Remember Us – Kisah Lama Victoria Lynch

“Si.. siapa kau?” suaraku bergetar dan aku sadar bahwa aku mungkin sedang menanyai mautku.

Tapi wanita di depanku justru tersenyum tipis, “Kau rupanya juga bagian dari Vlad dan Victoria, ya?” suaranya lembut dan merdu. Serta terdengar bersahabat di telingaku. Semoga saja ini semua bukan hanya siasat. Aku belajar untuk tidak percaya pada tutur kata lembut dan bersahabat. Sebab ingatlah, vampir—termasuk aku—menggunakan nada itu sebelum kami membunuh mangsa kami.

“Apa hubungannya kau dengan Vlad dan Victoria?” aku masih terdengar tidak tegas namun getar di suaraku sudah lenyap.

“Kenapa aku cuma merasakan kehadiran Victoria? Dimana Vlad?”

Keningku berkerut dalam. Dia tidak tahu jika Vlad sudah mati beratus-ratus tahun lalu?

“Siapa kau sebenarnya?”

Kedua alisnya saling tertaut dan wajahnya berubah menjadi tidak ramah. Aku bersiap dengan segala kemungkinan bertarung yang ada. Namun wanita itu justru hanya mengamatiku, kedua tangannya terlipat di atas dadanya.

“Terlalu banyak pertanyaan, nona muda. Aku tidak suka ada makhluk lain yang bertanya-tanya padaku. Meskipun kekuatanku di dunia ini berkurang, tapi aku tetap bisa langsung membuatmu kehilangan nyawamu semudah aku mematahkan ranting-ranting kecil yang berserakan di sini.”

Aku berusaha untuk tidak terbawa emosi atas apa yang dikatakannya padaku. Sebab entah bagaimana, aku tahu wanita ini tidak hanya berbesar mulut. Dia benar-benar sanggup membunuhku dengan teramat sangat mudah. Auranya kuat sekali dan pancaran energi yang keluar dari tubuhnya terasa asing. Seolah aku sama sekali tidak pernah merasakan energi sejenis miliknya.

“Vlad sudah lama mati. Kurasa kau melewatkan ratusan tahunmu tanpa mendapat kabar apapun.” aku memilih mengucapkan informasi ini daripada membuatnya fokus dengan pikiran untuk membunuhku.

Bibirnya menipis dan dia menatapku seolah menebak apakah aku mengucapkan kebohongan atau kejujuran padanya. Namun sepertinya dia memilih percaya, karena wanita itu akhirnya mengangguk.

“Hanya dua ratus tahun dan Vlad bahkan tak bisa bertahan dalam permainan di dunia ini. Mengecewakan.”

Aku semakin tak mengerti dengan apa yang diucapkannya. Aku memandang wanita itu dengan seluruh fokusku sementara dia sepertinya sedang sibuk dengan pikirannya sendiri.

“Siapa kau sebenarnya?” tanyaku lagi tanpa aku  bisa mencegahnya. Mulutku menyuarakan begitu saja pertanyaan yang berputar-putar di dalam kepalaku  yang menuntut untuk mendapatkan jawaban.

Bahunya terangkat dan dia mengambil nafas panjang, “Aku butuh bertemu Victoria kalau begitu.” dan dia tidak mengacuhkanku. Hanya melangkah begitu saja melewatiku seolah aku hanya tumbuhan tak penting di matanya. Emosiku mencapai puncaknya dan aku berputar menatap punggung perempuan yang berjalan pelan menuju kastil.

“Siapa kau sebenarnya?” teriakku keras, frustasi.

Langkahnya berhenti dan dia memutar tubuhnya, matanya mengunci pandanganku.

“Aku Edna, putri api. Bangsa sulung dari Tierraz dan pasangan dari Luca, putra Alzarox.”

***

Aku masih mematung di tempatku, menatap sisa-sisa keberadaan wanita itu. Setelah dia menjawabku, wanita itu tak memberiku kesempatan untuk bertanya lagi karena dia langsung berbalik dan berjalan pergi. Kepalaku memproses semua yang dikatakannya dan tak satupun dari apa yang dikatakannya sanggup kucerna dengan baik.

“Edna..” aku menyebut namanya dan tetap saja tak ada satupun petunjuk yang muncul.

Lalu kesadaran lain menyentakku. Wanita itu—Edna atau siapapun dia—jelas berbahaya dan dia sedang menuju ke arah kastil. Dia mencari Victoria dan.. Apakah mungkin Edna adalah sesuatu yang selama ini dirasakan dan ditakuti oleh Victoria?

Aku menggeleng cepat dan langsung berlari ke arah kastil. Aku tidak ingin melewatkan apapun.

***

Aku berhenti beberapa meter dari Edna yang tengah memunggungiku. Tak begitu jauh dari Edna, aku melihat wajah pucat Victoria yang berdiri di depan pintu ganda kastil. Di sampingnya ada Damis dan Reven yang menatap curiga ke arah Edna. Aku langsung berlari melewati Edna dan berdiri di sisi lain Victoria. Jika Edna memang adalah ancaman, dia harus menghadapi kami semua. Dan jika dia memang benar adalah jelmaan dari firasat buruk Victoria, maka aku akan jadi perisai pelindung seperti yang dikatakan oleh Victoria.

Terdengar suara decakan dari Edna, “Satu, dua, tiga, empat.. hanya empat? Apa kalian meremehkanku?” dia bersedekap, lalu matanya memandang hanya pada Victoria, “Lama tidak berjumpa, Victoria.” sapanya dengan suara riang seolah mereka adalah sahabat lama. Mengingatkanku dengan cara Victoria menyapaku ketika kami berada di rumah keluarga Cllarigh.

Aku bisa melihat Damis dan Reven yang melirik penasaran pada Victoria. Sama sepertiku, raut wajah keduanya juga menjelaskan jika mereka sama tidak tahunya seperti aku.

Kerutan dalam muncul di dahi Victoria. Aku melihat ada getaran pelan di ujung-ujung jarinya. Victoria nampak seolah sedang berperang dengan sesuatu lain di dalam kepalanya.

“Siapa kau?” suara Victoria terdengar ragu dan tidak setegas biasanya.

Edna tertawa kecil mendengar pertanyaan Victoria. Dia seolah sedang melihat pertunjukkan yang menarik.

“Kudengar Vlad sudah mati,” aku tidak tahu apa yang salah, namun Edna memang sepertinya selalu mengulur waktu jika ada seseorang yang menanyakan tentang siapa dirinya.

“Rasanya sangat lucu mengetahui dia mati setelah apa yang terjadi padanya. Alzarox memberinya pengampunan dan melemparnya ke sini bersamamu selama dua ratus tahun. Alzarox bermain-main dan bertaruh dengan aku dan Luca, berapa banyak waktu yang akan kalian habiskan di sini. Kami tahu jika perputaran waktu tak pernah menentu antara Tierraz dan dunia ini. Jadi apakah dua ratus tahun Tierraz berjalan sangat lama? Hingga aku harus mendengar bahwa Vlad sudah mati. Luca jelas memandang kalian terlalu tinggi.”

“Apa.. maksud ucapanmu?” Victoria jelas terdengar gugup sekarang.

Edna tersenyum, “Kemarilah Victoria, aku akan mengembalikan ingatanmu pada rumahmu yang sebenarnya. Sepertinya sudah terlalu lama kau tidak mengingat apapun tentang masa lalu, bukan?” kedua tangannya terangkat seolah dia sedang berusaha membimbing Victoria. Yang mengherankan adalah ketika aku melihat Victoria justru melangkah maju.

“Vic..” Reven berusaha maju meraih tangan Victoria namun tepat bersamaan itu muncul api biru yang menjadi batas antara kami bertiga dan Victoria. Aku, Reven dan Damis terdorong jatuh ke belakang ketika api biru dan ledakan energi tak kasat mata dari sana muncul.

Aku terbatuk-batuk dan Damis meraih bahuku, “Kau tidak apa-apa?”

“Ya,” aku mengangguk dan langsung menoleh ke arah Victoria yang sekarang telah berhenti tepat di depan Edna. Aku tidak tahu apa yang terjadi padanya. Seolah Victoria bukan lagi dirinya sendiri. Kami bertiga berdiri dan Reven mencoba melewati api biru itu. Namun dia langsung berjengat mundur dan aku bisa merasakan hawa panas api yang berkobar nyata dari sana. Tanpa sadar aku tahu Damis memundurkan langkahnya. Kami bertiga tahu ada yang salah di sini. Tak sekalipun pernah, api di dunia ini sanggup membuat vampir merasakan hawa panas senyata ini.

Reven menggeram dan menatap lurus pada Edna, “Siapa wanita itu sebenarnya?”

“Dia bilang dia adalah Edna, putri api. Bangsa sulung dari Tierraz dan pasangan dari Luca, putra Alzarox.”

Kepala Reven langsung berputar ke arahku, “Edna? Putri api? Apa-apaan semua yang kau katakan?”

Aku baru saja akan membuka mulutku untuk menjawab suara kasar Reven, namun semua ucapanku tertelan langsung ketika aku mendengar jeritan menyayat dari Victoria. Tubuhnya mengejang dan aku tidak tahu apa yang dilakukan Edna padanya. Kedua tangan Edna mengunci rapat bahu Victoria dan dia terlihat menikmati kesakitan yang dialami oleh Victoria.

Reven memaki panik dan sudah akan berlari ke arah lain agar bisa memutari api biru itu. Namun aku melihat mata Edna yang menyadari gerakan Reven dan hanya dengan sebuah tatapan tajam, api biru di depan kami memanjang dan dengan dramatis melengkung hingga membentuk sebuah lingkaran besar yang memerangkap kami bertiga di dalamnya.

“Apa yang kau lakukan padanya?” teriak Reven penuh kemarahan sementara dia berjuang untuk tidak terkena jilatan api biru yang berkobar hebat di sekeliling kami.

Edna nampak melepaskan Victoria yang sudah lemas dan tubuh Victoria langsung jatuh. Dengan sebuah senyuman tipis, Edna memandang Reven. Satu tangannya bergerak dan api biru yang melingkupi sekeliling kami langsung lenyap. Angin bertiup kencang dan helaian rambutnya yang tertiup angin membentuk sosoknya menjadi terlihat semakin kuat. Seolah semua angin mendukungnya.

“Kita akan segera berjumpa lagi. Hanya tiga hari. Dan Victoria akan menentukan siapa yang tersisa dan siapa yang harus kubantai habis. Hutang lamanya harus dilunasi sekarang.”

“Ap—“ suara Reven terputus ketika kobaran api biru lain menyelimuti Edna dan ketika angin kencang sekali lagi bertiup, menyapu habis sisa api. Wanita itu sudah tidak ada dimanapun.

Aku langsung berlari ke arah Victoria. Awalnya kupikir dia tak sadarkan diri, namun ketika aku menangkup kepalanya, aku melihat mata Victoria. Dan di sana, aku bisa melihat kesedihan yang teramat jelas. Sepasang iris merah itu berkaca-kaca, dan belum sempat aku mengatakan apapun, tetes demi tetes airmata sudah jatuh dari sudut mata Victoria.

***

Aula besar yang serupa gua raksasa dengan langit-langit kubah melengkung tinggi itu membuat Victoria semakin gugup. Dia dan Vlad diseret menuju tempat ini dan dilemparkan ke tengah ruangan dengan kasar. Dia tersungkur mencium tanah, dan ketika wajahnya mendongak, dia bisa melihat dua singasana tinggi terbuat dari susunan tulang dengan hiasan batu-batu mulia berwarna hitam, menjulang di depannya. Kedua kursi itu tidak kosong.

Victoria tak sanggup membayangkan apa yang akan dihadapinya. Kematian adalah harga paling murah yang akan didapatnya setelah semua yang dilakukan oleh keluarganya. Alzarox tak akan pernah melepaskan mereka dengan mudah. Dan sosok itu, sang pemegang kekuasaan tertinggi, akhirnya berdiri dari duduknya dengan masih menatap menatap dia dan Vlad yang sudah pasrah, dengan mata yang seolah sanggup menguliti tubuh mereka hidup-hidup.

Tubuh berbalut jubah hitam yang jatuh sampai ke tanah itu berjalan mendekat. Tinggi, tegap dan gagah, dengan sebuah mahkota batu hitam bertengger menantang di puncak kepalanya. Satu bunyi langkah kaki darinya dan Victoria bisa merasakan betapa takutnya dia. Vlad yang ada di sampingnya tak jauh berbeda darinya, buku-buku tangan Vlad mencengkeram tanah di depannya dengan kuat. Serentetan penyesalan sudah tidak berarti lagi. Segalanya terlambat.

“Tak pernah ada pengkhianatan di dalam kelompokku, Vlad.” suara itu dalam dan  Victoria bisa mendengar semua jenis kengerian di dalamnya.

Vlad mendongak secara paksa ketika kuku-kuku jari Alzarox menariknya menengadah agar menatapnya. Victoria berjengit menatap bagaimana darah menetes dari kulit Vlad yang terkena kuku-kuku tajam itu.

“Bekerja sama dengan musuhku? Kau memperolokku, Vlad?”

 “Am..ampuni aku.” sepasang iris merah Vlad memandang Alzarox dengan semua tatapan penyesalan yang dia bisa lakukan. Terdengar banyak desisan marah dan makian di belakang mereka. Semua petinggi dan prajurit terhebat dari keturunan kegelapan berbaris di belakang mereka. Menunggu dengan tidak sabar atas apa yang akan dilakukan oleh pemimpin mereka kepada Vlad dan Victoria.

Salah satu sudut bibir Alzarox terangkat, menampilkan senyuman sinis yang semakin membuat Victoria gemetar. Terdengar tawa lain dan dia bisa melihat sosok Edna yang duduk manja di lengan kursi Luca. Tawa wanita itu penuh ejekan, sementara tangannya sama sekali tidak meninggalkan leher Luca. Edna tengah membelai Luca dengan begitu menggoda sementara Luca sendiri duduk dengan punggung tegak dan mata menyipit penuh kemarahan, menatap ke arah Vlad. Dialah, Luca, horor yang ternyata bagi Victoria. Sosok yang masih duduk dalam diam di singasana lain tepat di sisi singasana milik Alzarox.

“Bunuh saja mereka, Alzarox.” suara lembut Edna terdengar dan tatapannya penuh makna ketika sepasang matanya bertemu dengan mata milik Victoria.

Alzarox menghempaskan wajah Vlad yang sedang dicengkeramnya dan mendengus. “Kematian terlalu menyenangkan bagi mereka.”

Victoria bisa melihat Luca berdiri dan aula menjadi sangat senyap. Semua makhluk kegelapan yang sebelumnya berbisik dan bersuara langsung menutup mulut mereka. Seua jelas tahu seperti apa tabiat Luca dan tidak ada satupun dari mereka yang berminat untuk ikut campur atau menganggu apapun yang akan dilakukan Luca.

Luca berhenti tepat di samping Alzarox. Dan sepasang iris hitam itu tak sekalipun meninggalkan Vlad. Victoria menggeleng pasrah dan airmata ketakutannya membasahi wajahnya.

“Kau mau melakukan bagianmu?” Alzarox tertawa dan ketika Luca hanya mengangguk. Alzarox mengangguk, dan tawanya terdengar menggema di dalam aula ini. Dia langsung berbalik lagi dan kembali duduk di singgasananya. Duduk dengan penasaran, menunggu apa yang akan dilakukan oleh putranya.

“Bawa mereka masuk,” suara Luca dingin dan kerumunan di belakang Victoria langsung membelah, memberi jalan pada lima orang sosok tinggi besar dengan wajah menyeramkan dan dua tanduk bercokol di dahinya. Dua sosok terdepan tengah menyeret dua tubuh yang berbalut pakaian robek-robek sisa lecutan cambuk.

Victoria menjerit mengenali dua tubuh yang diseret-seret dengan kasar itu. Dia sudah akan berlari bangkit menerjang ke arah makhluk-makhluk itu ketika dengan sangat cepat tubuh lain menghalanginya dan mendorongnya jatuh ke belakang.

“Diam di tempatmu, pengkhianat.” Edna mendesis kejam.

“Lepaskan mereka. Aku mohon lepaskan mereka.” Victoria merangkak menuju kaki Luca dan laki-laki itu sama sekali tidak memandangnya. Dengan isakan nyata dia memeluk kaki Luca, menengadah pada sosok itu dan memohon lebih lagi.

“Aku mohon.. lepaskan mereka. Ampuni mereka dan hukum saja aku. Hukum aku. Bunuh saja aku.. tapi jangan.. kumohon jangan mereka.”

Luca mendengus dan menendang Victoria hingga jatuh terjungkal beberapa meter darinya, “Jaga wanita pengkhianat itu agar tidak mengangguku dan buat dia melihat ini semua.”

Satu dari makhluk bertanduk itu langsung meraup tubuh Victoria dan mengunci dua tangan Victoria ke belakang punggungnya. Victoria bisa merasakan suara tulangnya yang mungkin saja bergeser dan retak ketika makhluk itu melakukan itu padanya. Tapi dia sudah tidak peduli pada apa yang terjadi pada tubuhnya. Aimatanya jatuh membanjir dan tatapan penuh luka dari dua pasang mata lain menguncinya.

“Ibu..”

Suara itu lemah dan menahan kesakitan, namun Victoria bisa mendengarnya dengan jelas.

“Valerie.. Midelle..” Victoria memanggil nama dua putrinya dengan suara tercekat. Dia menangis keras dan menjerit marah ketika dua makhluk yang menyeret mereka berdua, melemparkan tubuh lemas keduanya dengan sangat kasar hingga mereka jatuh tersuruk tepat di samping Vlad.

“A-anakku..” suara Vlad bergetar hebat dan ketika tangannya berusaha mengapai tangan putrinya yang terarah padanya, Luca menendang tangan itu. Dan dengan setengah berlutut dia meraih wajah Vlad.

“Dua putrimu akan menjadi yang pertama, Vlad. Dan besok kau akan melihat seluruh rakyatmu mati di depanmu. Dan yang terakhir, kau akan melihat Rilley mati di tanganku sendiri. Putra yang kau bangga-banggakan itu akan kubunuh dengan cara yang tak akan pernah bisa kau bayangkan.”

Seluruh tubuh Vlad bergetar, “Am..ampuni aku, Luca. Jangan Rilley. Kumoh—“

“Harusnya kau pikirkan semua akibat yang akan kau tanggung ketika kau melakukan pengkhianatan itu, Vlad. Aku sudah muak pada para penyihir sejak Rhaegaer mulai bertingkah dan tidak bisa diatur. Lalu sekarang kau malah membantu para penyihir itu dan menusukku dari belakang.”

“Aku tidak.. Luca.. Aku..”

Luca mengangkat tangannya dan dari tangannya muncul asap hitam memanjang yang dengan pelan-pelan memadat menjadi pedang hitam panjang.

“Dengan begini kau akan tahu, harga seperti apa yang akan dibayar oleh para pengkhianat.” Luca berdiri dan dengan sangat cepat dia menebas leher satu putri dari Vlad dengan cepat.

Victoria menjerit keras dan meronta hebat, namun cengkeraman tangan dari Makhluk bertanduk yang mengunci tangannya jauh lebih kuat. Dia meronta semakin tak terkendali sementara Vlad membeku di tempatnya. Tak sanggup mengatakan apapun ketika kepala putri keduanya itu menggelinding dan berhenti tepat di depannya. Sepasang mata melotot penuh kesakitan menatapnya dari kepala tanpa tubuh itu.

“Midelle.. tidak. Luca, kumohon.. hentikan.” suara Victoria menyayat dan serak. Tubuhnya bergetar hebat dan dia hanya bisa terus menangis dan berteriak memohon ampunan.

Namun Luca bahkan tak sedikitpun melirik padanya. Laki-laki itu kini tengah menatap pada Valerie yang langsung beringsut mundur dengan menyeret tubuhnya. Vlad yang berusaha meraih tubuh putrinya langsung dihalangi oleh makhluk bertanduk lain.

“Diam, atau kematian putrimu akan lebih menyakitkan.”

Luca mengangkat pedangnya dan Valerie yang ketakutan sudah tidak dapat beringsut menjauh lagi ketika dia merasakan dinding dingin aula di punggungnya.

“Dia tidak tahu apa-apa. Lepaskan, putriku. Kau biadap, Luca!”

Tamparan keras Edna langsung bersarang di pipi Victoria, dan makhluk yang mengunci tangannya melepaskan pegangannya. Membuat Victoria jatuh mencium tanah dengan sudut bibir berdarah.

“Lihat ini, Vlad. Dan kau akan belajar untuk tidak pernah berkhianat lagi.” suara Luca terdengar dan sedetik kemudian pedang itu terangkat.  Satu tusukan dan pedang itu menembus hingga dari jantung hingga punggung Valerie.

“Tidakk..” Victoria terisak pelan, masih dalam posisi terjatuh dan dia bisa melihat tubuh Valerie yang sudah tidak bernyawa. Darah merah merembes dari dadanya dan bahkan Luca tidak repot-repot mencabut pedangnya dari tubuh itu.

“Ini hanya awal dari hukumanmu, Vlad..”

Suara Luca bergaung di telinga Victoria dan seakan mematikan semua saraf Victoria. Dia sudah berharap Luca juga membunuhnya ketika pedang hitam Luca menghabisi Midelle dan Valerie. Tapi Luca bahkan sama sekali tidak menganggap keberadaannya. Vlad sendiri sudah tidak sanggup menanggung akibat dari semua yang sudah dilakukannya. Dia diam dengan mata yang tak bisa beralih dari tubuh Valerie.

 Kesalahannya. Akibat dari keangkuhannya. Harga pertama yang harus dibayarnya. Matanya berputar mengawasi sekitarnya pelan, dan dia berhenti pada tubuh Victoria yang tergolek lemas menatap pada tubuh putri bungsunya yang sudah mati. Pelan, Victoria memutar kepalanya dan sepasang iris merah itu menatapnya tajam. Penuh amarah dan luka.

Mulut itu mengatup rapat tapi Vlad bisa membaca dengan jelas semua yang ingin dikatakan Victoria melalui tatapannya.

“Lihat apa yang telah kau perbuat, Vlad.”

<< Sebelumnya

Selanjutnya >>

***

Hai.. aku datang dengan kejutan di sini. Kalian semua pasti penasaran kenapa di sini vampir bisa memiliki keturunan padahal ketika mereka di dunia manusia, mereka tidak bisa memilikinya. Dan tentang apa sebenarnya hubungan antara Vlad, Victoria, dan tokoh-tokoh kita dari XEXA. Aaakkkk jujur aku suka sekali part ini, mungkin kalian tidak.. tapi aku senang membaca part ini berulang kali. Tidak tahu kenapa..

Ah ya.. jawaban dari pertanyaan itu akan aku urai di chapter selanjutnya ya.. (KLISE!)

Aku janji upload RU hari minggu, kan? Di Jerman masih jam delapan malam lebih delapan menit ketika aku posting ini. Jadi kali ini aku tepat janji. Muahahahhaha (evil laugh). Astaga astaga.. aku tahu aku tahu.. di Indonesia sudah hari Senin.. maafkanlah.. tapi tenang saja.. dua minggu lagi aku akan segera menyesuaikan janji-janjiku dengan waktu yang berlaku di Indonesia karena aku akan pulaaaaaannngg ke Indonesia… Yattaaaaa!!!!!

Gruß und Kuss,

Mau Baca Lainnya?

38 Comments

  1. Astaga . . Jdi asal nya Victoria dan Vlad dri Tierraz . .
    Tpi apa Vlad-Victoria dlu ny bkn Vampire. Penghianatan ap yg d lakukan Vlad pda Alzarox ?
    Astaga . . Apakah ini yg d katakan Victoria sbgai Perisai ?
    Karna Sherena adlah anak dri penyihir murni .
    Makin seru .

  2. Aduh serius penasaran dan deg degan baca part ini.Nah loh siapa sebenarnya Edna,Luca,dan Alzarox ini?Terus pengkhianatan apa yang dilakukan Vlad sama Victoria dulu?Aduh masih banyak pertanyaan ini kak hehe sabar menunggu next part nya biar jelas.Mungkinkah ini yang di takutkan Victoria?Semoga aja Sherena bisa membantu banyak bersama Reven dan Damis,

    (Puput_Kiki)

  3. Astaga coment aq kepotong dan ngak sengaja ke publis,pantas saja waktu baca nama edna kayak nya pernah dengar maklum saja agak lupu soal nya lama banget ngak ngikutin cerita xexa sejak HV tamat aq rasa harus baca XEXA dari awal lagi biar Tau cerita nya hehehe….!

  4. jadi ini ceritanya xexa yg dulu. kalo skrg kan edna-luca udh mati. apa mungkin gara2 pengkhianatannya vlad yg menyebabkan edna-luca mati?
    berarti sebenernya mereka bukan vampire kah?
    perisainya rena kpn dipakainya?? aku gak sabar kak hehehe
    aku jugaaaa sukaaaaaa sama part ini. melotot langsung mata ku pas baca nama edna putri api.ternyata ada hubnya sama xexa.

  5. Gilaaa seruu banget kak tadi sempet bengong pas baca bagian edna putri api itu dan baca berkali-kali yuhuuu cepey next yaa kak .. oyy btw hati-hati di jalan pas pulang indo ya kak ?

  6. Waktu pertam baca kaget Karna seingat aku edna itu dari story xexa ehhhhh….
    Baca selanjutnya ternyata aku mengerti jalan cerita v2 sdih banget tau jadi pengen nangis.
    Ohhhh yahhhhh kapan hv aduh butuh kepastian agar aku bsa ngmpulin uang untk bli'a .asikkkkk kakak mau ke indo hahahaha kalau ada bukunya aku mau mnta tnda tngn'a .
    Aisssshhh…
    Blum jga publish udh buat rncna ajh
    Hehehehehe…

    Seru kok cerita'a cpt lanjut dong kak jngn lm" kangen nihhhh…

    Ouh yah tmn" lihat jga yah blogku mnggu ini aku akan buat crita…

    Terima kasih khusus untuk kak ria hapsari…

  7. akhhh ada tokoh2 xexa… excited bgt pas baca part ini 😀 aku pencinta xexa soalnya.. dan disini bisa mengenal sedikit lebih banyak ttng luca dan edna ^^ gak nyangka kamu bkalan membawa alur crita ini kesini.. idemu keren banget!! ngehubungkan crita HV dgn xexa…
    ttp setia menunggu crita xexa~
    Aulia

  8. Kaakk makin sukaa dehh
    klo sblumnya yg aku tunggu adegan rena sama revan,, sekarang malah lbih nunggu edna, luca sama renaa..
    paling suka pas awal edna muncul trus ketemu sama rena…penasaran banget..
    ditunggu kaak lanjutannya..

  9. Yeeeeeay!!!

    Pulang say, ngga cuma mampir aja. Akukan di Jerman cuma setahun. Hahaha
    Nanti kalau aku main ke Jogja, aku ke Jepara ya kalau bisa. Traktir tapi.. Muahaahhaha *evillaugh*

    Apakah bangsa vampir akan lenyap? Sepertinya tidak. Buktinya masi ada si Cullen di era ini. Hahahah

  10. Kalau versi dari isi kepalaku sih begitu. Hehehe

    Mereka vampir kok. Cuma penyebutannya bedakan. Seperti misalnya aku bilang langit malam itu 'hitam', tapi kamu bilang 'gelap'. Sama2 langit malam tp dr perspektif yg beda.

    Yup, musuh Alzarox, Luca dkk kan penyihir. Dan Sherena keturunan penyihir murni hebat. Bisa jadi itu alasannya.

  11. Aaakk bener banget.
    Di sini Luca, Edna dkk masih hidup dalam wujud asli mereka. Selain mereka, aku berharap bisa bertemu Memnus juga di sini. Aku ngefans sama dia. Hihihi

    Mereka vampir kok.

    Kapan Rena jadi perisai pelindung? Well, kita tunggu aja ya..

    Typisch Ria jawabannya 😛

    Astaga astaga senengnyaaaa.. Toss dulu dong. Aku juga suka banget part ini.

    *team Edna*

  12. Iyaa. Sedih juga sih liat masa lalunya Victoria.. Ga heran kalo kadang dia jahat bgt. Kebawa sebel sama masa lalu mngkn ya.. ???

    Kepastian tanggalnya belum ada ya, sayang. Sekitar akhir Oktober mungkin. Hhahaa tanda tangan?? Duh siapalah aku ini sampai dimintain tanda tangan. Hahhaa

    Eh blog kamu apa? Aku juga mau dong mampir blognya..

    Btw, kembali kasiiihhh

    *peluk*

  13. Astaga astagaa.. Haloooo.. Aku juga pecinta Xexa.. Aakk senangnya..

    Hihihihi.. Kadang aku malah mikir kalau ide di kepalaku ini terlalu 'nyeleneh' kalo istilah orang Jawa. Tapi syukur deh banyak yang seneng.

    Awalnya khawatir kalo bakal banyak yang protes.

    Makasiii ya, Aulia.. 😀

  14. Kak aku tau jawaban dari xexa hahahaha…
    Biarkan itu menjadi kejutan untuk para pembaca. Kalau masalah tanda tangan kakak kan penulisnya so kakak wajib buat tanda tangan bukunya. Ouh yh nnti kasih tau bukunya di jual di tko bku mna"

    Salam peluk

  15. Aq reader baru slam kenal…maaf baru bisa coment soalnya sinyalnya ga bagus bwt coment…padahal mw komen terus…T.T…cerita2 qm keren bgt deh q suka…pertama baca di wattpad ehhh akhirnya ke bog kamu krn penasaran…q udh baca Xexa…n malah makin penasaran tentang Rena…apa dia yg selama ini menjaga Xexa…Luca itu bnr super jahat bgt y…tp kok malah q palink suka sm Luca y padahal dia blm muncul2 di Xexa atw RU…kayanya Luca keren bgt gitu drpd Reven…walaupun kejam n Sadis…

  16. Erogan Capsul Asli Obat Pembesar Mr.P Permanen adalah solusi yang unik bagi mereka yang ingin mendapatkan kekuatan seksual yang stabil dan meningkatkan ukuran penis sendiri. Karena bahan-bahan khusus yang merupakan bagian dari obat, Anda dapat memastikan bahwa Anda menerima hasil yang memuaskan. Meningkatkan potensi, meningkatkan ereksi Meningkatkan libido, meningkatkan gairah seksual Membuat hubungan seksual lebih tahan lama, dan meningkatkan stamina seksual Mengintensifkan sensasi saat berhubungan seks, membuat orgasme lebih cerah Erogan cara menggunakan Nada dan meningkatkan kesehatan secara keseluruhan dan suasana hati Efek caps terus-menerus Produk ini telah diuji secara klinis dan memiliki sertifikat yang menyatakan kualitas dan aplikasi yang aman. titan gel malaysia Kabupaten Asmat, Biak Numfor, Waropen, Puncak Jaya, Merauke, Nabire, Pegunungan Bintang, Yahukimo, Mimika, Jayawijaya, Keerom, Maapi, Enarotari, Yapen Waropen, Jayapura, Mamberamo, Boven Digul. Jual Obat erogan Asli di Bangka Belitung. Meliputi KOTA Koba, Manggar, Mentok, Pangkal Pinang, Sungailiat, Tanjung Pandan, Toboali, Belinyu, Jebus, Kelapa.

Leave a Reply

Your email address will not be published.