Remember Us – Kekhawatiran Utama

“Kau harus menolongku, Damis.”
 
Damis menatap Lucia sebelum dia tersenyum pendek, “Aku tidak ingin ikut campur dengan urusanmu dan Reven.”
 
“Tapi dengan membantuku, kau juga bisa mendapat keuntungan jika aku dan Reven kembali menjadi satu seperti dulu. Aku tahu kau menginginkan Rena sebagai wanitamu, Damis.”
Kedua alis Damis saling bertaut, “Kurasa kau sedikit melewati batasmu, Lucia.” dia memperingatkan.
 
Lucia tertawa sinis, “Kau bertindak seperti pengecut, Damis. Jika kau terus seperti ini dan tidak mencari posisi pastimu di mata Rena. Percayalah, hanya menunggu waktu sampai kau kehilangan dia.”

Damis memandang Lucia dengan tidak suka. Dia benci cara Lucia memprovokasinya. Sebab mau tidak mau, dia mengakui kebenaran di dalam ucapan Lucia. Tapi bagaimana bisa Damis berbuat seperti apa yang Lucia sarankan jika dia sendiri bahkan belum bisa menerima sepenuhnya bahwa dia memang menginginkan Rena sebagai wanitanya. Ada bagian dari dirinya yang mengutuk keras hal itu. Bagian yang selama ini terus menerus mengingatkannya tentang bagaimana dia pernah kalah dan tidak bisa melindungi belahan jiwanya, Lyra Corbis. Wanita yang selama ini tidak bisa dilupakannya. 
 
“Aku tetap tidak bisa melakukannya, Lucia. Bukan urusanku untuk ikut campur dalam hubunganmu dan Reven. Jika memang Reven menginginkanmu, dia akan tetap datang padamu. Tapi jika dia berhenti datang dan sibuk dengan urusannya, maka jelas kau bukan prioritasnya.” Ucap Damis lelah. Dia benar-benar tidak ingin terlibat dengan hal semacam ini. Jikapun dia benar-benar ingin mendapatkan Rena, dia akan melakukan itu dengan caranya sendiri. 
 
“Kau–“
 
“Berhentilah mengejar Reven, Lucia. Kau hanya terobsesi padanya dan tidak benar-benar menginginkannya. Kau telah mengorbankan banyak hal. Tidakkah kehilangan Russel membuatmu jera?”
 
Lucia mendengus pelan, “Aku sudah melepaskan Russel sejak lama. Dan kau tidak berhak menghakimiku atas perasaanku pada Reven. Sampai kapanpun aku akan berusaha mendapatkan hatinya.”
 
“Kalau begitu, selamat berusaha, Lucia. Semoga kau beruntung.”
 
Lucia tak mengucapkan apapun, dia langsung berdiri dan berjalan meninggalkan Damis yang tanya menghela nafas panjang. Dia menyentuh kepalanya yang tidak pusing dan berusaha mengenyahkan satu pertanyaan yang diam-diam ini menghantuinya sejak Rena pergi menjalankannya tugasnya bersama dengan Reven.
 
Bagaimana jika Rena kembali jatuh cinta pada Reven?
 
***
 
Aku menendang ranting di depanku dengan kesal. Aku bosan, lelah dan benar-benar merindukan Damis. Ini sudah beberapa hari berlalu dan kami akhirnya keluar dari kawasan hutan Merrz. Hanya saja aku benar-benar sudah tidak tahan berada di kelompok ini.
 
Kami tidak pernah benar-benar bicara satu sama lain. Hanya berjalan, makan, berjalan lagi dan baiklah, aku bosan setengah mati. Reven mengabaikanku, Ritta masih suka cari gara-gara, Trisha lebih suka diam dan mengamati, sementara dua makhluk besar itu lebih senang makan dan beradu otot satu sama lain. Tidak ada yang bisa menyatukan kami dan aku merasa kesepian, aku rindu Damis.
 
“Masih jauh lagi?” Aku akhirnya bersuara setelah tidak tahan dengan suasana ini.
 
Reven, satu-satunya yang bereaksi dengan pertanyaanku, menjawab dengan datar, “Jika kita tetap berjalan dengan kecepatan ini, kita bisa sampai di kerajaan Elf Utara besok ketika matahari terbit.”
 
“Membosankan.” kataku pelan sambil menjajari langkah Reven. Aku tidak benar-benar menyadari tindakanku ini. Aku hanya tidak bisa lagi menghadapi rasa bosan ini sendirian.
 
Reven menaikkan satu alisnya, tapi aku mengabaikannya dan tetap berjalan di sampingnya, “Apa menurutmu yang akan kita hadapi di kerajaan elf utara?”
 
“Banyak hal. Tak bisa diperkirakan. Luca bilang kaum elf utara tak pernah benar-benar menunjukkan keberpihakannya.”
 
Aku mengangguk, lalu melihat sekeliling kami untuk memastikan apa yang kukatakan tidak akan didengar oleh yang lainnya. Setengah berbisik, aku menyorongkan tubuhku pada Reven, “Apa menurutmu perwujudan para elf ini? Apa bakal seperti mereka?” Aku melirik Brigoth dan Higraj.
 
Kali ini Reven mengerutkan keningnya, “Kenapa kau peduli pada seperti apa perwujudan mereka?”
 
“Hanya ingin tahu.” Sambarku cepat, “Aku sudah melihat bermacam-macam perwujudan para makhluk kegelapan. Jadi wajar saja aku ingin tahu seperti apa makhluk cahaya itu. Akan menyenangkan jika aku bisa sedikit menyegarkan pandanganku.”
 
Reven berhenti berjalan, dan menoleh cepat ke arahku, “Apa maksudmu?”
 
Aku mengangkat kedua bahuku, “Mungkin aku rindu melihat perwujudan yang menyenangkan mata. Seperti wajah-wajah tampan para manusia serigala. Oh, kau tidak tahu betapa aku merindukan menatap dada bidang Morgan Freesel.”
 
“Sepertinya kau lupa jika kau melarangku membicarakan tentang masa lalu kita. Lalu kenapa kau sekarang justru membahas hal seperti ini denganku?”
 
Aku menatapnya tak mengerti. Jujur saja aku tidak suka dengan caranya berbicara, terdengar seolah dia tidak suka jika aku mengajaknya berbicara. Aku merasa benar-benar terhina.
 
“Jika kau memang tidak suka berbincang denganku. Katakan saja. Lagipula aku bicara denganmu karena aku tidak punya pilihan. Apa kau lihat makhluk-makhluk seperti apa yang ada di antara kita sekarang? Jika aku bisa berbicara tanpa menimbulkan masalah dengan mereka, aku akan melakukannya dengan senang hati.” Aku menatapnya dengan marah dan langsung berjalan cepat meninggalkannya. 
 
Aku bisa mendengar seseorang berjalan mendekat ke arah Reven dan suara Ritta terdengar setelahnya, “Oh, si pemalu itu ternyata bisa bersuara keras–“
 
Kugelengkan kepalaku dengan kesal dan tak mau mendengar kelanjutan omongan Ritta karena aku hanya akan semakin ingin melemparkannya ke portal di pohon tempatku masuk ke Tierraz agar dia dan mulut pedasnya tidak akan pernah kudengar lagi. 
 
***
 
 
“Kau juga mendengar kabar itu, bukan, rajaku?”
 
Landis mengangguk. Matanya menerawang menatap tebing gelap di kejauhan. Angin bertiup pelan memainkan ujung rambutnya yang terjatuh hingga batas pinggangnya, tapi dia tak bereaksi apapun lagi. Hanya matanya yang berkedip pelan yang menunjukkan bahwa sosok yang tengah tegak berdiri itu adalah makhluk hidup, bukannya pahatan maha karya yang rupawan.
 
“Apa yang akan kau lakukan selanjutnya?” Si elf wanita yang berdiri di sampingnya terlihat tidak tenang. Wajahnya yang sepucat bulan nampak khawatir dan kedua tangannya saling meremas gugup.
 
“Prajurit penjaga melihat mereka. Para utusan Alzarox itu akan segera tiba.” Lanjutnya kemudian ketika Landis tak juga menanggapinya. 
 
“Mora, ratuku..” ucap Landis setelah helaan nafas panjang, “Aku memahami kekhawatiranmu, tapi kurasa kita tetap harus menerima kedatangan para utusan Alzarox dengan baik. Kita tidak punya masalah apapun dengan mereka selama ini.”
 
Landis bergerak pelan memandang Mora dan dengan lembut diraihnya tangan Mora, digenggamnya erat. Ujung bibir Mora tertarik dan membentuk senyum yang selalu muncul kapanpun Landis menggenggam lembut tangannya. Sentuhan itu tak pernah berubah meskipun rentang tahun yang mereka lalui bersama bahkan tak bisa lagi dihitungnya. Kehangatan menyebar ke seluruh dirinya dan Mora sadar kekhawatirannya hilang perlahan meski belum sepenuhnya.
 
“Tapi bagaimana dengan peringatan dari Lagash? Apakah tidak sebaiknya kita juga mempertimbangkan hal itu? Setelah kejadian tidak mengenakkan pada kunjungan putra kita ke Merendef, kurasa mereka masih menjaga jarak. Jika kali in–“
 
“Ratuku,” potong Landis, “Bukan salah Aelden jika terjadi pertarungan itu. Aku mendukung apa yang dilakukannya. Kesalahan bukan terletak padanya. Apa kau meragukan Aelden, ratuku?”
 
Mora menggeleng. Dia memang khawatir. Tapi dia mempercayai Landis dengan sepenuh hatinya. Dan dia juga mempercayai satu-satunya keturunan mereka, Aelden. Mora menatap langsung ke mata Landis, mungkin dia hanya terlalu khawatir. 
 
Landis menarik lembut Mora ke dalam pelukannya dan mengusap pelan punggung Mora. Dia tidak suka melihat keresahan di mata Mora. Terlebih lagi, itu terjadi karenanya. Dia benar-benar tidak suka itu. Sejujurnya dia memahami kekhawatiran Mora, masalah dengan utusan Alzarox mungkin akan berakhir dengan keputusan sulit. 
 
Dia sudah mendengar kabar tentang perang yang akan terjadi antara para makhluk kegelapan dan para penyihir. Dia lebih suka tidak melibatkan diri, tapi dia tahu tidak ada pilihan diam jika perang benar-benar terjadi. Dia membenci para makhluk kegelapan yang terlalu sering mengacau di wilayahnya, tapi dia lebih tidak suka pada cara Landis memintanya untuk bergabung dengan para penyihir tamak itu. Para makhluk cahaya seperti para elf, dwarf, mermaid bahkan makhluk angin sekalipun, harusnya tidak ikut campur.  
 
Bertahun-tahun yang entah tak terhitung, Landis masih ingat bagaimana pembantaian besar-besaran yang dilakukan Luca pada kaum vampir. Semua itu terjadi karena tipu daya Rhagaer, si penyihir pertama, sehingga kabarnya Alzarox kehilangan salah satu kristal kegelapan miliknya. Semua makhluk tak berani melangkahkan kaki dalam urusan itu, karena memang seperti itulah seharusnya. Tapi Landis tak tahu kenapa sekarang harus berbeda. Mereka kembali membentuk dua persekutuan besar dan melupakan apa masalah intinya. 
 
Dia mengeratkan pelukannya pada Mora ketika bayangan perang menghampirinya. Jika benar mereka nantinya harus saling membantai di medan perang, apakah tetap benar memihak salah satu karena hasilnya tetap sama, kematian rakyatnya. Apa tidak bisa dia pergi berperang sendirian? Sebab rasa sakit apapun nanti, dia sendiri yang akan menanggungnya. Membayangkan para prajuritnya berada dalam perang yang melibatkan Edna dan Luca adalah horor terbesarnya. Sepasang makhluk kegelapan itu bisa membantai mereka tanpa segan. Dia benar-benar tidak suka fakta ini.

<< Sebelumnya 
Selanjutnya >>

Mau Baca Lainnya?

11 Comments

  1. Rena secara ga sadar disini kesannya lebih terbuka masa sama Reven. Yah walaupun ada alibi kalau yg lain ga bisa diajak ngobrol, tapi tetep weh bikin kaget aja wkwk. Tapi kangen asli sama mereka gini…
    Emang dasarnya aku lupaan atau apa, masa aku keder kak sama munculnya (yg kurasa) banyak nama baru tiap partnya. Atau ini karena aku belum baca karya kakak yg lain? (Xexa?)
    Mungkin pas tamat nanti aku mau reread lagi,mungkin. Kalo marathon kan ntaps wkwk.
    Makasih kak buat uploadnya, semangaaat!! ♡♡
    Selia

  2. Kaka semangat ya nulisnya ^^ bagus banget cerita kaka dari half vampire sampai remember us aku sampai begadang baca nya hehehe semangat ya aku selalu menanti tulisan kaka

Leave a Reply

Your email address will not be published.