Remember Us – Kebenaran yang Terlewatkan

Haloo semuanya.. senang sekali rasanya bisa mengupload chapter ini setelah melanggar janji karena aku bilang aku akan upload chapter baru RU paling lambat hari selasa kemarin. Tapi hari sabtu tidak terlalu terlambat juga bukan? Hahaha salahkan hostfamilyku yang tiba-tiba menculikku ke pegunungan Alpen di Austria. Well, tapi sudahlah.. kalian bisa membaca cerita ini segera dan aku masih harus sibuk mempersiapkan diriku mengepak koper untuk perjalanan lain setelah Alpen. Aku mungkin akan ke Middle Earth.. atau mungkin Westeros??

Astaga.. astaga.. abaikan pikiran gilaku dan selamat memabaca buat kamu, yang mencintai cerita ini. Aku mencintai kalian semua.

Ketjup,
@amouraxexa

***

“Aku tidak menyangka menyusup ke kastil kerajaan akan semudah ini.”

Suara Ed mengema pelan di tempat sempit ini. Dia terdengar senang meskipun kami sedang duduk saling berhadapan di dalam terowongan sempit jalur air di taman paling belakang kastil kerajaan dengan lutut tertekuk. Aku sendiri sepenuhnya mengabaikan Ed karena pening yang kurasakan di kepalaku. Aura perak di dalam kastil kerajaan menguar sangat kuat, seolah semua bangunan di sini dilapisi perak-perak sialan itu.

Aku menolak mempercayainya, tentu saja. Dinding-dinding kastil jelas disusun dari batu-batu dan benda-benda alam lainnya dan bukannya dari logam-logam yang menyakiti inti tubuhku itu. Aku tidak bisa menghindari ketika bulu-bulu tubuhku meremang begitu aku berlari cepat melewati gerbang kastil kastil.

Penjaga-penjaga di sana semuanya menggunakan perak dan logam-logam lain untuk senjata mereka. Bahkan penjaga utama gerbang kastil utama mengunakan baju besi dan topi besi yang menutupi nyaris separuh kepala mereka dan menyisakan bagian depan dari alis hingga ke bawah. Jika mengabaikan manusia-manusianya dan beralih ke bangunan ini sendiri, mimpi buruk. Tidak ada yang nampak bagus untukku di dalam sini.

Gerbang kayu setebal lima senti lebih ini bukan masalah, namun aku melihat bagaimana tombak-tombak besi ditancapkan mengelilingi puncak-puncak benteng kastil kerajaan. Benteng pusat kota bukan apa-apa jika dibandingkan yang ini. Aku tidak mengamati kastil ini sebelumnya ketika berada di perbatasan hutan, meskipun kastil kerajaan dibangun di dataran yang lebih tinggi dari pusat kota yang mengelilinginya, karena aku terlalu sibuk dengan semua rencana penyusupan ini. Dan sekarang aku menyesal.

Kastil ini adalah tempat terakhir yang akan dituju kaumku. Dipisahkan dengan sungai buatan yang dalam dari kehidupan di luarnya dan hanya menyisakan satu jalan utama, gerbang depan, dengan jembatan tunggal yang bisa ditarik masuk jika sang raja memutuskan menolak siapapun masuk dan keluar dari kastil ini. Aku tidak tahu seperti apa raja yang memerintah di sini tapi aku yakin dia sama sekali tidak punya selera yang bagus. Raja di masaku mencintai keindahan dan segala kemewahan yang ditawarkan posisinya. Dia menghias kastilnya, mempercantik taman-taman kerajaan, dan bahkan aula utama begitu megah, tapi yang ini. Aku menelan ludah. Raja yang ada di sini berbeda. Aku merasa tidak nyaman. Merasa entah kenapa meragukan tindakanku masuk ke sini.

“Kau terlihat aneh.”

Aku mengangkat wajahku dan memandang wajah bersemangat Ed. Dia tidak merasakan betapa semua aura perak dan besi-besi di sini menyakitiku. Bahkan meskipun sudah berada di terowongan air kecil yang bau dan dipenuhi lumut ini, aku masih sedikit gemetar karena beberapa detik pengalaman di luar tadi.

“Aku sudah setuju denganmu agar kita bergerak ketika malam karena alasan matahari itu. Apalagi sekarang?” dia mendesis sebal, lutut kami saling bersentuhan.

“Jangan bicara, Ed. Aku pusing. Ini bukan tentangmu. Tapi tempat ini. Kastil ini. Terlalu banyak perak dan aku jadi mual.”

Dia menatapku waspada, menjauhkan dirinya dan merepet ke dinding berlumut di belakangnya, “Jangan mengeluarkan isi perutmu tepat di depanku. Aku tidak mau kau mengeluarkan semua saripati sihirmu dan mencemari tubuhku.”

Bola mataku berputar bosan dan aku meletakkan dahiku di atas lututku lagi. Tidak ingin meladeni manusia gila di depanku ini. Ada satu perasaan aneh menelusup ketika aku sedang tidak nyaman dengan semua area perak di sini, seolah aku juga pernah terjebak di tempat yang dipenuhi perak juga sebelumnya.

Aku membongkar sisa ingatanku, mencoba mengingat dengan baik. Lalu wajah Lyra Corbis yang sekarat muncul di sana. Aku menggeleng. Tidak ingin mencari tahu lagi sebab aku sudah menemukan jawabannya.

“Dia di sana. Sama terantai sepertiku. Sama seperti semua yang lain. Dia menderita lebih daripada yang kurasakan, Rena. Aku bisa melihatnya. Dan aku tidak ingin dia merasakan lebih dari itu. Buatlah dia menggenangku dengan indah.”

Semua kata-kata Lyra seperti godam yang memukul-mukul dadaku. Ada sakit yang tidak tahu darimana arah datangnya di dalam sana. Seolah-olah aku merasakan dengan benar apa yang dirasakannya. Suara-suara kehidupan di luar sama sekali tidak membantu, dan aura perak yang masih menguar menambah buruk segalanya.

Aku bisa mendengar dengkuran halus Ed. Dia bahkan bisa tidur dan aku sama sekali tidak bisa mengistirahatkan benakku. Aku mengusir bayangan Lyra dan mencoba memikirkan hal lain. Tujuanku ke sini. Finnegan Cllarigh. Hanya menunggu matahari yang mulai bergerak pelan ke ujung horison dan aku akan bisa menemukan jawaban dari berapa banyak waktu yang telah hilang dariku.

Mataku terpejam nyaman, menikmati hilangnya cahaya matahari. Aku lupa sudah berapa lama menunggu namun akhirnya pusat tata surya itu mneyembunyikan dirinya juga. Aku menyentuh kaki Ed dan menguncangnya pelan, “Ed, sudah saatnya.”

Dia, dengan wajah mengantuk segera membuka matanya. Hanya beberapa detik kuberikan padanya untuk mengumpulkan kesadarannya. Aku merangkak keluar dari terowongan air ini, mengintip keadaan di luar yang gelap. Obor-obor sudah dinyalakan dan taman ini dipenuhi bayang-bayang pepohonan dan tanaman-tanaman yang terlihat menyeramkan. Beberapa kali aku melihat prajurit kerajaan berjalan mengitari tempat ini.

Kepala Ed menyembul di sampingku, “Sudah aman?”

“Dimana kita bisa menemukan Finnegan Cllarigh?” aku balik bertanya.

Tangannya menunjuk ke arah barat, “Mereka tinggal di bangunan yang berada di sayap luar kastil barat. Di bangunan tersendiri tapi mungkin di waktu-waktu seperti ini, Finn sedang ada di menara pengawas.”

“Kenapa tidak mengatakan sejak awal?”

“Aku kira ini bukan informasi penting.”

“Kau bodoh.” desisku dan dia nampak akan protes tapi aku sudah mengendap keluar dari terowongan ini dan berjalan di balik bayangan tanaman-tanaman mawar yang rimbun. Menuju ke arah barat.

Kami berdua sepakat bahwa menyusup ke dalam kediaman Cllarigh adalah yang terbaik. Menara pengawas sudah tercoret dari daftar sejak Ed mengatakan kepadaku bahwa menara itu juga merupakan gudang persenjataan dari prajurit kerajaan. Artinya lebih banyak perak, lebih banyak besi. Tidak. Sudah cukup, aku tidak mau lagi. Selama apapun Finnegan Cllarigh melakukan tugasnya di sana, dia pasti akan pulang ke kediamannya juga. Jadi aku bisa dengan mudah mencari alasan untuk tidak ke menara pengawas.

Dengan langkah pelan dan kehati-hatian yang jelas, kami berjalan merunduk. Tertatih-tatih dan lamban. Peka terhadap setiap gerakan dan suara yang bukan milik kami. Gesekan batang-batang pohon karena tertiup angin bahkan bisa membuat kami berhenti, hanya untuk memastikan tidak ada yang melihat dan semua tetap di bawah kendali kami. Sejujurnya jika mengunakan kecepatanku, ini akan lebih mudah. Tapi Ed menolak mentah-mentah ideku. Dan berdebat dengan Ed ketika kami sudah berada di luar dan bukannya di terowongan air sama saja mempersilakan para prajurit menyadari keberadaan kami. Tak ada satupun dari aku dan Ed yang bisa menjamin kami tidak akan kelepasan untuk berteriak atau memaki satu sama lain jika kami sedang saling berdebat. Perkembangan yang menawan untuk perkenalan kami yang belum lama. Aku cukup terkesan.

Aku mengamati bangunan di depanku dalam diam. Terkesan besar, lenggang dan sederhana. Sama sekali tidak mencerminkan bangunan yang ditinggali oleh keluarga penting kerajaan. Aku tidak perlu menebak untuk tahu seperti apa bagian dalam kastil kerajaan, pasti tidak menarik. Sama seperti kastil luarnya, apa yang di dalam pasti juga sama kelam.

Penjagaan di sayap barat sendiri juga nampak lenggang. Sepertinya raja begitu yakin dengan penjagaan luarnya sehingga penjagaan di dalam selonggar ini. Tidak menyalahkannya juga, jika melihat bagaimana ketatnya penjagaan di luar, sudah pasti manusia tidak akan bisa menyelinap. Dengan catatan jika manusia itu tidak bersama makhluk sepertiku. Ditambah dengan jam malam yang sepertinya juga diberlakukan di kastil kerajaan, tempat ini seperti kastil mati. Tidak ada kehidupan kecuali lidah-lidah api dari obor-obor besar di dinding kastil terluar yang bergoyang-goyang tertiup angin. Selebihnya sepi. Benar-benar hening. Bahkan tak ada suara serangga malam di sini.

“Ada berapa banyak penghuni bangunan ini jika dikurangi semua pelayan?”

“Hanya keluarga Cllarigh? Tak sampai lima.” jawab Ed tanpa menatapku, dia sedang memandang ke arah bangunan yang berdiri kokoh dan dingin beberapa meter dari kami. Kami masih duduk setengah berjongkok di balik rerimbunan semak taman.

“Siapa saja?”

“Richard Cllarigh dan Isabel Cllarigh, orangtua Finn. Lalu ada Finnegan Cllarigh sendiri dan adik perempuan semata wayangnya yang berusia sepuluh tahun, Celia Cllarigh.”

“Kau menyebut mereka dengan nada kerinduan?”

Ed menatapku cepat, “Apa maksudmu?”

“Lupakan saja, aku yang akan bertanya, tapi nanti. Sekarang kita harus masuk ke sana dan menemukan ruangan tidur Finnegan yang sangat ingin kau bunuh itu dan menunggu di sana. Aku yakin kau juga tahu dimana ruang tidurnya bukan?”

Ed mengangguk, “Aku yang memimpin sekarang.” ucapnya dan dia bergerak cepat. Aku hanya melihat bayangan hitamnya ketika aku sedang menebak apa hubungannya dengan keluarga ini sebelumnya. Dia menyebut nama Cellia Cllarigh dengan wajah bahagia, seolah dia memuja bocah kecil ini. Sedikit mengherankan ketika dia justru menggebu ingin membunuh kakaknya.

Aku mengangkat bahu, lalu mengikuti sisa bayangan Ed dan kami menyusup melalui jalan rahasia aneh dari belakang bangunan ini. Ed menemukan jalan rahasia ini dengan terlalu mudah. Seolah dia sudah ratusan kali menggunakan jalan ini. Setelahnya, jika aku mendengar cerita apapun dibalik Edred Ritter dan keluarga ini, aku tahu aku tidak akan terkejut.

***

Jalan rahasia ini ditutupi sulur-sulur merambat yang rimbun sehingga siapapun yang tidak tahu, tidak akan menyangka ada pintu kayu setinggi pinggang manusia dewasa di baliknya. Ed menyibaknya pelan, membuka pintu itu dan kami menunduk melewatinya. Jalan di baliknya serupa lorong panjang seukuran tinggi normal manusia, tapi sangat gelap dan pengap, menandakan betapa jarangnya jalan ini digunakan. Kelembabannya bukan masalah tapi aku mencium bau yang sepertinya tidak asing bagiku di sini. Tapi aku tidak yakin itu apa.

“Kau bisa mengeluarkan api dari jarimu? Mungkin itu bisa membantu, aku tidak bisa melihat apa-apa di sini.”

Aku sangat ingin memukul kepala kosong Ed yang berdiri di depanku. Kenapa dia sangat sulit menerima penjelasan bahwa aku bukan penyihir. Aku vampir, dan mengeluarkan api dari jari? Dia bercanda bukan?

“Tutup mulutmu dan ikut denganku.” sahutku sebal, meraih tangan Ed dan membimbingnya melewati jalan gelap gulita ini. Aku bisa melihat segalanya dengan jelas, meski tanpa pencahayaan sedikitpun. Beberapa kali, dengan satu tanganku yang bebas, aku menghalau sarang laba-laba yang cukup tebal di depanku. Setelah keluar dari sini, aku tidak yakin akan sanggup melihat bayanganku sendiri. Pasti perempuan dengan wajah, rambut dan jubah kotor, berdebu dengan banyak jaring laba-laba menghiasai. Itu jelas bukan pemandangan yang bagus.

Di belakangku, Ed yang menyumpah-sumpah karena beberapa kali kakinya terantuk batu-batu kecil berjalan terseret-seret di belakangku. Tangannya menggenggam erat tanganku, jelas tidak ingin tersesat di kegelapan menyesakkan ini. Aku setuju dengannya, karena jika dia melepaskan tanganku, aku tidak yakin aku mau berbalik dan menuntunnya lagi.

Lorong ini berujung pada pintu kayu rapuh lain dan aku berhenti, mendengarkan suara di balik pintu ini jika ada. Tapi tak terdengar apapun dan aku tidak mencium bau manusia lain. Artinya kami aman. Dengan pelan, aku menyentuh pintu itu dan membukanya. Tidak buruk, pikirku ketika melangkahkan kakiku ke ruangan bawah tanah yang seperti gudang minuman ini.

Ed terbatuk-batuk kecil dan bergegas menyusulku yang sedang mengamati ruangan ini. Banyak gentong-gentong kayu yang penuh entah oleh minuman keras, jika mencium aromanya, tersusun rapi di kanan kiri kami. Beberapa persediaan gandum dalam kantog-kantong besar menumpuk di sudut lain.

“Ini gudang persediaan makanan keluarga Cllarigh. Lewat sini, Sherena.” suara Ed membuyarkan konsentrasiku yang sedang menikmati aroma-aroma anggur dari beberapa gentong di dekatku. Aku segera mengikuti Ed melewati pintu lain dan tangga spiral dari batu menyambut kami.

Meskipun masih sama gelap, kali ini Ed yang berjalan di depan. Langkahnya pasti dan dia tidak terlihat ragu satu langkahpun. Langkahnya berhenti di ujung pintu lainnya, dia menempelkan telinganya di daun pintu. Mendengarkan. Aku melipat tanganku di depan dada, “Tidak ada manusia atau apapun di baliknya.”

Ed menoleh sebal sebentar sebelum dia membuka pintu itu. Matanya megerjap beberapa kali mencoba beradaptasi pada cahaya dari obor-obor yang terpasang rapi di dinding. Dia berbelok ke kanan dan kami melewati lorong-lorong terang ini dengan tenang. Aku sudah mengatakan pada Ed bahwa lantai ini aman, tapi di lantai atas, aku mendengar suara-suara percakapan. Nampaknya dari pelayan-pelayan di sini yang sedang bersiap untuk tidur.

Kali ini ketika akhirnya sampai di lantai atas, kami kembali mengendap-endap dan berjalan merepet ke dinding. Dengkah langkah sangat cepat, kami melewati ruangan yang di dalamnya masih terdengar percakapan-percakapan yang kudengar sebelumnya. Sekarang dengan kecepatan yang sama, nyaris berlari meskipun tanpa suara, kami menaiki tanga lain menuju lantai teratas, ruangan tidur dari masing-masing keluarga Cllarigh.

Langkah Ed berhenti di pintu pertama yang ada di sebelah kiri. Aku maju, mendahuluinya dan sudah menyentuh daun pintunya ketika tangan Ed menghalauku, “Itu bukan ruang tidur Finn.” ucapku dalam bisikan, tangannya menunjuk pintu di paling ujung, “Di sana.” katanya.

“Jadi itu ruangan siapa?” tanyaku pelan ketika kami berjalan cepat ke arah yang ditunjuk Ed. Dia tidak menjawab dan kami langsung masuk ke ruangan tidur Finnegan begitu aku menganggukkan kepalaku, menandakan bahwa semua aman dan tidak ada siapa-siapa di balik ruangan ini.

Aku melupakan pertanyaanku pada Ed ketika aku benar-benar sudah di dalam ruangan ini. Ini pertama kalinya aku benar-benar mengamati apa yang ada di depanku. Selebihnya aku hanya melewati semuanya sambil lalu, kecuali mungkin gudang persediaan makanan yang ada di bawah tanah tadi.

Ruangan ini bagus, meskipun dinding batunya nampak polos dan tanpa hiasan apapun. Tempat tidurnya besar dan terlihat nyaman, dengan hiasan beludru lembut menutupi kerai-kerainya. Ada satu jendela tinggi di ujung lain, dan banyak benda-benda seperti hiasan lain di atas sebuah meja kayu di dekat jendela. Aku memutar tubuhku pelan, mengamati sisi lain dan pandanganku berhenti pada sebuah lukisan besar yang terpasang di dinding batu di atas perapian yang mati.

Aku tidak tahu siapa sosok laki-laki yang dilukis cukup gagah di dalam lukisan itu. Namun entah kenapa wajahnya terasa tak asing bagiku. Aku menunjuk lukisan itu, “Siapa dia, Ed? Apakah itu Finnegan Cllarigh?”

Ed yang tengah menyalakan lilin-lilin di kandelir di atas meja di dekat tempat tidur Finn langsung menoleh, melihat ke arah yang kutunjuk. Dia memicing, mencoba melihat dengan jelas. Pencahayaan dari tiga lilin kecil yang baru dinyalakannya, jelas tidak cukup baginya. Namun tak lama kemudian dia menggeleng, “Bukan. Itu kakek dari kakeknya atau seperti itulah. Aku tidak tahu dengan benar.”

Mataku masing terfokus pada lukisan tua itu. Ini benar-benar tidak biasa. Aku yakin benar aku belum pernah bertemu dengan laki-laki itu. Tapi perasaan itu masih ada.

“Kenapa?”

Aku menggeleng, “Tidak apa-apa. Hanya merasa seperti mengenalnya.”

Suara tawa Ed terdengar, “Kau gila. Laki-laki di dalam lukisan itu bisa saja hidup puluhan tahun yang lalu. Bagaimana mungkin kau mengenalnya?”

Aku merengut, menatap Ed dengan kesal. Tanganku terlipat di depan dadaku.

“Berhenti terus menghinaku, Edred Ritter. Kau tidak tahu siapa aku sebenarnya. Bahkan meski aku sudah mengatakan kepadamu kebenarannyapun, kau tidak percaya. Jadi berhenti bersikap seolah kau selalu benar dan tahu segalanya.”

“Aku tidak menghinamu, Sherena.” dia tidak mau kalah, “Sudah kukatakan padamu bahwa laki-laki di lukisan itu mungkin saja hidup puluhan atau mungkin ratusan tahun yang lalu. Itu lukisan tua. Lagipula, jika melihatmu, kutebak bahkan usiamu tak lebih dari dua puluh tiga tahun.”

Sudut bibirku membentuk senyum menghina, “Dua puluh dua jika dalam usia manusia, tapi satu yang kau tahu Ed, fisikku tidak tumbuh. Ketika aku sepenuhnya menjadi vampir, sel-sel tubuhku berhenti menua. Dan aku selamanya akan berwujud seperti ini.”

“Sejujurnya, Sherena.” Ed melemparkan tubuhnya, duduk di atas tempat tidur dan memandangku dengan tatapan yang dia gunakan ketika pertama kali kami bertemu. Tatapan meneliti dan menilai yang jelas, “Aku tidak percaya tentang omong kosong tentang makhluk aneh bernama vampir itu. Apa kau tidak lihat, kau manusia. Mungkin manusia yang mempelajari sihir jika melihat dari segala kemampuan tidak wajar yang kau punya.”

“Terserah padamu.”

Anehnya dia tidak mendebatku dan malah memandang kosong ke arah jendela tinggi. Seolah ada hal lain yang memenuhi otaknya. Aku tidak tahu benar apa yang ada di dalam kepalanya dan aku tergoda untuk mencari tahu.

“Memikirkan siapapun itu yang ada di balik pintu pertama di lantai ini, Ed?”

Dia menoleh ke arahku dengan pandangan bertanya yang jelas.

“Mungkin kau bisa bercerita padaku sekarang, siapa pemilik ruangan di pintu pertama yang kau tatap dengan penuh minat dan kerinduan itu?”

Awalnya dia jelas tidak terlihat ingin membicarakan ini tapi kemudian aku melihat mulutnya terbuka, dia menghela nafas panjang dan aku entah mengapa tahu bahwa dia akan mengataka apapun itu alasannya.

“Itu ruang tidur Celia. Dan ya, kau benar. Aku memang merindukannya. Dia sudah seperti adikku sendiri.”

“Dia tidak akan senang ketika tahu bahwa kau kesini justru karena ingin membunuh kakaknya.”

Ed mendengus, “Dia akan mengerti. Celia gadis pintar.”

Aku mengangkat tanganku dengan cepat, “Ada yang datang.”

Ed melompat bangun dan memandangku serius, “Apakah itu Finn?”

“Jelas tidak tahu. Tapi suara laki-laki dan dia sedang berbicang dengan suara-suara yang sebelumnya ada di ruangan bawah.” Ed mendengarkan semua yang kukatakan dengan penuh fokus. Aku memandangnya, lalu mengangguk pelan.

“Dia naik sekarang.”

***

Pintu itu terbuka pelan lalu memunculkan wajah tampan yang jelas terlihat kelelahan. Ketika dia mengangkat wajahnya dan menemukan kami, dia terlihat sangat terkejut. Tapi matanya yang sudah melebar, beralih menjadi membulat sempurna ketika dia beralih ke arahku yang berdiri tak jauh dari Ed.

“Hai.” aku tersenyum. Aku tidak akan seperti Ed yang menampilkan wajah paling menyebalkan yang dia punya. Aku tidak punya masalah dengan laki-laki ini. Malahan mungkin saja dia yang akan membantuku untuk tahu sesuatu tentang kaumku.

“Kau!”

Suara itu diarahkan lebih untukku daripada untuk Ed. Seolah dia lebih terkejut melihatku dan bukannya Ed.

“Kau nyata.”

Aku menoleh ke arah Ed, wajah menyebalkannya berubah, menjadi nyaris sepertiku. Penuh ketidaktahuan dan laki-laki di depanku, yang jelas adalah Finnegan Cllarigh, maju dengan cepat ke arahku.

“Kau masih hidup!” dia nyaris berteriak senang ketika mengatakan itu.

“Apa maksudmu?”

“Sherinn?”

Sherinn?

Otakku memroses segalanya dengan lamban. Nama itu. Nama itu hanya digunakan oleh Morgan dan keluarganya untuk memanggilku. Aku memandang laki-laki di depannku dengan tatapan penuh horor.

“Apa hubunganmu dengan Morgan Freesel?”

Aku mengabaikan mata bertanya Ed yang diarahkan jelas padaku. Aku sepenuhnya hanya terpaku pada Finn sekarang. Wajah Finn yang terlihat antusias. Mata hitam tajamnya yang sama sekali tidak beralih dariku.

“Aku—maksudku kami, seluruh keluargaku adalah keturunan dari Morgan Freesel. Jika bukan karena kau menyelamatkan Rowe—“

“Kau manusia serigala?”

“Dia manusia serigala?” suara Ed menginterupsi dan dia terlihat tidak percaya dan sepenuhnya menggeleng, “Kukira sudah cukup omong kosong tentang kau adalah vampir dan kau sekarang malah menyebut pengkhianat ini manusia serigala?”

Aku sepenuhnya mengabaikan Ed, karena aku sedang berusaha meneliti Finn. Dia tidak tercium seperti manusia serigala. Bagaimana mungkin dia adalah keturunan dari Morgan?
Finn sedang memandang ke arah Ed. Untuk pertama kalinya aku melihat ekspresi kelam dari Finn, dia terlihat sangat tidak suka dengan cara Ed menyebutnya, “Lihat siapa yang menyebut siapa pengkhianat. Selain itu, jika boleh kutanyakan padamu Ed, kenapa kau ada di sini ketika kau seharusnya terlarang memasuk wilayah ini sesuatu titah Raja Pettied?”

Wajah Ed berubah keruh dan dia maju, nyaris menyarangkan satu pukulan ke wajah Finn jika aku tidak bertindak cepat dengan menangkap tangannya. “Tidak akan ada pertarungan atau tindakan lain darimu sebelum aku mendapatkan apa yang kuinginkan. Cukup semua ini, Ed.”

Aku menghempaskan tangan Ed dengan kasar dan dia jelas terkejut dengan tenaga yang kumiliki. Aku kembali beralih kepada Finn, “Jadi katakan padaku, apa kau juga manusia serigala sama seperti Morgan?”

Kepalanya menggeleng, “Sayangnya darah manusia dari Rowena Reeser dan Alan Cllarigh mengalir lebih kuat pada kami. Selain sedikit kecepatan dan terberkahi umur yang lebih panjang, aku harus mengatakan bahwa tidak. Aku dan keluargaku sayangnya manusia biasa.”

Alan? Anak laki-laki yang suka sekali menguntit kemanapun Morgan pergi? Jadi anak laki-laki pemalu itu menikahi salah satu anak Morgan? Aku tersenyum kecil, nyaris tidak percaya. Alan jelas terlalu tua untuk menikah dengan salah satu dari mereka. Abisca, Katarina dan Rebbet, anak-anak Morgan yang semuanya perempuan. Siapa yang Alan nikahi? Mungkin Abisca, dia yang paling tua. Itu terdengar masuk akal.

“Abisca Freesel menikah dengan Alan?”

Finn mengangguk. Aku bahkan tidak tahu nama belakang Alan adalah Cllarigh sampai terakhir kali aku meninggalkan mereka di—ingatanku memudar dan aku tidak tahu kelanjutannya. Aku mengabaikannya, dimanapun itu, aku bersyukur karena mereka tetap selamat.

“Jadi orangtuamu, apakah ayah atau ibumu yang merupakan anak dari Abisca dan Alan?”

Finn memandangku tidak mengerti, “Apa maksudmu?”

“Apakah ayahmu atau ibumu yang merupakan anak dari Abisca dan Alan?” aku mengulang pertanyaan itu. Tidak menemukan sesuatu yang salah dari susunan kata-kata yang kugunakan.

“Tidak keduanya. Abisca Freesel dan Alan Cllarigh jelas bukan orangtua langsung dari ayahku. Mereka leluhur kami. Mereka bahkan hidup nyaris tiga abad yang lalu.”

Kali ini aku yang menatapnya dengan keterkejutan luar biasa. Mulutku terbuka lebar. Tiga abad lalu? Jadi aku—aku sudah melewatkan waktu nyaris selama itu. Sebab aku jelas tak tahu bahwa Abisca bahkan menikah dengan Alan. Itu semua terjadi setelah aku tertidur. Tangan Finn menyentuhku dengan cepat, sepertinya aku limbung. Namun Ed dengan cepat menepis tangan Finn dari lenganku dan dia sendiri yang membantuku untuk berdiri dengan tegak.

“Kau baik-baik saja?”

Finn terlihat khawatir meskipun dia menjaga jarak dariku karena Ed.

“Tiga abad?” aku mengumamkan kata-kata itu. Pantas saja Ed tak tahu apapun tentang vampir dan sama sekali tak percaya pada apapun yang kukatakan. Tiga abad? Apa saja mungkin bisa terjadi selama rentang waktu itu, apa saja. Entah apapun itu yang membuat vampir, manusia serigala dan bahkan kelompok heta dan slayer menjadi seolah hanya dongeng kosong. Sesuatu terjadi dan aku melewatkan semuanya begitu saja..

Tiga abad.

Aku memaki Victoria Lynch yang telah melakukan semua itu kepadaku. Aku harus menemukan perempuan sial itu agar dia bisa mempertanggungjawabkan semua waktu berhargaku yang hilang. Juga untuk semua ingatanku yang berantakan ini.

“Sungguh sudah tiga abad berlalu?”

Anggukan pasti Finn membuatku lemas.

Sialan kau, Victoria.

Finn menunjuk lukisan yang ada di atas perapian kamarnya yang mati, “Itu adalah lukisan Alan Cllarigh, dan dia hidup sudah nyaris tiga abad yang lalu. Mungkin lebih jika untukmu. Tapi aku tidak terkejut karena memang seperti itulah vampir, bukan begitu Sherinn? Aku hanya tidak menyangka jika aku mendapat kehormatan untuk bertemu denganmu. Orang yang menjadi kunci keberadaan keluarga kami. Jika ketika itu kau tidak menyelamatkan seluruh keluarga Morgan Freesel dan Alan, kami mungkin saja tidak akan ada. Apalagi jika mengingat perang besar yang terjadi setelahnya.”

“Perang besar apa?”

“Kau tidak tahu?” Finn menatapku tidak percaya dan aku menggeleng.

“Setelah para vampir membunuh semua orang yang berada di kastil utama terjadi perang besar antara para vampir yang tersisa melawan para manusia serigala di bawah pimpinan kakak tertua Morgan, Demetri Freesel, dan slayer-slayer dari utara di bawah pimpinan satu-satunya anak Elior yang hidup—“ dia berhenti, mata hitamnya kali ini memandang Ed yang ada tepat di sampingku, “Jared Ritter.”

Aku bisa merasakan bahwa tangan Ed yang sedang memegang lenganku menegang mendengar nama yang diucapkan oleh Finn. Jika segala tentang kontak mata penuh dendam yang disiratkan oleh Finn bisa kubaca dengan benar, maka nama yang disebutkannya itu memang berhubungan dengan Ed. Dan karena nama belakang yang sama mungkin saja dia memang keturunan darinya. Tapi tunggu dulu..

… dan slayer-slayer dari utara di bawah pimpinan satu-satunya anak Elior yang hidup, Jared Ritter.

Kalau begitu Ed adalah keturunan dari Elior?

Jadi ini dia si pengkhianat.

Suara Elior terngiang di dalam kepalaku.

.. bawa dia ke ruang tahanan kita. Ingat. Jangan sampai dia mati. Dan lepaskan ikatannya ketika kalian sudah memasukkan dia ke sana.

Lalu ingatan lainnya memburam dan menghilang namun itu sudah cukup bagiku. Jadi Ed adalah keturunan dari Elior? Laki-laki tua brengsek yang ketika itu menjadi Master dan menjadi sebab aku meringkuk penuh hina dalam tahanan bersama Lyra?

Bagaimana bisa?

“Demetri Freesel dan Jared Ritter bukan lawan yang seimbang untuk vampir yang tersisa. Meskipun para vampir kuat dan tangguh, kalian kalah jumlah. Aku sungguh minta maaf mengatakan ini, namun kelompok vampir benar-benar kalah telak dan sejak saat itu tidak ada yang mendengar apapun tentang mereka. Entah mereka semua terbunuh dalam perang itu atau hal lainnya terjadi. Tapi tidak pernah ada kabar atau cerita lain tentang para vampir.”

Aku merasakan tubuhku gemetar, aku maju dengan kaki yang terasa lemas. Meraih tubuh Finn, “Apa maksudmu?”

“Itulah salah satu sebab kenapa aku terkejut melihatmu di sini, Sherinn. Seluruh keturunan dari anak-anak Morgan Freesel berpikir bahwa kau mungkin telah mati dalam perang tersebut.”

Sial. Sial.

Aku bahkan tak tahu apa-apa tentang perang itu. Tak ada secuil kecilpun ingatan dalam kepalaku tentang perang. Vampir, manusia serigala, manusia? Aku menggeleng keras. Mengusap wajahku dengan frustasi. Berharap bahwa apa yang baru saja kudengar dari mulut laki-laki yang jelas memiliki kemiripan fisik dengan Morgan ini adalah tidak benar.

“Sherena.” Ed meraih tanganku mundur ke arahnya, “Jangan percaya apapun yang dikatakan oleh pengkhianat ini.”

Aku mengangkat wajahku dan menatap Ed.

“Dia mungkin saja mengatakan semua omong kosong padamu. Aku tidak pernah mendengar semua cerita yang dia katakan dan aku bertaruh seluruh orang, baik di kastil ini maupun di luar kastil ini—siapapun—juga tidak tahu tentang cerita itu. Bukan karena kami buta akan masa lalu tapi karena itu memang kebohongan. Tidak pernah benar-benar terjadi. Lagipula bagaimana bisa dia tahu sedetail itu tentang sesuatu yang terjadi nyaris tiga abad yang lalu? Tak ada catatan tertulis tentang semua omong kosongnya itu juga. Aku bisa membawamu ke perpustakaan kerajaan jika kau butuh bukti. Pengkhianat seperti keluarga Cllarigh memang penipu ulung.”

Finn terlihat tenang menanggapi semua kata-kata Ed. Kali ini aku memandang Finn, menunggu apa yang akan dia katakan karena entah bagaimana, mengabaikan semua ketidaksukaan dalam nada suara Ed ketika dia menyebut keluarga Finn, omongan Ed masuk diakal.

“Bagaimana bisa mereka tahu jika raja membakar semua catatan tertulis yang ada tentang semua itu? Raja di masa itu berusaha mengenyahkan semua tanda-tanda keberadaan para makhluk pemangsa dalam sejarah manusia. Dengan begitu, semua jelaga dalam sejarah manusia akan menjadi putih. Hanya tersisa cerita dari mulut ke mulut, dari para keturunan slayer atau heta yang hidup. Cerita-cerita yang mungkin akan lenyap seiring dengan kenyataan bahwa tak satupun dari manusia serigala atau vampir terlihat sejak perang besar itu.”

“Kau bilang hanya para vampir yang lenyap? Bukankah manusia serigala bersekutu dengan manusia?” aku berteriak keras pada Finn, menyadari keganjilan dari penjelasannya.

Anehnya Finn justru tersenyum, sinis. Tatapannya beralih kepada Ed dan dia terlihat jelas memandang rendah Ed, “Kau bisa tanyakan itu kepada keturunan Jared Ritter yang ada di sampingmu, Sherinn. Jika orangtuanya menjaga dengan benar sejarah keluarga mereka dan mengisahkannya dengan tepat kepada anak-anak mereka seperti keluargaku melakukannya, dia akan bisa menjawabmu.”

Aku beralih pada Ed, sayangnya dia tengah beradu tatapan dengan Finn. Dan dari kerutan dalam dan ekspresi ketidaksukaannya, aku menebak jika Ed tidak tahu apa-apa. Finn mungkin sependapat denganku karena kemudia dia mendengus.

“Rupanya leluhurmu terlalu malu menyeritakan pengkhianatan mereka kepada keturunannya, Ed?”

Ed menarik pedangnya dan mengarahkannya tepat ke leher Finn. Ujung pedangnya jelas telah mengores leher Finn karena aku bisa mencium aroma darah yang kuat ketika setetes cairan merah kental itu mengalir dari sebaret tipis luka di leher Finn.

“Tutup mulutmu, Finnegan Cllarigh.”

“Cukup Ed!” Aku mendorong Ed menjauh dari Finn dan ketika dia terkejut dan menjatuhkan pedangnya, aku menendang pedang perak sial itu jauh-jauh darinya. Ed menatapku dengan kemarahan yang jelas.

“Apa yang kau lakukan?” teriaknya padaku.

Aku berdiri tepat di depannya, mata kami hanya berjarak tak lebih dari satu jengkal. Saling menatap tajam. Aku tidak akan membiarkan ada yang terluka di sini. Ini semua belum cukup. Semua yang dikatakan Finn belum cukup dan aku tidak akan pernah memaafkan Ed jika dia melakukan sesuatu terhadapnya dan mengakibatkan aku kehilangan lagi semua informasi berharga yang sudah ada di depan mataku. Tidak. Aku tidak akan mengizinkannya.

“Kuperingatkan padamu, Edred Ritter. Jika kau melakukan itu lagi sebelum aku mendengar semuanya, aku akan membunuhmu.” Suaraku dalam dan mengancam. Emosiku memuncak dan aku menyadari keterkejutan Ed dari matanya. Dia mungkin saja tidak melihat perubahan warna iris mataku karena cahaya di ruangan ini tidak cukup baginya, tapi dia merasakan perubahan emosiku.

Aku berbalik dan menatap ke arah Finn yang tengah mengusap darah dari lehernya, “Apa maksud perkataanmu sebelumnya, Finn?” desisku. Aku menginginkan semuanya cepat. Aku sudah muak dengan begitu banyak hal yang tidak kutahu.

“Jared Ritter dan raja di masa itu mengkhianati kesepakatan mereka dengan Elsass Freesel. Elsass dan kebanyakan manusia serigala yang lebih kuat sudah mati di tangan para vampir dan Demetri Freesel serta sisa manusia serigala yang masih hidup sejak perang besar itu jelas bukan apa-apa jika dibandingkan apa yang raja miliki. Dengan pasukan cadangan lain yang tidak diketahui oleh Demetri Freesel, Jared membantai Demetri dan seluruh kelompoknya hanya beberapa jam sejak perang besar itu berakhir. Membunuh dua kelompok besar makhluk pemangsa yang paling berbahaya bagi manusia dalam satu langkah. Bukankah itu hebat?” Finn mencibir, terlihat muak ketika menatap Ed.

“Lihat siapa yang mengatakan siapa pengkhianat sekarang, Ed?” ucapnya tajam, “Kau dan keluargamu, kau pikir darimana semua kehormatan yang selama ini kalian miliki dan agung-agungkan berasal? Itu semua dari leluhurmu yang berkhianat kepada sekutunya. Apa kau pikir hanya dengan kemampuan manusia, mereka bisa menang dari vampir? Kuberitahu padamu yang tak tahu apa-apa, kalah jumlah bukan apa-apa bagi vampir jika cuma melawan manusia. Keberadaan manusia serigala di pihak manusia adalah faktor pentingnya. Dan kau tahu, setelah mendapatkan apa yang dia mau, Jared menikam sekutunya sendiri tanpa ampun. Jangan salahkan aku jika aku menghancurkanmu dan keluargamu. Karena itu pantas kalian terima.”

“Bangsat kau, Finn!”

Aku menoleh ke arah Ed, menatapnya tajam dan dia menahan semua kemarahannya. Aku melihat buku-buku jarinya terkepal dengan demikian eratnya.

“Apakah Morgan juga mati?”

Finn menarik nafas panjang, anggukan kecilnya seolah meremukkan sesuatu di dalam tubuhku.

“Morgan mati di tangan Demetri sendiri. Sayangnya. Ketika itu Demetri begitu murka ketika Morgan menolak bergabung dengan kelompok mereka untuk membalas para vampir karena dia sudah berjanji padamu untuk tidak pernah melukaimu atau kaummu. Dalam keadaan sudah terluka karena pertempuran sebelumnya, melawan Demetri yang sudah gelap mata karena mengetahui Elsass mati, jelas bukan pertarungan yang adil.”

Aku bisa merasakan tubuhku kehabisan energi. Aku tidak mau tahu lagi jika kenyataan yang akan kuhadapi bisa sekejam ini. Demetri Freesel, aku tahu kakak tertua Morgan itu begitu keras. Namun aku tidak menyangka dia akan sebodoh itu. Meskipun hubungan Elsass dan seluruh bagian keluarga Freesel dengan Morgan merenggang jauh karena Morgan memilih menjaga hubungan persahabatannya denganku, aku tidak menyangka Demetri akan tega membunuh Morgan. Rasanya sesuatu yang sudah remuk di dalam tubuhku semakin hancur menjadi serpihan kecil seperti debu. Morgan..

Aku bisa merasakannya. Aku bisa mengingatnya. Semua kehangatan persahabatan yang ditawarkan oleh Morgan. Semua yang terjadi dan telah kami lewati bersama. Raut wajah Morgan yang berseri-seri, suaranya yang hangat dan dipenuhi kebahagiaan terpatri dalam ingatanku. Mata hitamnya bercahaya, berpendar lebih hidup daripada yang selama ini bisa kuingat ketika itu.

Kalian adalah orang pertama yang akan mendengar ini. Bahkan ayahku saja belum tahu tentang ini. Aku dan Rowena akan menikah.

Lalu wajahnya yang tanpa keraguan meyakinkanku yang meragukannya.

Dengan seluruh nafasku. Kau adalah janjiku pada Ar. Aku menyesal tidak bisa membantu kalian ketika itu sehingga aku terpaksa kehilangan sahabat terbaikku. Apa kau pikir sekarang aku akan membiarkan satu lagi sahabat terbaikku mati sia-sia dengan menerobos sarang musuh tanpa aku berusaha membantunya?

Deverend Corbis. Arshel. Morgan Freesel.

Lalu siapa lagi yang akan pergi dariku setelah ini?

Well, jika kalian ingin bertanya kenapa Finn bisa langsung mengenali Sherena, jawabannya ada di chapter selanjutnya. Jadi ditunggu saja ya. Maaf jika chapter ini agak membosankan 😛 

Mau Baca Lainnya?

31 Comments

  1. Lama banget sherena tidurnya sampai 300thn,,,!!
    Haha,,,iya neh penasaran kok finn langsung kenal sherena,,padahal gak pernah ketemu.
    Oke deh,,ditunggu next chap yeah,,kira2 update chap depan kapan yahh??
    Hehehee

  2. Hhahahahaha iyaaa ngalah-ngalahin hibernasinya beruang kutub yang terkubur dalam es. 😛 😛

    Siapp.. next chapternya em.. nunggu aja deh. Aku ngga mau salah berjanji lagi.. 🙁

  3. Memang keren author yg satu ini, deskripsiny detail bgt, bisa bikin reader seolah2 ad dlm cerita, tetap smgt y bwt update jgn sampe ky bbrp author yg pny cerita bagus di wattpad tp mandeg gtu aj

  4. One more pleaseeeeeee !!!
    Aku selalu gak sabar nunggu chapter selanjutnya, jadi jangan lama2 upload chapter selanjutnya yah kak ? klo bisa minimal seminggu 1 Kali uploadnya

  5. Setelah selesai tugas tugas sekolah yg menumpuk, ukk lagi menanti aku:""( sedih bangett tpi setelah cek blognya author hari minggu aku ga jdi suram ?? lanjutt thorrr duh jdi ga sabar saat saat sherena ketemu sama kekasih yg terlupakan kira kira seperti apa ya ntar reaksi mereka ….

  6. Ah senengnya bisa jadi penyemangat harimu. Hahaha.

    Well, ttg kapan Rena ketemu Reven? Kalau aku kasi tahu sekarang, nanti ngga jadi kejutan dong. 😛

  7. Semoga bisa cepet, aku ngga bisa menjanjikan juga. Soalnya begitu melihat agenda, sepertinya jadwalku dua minggu ke depan sibuk sekali. Aku jadi takut kalau aku bakal telat banget update RU.. 🙁

    Duh, maaafkanlah. 🙂

  8. Ehm gemes banget pengen Sherena cepetan inget Reven.Dia yang paling diinget Victoria.Berharap Finn bisa bantu Sherena inget semua,

  9. Hampir tiap hari ngecek blog ini buat liat kelanjutannya… gak sabar nunggu part selanjutnya.. cepat2 di upload lg ya next part-nya.. nungguin bgt.. apalagi nungguin part pas sherena ketemu reven.. huh masih kesel sama reven.. harus diapain dulu ini si reven.. kesel bgt..

  10. Kak…lucia nya knp ga mati aja sih pas perang?:( kak..tega bgt buat reven bareng lucia trs selama gaada rena, ga kebayang :(. Curiousity eating me alive kak.. Gabisa ya di skip aja scene rena finally meet reven?:((. dont make us wait for too long ya ka.. kalo bisa sehari sekali update heheh maksa aku nya :(..semangat terus ka!❤

  11. Kakaaa kangen nih:"""( kaka kemana sih ga update lagi huhuuu sedihhh aku cek tiap hari loh kaaa nunggu banget ini. Jangan lama lama lagi ya ka :"") loplop kaka

  12. Kakak kapan ru'a aku tunggu loh kak aku sering cek tapi ttp nihil .
    Ouh yah aku denge" kakak mau membukukan ru sma hv kalau memang mau dibukukan ksih tau yah kak aku tnggu bku mu kak

    Alifah

  13. tdk pernah bosan….jd g sabar mnunggu sherina bertemu reven….akankah mngulang pertemuan mereka dulu… reven yg dingin & datar…hhhhmmmm….. — anadya —

Leave a Reply

Your email address will not be published.