku sudah menurunkan jubahku karena malam sudah datang dan tidak ada sinar matahari mengerikan yang akan melukaiku. Kastil di kejauhan nyaris tak terlihat jika saja obor-obor besar tidak menyala di sekitarnya. Mataku berpusat pada menara ketiga di sana.

“Tunggulah.. aku akan datang. Aku akan datang untukmu.”

***

Aku melangkahkan kakiku dengan hati-hati. Mengintip begitu dekat dari menara pertama kastil kerajaan. Bayang-bayang pohon melindungi sosokku dari penglihatan para slayer berkeliling di sekitar menara. Aku menghitung ada begitu banyak pos penjagaan sepanjang pengawasan yang kulakukan dengan mengelilingi kastil ini. Tidak hanya slayer dan heta yag menjaganya, tapi seperti yang dikatakan Morgan, ada manusia serigala juga dalam formasi mereka.

Bagaimana aku bisa mendekat ke menara ketiga jika di menara pertama saja penjagaannya seperti ini?

Kepalaku memusing ketika aku semakin mendekat ke menara. Semakin aku mendekat, semakin aku bisa merasakan betapa unsur perak berkuasa di sini. Dalam setiap pedang, anak panah dan pisau yang ada di setiap para penjaga. Ini jenis baru. Kuat dan.. entahlah. Aku tidak bisa membayangkan apapun. Seringkali aku merasa pusing dan fokusku melemah. Tapi aku harus kuat dan bertahan.

Aku menunduk dengan hati-hati di balik rerimbunan semak. Benar-benar ingin menerjang setiap slayer dan heta bahkan manusia serigala yang kulihat. Tapi aku menahannya. Seperti yang dikatakan Morgan, aku tidak bisa membuat diriku mati dengan sia-sia. Tidak. Aku harus bersabar.

Mataku memicing fokus ketika serombongan manusia keluar dari bangunan utama dan menyeberang ke arah menara ke tiga di kejauhan. Dengan melihat para penjaga di belakangnya dan cara bagaimana para slayer dan heta menunduk hormat ketika dia lewat, aku tahu yang paling depan adalah Master baru mereka.

Aku melihatnya. Tapi tidak mengenalinya. Laki-laki yang mungkin usianya empat puluh tahunan usia manusia, dengan mata lebar yang terlihat selalu awas dan rambut hitam panjangnya. Dia berbicara dengan orang lain di dekatnya selama mereka berjalan. Aku tidak bisa melihat dengan jelas karena laki-laki itu tertutup oleh bayangan si Master. Namun aku berusaha mendengarkan apa yang mereka katakan. Mungkin saja ini sesuatu yang penting.

“Ini tidak berhasil.” Ucap si Master dengan jengkel, “Vampir perempuan itu tidak mau mengatakan apapun. Bahkan sampai akhir kematiannya, dia tidak mengatakan sepatah katapun. Apa menurutmu yang harus kita lakukan.”

“Maka bicaralah dengan pemimpinnya.” Suara itu dalam dan samar pada waktu bersamaan. Aku seperti mengenalinya tapi aku tidak yakin.

“Reven maksudmu?” Master tertawa, lalu menggeleng, “Dia lebih buruk dari yang si perempuan. Tak ada satu katapun dan hanya menatapku seolah tatapannya bisa membunuhku.”

“Kau menangkap pasangannya?”

Master berhenti menoleh, “Si heta pengkhianat?” dia menggeleng, “Dia tidak terlibat dalam penyerangan itu. Sejak awal aku tidak melihat dia ada di sana. Jika aku melihatnya, aku pasti sudah membunuhnya untuk membalaskan dendam Edge. Tapi memangnya apa gunanya dia?”

“Dia kelemahan Reven. Kau bisa memanfaatkan dia jika kau memilikinya. Sayangnya kau tidak.”

Mereka berjalan lagi, mengucapkan lebih banyak kata tentang diriku. Aku terdiam dan merasa gugup untuk pertama kalinya. Apa yang sebenarnya mereka inginkan dari kami? Apa yang mereka cari?

“Kau adalah kelemahannya, Sherena.”

Mendadak kata-kata Victoria menyergapku. Aku? Ya aku. Jika aku tertangkap dan mereka mengancam Reven dengan menggunakanku, mungkinkan Reven akan menyerah? Mungkinkah dia mengorbankan seluruh kaumnya demi aku? Aku mendesah. Tahu dengan pasti jawabannya. Dia akan mengorbankan apapun yang dimilikinya demi diriku. Aku bisa merasakannya. Aku bisa melihatnya. Kami.. satu.

“Apa yang kau lakukan di sana, Sherena?”

Aku menoleh dengan cepat dan seluruh fungsi tubuhku seperti berhenti.

James..

“Kau berhasil lolos?”

 Dia hanya menatapku, “Aku tahu kau pasti akan datang dengan sendirinya tanpa aku perlu mencari dimana dirimu.”

Mataku menyipit, menatapnya dengan tidak mengerti. Aku masih memandang James yang tidak mengatakan apapun sampai aku menyadari sesuatu. James terlihat baik-baik saja, maksudku—dia benar-benar tidak terlihat terluka barang sesentipun. Pakaiannya, auranya..

“Kau..”

James tersenyum, “Dia ada di sini.” Suaranya keras dan matanya tak meninggalkanku sama sekali ketika dia memanggil para penjaga.

***

Kedua tanganku diikat dengan rantai besi dan dengan kasar mereka melemparku ke aula utama pertemuan slayer. Ruangan dimana dulu biasanya aku menerima tugas dari Master, ketika aku masih seorang manusia dan heta. Tapi sekarang, aku di sini sebagai tawanan mereka. Dua slayer dengan pedang mereka yang berada tepat di depan dan belakang leherku menjagaku agar tidak melakukan sesuatu di luar pengawasan mereka, atau mereka akan mengiris leherku dengan pedang perak sialan itu tanpa ragu.

Dan aku bisa melihatnya, beberapa meter dariku, berdiri dengan tubuh tegak dan tatapan mata seperti elang—Master. Dengan ayah Morgan berdiri di sebelah kananya dan—aku masih tidak bisa mempercayai ini—James di sebelah kirinya.

“Jadi ini dia si pengkhianat.” Suara Master keras dan anehnya sedikit riang. Mungkin dia begitu bahagia melihatku duduk tersimpuh di depannya tanpa bisa melakukan apapun.

Aku diam, tak mempedulikannya dan hanya memfokuskan diriku pada James. Aku masih tidak bisa percaya ini. Bagaimana James bisa melakukan ini pada bangsanya sendiri?

“Akhirnya aku melihat siapa perempuan yang telah membunuh Edge. Meski secara teknik Arshel yang melakukannya. Tapi dia melakukan itu untukmu. Aku tidak salah bukan?”

Aku masih tidak mempedulikannya. Biar saja manusia itu mengoceh, Master atau Raja sekalipun, aku tidak peduli. Aku masih menatap James—yang sialnya sama sekali tidak terganggu dan masih berdiri dengan sikap tenang di tempatnya. Tidak ada ekspresi apapun di wajahnya.

“Senang melihat kau membawakan dia untukku, James.”

James menundukkan kepalanya sedikit, “Sedikit hadiah untukmu, Elior.”

Ini dia. Akhirnya dia bicara. Dan nada suara apa yang digunakannya tadi. Apa dia benar-benar sudah menjadi anak buah Master—Elior—ini?

Aku menggeleng, “Jadi kau rupanya James.” Aku bersuara untuk pertama kalinya. Semua menatapku. Bahkan para slayer penjaga di sampingku mendekatkan pedang mereka sampai menyentuh kulit leherku. Aku bisa merasakan panas perak membakar kulitku.

 “Bagaimana kau bisa melakukan ini semua kepada kami? Bagaimana kau bisa melakukan ini pada kaummu sendiri? Bagaimana kau bisa mengkhianati Reven seperti ini??” aku berdiri, membiarkan pedang mereka melukai leherku. Aku tidak peduli. Aku tahu jika aku bisa saja mati. Tapi memangnya apa yang bisa lebih buruk lagi.

Dua slayer lainnya maju dan mereka melemparkan rantai dari perak ke arahku, menariknya dan membuatku jatuh, rubuh ke lantai di depan semua orang yang menatapku dengan penasaran. Aku merasakan tubuhku terbakar dan darah menetes dari leherku yang terluka.

“Hentikan.” Elior mengangkat tangannya, “Aku tidak ingin dia mati. Tidak sekarang. James bilang dia akan berguna untuk membuka mulut Reven. Jadi kita membutuhkan dia hidup sampai Reven bicara. Bukan begitu, James?”

James mengangguk, masih dengan wajah tanpa ekspresinya. Sementara ayah Morgan—Elsass—menatapku dengan tatapan seolah dia menolak keinginan Master dan menginginkanku mati dengan cepat. Aku tahu dia membenci para vampir. Aku tahu itu dengan benar. Morgan mendapat masalah besar ketika Elsass tahu Morgan memilikiku sebagai temannya.

Aku merasakan seluruh perak yang mengikat tubuhku membakarku perlahan. Aku tidak bisa memfokuskan diriku sekarang. Bahkan seringkali, beberapa suara yang diucapkan Elior terdengar memudar, samar.. di telingaku. Aku tidak boleh terlihat lemah. Tidak sekarang.

“.. bawa dia ke ruang tahanan kita. Ingat. Jangan sampai dia mati. Dan lepaskan ikatannya ketika kalian sudah memasukkan dia ke sana. Aku tidak mau urusanku dengan Reven sulit Cuma gara-gara perempuan ini.”

Aku memandang James meski aku tahu itu tidak akan berpengaruh apapun untuknya.

“Kau akan menyesali ini, James. Kau akan menyesali ini.”

James menatapku, mengangkat kedua alisnya dan hanya itu yang bisa kulihat sebelum para slayer penjaga itu menyeretku keluar dari ruangan ini.

***

Mereka melemparku lagi ke dalam sebuah ruangan yang dikelilingi teralis besi berlumur perak. Begitu mereka melepaskan ikatan di tanganku, mereka beralih mengikat satu kakiku dengan rantai lain. Perak lain membakar kulitku namun terasa tidak separah yang pertama. Aku menjauh dari semua teralis besi berlumur perak yang mengelilingiku begitu mereka keluar dengan segala serapah dan cacian tentang kami, para vampir. Aku menatap mereka dengan kemarahan yang jelas dan salah satu dari mereka bahkan menampar wajahku dengan keras. Aku bisa merasakan darah menetes dari ujung bibirku. Tapi aku tidak mengatakan apapun. Mereka terlalu rendah untuk bicara denganku. Aku akan membalas semua penghinaan ini nanti. Aku bersumpah.

Aku menyeret tubuhku dan duduk diam di tengah-tengah ruangan. Menatap ke dinding batu di belakang besi-besi itu, begitu suram, seperti ruangan ini. Hanya ada satu obor menempel di sudut ruangan di dekat pintu. Selebihnya remang-remang. Aku mendesah, merasakan dingin dan basah lantai batu di kakiku. Sesungguhnya aku tak merasa terganggu dengan gelap dan hawa dingin. Vampir tidak terpengaruh pada itu. Aku bahkan bisa melihat dengan cukup baik dalam cahaya yang sedikit ini, dan meskipun seluruh bajuku nyaris basah dan kotor, aku tidak merasa terganggu.

Hanya saja, semua perak dan elemen besi di ruangan ini membuatku entah kenapa merasa takut. Aku tidak tahu perasaan apa ini sampai beberapa saat lalu. Aku menelan ludahku, melihat kakiku yang memerah melepuh di tempat rantai itu melingkarinya. Aku mendesah dan menyentuh leherku, memejamkan mataku dan membiarkan tubuhku menyembuhkan dirinya sendiri. Aku bisa merasakannya meskipun prosesnya terasa lebih lama dari biasanya.

Begitu lama dalam diam seperti ini, aku teringat pada Maurette. Dia pernah mengalami hal ini. Ketika para manusia serigala itu menangkapnya, ketika Morgan menangkapnya. Sekarang, setelah aku melihat dengan mata kepalaku sendiri bahwa James berkhianat pada kami. Aku.. entah kenapa juga mulai meragukan Morgan. Apakah dia terlibat? Apakah dia yang memberitahu James bahwa aku akan datang.. apakah memberitahuku keberadaan Reven dan yang lainnya hanya taktik agar aku semakin mendekat ke sini?

Lalu sekarang bagaimana? Apakah ini akhirnya.. apakah ini akhir dari bangsa vampir? Apakah kami akan berakhir seperti ini? Aku tahu bahwa aku seharusnya menjadi lebih kuat. Menjadi lebih berani menghadapi kenyataan. Setelah apa yang terjadi pada Dev, pada Ar.. pada semua yang berkorban demi diriku. Mereka akan menemukanku berakhir seperti ini.

“Rena.. kaukah.. itu?”

Aku menoleh terkejut. Mencari asal suara itu.

“Re..na.. di sini..”

Aku berdiri dengan cepat, nyaris berlari begitu aku menemukannya. Tak peduli pada rasa sakit yang kuat pada kakiku ketika aku bergerak. Aku melihatnya. Di sudut paling gelap, bergelung di antara tumpukan entah jerami entah apa.

“Lyra..” aku meraup tubuhnya dan membawa kepalanya pada tanganku. Dia.. sekarat, “Lyra.. Lyra.. Astaga.. kau—ada.. apa?? Bagaimana.. Lyra?”

Dia mencoba tersenyum dan wajah itu tak lagi cantik dan seputih biasanya, ada luka.. ada darah. Ada banyak dan cahaya di matanya yang selalu bersinar itu redup oleh rasa sakit. Seluruh tubuhnya nyaris basah, bajunya terkoyak dan menyisakan helaian-helaian kotor yang sama sekali tidak pantas di tubuhnya yang sebelumnya indah dan sempurna.

“Lyra..” aku memeluknya dan menangis dengan keras. Aku merasakannya, aku merasakan seluruh perak itu ketika aku memeluknya. Aku bisa merasakan rasa panas dan sakit itu menyentuhku ketika aku memeluknya.. sebab di tubuh Lyra, di seluruh tubuhnya… Aku menangis makin keras. Rantai itu mengikat rapat tubuhnya.

“Ti.. dak ap.. apa-apa, Rena.” Suaranya lirih, “Hei.. ja..ngan menangis.”

“Apa yang mereka lakukan padamu? Apa yang sebenarnya terjadi?” aku tergugu masih dengan mendekap tubuh Lyra.

Tapi dia hanya menggeleng. Aku meletakkan kepala Lyra di pangkuanku. Tahu bahwa aku tidak bisa melakukan apapun untuk menolongnya. Dia memejamkan matanya, mungkin merasakan sakit yang sangat di seluruh tubuhnya yang melepuh nyaris hangus.

“Rena..”

“Ya.” Aku menjawab dengan cepat dan melihat dia masih memejamkan matanya.

“Jika kau bertemu dengan Damis. Jika kau.. bertemu dengannya. Maukah.. maukah kau.” Dia mengambil nafas, “.. maukah kau mengatakan padanya bahwa aku.. aku sangat mencintainya.”

Aku mengigit bibirku. Lyra tahu. Dia tahu dia akan mati tak lama lagi.

“Ya. Aku akan memastikan Damis mendengarnya langsung dariku. Aku akan mengatakannya. Bahkan jika harus ratusan atau ribuan kali, aku akan mengatakan padanya bahwa kau.. kau mencintainya.”

Air mataku jatuh di pipinya. Dia tersenyum, masih dengan mata terpejam.

“Rena..”

“Diamlah.” Isakku, “Jangan katakan apapun lagi, aku.. aku tidak bisa mendengar semua penderitaanmu dari suaramu. Aku tidak bisa.” Aku menjatuhkan kepalaku dan menyentuhkan keningku di kepalanya, “Bertahanlah.”

Dia tertawa, “Kau selalu saja bodoh.” Katanya pelan. “Masih saja seperti itu meski kau bukan lagi manusia. Bersikaplah seperti bangsamu.” Dia tersenyum.

Aku mencoba tersenyum namun gagal. Mengingat bagaimana dulu kami bertemu. Mengingat bagaimana kami tidak pernah akrab. Mengingat bagaimana dia dulu selalu tidak menyukaiku. Aku kadang selalu tidak percaya bahwa kami berdua akan berakhir sebagai sahabat baik. Tapi aku selalu tahu, semua Corbis tidak pernah mengecewakan. Lyra Corbis. Deverend Corbis. Mereka yang terbaik yang bisa kumiliki.

“Kau tahu, Damis akan marah padaku jika tahu aku membiarkanmu mati dalam keadaan seperti ini.” aku memeluknya.

“Jangan katakan apapun, Rena.” Mendadak dia terdengar sedih untuk pertama kalinya.

Kepalaku terangkat dan aku melihat matanya terbuka, menatap kosong ke arahku, “Dia melihatnya. Dia melihat bagaimana mereka menyiksaku sejak awal. Dia di sana.”

Seluruh tubuhku terasa mati rasa mendengar suara Lyra.

“Dia di sana. Sama terantai sepertiku. Sama seperti semua yang lain. Dia menderita lebih daripada yang kurasakan, Rena. Aku bisa melihatnya. Dan aku tidak ingin dia merasakan lebih dari itu. Buatlah dia menggenangkan dengan indah.”

Aku memandangnya dan melihat sudut matanya basah, “Aku berusaha tidak terlihat tersiksa. Aku berusaha tidak berteriak. Tidak menjerit. Tapi itu sulit sekali. Perak sialan ini benar-benar membuatku kesakitan. Dan dalam setiap jeritanku, aku tahu aku menyiksa Damis. Tapi aku tidak bisa melakukan apapun untuk membuat ini terasa lebih baik. Tidak untukku, tidak untuk Damis.”

Lalu dia menatapku, “Kau.. harus hidup Rena.”

Aku mengangguk, “Aku akan hidup untuk kalian.”

Dan dia tersenyum lalu segalanya menghilang. Meninggalkan bunyi rantai besi yang jatuh ke lantai. Meninggalkan abu-abu di atas kakiku. Segalanya begitu cepat sampai aku tidak menyadari apa yang terjadi. Aku diam, seperti orang kehilangan jiwanya. Tidak tahu harus melakukan apa. Tidak tahu harus bereaksi apa.

 << Sebelumnya

Selanjutnya >> 

Mau Baca Lainnya?

14 Comments

  1. Oooh astagaa….
    Lyra mati?????
    tidaaaaak….
    bukankah author bilang di remeber us ne ceritax lebih ke damis ma lyra..
    tpi ini kenapa Lyranya mati…
    aaaah bner" sumpreeet dhh to pra heta ma slayer ma si james to… ma ayahx morgan dan pasukannya….
    dtggu segera kelanjutannya..
    ceritanya makin seru… makin greget.. makin bkin emosi memuncak….
    pkokx makin..makin….makin….
    aaaah dri cerita half vampir pgen ngoceh onjang lebar bnerx thor… pi gak tahu knpa gak pernah bisa koment. mkax q berharap remember us di upload di watty ugha biar bisa vote n coment…
    hehehehe

  2. Hahhahah.. maaf maaf yaa…
    Aslinya mau gitu.. Damis sama Lyra, tapi entah kenapa di jalan aku berubah pikiran dan mengedit semuanya.. dan aku memutuskan Lyra end di sini. 🙁

    Aku juga upload HV di situs ini http://gwp.co.id/half-vampire/
    buka yaa.. rate dan komen di sana juga kalaz bisa.. biar HV punya kesempatan naik cetak.. *eaaa

    Btw.. tengkieesss komennnyaaaa *peluukkkk*

  3. Woh !
    james super kamfretttooo~
    Duh Rena, kirain hidupmu bakal sepenuhnya yayang-yayangan sm Reven
    Perjanjian macam apa yg membuat manusia serigala berpihak sm kaum manusia ?
    aduk mbak, ngga sabar baca next chapter ini

  4. Yah pergi lagi…sedih deh.. :'(
    Kak senengnya kapan nih perasaan kebanyakan tegang dan menyedihkan yg terjadi…
    Terasa tak berkesudahan apa yg dialami sama Rena…kasihan..

  5. pleaseee sherena-revan tetap happy ending kak disini. walaupun kecil kemungkinan. si James emg kampret. pengkhianat akan dikhianatin lagi. paling nanti akhirnya james dibunuh juga.

  6. Duh Rena idupnya emang kayak sinetron bulan puasaan ya. Kagak ada seneng2nya.

    Perjanjian apa ya?? hahahha baca deh next chapternya. Uda aku post loh. 😛

  7. James kampreto level akut ya?? Etapi setelah baca next chapter yang baru aja aku post, aku ngga yakin kamu bakal tetep nyangka kalo James super kampreto. Soalnya ada yang lebih dari dia. LOL

Leave a Reply

Your email address will not be published.